cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Volume 5 Nomor 1 Maret 2022" : 20 Documents clear
Genotip Virus Human Pappiloma Tipe Risiko Rendah Pada Wanita Pekerja Seks Komersial di Kota Makassar Yurike Adeline Chandra Montolalu; Susiawaty Susiawaty; Sharvianty Arifuddin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.348

Abstract

Tujuan: Mengetahui genotip HPV risiko rendah melalui pemeriksaan DNA HPV dan mencari hubungan faktor risiko terhadap angka kejadian infeksi HPV pada PSK diMakassar  Metode: Jenis penelitian ini adalah potong lintang dan terlaksana pada bulan Agustus  2019.  Populasi penelitian adalah wanita PSK usia reproduktif dengan total 80 sampel.Hasil: Pemeriksaan genotip HPV menunjukkan tipe HPV risiko rendah didominasi oleh tipe 43 dan 44 serta riwayat coitarche berpengaruh terhadap angka kejadian Infeksi HPV di Makassar (p=0,002)Kesimpulan: Coitarche pada usia <15tahun merupakan faktor predisposisi terhadap infeksi HPV dan genotip terbanyak HPV risiko rendah adalah tipe 43 dan 44 pada PSK di MakassarGenotype of Low Risk Type Human Papilloma Virus in Female Commercial Sex Workers in MakassarAbstractObjective: To investigate low-risk HPV genotype through HPV DNA examination and to determine the correlation between risk factors and incidence of HPV infection in Commercial Sex Workers (CSWs) in Makassar.Method: Cross-sectional study was used and conducted in August 2019. The study population was productive CSWs with a total of 80 samples.Result: HPV genotype examination showed low-risk HPV types were dominated by types 43 and 44.Conclusion: Coitarche before 15 years old is a predisposing factor for HPV infection and the highest low-risk HPV genotype is type 43 and 44 in CSWs in Makassar.Key words : HPV Infection in Makassar, Low risk HPV
Cervical Cancer Radiotherapy Response in Dr. Hasan Sadikin General Center Hospital Jaeni Pringgowibowo; Dodi Suardi; Ruswana Anwar
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.340

Abstract

Objective: To determine the response to radiation therapy based on the characteristics of cervical cancer patients who were given radiotherapy at Hasan Sadikin Hospital in 2020.Methods: The study was conducted using an observational analytic study method with a cross-sectional design, involving 75 cases of cervical carcinoma who were given complete radiation therapy but were not given neoadjuvant chemotherapy or surgery, which were recorded in the medical record at the Central General Hospital (RSUP) Dr. Hasan Sadikin. Results: Response to therapy had a significant relationship (p< 0.05) with age (p 0.030), histopathological type (p 0.009), and tumor mass size (p 0.042), but had no significant relationship to cervical cancer stage (p 0.055). Further analysis found that the response to radiation therapy at stage III was highly dependent on the size of the tumor mass (p<0.001). Based on the odds ratio calculation, the response to therapy was better in patients aged 35 years 3.44 times compared to patients aged 18-34 years, cervical cancer with squamous type histopathology 5.23 times compared to adenocarcinoma type histopathology, and cervical cancer with tumor mass size. <4 cm 2.86 times compared to tumor mass size 4 cm.Conclusion: The therapeutic response was better in cervical cancer patients who underwent complete radiation therapy in patients aged 35 years, stage III cervical cancer with tumor mass size <4 cm, squamous type histopathology, and tumor mass size <4cm.Respon Radioterapi pada Kanker Serviks di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin BandungAbstrakTujuan: Untuk mengetahui respon terapi radiasi berdasarkan karakteristik pasien kanker serviks yang diberikan radioterapi di Rumah Sakit Hasan Sadikin tahun 2020. Metode: Penelitian dilakukan menggunakan metode studi analitik observasional dengan desain potong lintang, melibatkan 75 kasus karsinoma serviks yang diberikan terapi radiasi komplit tetapi tidak diberikan kemoterapi neoadjuvant maupun tindakan operasi, yang tercatat pada rekam medis di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin.Hasil: Respon terapi memiliki hubungan yang signifikan (p<0,05) terhadap usia (p 0,030), tipe histopatologi (p 0,009), dan ukuran massa (p 0,042), tetapi memiliki hubungan yang tidak bermakna terhadap stadium kanker serviks (p 0,055). Analisis lebih lanjut didapatkan bahwa respon terapi radiasi pada stadium III sangat bergantung kepada ukuran massa tumor (p<0,001). Berdasarkan penghitungan odd ratio respon terapi lebih baik didapatkan pada pasien berusia ≥35 tahun 3,44 kali dibandingkan pada usia 18-34 tahun, kanker serviks dengan histopatologi tipe skuamosa 5,23 kali dibandingkan histopatologi tipe adenokarsinoma, dan kanker serviks dengan ukuran massa tumor <4 cm 2,86 kali dibandingkan ukuran massa tumor ≥4 cm.Kesimpulan: Respon terapi lebih baik pada pasien kanker serviks yang dilakukan terapi radiasi komplit pada pasien berusia ≥ 35 tahun, kanker serviks stadium III dengan ukuran massa tumor <4 cm, histopatologi tipe skuamosa, dan ukuran massa tumor <4cm.Kata kunci : respon terapi, radiasi, kanker serviks
Tiga Kasus Holoprosensefal Alobar Dengan Variasi Gambaran Klinis : Diagnosis Ultrasonografi Deviana Soraya Riu; Efendi Lukas
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.382

Abstract

Holoprosensefal (HPE) adalah spektrum malformasi dengan berbagai hasil luaran. Laporan ini menjelaskan 3 kasus holoprosensefal alobar yang dikonfirmasi saat antenatal dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Selain gambaran holoprosensefal alobar yang serupa pada ketiga kasus, ditemukan gambaran lain yaitu probosis, siklops, kelainan jantung, dan arteri umbilikalis tunggal. Gambaran klinis yang berbeda adalah preeklamsia, polidaktili, dan mikropenis pada kasus pertama, pada kasus kedua adalah mielomeningokel; dan hidransefal untuk kasus ketiga. Analisis kromosom dilakukan hanya pada kasus kedua dengan hasil berupa translokasi kromosom 3 ke 9 (46 XX, der (9) t(3:9)(p21:q33). Pencitraan menggunakan USG adalah modalitas yang bermanfaat untuk mendeteksi holoprosensefal alobar. Bila skrining dilakukan pada masa usia kehamilan yang tepat maka dapat ditemukan kelainan kongenital mayor letal secara dini, sehingga terminasi kehamilan lebih mudah dengan komplikasi yang lebih minimal.Three Cases Of Holoprosencephalic Alobar With A Variety Of Clinical Features: Ultrasound DiagnosticAbstractHoloprosencephaly (HPE) is a spectrum of malformations with various outcomes and the most common congenital brain disorder. This report describes 3 cases of alobar holoprosencephaly that were confirmed antenatally by ultrasound examination. Apart from the similar appearance of alobar holoprosencephaly in all three cases, other similar characteristics were proboscis, cyclopia, heart defects, and a single umbilical artery. The different clinical features were maternal preeclampsia, polydactyly, and micropenis in the first case. The different clinical feature in the second case was myelomeningocele; and hydranencephaly for the third case. Chromosome analysis was performed only in the second case with results in the form of translocation of chromosomes 3 to 9 (46 XX, der (9) t(3: 9)(p21: q33).If the chromosome analysis is limited, ultrasound imaging is beneficial for detecting alobar holoprosencephaly.Key words: alobar holoprosencephaly, myelomeningocele, hydranencephaly, preeclampsia
Profil Pasien Kanker Ovarium yang Dilakukan Fertility Sparing Surgery di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2017-2020 Rania Ramadha Athiyazahra; Ali Budi Harsono; Hartanto Bayuaji
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.349

Abstract

Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan karakteristik pasien kanker ovarium yang dilakukan tindakan fertility sparing surgery.Metode: Penelitian deskriptif menggunakan data rekam medis pasien kanker ovarium yang dilakukan tindakan fertility sparing surgery di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2017-2020. Sampel yang digunakan sebanyak 35 data rekam medis menggunakan metode total sampling. Hasil: Dari 35 pasien, sebagian besar berusia 20-29 tahun (37%),belum menikah (54%), dan nulipara (71%), Tindakan fertility sparing surgery dilakukan pada stadium I-II untuk tipe sel epitel, stadium I-III untuk tipe sel germinal, dan hanya pada stadium I untuk tipe sel sex cord stromal. Pasien usia <20 tahun dilakukan tindakan fertility sparing surgery pada stadium III dengan jenis histopatologi tipe sel germinal sementara pasien dengan usia>20 tahun mayoritas dilakukan tindakan pada stadium I dengan tipe histopatologi terbanyak adalah tipe sel epitel.Kesimpulan: Tindakan fertility sparing surgery bertujuan untuk mempertahankan organ reproduksi. Karakteristik pasien kanker ovarium yang dapat dilakukan tindakan fertility sparing surgery berusia 20-29 tahun dan nulipara. Tindakan fertility sparing surgery pada tipe sel epitel dan tipe sex cord stromal hanya dilakukan pada stadium dini, sementara pada tipe sel germinal dapat dilakukan hingga stadium III. Ovarian Cancer Patient Profile Undergoing Fertility Sparing Surgery at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung From 2017 Until 2020Abstract Objective: Aimed to describe the characteristics of ovarian cancer patients underwent fertility sparing surgery between 2017-2020 at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Methods: A descriptive study that used medical records of ovarian cancer patients that underwent fertility sparing surgery at Dr. Hasan Sadikin General Hospital from 2017-2020. The sample used was 35 data, using the total sampling methods. Result: From a total of 35 patients, most were aged 20-29 years (37%), unmarried (54%), and nulliparous (71%). Fertility sparing surgery was performed at stage I-II for epithelial cell, stage I-III for germ cells, and stage I for sex-cord stromal cells. Patients <20 years underwent fertility sparing surgery at stage III with the most common histopathology type is germ cell while patients >20 years underwent fertility sparing surgery at stage I with the histopathology type is surface epithelial cells.Conclusion: Fertility sparing surgery aimed to maintain the reproductive organs. Characteristics of patients who underwent fertility sparing surgery are aged 20-29 years and nulliparous. Fertility sparing surgery can be performed at an early stage for epithelial cell and sex-cord stromal cells, while germ cell can be performed up to stage III.Key words: ovarian cancer, fertility sparing surgery, characteristics
Prevalensi Hiperplasia Endometrium Berkorelasi dengan Myoma Uteri Nadya Hasna Rasyida Da; Aditiyono Aditiyono; Gita Nawangtantrini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.316

Abstract

Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi mioma uteri dengan koeksistensi hiperplasia endometrium pada RSUD Margono Soekarjo Purwokerto dalam rentang 2017−2019.Metode: Penelitian ini menggunakan desain observational cross-sectional yang dilakukan di Pusat Onkologi di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. Sumber data adalah hasil pemeriksaan mikroskopis pada laboratorium Patologi Anatomi dari pasien yang dilakukan histerektomi dengan teknik total sampling pada rentang waktu tahun 2017-2019. Data kemudian dicatat hasil pengolahan data univariat dan ditampilkan dalam bentuk tabel.Hasil: Dari 389 partisipan yang diteliti, terdapat 306 (78.7%) pasien terdiagnosa dengan mioma uteri tanpa hiperplasia endometrium dan 83 (21.3%) pasien dengan diagnosa mioma uteri disertai dengan koeksistensi hiperplasia endometrium. Dari 83 sampel pasien dengan koeksistensi hiperplasia endometrium, didapatkan 49 (59.0%) sampel memiliki gambaran hiperplasia simpleks non atipik, 14 sampel (16.9%) memiliki gambaran hiperplasia kompleks non atipik, 6 (7.2%) sampel dengan gambaran hiperplasia simpleks atipik dan 14 (16.9%) dengan gambaran hiperplasia kompleks atipik.Kesimpulan: Mioma uteri banyak terjadi pada usia perimenopause karena ketidak seimbangan hormone antara estrogen dan progesterone. Mioma uteri dapat terjadi dengan atau tanpa koeksistensi dengan patologi lainnya, seperti hiperplasia endometrium, adenomyosis ataupun polip. Hiperplasia endometrium sering terjadi sebagai patologi sekunder, dengan prevalensi terbanyak adalah hiperplasia endometrium simpleks non atipik.The Prevalence of Uterine Fibroid with Endometrial Hyperplasia CoexistenceAbstractObjective: This study was conducted to determine the prevalence of uterine fibroids with the coexistence of endometrial hyperplasia at RSUD Margono Soekarjo Purwokerto in the period of 2017−2019.Methods: This study used an observational cross-sectional design, conducted at the Oncology Center of RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. The data used are the results of microscopic examinations of patients who underwent hysterectomy in the Anatomical Pathology laboratory with total sampling technique in the period of 2017-2019.Results: Of the 389 participants studied, there were 306 (78.7%) patients diagnosed with uterine fibroids without endometrial hyperplasia and 83 (21.3%) patients with uterine fibroids with the coexistence of endometrial hyperplasia. From the 83 samples of patients with coexistence of endometrial hyperplasia, 49 (59.0%) samples had simple hyperplasia without atypia, 14 (16.9%) had complex hyperplasia without atypia, 6 (7.2%) had simple atypical hyperplasia and 14 ( 16.9%) with complex atypical hyperplasia.Conclusion: Uterine fibroids often occur at perimenopausal age due to hormonal imbalance of estrogen and progesterone. Uterine fibroids may occur with or without coexistence of other pathologies, such as endometrial hyperplasia, adenomyosis or polyps. Endometrial hyperplasia often occurs as a secondary pathology, with the highest prevalence being simplex  hyperplasia without atypia.Key words: uterine fibroid, endometrial hyperplasia, perimopause
Tinjauan Penggunaan Artificial Intelligence pada Overactive Bladder Syndrome Wanita di daerah dengan Sumber Daya Terbatas Edwin Armawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.376

Abstract

Overactive Bladder Syndrome merupakan keadaan yang ditandai dengan keluhan Urinary urgency, yang umumnya disertai frekuensi dan nocturia, dengan atau tanpa urgency urinary incontinence (UI), pada keadaan tidak ada infeksi saluran kemih atau patologi lain yang jelas terdapat.Pada penelitian berbasis populasi didapatkan prevalensi OAB pada wanita berkisar antara 9-43%,2-9 dan meningkat sesuai dengan pertambahan usia10 walaupun didapatkan data pada beberapa penelitian prevalensinya menurun pada wanita diatas usia 60 tahun yang penyebab masih belum jelas.Dampak OABS pada kehidupan seseorang antara lain dapat menyebabkan terganggunya fungsi social, aktivitas fisik, vitalitas, dan emosi sehingga pada akhirnya OABS dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup secara bermakna, meningkatkan skor depresi, dan menurunkan kualitas tidur seseorang. Lebih jauh lagi efek dari OABS dapat menyebabkan patah tulang pada orang tua akibat jatuh karena kehilangan keseimbangan saat terbangun dari tidur malam karena akan berkemih.
Tata Laksana Disfungsi Dasar Panggul Pascasalin Mochamad Rizkar Arev Sukarsa; Rena Nurita; Melia Juwita Adha
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.339

Abstract

Tujuan: melakukan telaah literatur mengenai identifikasi dan tata laksana dini disfungsi dasar panggul pada onset baru atau lama. Gejala dan perubahan anatomis terkait disfungsi otot dasar panggul dapat berhubungan dengan hipertonisitas, hipotonisitas, atau gangguan koordinasi otot dasar panggul. Diagnosis disfungsi dasar panggul pascasalin sering terlewat karena ketiadaan alat skrining disfungsi dasar panggul khusus kehamilan. Evaluasi klinis dan diagnosis paling utama didasari pada gejala yang dilaporkan pasien. Evaluasi klinis mencakup empat domain penilaian yaitu terkait fungsi seksual, fungsi penyokong dasar panggul, fungsi urinasi, dan fungsi defekasi. Metode: merangkum berbagai referensi termutakhir yang dapat menjadi pedoman dan tata laksana disfungsi dasar  panggul. Hasil: awal disfungsi dasar panggul pascasalin ditegakkan berdasarkan domain evaluasi klinis yang dikeluhkan oleh pasien. Tata laksana meliputi pertimbangan onset gejala, tidak menganggap normal suatu gejala yang mengganggu, tata laksana konservatif, pemantauan berkala, dan lanjutan. Latihan otot dasar panggul (Kegel) terbukti dapat mengidentifikasi dan menguatkan otot yang berkaitan dengan fungsi miksi, defekasi, dan seksual. Kesimpulan: Latihan Kegel dapat berperan sebagai tata laksana rutin mandiri pasien dengan disfungsi dasar panggul dengan gejala semua domain. Latihan ini dapat dikombinasikan dengan terapi biofeedback atau modalitas rehabilitasi yang lain.Management of Pelvic Floor DysfunctionAbstract Objective: to perform a literature review the identification and early management of new-onset or pre-existing pelvic floor dysfunction. Symptoms and anatomical changes related to pelvic floor muscle dysfunction may be related to hypertonicity, hypotonicity, or discoordination of the pelvic floor muscles. Diagnosis of pelvic floor dysfunction  after delivery is difficult because there are no pregnancy-specific pelvic floor dysfunction screening tools. Clinical evaluation and diagnosis are primarily based on the patient's reported symptoms, which include four assessment domains related to sexual function, pelvic floor support function, urinary, and defecation. Methods: summarizes the latest references that provide guidance and treatment for pelvic floor dysfunction. Results: Management of pelvic floor dysfunction after the initial diagnosis was based on the evaluation domain from patient’s symptoms. Management includes considering the symptoms onset, awareness of disturbing symptoms, conservative management, monitoring, and advanced management. Pelvic floor exercises (Kegel) are clinically proven to identify and strengthen the muscles associated with micturition, defecation, or sexual function.Conclusion: Kegel exercises can act as routine independent management of pelvic floor dysfunction patients with symptoms in all domains. The exercise can be combined with biofeedback therapy or other rehabilitation modalities.Key words: clinical evaluation, hypertonicity, hypotonicity, kegel exercise,  pelvic floor, rehabilitation
Diskrepansi Diagnosis Preoperatif dan Hasil Patologi Anatomi Postoperatif Serta Gangguan Pola Haid Pada Tuberkulosis Genital Sandi Deviano; Tono Djuwantono; Eppy Darmadi Achmad; Dian Tjahyadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.346

Abstract

Tujuan: Mengevaluasi diskrepansi diagnosis preoperatif dan hasil patologi anatomi postoperatif pada kasus tuberkulosis genital dan mengevaluasi gangguan pola haid yang terjadi.Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan potong lintang terhadap pasien yang terdiagnosis tuberkulosis genital berdasarkan hasil patologi anatomi. Populasi diambil dari rekam medis pasien  dengan diagnosis tuberkulosis genital berdasarkan kode ICD 10 yang sesuai dalam kurun Januari 2017 hingga Juni 2021. Sampel penelitian didapat secara total sampling, sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Dilakukan pembandingan diagnosis preoperatif terhadap hasil patologi anatomi postoperatif. Pasien dengan hasil histopatologi tuberkulosis genital kemudian diwawancara melalui telepon untuk memnetukan pola gangguan menstruasi berdasarkan kriteria FIGO 2018.Hasil: Terdapat 11 pasien dalam studi ini. Terdapat diskrepansi diagnosis preoperatif dengan hasil patologi anatomi postoperatif pada 6 pasien (54,55%). Pada pasien tuberkulosis genital ditemukan gangguan menstruasi berupa amenorea dan oligomenorrhea. Terapi tuberkulosis lini 6 bulan diberikan kepada 3 dari 5 pasien yang terkonfirmasi tuberkulosis genital. Kesimpulan: Terdapat diskrepansi pada penegakan diagnosis preoperatif dengan hasil patologi anatomi postoperatif pada tuberkulosis genitalia. Diskrepansi ini berdampak terhadap pilihan pengobatan pasca-operasi yang adekuat. Gangguan menstruasi yang terjadi pada tuberkulosis berupa oligomenore diikuti oleh amenore. Perbaikan pola mentruasi terjadi pada pasien yang mendapatkan anti-tuberkulosis.Discrepancy of Pre Operative Diagnosis and Post Operative Pathology Result of Genital Tuberculosis and Related Menstruation AbnormalitiesAbstractObjective: To evaluate the discrepancy between preoperative diagnosis and postoperative histopathological results in genital tuberculosis cases and evaluate the related changes of  menstrual pattern. Methods: This was a descriptive study with cross-sectional approach to patients diagnosed with genital tuberculosis based on histopathological examination. Study population was taken from medical records of patients diagnosed with genital tuberculosis based on ICD 10 from January 2017 to June 2021. Total sampling method was used, with determined inclusion and exclusion criteria. Preoperative diagnosis was compared with postoperative histopathological results. Patients with histopathological result of genital tuberculosis were then interviewed via call to determine menstrual disorder patterns according to FIGO 2018 criteria.Results: There were 11 patients included in this study. Discrepancy in preoperative diagnosis and histopathological restult was found in 6 patients (54.55%). Menstrual disorders in the form of amenorrhea and oligomenorrhea were found in genital tuberculosis patients. Six-month first line tuberculosis therapy regimen was given to 3 out of 5 patients with confirmed genital tuberculosis.Conclusion: There is a large discrepancy between preoperative diagnosis and postoperative histopathological result of genital tuberculosis. This discrepancy impacted postoperative treatment options and delayed adequate tuberculosis therapy. Oligomenorrhea, followed by amenorrhea are the two main menstrual disorders in tuberculosis. Improvements in menstrual pattern were found in patients receiving complete anti-tuberculosis therapy. Key words: Uterine bleeding, Diagnostic discrepancy, Genital tuberculosis, Treatment of genital tuberculosis.
Hubungan Kadar Trombosit Dan Neutrofil Antara Kanker Ovarium Tipe Epitelial Rekuren dan Nonrekuren Hendra Santoso; Syahrul Rauf; Masita Fujiko
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.323

Abstract

Tujuan: Menganalisis hubungan kadar trombosit dan neutrofil terhadap rekurensi kanker ovarium.Metode: Penelitian observasi case control. Data dan sampel darah diambil dari perempuan penderita kanker ovarium tipe epitelial rekuren dan tidak rekuren sebanyak 117 orang. Data yang diambil berupa usia, paritas, status menopause, serta hasil laboratorium darah rutin saat sebelum kemoterapi dan pasca kemoterapi 6 kali. Data diuji dengan analisis independent sample t test, uji Mann Whitney, analisis korelasi, serta analisis regresi logistik biner.Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara kadar trombosit dan neutrofil terhadap rekurensi kanker ovarium (p<0,05). Persamaan regresi logistik y= -1,488 + 1,132 x trombosit pasca operasi + 0,961 x Neutrofil. Nilai OR (95% CI) kadar trombosit sebesar 3,102 (1,357–7,092). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara leukosit dan hemoglobin dengan rekurensi kanker ovarium (P>0,05).Kesimpulan: Kadar trombosit dan netrofil memiliki korelasi terhadap rekurensi kanker ovarium. Kadar leukosit dan hemoglobin tidak berkaitan dengan rekurensi kanker ovarium.Correlation between Platelet and Neutrophil Levels in Recurrence Epithelial Ovarian CancerAbstractObjective: To analyze the relationship between platelet and neutrophil levels on ovarian cancer recurrenceMethods: Case-control observation research. Data and blood samples were taken from 117 women with recurrent and non-recurrent epithelial ovarian cancer patients. Primary data taken were age, parity, menopausal status, laboratory results of routine blood examination carried out before and after chemotherapy six times. Data were tested by independent sample t-test, Mann Whitney test, correlation analysis, and binary logistic regression analysis.Results:  There was a statistically significant relationship between platelets and neutrophils with ovarian cancer recurrence (p<0.05). The logistic regression equation y= -1.488 + 1.132 x postoperative platelets + 0.961 x neutrophils. The OR (95% CI) for platelet levels was 3.102 (1.357–7.092). There was no significant relationship between leukocytes and hemoglobin with ovarian cancer recurrence (P>0.05).Conclusion: Platelet and neutrophil levels are associated with ovarian cancer recurrence. Leukocyte and  hemoglobin levels were not associated with ovarian cancer recurrence.Key words: ovarian cancer, chemotherapy, recurrence, platelets
Caesarean Delivery Rates According to Pregnancy Characteristics and Robson Classification in Hypertension Related Pregnancy Angeline Francis Rumintjap; Deviana Soraya Riu; Maisuri T. Chalid
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 5 Nomor 1 Maret 2022
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v5n1.364

Abstract

Objective: The study aimed to investigate the pregnancy characteristics of patients with hypertension related pregnancy and the rate of caesarean section in hypertension related pregnancy categorized into Robson Classification system at the Mother and Children Hospital.Methods: This cross-sectional study design was conducted from December 1st 2018 to November 30th 2019 in one of the private Mother and Children Hospital in Makassar. Total of 156 women with hypertension related pregnancy delivered. Demographics, clinical manifestation, pregnancy outcomes were collected and analyzed using the Chi-square test.Result: Caesarean delivery was 87.8% in our study and birth weight is significantly related to method of delivery (p=0,018). The risk of developing asphyxia of newborn was found 5.8% with higher values for HELLP syndrome (OR=9.667), severe preeclampsia (OR=7.077) and birth weight (OR=4.154). According to Robson classification, size of group 8 (5.8%), group 10 (9%) and number of caesarean delivery in group 5 (90%) were higher (should be 1.5-2%; <5%; and 50-60% in general population, respectively). All the caesarean group rate were above the general population.Conclusion: Clinical considerations about method of delivery need to be tailored to each individual in order to avoid maternal morbidity in later date. The Robson Classification could be one of the guiding tool to assess specific subgroups of women.Kejadian Seksio Sesaria Menurut Karakteristik Kehamilan dan Klasifikasi Robson Pada Hipertensi Dalam KehamilanAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kehamilan pada pasien dan rasio seksio sesaria dengan hipertensi dalam kehamilan yang dikategorikan dalam sistem Klasifikasi Robson di Rumah Sakit Ibu dan Anak.Metode: Desain potong lintang dilakukan pada 1 Desember 2018 hingga 30 November 2019 pada salah satu Rumah Sakit Ibu dan Anak swasta di Makassar. Total 156 perempuan dengan hipertensi dalam kehamilan mengalami persalinan. Demografi, manifestasi klinis dan luaran kehamilan dikumpulkan dan dianalisis. Rasio seksio sesaria secara umum pada tiap grup Robson dihitung, demikian pula dengan kontribusi tiap grup terhadap rasio seksio sesaria secara umum.Hasil: Seksio sesaria ditemukan pada 87% pasien dan berat badan lahir secara signifikan terkait dengan metode persalinan (p=0,018). Asfiksia bayi baru lahir ditemukan 5,8% pada penelitian dengan risiko yang meningkat pada sindrom HELLP (OR=9,667), preeklampsia berat (OR=7,077) dan berat badan lahir (OR=4,154). Menurut klasifikasi Robson, ukuran grup 8 (5.8%), grup 10 (9%) dan rasio seksio sesaria di grup 5 (90%) lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Seluruh rasio seksio sesaria lebih tinggi dibandingkan populasi umum.Kesimpulan: Pertimbangan klinis mengenai metode persalinan perlu dikhususkan pada masing-masing individual untuk menghindari morbiditas maternal di kemudian hari. Klasifikasi Robson dapat menjadi alat kontrol untuk melakukan evaluasi pada tiap grup.Kata kunci: Hipertensi; Kehamilan; Seksio sesaria; Klasifikasi Robson.

Page 1 of 2 | Total Record : 20