cover
Contact Name
Agung Ari Wibowo
Contact Email
agung.ari.wibowo@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agung.ari.wibowo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan
ISSN : 25798537     EISSN : 25799746     DOI : -
This journal is an open access journal with the frequency of 2 (two) times a year, published by Department of Chemical Engineering, Politeknik Negeri Malang (State Polytechnic of Malang). The journal publishes original research results, literature reviews and short communications relevant to the fields of chemical and environmental engineering.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2020): April 2020" : 11 Documents clear
Pengaruh Suhu Sintesis Katalis Partikel Ceria Zirconia terhadap Efektivitas Proses Delignifikasi Okky Putri Prastuti; Fandi Angga Prasetya; Ufafa Anggarini; Rifqi Putera Herwoto; Hesty Rahayu
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1318.008 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v4i1.131

Abstract

Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetik. Keberadaan lignin pada dinding sel akan menghambat selulosa untuk dikonversikan menjadi produk. Delignifikasi akan membuka struktur lignoselulosa agar selulosa menjadi lebih mudah diakses. Proses delignifikasi dapat dilakukan dengan menambahkan katalis Ceria-Zirconia kedalam sampel biomassa. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh suhu sintesis pada sintesis partikel Ceria Zirconia dan menguji kemampuan partikel Ceria Zirconia sebagai katalis delignifikasi. Katalis Ceria Zirconia dapat diproduksi melalui metode hidrotermal. Prekursor yang digunakan adalah larutan kimia berupa Ce(NO3)3.6H2O dan ZrO(NO3)2.2H2O 0.06 M dengan perbandingan 1:1, dengan variabel suhu sintesis 180ºC, 200ºC dan 220ºC. Katalis Ceria Zirconia kemudian akan dianalisa melalui proses delignifikasi selama 10 dan 20 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin meningkatnya suhu sintesis akan meningkatkan kemampuan katalis Ceria-Zirconia dalam proses delignifikasi.Biomass is organic material produced through photosynthetic processes. The presence of lignin on the cell wall will inhibit cellulose to be converted into products. Delignification will open the lignocellulose structure to make cellulose more accessible. The delignification process can be done by adding the Ceria-Zirconia catalyst to the biomass sample. The aim of this research is to determine the effect of synthesis temperature on Ceria Zirconia synthesis and to investigate the ability of Ceria Zirconia as a biomass delignification catalyst. Ceria-Zirconia Catalyst can be produced through the batch hydrothermal method. The precursors used were chemical solutions in the form of Ce(NO3)3.6H2O and ZrO(NO3)2.2H2O 0.06 M with a ratio of 1: 1, the synthesis temperature variables used were of 180ºC, 200ºC dan 220ºC. Ceria Zirconia Catalysts will then be analyzed for their abilities through a 10 and 20 minute delignification process. The results showed that the increasing synthesis temperature will increase the ability of Ceria-Zirconia catalyst in the delignification process.
Aplikasi Response Surface Methodology pada Optimasi Penambahan Blast Furnace Slag Terhadap Waktu Pengikatan dan Kuat Tekan Semen Hardjono Hardjono; Cucuk Evi Lusiani; Agung Ari Wibowo; Mochammad Agung Indra Iswara
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.64 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v4i1.150

Abstract

Produksi semen setengah jadi (clinker) membutuhkan energi yang tinggi sehingga menggunakan batu bara dalam jumlah besar. Hal ini menyebabkan biaya produksi dari pabrik semen juga tinggi. Kebutuhan energi yang besar untuk menghasilkan clinker tersebut dapat dikurangi dengan menambahan blast furnace slag sebagai campuran pembuatan semen. Campuran clinker dapat menghasilkan produk semen yang memiliki waktu pengikatan dan kuat tekan sesuai SNI. Pengaruh penambahan blast furnace slag sebagai campuran clinker terhadap waktu pengikatan dan kuat tekan semen dapat dioptimalkan dengan response surface methodology (RSM) menggunakan Central Composite Design (CCD). Optimasi dengan menggunakan RSM bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum pada penambahan blast furnace slag dan clinker terhadap variabel respon berupa waktu pengikatan awal, waktu pengikatan akhir, dan kuat tekan. Hasil uji ANOVA dan analisis response surface menunjukkan bahwa penambahan blast furnace slag sebagai campuran dalam pembuatan semen memberikan pengaruh yang signifikan terhadap waktu pengikatan awal, waktu pengikatan akhir, dan kuat tekan. Penambahan 5% blast furnace slag dengan 92,5% clinker pada campuran clinker dan gypsum merupakan kondisi optimum yang memberikan pengaruh signifikan terhadap variabel respon.The production of clinker consumes high energy and causes high production cost of cement industry. It can be reduced by adding blast furnace slag as a mixture in cement production. The blast furnace slag - clinker mixture can produce cement with setting time and compressive strength according to SNI. The effect of the addition of blast furnace slag as a clinker mixture to the setting time and compressive strength of cement can be optimized by response surface methodology (RSM) using Central Composite Design (CCD). Optimization by using RSM aims to determine the optimum condition of the blast furnace slag – clinker mixture to the initial setting time, final setting time, and compressive strength. ANOVA test results and response surface analysis show that the addition of blast furnace slag into the cement mixture has a significant influence on the initial setting time, final setting time, and compressive strength. The addition of  5% blast furnace slag with  92.5% clinker in the mixture of clinker and gypsum is the optimum condition which gives a significant effect on the response variable.
Pengaruh Waktu Terhadap Temperatur Aktivasi dari Kulit Pisang (Musa paradisiaca L.) dalam Pembuatan Katalis Yuni Kurniati; Eka Lutfi Septiani; Okky Putri Prastuti; Victor Purnomo; Sri Sugmah Nur Dewi; Imam Mahmuddin
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (964.718 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v4i1.134

Abstract

Kulit pisang termasuk limbah pertanian yang mengandung komponen lignoselulosa (holoselulosa dan lignin) dan kandungan karbohidrat yang cukup tinggi. Kulit pisang ini cukup potensial untuk dijadikan substrat dalam memproduksi katalis. Katalis asam merupakan salah satu jenis katalis yang berperan penting dalam proses kimia. Untuk menghasilkan katalis dengan struktur pori yang baik, dalam penelitian ini digunakan proses aktivasi secara kimia karena proses ini menggunakan temperatur yang lebih rendah daripada proses aktivasi fisik. Aktivasi kimia merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan pemakaian bahan–bahan kimia. Pada cara ini, proses aktivasi dilakukan dengan menggunakan bahan kimia (aktivator) sebagai agen pengaktivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh waktu temrhadao temperatur aktivasi dari perbandingan massa optimum karbon-KOH dalam proses sintesis katalis berbasis arang kulit pisang sehingga menghasilkan katalis dengan karakteristik yang paling optimal, dan temperatur kalsinasi sebagai proses kimia fisika pada sintesis katalis berbasis arang kulit pisang. Metode pembuatan katalis dilakukan dengan cara kalsinasi untuk menguraikan sumber karbon menjadi karbon sehingga terbentuk komposit sesuai dengan temperatur yang telah divariabelkan. Setelah terbentuk komposit karbon-KOH, kemudian dilakukan sulfonasi menggunakan asam sulfat pekat sesuai dengan temperatur yang ditentukan. Aktivasi dengan KOH pada temperatur aktivasi 300°C, 350°C, dan 400°C. Dalam penelitian ini, proses aktivasi bisa berjalan optimum pada temperatur 300°C, 350°C, dan 400°C yang ditandai dengan adanya asap putih sudah tidak keluar lagi karena karbon telah bereaksi dengan KOH. Kondisi optimum ini tercapai setelah 20 menit.Banana peels include agricultural waste that contains lignocellulosic components (holocellulose and lignin) and carbohydrate content which is quite high. Banana peel is quite potential to be used as a substrate in producing catalysts. Acid catalyst is one type of catalyst that plays an important role in chemical processes. Chemical activation is the process of breaking the carbon chains of organic compounds by using chemicals. In this way, the activation process is carried out using chemicals (activators) as activating agents. This study aims to study the effect of activation temperature temrhadao from the optimum mass ratio of carbon-KOH in the synthesis process of banana skin charcoal based catalysts so as to produce a catalyst with the most optimal characteristics, and calcination temperature as a physical chemical process in the synthesis of banana skin charcoal based catalysts. The method of making the catalyst is done by calcination to decompose the carbon source into carbon so that the composite is formed according to the temperature that has been varied. After forming carbon-KOH composite, then sulfonation is carried out using concentrated sulfuric acid according to the specified temperature. Activation with KOH at activation temperatures of 300°C, 350°C and 400°C. In this research, the activation process can run optimally at temperatures of 300 °C, 350 °C, and 400 °C which are characterized by the presence of white smoke that has not come out anymore because carbon has reacted with KOH.
Penurunan Kadar Lignin pada Fermentasi Limbah Kayu Mahoni Menggunakan Phanerochaete chrysosporium Sri Rulianah; Prayitno Prayitno; Christyfani Sindhuwati; Dessi Ria Ambar Ayu; Khalimatus Sa’diyah
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1055.736 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v4i1.139

Abstract

Limbah Kayu Mahoni merupakan limbah pertanian jenis kayu keras yang mengandung lignoselulosa (lignin, selulosa, hemiselulosa) yang cukup tinggi. Selulosa sangat berpotensi untuk didegradasi oleh Phanerochaete chrysosporium menjadi glukosa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi dan penambahan serbuk Kayu Mahoni terhadap penurunan kadar lignin pada fermentasi limbah Kayu Mahoni menggunakan kapang Phanerochaete chrysosporium. Penelitian dilakukan dengan cara mengeringkan dan mengecilkan ukuran limbah Kayu Mahoni, kemudian melakukan proses fermentasi limbah Kayu Mahoni dengan Phanerochaete chrysosporium dengan rentang waktu 9, 11, 13, 15, dan 17 hari, dan penambahan limbah serbuk Kayu Mahoni sebanyak 5, 6 dan 7%. Sebelum dan sesudah proses fermentasi dilakukan analisa kadar lignin. Hasil terbaik dari penelitian yaitu penurunan kadar lignin sebesar 85,33 % diperoleh pada lama fermentasi 17 hari dan penambahan serbuk Kayu Mahoni sebanyak 5 %.Mahogany wood waste is a type of hard wood agricultural waste containing lignocellulose which is quite high. In mahogany wood waste also contains lignin which is quite high, so the level of lignin must be reduced so that the cellulose can be used as glucose. Phanerochaete chrysosporium is a type of mold that is able to degrade lignin, cellulose and hemicellulose simultaneously. The purpose of this study was to determine the effect of fermentation time and the addition of mahogany wood waste to the reduction of lignin content in the fermentation of mahogany wood waste using Phanerochaete chrysosporium molds. The study was conducted by drying and reducing the size of mahogany wood waste, then fermentation of mahogany wood waste with Phanerochaete chrysosporium with a span of 9, 11, 13, 15, and 17 days, and the addition of mahogany wood waste 5, 6 and 7%. Before and after the fermentation process, lignin levels were analyzed. The best results from this study were obtained at 17 days of fermentation and the addition of 5% mahogany wood powder, obtained a decrease in lignin content of 85,33 %.
Aplikasi Chitosan Modified Carboxymethyl sebagai Coating Agent dalam Perbaikan Mutu Kertas Sigit Hadiantoro; S. Sigit Udjiana; Noor Isnaini Azkiya
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1025.118 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v4i1.126

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelapisan kertas dengan Chitosan Modified Carboxymethyl (Cs-Mcm) terhadap peningkatan mutu kertas, meliputi gramatur kertas, kuat tarik kertas, kuat sobek kertas dan tingkat kehalusan kertas. Penelitian dilakukan dengan melapiskan Cs-Mcm sebagai coating agent pada kertas yang berbahan dasar pulp jerami padi, pulp kertas bekas dan pulp campuran (jerami padi dan kertas bekas) dengan variasi konsentrasi pelarut asam asetat 2%, 3%, 5%, dan 7%. Hasil analisis menunjukkan konsentrasi pelarut asam asetat berpengaruh terhadap mutu kertas daur ulang. Pelapisan dengan Cs-Mcm pada penelitian ini dapat meningkatkan mutu kertas daur ulang.This study aimed to determine the effect of coating paper with Modified Carboxymethyl Chitosan (Cs-Mcm) to improve the quality of the paper, including paper grammage, tensile strength of paper, torn paper and a strong degree of fineness of the paper. The study was conducted by superimposing the Cs-Mcm as a coating agent on a paper-based pulp rice straw pulp waste paper and pulp mixture (rice straw and waste paper) with various concentration of acetic acid solvent 2%, 3%, 5% and 7%. The analysis showed the concentration of acetic acid solvent effect on the quality of recycled paper. Coating with Cs-Mcm in this study can improve the quality of recycled paper.
Pengaruh Daya dan Waktu Terhadap Yield Hasil Ekstraksi Minyak Daun Spearmint Menggunakan Metode Microwave Assisted Extraction Fitria Yulistiani; Rizka Khairiyyah Azzahra; Yulinda Alhay Nurhafshah
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v4i1.127

Abstract

Salah satu jenis tanaman mint yang memiliki kandungan minyak atsiri adalah jenis spearmint dengan kandungan carvone sebanyak 60 – 70%. Kandungan tersebut menyebabkan minyak atsiri daun mint memiliki sifat antioksidan, antifungal, dan antibakteri. Proses pengambilan minyak atsiri dengan metode tradisional seperti distilasi uap membutuhkan waktu dan energi yang lebih besar dibandingkan dengan metode Microwave Assisted Extraction (MAE). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daya microwave (100, 180, dan 300 Watt) dan waktu ekstraksi (5, 10, 15 dan 20 menit) menggunakan metode MAE terhadap yield minyak daun mint. Selain itu, dilakukan karakterisasi sifat fisik yang ditentukan dari warna, indeks bias, densitas, dan komponen penyusun minyak daun mint. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dan waktu mempengaruhi yield yang dihasilkan. Variasi daya dan waktu terbaik dari hasil penelitian (daya 180 Watt dan waktu 15 menit) menghasilkan yield sebesar 5,17%. Minyak mint yang dihasilkan memiliki warna kuning muda, indeks bias 1,362, dan densitas sebesar 0,8758 gram/mL. Hasil analisis dengan Gas Chromatography – Mass Spectrometry (GC-MS) menunjukkan bahwa komponen terbesar penyusun produk minyak mint hasil penelitian ini adalah carvone sebanyak 71%.Spearmint is one type of mint that contains essential oil with carvone (60-70%) as its main component. That component causes mint’s essential oil has antioxidant, antifungal and antibacteria properties. The traditional method to produce essential oil like steam distillation has long and energy consuming processes. The aims of this research were to investigate the influence of microwave power level (100, 180 and 300 Watt) and the extraction time (5, 10, 15 and 20 minutes) used Microwave Assisted Extraction to mint oil’s yield. Furthermore, characterization determined by oil’s colour, refractive index and density. The analysis of chemical component of mint oil was done using Gas Chromatography – Mass Spectrometry (GC-MS). The power level of microwave and extraction time influence to mint oil’s yield is proven in this research. The highest yield (5.17%) is generated at best variation of power and extraction time from the research are at 180 Watt and 15 minutes extraction time. The colour of mint oil is light yellow, refractive index value is 1.362 and density is 0.8758 gram/mL. The result of GC-MS showed that the major component of mint oil is 71% carvone.
Biogas Production from Corn Stover by Solid-State Anaerobic Co-digestion of Food Waste Lukhi Mulia Shitophyta; Gita Indah Budiarti; Yusuf Eko Nugroho; Dika Fajariyanto
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.502 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v4i1.125

Abstract

Biogas telah menjadi bahan bakar alternatif untuk mengurangi kelangkaan bahan bakar fosil. Biogas dapat dihasilkan dari limbah makanan seperti tongkol jagung. Tongkol jagung merupakan biomassa lignoselulosa dan mengandung kandungan total solid (TS) >15%. Produksi biogas dilakukan dengan solid-state anaerobic digestion dengan penambahan co-digestion limbah makanan. Co-digestion berfungsi untuk membantu proses pemecahan tongkol jagung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh persentase limbah makanan, reduksi volatile solid (VS), dan model kinetika produksi biogas dari tongkol jagung. Hasil peneltiian menunjukkan bahwa limbah makanan berpengaruh signifikan terhadap yield biogas (p < 0,05). Yield biogas tertinggi sebesar 584,49 mL g-1 VS-1 dan reduksi VS tertinggi sebesar 40% diperoleh pada limbah makanan 20%. Model kinetika produksi biogas dari tongkol jagung dan limbah makanan mengikuti model kinetika orde pertama.Biogas has become an alternative fuel to reduce the lack of fossil fuel. Biogas can be produced from organic wastes such as corn stover. Corn stover is a typical lignocellulosic biomass and contains a total solid (TS) content higher of 15%. Biogas production was conducted by solid-state anaerobic digestion with addition co-digestion of food waste. Co-digestion is useful to help the digestion of corn stover. The purposes of this study were to investigate the effect of the percentage of food waste, volatile solid (VS) reduction, and kinetic model on biogas production from corn stover. Results showed that food waste had a significant effect on biogas yield (p < 0.05). The highest biogas yield of 584.49 mL g-1 VS-1 and the highest VS reduction of 40% was obtained at food waste of 20%. The kinetic model of biogas production from corn stover and food waste followed the first-order kinetic model.
Penentuan Pelarut Terbaik pada Ekstraksi Tanin Kulit Kayu Akasia dan Pengaruhnya Sebagai Inhibitor Laju Korosi pada Baja Karbon Ayu Ratna Permanasari; Tri Reksa Saputra; Aprillia Nurul’Aina; Salma Liska
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.88 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v4i1.129

Abstract

Peralatan industri dari baja karbon yang berkontak langsung dengan lingkungan lama kelamaan akan terkorosi. Laju korosi dapat diperlambat menggunakan inhibitor organik senyawa tanin dari pohon akasia. Tanin diperoleh dari proses ekstraksi menggunakan metanol dan etanol. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pelarut terbaik dalam proses ekstraksi kulit kayu akasia berdasarkan kandungan tanin terbesar serta mempelajari pengaruh tanin sebagai inhibitor korosi pada baja karbon dalam media korosif melalui metode pengurangan berat. Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi pada suhu ruang selama dua jam dengan perbandingan padatan:pelarut adalah 1:10. Pelarut yang digunakan adalah etanol dan metanol. Ekstrak dievaporasi dalam rotary evaporator pada suhu 50 oC, tekanan 100 mbar hingga membentuk pasta. Ekstrak kulit kayu ditambahkan sebagai inhibitor dalam media korosif H2SO4 0,5 M; HCl 0,5 M; air laut, dan air tanah dengan penambahan konsentrasi inhibitor sebesar 4%, 6% dan 8% (b/v). Perendaman dilakukan selama 12, 24, 36, 48, 60 dan 72 jam. Metanol merupakan pelarut yang lebih baik daripada etanol dengan perolehan yield 4,57% dan konsentrasi tanin sebesar 2,768 ppm. Tanin dalam ekstrak kulit kayu akasia cocok digunakan sebagai inhibitor korosi pada media asam seperti H2SO4 0,5 M dan HCl 0,5 M dengan perolehan efisiensi tertinggi secara berturut-turut adalah 81,20 % dan 53,06%.Carbon steel in industrial equipment which direct contact with the environment will eventually be corroded. The rate of corrosion could be slowed by organic inhibitors of tannin compounds contained from acacia trees. Tannins were obtained from the extraction process using methanol and ethanol. The aims of this research were to determine the best solvent in the extraction process of acacia bark based on the largest tannin content and to study the effect of tannin as a corrosion inhibitor on carbon steel in the corrosive media through weight reduction methods. The extraction process used maceration at room temperature for two hours with a solid:solvent ratio of 1:10. The solvents were ethanol and methanol. The extract was evaporated in a rotary evaporator at 50 oC, 100 mbar became a paste form. Bark extract was added as an inhibitor in 0.5 M H2SO4 corrosive media; HCl 0.5 M; sea water, and tap water with the addition of inhibitor concentrations of 4%, 6% and 8% (w /v). Immersion was carried out for 12, 24, 36, 48, 60 and 72 hours. Methanol was a better solvent than ethanol with a yield of 4.57% and tannin concentration of 2.768 ppm. Tannin in acacia bark extract is suitable to be used as a corrosion inhibitor in acidic media such as H2SO4 0.5 M and 0.5 M HCl with the highest efficiency gains are 81.20% and 53.06%, respectively.
Sintesis Hidrogel Pektin – Gelatin dengan Penambahan Ekstrak Kulit Buah Naga Sebagai Kandidat Pembalut Luka Bakar Fadhil Muhammad Tarmidzi; Inggit Kresna Maharsih; Tina Raihatul Jannah; Cici Sari Wahyuni
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.347 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v4i1.128

Abstract

Teknik pembalutan luka saat ini menerapkan metode perawatan luka modern dengan cara mempertahankan isolasi lingkungan luka dalam keadaan tertutup dan lembab. Ada beberapa jenis pembalut luka yang telah dikembangkan, salah satunya hidrogel. Hidrogel merupakan pembalut luka berbentuk lembaran yang memiliki kemampuan menyerap cairan luka dan memiliki stabilitas yang baik pada pH asam sehingga dapat digunakan untuk pengobatan luka bakar. Dalam penelitian ini, hidrogel dibuat menggunakan polimer alami seperti pektin dan gelatin. Kedua bahan tersebut dikombinasikan menggunakan metode ikatan silang dengan penambahan asam sitrat sebagai agen pengikat silang. Penambahan asam sitrat memberikan pengaruh terhadap karakteristik material hidrogel yang dihasilkan, sehingga diperlukan jumlah yang tepat agar didapatkan hidrogel dengan properti material yang baik. Hidrogel juga ditambahkan zat aktif berupa flavonoid pada ekstrak kulit buah naga agar dapat digunakan sebagai pembalut luka untuk menyembuhkan luka bakar. Dari hasil penelitian, hidrogel dengan konsentrasi asam sitrat 4% (Hidrogel CA 4%) menghasilkan nilai swelling, tensile strength, dan elongation tertinggi sebesar 890%, 0,05 Mpa, dan 200%. Hasil properti mekanik dari Hidrogel CA 4% ini dibuktikan dengan uji FTIR yang telah dilakukan, yaitu munculnya gugus karbonil C=O sebagai hasil reaksi esterifikasi yang terjadi antara polimer dengan asam sitrat di daerah serapan 1733,9 cm-1.Wound dressing technique currently applies modern wound care methods by maintaining the environmental isolation of the wound in a closed and moist state. There are several types of wound dressing that have been developed, one of them is hydrogel. Hydrogel is sheet-shaped wound dressings which have the ability to absorb exudate and have good stability acidic pH that can be used for the treatment of burns. In this study, hydrogel were made using natural polymers such as pectin and gelatin. The two polymers were combined using crosslinking method with the addition of citric acid as a crosslinking agent. The addition of citric acid has affect on the characteristics of the hydrogel material produced, therefore the right amount is needed to obtain a hydrogel with good mechanical properties. Hydrogel also added by an active substance in the form of flavonoids from dragon fruit peel extract that can be used as a wound dressing to cure burns. This study resulting hydrogel with a concentration of 4% citric acid (Hydrogel CA 4%) produced highest value of swelling, tensile strength, and elongation are 890%, 0.05 Mpa, and 200%, repectively. The mechanical properties of Hydrogel CA 4% was proved by FTIR test that had been carried out, namely the presence of C=O carbonyl group as a result of the esterification reaction that occurred between the polymers and citric acid in the absorption area of 1733.9 cm-1.
Transesterifikasi In Situ Minyak Biji Pepaya Menjadi Metil Ester dengan Co-Solvent N-Heksana Menggunakan Microwave Elvianto Dwi Daryono; Adi Sintoyo; Rendi Chandra Gunawan
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (898.402 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v4i1.148

Abstract

Dalam berat kering biji pepaya mengandung minyak hingga 30% sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Transesterifikasi in situ merupakan langkah sederhana dalam menghasilkan biodiesel yaitu dengan cara mengeliminasi proses ekstraksi dan pemurnian minyak sehingga dapat menghemat biaya produksi dan memberikan hasil yang memuaskan. Reaksi satu fase dapat dibentuk dengan menambahkan co-solvent yang dapat meningkatkan kelarutan minyak. N-heksana merupakan co-solvent yang paling baik karena murah, tidak reaktif dan bertitik didih rendah (68oC) sehingga dapat dipisahkan secara co-distilasi bersama-sama dengan metanol. Gelombang mikro dapat merambat melewati cairan sehingga proses pemanasan akan berlangsung lebih efektif dan proses pembuatan biodiesel dapat dilakukan lebih singkat. Pada penelitian ini variasi daya yang digunakan adalah 30%, 50% dan 70% dari 399 watt serta waktu reaksi yaitu 2, 4, 6, 8 dan 10 menit. Hasil kemudian dianalisa menggunakan GC (Gas Chromatography). Didapatkan yield optimum sebesar 89,25% pada daya sebesar 70% dan waktu reaksi 8 menit. Yield optimum memiliki densitas sebesar 0,86 g/cm3 dan memiliki angka asam 0,28 mg KOH/g sampel. Hasil tersebut telah memenuhi SNI 7182:2015.In the dry weight of papaya seed oil contains up to 30%, so the potential to be used as raw material for biodiesel. Transesterification in situ is a simple step to produce biodiesel that is by eliminating extraction process and refining of oil so it can save on production costs and give satisfactory results. The reaction of one phase can be formed by adding a co-solvent to increase the solubility of oils. N-hexane is a co-solvent that is best because it is inexpensive, non-reactive and low boiling point (68°C) so that it can be separated by co-distillation with methanol. Microwave can propagate passed through the liquid so that the heating process will take place more effectively and the process of making biodiesel can be made shorter. In this study the variation of power used is 30%, 50% and 70% of 399 watts and the reaction time is 2,4,6,8 and 10 minutes. Results were analyzed by GC (Gas Chromatography). The optimum yield was 89.25% at 70% power and reaction time 8 minutes. The optimum yield has a density of 0.86 g / cm 3 and has an acid number of 0.28 mg KOH/g sample. These results have met the SNI 7182:2015.

Page 1 of 2 | Total Record : 11