cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 133 Documents
Postpartum Anxiety Factors Involved in Subjects Undergoing Cesarean Section as Analyzed by Zung Self Rating Anxiety Scale Rahmat, Akbar; Saputra, Lucky; Pramatirta, Akhmad Yogi; Sabarudin, Udin; Krisnadi, Sofie Rifayani; Susanto, Herman; Effendi, Jusuf Sulaeman
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 1 Maret 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.383 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v1n1.59

Abstract

AbstractObjective: postpartum mother who underwent cesarean section may experience anxiety. The risk factors associated with anxiety include age, education and income level, parity, social and cultural factors, delivery methods, as well as the history of pregnancy.Method: This study used analytic, cross-sectional method. Postpartum mother (n=194) were recruited for this study. All participants consented to fill a questionnaire, to determine the subject’s parameters and anxiety levels. Severity of postpartum anxiety was determined based on the Zung Self-rating Anxiety Scale (SAS). Result: Postpartum anxiety (SAS ≥45) were mostly found in the group experiencing emergency cesarean section (71.13%) compared to the group with scheduled cesarean section (32.1%) (p<0.001). Forty-seven subjects (82.5%) women aged <20 years old experienced postpartum anxiety, while 32.1% women aged ≥20 years old were found to have similar condition (p<0.001). Subjects with lower education levels had a higher prevalence of postpartum anxiety than those with higher education levels (73.4% vs 12.9%, p<0.001). Different income levels  had 47.2% and 46.3% prevalence of postpartum anxiety respectively, but not statistically significant. Conclusion: there was a correlation between anxiety score on women who experienced an emergency and scheduled cesarean section with age and education level.Beberapa Faktor yang Memengaruhi Kecemasan Pasien yang Menjalani Seksio Sesarea dengan Pemeriksaan Zung Self Rating Anxiety ScaleAbstrakTujuan: Kondisi pascaseksio sesarea dapat menimbulkan kecemasan ibu. Faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya kecemasan antara lain usia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, paritas, faktor sosial budaya, faktor jenis persalinan, dan riwayat persalinan yang lalu. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik cross-sectional. Wanita pasca seksio sesarea yang memenuhi kriteria penelitian (n=194) dengan kuesioner. Tingkat kecemasan dinilai berdasarkan derajat Zung Self-rating Anxiety Scale (SAS).Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Ujung Berung, RSKIA Kota Bandung, RSUD Soreang Kabupaten Bandung dari bulan Maret sampai dengan April 2017.Hasil: Penelitian ini menunjukan bahwa kecemasan postpartum (SAS ≥45) lebih banyak ditemukan pada pasien yang menjalani operasi sesar darurat (71,13%) dibandingkan dengan pasien yang telah dijadwalkan terlebih dahulu (32,1%) (p <0,001). Empat puluh tujuh pasien (82,5%) wanita usia <20 tahun mengalami kecemasan pasca melahirkan, sementara 32,1% wanita berusia ≥ 20 tahun ditemukan memiliki kondisi yang sama (p <0,001). Tingkat pendidikan ≤ SLTP memiliki prevalensi kecemasan lebih tinggi dibandingkan > SLTA (73,4% vs 12,9%, p <0,001). Tingkat pendapatan yang berbeda (lebih rendah dari UMR, sama atau lebih tinggi dari UMR) memiliki prevalensi pasca melahirkan sebesar 47,2% dan 46,3%, namun tidak signifikanberbeda  secara statistik. Simpulan: Terdapat perbedaan tingkat kecemasan pasca seksio sesarea pada kelompok  seksio sesarea segera dibandingkan terencana dengan usia dan tingkat pendidikan.Kata kunci: Seksio sesarea, usia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, paritas, Zung Self-rating Anxiety Scale
Pemeriksaan Tunggal Kadar Osteopontin Serum dan CA 125 untuk Prediktor Keganasan Tumor Ovarium Tipe Epitel: Inferior dibandingkan dengan Pemeriksaan Gabungan Aditiyono, Aditiyono; Harsono, Ali Budi; Winarno, Gatot N.A.; Gandamihardja, Supriadi; Kusumanto, Ardhanu; Susanto, Herman
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 1 Maret 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.179 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v1n1.55

Abstract

AbstrakTujuan: Membandingkan penanda tumor osteopontin (OPN), cancer antigen 125 (CA125), kombinasi sebagai prediktor keganasan pada penderita tumor ovarium. Metode: Penelitian cross sectional ini dilakukan pada pasien dengan keganasan pada kista ovarium jenis epitel. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil: 47 pasien dengan hasil hitopatologi jinak dan 43 dengan hasil histopatologi ganas masuk dalam penelitian. Hasil nilai median CA125 kelompok ganas dibanding kelompok jinak (142,2 vs 61,030, p < 0,05), cut off point CA125 99,9 U/mL, sensitivitas 76,7% dan spesifisitas 61,7%. Diskusi: Kombinasi CA125 dan OPN memiliki sensitivitas lebih rendah dibandingkan CA125. Kombinasi CA125 dan OPN akan meningkatkan spesifitas, nilai duga positif dan akurasi yang lebih baik. Tumor marker OPN tidak tepat digunakan untuk proses deteksi dini, tetapi lebih tepat untuk penegakan diagnosis lebih baik dibandingkan dengan gold standard CA125.Kesimpulan: Kombinasi OPN dan CA125 memiliki nilai tingkat akurasi paling tinggi apabila dibandingkan pemeriksaan tunggal CA125, OPN.  Single Check of Serum Ostepontin and CA 125 Levels as A Predictor of Malignancy in Epitheliaal Ovarium Tumor is Inferior to Combined ExaminationAbstractObjective: To compare the sensitivity, specificity, expected value positive, expected value negative and accuracy among osteopontin (OPN), cancer antigen 125 (CA125), and combination as predictor of malignancy in ovarian tumor patients.Method: A cross sectional study was done to compare parameters OPN and CA125 in determining malignancy of ovarian cysts. Data analysis was performed by univariate and bivariate analysis. Results: A total of 47 subjects were included with benign histopathological result and 43 subjects with malignant histopathological result. The median value of CA125 in malignant group was compared to that of benign group (142.2 vs. 61.030, p value <0.05), the cut-off point of CA125 was 99.9 U/mL with sensitivity of 76.7% and specificity of 61.7%. Discussion: Combination of CA125 dan OPN has lower sensitivity compared to single tumor marker CA125. This combination will increase specificity, positive predictive value and accuracy. The OPN is inappropriate when used for early detection instead is suggested for diagnostic value risk predictor for malignancy in ovarian tumor compared to gold standard CA125.Conclusion: Combination OPN dan CA125 has higher accuracy compared to single CA125, and OPN. OPN was useful biomarker for predicting ovarian malignancy.Key words: Epithelial ovarian tumor, OPN, CA 125, predictor for ovarian malignancy
Luaran Kehamilan pada Pasien dengan Infertilitas Berkaitan dengan Endometriosis, Infertilitas karena Faktor Tuba, dan Unexplained Infertility, setelah Menjalani Prosedur IVF / ICSI di Klinik Aster RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Wulandari, Dewi Retno; Handono, Budi; Rachmawati, Anita; Hidayat, Dini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.206

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan luaran kehamilan dari setiap penyebab infertilitas pada pasien yang dilakukan teknologi reproduksi berbantu.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analisis komparatif yang dilakukan secara longitudinal retrospektif. Data didapatkan dari rekam medik pasien dengan infertilitas terkait endometriosis, faktor tuba, dan unexplained infertility, setelah menjalani prosedur in vitro fertilization dan intra cytoplasmic sperm injection pada  Januari 2013− Desember 2018. Luaran yang dinilai pada penelitian ini adalah kehamilan, abortus, dan kehamilan ektopik. Hasil: Sebanyak 94 pasien menjadi subjek penelitian ini. Infertilitas karena faktor tuba menjadi penyebab infertilitas terbanyak (74,5%) dan unexplained infertility menjadi penyebab terjarang (8,5%).  Intra cytoplasmic sperm injection merupakan metode reproduksi berbantu yang paling sering dilakukan (78,7%). Luaran kehamilan dengan persalinan terjadi pada 65 subjek (69,1%) sementara sisanya abortus. Tidak terdapat kejadian kehamilan ektopik. Tidak terdapat perbedaan bermakna dalam luaran kehamilan berdasarkan penyebab infertilitasnya (p=0,21).Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan luaran kehamilan baik partus ataupun abortus pada pasien yang dilakukan teknologi reproduksi berbantu berdasarkan penyebab infertilitasnya.Pregnancy Outcomes in Patients with Infertility Related to Endometriosis, Infertility due to Tubal Factors, and Unexplained Infertility, After Undergoing IVF/ICSI Procedures in Aster Clinic General Hospital Dr. Hasan Sadikin BandungAbstractObjective: This study was aimed to describe and compare the pregnancy outcomes in each cause of infertility on patients who get assisted-reproduction technology procedure.Method: This was an analytic comparative study, that conducted longitudinal-retrospectively. The data were obtained from medical records of patients with endometriosis associated infertility, tubal factors associated infertility, and unexplained infertility after got either in vitro fertilization or intra cytoplasmic sperm injection procedure from January 2013–December 2018. The pregnancy outcomes consisted of delivery, abortion, or ectopic pregnancy. Result: A total of 94 patients were enrolled in this study. Tubal factors was the commonest cause of infertility (74.5%) and unexplained infertility was the most rarely cause of infertility (8.5%). Intra cytoplasmic sperm injection was the most frequent procedures (78.7%). Labor were  occurred in 65 subjects (69.1%) and the remains aborted.  Ectopic pregnancy was not occurred. There was no significant difference in pregnancy outcomes according the causes of infertility. (p=0,21).Conclusion: Pregnancy outcomes, both labor and abortion, were not different based on the cause of infertility among patients who get assisted-reproduction technology procedure.Key words: assisted-reproduction technology, in vitro fertilization, infertility, intra cytoplasmic sperm
Program Akselerasi Penurunan Angka Kematian Ibu POGI Jabar Zero Mother Mortality Preeclampsia (ZOOM) Pribadi, Adhi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 1 Maret 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.801 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v1n1.80

Abstract

PendahuluanAngka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Selain itu AKI merupakan salah satu target utama yang telah ditentukan oleh WHO sebagai indikator kesehatan suatu negara.1  Dari hasil survey yang dilakukan, AKI di Indonesia telah menurun dari waktu ke waktu, namun masih relatif tinggi dibandingkan negara Asia lainnya. Jumlah angka kematian ibu di Indonesia (angka nasional) tahun 1991 sebanyak 390 sedangkan pada tahun 2015 menurun mencapai 305/100.000 jumlah kelahiran hidup.2 Di sisi lain, angka kematian ibu Provinsi Jawa Barat tahun 2015 adalah sebanyak 823/100.000.3Rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka kematian, meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini. Persoalan kematian yang terjadi antara lain pendarahan, preeklamsi-eklamsi dengan komplikasi, aborsi, dan infeksi. Namun, ternyata masih ada faktor lain yang cukup penting, yaitu pemberdayaan perempuan yang belum baik, latar belakang pendidikan, sosioekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan kebijakan publik. Kaum lelaki pun dituntut harus berupaya lebih aktif dalam segala permasalahan bidang reproduksi. Oleh karena itu, pandangan yang menganggap kehamilan adalah peristiwa alamiah perlu diubah secara sosiokultural agar perempuan dapat lebih mendapat perhatian dari masyarakat. Sangat diperlukan upaya peningkatan pelayanan perawatan ibu oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat lainnya terutama suami.Kematian ibu disebabkan oleh hipertensi dalam kehamilan (HDK) secara global menempati nomor dua setelah kasus perdarahan, demikian pula di Indonesia.4 Pada tahun 2016 dalam rangka menunjang kegiatan penurunan angka kematian ibu, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) bersama Kantor Kementerian Kesehatan mengeluarkan Panduan Nasional Praktik Kedokteran (PNPK) tentang preeklamsi yang menjadi dasar untuk pembuatan standar pelayanan preeklamsi di seluruh Indonesia dan diharapkan mampu membantu mempercepat penurunkan AKI.
Apakah Kadar β-hCG Praevakuasi dan Gambaran Proliferasi Sel Trofoblas secara Mikroskopik dapat digunakan untuk Prediksi Transformasi Keganasan pada Mola Hidatidosa? Mantilidewi, Kemala Isnainiasih; Zulvayanti, Zulvayanti; Permadi, Wiryawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 1 Maret 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1401.032 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v1n1.1

Abstract

AbstrakTujuan: Meneliti perbedaan karakteristik umur, paritas, besar uterus, kadar β-hCG, dan hiperproliferasi pada mola hidatidosa (MH) dengan regresi spontan dan pada MH dengan transformasi keganasan di RS Dr.Hasan Sadikin Bandung. Metode: Penelitian cross sectional deskriptif restrospektif mengambil data umur, paritas, besar uterus, kadar β-hCG pre-evakuasi, dan hiperproliferasi dari rekam medis pasien MH periode 2007-2016. Data diolah menggunakan program SPSS versi 20.0 for Windows. Nilai p<0,05 dianggap signifikan. Hasil: Dari 400 rekam medis yang dianalisis, 233 dengan data lengkap dapat dianalisis. Mayoritas pasien usia reproduktif 20-35(53,6%) tahun, paritas 1-2 (n=90, 38,6%), dan besar uterus rata-rata 19,12±4,633 (~minggu kehamilan). Kadar β-hCG <100000 mIU/mL sebanyak 78(33,5%), ≥100000 mIU/mL sebanyak 155(66,5%). Pasien dengan hiperproliferasi sebanyak 83(35,6%) sedangkan pasien tanpa hiperproliferasi sebanyak 150(64,4%). Terdapat 219(94,0%) dengan komplit MH, dan 14(6,0%) HM parsial (tidak dipublikasi). Pasien kemudian dikategorikan menjadi kelompok transformasi keganasan dan kelompok remisi spontan. Tidak terdapat perbedaan umur, paritas, dan besar uterus diantara dua kelompok (p>0,05). Perbedaan kadar βhCG (mIU/mL) dan tingkat proliferasi menunjukkan hasil signifikan (p<0.05). Kesimpulan: Kadar β-hCG preevakuasi dan status hiperproliferasi dapat digunakan sebagai prediktor transformasi keganasan pasien MH. Can Preevacuation Level β-hCG and Microscopic Trophoblast Proliferation Predict Malignant Transformation in Hydatidiform Mole?AbstractObjective: To describe differences among age, parity, size of uterus, level of β-hCG, and hyperproliferation state in HM with spontaneous remission and in that with malignancy transformation at dr.Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Methods: This a cross sectional descriptive restrospective study of HM cases analyzing data on age, parity, size of uterus, pre-evacuation level of β-hCG, and hyperproliferation state taken from medical record of HM patients between 2007-2016. Data were statistically analyzed using SPSS version 20.0 for Windows. Result p<0.05 was considered significant.  Results: Out of 400 cases, 233 cases were selected. Those with incomplete data were not included in the analysis. Majority of patients were in reproductive age 20-35(53.6%) years old, has parity 1-2(n=90, 38.6%), and the size of uterus has mean 19.12±4.633 (~week of pregnancy). The level of β-hCG <100000 mIU/mL was 78(33.5%), ≥100000 mIU/mL was 155(66.5%). Patients with hyperproliferation were 83(35.6%) while without hyperproliferation were 150(64.4%). There were 219(94.0%) with complete HM, and 14(6.0%) partial HM (unpublished data). There were no significant differences in age, parity, size of uterus between the two groups (p>0.05). Differences on level of βhCG (mIU/mL) and proliferation state showed significant result (p<0.05). Conclusion: Preevacuation level of β-hCG and histopatology (proliferation state) may predict malignancy transformation in HM.Keywords: Hydatidiform mole, risk factors, remission, malignancy transformation
Akurasi Spesivisitas dan Sensitivitas Angka RMI 2 Skor pada Penderita Tumor Ganas Ovarium di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode 2017−2018 Kustiandi, Arieff; Hidayat, Yudi Mulyana; Sasotya, R.M Sonny; Kurniadi, Andi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.207

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesifitas dan sensitivitas skor RMI 2 dalam  menentukan  keganasan ovarium. Kadar CA 125 dan skor RMI 2 diukur dari hasil pemeriksaan histopatologi digunakan sebagai pemeriksaan gold standard. Penelitian ini dilakukan pada periode Januari 2017−Desember 2018.Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Data kategorik diuji dengan uji chi-square atau  uji Exact Fisher. Data numerik digunakan  uji-t tidak berpasangan atau  uji Mann Whitney. Sumber data diperoleh dari rekam medis pasien di Poli Ginekologi Onkologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung berdasarkan angka skor RMI 2 pada penderita suspek tumor ganas ovarium.Hasil: Sampel berjumlah 172 dengan  31 berkategori  jinak  dan 141 berkategori ganas berdasarkan hasil histopatologi. Hasil penelitian  menunjukkan  nilai median CA 125 kelompok ganas dibanding kelompok jinak (437, 05 vs 212,14) bermakna secara statistik p = 0,001 (nilai p<0,05). Cut of point skor  RMI 2 adalah >200 dengan sensitivitas 95,74% dan spesifisitas 16,12%.Kesimpulan: Skor  RMI 2 adalah metode yang digunakan untuk memprediksi tumor ganas ovarium. Hal ini sangat berguna digunakan dengan  kombinasi CA 125 dengan hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan status menopause atau dikenal dengan Risk Malignancy Index (RMI skor 2 cut off point >200 ) dengan sensitivitas 95,74%, spesifisitas 16,12%dan akurasi 81,39 %. Skor RMI 2 mempunyai sensitivitas yang tinggi, tetapi mempunyai spesivisitas yang rendah, sehingga membutuhkan penelitian lebih lanjut.Accuracy of Specificity and Sensitivity of RMI 2 Score Numbers in Ovarium Fanner Tumors in RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Period 2017-2018AbstractObjective: This study aims to determine the specificity and sensitivity of RMI 2 score in ovarian malignancy. The CA 125 level and the RMI 2 score were measured and adjusted by histopathology examination as gold standard. This research was conducted in period January 2017−December 2018.Methods: This research used observational analitic research method with cross sectional design. Categorical data were tested by chi-square test or Fisher's Exact test. Numerical data are used unpaired t-test or Mann Whitney test. The source of data from medical records of patients in Gynecology Oncology Clinic Dr. Hasan Sadikin Bandung based on the RMI 2 score with suspected ovarian malignant tumors.Result: Samples were 172 with 31 benign categories and 141 malignant categories based on the results of histopathology. The results showed a median value of CA 125 of the malignant group compared to the benign group (437, 05 vs. 212.14) statistically significant p = 0.001 (p value <0.05). The RMI 2 score cut off point > 200 with a sensitivity of 95.74% and specificity of 16.12%. Conclusion: This study is an RMI 2 score is a useful way as a predictor of ovarian malignancy. This is very useful to use with a combination of CA 125 with the results of ultrasonography (USG) and menopausal status or known as the Risk Malignancy Index (RMI score 2 cut off point> 200) with a sensitivity of 95.74%, specificity 16.12% and accuracy 81 , 39%. RMI 2 score has high sensitivity, but has low specificity, so it needs further research.Key words: CA 125, RMI 2 score, ovarian malignancy
Analisis Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan Kehamilan pada Inseminasi Intrauterin Rachmiawaty, Angghea; Djuwantono, Tono; Sasotya, R. M. Sonny
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 1 Maret 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1314.612 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v1n1.42

Abstract

AbstrakTujuan: Inseminasi intrauterin (IIU) merupakan prosedur yang umum digunakan dan menjadi pilihan terapi pertama dalam tatalaksana infertilitas, karena dampak risiko yang rendah, implementasi yang mudah, dan harga yang murah. Metode: Penelitian cross-sectional ini dilakukan pada seluruh pasangan yang melakukan prosedur IIU di Poliklinik Aster Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode 1 Januari 2016 sampai dengan 31 Desember 2016, yang tercatat dalam rekam medik. Variabel penelitian berupa Umur Istri, Umur Suami, Jumlah Sperma, Konsentrasi Sperma, dan Motilitas Sperma, Ketebalan Endometrium, Jumlah Folikel preovulasi, Jenis Stimulasi dan Output. Data dikelola dengan SPSS 24.00. Hasilnya disajikan secara analitik melalui angka dan tabel.Hasil: Diantara 159 pasangan yang melakukan prosedur IIU, terdapat 194 prosedur. Namun hanya 98 subjek yang dapat dievaluasi. Angka kehamilan sebesar 23.5%. Faktor yang mempengaruhi hanya jenis stimulasi ovarium dan jumlah ovum preovulasi yang berhubungan secara signifikan dengan angka kehamilan (p<0,05), umur pasangan, jumlah, konsentrasi, dan motilitas sperma tidak berbeda bermakna.Kesimpulan: Berbagai variabel mempengaruhi keberhasilan dari IIU. Jenis stimulasi ovarium dan jumlah ovum preovulasi berhubungan secara signifikan dengan angka kehamilan (p<0,05). Factors Analizyng of Influencing for Succeses Pregnancy Rate on Intrauterina InseminationAbstractObjective: intrauterine insemination (IUI) is a procedure widely used in fertility management. However, the effectiveness of IUI treatment is not consistent, and the role of multiple factor affecting successes in IUI has not been clarified.Methods: Cross sectional study was conducted on infertile couples performing IUI. Data from medical record at Aster Clinique Dr. Hasan Sadikin General Hospital at January 1st- December 12th, 2016. Spouse Ages, Sperm Count, Concentration, and Motility, Endometrial Thickness, Number of Preovulatory Follicles, Type of Stimulation and Output are research variables. Data was analyzed by SPSS 24.00. Result: Among 159 couples, there were 194 procedures of IUI. Only 98 subject was evaluated. The pregnancy rate was 23.5%. Only type of ovarian stimulation and number of  preovulatory follicle related significantly  to the pregnancy rate (p < 0.05), spouse age, sperm count, concentration and motility, endometrial thickness did not significantly related to the pregnancy rate (p>0,05)Conclusion: There were many variables may influence success rates of IUI. Type of ovarian stimulation and number of  preovulatory follicle related significantly  to the pregnancy rate (p<0.05). More cohort trials and randomized trials investigating the multiple factors affecting successes in IUI are urgently needed.Key words: Intrauterine insemination, infertility, ovarian stimulation
Pemulihan Motilitas Usus yang Terlambat Lebih Sering terjadi pada Operasi Onkologi Ginekologi Goenawan, Adrian; Susanto, Herman; Salima, Siti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 1 Maret 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.051 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v1n1.2

Abstract

AbstrakTujuan: Komplikasi selama operasi dan pasca operasi tetap menjadi beban bagi ahli bedah dan pasien serta keluarga mereka juga. Ileus adalah salah satunya, terutama di pembedahan pada rongga peritoneum. Keterlambatan dalam pemulihan motilitas usus dapat menyebabkan ileus. Prosedur sederhana untuk memeriksa pemulihan motilitas usus adalah dengan memeriksa onset bising usus, flatus dan BAB.Metode: Secara retrospektif catatan wanita yang menjalani operasi ginekologi mayor (kelompok A) atau operasi onkologi (kelompok B) dan dievaluasi berdasarkan usia dan indikasi operasi. Hasil darah pra operasi, lama operasi, dan komplikasi selama operasi dicatat. Permulaan bising usus, flatus dan BAB dianalisis dan dibandingkan antara kedua kelompok.Hasil: Sebanyak 889 pasient tidak ada perbedaan antara kelompok usia, kadar hemoglobin serum pra dan pascaoperasi, leukosit sebelum dan sesudah operasi, memerlukan transfusi darah (p> 0,05), namun terdapat perbedaan yang signifikan pada lama operasi. Kesimpulan: Pemulihan motilitas usus lebih awal pada pasien yang menjalani operasi ginekologi dibandingkan dengan kelompok onkologi baik secara klinis maupun secara statistik.Delayed Recovery of Intestinal Motility Occurs more Common in Oncology Gynecology OperationAbstractObjective: Complications during operation and postoperatively remain the burden for the surgeon and patients and their relatives as well. Ileus is one of those, especially those enters the peritoneal cavity. Delay in the recovery of intestinal motility can cause ileus. Simple procedures to check the recovery of intestinal motility are by checking the onset of bowel sound, flatulence and return of bowel movement.Method: We retrospectively identified records of women who underwent major gynecologic surgery (group A) or oncologic surgery (group B). All patients were evaluated by age, relevant medical history, previous surgery, and indication for operation. Preoperative blood results, duration of operation, and complication during the operation were noted. Onset of bowel sound, flatulence and return of bowel movement analyzed and compared between the two groups. Result: Total of 889 patients were studied. There was no difference between groups in term of age, pre- and postoperative serum hemoglobin, pre- and postoperative leucocyte, needing blood transfusion and duration of operation (p>0.05). Conclusion: There is earlier recovery of intestinal motility in patients undergone gynecologic surgery compared to those in the oncologic groups, clinically and statistically significant.Key words: intestinal motility, ileus, postoperative, gynecology, oncology
Hubungan Kualitas Hidup dan Kebutuhan Perawatan Paliatif Pasien Kanker Ginekologi di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Rumanti, Rizna Tyrani; Pramatirta, Akhmad Yogi; Harsono, Ali Budi; Effendi, Jusuf Sulaeman
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.218

Abstract

Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan kualitas hidup dan kebutuhan perawatan paliatif pada pasien kanker ginekologi.       Metode: Subjek penelitian ini adalah seluruh pasien kanker ginekologi yang dirawat di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan November-Desember 2018. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan rancangan cross sectional. Data yang diperoleh dianalisis secara bivariat dengan menggunakan chi square dengan α = 0,05, untuk mengetahui hubungan antara kualitas hidup dengan kebutuhan perawatan paliatif.Hasil: Karakteristik subjek terbanyak berusia > 50 tahun (65,67%), pendidikan dasar (70,15%), ibu rumah tangga (89,55%), pendapatan di atas upah minimum regional (61,19 %), tujuan rawat inap kemoterapi (47,76%) dan tipe kanker karsinoma serviks (43,28%). Subjek penelitian dengan skor paliatif ≥ 4 sebanyak 25 orang (37,31%). Keluhan yang terbanyak adalah berat badan turun dan tidak nafsu makan (86,57 %). Kualitas hidup pasien kategori baik sebanyak 29 orang, sedang 36 orang, dan kurang 2 orang. Kualitas hidup pasien kanker ginekologi berhubungan dengan kebutuhan perawatan paliatif dengan nilai signifikansi p 0,004.Simpulan: Kualitas hidup berhubungan dengan skor paliatif. Semakin rendah skor paliatif maka kualitas hidup semakin baik.Relations of  Quality of Life and Characteristics of Gynecological Cancer Patients In Hasan Sadikin HospitalAbstractObjective: The purpose of this study was to determine the characteristics of gynecological cancer patients, determine the quality of life of all gynecological cancer patients and to asses the correlation of quality of life and palliative care needs in gynecological cancer patients.Method: The subjects of this study were all gynecological cancer patients who were treated at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung in November-December 2018. This study was an analytic study with a cross sectional design. Data obtained from the study were analyzed bivariately using chi square with α = 0.05, to determine the relationship between quality of life and palliative care needs.Results: The most characteristics of the subjects were with age> 50 years (65.67%), primary education (70.15%), housewives (89.55%) with income above the regional minimum wage (61.19%), the main goal of hospitalization is chemotherapy (47.76%) and the most types of cancer are cervical carcinoma (43.28%). The research subjects who had a palliative score of ≥ 4 were 25 people (37.31%). The most complaints were weight loss and no appetite (86.57%). The quality of life of patients with good category was 29 people, medium category was 36 people and poor category was 2 people. The quality of life of gynecological cancer patients has correlation with palliative care needs with a significance value of p 0.004.Conclusion: Quality of life has correlation with palliative scores, the lower the palliative score, the better the quality of life.Key words: Gynecological cancer; quality of life; palliative score
Hubungan antara Faktor Risiko Demografi dan Klinis terhadap Kejadian Persalinan Preterm Dini dan Lanjut Sasongko, Rahadyan Aji; Effendi, Jusuf Sulaeman; Sabarudin, Udin; Armawan, Edwin; Siddiq, Amillia; Zulvayanti, Zulvayanti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 1 Maret 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.026 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v1n1.64

Abstract

Tujuan: Persalinan preterm dini dan lanjut masih menjadi penyebab penting morbiditas dan mortalitas perinatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, menganalisis hubungan faktor risiko demografi dan klinik dengan persalinan spontan preterm dini dan preterm lanjut periode Januari 2015-Desember 2016. Metode: Penelitian secara potong lintang retrospektif dilaksanakan pada bulan April-Juni 2017 dengan sumber data rekam medis Rumah Sakit Hasan Sadikin. Hasil: penelitian menunjukan insidensi persalinan preterm adalah 38,54%. Diskusi: Terdapat hubungan signifikan dari faktor risiko pendidikan, jumlah perawatan antenatal, riwayat persalinan preterm, dan ketuban pecah dini terhadap kejadian persalinan spontan preterm dini dan preterm lanjut. Pendidikan SD meningkatkan kejadian persalinan preterm dini 2,3 kali, perawatan antenatal kurang dari 4 kali selama kehamilan meningkatkan kejadian persalinan preterm dini 1,6 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya meningkatkan kejadian persalinan preterm dini 1,9 kali. Ketuban pecah dini meningkatkan kejadian persalinan preterm lanjut 2,6 kali (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan, jumlah perawatan antenatal, riwayat persalinan preterm, dan ketuban pecah dini, dengan  persalinan spontan preterm dini dan preterm lanjut. Relation between Demographic and Clinical Risk Factors to the Occurrence of Spontaneous Early and Late Preterm Birth Abstract     Objective: Early and late preterm birth remains an important cause of perinatal morbidity and mortality. Various studies indicate the incidence of is influenced by demographic and clinical factors affecting baby’s outcome. This study aims to analyze demographic and clinical factor’s relations of spontaneous early and late preterm birth in Hasan Sadikin General Hospital, from January 2015 until December 2016. Method: Retrospective-cross sectional was conducted in April until June 2017 from Hasan Sadikin General Hospital’s medical record, collected from January 2015 to December 2016. Results: Incidence of preterm birth from January 2015 until December 2016 was 38,54%. There was significant relations of education, times of antenatal care, previous preterm birth, and premature rupture of membrane with spontaneous early and late preterm birth. Education level of elementary school increased the incidence of spontaneous early preterm birth 2.3 times, previous preterm birth increased the incidence of spontaneous early preterm birth 1.6 times, antenatal care less than 4 times increased the incidence of spontaneous early preterm birth 1.9 times. Premature rupture of membrane increased the incidence of spontaneous late preterm birth 2.6 times (p<0.05. Conclusion: there is a relations between education, times of antenatal care, previous preterm birth, and premature rupture of membrane,  with spontaneous early and late preterm birth.Keywords: Demographic factors, clinical factors, preterm spontaneous early delivery, spontaneous late preterm delivery

Page 1 of 14 | Total Record : 133