cover
Contact Name
Agung Ari Wibowo
Contact Email
agung.ari.wibowo@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agung.ari.wibowo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan
ISSN : 25798537     EISSN : 25799746     DOI : -
This journal is an open access journal with the frequency of 2 (two) times a year, published by Department of Chemical Engineering, Politeknik Negeri Malang (State Polytechnic of Malang). The journal publishes original research results, literature reviews and short communications relevant to the fields of chemical and environmental engineering.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2022): April 2022" : 10 Documents clear
Pengaruh Jumlah Filler Kalsium Silikat dalam Pembuatan Biodegradable Plastic dari Biji Nangka S. Sigit Udjiana; Sigit Hadiantoro; Noor Isnaini Azkiya
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v6i1.242

Abstract

Biodegradable plastic adalah plastik yang memiliki sifat ramah lingkungan karena mampu terurai oleh mikroorganisme yang ada pada tanah. Pati berpotensi digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biodegadable plastic karena dapat mudah terdegradasi dan menghasilkan senyawa yang ramah lingkungan. Pada penelitian ini sumber pati didapat dari biji nangka dengan kandungan pati sebesar 29,73%. Penambahan kalsium silikat sebagai filler bertujuan untuk memperbaiki sifat mekanik biodegadable plastic. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh filler kalsium silikat terhadap kuat tarik, presentase biodegradasi (%) dan persentase serapan air (%) dari biodegadable plastic yang dihasilkan. Berdasarkan hasil yang diperoleh, semakin banyak filler kalsium silikat maka biodegadable plastic memiliki kuat tarik yang semakin tinggi. Sedangkan kemampuan absorpsi biodegadable plastic terhadap air menurun seiring dengan semakin banyaknya jumlah kalsium silikat yang ditambahkan. Kemampuan biodegradasi plastik juga menurun seiring dengan bertambahnya jumlah filler kalsium. Biodegadable plastic dengan penambahan filler kalsium silikat 6% memiliki kuat tarik antara 7,85 MPa persentase serapan air sekitar 5% dan persentase biodegradasi sekitar 7%.Biodegradable plastic is a plastic that has environmentally friendly properties because it is able to decompose by microorganisms in the soil. Starch has the potential to be used as a basic material for making biodegradable plastics because it can be easily degraded and produces environmentally friendly compounds. In this study, the source of starch was obtained from jackfruit seeds with a starch content of 29.73%. The addition of calcium silicate as a filler aims to improve the mechanical properties of biodegradable plastic. This study aims to determine the effect of calcium silicate filler on tensile strength, % biodegradation and % water absorption of the resulting biodegradable plastic. Based on the results obtained, the more calcium silicate filler the biodegradable plastic has a higher tensile strength. Meanwhile, the absorption ability of biodegradable plastic to water decreases with the increasing amount of calcium silicate added. The biodegradability of plastics also decreases with the increase in the amount of calcium filler. Biodegradable plastic with the addition of 6% calcium silicate has tensile strength between 7,85 Mpa, percent water absorption between 5% and percent biodegradation between 7%. 
Asam Askorbat, Natrium Nitrit dan Natrium Fosfat sebagai Inhibitor Laju Korosi pada Alumunium dan Seng dalam Media Biosolar Dyah Ratna Wulan; Noor Isnaini Azkiya; Kristina Widjajanti; Nadua Bella Wardani; Yanty Maryanty
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v6i1.245

Abstract

Korosi merupakan penurunan mutu logam akibat adanya reaksi elektrokimia dengan lingkungannya, sedangkan bio-korosi merupakan suatu peristiwa korosi yang dipengaruhi oleh mikroorganisme terutama dari kelompok Sulfat Reducing Bacteria (SRB). SRB mengakibatkan terjadinya korosi logam pada tangki penyimpanan biosolar. Laju korosi dapat diturunkan dengan cara penambahan inhibitor organik maupun anorganik ke dalam suatu media korosi. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh inhibitor organik berupa asam askorbat, dan inhibitor anorganik berupa natrium nitrit dan natrium fosfat terhadap terhadap laju korosi dan efisiensi inhibitor pada logam alumunium (Al) dan seng (Zn) yang direndam dalam media biosolar dalam kondisi pH asam. Pengaruh ketiga jenis inhibitor yang masing-masing memiliki konsentrasi sebesar 25, 50, dan 75 ppm terhadap logam yang direndam dengan biosolar diinvestigasi menggunakan teknik penurunan berat logam. Pengukuran berat logam yang direndam dalam inhibitor dan media biosolar dilakukan pada variasi waktu 0, 1, 4, 7, dan 10 hari kemudian dilakukan analisa laju korosi dan efisiensi inhibisi. Masing-masing inhibitor dapat mengghambat laju korosi logam dengan efisiensi inhibisi tertinggi yaitu asam askorbat. Inhibitor terbaik dalam media biosolar yaitu asam askorbat 75 ppm yang dikontakkan dengan logam selama 10 hari dengan nilai efisiensi inhibitor asam askorbat terhadap logam alumunium sebesar 26,92 % dan seng sebesar 70,90 %.Corrosion is a decrease in metal quality due to an electrochemical reaction with its environment while bio-corrosion is a corrosion event that is influenced by microorganisms, especially from the Sulfate Reducing Bacteria (SRB) group. This group of bacteria generally causes metal corrosion in biodiesel storage tanks. The corrosion rate can be reduced by adding organic or inorganic inhibitors. The purpose of this study was to study the effect of organic inhibitor such as ascorbic acid, and inorganic inhibitors such as sodium nitrite and sodium phosphate on the corrosion rate and inhibitor efficiency of aluminum and zinc metals immersed in biodiesel media under acidic pH conditions. The effect of the three types of inhibitors which each concentrations of 25, 50, and 75 ppm on metals immersed in biodiesel was investigated using weight loss techniques. The measurement of the weight of the metal immersed in the inhibitor and biodiesel media was carried out at various times of 0, 1, 4, 7, and 10 days and then calculated the corrosion rate and inhibition efficiency. The best inhibitor in biodiesel media is 75 ppm ascorbic acid which is in contact with metal for 10 days with has an efficiency value of ascorbic acid inhibitor against aluminum metal of 26,92 % and zinc of 70,90 %.
Hydrophobic Support: A Phenomenon of Interface Lipase Activation in Polyurethane Foam as a Heterogeneous Biocatalyst in Synthesis of Natural Flavor Ester Dwina Moentamaria; Zakijah irfin; Achmad Chumaidi; Heri Septya Kusuma
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v6i1.253

Abstract

Biokatalis heterogen memerlukan penyangga yang sesuai melalui teknik imobilisasi enzim, terutama jika digunakan dalam industri makanan. Dalam sintesis perisa ester alami, busa poliuretan (PUF) dipilih sebagai penyangga imobilisasi lipase, karena memiliki sifat kaku inert, dan porositas tinggi. PUF perlu dilapisi dengan co-immobilized, yang terdiri dari campuran surfaktan yang aman yaitu  gelatin, lecithin, PEG, MgCl2, sehingga menjadi satu kesatuan sebagai penyangga PUF hidrofobik. Interaksi hidrofobik antara lipase dan surfaktan pada PUF dapat memicu lipase yang mengaktifkan antarmuka untuk bereaksi lebih banyak dengan substrat melalui sisi aktifnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan penyerapan PUF pada co-immobilized lipase sebagai biokatalis heterogen. Tahapan yang dilakukan adalah PUF direndam dalam co-immobilized dengan perbandingan 1:10; 1:20; 1:30 (b/b) selama 1-5 jam, kemudian dikeringkan, hasilnya direndam dalam lipase dan dikeringkan, menghasilkan biokatalis heterogen, hasil terbaik biokatalis heterogen diuji pada  sintesis perisa  ester alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi penyerapan surfaktan  terbaik diperoleh selama 3 jam perendaman pada semua perbandingan PUF: co immobilized 1:10; 1:20; 1:30 (b/b) masing - masing 6,95 g/g; 23,54 g/g; 19,95 g/g, dan aktivitasnya berturut turut 2 U/g PUF; 5,86 U/g PUF; 3,34 U/g PUF. Hasil biokatalis heterogen terbaik pada rasio PUF: co immobilized 1:20 (b/b) diuji pada sintesis perisa alami melalui reaksi esterifikasi asam laurat dari minyak kelapa dan sitronelol dari minyak sereh, menghasilkan konversi 55% perisa alami citronellyl laurat.Heterogeneous biocatalysts prepared through the enzyme immobilization technique require an appropriate carrier, especially if they are used in the food industry. In the synthesis of natural ester flavor, polyurethane foam (PUF) was chosen as the lipase immobilization carrier, because it has rigid properties, inert, and high porosity. Carrier PUF needs to be coated with a food-safe surfactant known as co-immobilized, consisting of a mixture of gelatin, lecithin, PEG, and MgCl2, so that it becomes a single unit as support for hydrophobic PUF. The interaction hydrophobic between lipases and surfactants in PUF can trigger interface-activating lipases to react more with substrates through their active sites. This study aims to study the sorption capability of PUF on co-immobilized lipase as a heterogeneous biocatalyst. The steps taken were PUF was immersed in co-immobilized in a ratio of 1:10; 1:20; 1:30 (w/w) for 1-5 h, then dried, the results were soaked in lipase and dried, producing heterogeneous biocatalysts, the best results of heterogeneous biocatalysts were tested by natural flavor ester synthesis. The results showed that the best sorption conditions were obtained for 3 hours of immersion in all PUF: immobilized co ratio 1:10; 1:20; 1:30 (w/w) was 6.95 g/g; 23.54 g/g; 19.95 g/g, and each activity was 2 U/gram PUF; 5.86 U/gram PUF; 3.34 U/gram PUF. The best result of heterogeneous biocatalyst at the ratio of PUF: co immobilized 1:20 (w/w) was tested on the synthesis of natural flavors through the esterification reaction of lauric acid from coconut oil and citronellol from citronella oil, resulting in a conversion of 55% to citronellyl laurate natural flavor.
Kualitas Karbon Aktif Kulit Pisang Kepok Menggunakan Aktivator Kimia dengan Variasi Konsentrasi dan Waktu Aktivasi Khalimatus Sa’diyah; Cucuk Evi Lusiani
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v6i1.259

Abstract

Buah pisang adalah sumber pangan yang banyak dikonsumsi karena memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Bagian lain dari buah pisang yaitu bagian kulit dapat dimanfaatkan sebagai karbon aktif karena mengandung selulosa sebesar 14,4%. Karbon aktif dari kulit pisang khususnya Pisang Kepok (Musa acuminate L.) dapat digunakan sebagai zat penyerap bahan pencemar dan logam berat dari limbah industri. Pemanfaatan kulit pisang sebagai karbon aktif ini diharapkan dapat menjadi alternatif dari solusi pengolahan limbah padat organik sebagai zat penyerap logam berat dari limbah industri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas dari karbon aktif dengan bahan baku kulit Pisang Kepok setelah diaktifkan menggunakan larutan basa dan asam. Karbon aktif dibuat dari kulit Pisang Kepok yang diaktivasi menggunakan aktivator basa kuat (NaOH) dan asam kuat (H2SO4) dengan konsentrasi 0,5 dan 1 N selama waktu aktivasi 1, 3, dan 5 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivator basa menggunakan larutan NaOH dengan konsentrasi aktivator 0,5 N selama waktu aktivasi 1 jam dapat menghasilkan karbon aktif dengan karakteristik yang sesuai dengan SII No. 0258-88. Karbon aktif yang dihasilkan dari kulit Pisang Kepok pada kondisi tersebut mampuf menurunkan kandungan logam Nikel pada larutan NiSO4 sampai 100%. Karbon aktif yang dihasilkan pada konsentrasi rendah dan waktu aktivasi yang singkat dapat mengurangi biaya produksi.Because of their high carbohydrate content, bananas are a popular food source. The skin of a banana can be used as activated carbon because it contains 14.4 percent cellulose. Activated carbon from banana peels, specifically Pisang Kepok (Musa acuminate L.), can be used as an adsorbent for pollutants and heavy metals emitted by industrial waste. The use of banana peels as activated carbon as a heavy metal absorbent from industrial waste is expected to be an alternative solution for treating organic solid waste. The purpose of this research is to ensure that the quality of activated carbon made from banana (Musa acuminate L.) peel after it's been activated with alkaline and acid solutions. Activated carbon is generated from banana (Musa acuminate L.) peel that has been activated with 0.5 and 1 N concentrations of strong base activator (NaOH) and strong acid activator (H2SO4) over activation times of 1, 3, and 5 hours. The results indicate that an alkaline activator using NaOH solution with an activator concentration of 0.5 N for 1 hour can produce activated carbon with SII No. 0258-88-compliant properties. Under these conditions, activated carbon derived from banana (Musa acuminate L.) peel was able to reduce the nickel concentration in the NiSO4 solution by up to 100 %. Using activated carbon with low concentrations and short activation durations can minimize costs of production.
Kemasan Antistatis Ramah Lingkungan Berbahan Dasar Poli Asam Laktat Fagan Rezka Azzadhiya; Aroya Desma Ramadita; Gina Karnela; Mujtahid Kaavessina
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v6i1.262

Abstract

Kemasan antistatis digunakan untuk melindungi barang elektronik dari kerusakan fisik, lingkungan, dan terhadap electrostatic discharge (ESD). Conductive Polymer Composites (CPC) merupakan material yang dihasilkan dari penambahan nanopartikel konduktif dengan matriks polimer. Poly lactic acid (PLA) atau dikenal dengan poli asam laktat berpotensi sebagai matriks polimer. Carbon nanotubes (CNT) memiliki konduktivitas listrik yang tinggi dikombinasikan dengan rasio aspek yang besar sehingga kompatibel untuk dijadikan filler CPC. Metode penambahan filler dilakukan dengan melt blending dengan presentase berat filler 0; 0,5; 1; dan 1,5 wt%. Komposit nanomaterial PLA/CNT dikarakterisasi menggunakan uji SEM, FTIR, DSC, dan konduktivitas. Hasil uji SEM dan FTIR menunjukkan bahwa perubahan konsentrasi filler CNT tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap morfologi dan struktur CPC. Uji DSC menunjukkan penambahan derajat kristalinitas seiring dengan penambahan konsentrasi CNT. Uji konduktivitas menunjukkan CNT meningkatkan nilai konduktivitas PLA. Nilai konduktivitas PLA menjadi 3,949x10-10 S/cm dan 6,019 x 10-7 S/cm setelah ditambahkan oleh CNT dengan presentase berat sebesar 0,5 wt% dan 1 wt% sehingga memenuhi syarat sebagai kemasan antistatis.Antistatic packaging is used to protect electronic goods from physical damage, the environment, and against electrostatic discharge (ESD). Conductive Polymer Composites (CPC) are materials produced from the addition of conductive nanoparticles with a polymer matrix. Poly lactic acid (PLA) has the potential as a polymer matrix. Carbon nanotubes (CNT) that have high electrical conductivity combined with a large aspect ratio making them compatible to be used as CPC fillers. The method of adding filler was done by melt blending with filler concentrations of 0, 0.5, 1, and 1.5 wt%. PLA/CNT nanomaterial composites were characterized using SEM, FTIR, DSC, and conductivity tests. The results of the SEM and FTIR tests showed that changes in CNT filler concentration did not have a significant effect on the morphology and structure of CPC. DSC test showed an increase in degree of crystallinity along with the addition of CNT concentration. The conductivity test showed that CNT increased the conductivity value of PLA. The conductivity values of PLA become 3.949 x 10-10 S/cm and 6.019 x 10-7 S/cm after being added by CNT of 0.5 wt% and 1 wt% so that they qualify as antistatic packaging.
Kualitas Biobriket Cangkang Kemiri Melalui Proses Karbonisasi Microwave dengan Bahan Perekat Tepung Gembili (Dioscorea esculenta L) dan Tepung Mbote (Colocasia esculenta) Rini Kartika Dewi; M. Istnaeny Hudha
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v6i1.277

Abstract

Biobriket merupakan bahan bakar padat berbasis biomassa yang perlu dikembangkan dan ditingkatkan, mengingat kebutuhan energi pada era sekarang terjadi peningkatan yang signifikan dan diperlukan bahan yang ramah lingkungan sebagai pengganti bahan baku yang tidak dapat diperbaharui. Cangkang kemiri merupakan salah satu bahan yang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan bakar padat. Proses pembuatan biobriket pada penelitian ini menggunakan proses karbonisasi microwave pada daya 440 watt, dengan bahan perekat dari tepung gembili (Dioscorea esculenta L.) dan tepung mbote (Colocasia esculenta).  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas biobriket cangkang kemiri dengan variasi rasio bahan arang dan perekat sebesar  100:0, 90:10, 80:20, 70:30 dan 60:40% (b/b). Dari penelitian ini, hasil terbaik adalah biobriket dengan perekat tepung gembili pada rasio 70:30% (b/b) dengan nilai kadar air sebesar 4,39%; kadar abu sebesar 4,01%; kadar zat menguap sebesar 9,12%; kadar karbon terikat sebesar 72,78% dan nilai kalor didapatkan sebesar 6875,259 kal/g. Berdasarkan hasil analisa, hampir semuanya masuk dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) kecuali  karbon terikat yang seharusnya minimal 77%.Biobriquette is a biomass based solid fuel that needs to be developed and improved, considering the energy needs in the current era there is a significant increase and environmentally friendly materials are needed as a substitute for non-renewable raw materials. Candlenut shell is one of the materials that have the potential to be used as solid fuel. The process of making biobriquettes in this study uses a microwave carbonization process at a power of 440 watts, with adhesive materials from gembili flour (Dioscorea esculenta L.) and mbote flour (Colocasia esculenta). The purpose of this study was to determine the quality of candlenut shell biobriquettes with variations in the ratio of charcoal and adhesives of 100:0, 90:10, 80:20, 70:30 and 60:40% (w/w). From this research, the best results were bio briquettes with gembili flour adhesive at a ratio of 70:30% (w/w) with a water content value of 4.39%; ash content of 4.01%, volatile matter content of 9.12%, fixed carbon content of 72.78% and the calorific value of 6875.259 cal/g. Based on the analysis results, almost of them are included in the Indonesian National Standard except for fixed carbon which should be at least 77%.
Optimization of Sugarcane Bagasse Ash Utilization for Concrete Bricks Production Using Plackett-Burman and Central Composite Design Maktum Muharja; Rizki Fitria Darmayanti; Arief Widjaja; Yakub Hendrikson Manurung; Ilham Alamsyah; Siska Nuri Fadilah
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v6i1.282

Abstract

PT. Industri Gula Glenmore (PT. IGG) setiap tahunnya memproduksi 14.300 ton abu ampas tebu (AAT) sebagai hasil samping pembakaran boiler yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Menariknya, AAT memiliki kandungan silika tinggi yaitu 68,5% yang dapat ditingkatkan nilainya sebagai substitusi parsial semen dalam pembuatan bata beton. Oleh karena itu, pada penelitian ini komposisi dan ukuran partikel AAT dioptimalkan dalam pembuatan bata beton. Optimasi dilakukan dengan menggunakan Response Surface Methodology (RSM) untuk memahami perilaku faktor-faktor signifikan yang mempengaruhi kuat tekan bata beton. RSM ditentukan dengan menggunakan software Design-Expert V11. Bata beton dibuat dengan perbandingan semen dan pasir menggunakan perbandingan 1:6 dengan variasi AAT 5% sampai 25% dari berat normal semen. Hasil pengujian di Workshop menunjukkan bahwa penggunaan Fly Ash dan kapur sebagai bahan pengikat untuk menggantikan sebagian semen dengan variasi 23, 26, 28, 30, dan 33% menghasilkan kuat tekan berturut-turut sebesar 56, 52, 49, 40, dan 34 kg/cm2. Dengan demikian, bata beton pada penelitian ini termasuk dalam mutu tingkat 3 berdasarkan SNI 03-0349-1989. Inovasi ini merupakan solusi untuk meningkatkan nilai tambah AAT dan menjadi peluang bisnis baru bagi PT. IGG di masa depan.PT. The Glenmore Sugar Industry (PT. IGG) annually produces 14,300 tons of Sugarcane Bagasse Ash (SCBA) as a by-product of boiler combustion that has not been fully utilized. Interestingly, SCBA has a high silica content of 68.5% which can be valorized as a partial substitution of cement in the manufacture of concrete bricks. Therefore, in this study, the composition and particle size of SCBA were optimized in the manufacture of concrete bricks. Optimation was carried out by using Response Surface Methodology (RSM) to understand the behavior of significant factors affecting the compressive strength of concrete bricks. RSM was determined using the Design-Expert V11 software. Concrete bricks were made with a ratio of cement and sand using a ratio of 1:6 with a variation of bagasse ash 5% to 25% of the normal weight of the cement. The test results showed that the use of fly ash and lime as a binder to replace some cement with variations of 23%, 26%, 28%, 30%, and 33% resulted in a compressive strength of 56 kg/cm2, 52 kg/cm2, 49 kg/cm2, 40 kg/cm2, and 34 kg/cm2. Thus the concrete brick in this study was included in the quality level 3 based on SNI 03-0349-1989. This innovation is a solution to increase SCBA's added value and a new business opportunity for PT. IGG in the future.
The Composting Time Effect of the Activated Sludge from Bioethanol Solid Waste by Orgadec Bio-activator to the Compost Characteristics Wianthi Septia Witasari; Khalimatus Sa'diyah; Nur Istianah; Mohammad Hidayatulloh
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v6i1.285

Abstract

Suatu industri bioetanol menghasilkan limbah dalam proses produksinya, salah satunya adalah limbah padat berupa activated sludge. Keberadaan dari limbah padat ini semakin lama semakin menumpuk sehingga perlu dilakukan pengolahan menjadi sesuatu yang lebih berguna. Salah satu pemanfaatan yang dapat dilakukan untuk mengolah limbah padat adalah dengan membuat pupuk kompos.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui waktu pengomposan pada pembuatan pupuk kompos dari activated slude hasil samping produksi bioetanol, terhadap kandungan pupuk kompos yang dihasilkan. Bioaktivator yang digunakan adalah Orgadec. Waktu pengomposan yang digunakan adalah minggu ke-0, minggu ke-1, minggu ke-2, minggu ke-3, minggu ke-4. Analisis kandungan pupuk yang dilakukan adalah karakteristik fisik pupuk kompos, suhu, pH, Kelembaban, C organik, N total, P total, K total, serta rasio C/N sesuai dengan SNI  19-7030-2004. Dari analisis yang dilakukan, pupuk kompos dari activated sludge dengan bioaktivator orgadec menghasikan kompos yang memiliki karakteristik sesuai dengan SNI  19-7030-2004A bioethanol industry produces waste, one of which is activated sludge. The number of this solid waste is constantly increasing; therefore, it is necessary to process it into something useful. One way to achieve this is by turning it into compost. This study aimed to determine the composting time of activated sludge on the content of compost produced. The bio activator used was Orgadec. The composting time used as samples is on week 0, week 1, week 2, week 3, and week 4. The fertilizer content analysis includes the physical characteristics of compost, temperature, pH, humidity, organic C, total N, total P, total K, and the C/N ratio matches SNI 19-7030-2004. According to the conducted analysis, the compost made using activated sludge with orgadec as the biovactor created a compost that has characteristics that meet the standards of SNI 19-7030-2004.
Reparameterization of Binary Interaction Parameters for The Gamma-Valerolactone Purification Process Agung Ari Wibowo; Mufid Mufid; Asalil Mustain; Rizqy Romadhona Ginting; Dhoni Hartanto
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v6i1.286

Abstract

Selain produksi biodiesel, bioetanol, biometana dan biohidrogen dari sumber terbarukan, gamma-valerolactone (GVL) muncul sebagai bahan bakar terbarukan potensial lainnya yang dapat diproduksi dari biomassa. GVL menunjukkan karakteristik yang sesuai sebagai sumber energi cair berkelanjutan yang menjanjikan. Dlaam kegiatan produksi GVL murni jumlah besar pastinya melibatkan proses pemisahan/ pemurnian, salah satunya adalah distilasi. Dalam perancangan proses distilasi diperlukan data kesetimbangan Uap – Cair (VLE), dan untuk akurasi perancangan biasanya digunakakan software simulasi proses seperti ChemCAD. Dalam penelitian ini, data VLE yang tersedia akan direparamterisasi sehingga bisa digunakan sebagai parameter model thermodinamika di Software ChemCAD. Pada penelitian ini dilakukan reparemeterisasi parameter interaksi biner (BIP) model NRTL untuk data VLE komponen yang terlibat dalam produksi GVL dari literature yang tersedia. Kemudian BIP hasil reparemterisasi digunakan untuk analisis sensitivitas pada shortcut kolom distilasi. Hasil analisis sensitivitas menunjukan bahwa perubahan suhu umpan berpengaruh terhadap konvigurasi kolom, tetapi tidak pada kualitas GVL yang dihasilkan.In addition to producing biodiesel, bioethanol, biomethane, and biohydrogen from renewable sources, gamma-valerolactone (GVL) is emerging as a potential renewable fuel from biomass. As a promising long-term liquid energy source, GVL possesses the necessary characteristics. The production of pure GVL in large quantities involves a separation/purification process, one of which is distillation. In designing the distillation process, Vapor-Liquid equilibrium(VLE) data is needed, and process simulation software such as ChemCAD is usually used for design accuracy. In this study, the available VLE data will be reparameterized to be used as a thermodynamic model parameter in ChemCAD Software. The binary interaction parameter (BIP) NRTL model reparameterization for the VLE data of the components involved in the creation of GVL was carried out in this work using data from the literature. The reparameterized BIP was then applied to the distillation column shortcut for sensitivity analysis. The findings of the sensitivity study reveal that changing the feed temperature changes the column arrangement but not the quality of the GVL produced.
Effect of Catalysts H2SO4 8% and Baggase Ratio on Yield of Furfural with Hydrolysis Method Using Microwaves Arief Adhiksana; Ayu Chandra Kartika Fitri; Vini Kumara Lalita Siniwi; Medya Ayunda Fitri
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v6i1.289

Abstract

Ampas tebu mengandung pentosan sebesar 12,7%. Kandungan pentosan yang cukup tinggi dalam ampas tebu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan furfural melalui proses hidrolisis. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh rasio ampas tebu dan katalis H2SO4 terhadap yield furfural yang didapat dari proses hidrolisis menggunakan microwave. Ampas tebu ditambahkan dengan H2SO4 8% sebagai katalisator dengan variasi rasio ampas tebu dan katalisator H2SO4 yaitu 1:20, 1:30, 1:40, 1:50, dan 1:60 pada temperatur microwave 100oC dan waktu reaksi 75 menit. Sampel dianalisa secara kualitatif dengan uji warna menggunakan anilin-asetat sebagai pereaksi. Setelah anilin-asetat ditambahkan ke sampel, warna sampel berubah dari kuning cerah menjadi merah sebagai tanda sampel mengandung furfural. Furfural yang dihasilkan dianalisa untuk mengetahui yield dari furfural dengan menggunakan Gas Chromatography (GC). Hasil penelitian menunjukkan yield furfural terbaik pada rasio ampas tebu dan katalisator H2SO4 1:30 yakni sebesar 0,28%.The sugar cane bagasse contains 12.7% pentosan. The relatively high pentosan content in the sugar cane bagasse can be used as the raw material of furfural production by utilizing the hydrolysis process. This research aims to determine the effects of ratio variations of bagasse and H2SO4 catalyst on the yield of furfural obtained from the hydrolysis process using a microwave. The sugar cane bagasse was added with H2SO4 8% as catalyst with a variations ratio of sugar cane bagasse and H2SO4 catalyst that is 1:20, 1:30, 1:40, 1:50, and 1:60 in a microwave with the reaction temperature of 100oC and reaction time of 75 minutes. The sample was analyzed qualitatively with a color test by using aniline-acetic as the reactant. After the aniline-acetic was added to the sample, the color of the sample changed from bright yellow to red as a sign that the sample contains furfural. The obtained furfural was analyzed to find out the yield of furfural by using Gas Chromatography (GC). The research product showed that the best yield of furfural on the ratio of bagasse and H2SO4 catalyst of 1:30 is 0.28%. 

Page 1 of 1 | Total Record : 10