cover
Contact Name
Agung Ari Wibowo
Contact Email
agung.ari.wibowo@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agung.ari.wibowo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan
ISSN : 25798537     EISSN : 25799746     DOI : -
This journal is an open access journal with the frequency of 2 (two) times a year, published by Department of Chemical Engineering, Politeknik Negeri Malang (State Polytechnic of Malang). The journal publishes original research results, literature reviews and short communications relevant to the fields of chemical and environmental engineering.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2021): October 2021" : 10 Documents clear
Pengaruh Komposisi Sampah dan Feeding Rate terhadap Proses Biokonversi Sampah Organik oleh Larva Black Soldier Fly (BSF) Rini Hartono; Anita Dwi Anggrainy; Arseto Yekti Bagastyo
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i2.231

Abstract

Biokonversi oleh larva Black Soldier Fly (BSF) menjadi metode pilihan untuk pengolahan sampah organik. Metode ini meliputi proses reduksi jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat, pembentukan kompos dari residu sampah yang tidak terdegradasi oleh BSF, dan pertumbuhan larva BSF yang dapat digunakan untuk pakan hewan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi seberapa besar pengaruh komposisi sampah dan feeding rate terhadap tingkat reduksi dan biokonversi sampah. Variabel penelitian berupa (i) komposisi sampah, yakni campuran 30% sampah sisa makanan (SM) dengan 70% sampah sayur (SY) atau sampah buah (B) atau sampah kebun (K), dan (ii) feeding rate (20, 35, dan 50 mg sampah organik/larva.hari). Penelitian ini dilakukan pada skala laboratorium selama 12 hari dengan menggunakan 300 ekor larva/bioreaktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva yang diberi campuran SM:SY dapat menghasilkan persentase reduksi sampah paling tinggi (81,98%), diikuti oleh campuran SM:B sebesar 81,23%, dan SM:K  sebesar 42,71%. Ditinjau dari berat akhir larva, tingkat biokonversi tertinggi didapat pada campuran SM:B dan feeding rate 35 mg sampah/larva.hari, sedangkan tingkat biokonversi terendah didapat dari campuran SM:K dan feeding rate 50 mg sampah/larva.hari. Analisis protein menunjukkan bahwa semua larva BSF dari tiap campuran sampah layak dimanfaatkan sebagai pakan hewan, karena memiliki kandungan protein antara 34– 59%.Bioconversion method using Black Soldier Fly (BSF) larvae has become of great interest in organic waste treatment. This method comprises of the municipal waste reduction process, the compost production from undegraded waste, and the growth of BSF larvae that can be used further as animal feed. This study evalutes the effect of waste composition and feeding rate on the waste reduction and bioconversion level. The evaluations were done on some variables: (i) waste composition (30% food waste and 70% vegetables waste (SY) or fruit waste (B) or garden waste (K), (ii) feeding rate (20, 35, and 50 mg waste/larva.day).The experiments were conducted in a laboratory scale for 12 days using 300 larvae/bioreactor. The results show that the larvae that has been fed with SM:SY obtained the highest waste reduction (81.98%), followed by SM:B (81.23%) and SM:K (42.71%). Based on the final larvae weight, the highest bioconversion level was acquired on the SM:B composition and feeding rate of 35 mg waste/larva.day, whereas the lowest bioconversion was measured on the SM:K composition and feeding rate of 50 mg waste/larva.day. The protein analyses describes that all larvae are applicable for animal feed due to protein contents of 34–59%.
Penyisihan Pencemar Air Limbah Industri Rumput Laut Menggunakan Nano Karbon Aktif Prayitno Prayitno; Nanik Hendrawati; Indrazno Siradjuddin
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i2.252

Abstract

Air limbah yang dihasilkan oleh industri pengolahan rumput laut memiliki volume yang cukup besar dengan karakteristik pH: 11-13 (alkalis), BOD: 200-300 ppm, COD: 500-700 ppm sehingga kurang efisien jika diolah menggunakan proses biologi dan adsorpsi kimiawi. Penelitian bertujuan untuk menganalisa kemampuan nano karbon aktif mengadsorpsi bahan-bahan pencemar (pollutans) dalam suatu kolom adsorpsi alir kontinyu. Penelitian dilakukan dengan cara mengalirkan air limbah rumput laut ke dalam kolom adsorpsi yang berisi adsorben nano karbon aktif pada ukuran 1-25 nm. Variabel percobaan yang digunakan adalah tekanan operasi (2 dan 4 MPa), serta berat adsorben nano karbon aktif (50, 100 dan 150 g) dengan lama adsorpsi 1 jam. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pada tekanan 4 MPa dan berat adsorpben nano karbon aktif 150 g dengan waktu adsorpsi selama 25 menit memberikan penyisihan BOD, COD dan TSS maksimal masing-masing sebesar 96,4; 96,4 dan 94,5%.Wastewater produced by the seaweed processing industry has a large enough volume with the characteristics of pH: 11-13 (alkaline), BOD: 200-300 ppm, COD: 500-700 ppm so it is less efficient if treated using biological processes and chemical adsorption. The aim of this research is to analyze the ability of activated carbon nano to adsorb pollutants in a continuous flow adsorption column. The study was conducted by flowing wastewater seaweed into the adsorption column containing the adsorbent activated carbon nano in size 1-25 nm. The experimental variables used were operating pressure (2 and 4 MPa), as well as weight of activated carbon nano adsorbent (50, 100 and 150 g) with adsorption time of 1 hour. The experimental results showed that at pressure of 4 MPa and weight of activated carbon nano adsorbent of 150 g with an adsorption time of 25 minutes gave the maximum removal of BOD, COD and TSS were 96.4, 96.4 and 94.5%, respectively.
Fotodegradasi Terkatalisis TiO2-H2O2 pada Pengolahan Limbah Cair Industri Mie Soun Kholidah Kholidah; Endang Tri Wahyuni; Eko Sugiharto
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i2.225

Abstract

Fotodegradasi terkatalisis TiO2 telah terbukti efektif digunakan untuk mengolah limbah organik, sehingga dilakukan kajian fotodegradasi terkatalisis TiO2 pada limbah cair industri mie soun sebagai upaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan di sekitar daerah produksi. Kajian penambahan oksidator H2O2 juga dilakukan untuk meningkatkan efektivitas fotodegradasi. Optimalisasi reaksi fotodegradasi dilakukan dengan optimasi variabel pH, massa fotokatalis, konsentrasi H2O2, dan waktu penyinaran. Parameter yang digunakan untuk menilai efektivitas fotodegradasi berupa penurunan kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) limbah yang ditentukan dengan metode volumetri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair industri mie soun mempunyai kandungan COD awal sebesar 1920 mg L-1. Proses fotodegradasi terkatalisis TiO2 hanya dapat menurunkan kandungan COD limbah menjadi 1480 mg L-1 (22,92%), sedangkan penambahan H2O2 pada sistem fotokatalis TiO2 dapat meningkatkan penurunan kandungan COD menjadi 1120 mg L-1 (41,67%). Penurunan paling optimal tercapai pada pH 3, penggunaan 10 mg TiO2, penambahan 10 mM H2O2, dan waktu penyinaran UV selama 24 jam.Photocatalytic degradation over TiO2 has been proven to be effective in treating organic wastewater. So that a study of photocatalytic degradation over TiO2 in the cellophane noodles industrial wastewater was conducted as an effort to reduce environmental pollution around the production area. Studies on the addition of H2O2 as an oxidizing agents were also carried out to increase the effectiveness of photodegradation. Optimization of the photodegradation reaction was carried out by optimizing the variables of pH, photocatalyst mass, H2O2 concentration, and irradiation time. Chemical Oxygen Demand (COD) was used to assess the effectiveness of photodegradation and was determined by volumetric method. The results showed that the wastewater from the cellophane noodles industrial wastewater has an initial COD level of 1920 mg L-1. Photocatalytic degradation over TiO2 process can only reduce the COD level of the wastewater to 1480 mg L-1 (22.92%), while the addition of H2O2 to the TiO2 photocatalyst system can increase the decrease in the COD level to 1120 mg L-1 (41.67%). The most optimal decrease was achieved at pH 3, the use of 10 mg TiO2, the addition of 10 mM H2O2, and UV irradiation time for 24 hours.
Pembuatan Briket Campuran Arang Ampas Tebu dan Tempurung Kelapa sebagai Bahan Bakar Alternatif Asalil Mustain; Christyfani Sindhuwati; Agung Ari Wibowo; Adinda Sindi Estelita; Nur Lailatur Rohmah
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i2.183

Abstract

Pemanfaatan ampas tebu dan tempurung kelapa sebagai bahan baku utama pembuatan briket memiliki potensi besar sebagai bahan bakar alternatif. Briket merupakan arang dengan bentuk tertentu yang dihasilkan melalui proses pemampatan dengan penambahan sejumlah perekat tertentu. Pemanfaatan briket sebagai bahan bakar mampu menghasilkan kalor dengan sedikit asap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komposisi arang ampas tebu dan arang tempurung kelapa serta jenis perekat terhadap karakteristik briket. Variabel yang digunakan pada penelitian ini yaitu rasio massa arang ampas tebu terhadap arang tempurung kelapa (100:0, 50:50, 30:70 dan 0:100) dan jenis perekat briket (tepung tapioka atau tepung sagu). Tahapan penelitian pembuatan briket ini meliputi persiapan bahan baku, karbonisasi, pembriketan dan analisa produk. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik briket terbaik terdapat pada briket dengan perekat tepung tapioka dan komposisi arang ampas tebu terhadap arang tempurung kelapa 30:70. Karakteristik briket tersebut memiliki nilai kadar air sebesar 6,93%, kadar abu 3,50%, kadar zat menguap 24,75%, kadar karbon terikat 64,82% dan nilai kalor sebesar 5995 kal/g.The utilization of bagasse and coconut shells as the main raw materials for making briquettes has great potential as alternative fuels. Briquettes are charcoal with a certain shape which is produced through a compression process with the addition of a certain amount of adhesive. The utilization of briquettes as fuel is able to produce heat with less smoke. The purpose of this study was to determine the effect of the bagasse charcoal and coconut shell charcoal composition and the adhesive type on the characteristics of briquettes. The variables used in this study were the mass ratio of bagasse charcoal to coconut shell charcoal (100:0, 50:50, 30:70 and 0:100) and the type of briquette adhesive (tapioca flour or sago flour). The research stages of making briquettes include raw material preparation, carbonization, briquetting and product analysis. The results of this study indicated that the best characteristics of briquettes were found in briquettes with tapioca flour adhesive and the composition of bagasse charcoal to coconut shell charcoal 30:70. The characteristics of these briquettes had a water content value of 6.93%, ash content of 3.50%, volatile matter content of 24.75%, fixed carbon content of 64.82% and calorific value of 5995 cal/g.
Pengaruh Volume Solvent dan Berat Biji Alpukat (Persea Americana Mill) Terhadap Yield dan Karakteristik Hasil Ekstraksi Ary Rahmady Pratama; Eko Ariyanto; Mardwita Mardwita
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i2.217

Abstract

Biji buah alpukat (Persea americana) merupakan sumber limbah biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Pada bagian biji alpukat mengandung selulosa, hemiselulosa, lignin, lipid, protein. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa pengaruh berat biji alpukat dan solvent n-heksana terhadap persentase yield minyak biji alpukat dan mengetahui karakteristik persentase FFA, kadar air, impurities, bilangan iodine, bilangan peroksida dan bilangan saponifikasi minyak dari biji alpukat yang dihasilkan dari proses ekstraksi. Metode penelitian ini dilakukan dengan mengestraksi biji alpukat menggunakan soklet ekstraksi dan solvent n-heksana dengan temperatur 70 °C, tekanan 1 atm dan waktu 240, 360, 480 menit. Hasil penelitian menunjukan variabel berat biji alpukat, volume pelarut dan lamanya waktu ekstraksi mempengaruhi peningkatan jumlah minyak biji alpukat yang dihasilkan. Dari penelitian yang dilakukan yield tertinggi dihasilkan dari ekstraksi biji alpukat adalah sebesar 30,15 % pada variabel massa biji 60 gram, waktu ekstraksi 480 menit dan volume pelarut 300 ml. Hasil analisa kualitas minyak biji alpukat terhadap persentase FFA, kadar air, impurities, bilangan iodine, bilangan peroksida dan bilangan saponifikasi telah memenuhi standar SNI. Namun pada analisa impurities pada proses ekstraksi biji alpukat 60 gram dengan volume n-heksana 300 ml melebihi standar SNI. Hasil uji Gas Chromatography menunjukkan bahwa minyak biji alpukat mengandung senyawa asam lemak dan konsentrasi oleic acid adalah yang tertinggi dibandingkan unsur kimia yang lain.Avocado seeds (Persea americana) are biomass waste that can be used as an alternative source of energy. Avocado seeds contain cellulose, hemicellulose, lignin, lipids, and protein. This research studied the effects of avocado seed weight and n-hexane solvent on the percentage of avocado seed oil yield and determined the characteristics of the FFA percentage, water content, impurities, numbers of iodine, peroxide and oil saponification of obtained from the extraction process. Avocado seeds were extracted using an extraction sox and n-hexane solvent at 70 °C, 1 atm and time 240, 360, 480 minutes. The results showed that avocado seed weight, solvent volume and extraction time affected the amount of avocado seed oil yield. The highest yield was 30.15% obtained from seed mass of 60 grams with 480 minute extraction time and 300 ml solvent. The results also showed that the quality of avocado seed oil in relation to FFA percentage, moisture content, impurities, iodine number, peroxide number and saponification number have fulfilled the SNI standards. However, the analysis of impurities in the extraction process of 60 grams of avocado seeds with a volume 300 ml of n-hexanes exceeds the SNI standard. The Gas Chromatography test showed that avocado seed oil contained fatty acid compounds with highest concentration of oleic acid among other chemical elements.
Pemodelan Dinamik Solar Cell dengan Metode Pendekatan Shepherd Modifikasi Wahyu Diski Pratama; Bidayatul Khoiriyah; Bella Octa Avenia; Supriyono Supriyono
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i2.228

Abstract

Pemerintah Indonesia menargetkan konsumsi listrik sebanyak 1.129 kWh/kapita pada tahun 2018. Energi alternatif terbarukan merupakan salah satu solusi dalam mengatasi masalah kenaikan konsumsi listrik yang bertambah setiap tahunnya. Salah satu dari energi alternatif terbarukan adalah solar cell. Solar cell yang digunakan pada mobil listrik sebagai pengisi daya dapat membantu mengurangi konsumsi listrik konvensional. Penelitian ini dilakukan untuk memprediksi kondisi optimum serta cara pengontrolan sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan. Metode yang dilakukan untuk memprediksi kondisi optimum solar cell adalah dengan pemodelan Shepherd yang tahapannya meliputi pemodelan simulasi solar cell untuk rangkaian, pemodelan simulasi solar cell Shepherd untuk kendaraan listrik (EVs), dan model sirkuit ekuivalen. Kemudian, menyusun pendekatan pemodelan dengan penyusunan persamaan voltase dan arus discharge serta memberikan asumsi-asumsi pada parameter model. Parameter-parameter discharge solar cell berdasarkan data manufaktur yaitu Qfull 1034,32031 mAh/gram, Vfull 17,5177 Volt, Qexp 999,2730931 mAh/gram, Vexp 11,46641134 Volt, Qnom 0,854810174 mAh/gram, Vnom 0 Volt, SOCmin 9,67% dan SOCmax 95,05%. Dari hasil algoritma data simulasi didapatkan parameter-parameter discharge solar cell yaitu E0 12,53704928 Volt, R0 0,012 mΩ, Kdr 0,01 mΩ, Kdv 0,044148043 Volt/mA.h, A 4,9956 Volt, B 2,971366829 (mA.h)-1, SOCmin 9,67% dan SOCmax 95,05%.The Indonesian government targets electricity consumption of 1.129 kWh/capita in 2018. Renewable energy alternative energy is one solution in overcoming the problem of increasing electricity consumption which increase every year. One of the renewable alternative energy is solar cell. Solar cells used in electric cars as chargers can help reduce conventional electricity consumption. This research was conducted to predict the optimum conditions and how to control it as an energy source that can be utilized. The method used to predict the optimum condition of the solar cell is Shepherd modeling whose stages include solar cell simulation modeling for circuits, Shepherd solar cell simulation modeling for electric vehicle (Evs), and equivalent circuit models. Then, develop a modeling approach by compiling the equations of voltage and discharge current and provide assumptions on the model parameters. The discharge parameters of the solar cell based on manufacturing data are Qfull 1034,32031 mAh/gram, Vfull 17,5177 Volt, Qexp 999,2730931 mAh/gram, Vexp 11,46641134 Volt, Qnom 0,854810174 mAh/gram, Vnom 0 Volt, SOCmin 9,67% and SOCmax 95,05%. From the results of the simulation data algorithm, the parameters of the solar cell discharge are E0 12,53704928 Volt, R0 0,012 mΩ, Kdr 0,01 mΩ, Kdv 0,044148043 Volt/mA.h, A 4,9956 Volt, B 2,971366829 (mA.h)-1, SOCmin 9,67% and SOCmax 95,05%.
Review: Potensi Tandan Kosong Kelapa Sawit sebagai Bahan Baku Pembuatan Bioetanol dengan Metode Fed Batch pada Proses Hidrolisis Christyfani Sindhuwati; Asalil Mustain; Yasinta Octaliya Rosly; Andika Soharmat Aprijaya; Mufid Mufid; Ade Sonya Suryandari; Hardjono Hardjono; Sri Rulianah
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i2.224

Abstract

Peningkatan kebutuhan energi terutama bahan bakar minyak yang tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber energi tak terbarukan akan mengakibatkan kelangkaan energi. Pembuatan bahan bakar terbarukan merupakan solusi untuk mengatasi kelangkaan tersebut, salah satunya bioetanol. Biomassa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) merupakan bahan baku yang cocok untuk pembuatan bioetanol karena jumlahnya yang melimpah dan mengandung lignoselulosa. Bioetanol dapat diperoleh melalui proses fermentasi dengan metode yang digunakan adalah Fed Batch Simultaneous Saccharification Fermentation. Pretreatment berupa size reduction dan delignifikasi direkomendasikan sebelum proses hidrolisis enzimatik dan fermentasi secara serentak. Metode pengumpanan Fed Batch pada High Total Solid Loading (HTSL) direkomendasikan sebagai strategi pengumpanan pada proses hidrolisis enzimatik dengan jumlah frekuensi yang tinggi memberikan hasil kadar etanol lebih tinggi.The enhancement of energy needs, especially fuel, that is not complemented by the availability of non-renewable energy sources, would affect the deficient of energy. The production of renewable fuel such as bioethanol is a solution to overcome that deficiency. One of the substrates that are appropriate to be processed into bioethanol is Oil Palm Empty Fruit Bunch (OPEFB) because of abundant and lignocellulosic biomass. Bioethanol can be produced through the fermentation process by Fed-Batch Simultaneous Saccharification Fermentation method. Size reduction and delignification for pretreatment are recommended before the simultaneous enzymatic hydrolysis process and fermentation. Using the fed-batch as a feeding method of High Total Solid Loading (HTSL) is recommended for feeding strategy in hydrolysis enzymatic process with high frequency that can produce a higher yield of ethanol.
Panas Pretreatment Tandan Kosong Kelapa Sawit dengan Sodium Hidroksida dan Asam Fosfat Jabosar Ronggur Hamonangan Panjaitan
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i2.216

Abstract

Indonesia sebagai negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia memiliki limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang melimpah. TKKS ini dapat dikonversi menjadi berbagai bioproduk yang didahului dengan proses pretreatment. Pada penelitian ini akan diteliti perhitungan panas pretreatment TKKS dengan sodium hidroksida dan asam fosfat pada kondisi suhu rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panas pretreatment dengan menggunakan sodium hidroksida lebih tinggi dibandingkan dengan panas pretreatment dengan asam fosfat. Selain itu, berdasarkan variasi konsentrasi asam fosfat yang digunakan, semakin tinggi konsentrasi asam fosfat membuat panas pretreatment dengan menggunakan larutan asam fosfat semakin rendah. Perbedaan nilai panas pada pretreatment dengan menggunakan sodium hidroksida dan asam fosfat dipengaruhi oleh panas pembentukan dari masing-masing senyawa yang digunakan proses pretreatment. Panas pretreatment TKKS dengan 5% larutan sodium hidroksida menghasilkan panas sebesar 125 kJ. Sedangkan, panas pretreatment dengan menggunakan asam fosfat pada berbagai konsentrasi 70%, 75%, 80% dan 85% adalah 117 kJ, 103 kJ, 88 kJ dan 74 kJ.Indonesia as the largest palm oil producing country in the world has abundant oil palm empty fruit bunches (OPEFBs). OPEFBs can be converted into various bioproducts which are preceded by pretreatment process. This research investigated the heat calculation of OPEFBs pretreatment with sodium hydroxide and phosphoric acid at low temperature conditions. The results showed that the heat using sodium hydroxide was higher than the heat using phosphoric acid. In addition, based on variation in phosphoric acid concentrations used, it was found that the higher concentration of phosphoric acid made the heat of phosphoric acid pretreatment became lower. The difference of heat value in sodium hydroxide and phosphoric acid pretreatment was influenced by the heat of formation in each compound used in the pretreatment process. Heat pretreatment of OPEFBs with 5% sodium hydroxide solution was 125 kJ. While, heat pretreatment using phosphoric acid at various concentrations of 70%, 75%, 80% and 85% were 117 kJ, 103 kJ, 88 kJ and 74 kJ.
Life Cycle Assessment Approach to Evaluation of Environmental Impact Batik Industry Muhammad Noer Iqbal; Safitri Puji Lestari; Michael Yosafaat; Keke Afrila Mardianta; Iva Yenis Septiariva; I Wayan Koko Suryawan
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i2.226

Abstract

Industri batik merupakan salah satu bisnis tekstil yang paling berkembang di Indonesia. Hasil samping dari proses membatik adalah berbagai bentuk limbah, seperti limbah padat dan limbah cair. Pencemaran terutama bersumber dari limbah cair yang berupa zat warna yang dihasilkan sisa bahan pewarna, proses pencucian dan pembilasan kain batik. Pada umumnya limbah industri batik terdiri dari dari sisa mori, ceceran lilin, sisa air pewarnaan, sisa lilin dan air pelorodan. Salah satu cara untuk mengurangi dampak lingkungan dari proses pembuatan batik adalah dengan menggunakan analisis life cycle assessment (LCA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak lingkungan dari proses pembuatan batik dan input bahan baku yang memiliki dampak lingkungan paling signifikan. Analisis dampak lingkungan dilakukan dengan menginventarisasi input dan output berdasarkan database ecoinvent 3 menggunakan software Simapro 9.1.1. Metode analisis dampak lingkungan dilakukan dengan environmental product declaration (EPD) 2018. Hasil analisis gate-to-gate menunjukkan bahwa dampak lingkungan tertinggi adalah pemanasan global. Sedangkan dari sisi penggunaan bahan baku dan energi, parafin perlu diminimalisir. Penggunaan parafin menyumbang 68,705% dari total dampak lingkungan dari proses pembuatan batik.The batik industry is one of the most developed textile businesses in Indonesia. The by-products of the batik-making process are various forms of waste, such as solid waste and wastewater. Pollution mainly comes from liquid waste in the form of dyes produced by residual dyes, washing and rinsing processes for batik cloth. In general, batik industry waste consists of residual mori, spilled wax, residual staining water, wax residue and pelorodan water. This liquid waste is generated due to the use of synthetic dyes in the batik industry. One way to reduce the environmental impact of the batik-making process is by using a life cycle assessment (LCA) analysis. This study aims to analyze the environmental effects of the batik-making process and the raw material input, which has the most significant environmental impact. Environmental impact assessment is carried out by inventorying inputs and outputs based on the ecoinvent 3 databases with Simapro 9.1.1 software. The environmental impact analysis method is carried out with the 2018 environmental product declaration (EPD). The results of the gate-to-gate analysis show that the highest environmental impact is global warming. Meanwhile, from the use of raw materials and energy, paraffin needs to be minimized. The use of paraffin accounts for 68.705% of the total environmental impact of the batik-making process.
Uji Kinerja Sensor Molecularly Imprinted Polymer (MIP) Simazin secara Potensiometri Yohandri Bow; Adi Syakdani; Indah Purnamasari; Rusdianasari Rusdianasari
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i2.221

Abstract

Molecularly Imprinted Polymer (MIP) adalah polimer sintetis dengan rongga yang spesifik untuk molekul target. Rongga (cavities)  diperoleh akibat pembuangan template, dimana rongga tersebut berfungsi mengenal molekul dengan ukuran, struktur serta sifat-sifat fisika kimia yang sama dengannya. Polimer yang dihasilkan dari teknik MIP ini diterapkan  pada permukaan material sensor sebagai instrumen  pendeteksi dan penganalisis simazin. Keunggulan dari MIP adalah sistem sensor yang telah mampu memberikan hasil analisis suatu cemaran  secara cepat, mudah dan dalam konsentrasi yang rendah (ppm). Tujuan dari penelitian ini adalah membuat MIP simazin sebagai sensor cemaran dan uji kinerja secara potensiometri. Hasil penelitian mendapatkan kondisi optimum pembuatan Molecularly Imprinted Polymer (MIP) simazin diperoleh dengan komposisi 6,02 mL kloroform; simazin 0,025 g; 0,9 mL methacrylic acid (MAA); 1,57 mL ethylene glycol methacrylic acid (EGMA); 0,07 g benzoyl peroxide (BPO) dengan waktu pemanasan selama 150 menit pada temperatur 70oC. Uji kinerja sensor dilakukan secara potensiometri dan diperoleh sensor MIP simazin yang dibuat memiliki sensitivitas dan stabilitas pada rentang konsentrasi 0,01-1,0x10-3 ppm dengan batas deteksi sebesar 0,01x10-3 ppm dan masa pakai mencapai 90 hari.Molecularly Imprinted Polymer (MIP) is a technique of polymer preparation derived from cross-linked polymers and it has cavities that are appropriate with templates.  Those cavities also functions as media of molecular mechanical interaction that have the same size, shape, structure and physical chemistry. Polymers resulted from MIP techniques are applied on the surface of the sensor material as detecting instrument and analyzer of simazine.  The advantages of MIP are based on its sensor systems that have been able to provide quick and easy pollutant analysis results (ppm). The aim(s) of this research are to synthesize MIP simazine as sensors of pollutant and performance with potentiometric. In the result of the research, it is shown the optimum condition of Molecularly Imprinted Polymer (MIP) simazine obtained with composition of 6.02 mL chloroform; 0.025 g simazine; 0.9 mL methacrylic acid (MAA); 1.57 mL ethylene glycol methacrylic acid (EGMA); 0.07 g benzoyl peroxide (BPO) with heating time 150 minutes at 70oC. The sensor performance test was carried out in potentiometric way and it was got that the designed MIP simazine has sensitivity and stability in the concentration range of 0.01-1.0x10-3 ppm with detection limit of 0.01x10-3 ppm, and life time reached 90 days. 

Page 1 of 1 | Total Record : 10