cover
Contact Name
Agung Ari Wibowo
Contact Email
agung.ari.wibowo@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agung.ari.wibowo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan
ISSN : 25798537     EISSN : 25799746     DOI : -
This journal is an open access journal with the frequency of 2 (two) times a year, published by Department of Chemical Engineering, Politeknik Negeri Malang (State Polytechnic of Malang). The journal publishes original research results, literature reviews and short communications relevant to the fields of chemical and environmental engineering.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2020): October 2020" : 13 Documents clear
Effect of Microwave Pretreatment on Production of Reducing Sugar from Oil Palm Empty Fruit Bunches Budi Mandra Harahap; Robby Sudarman; Fildzah Sajidah; Diana Murti Indra Wahyuni; Dea Tesalonika Sitorus
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v4i2.159

Abstract

Perlakuan pendahulan biomassa merupakan tahapan terpenting dalam memproduksi produk-produk berbasis bio (bio-based products) secara biologis. Pada penelitian ini, energi gelombang mikro (microwave) digunakan selama perlakuan pendahuluan untuk meningkatkan kinerja proses sakarifikasi tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menjadi gula-gula pereduksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi perlakuan pendahuluan seperti daya (180-360 watt), waktu iradiasi (5-30 menit), dan solid loading (2,5%-7,5%) dievaluasi. Kinerja hidrolisis TKKS yang telah diberi perlakuan pendahuluan selanjutnya dianalisis dengan Cellic CTec2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cairan residu yang diperoleh setelah perlakuan pendahuluan menghasilkan gula pereduksi dalam jumlah yang rendah, yaitu antara 1,39 dan 3,92 mg/g-TKKS. Akan tetapi, setelah padatan residu dihidrolisis secara enzimatis, rendemen gula pereduksi meningkat secara signifikan. Menariknya, hanya pada level daya terendah (180 watt), gula pereduksi meningkat seiring dengan perpanjangan waktu iradiasi untuk semua solid loading. Sebaliknya, pada 360 watt, semakin lama waktu iradiasi diterapkan, semakin rendah gula pereduksi yang diperoleh untuk semua solid loading. Gula pereduksi tertinggi dihasilkan hingga 151 mg/g-TKKS, yaitu menggunakan 5% padatan pada 180 watt selama 25 menit. Berdasarkan hasil-hasil ini, perlakuan pendahuluan menggunakan gelombang mikro yang diikuti dengan hidrolisis enzimatis merupakan salah satu metode yang potensial untuk memproduksi gula dari TKKS.Pretreatment of biomass is the most crucial step in the biological production of bio-based products. In this study, microwave energy was used during the pretreatment process to enhance the saccharification performance of oil palm empty fruit bunches (OPEFB) into reducing sugar. The influential factors of pretreatment such as power level (180-360 watt), irradiation time (5-30 min), and solid loading (2.5%-7.5%) were evaluated. The performance of pretreated OPEFB hydrolysis was subsequently assessed by Cellic CTec2. The result showed that spent liquor produced after pretreatment only released a low amount of reducing sugar in the range between 1.39 and 3.92 mg/g-OPEFB. After residual solid was enzymatically hydrolyzed, a significant increase in the reducing sugar yield occurred. Interestingly, only at the lowest power level (180 watts), the reducing sugar rose along with the extension of irradiation time for all solid loadings. On the contrary, the longer irradiation time was applied, the lower reducing sugar was acquired at 360 watts for all solid loadings. The highest reducing sugar was produced up to 151 mg/g-OPEFB using 5% solid at 180 watts for 25 min. This indicated that microwave pretreatment followed by enzymatic hydrolysis was one of the potential methods to recover sugars in OPEFB.
Pemodelan Kesetimbangan Massa pada Keadaan Tunak (Steady) sebagai Penentuan Konsentrasi Optimum Tawas (Alumunium Sulfate) pada Proses Penurunan Kadar Fe pada Sumber Air Tercemar Alfiana Adhitasari; Eko Andrijanto
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v4i2.136

Abstract

Air tanah merupakan andalan sumber mata air bagi masyarakat pada umumnya, beberapa sumber air tanah sering dijumpai air yang masih terkandung Fe, hal tersebut berdampak buruk bagi kesehatan oleh karena itu perlu dilakukan penuruan kadar Fe pada air sebelum digunakan. Beberapa metode yang umum dilakukan untuk menghilangkan kandungan Fe pada air adalah dengan cara koagulasi oleh tawas. Penelitian ini akan memodelkan sebuah persamaan matematika yang dapat mengkuantifikasi penurunan kadar Fe pada setiap fungsi kosentrasi tawas yang ditambahkan. Model matematika pada penelitian menggunakan penurunan rumus dari kesetimbangan masa. Dari hasil perbandingan data percobaan dengan data perhitungan didapat konstanta penurunan Fe (kF) pada fungsi konsentrasi tawas sebesar 1.8/mg tawas dan nilai konstanta R2 sebesar 0.935, dari data tersebut maka model matematika yang dibuat dapat mewakili fenomena proses penurunan Fe di lapangan.In general groundwater is relied as source water but somtimes we found precense of Fe in some of groundwater products that could harm our health due to its toxicity, therefore it is necessary to reduce Fe content as pretreatment process. Some common methods to reduce Fe content in water are coagulation by alum. This study will build a mathematical equation to quantify the reduction of Fe content in function of alum concentration. In this study the equations were derive from mass balance equation. By comparing the experimental data with calculated data, we obtained kF (The constant of consuming Fe) = 1.8 / mg alum and for R2 constant we obtained  0.935, from these result we conclude our derived equation can represent the phenomenon of alum-Fe reduction phenomena in the field.
Karakteristik Hydrocyclone untuk Pemisahan Minyak dan Air Dian Ratna Suminar; Nurcahyo Nurcahyo
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v4i2.160

Abstract

Eksplorasi minyak bumi dari sumur-sumur yang sudah tua menghasilkan minyak dengan kandungan air tinggi. Hydrocyclone suatu alat yang berfungsi untuk pemisahan cair-cair berdasarkan perbedaan berat jenis setiap komponen. Pemisahan ini terjadi dikarenanakan adanya gaya sentrifugal dan gaya gravitasi yang dihasilkan dari bentuk hydrocyclone yang seperti kerucut. Perancangan dan pembuatan hydrocyclone menghasilkan alat dengan spesifikasi sebagai berikut : diameter pipa masukan : 25,4 mm, diameter cylindrical section : 120 mm, tinggi cylindrical section : 120 mm, tinggi cone section : 600 mm, diameter pipa overflow : 25,4 mm, diameter pipa underflow : 25,4 mm. Laju alir optimum untuk pemisahan air-minyak tanah pada hydrocyclone adalah 91,8 liter/menit dengan kadar minyak tanah di overflow sebesar 11,4% dan kadar minyak tanah di underflow sebesar 3%.Petroleum exploration from old wells produces oil with a very high water content. Hydrocyclone is a device that functions for liquid-liquid separation based on differences in specific gravity of each component. This separation occurs due to the presence of centrifugal forces and gravitational forces resulting from cone-like forms of hydrocyclone. The design and manufacture of hydrocyclone produces tools with the following specifications: input pipe diameter: 25.4 mm, cylindrical section diameter: 120 mm, high cylindrical section: 120 mm, cone section height: 600 mm, overflow pipe diameter: 25.4 mm, underflow pipe diameter: 25.4 mm. The optimum flow rate for the separation of water-kerosene on hydrocyclone is 91.8 liters / minute with the level of kerosene in overflow of 11.4% and the level of kerosene in underflow of 3%.
Efektivitas Zeolit Alam Ende-NTT sebagai Adsorben dalam Pemurnian Bioetanol Berbahan Baku Moke: Minuman Tradisional Flores Yulius Dala Ngapa; Jumilah Gago
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v4i2.137

Abstract

Ketergantungan akan pemakaian bahan bakar fosil yang terus meningkat telah mengubah pola pikir manusia untuk mengembangkan penelitian terkait energi alternatif terbarukan. Bioetanol yang berasal dari hasil fermentasi nira tanaman aren (Arenga pinnata MERR), dan dikenal sebagai minuman tradisional Moke di Flores dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif jika memiliki kemurnian di atas 99,5%. Proses adsorpsi merupakan salah satu metode yang dilakukan untuk menghasilkan bioetanol dengan kadar di atas titik azeotrop. Adsorben yang efektif digunakan sebagai molecular sieve adalah zeolit alam yang berasal dari kabupaten Ende – NTT. Peningkatan efisiensi penyerapan zeolit alam dalam pemurnian bioetanol berbahan baku Moke sudah dilakukan melalui proses aktivasi kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar dan kualitas bioetanol setelah pemurnian menggunakan adsorben zeolit alam Ende – NTT yang telah diaktivasi NaOH pada berbagai konsentrasi. Kadar bioetanol yang terdapat pada Moke sebelum dan sesudah proses adsorpsi ditentukan dengan instrumen gas kromatografi, karakterisasi zeolit alam menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscope (SEM). Zeolit alam Ende dapat digunakan sebagai adsorben dalam meningkatkan kadar bioetanol berbahan baku Moke.The reliance on increasing use of fossil fuels has changed the human mindset to develop research related to renewable alternative energy. Bioethanol derived from fermented palm sugar sap (Arenga pinnata MERR), and known as Moke, traditional drink in Flores can be used as an alternative fuel if it has a purity above 99.5%. The adsorption process is one method used to produce bioethanol with a level above the azeotrope point. The effective adsorbent used as molecular sieve is natural zeolite originating from Ende - NTT. Increased efficiency of absorption of natural zeolite in bioethanol purification made from Moke has been done through a chemical activation process. This study aims to determine the level and quality of bioethanol after purification using Ende-NTT natural zeolite adsorbent which has been activated by NaOH at various concentrations. Bioethanol levels found in the Moke before and after the adsorption process were determined by gas chromatography instruments, natural zeolite characterization using X-Ray Diffraction (XRD) and Scanning Electron Microscope (SEM). Ende natural zeolite can be used as an adsorbent to increase the level of bioethanol made from Moke.
Efektifitas Metode Kombinasi Pasir Zeolit dan Arang Aktif dalam Pengolahan Air Lindi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mega Gemala; Nurul Ulfah
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v4i2.167

Abstract

TPA Sei Nam Kijang merupakan TPA yang menggunakan sistem sanitary landfill dalam pengelolaan sampah. Kolam penampungan air lindi di TPA tersebut kurang berfungsi dengan baik terlihat dari warna air lindi hitam coklat kepekatan, terdapat lumut dipermukaan air lindi, dan masih tercium bau yang menyengat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifas kombinasi pasir zeolit dan arang aktif dalam mereduksi parameter fisika dan kimia pada air lindi. Hasil menunjukan bahwa kombinasi arang aktif dan pasir zeolit efektif dalam menurunkan kadar BOD, COD, N total, TSS dan pH air lindi pada tiga jenis ketebalan. Efektifitas tertinggi dalam menurunkan TSS adalah ketebalan 10cm sebesar 11,76%. Efektifitas tertinggi dalam menurunkan kadar pH, COD, BOD dan N total adalah ketebalan 20cm sebesar 19,6%, 22,6%, 35,5% dan 33,33%. Untuk Hg dan Cd, proses filtrasi untuk setiap ketebalan tidak efektif dalam menurunkan kadar logam berat tersebut.Sanitary landfill is used method for municipal solid waste (MSW) disposal in Sei Nam Kijang dumpling land. Leachate evaporation pond in a landfill site is not working properly which can be seen from the dark brown color of leachate, the moss on the surface of leachate water, and the odor. This study aims to determine the effectiveness of a combination of zeolite sand and activated charcoal in reducing physical and chemical parameters in leachate with variations in thickness used, namely 10 cm, 15 cm, and 20 cm. The results showed that the combination of activated charcoal and zeolite sand is effective in reducing levels of BOD, COD, total N, TSS, and pH of leachate water in all three types of thickness. The highest effectiveness in reducing TSS is 10cm thickness of 11.76%. The highest effectiveness in reducing total pH, COD, BOD and N is 20cm thickness by 19.6%, 22.6%, 35.5% and 33.33%. For Hg and Cd, the filtration process for each thickness is not effective in reducing levels of heavy metals.
Optimasi Penambahan Gliserol sebagai Plasticizer pada Sintesis Plastik Biodegradable dari Limbah Nata de Coco dengan Metode Inversi Fasa Claudia Candra Setyaningrum; Kholisoh Hayati; Siti Fatimah
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v4i2.140

Abstract

Limbah nata de coco merupakan nata yang tidak dapat dijadikan sebagai produk setelah proses sortasi sehingga menghasilkan limbah padat dan jarang dimanfaatkan. Kandungan selulosa pada limbah padat nata de coco sebesar 42,57%. Tujuan penelitian ini membuat plastik biodegradable dengan hasil limbah nata de coco dengan penambahan plasticizer. Metode yang digunakan pada pembuatan plastik biodegradable ini adalah metode inversi fasa dengan variasi berat selulosa 2%; 2,5%; dan 3% (b/v), variasi volume gliserol sebesar 2%, 3%, dan 5% (v/v), dan penambahan kitosan sebagai penguat. Karakteristik pastik biodegradable diuji menggunakan UTM (Universal Testing Machine) dan FTIR (Fourier-Transform Infrared Spectroscopy). Plastik biodegradable yang dihasilkan dari berbagai perbandingan berat selulosa dan volume gliserol memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Plastik biodegradable dengan karakteristik optimal memiliki nilai kuat tarik optimal sebesar 4,34 MPa, nilai elongasi optimal sebesar 4,44% dan nilai ketahanan air optimal sebesar 65,20%. Pada analisis gugus fungsi menggunakan FTIR menunjukkan tidak ditemukan adanya gugus fungsi baru dalam plastik biodegradable selain gugus fungsi bahan pembentuknya. Pada uji biodegradabilitas, diperoleh nilai biodegradabilitas sebesar 80% – 100% setelah ditimbun di dalam tanah selama 14 hari.Nata de coco waste is nata that cannot be used as a product after the sorting process so that it produces solid waste and is rarely utilized. The cellulose content in nata de coco solid waste is 42.57%, the purpose of this study is to make biodegradable plastic with the results of nata de coco waste by adding plasticizers. The method used in the manufacture of biodegradable plastics is the phase inversion method with cellulose weight variation; 2%; 2.5%; and 3% (w / v), variations in the volume of glycerol by 2%, 3%, and 5% (v/v), and the addition of chitosan as an amplifier. The biodegradable plastic characteristics were tested using UTM (Universal Testing Machine) and FTIR (Fourier-Transform Infrared Spectroscopy). Biodegradable plastics that are produced from various weight cellulose and glycerol volume ratios have different characteristics. Biodegradable plastic with optimal characteristics has an optimal tensile strength value of 4.34 MPa, optimal elongation value of 4.44% and an optimal water resistance value of 65.20%. In the analysis of functional groups (FTIR) no new functional groups were found in biodegradable plastics in addition to the functional groups forming materials. In the biodegradability test, a biodegradability value of 80% - 100% is obtained after being buried in the ground for 14 days.
Biodegradable Foam dari Pati Sagu Terasitilasi dengan Penambahan Blowing Agent NaHCO3 Nanik Hendrawati; Agung Ari Wibowo; Rosita Dwi Chrisnandari
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v4i2.168

Abstract

Biodegradable foam berbahan dasar pati  merupakan kemasan alternatif pengganti Styrofoam. Namun foam berbahan pati mempunyai sifat rapuh, sensitive terhadap air dan membutuhkan tambahan perlakuan untuk meningkatan kekuatan, fleksibilitas dan ketahanan terhadap air untuk bisa diaplikasikan secara komersial.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan NaHCO3 dan asam sitrat pada pembuatan biodegradable foam dari pati sagu alami dan terasetilasi. Proses modifikasi dilakukan dengan cara asetilasi yang bertujuan meningkatkan kemampuan termoplastis dan sifat hidrofobik. Proses pembuatan biodegradable foam menggunakan metode baking process. Variabel yang digunakan yaitu konsentrasi blowing agent dengan perbandingan NaHCO3 dan asam sitrat (1,3:1). Variabel yang digunakan mulai 0; 10; 12; 15; s/d 18 % w/w dari pati sagu. Hasil pengujian biodegradable foam dari pati sagu terasetilasi didapatkan nilai water absorbtion, kuat tarik, dan densitas lebih rendah dan sebaliknya pada uji biodegradability mempunyai nilai yang lebih tinggi dari pati sagu alami. Analisa SEM dilakukan pada biodegradable foam dengan penambahan blowing agent sebesar 12%, didapatkan bentuk morfologi closed cell dengan rata-rata ukuran partikel sebesar 32,02 μm pada biodegradable foam dari pati sagu alami dan 39,34 μm pada biodegradable foam dari pati sagu terasetilasi. Analisa FT-IR pada pati terasetilasi menghasilkan gugus C=O karbonil dengan bilangan gelombang sebesar 1650 cm-1Biodegradable foam  based on starch is an alternative packaging for styrofoam.  However foams made from starch are brittle, sensitive to water and require further treatments to improve their strength, flexibility, and water resistance for commercial applications.  The objective of this research to determine the effect of NaHCO3 and citric acid  addition to produce biodegradable foam from natural and acetylated sago starch. The modification process is carried out by acetylation,  the aim of modification to improve thermoplastic capabilities and hydrophobic properties. Biodegradable foam production is carried out by using the baking process method. The variables used were the concentration of blowing agent with  a ratio of NaHCO3 and citric acid (1.3: 1).  The various concentration were used  0; 10; 12; 15;  18% w / w of sago starch.  The results showed that biodegradable foam based acetylated sago starch have lower of water absorption , tensile strength,   density ,    however have  higher biodegradability value than natural sago starch. SEM analysis was carried out on biodegradable foam with the addition of blowing agent by 12%, obtained closed cell morphology with an average particle size of 32.02 μm on biodegradable foam from native sago starch and 39.34 μm in biodegradable foam from acetylated sago starch. The FT-IR analysis of the acetylated starch produced a group C = O carbonyl with a wave number of 1650 cm-1.
The Effectiveness of Activated Charcoal from Coconut Shell as The Adsorbent of Water Purification in The Laboratory Process of Chemical Engineering Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Siti Jamilatun; Ilham Mufandi
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v4i2.151

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas arang aktif dari tempurung kelapa untuk pemurnian air di Laboratorium Proses Teknik Kimia, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Penelitian terdiri dari tiga tahapan: Tahapan pertama, menganalisis kandungan air Laboratorium Teknik Kimia UAD, Tahapan kedua, pengujian efektivitas arang aktif untuk penjernihan air dengan dua (2) cara: (1) filter kolom arang aktif dan (2) pencampuran arang aktif dan air sampel, kemudian dilakukan pengadukan. Tahapan ketiga, menganalisa hasil pemurnian air seperti analisis pH, kadar logam, kesadahan (hardness), kadar sulfat (SO4), kadar fluoride, dan mineral. Parameter pemurnian air merujuk pada Clean Water Quality Standards Kementrian Kesehatan. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pemurnian air menggunakan metode kolom filter dapat mengurangi kesadahan kalsium karbonat (CaCO3) hingga 15,33%, kadar asam sulfat (SO4) hingga 98,21%, kadar Flourida (F) hingga 93,35% pada ketebalan kolom arang aktif 15 cm. Sedangkan pemurnian air dengan pencampuran arang aktif dan pengadukan selama 30 menit dengan kecepatan 1000 rpm dapat mengurangi tingkat kekesadahan CaCO3 hingga 26,81%, kadar asam sulfat (SO4) hingga 98,23%, dan fluorida (F) hingga 93,35%. Pemurnian air melalui pencampuran arang aktif dan air dengan pengadukan lebih baik daripada penggunaan kolom arang aktif, karena klorida, bahan organik, nitrit, nitrat, Fe, Mn, CN- tidak ditemukan dalam air setelah pemurnian.This study aims to examine the effectiveness of activated charcoal from coconut shells for water purification at the Chemical Engineering Process Laboratory, Ahmad Dahlan University, Yogyakarta. The first stage, analyzing the water content of the UAD Chemical Engineering Laboratory, Second, testing the effectiveness of activated charcoal for water purification in two (2) ways: (1) activated charcoal column filter and (2 ) mixing the activated charcoal and water samples, then stirring. The third, analyzing the results of water purification such as analysis of pH, metal content, hardness (hardness), sulfate levels (SO4), fluoride levels, and minerals. Water purification parameters refer to the Ministry of Health's Clean Water Quality Standards. The results optimum obtained using the column filter in thickness activated charcoal column 15 cm could reduce hardness (CaCO3) by 15.33%, sulfuric acid (SO4) levels up to 98.21%, Fluoride (F) levels up to 93.35%. While by mixing activated charcoal (15 gram) and water (500 ml) with stirring for 30 minutes at a speed of 1000 rpm could reduce hardness levels by 26.81%, sulfuric acid (SO4) levels up to 98.23%, and fluoride (F) up to 93.35%. Purification of water through the mixing of activated charcoal and water with stirring is better than using an activated charcoal column because it is better than the chloride, organic matter, nitrite, nitrate, Fe, Mn, CN- are not found in the water after purification.
Pembuatan Biogas dari Limbah Cair Tahu Menggunakan Bakteri Indigeneous Prayitno Prayitno; Sri Rulianah; Hilman Nurmahdi
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v4i2.141

Abstract

Air limbah tahu merupakan bahan pencemar apabila dibuang ke lingkungan perairan karena dapat menimbulkan bau busuk, penyakit dan menurunkan konsentrasi oksigen terlarut. Pada sisi lain, air limbah tahu dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif yaitu biogas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu fermentasi, volume substrat dan waktu pengadukan terhadap produksi biogas dan gas metana. Variabel yang digunakan dalam percobaan, antara lain: volume starter (10%, 20%, 30% dan 40% (v/v)); waktu pengadukan (1 hari, 7 hari, dan 14 hari), waktu fermentasi (5 hari, 10 hari, 15 hari, 20 hari, dan 25 hari). Penelitian dilakukan dengan menggunakan digester yang memiliki volume 50 liter yang diisi dengan starter berupa bakteri indigeneous dan limbah cair tahu pada persen volume tertentu. Selanjutnya  digester dialiri gas N2 hingga digester berada pada kondisi anaerobik kemudian dilakukan pengadukan (1 hari, 7 hari, 14 hari) atau  tanpa pengadukan. Pada setiap 5 hari hingga 25 hari dilakukan pengambilan sampel dan pengukuran volume biogas dan gas metana (CH4) yang dihasilkan menggunakan alat gas analyzer. Hasil percobaan menunjukkan bahwa volume biogas dan gas metana terbanyak dihasilkan pada waktu fermentasi 20 hari, dengan pengadukan 14 hari, dan volume starter 30% dapat menghasilkan biogas dan gas metana (CH4) masing – masing sebesar 5.000 ml dan 540 ml.Tofu wastewater is a pollutant when discharged into the aquatic environment because it can cause foul odors, diseases and reduce the concentration of dissolved oxygen. On the other hand, tofu wastewater can be used as an alternative energy source, namely biogas. The study aims to determine the effect of fermentation time, starter volume and stirring time on biogas and methane gas production. Variables used in the experiment included: volume of starter (10, 20, 30, and 40% (v/v)); stirring time (1, 7, and 14 days), fermentation time (5, 10, 15, 20, and 25 days). The research was conducted using a digester that has a volume of 50 liters filled with starter as much as 10, 20, 30 and 40% (v/v). Then the digester is flowed with N2 gas until the digester is in anaerobic condition then stirring (1, 7, and 14 days) or without stirring. Every 5 days to 25 days a sample is taken and the amount of biogas and methane gas (CH4) produced is measured directly using a gas analyzer. The experimental results show that the highest volume of biogas and methane gas produced during fermentation time of 20 days, with a stirring of 14 days, and a volume of starter of 30% which can produce biogas and methane gas (CH4) respectively of 5,000 ml and and 540 ml.
Aplikasi Microwave Hydrodistillation pada Ekstraksi Biji Kapulaga Y. Tri Rahkadima; Anggun Fitria Laila Ningsih; Medya Ayunda Fitri
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 4, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v4i2.169

Abstract

Minyak Atsiri dari kapulaga memiliki banyak manfaat dibidang industri maupun kesehatan. Metode alternatif diperlukan untuk mengoptimalkan kualitas dan kuantitas minyak atsiri yang dihasilkan karena metode konvensional memiliki banyak kelemahan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil minyak atsiri dari proses ekstraksi konvensional menggunakan soxhlet dan ekstraksi microwave hydrodistilation . Penelitian dilakukan dengan menggunakan serbuk biji kapulaga seberat 40 gram yang telah dipisahkan dari bahan impuritiesnya . Pada metode ekstraksi Soxhlet , n-heksan digunakan sebagai pelarut, sementara itu pada metode ekstraksi Microwave Hydrodistilation menggunakan aquadest sebagai pelarutnya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa persen yield tertinggi diperoleh saat menggunakan metode ekstraksi soxhlet yaitu sebesar 3,608% dengan volume pelarut 250 ml , waktu ekstraksi 6 jam. Penggunaan aquades dalam metode microwave hydro-distilation tidak memberikan hasil yang maksimal jika dibandingkan metode konventional ekstraksi soxhlet dengan pelarut n-heksan.Essential oils from cardamom have many benefits in the field of industry and health. Alternative methods are needed to optimize the quality and quantity of essential oils produced because conventional methods have many disadvantages. This study aims to compare the results of essential oils from conventional extraction processes using Soxhlet and Microwave Hydrodistilation extraction. The study was conducted using cardamom seed powder weighing 40 grams which had been separated from the impurities. In the Soxhlet extraction method, n-hexane is used as a solvent, while in the Microwave Hydrodistilation extraction method uses aquadest as the solvent. The results showed that the highest percent yield was obtained when using the Soxhlet extraction method which was 3.608% with a volume of solvent of 250 ml, extraction time of 6 hours. The use of distilled water in the microwave hydro-distillation method does not give maximum results when compared to the conventional method of extracting Soxhlet with n-hexane solvent.

Page 1 of 2 | Total Record : 13