cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 02 (2016): December" : 7 Documents clear
PENGARUH KUAT ARUS LISTRIK, DAN KECEPATAN PENGELASAN SMAW TERHADAP KEKUATAN TARIK PELAT BAJA KOMERSIAL Sulistyono, Djoko; Rohim, Abdur
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 2 No 02 (2016): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v2i02.1089

Abstract

Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam konstruksi sangat luas meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja,sarana transportasi, rel, pipa saluran dan lain sebagainya.  Kekuatan hasil lasan dipengaruhi oleh tegangan busur, besar arus, kecepatan pengelasan, besarnya penembusan dan polaritas listrik. Penentuan besarnya arus dalam penyambungan logam menggunakan las busur mempengaruhi efisiensi pekerjaan dan bahan las. Penentuan besar arus dalam pengelasan ini mengambil 100 A, 150 A dan 200 A. Pengambilannya dimaksudkan sebagai pembanding dengan interval arus diatas. Pada variasi arus 100 A, 150 A, 200 A untuk tebal 10 mm diperoleh arus terbaik yaitu 100 A,dan 150 A dengan tegangan luluh 4890 kg/mm2, tegangan maksimun 4950 kg/mm2, dan tegangan patah 4110 kg/mm2 dengan pembanding tanpa pengelasan dengan tegangan luluh 4298,3 kg/mm2, tegangan maksimun 4790  kg/mm2, dan tegangan patah 4219,85 kg/mm2. Pada variasi arus 100 A, 150 A, 200 A untuk tebal 11 mm diperoleh arus terbaik yaitu 100 A, dengan tegangan luluh 4890 kg/mm2, tegangan maksimun 4950 kg/mm2, dan tegangan patah 4260 dan pada arus 150 didapat tegangan  luluh 4859,4 kg/mm2, tegngan maksimum 4950 kg/mm2,tegangan patah 4376 kg/mm2, dengan pembanding tanpa pengelasan dengan tegangan luluh 4298,3 kg/mm2, tegangan maksimun 4790  kg/mm2, dan tegangan patah 4219,85 kg/mm2. Dan regangan terbaik untuk tebal 10 mm dengan arus 100 A adalah 20 %, dan tebal 11 mm dengan arus 100 A adalah 22 %. Dan regangan terbaik untuk tebal11mm dengan arus 150 A adalah  22%  Dimana dapat dilihat dari perbedaar arus 100 A dengan tebal 10 mm dan arus 100 A  dan 150 A dengan tebal 11 mm, mempengaruhi kuar arus dan tebal, maka senakin tebal plat yang akan dilas maka arus di gunakan harus lebih besar.Kata kunci: Uji Tarik, Arus, SMAW
ANALISA VARIABEL PEMBUKAAN KATUP PENGATUR TEKANAN (REGULATOR VALVE) UDARA DAN DIAMETER SELANG PVC (PU TUBE) TERHADAP PERFORMA MESIN PEMOTONG KERTAS TYPE PNEUMATIK Priyo Utomo, Gatut; Adhitomo, Sayuti
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 2 No 02 (2016): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v2i02.1090

Abstract

Salah satu inovasi paling banyak dikembangkan dalam perindustrian adalah pneumatik. Pneumatik tersebut dapat digunakan dalam berbagai macam bentuk untuk aplikasi alat dan dapat dibuktikan banyak membantu pekerjaan. Tujuan serta manfaat dari penelitian ini adalah untuk menganalisa dan mengetahui mana performa terbaik dengan menggunakan  beberapa variabel pembukaan Katup Pengatur Tekanan (Regulator valve) udara dan diameter selang PVC (PU Tube) terhadap kinerja mesin pemotong kertas type pneumatik. Sehingga perhitungan yang sesuai sangat di butuhkan pada alat ini. Metode penelitian yang digunakan adalah mesin pemotong kertas type pneumatik yang sudah ada dengan variasi  pembukaan Katup Pengatur Tekanan (Regulator valve) udara 90°,180°,270° dan mengunakan variasi besarnya diameter selang 6mm, 8mm, 10mm. Dari hasil analisa dan perhitungan pada mesin pemotong kertas tipe pneumatik, disimpulkan bahwa dengan  menggunakan diameter selang 10 mm dan  pembukaan Katup Pengatur Tekanan (Regulator valve) udara 270° didapat performa yang maksimal. Yaitu penurunan tekanan (head losses) yang terjadi pada sistem pneumatik yang bekerja pada mesin pemotong kertas adalah ∆P = 2,2 x 10-6 Pa relatif lebih kecil dibandingkan menggunakan variabel diameter selang yang lain, sedangkan untuk gaya yang dihasilkan dapat mencapai F = 1948,4 N dan kecepatan aliran udara yang mengalir v = 0,0012 m/s.Kata kunci: Katup Pengatur Tekanan (Regulator valve) , selang PVC (PU Tube), sistem pneumatik.
PENGARUH PEMANASAN SINTERING-QUENCHING-AGING TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN PADA PADUAN Al 6061 Mastuki, Mastuki
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 2 No 02 (2016): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v2i02.1086

Abstract

Percobaan ini mempelajari pengaruh perlakuan panas sintering-quenching-aging dengan waktu tahan selama 1, 2, dan 3 jam terhadap struktur mikro dan kekerasan pada paduan alumunium. Terdapat 4 sampel paduan alumunium sejenis yang digunakan, 1 sampel diamati struktur mikro dan diuji kekerasannya terlebih dahulu, dan sampel yang lainnya mendapat perlakuan dengan variasi watu tahan pada proses aging, yaitu selama 1 jam, 2 jam, dan 3 jam sebelum dilakukan pengamatan struktur mikro dan sifat kekerasannya. Sampel disintering hingga 5000C dan diaging pada 3000C. Sifat kekerasan pada bahan paduan alumunium mengalami penurunan setelah perlakuan panas sintering-quenching-aging yang ditahan selama 1, 2, dan 3 jam. Terjadi penurunan sebesar 29,7 HV atau 39,92% untuk waktu tahan selama 1 jam, 49,19% untuk waktu tahan selama 2 jam, dan 57,93% untuk waktu tahan selama 3 jam. Perubahan struktur mikro setelah pelakuan panas disebabkan oleh pengkasaran butir yang terjadi pada tiap quenching dimana atom-atom penyusunnya belum sempat menata posisinya dan secara langsung mengakibatkan butirnya menjadi lebih kasar.Kata kunci: sintering, aging, quenching, mikrostruktur, kekerasan.
ANALISA HASIL PRODUK VACUUM FRYING DENGAN SISTEM TORAK Kastiawan, I Made; Ikhwal Gustiar, Franky
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 2 No 02 (2016): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v2i02.1091

Abstract

Mesin penggoreng (Vacuum Frying) adalah mesin produksi untuk menggoreng berbagai macam buah dan sayuran. Teknik penggorengan nya yaitu menggoreng bahan baku buah-buahan dengan menurunkan tekanan udara pada ruang penggorengan sehingga menurunkan titik didih minyak sayur sampai 80°-90° C. Dengan turunnya titik didih minyak sawit  maka bahan baku yang biasanya mengalami kerusakan pada titik didih normal 160-180 °C bisa di hindari. Yang mana penulis menggambil lingkup permasalahan untuk di bahas yaitu “Analisa hasil produk Vacuum Frying Dengan Sistem Torak”. Semakin tinggi temperatur penggorengan maka semakin rendah pula kadar air keripik apel dan keripik salak dari hasil pengujian alat oven, kadar air tertinggi apel yaitu temperatur 800C dengan nilai 1.57% dan kadar air terendah apel adalah temperatur 880C dengan nilai 0.96% sedangkan kadar air tertinggi salak yaitu temperatur 800C dengan nilai 2.84% dan kadar air terendah apel adalah temperatur 880C dengan nilai 1.26%. Semakin tinggi temperatur penggorengan maka semakin keras tekstur keripik apel dan keripik salak dari hasil pengujian alat penetrometer, kekerasan tekstur tertinggi apel yaitu temperatur 880C dengan nilai 1.8mm dan kekerasan tekstur terendah apel adalah temperatur 800C dengan nilai 2.7mm sedangkan kekerasan tekstur tertinggi salak yaitu temperatur 880C dengan nilai 3.2mm dan kekerasan tekstur terendah salak adalah temperatur 800C dengan nilai 3.8mm. Hasil Perbandingan dari kedua mesin vacuum frying tersebut kekerasan tekstur dan kadar air dengan menggunakan mesin vacuum frying system torak keripik apel tidak renyah di bandingkan dengan keripik apel di pasaran sangat renyah dengan menggunakan mesin vacuum frying jet pump.Kata kunci: Kadar Air, Kekerasan Tekstur, Sistem Torak
ANALISIS KEKERASAN AL-6061 HASIL COR DENGAN PERLAKUAN PANAS DOUBLE QUENCHING Nafi, Maula
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 2 No 02 (2016): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v2i02.1087

Abstract

Proses perlakuan panas dilakukan di akhir suatu proses manufaktur dengan tujuan adanya peningkatan nilai dari suatu material. Aluminium jenis Al-6061 adalah material yang biasanya digunakan untuk kepentingan konstruksi, serta manufaktur part mesin otomotif. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh variasi double quenching dan waktu pendinginan pada hasil pengecoran Al-6061 terhadap nilai kekerasannya. Al-6061 dicor dengan temperature hingga 600oC dan dicetak kemudian diberikan perlakuan panas double quenching pada tiga jenis media, air, oli SAE40, dan solar, dengan tiga variasi waktu tahan, yaitu 5, 10, dan 15 detik. Spesimen hasil penelitian tersebut diuji nilai kekerasannya menggunakan alat uji kekerasan Rockwell. Hasil analisis menunjukkan nilai kekerasan tertinggi diperoleh 49.4 HRB dengan media oli SAE+air dan waktu 10 detik. Nilai kekerasan terendah adalah 45.7 dengan media air+oli SAE40 dan waktu 15 detik. Media paling optimum untuk perlakuan panas double quenching dan meningkatkan nilai kekerasan adalah media oli SAE40 + air. Dan waktu tahan quenching paling optimum adalah 10 detik. Jika terlalu cepat (5 detik) dan terlalu lama (15 detik), angka kekerasannya cenderung lebih rendah.Kata kunci: aluminium, double quenching, kekerasan, oli SAE40, Rockwell.
ANALISA PENGARUH VARIASI TEMPERATURE DAN WAKTU AGING PERLAKUAN PANAS T6 TERHADAP FER(factor efektivitas rem) DARI BAHAN KOMPOSIT ALUMINIUM ABU DASAR BATU BARA Seputra, Harjo; Agustia Wardani, Ripan
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 2 No 02 (2016): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v2i02.1092

Abstract

Composite is a kind of material which has srtuktur of two more phases authors, namely: filler(filler) and matrix (Sciti, D., et.all., 2011). The combination of material Al Alloy with bottom ashcoal ash, classified in types of composite materials, namely Metal Matrix Composite (MMC). In the MMC material engineering process, can be used as the matrix aluminum metal alloyas filler (filler). Metal Al as a monolithic, when in the review of mechanical properties, such as hardness(hardness) is very low. Therefore, the metal Al as a monolithic material has many weaknesses, notably: mechanical strength, stiffness and coefficient expansion. The advantages of metal Al, among others have:light weight, corrosion resistant, and easy in the form of(Casting). T6 heat treatment processis to conduct dissolution with treathment solution that specimenis heated at a temperature of 5400C and held for 6 hours and then in quenching is rapidly cooled specimen with water up to media at room temperature. Furthermore, the aging processis then performed again with variations in the specimen is heated and the temperature has been determined that the first nine specimens with a temperature of 1600C detained 3 hours, 5 hours, 7 hours, then another specimen 9 1800C detained 3 hours, 5 hours, 7 hours, and 9 specimens 2000C arrested last 3 hours, 5 hours, 7 hours and then cooled slowly to room temperature. From the results of research to get the final hardness testing and FER. Effect of aging temperature on the value of FER and violence are varied temperature range, the higher the aging temperature FER value increases, so does the value of violence. The highest value of 0.631742 FER is achieved at a temperature of 2000C aging and the highest hardness valueis achieved at a temperature of 1800C with a score of 70HRF. Effect of aging time variation of the value of FER and violence is at varied time spans, the longer aging FER value increases, so does the value of violence. The highest value of 0.631742 FER is achieved  at a time of 7 hours and achieved the highest hardness value of 3 hours with a score of 70HRF.Keywords: Composites, T6 heat treatment process, mechanical properties, FER.
ANALISA PENGARUH VISCOSITAS LUMPUR DAN VARIASI DIAMETER PIPA ISAP LUMPUR TERHADAP KAPASITAS ALIRAN PADA MESIN POMPA PENYEDOT LUMPUR Supardi, Supardi; Julianto, Wawan
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 2 No 02 (2016): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v2i02.1088

Abstract

Nowadays, we find several places in towns which hit by floods, it happen because some things, for example water duct which is gagged because of a bunch of rubbish, a small duct just make the water overload, and a shallow duct because of mud sediment. Because of the problem above, there is an idea to design a process to make a simple tool named piping installation on the pump vacuum of mud. This research method is used to analyze the influence of mud viscosity and diameter variation of mud suction pipe to the flow capacity of mud vacuum pump machine. Each of mud viscosity diameter 1,1225 N.s/m², 1,1849 N.s/m². And diameter variable of mud pump vacuum 0,0127m, 0,0191m, 0,0254m. The examiner tries to do this observation in each variable for three times. From the statement above, it can assume that the higher value of mud viscosity the lower of pipeline capacity. In each higher viscosity (η) = 1,3003 N.s/m², in diameter of mud pump vacuum 0,0127m, Qout = 0,0002886 m³/s, in diameter of mud pump vacuum 0,0191m, Qout = 0,0002975 m³/s, in diameter of mud pump vacuum 0,0254m, Qout = 0,0003667 m³/s. Meanwhile, in trial diameter variation of mud suction pipe, the bigger diameter of mud suction pipe the higher of pipeline capacity. So the higher of pipeline capacity is happen in diameter of mud suction pipe 0,0254m with Qout = 0,0003984 m³/s. The higher pipeline viscosity (Qin) is happen in diameter of mud suction pipe 0,0254m which is (Qin) = 0,0001784 m³/s and resulting (Qout) 0,0003984 m³/s.Keywords: Mud pump vacuum, diameter variation of mud suction pipe.

Page 1 of 1 | Total Record : 7