cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Volume 4 Nomor 1 Maret 2021" : 13 Documents clear
Perbandingan Nilai Prediktif antara Risk-of-Malignancy Index (RMI) dan Klasifikasi IOTA Simple Rules dalam Prediksi Keganasan pada Kasus Tumor Ovarium di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Huda Toriq; Yudi Mulyana Hidayat; Dodi Suardi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.223

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan penerapan dua metode diagnostik yang telah digunakan di RSHS, yaitu skor RMI dan Klasifikasi IOTA Rules untuk memprediksi keganasan suatu tumor ovarium selama periode 2017−2018Metode: Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan pengambilan data secara retrospektif. Sumber data diperoleh dari rekam medis pasien yang menjalani operasi pengangkatan dan pemeriksaan histopalogis tumor ovarium. Dilakukan pengumpulan informasi mengenai data USG, kadar CA125, skor RMI, klasifikasi IOTA Simple Rules, dan membandingkannya dengan luaran histopatologis.Hasil: 190 kasus tumor ovarium diteliti. 156 kasus (82,1%) memiliki luaran histopatologis ganas dan 34 kasus lainnya (17.9%) jinak. 178 kasus (93,68%) memiliki skor RMI ≥200 dan 12 kasus (6,32%) <200. sebanyak 78 kasus diklasifikasikan sebagai Malignant, 42 kasus Benign, dan 70 kasus lainnya Inconclusive dengan kriteria IOTA Simple Rules. Distribusi CA125 dan Skor RMI pada kedua kelompok luaran histopatologis berbeda secara bermakna (P<0,05). Sensitivitas dan spesifisitas klasifikasi IOTA Simple Rules di RSHS masing-masing 94,23% dan 97,06%, dengan menggabungkan kelompok IOTA inkonklusif dengan kelompok ganas.  Penghitungan sensitivitas dan spesifisitas skor RMI memberikan nilai 95,51% dan 14,71% dengan menggunakan cut-off-point skor RMI 200.Kesimpulan: Sensitivitas dan spesifisitas klasifikasi IOTA Simple Rules lebih baik dibandingkan dengan skor RMI dalam memprediksi keganasan suatu tumor ovarium.Predictive Value Comparison of Risk-of-Malignancy Index (RMI) and IOTA Simple Rules in Predicting Ovarian Tumor Malignancy in Dr. Hasan Sadikin Hospital BandungAbstractObjective: This study was done to evaluate and compare the use of RMI score & IOTA Simple Rule which has been routinely used in Hasan Sadikin Hospital to predict ovarian malignancy in 2017-2018Method: This is a comparative study that collects data retrospectively. Data was obtained from medical record of patient who underwent ovarian tumor surgery, including USG report, CA125, RMI score, IOTA Simple Rules, and compared it with histopathological outcome. Result: 190 ovarian tumor cases was studied. 156 cases (82.1%) have malignant histopathological result and the other 34 cases (17.9%) were benign. 178 (93.68%) cases have RMI score ≥ 200 and 12 cases (6.32%) <200. As much 78 cases were classified as malignant, 42 cases (22.11%) were classified benign, and the other 70 cases were classified inconclusive using IOTA Simple Rules. CA125 and RMI Score distribution on both histopathological group differs significantly (P<0.05). IOTA Simple Rules shows sensitivity and specificity of 94.23% and 97.06% respectively, when inconclusive and malignant results were grouped together. RMI Score showed sensitivity  and specificity of 95.51% and 14.71% respectively using cut-off point of 200.Conclusion: IOTA Simple Rules performs better than RMI in predicting ovarian tumor malignancy.Key words: Ovarian cancer, IOTA, RMI, USG, CA125
Perbandingan Kadar Testosteron dan Lemak Viseral Pasien Sindrom Ovarium Polikistik di Poliklinik Aster RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Sebelum dan Setelah Pemberian Terapi Metformin Imelda Rosmaida Siagian; Mulyanusa Amarullah Ritonga; Maringan D.L. Tobing; M. Rizkar Arev Sukarsa
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.205

Abstract

Tujuan: Terdapat 50-70% kasus sindrom ovarium polikistik yang berkaitan dengan adanya resistensi insulin. Peran agen sensitisasi insulin seperti metformin diharapkan dapat memperbaiki kondisi lemak dan testosteron bebas yang tinggi sehingga memperbaiki gejala klinis pasien dengan sindrom ovarium polikistik. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan indeks androgen bebas (sebagai representasi kadar testosteron) dan lemak viseral pasien sindrom ovarium polikistik sebelum dan sesudah diberi pengobatan metformin. Metode: Populasi penelitian didapatkan dari data penelitian DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences) 3233 yaitu 29 kasus wanita sindrom ovarium polikistik yang datang untuk berobat di Klinik Aster RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2013 - Desember 2017, dengan menggunakan metode experimental design dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara purposing sampling yang diambil secara retrospektif pada data sekunder yang terdapat dalam rekam medik. Hasil: Didapatkan rata-rata indeks androgen bebas sebelum pemberian terapi metformin 2.67 ± 0.43 dan sesudah pemberian terapi 1.88 ± 0.37. Rata-rata kadar lemak visceral sebelum pemberian terapi metformin 10.27±2.589% dan sesudah pemberian terapi 8.00±1.488%. Kesimpulan: Sehingga disimpulkan terdapat perbedaan signifikan kadar indeks androgen bebas (p:0.008) dan lemak visceral (p:0,0001) pada pasien sindrom ovarium polikistik sebelum dan sesudah pemberian terapi metformin.Comparasion of free Androgen Index and Viseral Fat in Polycystic Ovary Syndrome Patients in Aster Polyclinic Dr. Hasan Sadikin Bandung Before and After Giving Metformin TherapyAbstractObjective: There are 50-70% of cases of polycystic ovary syndrome associated with insulin resistance. The role of insulin sensitizing agents such as metformin is expected to improve the condition of high fat and free testosteron, thereby improving the clinical symptoms of patients with polycystic ovary syndrome. This study aims to determine differences in free androgen index (represent the value of free testosteron) and visceral fat levels of polycystic ovary syndrome patients before and after being given metformin treatment. Method: The study population was obtained from DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences) 3233 research data, namely 29 cases of polycystic ovary syndrome women who came for treatment at the Aster Clinic Dr. Hasan Sadikin Bandung from January 2013 - December 2017, using the experimental design method with the one group pretest-posttest design approach. Sampling was done by purposing sampling taken retrospectively on secondary data contained in the medical record. Result: The average free androgen index levels were obtained before the administration of metformin therapy 2.67 ± 0.43 and after the administration of therapy 1.88 ± 0.37 Average visceral fat levels before administration of metformin therapy 10.27 ± 2.589% and after administration of 8.00 ± 1,488%. Conclusion : It was concluded that there were significant differences in free androgen index (p: 0.008) and visceral fat (p: 0.0001) in patients with polycystic ovary syndrome before and after metformin therapy.Key word: Polycystic ovary syndrome, free androgen index, viseral fat, metformin
Pendidikan Era Pandemi COVID-19 Ruswana Anwar
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.250

Abstract

Sejarah pendidikan profesi kedokteran melalui proses yang panjang dan berliku, membutuhkan upaya berkelanjutan yang lebih baik. Tujuan pendidikan profesi adalah untuk mendidik para profesional mengupayakan penyebaran pengetahuan, mempunyai pola pikir kritis dan perilaku etis, kompeten dalam sistem pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat.Pada era pandemi COVID-19, diperlukan pendekatan sistem reformasi pendidikan professional yang terintegrasi dan kepemimpinan yang lebih baik.Pandemi COVID-19 memberikan dampak menyeluruh termasuk pada pendidikan kedokteran. Sebagian besar rotasi mahasiswa kedokteran terhenti terkait pelayanan rumah sakit berfokus pada penanganan COVID-19 dan pembelajaran tatap muka dikelas serta praktik laboratorium ditunda, mahasiswa belajar secara jarak jauh. Pandemi COVID-19 telah merubah pelayanan publik dan potensi perubahan tatalaksana pendidikan kedokteran. Rotasi penugasan yang tinggi antar bagian dan ke berbagai RS jejaring akan meningkatkan risiko peserta didik sebagai faktor penyebab penyebaran. Meskipun demikian+ peserta didik PPDS juga memegang peranan terbesar pada pelayanan medis di RS pendidikan. Terdapat kekhawatiran yang tinggi peserta didik akan dampak COVID-19 pada proses pendidikan mereka.
Tingkat Pengetahuan dan Sikap Terhadap Perilaku Keikutsertaan Deteksi Dini Kanker Serviks pada Paramedis Perempuan Johanna Sharon Carolina; Maringan Diapari Lumban Tobing; Raden Mas Sonny Sasotya; Zahrotur Rusyda Hinduan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.264

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan sikap paramedis terhadap perilaku partisipatif dalam deteksi dini kanker serviks.Metode: Penelitian ini merupakan Penelitian Observasional Analitik dengan rancangan potong lintang. Data yang digunakan merupakan data primer yang berasal dari hasil wawancara dan kuesioner tervalidasi. Jumlah minimal sampel adalah 206.Hasil: Penelitian ini dilakukan terhadap 220 wanita dengan tingkat pengetahuan pap smear 75,5% dan tes IVA 85,0%. Untuk responden yang melakukan pap smear 6,4%, dan tes IVA 16,8%. Hasil didapatkan tidak ada hubungan antara variabel tingkat pengetahuan dan sikap terhadap perilaku partisipatif dalam deteksi dini kanker serviks pada paramedis wanita (P>0,05).Diskusi: Menurut teori IBM, perilaku yang terjadi dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu pengetahuan dan keterampilan, kecenderungan berperilaku, minat berperilaku, kendala lingkungan, dan kebiasaan berperilaku. Penelitian ini memberikan pengaruh pengetahuan dan sikap terhadap perilaku paramedis.Kesimpulan: Tingkat pengetahuan dan sikap paramedik perempuan tidak berpengaruh terhadap keikutsertaan tes IVA dan Pap smear.Toward Participation Behavior in Early Detection of Cervical Cancer on Women ParamedicAbstract Objective: This study aims to analyze the relationship between the level of knowledge and attitudes of paramedics on participatory behavior in early detection of cervical cancer.Method: This research is an Analytical Observational Research with a cross-sectional design. The data used are primary data derived from validated interviews and questionnaires. The minimum sample size is 206.Result: This study was conducted on 220 women with a Pap smear level of knowledge of 75.5% and an IVA test of 85.0%. For respondents who did pap smears were 6.4%, and IVA tests were 16.8%. The results showed no relationship between the variable level of knowledge and attitudes towards participatory behavior in early detection of cervical cancer in female paramedics (P> 0.05).Discussion: According to IBM theory, a behavior that occurs is influenced by the following five factors, knowledge and skills, the tendency to behave, the interest to behave, environmental constraints, and habits to behave. This study analyzes the effect of knowledge and attitudes on paramedical behavior.Conclusion: The level of knowledge and attitudes of women paramedics did not affect the participation of IVA tests and Pap smears.Key word: Knowledge, attitudes, behavior, early detection of cervical cancer
Luaran Kehamilan dan Persalinan pada Ibu dengan Preeklamsi Berat di RS Panti Wilasa Citarum Semarang Amadea Ivana Hartanto; Theresia Avilla Ririel Kusumosih; Wikan Indrarto
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.240

Abstract

Tujuan: Mengetahui dan mendiskripsikan peningkatan risiko luaran kehamilan dan persalinan pada ibu dengan preeklamsia berat di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang Metode: Desain penelitian menggunakan metode cross sectional dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis dan register persalinan. Populasi penelitian adalah ibu bersalin dengan preeklamsia berat dan tidak preeklamsia yang di rawat inap di RS Panti Wilasa Citarum bulan Januari 2015 – Desember 2015 dengan teknik pengambilan sampel  consecutive dan didapatkan total 106 sampel.Hasil: Karakteristik ibu bersalin paling banyak pada ibu usia 20-35 tahun, primigravida dan tingkat pendidikan SMA. Terdapat variabel yang bermakna secara statistik dengan preeklamsia berat yaitu partus prematur (P=0,001,RR=4,75), seksio sesarea (P=0,000,RR=25,5), perdarahan pascasalin (P=0,02,RR=9). Ada variabel yang tidak bermakna secara statistik dengan preeklamsia berat yaitu solusio plasenta (P=0,241,RR= -), induksi persalinan (P=0,126, RR= -), ekstraksi vakum konstan. Kesimpulan :  Luaran kehamilan dan persalinan ibu dengan preeklamsia berat ditemukan bahwa terdapat peningkatan risiko terjadinya sectio caesarea (RR=25,5), perdarahan pascasalin (RR=9), dan partus prematur (RR=4,75). Tidak terdapat peningkatan risiko terjadinya solusio plasenta, induksi persalinan, dan ekstraksi vakum pada preeklamsia berat. Pregnancy and Labor Outcomes in Women with Severe Preeclampsia in Panti Wilasa Citarum Hospital SemarangAbstractObjective: To know and to describe the increased risk of pregnancy and delivery outcomes in women with severe preeclampsia at Panti Wilasa Citarum Semarang HopsitalMethod : This study used cross sectional method and secondary data from medical record and delivery registry. The population in this study is all the maternity women at Panti Wilasa Citarum Semarang Hospital in January – December 2015.  The sample in this tudy uses consecutive sampling method and the total sample is 106 samples. Result : The results showed that the characteristics of maternity women were aged 20-35 years old with primiparity and senior high school level education. There are statistically significant variables to severe preeclampsia which are preterm delivery (P=0,001, RR=4,75), sectio caesarea (P=0,000, RR=25,5), postpartum hemorrhage (P=0,02,RR=9).  There are statistically non-significant variables which are placental abruption (P=0,241,RR= -), labor induction (P=0,126, RR= -), and vacuum extraction result is constant. Conclusion: The pregnancy and labor outcomes in women with severe preeclampsia was found that there was an increased risk of caesarea (RR=25,5), postpartum hemorrhage (RR=9) and preterm delivery (RR=4,75) in severe preeclampsia. There was no increased risk of placental abruption, labor induction, and vacuum extraction in severe preeclampsia. Key word : Severe preeclampsia, labor outcome, pregnancy outcome
Ekspresi Annexin A2 pada Kanker Ginekologi William Alexander Setiawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.174

Abstract

Tujuan: Untuk menentukan adanya hubungan antara ekspresi ANXA2 dan berbagai aspek kanker ginekologi. Metode: Pencarian terstruktur untuk penelitian yang menyelidiki hubungan ekspresi ANXA2 dan kanker serviks, kanker endometrium dan kanker ovarium menggunakan PubMed. Pencarian terbatas pada 10 tahun terakhir dan dilakukan penyaringan dengan kriteria inklusi serta eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil: Dari 52 penelitian didapatkan 9 penelitian yang kemudian dilakukan telaah kritis. ANXA2 diekspresikan berlebih dalam jaringan karsinoma dibandingkan dengan jaringan normal. Kesimpulan: Peningkatan ekspresi ANXA2 berperan dalam proliferasi sel kanker. Ekspresi ANXA2 berkorelasi dengan stadium lanjut dan penyakit metastasis. ANXA2 dapat digunakan untuk memprediksi progresivitas, angka kelangsungan hidup, dan resistensi terhadap rejimen pengobatan.Annexin A2 Expression in Gynecological Cancer: A Systematic ReviewAbstractObjective: To determine the relationship between ANXA2 expression and various aspects of gynecological cancer. Method: A structured search for studies involving the relationship of ANXA2 and cervical cancer, endometrial cancer and ovarian cancer using PubMed. Search is limited to the last 10 years and is screened with predetermined inclusion and exclusion criteria. Result: Of the 52 studies obtained 9 studies which were then carried out critical studies. ANXA2 is overexpressed in carcinoma tissue compared to normal tissue. Conclusion: Increased expression of ANXA2 approved in cancer cell proliferation. Expression of ANXA2 correlates with advanced stage and metastatic disease. ANXA2 can be used to predict progression, survival rates, and resistance to treatment regimens.Key words: Annexin A2, gynecological cancer, proliferation
Pelvic Inflammatory Disease (PID) Management in Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Pandemic Era I Gde Sastra Winata; Musa Taufiq
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.239

Abstract

Objective: This article aims to review pelvic inflammatory disease management during the coronavirus disease 2019 pandemicMethod: We conducted a search for scientific articles through PubMed and Google Scholar, using the terminologies of “PID AND COVID-19”, “Pelvic Inflammatory Disease”; “Pelvic Inflammatory Disease AND COVID-19”, “PID Management AND COVID-19”, “Pelvic Inflammatory Disease Management AND COVID-19”, and “PID AND Pandemic” in English and Indonesian from 2019-2020.Result: There were a total of 25 scientific articles from PubMed and Google Scholar within 2019-2020 that were included as the source of this reviewConclusion: There is no difference between the management of pelvic inflammatory disease during and before the pandemic. The mode of medical services and follow up tends to be conducted virtually. Technology-based services for pelvic inflammatory disease during the corona virus disease 2019 pandemic are promising and have been proven to be an effective method, therefore virtual-based pelvic inflammatory disease services may be safely applied. However, if there is any indication of emergency found during the telemedicine services, a face-to-face consultation or emergency room visit should be recommended.Key words : COVID-19, Pelvic Inflammatory Disease, SARS-CoV-2Tatalaksana Radang Panggul selama Era Pandemi Virus Corona 2019 (COVID-19)AbstrakTujuan: Melakukan kajian mengenai tatalaksana dari penyakit radang panggul selama pandemi penyakit coronavirus 2019Metode: Kami melakukan pencarian artikel ilmiah melalui PubMed dan Google Scholar menggunakan terminologi “PID AND COVID-19”, “Pelvic Inflammatory Disease”; “Pelvic Inflammatory Disease AND COVID-19”, “PID Management AND COVID-19”, “Pelvic Inflammatory Disease Management AND COVID-19”, and “PID AND Pandemic” dalam Bahasa Inggris dan Indonesia dari tahun 2019-2020. Hasil: Ditemukan sebanyak 25 publikasi ilmiah dari pencarian di PubMed dan Google Scholar pada tahun 2019- 2020 yang digunakan sebagai sumber kajian ilmiah ini.Kesimpulan: Tatalaksana penyakit radang panggul sebelum dan selama pandemi tidak berubah. Metode pelayanan kesehatan dan follow up cenderung dilakukan secara virtual. Pelayanan kesehatan berbasis tekonologi untuk penyakit radang panggul selama pandemi penyakit coronavirus 2019 menjanjikan dan telah terbukti sebagai metode yang efektif, sehingga pelayanan kesehatan untuk penyakit radang panggul secara virtual dapat diaplikasikan secara aman. Jika ditemukan adanya indikasi kegawatdaruratan selama pelayanan telemedicine, pasien sebaiknya melakukan konsultasi tatap muka atau mengunjungi instalasi gawat darurat. Kata kunci: COVID-19, penyakit radang panggul, SARS-CoV-2
Comparison of Nifedipine and Isoxsuprine to Cervical Length in Threatened Preterm Labor Triyoga Pramadana; Anita Rachmawati; Dini Pusianawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.255

Abstract

Objective: This study aimed to determine differences in cervical length changes between administration of nifedipine and isoxsuprine. Method: Subjects of the study were pregnant women who meet the inclusion criteria (n=16). Treatments were given for 48 hours. Parameters measured was the cervical length before and after the administration of nifedipine and isoxsuprine. This study was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital from January until April 2020.Result: Less shortening of the cervical length after administration of tocolytic isoxsuprin for 48 hours compared with tocolytic nifedipine and statistically significant with p value of 0.0001 (p<0.05) using Paired T tests.Conclusion: Isoxsuprin is more effective to prevent shortening of the cervical length compared to nifedipine in cases of threatened preterm labor.Perbandingan Efek Nifedipine dan Isoxsuprine terhadap Panjang Serviks pada Persalinan Preterm TerancamAbstrakTujuan: Studi ini bertujuan untuk menelaah perbedaan perubahan panjang serviks antara pemberian nifedipine dan isoxsuprine.Metode: Studi ini adalah sebuah uji klinis acak dengan metode randomisasi buta ganda. Partisipan studi ini adalah wanita hamil yang memenuhi kriteria inklusi (n=16).  Pengobatan diberikan selama 48 jam. Parameter yang diukur adalah panjang serviks sebelum dan sesudah administrasi nifedipine dan isoxsuprine. Studi ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada Januari sampai April 2020. Hasil: Terdapat lebih sedikit pemendekan serviks pada pemberian isoxsuprine selama 48 jam dibandingkan dengan nifedipine (p=0.0001).Kesimpulan: Isoxsuprine lebih efektif untuk mencegah pemendekan serviks dibandingkan dengan nifedipine pada kasus persalinan preterm terancam. Kata kunci: Nifedipine, Isoxsuprine, Panjang serviks, Persalinan preterm terancam
Characteristics of Infertility Causes in Patients Undergoing in Vitro Fertilization (IVF) Ida Bagus Putra Adnyana; Ida Bagus Rendra Kurniawan Artha; Anton Tanjung; Luthfi Rahman
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.245

Abstract

Tujuan: Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik faktor penyebab infertilitas pada pasangan yang menjalani in-vitro fertilization (IVF) di Klinik Bayi Tabung Rumah Sakit Umum Bali Royal Hospital periode Januari Desember 2019.Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional dengan populasi target penelitian adalah pasangan infertil yang datang ke Klinik Bayi Tabung Rumah Sakit Umum (RSU) Bali Royal Hospital dengan tindakan IVF pada tahun 2019. Data selanjutnya diolah berdasarkan karakteristik sampel, faktor istri, faktor suami, serta faktor lainnya. Hasil: Pada periode 1 Januari–31 Desember 2019, tercatat sebanyak 174 kasus pasien infertilitas. Pada penelitian ini diperoleh bahwa 60,23% terjadi gangguan pada tuba yang merupakan penyebab tertinggi pada kelompok istri, sedangkan gangguan sperma berupa oligoasthenoteratozoospermia (81,82%) merupakan hasil paling tinggi pada kelompok suami. kelainan lainnya yang mengganggu proses fertilisasi pada penelitian ini adalah terdapatnya kelainan uterus pada 23,36% pasangan.Kesimpulan: Faktor kelainan tuba dan oligoastenoteratozoospermia merupakan karakteristik penyebab terbanyak infertilitas pada pasangan yang dilakukan IVFKata kunci: Infertilitas, IVF,Kelainan tuba, OligoasthenoteratozoospermiaCharacteristics of Infertility Causes in Patients Undergoing in Vitro Fertilization (IVF)AbstractObjective: The study was done to determine the characteristics of infertility cause in couples undergoing in-vitro fertilization in in-vitro fertilization clinic Bali Royal Hospital Denpasar on January–December 2019.Method: This was an observational descriptive study with study population of infertile couples that went to in-vitro fertilization clinic at Bali Royal Hospital Denpasar for IVF on 2019. The data obtained will be described based on sample characteristics, female factor, male factor and other factors. Result: In one-year period of 1 January–31 December 2019, there were 174 infertile cases included in this study. In this study, we concluded that the most common cause for female factor was tubal problems (60.23%), and for male factor was oligoasthenoteratozoosperm (81.82%), another abnormalities that affect couples fertility were uterus abnormalities (23.26%)Conclusion: Fallopian tube abnormalities and oligoastenoteratozoospermia were the most common causes of infertility in couples with IVF
Correlation of Serum Vitamin D and Metabolic Disturbances in Polycystic Ovarian Syndrome Shasya Aniza Santoso; Tita Husnitawati Madjid; Anita Rachmawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.253

Abstract

Objective: This study was aimed to determine the correlation between vitamin D and insulin resistance in women with PCOS. Method: This study was correlational analytic with cross-sectional approach to 34 women diagnosed with PCOS based on ultrasonography. Waist circumference and fasting blood glucose (FBG) represented insulin resistance. Women with hormonal therapy and vitamin D supplementation were not included to this study. This study used consecutive sampling method.Result: The average of age was 25.6±6.1 years old. Waist circumference and fasting blood glucose (FBG) represented insulin resistance. The average of waist circumference and FBG were 87.6±12.4 cm and 86.2±27.9 mg/dl, respectively. The mean of vitamin D levels was 11,5±3,6 ng/ml. According to Spearman’s correlation, vitamin D levels were weak negative correlated with waist circumference (r=-0.2; p>0.05) and FBG (r= -0,1; p>0,05), it statistically was not significant.Conclusion: There is weak negative correlation between vitamin D and metabolic syndrome in PCOS patients.Korelasi Kadar Vitamin  D Serum dan Gangguan Metabolik pada Sindrom Ovarium PolikistikAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi vitamin D dengan resistensi insulin pada pasien dengan SOPK.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif dengan pendekatan potong lintang pada 34 subjek penelitian yang didiagnosis SOPK berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Lingkar pinggang dan kadar glukosa darah puasa (GDP) diambil sebagai parameter resistensi insulin. Pasien dengan terapi hormon dan suplementasi vitamin D tidak termasuk dalam subjek penelitian. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling.Hasil: Rerata usia subjek penelitain ini adalah 25,6±6,1 tahun. Lingkar pinggang dan glukosa darah puasa (GDP) diambil sebagai parameter resistensi insulin. Pada penelitian ini subjek memiliki rerata lingkar pinggang 87,6±12,4 dan GDP 86,2±27,9 mg/dl. Rerata kadar vitamin D subjek 11,5±3,6 ng/ml. Berdasarkan uji korelasi Spearman, kadar vitamin D berkorelasi negatif lemah dan tidak signifikan secara statistik baik dengan lingkar pinggang (r= -0,2; p>0,05) maupun dengan GDP (r= -0,1; p>0,05). Kesimpulan: Vitamin D berkorelasi negatif lemah dengan parameter gangguan metabolik resistensi insulin pada pasien SOPK.Kata kunci: sindroma ovarium polikistik, vitamin D, resistensi insulin, sindroma metabolik

Page 1 of 2 | Total Record : 13