cover
Contact Name
Agung Ari Wibowo
Contact Email
agung.ari.wibowo@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agung.ari.wibowo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan
ISSN : 25798537     EISSN : 25799746     DOI : -
This journal is an open access journal with the frequency of 2 (two) times a year, published by Department of Chemical Engineering, Politeknik Negeri Malang (State Polytechnic of Malang). The journal publishes original research results, literature reviews and short communications relevant to the fields of chemical and environmental engineering.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2021): April 2021" : 12 Documents clear
Teknologi Pengolahan Kandungan Kromium dalam Limbah Penyamakan Kulit Menggunakan Proses Adsorpsi: Review Maryudi Maryudi; Aster Rahayu; Refah Syauqi; Muhammad Kresna Islami
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.207

Abstract

Permasalahan yang sering terjadi pada industri-industri saat ini adalah pengolahan limbah yang tidak sempurna. Salah satu jenis industri yang memerlukan perhatian serta pengolahannya adalah limbah yang mengandung kromium seperti pada industri penyamakan kulit. Limbah penyamakan kulit masih menyisihkan logam-logam berbahaya dalam limbahnya seperti logam berat kromium (Cr). Kromium yang digunakan untuk menghasilkan olahan kulit yang lebih halus. Sekitar 30-40% kromium akan terbawa dalam limbah cair penyamakan. Tingginya kadar kromium yang tersisa dan terbawa dalam limbah dapat menyebabkan toksisitas akut dan kronis terhadap lingkungan bahkan juga sangat berbahaya terhadap mahluk hidup. Salah satu penanganannya adalah dengan menggunakan metode adsorpsi yang dimana merupakan salah satu metode alternatif dengan berbagai keuntungan yang ada. Biaya penanganan yang relatif murah, proses yang sederhana, dan kemungkinan dapat didaur ulang merupakan beberapa keuntungan dari proses adsorbsi. Selain itu, proses adsorbsi dapat dimaksimalkan dengan menggunakan adsorben yang memiliki spesifikasi potensi tertentu terhadap penyerapan kromium. Artikel ini me-review perbandingan metode adsorbsi batch dan kontinyu pada proses pengolahan kandungan kromium dalam limbah penyamakan kulit.The waste management issue is one of the biggest problems in the industries recently. Every industry has a high probability of releasing toxic by-product to the environment in the form of waste. One example is in the leather tanning industry. Leather tanning waste still removes harmful metals in its waste, such as heavy metal chromium (Cr). Chromium is used to produce finer skin products. About 30-40% chromium will be carried in the tanning liquid waste. The high chromium levels remaining and carried away in the waste can cause acute and chronic toxicity to the environment and even very harmful to living things. Adsorption is one of the highly recommended methods available to overcome this problem. Relatively low handling costs, simple processes, and the possibility of being recycled are some of the adsorption process's advantages. In addition, the adsorption process can be maximized by using adsorbents that have specific potential specifications for chromium absorption. This article reviews batch and continuous adsorption methods in the processing of chromium content in tannery waste.
Penggunaan Tanah Vertisol Sebagai Bahan Baku Pembuatan Silika Medya Ayunda Fitri; Farikha Alfi Syahriyah; Yulia Tri Rahkadima
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.212

Abstract

Penggunaan silika sering digunakan dalam berbagai industri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar silika pada tanah vertisol di desa Bringinbendo. Penelitian ini dimulai dengan perendaman tanah pada aquadest, kemudian dicuci sebanyak 3 kali dan dikeringkan pada 110°C selama 24 jam. Selanjutnya dihaluskan hingga ukuran 250 mesh. Tahapan kedua yaitu sintesis silika dengan metode ekstraksi alkali dan diikuti presipitasi asam. 20 gram serbuk tanah diekstraksi dalam 100 ml NaOH (3, 5, dan 7M) sambil diaduk dan dipanaskan pada 80°C. Selanjutnya ditambahkan aquadest sebanyak 250 ml dan disaring menggunakan kertas Whatman. Filtrat dititrasi dengan HCl 5M sambil diaduk hingga pH mencapai 7. Suspensi dipertahankan pada temperatur kamar selama 24 jam, disaring, dan dicuci sebanyak 5 kali dengan aquadest kemudian dikeringkan. Hasil dari penelitian yaitu massa silika paling besar terdapat pada konsentrasi NaOH 7M pada waktu 1 jam yaitu 2,59 gram dan tanah vertisol di Desa Bringinbendo memiliki kadar silika dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 77,7%.Silica is widely used in industry. The aim of this study was to determine the silica content in vertisol soil in Bringinbendo village. This research was started by soaking the soil in aquadest, then washed 3 times and dried it at 110 ° C for 24 hours. Furthermore, smoothed to 250 mesh size. The second stage is the synthesis of silica using the alkaline extraction method and the treatment of acids. 20 grams of soil powder were extracted in 100 ml NaOH (3, 5, dan 7M) while stirring and heated at 80 ° C. Next, 250 ml of aquadest was added and filtered using Whatman paper. The filtrate was titrated with 5M HCl while stirring until the pH reached 7. The suspension was maintained at room temperature for 24 hours, filtered, and 5 times with aquadest then dried. The results of the mass study were that the greatest silica was found in 7M NaOH concentration at 1 hour, namely 2.59 grams and vertisol soil in Bringinbendo Village had silica content in the medium category with a proportion of 77.7%.
Planning Advanced Treatment of Tap Water Consumption in Universitas Pertamina Hafizha Hasnaningrum; Betanti Ridhosari; I Wayan Koko Suryawan
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.177

Abstract

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di kawasan Universitas Pertamina beroperasi sudah sangat baik. Adanya program green campus dengan indikator daur ulang air limbah menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan kualitas effluent WWTP tersebut dengan menambahkan unit advanced treatment. Tujuan dari studi ini adalah untuk merancang unit-unit pengolahan advanced dan perkiraan hasil effluent dan biaya yang dibutuhkan. Studi ini dilakukan dengan melakukan survey lapangan, pengambilan data kualitas air, dan studi literatur. Dengan debit (Qpeak) perencanaan 8,45 m3/jam, luas lahan yang dibutuhkan untuk penambahan advanced treatment adalah 105,85 m2. Advanced treatment terdiri dari 1 unit bak ekualisasi, 2 unit saringan pasir lambat, 1 unit bak pencuci pasir, 2 unit membran mikrofiltrasi, 1 unit proses desinfeksi, dan 2 unit reservoir. Dengan adanya unit-unit tersebut diharapkan kualitas effluent memenuhi standard kualitas air minum dengan nilai TSS 0 mg/L, Amonia (NH3-N) 0,35 mg/L, Zat Organik (KmnO4) 0,513 mg/L, Zat Terlarut (TDS) 23 mg/L, dan Total Koliform 0/100 ml sampel. Total biaya yang dibutuhkan untuk membangun advance treatment untuk konsumsi air keran adalah Rp 374.727.334.The wastewater treatment plant (WWTP) in Universitas Pertamina’s area is operating very well. The existence of a green campus program with a wastewater recycling indicator has become one of the challenges. Improving the WWTP effluent quality by adding an advanced treatment unit. This study aims to design advanced processing units and estimate the effluent yields and required costs. This study was conducted by conducting a field survey, collecting water quality data, and literature study. With planning discharge (Qpeak) of 8.45 m3/hour, the land area required for the addition of advanced treatment is 105.85 m2. Advanced treatment consists of 1 unit of Equalization Tank, 2 units of slow sand filter, 1 unit of sand washer, 2 units of microfiltration membrane, 1 disinfection body, and 2 reservoir units. These units it is expected to make effluent quality meets the drinking water quality standards with a TSS value of 0 mg/L, Ammonia (NH3-N) 0.35 mg/L, Organic Substances (KmnO4) 0.513 mg/L, Total Dissolved Solids (TDS) 23 mg/L, and Total Coliform 0 Total/100 ml of sample. The total cost needed to build an advance treatment for tap water consumption is Rp 374,727,334.
Dinamika dan Karakter Produk Hasil Dekarboksilasi Sabun Hidroksi Pelargonat Ella Melyna; Tirto Prakoso; Tatang Hernas Soerawidjaja
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.210

Abstract

Pengembangan bahan bakar nabati akan memberi berbagai manfaat bagi pembangunan nasional, antara lain pengurangan impor bahan bakar minyak dan peningkatan ketahanan energi nasional. Oleh karena itu, teknologi untuk pembuatan bahan bakar nabati pensubstitusi bahan bakar minyak, terutama bensin, merupakan kebutuhan yang mendesak. Salah satu teknologi untuk menghasilkan bahan bakar nabati pensubstitusi bensin adalah dekarboksilasi sabun hidroksi pelargonat. Magnesium hidroksi pelargonat [Mg(OH)(OOCC8H17)] dapat didekarboksilasi menghasilkan n-oktana [C8H18] dan magnesium karbonat [MgCO3] yang pada temperatur mendekati 500oC akan terurai menjadi MgO dan CO2. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang dinamika dan karakter produk cair hasil reaksi dekarboksilasi sabun hidroksi pelargonat [Mg(OH)OOCC8H17] pada rentang suhu 250-350oC.The development of biofuel have a lot of advantages for national growth, such as, imports reduction of fuel and increasing national energy security and sustainability. Therefore, biofuel production technology for substitution of fuel oil especially gasoline, is very important. One of technology method to produce biogasoline is decarboxylation of pelargonic hydroxy metal soap. Magnesium hydroxy pelargonate [Mg(OH)(OOCC8H17)] can be decarboxylated to produce n-octane [C8H18] and magnesium carbonate [MgCO3] which at temperatures close to 500oC decompose into MgO and CO2. The objectives of this research is to investigate comprehensively the dynamics and character liquid products from decarboxylation of pelargonic hydroxy soap [Mg(OH)OOCC8H17] reaction at temperature range of 250-350oC.
Sintesis Nanofiber PVP dengan Ekstrak Basella rubra Linn. Menggunakan Metode Elektrospinning Wulandari Kusuma Dewi; Defi Nur Indahsari; Okky Putri Prastuti; Eka Lutfi Septiani
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.203

Abstract

Pembalut luka alternatif dari lembaran serat nano telah dikembangkan baru-baru ini. Aktivitas antioksidan dan antibakteri berperan penting dalam proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk menggabungkan sifat ekstrak Bassela rubra Linn. (EBRL) menjadi serat nano polivynil pyrrolidone (PVP) dengan metode elektrospinning. Langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang Bassela rubra L. sebanyak 8 gram dan membungkus kedalam kertas saring. Kemudian diekstraksi dengan menggunakan etanol 99% sebagai pelarut pada suhu ± 78 oC. Langkah selanjutnya adalah membuat nanofiber dengan metode elektrospinning dengan menimbang PVP (Polivinil pirrolidon) sebanyak 8%wt. Menambahkan ekstrak Bassela rubra L. sebanyak 2%wt, 5%wt dan 8%wt pada larutan kedalam jarum suntik. Lalu mengatur laju alir 1 mL/jam, jarak antara spineret dengan kolektor 10 cm, dan tegangan 12kV. Dalam pengaplikasian nanofiber dengan EBRL diperlukan ukuran serat tertentu, maka dalam penelitian ini dilakukan pengamatan dampak komposisi EBRL terhadap diameter dan distribusinya. Metode ini dimulai dengan menginjeksikan larutan PVP dan EBRL dengan berbagai komposisi menuju kolektor dalam seperangkat alat elektrospinning. Morfologi nanopartikel telah dianalisa menggunakan metode Scanning Electron Microscopy (SEM). Perbedaan komposisi EBRL memberikan diameter dan distribusi diameter yang berbeda-beda. Hal ini dapat dipengaruhi oleh bentuk Taylor Cone dari larutan yang diinjeksikan.An alternative wound dressing based on nanofiber mats have been developed recently. The antioxidant and antibacterial activity play an important role in wound healing process. This study aims to combine the properties of Bassela rubra Linn. (EBRL) extract into polivynil pyrrolidone (PVP) nanofibers using the electrospinning method. The first step is to weigh 8 grams of basella rubra linn and wrap it in filter paper. Then extracted using 99% ethanol as a solvent at a temperature of ± 78 oC. The next step is to make nanofibers using the electrospinning method by weighing 8% wt of PVP (Polyvinyl pyrrolidone). Basella rubra linn extract as much as 2% wt, 5% wt and 8% wt in the solution into a syringe. Then assistance with the flow rate of 1 mL / hour, the distance between the spineret and the collector is 10 cm, coating the collector with aluminum foil, and providing 12kV voltage assistance. In the application of nanofibers with EBRL, a certain fiber size is required, so in this study, we observed the impact of EBRL on its diameter and distribution. This method begins by injecting PVP and EBRL solutions of various compositions into the collector in a set of electrospinning devices. The morphology of the nanoparticles was analyzed using the Scanning Electron Microscopy (SEM) method. Differences in the composition of EBRL provide different diameter and diameter distribution. This can be constructed by the Taylor Cone form of the solution that is injected.
Pengaruh Gelombang Ultrasonik pada Pembuatan Sabun Transparan dari Minyak Kelapa (Cocos nucifera) dan Minyak Ayam (Gallus domesticus) Aman Santoso; Rohman Fantusi; Siti Marfu’ah; Sumari Sumari
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.175

Abstract

Sabun transparan dapat dibuat dari minyak nabati dengan basa alkali melalui reaksi saponifikasi dengan penambahan transparent agent. Perbedaan karakter bahan dari minyak kelapa (Cocos nucifera) dan minyak ayam (Gallus domesticus) berpotensi menghasilkan sabun transparan yang unik. Kavitasi gelombang ultrasonik menghomogenkan campuran dan mempercepat laju reaksi. Tujuan penelitian ini membuat sabun transparan dari minyak kelapa dan minyak ayam serta membandingkan sabun yang dihasilkan menggunakan gelombang ultrasonik dan dengan sabun dari metode pemanasan. Penelitian eksperimental dilakukan dengan tahapan preparasi dan karakterisasi minyak kelapa dan minyak ayam, dilanjutkan dengan saponifikasi dengan disertai gelombang ultrasonik. Karakterisasi sabun transparan hasil sintesis menunjukkan bahwa sabun yang terbuat dari minyak kelapa lebih transparan dari yang berasal minyak ayam, dan sabun yang dibuat dengan gelombang ultrasonik lebih transparan dari pada yang dibuat dengan pemanasan. Karakter sabun transparan dari minyak kelapa dengan ultrasonik memiliki kadar air sebesar 22,02%, fraksi tak tersabunkan sebesar 1,01%, bagian tak larut dalam alkohol sebesar 1,79%, alkali bebas sebesar 0,04%, pH 9,35, karakter ini sesuai dengan SNI sabun kecuali kadar airnya. Sabun dari minyak ayam memiliki kadar air 23,26%, fraksi tak tersabunkan sebesar 5,57%, bagian tak larut dalam alkohol sebesar 4,69%, alkali bebas sebesar 0,12%, pH 9,60, dan karakter ini kurang sesuai dengan SNI sabun. Sabun yang dihasilkan dengan metode ultrasonik dengan bahan minyak kelapa memiliki karakter yang paling baik dan memiliki kesesuaian paling banyak dengan SNI sabun padat.Transparent soap is synthesized from vegetable oils with alkaline bases through the saponification reaction with the addition of a transparent agent. The different material characteristics of coconut oil (Cocos nucifera) and chicken oil (Gallus domesticus) have the potential to produce unique transparent soap. Ultrasonic wave cavitation homogenizes the mixture and accelerates the reaction rate. The purpose of this research is to synthesize transparent soap from coconut oil and chicken oil and compared the soap produced using ultrasonic waves and with soap from the heating method. This experimental laboratory research was carried out with the stages of preparation and characterization of coconut oil and chicken oil, followed by saponification of coconut oil and chicken oil accompanied by ultrasonic waves. Characterization of the synthesized transparent soap. The results in this study indicate that soaps made from coconut oil are more transparent than those made from chicken oil, and soaps made with ultrasonic waves are more transparent than those made by normal heating. The ultrasonic transparent soap character of coconut oil has a moisture content of 22.02%, the non-saponified fraction 1.01%, insoluble part of alcohol by 1.79%, free alkaline by 0.04%, pH 9.35, and this is in accordance with SNI for soap except for its water content. Meanwhile, ultrasonic soap from chicken oil has a moisture content of 23.26%, non-saponified fraction 5.57%, the insoluble portion of alcohol was 4.69%, free alkaline 0.12%, pH 9.60, this is not in accordance with SNI soap. The soap produced by the ultrasonic method with coconut oil has the best character and has the most compatibility with SNI for solid soap.
Kajian Karakteristik dan Energi pada Pirolisis Limbah Plastik Low Density Polyethylene (LDPE) Novarini Novarini; Sigit Kurniawan; Rusdianasari Rusdianasari; Yohandri Bow
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.190

Abstract

Limbah plastik Low Density Poly Ethylene (LDPE) tidak dapat terurai oleh mikroorganisme, tidak bernilai jual sehingga tertimbun di Tempat Pembuangan Sampah Akhir. Salah satu metoda pengolahan limbah plastik adalah proses pirolisis. Tujuan penelitian ini menentukan jenis bahan bakar minyak (BBM) produk pirolisis dan menentukan efisiensi tertinggi yaitu nilai tertinggi energi yang dihasilkan terhadap penggunaan bahan bakar untuk proses pirolisis. Peralatan pirolisis yang digunakan adalah 1 unit reaktor dan 1 unit kondensor. Karakteristik BBM yang dianalisa adalah cetane index, density, sulfur content, kinematic viscosity, flash point, dan caloric value dari proses pirolisis yang memvariasikan temperatur pembakaran di reaktor 200°C, 250°C, 300°C dan proses di reaktor dengan dan tanpa penggunaan 1% katalis zeolit alam terhadap 2,5 kg limbah plastik LDPE selama 6 jam. Setelah BBM yang dihasilkan terindentifikasi jenisnya, dilakukan pengkajian efisiensi energi produk BBM terhadap penggunaan bahan bakar pada proses pirolisis. Hasil analisa terhadap karakteristik produk BBM yang dihasilkan di setiap variasi temperatur pirolisis dengan dan tanpa penggunaan katalis merupakan bahan bakar jenis kerosin. Efisiensi tertinggi sebesar 72,51% adalah pada kerosin yang dihasilkan pada pirolisis menggunakan katalis pada temperatur 250°C dengan perbandingan nilai energi 20.402 kkal untuk kerosin hasil pirolisis limbah plastik LDPE dan 28.137 kkal untuk penggunaan bahan bakar Liquefied Petroleum Gas (LPG) pada proses pirolisis. Pirolisis dengan penggunaan katalis zeolit 1% pada suhu 250°C terbukti menjadi cara yang efisien dan berkelanjutan untuk pengolahan limbah LDPE menjadi BBM jenis kerosin.Low-Density Poly Ethylene (LDPE), plastic waste cannot be broken down by microorganisms in the soil, has no sale value, so it is buried in the final waste disposal site. One of the plastic waste treatment methods is the pyrolysis process. The purpose of this study was to determine the type of fuel oil from pyrolysis products and to determine the energy efficiency produced against the highest fuel use. The pyrolysis equipment used is 1 reactor unit and 1 condenser unit. The characteristics of the fuel oil product analyzed are the cetane index, density, sulfur content, kinematic viscosity, flash point, and caloric value of the pyrolysis process which varies the combustion temperature in the reactor by 200°C, 250°C, 300°C and the process in the reactor, with and without the use of natural zeolite catalysts 1% against 2.5 kg of LDPE plastic waste for 6 hours. After the type of fuel produced is identified, an energy efficiency assessment of the fuel product is carried out on the use of fuel in the pyrolysis process. The results analysis show that the all product of fuel oil is a kerosene-type of fuel. The highest efficiency of 72.51% is the kerosene produced in pyrolysis using a catalyst at a temperature of 250°C with an energy value ratio of 20,402 kcal for kerosene from pyrolysis of LDPE plastic waste and 28,137 kcal for the use of Liquefied Petroleum Gas (LPG) fuel in the pyrolysis process. Pyrolysis using a 1% zeolite catalyst at 250°C has proven to be an efficient and sustainable way to treat LDPE waste into kerosene fuel.
Perbandingan Karakteristik Plastik Biodegradable dari Biji Durian menggunakan Filler Kalsium Silikat dan Kalsium Karbonat S. Sigit Udjiana; Sigit Hadiantoro; Noor Isnaini Azkiya
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.197

Abstract

Pada penelitian ini biji durian digunakan sebagai sumber pati dalam pembuatan plastik biodegradable. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan jumlah filler terhadap sifat biodegradable, sifat mekanik dan sifat water absorbtion pada plastik biodegradable berbasis pati biji buah durian. Plasticizer yang digunakan dalam penelitian ini adalah sorbitol  40%, sedangkan filler yang digunakan adalah Kalsium silikat (Ca2SiO4) dan Kalsium karbonat (CaCO3) dengan variable konsentrasi 2%, 4%, 6%, dan 8%. Dari hasil penelitian, diperoleh % yield dari pati biji buah durian sebesar 34,57%. Hasil dari plastik biodegradable terbaik dengan karakteristik transparan, tidak ada gelembung, lentur serta permukaan yang halus diperoleh pada variabel penambahan filler kalsium karbonat 4%. Hasil uji bio-degradasi paling mendekati standard ASTM D6400 diperoleh pada variabel kalsium karbonat 2%. Pada Uji water absorption hasil terbaik dicapai pada variabel kalsium silikat 8%. Uji tarik hasil terbaik diperoleh pada variabel kalsium silikat 6%.In this study, durian seeds were used as a source of starch in making biodegradable plastics. This study aims to determine the effect of the type and amount of filler on biodegradable properties, mechanical properties, and water absorption properties of biodegradable plastics based on durian fruit starch. The plasticizer used in this study was sorbitol 40%, while the filler used was Calcium silicate (Ca2SiO4) and Calcium carbonate (CaCO3) with variable concentrations of 2%, 4%, 6%, and 8%.. From the research results, the% yield of durian seed starch was 34.57%. The results of the best biodegradable plastic with the characteristics of transparent, no bubbles, flexible and smooth surface were obtained with the addition of 4% calcium carbonate filler variables. The bio-degradation test results closest to the ASTM D6400 standard were obtained in the 2% calcium carbonate variable. In the water absorption test, the best results were achieved at the 8% calcium silicate variable. The best tensile test results were obtained in the 6% calcium silicate variable.
Encapsulation of Clove Oil within Ca-Alginate-Gelatine Complex: Effect of Process Variables on Encapsulation Efficiency Agung Ari Wibowo; Ade Sonya Suryandari; Eko Naryono; Vania Mitha Pratiwi; Muhammad Suharto; Naila Adiba
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.214

Abstract

Karena memiliki khasiat seperti analgesik, minyak cengkeh biasa digunakan sebagai obat, antibakteri, antioksidan, dan antimikroba. Kemungkinan enkapsulasi minyak cengkeh sebagai makrokapsul padat dipelajari dengan pembuatan makrokapsul Ca-Alginate-Gelatine. Variabel proses yang digunakan adalah variasi konsentrasi alginat 1% dan 1,5% b / v, dan perbandingan massa antara alginat-gelatin divariasikan antara 1: 4, 1: 6, dan 1: 8 w /w. Selain itu, variasi konsentrasi CaCl2 (10%, 20% dan 30% w / v) sebagai cross-linking agent pembentukan kompleks Ca-Alginate juga digunakan sebagai variabel proses. Peningkatan konsentrasi alginat, gelatin dan CaCl2 nampaknya menurunkan efisiensi enkapsulasi karena terbatasnya volume ruang bebas yang terbentuk pada matriks Ca-Alginat-Gelatin. Efisiensi enkapsulasi tertinggi (93,08%) diperoleh pada penggunaan Alginat 1% w / v, dengan perbandingan alginat dengan gelatin 1: 4 dan ikatan silang dalam larutan CaCl2 10% w / v selama 15 menit.Owing to the properties such as analgesic, clove oil is commonly used as medicine, antibacterial, antioxidant, and antimicrobial drugs. The possibility of clove oil encapsulation as a solid macrocapsule was studied by making Ca-Alginate-Gelatine macrocapsules. The process variables used were variations in Alginate concentration of 1% and 1.5% w/v, and the mass ratio between alginate-gelatine was varied between 1: 4, 1: 6, and 1: 8 w/w. In addition, variations in the concentration of CaCl2 (10%, 20% and 30% w/v) as a cross-linking agent for the formation of Ca-Alginate complexes were also used as process variables. The increase of alginate, gelatine and CaCl2 concentration seems to decreased the encapsulation efficiency because of the limitation of the free space volume formed in the Ca-Alginate-Gelatine matrix. The highest encapsulation efficiency (93.08%) was obtained in the use of Alginate 1% w/v, with a ratio of alginate to gelatine 1: 4 and cross-linking in a 10% w/v CaCl2 solution for 15 minutes.
Pengaruh Jenis Komposter dan Waktu Pengomposan terhadap Pembuatan Pupuk Kompos dari Activated Sludge Limbah Industri Bioetanol Wianthi Septia Witasari; Khalimatus Sa'diyah; Mohammad Hidayatulloh
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.209

Abstract

Hasil samping instalasi pengolahan air limbah di industri bioetanol menghasilkan limbah padat berupa activated sludge. Limbah ini dapat menimbulkan masalah apabila tidak ditangani dengan benar. Diantaranya adalah menurunkan kandungan hara dalam tanah dan mencemari sumber air bersih bila masuk ke badan sungai. Limbah activated sludge dari proses anaerobic biodigesterdi industri bioetanol dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dengan proses pengomposan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jenis komposter dan waktu pengomposan dalam pembuatan kompos dari activated sludge limbah industri bioetanol terhadap kandungan pupuk kompos yang dihasilkan.Pada proses pengomposan digunakan bioactivator jenis EM4. Jenis komposter yang digunakan adalah komposter aerasi dan dan komposter non-aerasi. Waktu pengomposan yang digunakan adalah blanko, minggu ke-1, minggu ke-2, minggu ke-3 dan minggu ke-4. Dari hasil analisis didapatkan karakteristik fisik pupuk kompos yaitu suhu, pH, Kelembaban, C organik, N total, P total, K total, serta ratio C/N sesuai dengan SNI  19-7030-2004. Penggunaan kompoter jenis aerasi dan non aerasi menghasilkan kualitas pupuk kompos yang memenuhi SNI  19-7030-2004. Waktu pengomposan yang semakin lama memberikan kualitas pupuk kompos yang lebih baik.Side product of the waste water treatment plant in the bioethanol industry produces solid waste in the form of activated sludge.This waste can cause problems if not handled properly. Among them are reducing the nutrient content in the soil and polluting clean water sources when they enter river bodies. Activated sludge waste from the anaerobic biodigester process in the bioethanol industry can be used as organic fertilizer by composting. The purpose of this study was to determine the effect of composter design and composting time in making compost from activated sludge of bioethanol industrial waste on the content of compost produced. In composting process used an EM4 as bioactivator. The composter design used is an aerated composter and a non-aerated composter. The composting time used is blank, week 1, week 2, week 3 and week 4. From the analysis, it was found that the physical characteristics of compost were temperature, pH, humidity, C organic, total N, total P, total K, and the C / N ratio according to SNI 19-7030-2004. The use of aerated and non aerated design composters produces quality compost that meets SNI 19-7030-2004. The longer composting time will provide better quality compost.

Page 1 of 2 | Total Record : 12