cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan" : 9 Documents clear
Struktur Komunitas Zooplankton di Muara Sungai Serang, Jogjakarta Bayu A Pranoto; Ambariyanto Ambariyanto; Muhammad Zainuri
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.834 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.2.90-97

Abstract

Zooplankton adalah salah satu komponen dalam rantai makanan yang diukur dalam kaitan dengan nilai produksi suatu ekosistem. Hal ini dikarenakan zooplankton berperan ganda baik sebagai konsumen satu maupun konsumen dua, dimana merupakan rantai penghubung di antara plankton dan nekton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas zooplankton di perairan muara Sungai Serang Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Penentuan stasiun sampling menggunakan metode pertimbangan (purposive sampling method). Pengolahan data meliputi kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi, dan indeks dispersitas Morisita. Parameter perairan yang terukur suhu, salinitas, kecerahan, kecepatan arus, kedalaman, derajat keasaman (pH), DO, nitrat, dan fosfat. Hasil penelitian berdasarkan tanggal samplingdiperoleh kelimpahan rata-rata zooplankton berkisar antara 6.704-36.427 sel/L dengan indeks keanekaragaman 1,16-1,78; indeks keseragaman 0,75-0, 95; dan indeks dominansi 0,13-0,31. Sedangkan hasil penelitian berdasarkan stasiun diperoleh kelimpahan rata-rata zooplankton berkisar antara 10.952-31.669 sel/L dengan indeks keanekaragaman 1,17-1,65; indeks keseragaman 0,76-0,95; dan indeks dominansi 0,13 - 0,21.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil, bahwa genus zooplankton yang memiliki sebaran luas pada setiap stasiun (dominan) adalah genus Trigriopus, Nauplius, Pseudocalanus (Crustacea), Brachionus, Plerodina (Rotatoria). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa zooplankton yang terdapat di perairan muara Sungai Serang Yogyakarta terdiri dari 6 kelas dan 21 genus. Sedangkan dilihat dari nilai indeks keanekaragaman dan keseragaman diketahui bahwa muara Sungai Serang termasuk daerah yang memiliki komunitas zooplankton yang beragam dan didominasi oleh kelas Crustacea.Kata kunci: struktur dan indeks komunitas,  zooplankton, estuarinZooplankton is one of the components in the food chain especially in relation to the production of an ecosystem. This is due to the fact that zooplankton play both as first and second consumer. The objective of this study was to investigate the community structure of zooplankton within Serang River estuary, Yogyakarta. The research was based on a case study, while sampling was done by purposive sampling method. The abundance, variety index, diversity index, dominancy index, and dispersity index were calculated based on the data collected.. The water parameter measured temperature, salinity, transparency, current velocity, pH, dissolvedoxygen, nitrate, and phospate. The result showed that based on the date of sampling the average of zooplankton abundance were ranged between 6704 - 36427 cell/L with variety index range between 1,16-1,78; diversity index were ranged between 0,75-0,95; and dominancy index were ranged between 0,13-0,31. While the results based on sampling station of the average of zooplankton abundance was range between 10.952 - 31.669 cell/L with variety index were ranged between 1,17-1,65; diversity index were ranged between 0,76-0,94; and dominancy index range between 0,13-0,21. The most common genera of zooplankton found in sampling station were Tigriopus, Nauplius, Pseudocalanus (Crustacea), Brachionus, Pterodina (Rotatoria).There were 6 classes and 21 genera of zooplankton found in the estuary of Serang River, Yogyakarta. Based on the value of the indices, it suggest that this estuary has high diversity of zooplankton and dominated by class CrustaceaKey words : structure and community indices, zooplankton. estuary
Fluktuasi Kandungan Proksimat Kerang Bulu (Anadara inflata Reeve) di Perairan Pantai Semarang Anthony D Arnanda; Ambariyanto Ambariyanto; Ali Ridlo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.525 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.2.78-84

Abstract

Kerang bulu, Anadara inflata Reeve, merupakan kerang yang paling banyak ditangkap di perairan Semarang. Kerang ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat, namun belum banyak informasi mengenai kandungan gizi yang terdapat dalam kerang ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat fluktuasi kandungan proksimat dari kerang Bulu yang diambil di perairan Semarang. Kandungan proksimat yang diukur adalah protein, lemak, karbohidrat, kadar air, dan kadar abu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein berkisar antara 6,79 % - 11 92 %; kadar lemak berkisar antara 4,2 % - 6,16 %, dan kadar karbohidrat berkisar antara 2,3 % - 4,35 %. Sedangkan kadar air terendah terdapat dalam kerang bulu berukuran 20,0 – 30,0 mm sebesar 77,55 % dan kadar air terbanyak terdapat dalam kerang berukuran 50,10 – 60,0 mm sebesar 82,64 %; dan kadar abu berkisar antara 1,27 % - 2,08 %. Pada penelitian ini tidak terjadi fluktuasi kandungan proksimat. Perbedaan kandungan proksimat dalam kerang bulu pada ukuran maupun waktu sampling yang berbeda diduga karenabeberapa faktor, diantaranya adalah umur, ukuran tubuh, siklus reproduksi, serta faktor lingkungan.Kata kunci: kerang Bulu (Anadara inflata Reeve), fluktuasi, proksimatKerang bulu, Anadara inflata Reeve, is known as the most caught species of cockle around Semarang waters. This bivalve is also known as the largest number of cockle being consumed, however, there is only limited information available on its nutrition content. The aim of this study is to investigate proximate content of Kerang Bulu (A. inflata) caught in Semarang waters. Proximate content being analyzed were protein, lipid, carbohydrate, ash and water content. The result showed that the protein content were ranged between 6,79 % - 11,92 %; lipid content were ranged between 4,2 % - 6,16 % and carbohydrate content were between 2,3 % - 4,35 %. While the minimum water content in 20,0 – 30,0 mm is 77,55 %, and the maximum watercontent in 50,10 – 60,0 mm is 82,64 %; and the ash content were between 1,27 % - 2,08 %. The differences on the proximate content within different size of the cockles and differences of time sampling probably dueto differences of age, body size, reproduction cycle, and environmental factors.Key words : Kerang bulu (Anadara inflata Reeve), fluctuation, proximate content
Makro Algae di Perairan Kepulauan Bangka, Belitung dan Karimata Ahmad Kadi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1737.56 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.2.98-105

Abstract

Penelitian makro algae di perairan Kepulauan Bangka, Belitung dan Karimata telah dilaksanakan pada bulan Juni tahun 2002. Metode penelitian lapangan dengan menggunakan transek kuadrat dan koleksi bebas. Keanekaragaman makro algae diperoleh 37 jenis. Biomassa tertinggi mencapai 4380 g/m² dengan nilai dominasi 87,94 diduduki oleh marga Sargassum berada di perairan Kepulauan Belitung.Kata kunci : Makro algae, Bangka, Belitung, Karimata.The research in Bangka, Belitung and Karimata waters was held on June 2002. Field method on the researchusing quadrat transect. The macroalgae samples were collected in situ. Biodiversity in the research locationwas 37 species and the higher biomass was 4380 g/m². Dominance value of genus was 87,94 by Sargassum at Belitung waters.Key words : Macroalgae, Bangka, Belitung, Karimata.
Kajian Lokasi Upwelling untuk Penentuan Fishing Ground Potensial Ikan Tuna Kunarso Kunarso; Safwan Hadi; Nining Sari Ningsih
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.565 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.2.61-67

Abstract

Ikan tuna adalah penyumbang devisa negara dari sektor perikanan yang tinggi.Penentuan lokasi fishingground yang tepat perlu dilakukan untuk  mengoptimalkan penangkapannya. Lokasi upwelling sebagai daerah yang subur perlu dikaji keterkaitannya dengan fishing ground tuna. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kaitan antara lokasi upwelling dengan fishing ground potensial ikan tuna. Metode penelitian ini menggunakan analisis diskriptif dengan membandingkan data karakteristik lokasi upwelling , bioekologi dan perikanan tuna. Berdasarkan hasil analisa ditemukan bahwa lokasi upwelling merupakan fishing ground  tuna yang potensial. Dengan meng-overlay (penampalan) peta distribusi tuna dan lokasi upwelling, telah diperoleh peta lokasi prediksi fishing ground tuna yang potensial berdasarkan variasi bulan dan tipeperiode kejadian iklim (Normal, El Niño, dan La Niña)Kata kunci : tuna, lokasi upwelling, lokasi penangkapanTuna fishes give high contribution to the country devisa. Determination of proper fishing ground isnecessary to be done in order to optimallize the tuna catch. The upwelling location, as the fertile area, andits correlation with tuna fishing ground are necessary to be studied. The aim of this research was studyingcorelation between upwelling location with tuna fishing ground. Metode of this research used was descriptionanalysis with compare upwelling characteristis, bioecology, and tuna fishing data. Based on analysis of the result, it is found that upwelling location is potential tuna fishing ground. By overlying, we have produced the monthly prediction map of potential tuna fishing ground and its relation to climate variability (e.g., Normal, El Niño, and La Niña events).Key words : tuna, upwelling, fishing ground
Potensi Berbagai Jenis Lamun Sebagai Sumber Makanan Kesehatan : Analisis Proksimat Wilis A Setyati; Subagiyo Su8bagiyo; Ali Ridlo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.2.115-118

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari status nutrisi berbagai jenis lamun yang terdapat diperairanBandengan, Jepara berdasarkan analisis proksimat (gula reduksi, serat kasar, lemak, protein dan abu). Penelitian ini juha melakukan analisis vegetasi lamun di perairan Bandengan, Jepara. Hasil penelitian menunjukan ada 6 jenis lamun yang tumbuh di perairan Bandengan Jepara yaitu Cymodecea serrulata, Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Syrirgodium isoetifolium, Halodule uninervis dan Thalassodendron ciliatum. Keenam jenis lamun tersebut berturut-turut mempunyai kepadatan 109,00 ind/m2, 106,87 ind/m2, 89,35 ind/m2 , 82,97ind/m2 , 73,65 ind/m2 dan 18,75 ind/m2. Hasil analisis proksimat utuk ke enam jenis lamun tersebut berturut turut adalah sebagai berikut, Cymodecea serrulata mempunyai kandungan protein, gula reduksi, lemak, abu dan serat kasar berturut-turut (% berat kering) 9,39 ; 0,91; 7,81; 67,09; 19,25, Thalassia hemprichii berturut turut 8,35; 1,10 ; 7,38; 62,43; dan 17,27, Enhalus acoroides berturut-turut 7,65 ; 1,00; 6,13 ; 68,14 ; dan 19,92, Syrngodium isoetifolium berturut-turut 5,52 ; 2,19; 4,71; 70,62 dan 12,16. Sedangkan Halodule uninervis dan Thalassodendron ciliatum tidak dilakukan analisis proksimat karena jumlah vegetasi yang adasangat sedikit.Kata kunci : Lamun, analisis proksimat, analisis vegetasiThe research was done to answer how about nutritive profile (protein, lipids, reduction sugar ash and crudefibre) of some seagrass and how about some seagrasses can be improved potentially as foodhealthness. In this research vegetaion analyze or seagrasses also was done, to identified rheir diversity and density. The research found 6 species of seagrass in seagrass filed of Bandengan waters, Jepara, i.e. Cymodecea serrulata, Thalassia  hemprichii, Enhalus acoroides, Syrirgodium isoetifolium, Halodule uninervis dan Thalassodendron ciliatum. There have population density respectively 109,00 ind/m2, 106,87 ind/m2, 89,35 ind/m2 , 82,97 ind/m2, 73,65 ind/m2 and 18,75 ind/m2.The result of proximate analyze showed that Cymodecea serrulata haveprotein , sugar reduction, lipid, ash and crude fibre (% dry weight) respectively 9,39 ; 0,91; 7,81; 67,09;19,25, Thalassia hemprichii 8,35; 1,10 ; 7,38; 62,43; dan 17,27, Enhalus acoroides 7,65; 1,00; 6,13; 68,14 ; and 19,92, Syrngodium isoetifolium 5,52 ; 2,19; 4,71; 70,62 and 12,16. Halodule uninervis and Thalassodendron  ciliatum have not beeb abalyzed.Key words: seagrass, proximate analysis, vegetation analysis.
Studi Ekosistem Teluk Ekas Melalui Pendekatan Keseimbangan Masa Elis Indrayati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.552 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.2.85-89

Abstract

Teluk Ekas merupakan teluk semi tertutup di bagian selatan Pulau Lombok dan berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Potret ekosistem Teluk Ekas dibangun melalui model trofik Teluk Ekas (1999 – 2000) dengan menggunakan software Ecopath with Ecosim versi 5.0 Beta. Ekosistem Teluk Ekas (1999-2000) terdiri atas 18 functional group meliputi 7 grup ikan, 6 grup invertebrata, 2 grup produsen primer, lumbalumba, karang dan detritus yang terdistribusi dalam 4 trophic level dengan lumba-lumba sebagai pemangsa tertinggi. Ekosistem Teluk Ekas (1999-2000) masih berada dalam tahap perkembangan dengan rasio produksi / respirasi (Pp/R) adalah 2,034 dan produksi / biomasa (P/B) adalah 5.4 per tahun.Kata kunci : Teluk Ekas, potret ekosistem, Ecopath with EcosimTeluk Ekas is a semi-enclosed bay on the south of Lombok island and is connected to the Indian Ocean..Snapshoot of Ekas Bay (1999 – 2000) was constructed by Ecopath with Ecosystem 5.0 Beta software. TheEkas Bay ecosystem spans over more than four trophics level and dolphin being the top predator. Thetrophic model consist of 18 functional groups i.e. 7 fish groups, 6 invertebrata groups, 2 primary producers, coral, dolphin and detritus. Result indicates that ratio between total production and total respiration (Pp /R) is 2.034 and ratio between production and biomass (P/B) is 5,4. Result suggests that the Ekas Bay to be on development stage.Key words: Ekas Bay, ecosystem snapshoot, Ecopath with Ecosim
Peranan Padatan Tersuspensi Mereduksi Logam Berat Hg , Pb dan Cd Terlarut dalam Kolom Air Teluk Jakarta H S Sanusi; M Fitriati; Haerudin Haerudin
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.15 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.2.72-77

Abstract

PenPelitian mengenai kapasitas adsorpsi Hg, Pb dan Cd terlarut oleh padatan tersuspensi (Suspended Solid – SS) dilakukan di dua lokasi budidaya kerang hijau, Kamal Muara dan Cilincing, Teluk Jakarta. Konsentrasi Hg, Pb dan Cd dalam contoh air dianalisis dengan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya kapasitas adsorpsi SS terhadap logam berat secara berurut adalah Hg>Pb>Cd. Perhitungan terhadap nilai indeks Transpor Elemen Terlarut (Dissolved Transport Indice – DTI ) diperoleh keterangan bahwa konsentrasi Cd terlarut adalah yang terbesar (99.97 – 99.98%) disusul oleh Pb (97.53 – 98.68%) dan terakhir Hg (92.86 – 93.81%). Besarnya kapasitas adsorpsi SS terhadap Hg, Pb, dan Cd ditentukanterutama oleh faktor salinitas selain komposisi serta karakteristik mineral liat penyusunan padatan tersuspensi. Kisaran salinitas estuari 9 – 10.20 ppt memberikan kisaran rerata kapasitas adsorpsi yang relatif rendah yaitu Hg 6.33 – 7.49%, Pb 1.45 – 2.19%, dan Cd 0.01%.Kata kunci: Padatan tersuspensi, elemen terlarut, kapasitas adsorpsi, Indeks Transpor Elemen Terlarut ( DTI ), mineral liat.Study on adsorption capacity of dissolved Hg, Pb, and Cd by suspended solid was carried on at two greenmussel culture location Kamal Muara and Cilincing Jakarta Bay. Concentration of Hg, Pb, and Cd of watersamples were analyzed by Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Result of the study showed that adsorption capacity of suspended matter were in order Hg>Pb>Cd. Calculation of DTI values indicated that concentration of dissolved Cd (99.97 – 99.98%) was the highest and consecutively follows by Pb ( 97.53 – 98.68% ) and the latest was Hg ( 92.86 – 93.81%). Value of adsorption capacity of Hg, Pb and Cd are mainly determined by factors of salinity, beside composition and physicochemical characteristics of clay mineral of suspended matter. Range of salinity 9 – 10.20%o gave relatively lolow average adsorption capacity of Hg 6.33 – 7.49%, Pb 1.45 – 2.19%, and Cd 0.01%.Key words: suspended solid, dissolved element, adsorption capacity, Dissolved Transport Indice (DTI),  clay mineral
Komposisi Makanan Ikan Tetet, Johnius belangerii Cuvier (Pisces: Sciaenidae) di Perairan Pantai Mayangan, Jawa Barat M F Rahardjo; Charles P.H. Situmorang
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.217 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.2.68-71

Abstract

Penelitian dilaksanakan selama enam bulan dari bulan November 2002 – April 2003, dengan tujuan mengkaji menu makanan ikan tetet (Johnius belangerii Cuv.) di perairan pantai Mayangan. Penangkapan ikan contoh dilakukan sebulan sekali dengan menggunakan jaring insang dan jaring rampus dengan mata jaring 1,5 – 3 inci. Jumlah ikan yang dikumpulkan sebesar 1.548 ekor dengan kisaran panjang total 71- 225 mm. Kebiasaan makanan dihitung dengan metode indeks bagian terbesar. Hasil penelitian menemukan bahwaPenaeus semisulcatus, Acetes, dan Clupea fimbriata merupakan makanan utama ikan ikan tetet. Tidak terjadi perubahan dalam variasi makanan, kecuali perubahan dalam proporsinya setiap bulan.Kata kunci: makanan, ikan tetet, indeks bagian terbesar, perairan pantaiThe research was conducted during six months from November 2002 – April 2003 in order to investigate the diet composition of belanger crokers (Johnius belangerii Cuv.) in Mayangan coastel waters. Fish samples were captured using gillnet and bottom gillnet with mesh sizes varying from 1,5 – 3 inch.The number of fish collected was 1,548 fish, which total length ranged 71-225 mm. For food habits analysis, the index of preponderance method was used. The result indicates that the main foods are Penaeus semisulcatus, Acetes, and Clupea fimbriata. Monthly diet shift change does not occur in organism, but their proportion.Key words: diet, belanger’s croaker, index of preponderance, coastal waters
ENSO Effects on The Alas Strait Squid Resource and Fishery Abdul Ghofar
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.619 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.2.106-114

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan perikanan cumi-cumi di Selat Alas, khususnya berkaitan dengan fluktuasi tangkapan yang terjadi karena pengaruh aktivitas penangkapan dan variabilitas iklim. Cumi-cumi ditangkap dengan jalaoras (sejenis payang dengan lampu sebagai alat bantu mengumpulkan  cumi-cumi); tangkapan dan alat tangkap inilah yang dipakai dalam analisis. 90% tangkapan cephalopoda berupa cumi-cumi yang terdiri dari 5 spesies.Indeks osilasi selatan (SOI) dipakai sebagai parameter yang mewakili variabilitas iklim. Satu set data 44 tahun (1960-2003), mengenai SOI, upaya penangkapan dan tangkapan cumi-cumi dianalisis. Diperoleh korelasi yang sangat kuat (p>0.001) antara ketiga komponen. Dengan memasukkan ketiga komponen tersebut, suatu model perikanan cumi-cumi untuk Selat Alas dikembangkan. Untuk mengkonstruksi model tersebut dipergunakan nilairata-rata tahunan untuk SOI dan upaya penangkapan. Model yang dihasilkan dapat dipergunakan untuk memprediksi tangkapan cumi-cumi. Meskipun demikian penggunaannya untuk peramalan dan pengelolaan perikanan haruslah hati-hati. Penggunaan model secara efektif mensyaratkan dilakukannya monitoring terhadapketiga komponen diatas setiap bulan. Disarankan cara-cara meningkatkan pengelolaan perikanan cumi-cumi, khususnya sehubungan dengan riset, perencanaan dan pengelolaan, semuanya secara partisipatif, sebagai upaya untuk meningkatkan rasa-memiliki masyarakat terhadap sumberdaya perikanan cumi-cumi.Kata kunci: cumi-cumi, variabilitas iklim, ENSO, indeks osilasi selatan The Alas Strait squid fishery is described, with emphasis on its fluctuating catches due to the combined effects of fishing and climate variability. The fishery almost exclusively employs ‘jala oras’ (light-lured payangtype fishing gears), which was used in catch and fishing effort analysis. Five squid species constitute 95% of the cumulative annual cephalopod catches. The southern oscillation index (SOI) was used to represent the climate variability component. A 44-year data set, starting from 1960 to 2003, comprising the SOI, fishing effort and squid catches was used in the analysis. There is a very strong correlation (p>0.001) between the three components. A model for the Alas Strait squid fishery was therefore developed by means of incorporating these three components. Average annual values of SOI and fishing effort were used to construct the model.The model can be a useful tool for predicting the squid catches. However, it should be carefully used forforecasting and managing the fishery. In order to effectively used the model, monitoring the catch, fishing effort and the SOI should be carried out, preferably monthly. A suggestion for improving the fishery management is outlined, involving participatory fishery research, planning and management,. in an attempt to enhance the ownership of the fishery.Key words: squid, climate variability, ENSO, southern oscillation index

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue