cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan" : 8 Documents clear
Distribusi Spasial Fitoplankton di Perairan Teluk Haria Saparua, Maluku Tengah Sara Haumahu
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.296 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.3.126-134

Abstract

Studi tentang komposisi spesies dan kelimpahan fitoplankton dilakukan di perairan Teluk Haria, Pulau Saparua, Maluku Tengah dari bulan Agustus – Oktober 2002. Ada 51 genera fitoplankton dari 5 klas yang ditemukan dimana 39 genera yang berasal dari klas Baccilariophyceae. Chaetoceros, Eucampia, Rhizosolenia dan Thalassionema merupakan genus yang predominan. Analisa MDS dan Cluster menunjukan ada 4 kelompok fitoplankton yang terbentuk berdasarkan kehadiran dan kelimpahannya. Komposisi spesies pada kedalaman 20 m (st. II-20 dan st. III-20) lebih tinggi daripada stasiun lainnya. Kelimpahan fitoplankton tertinggi ditemukan pada kedalaman 5 m (st. III-5) dan terendah pada kedalaman 20 m (st.IV-20).Kata kunci : Distribusi spasial, fitoplankton, komposisi spesies, kelimpahanStudy on phytoplankton species composition and its spatial distribution was carried out from August to October 2002 in Haria Bay of Saparua Island, Central Moluccas. Fifty one genera from five classes werefound in which thirty nine genera of Baccillariophyceae. Chaetoceros, Eucampia, Rhizosolenia, and Thalassionema were predominant genera. Multidimensional Scaling and Cluster analysis showed that there were 4 groups of phytoplankton, which grouped by their present and abundance. Furthermore, their composition at 20 m depth (st.II-20 dan st III-20) were higher than other stations. The highest abundance was found at 5 mdepth (st. III-5), while the lowest was at 20 m depth (st. IV-20).Key words : Spatial distribution, phytoplankton, species composition, abundance
Pemodelan Pola Arus dan Sebaran Konsentrasi Tembaga (Cu) Terlarut di Teluk Jakarta Harpasis S Sanusi; Alan F Koropitan; Haeruddin Haeruddin; Andis K Nugraha
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.522 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.3.165-168

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pola arus dan sebaran konsentrasi logam berat tembaga (Cu) terlarut di Teluk Jakarta, DKI Jakarta, dengan menggunakan model gabungan hidrodinamika-transpor konsentrasi Cu terlarut. Solusi numerik yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan numerik beda hingga eksplisit Upstream. Hasil verifikasi menunjukkan kemiripan antara hasil model dengan data lapangan. Secara umum, saat pasang arus pasut masuk ke dalam teluk dari mulut teluk bagian timur menuju daerah pantai teluk Jakartadan akhirnya keluar melalui mulut teluk bagian barat. Demikian sebaliknya saat surut arus pasut masuk ke dalam teluk dari mulut teluk bagian barat dan keluar melalui mulut teluk bagian timur. Simulasi dengan pengaruh angin menunjukkan pola yang sama dengan arus pasut saja. Pola sebaran konsentrasi Cu terlarut umumnya mengikuti pola arus yang ada, dengan degradasi penurunan konsentrasi terlihat tinggi pada dekat sumber (muara-muara sungai) kemudian menurun dengan semakin jauhnya dari sumber. Hal ini menunjukkan bahwa peranan adveksi sangat dominan dalam menyebarkan suatu material di suatu perairan.Kata kunci: Teluk Jakarta, model gabungan hidrodinamika-transpor konsentrasi Cu terlarutThis research was done to study flow pattern and heavy metal distribution of dissolved Cu concentration in Jakarta Bay, DKI Jakarta, by using a coupled hydrodynamic-dissolved Cu concentration transport model. Thecoupled model has been solved numerically, which is explicit finite difference of Upstream. Model verification showed a good agreement between model results and field observation. Generally, tidal current inflows from eastern part of mouth-bay and outflows to western part of mouth-bay during flood tide. Reversely, the tidal current inflows from western part of mouth-bay and outflows to eastern part of mouth-bay during ebb tide. The water current still has a similar pattern for wind influence in the simulation. Distribution pattern of dissolved Cu concentration mainly follows the flow pattern, with concentration degradation showed high near source area (mouth of rivers) and decrease as far from the sources. Therefore, the role of advection is more dominant in material distribution in the waters.Key words: Jakarta Bay, coupled hydrodynamic-dissolved Cu concentration transport model
Metode Lepas Dasar dengan Model Cidaun pada Budidaya Eucheuma spinosum (Linnaeus) Agardh AB Susanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.104 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.3.158-164

Abstract

Rumput laut tergolong dalam algae sebagai tumbuhan yang tidak dapat dibedakan antara akar, batang dan daun, sehingga seluruh bagian tumbuhan disebut thallus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui laju pertumbuhan harian Eucheuma spinosum dengan metode lepas dasar menggunakan model Cidaun di perairan Karimunjawa. Selama penelitian berlangsung diukur kualitas air meliputi salinitas, temperatur, pH, kecerahan, arus, sedimentasi dan kedalaman. Eucheuma spinosum sebagai materi penelitian diambil dari lokasi budidaya rumput laut SMKN Karimunjawa, Jepara dan penelitian ini dilaksanakan di selat Takak Alu-alu, perairan Karimunjawa, Jepara antara bulan Oktober dan November 2003. Model Cidaun adalah teknik budidayarumput laut yang digunakan khusus untuk daerah berombak besar dengan menggunakan jaring kantong untuk melindungan thallusnya. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 2 x 2. Perlakuan terdiri dari jarak tanam (2 m dan 1,5 m) dan kedalaman (70 cm dan 100 cm) dengan 5 ulangan. Berdasarkan hasil penelitian, membuktikan bahwa penggunaan jaring kantong sebagai model Cidaun tidak begitu efektif, bila dilakukan pada musim pancaroba (Oktober-Desember) karena ombak relatif tenang. Sehingga memudahkan tumbuhnya lumut dan epifit lainnya yang mengganggu pertumbuhan Eucheuma spinosum. Berdasarkan analisa sidik ragam terdapat beda nyata pada kedalaman dan interaksi antarperlakuan.Kata kunci : Laju pertumbuhan harian, Eucheuma spinosum, model CidaunSeaweed belongs algae which can not distinguishable among root, leaf and stem, all of parts called thallus. This experiment was aimed to know growth rate of Eucheuma spinosum use off bottom method with theCidaun’s model at Karimunjawa waters. The water quality was measured during this experiment such as: salinity, temperature, pH, water brightness, current, sediment, and depth. This experiment used Eucheuma spinosum from the cultivation area of SMKN Karimunjawa, Jepara and was carried out at Takak Alualu bay, Karimunjawa waters, Jepara between Oktober and November 2003. The Cidaun’s model is a technique ofseaweed culture used special for the strong wavy area which is using net bag to protect plants. The experimental design used factorial 2 x 2 based on Completely Randomized Design and five replications. The treatmentswere planting distances ( 2 m and 1.5 m) and deepness factors (70 cm and 100 cm). Based on the result explained that the Cidaun’s model was not effective if it is applied during the transition season (October-December), because the wave was relatively calm. That way it made easy mosses and associated plant and it effected the growth rate of Eucheuma spinosum. The result of statistical analysis showed that there weresignificant differences between deepness and the interaction among treatments.Key words : Daily Growth Rate, Eucheuma Spinosum, Cidaun’s model, net bag, depth and distance.
Recruitment Pattern of Tropical Limpet Cellana testudinaria (Class: Gastropoda, Family: Patellidae) Living on the Rocky Shore of Ohoiwait, Southeast Moluccas, Indonesia Abraham Semuel Khouw
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.499 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.3.135-142

Abstract

Pola rekrutmen dari limpet daerah tropik C. testudinaria diestimasi dan digambarkan secara spasial untuk ketiga zona dari daerah intertidal dengan mempergunakan dua metode yang berbeda: menghitung langsung juvenil yang berukuran kurang dari 4 mm dan settlemen dari individu berukuran kurang dari 8.5 mm. Sebanyak 2402 ekor limpet diperoleh dari 12 bulan pengambilan sampel yakni dari Oktober 2001 sampai September 2002. Kedua metode tersebut memberikan hasil yang sama yang mengindikasikan bahwa rekrutmen tertinggi terjadi pada musim peralihan yakni pada bulan Maret dan April.Kata kunci : Limpet daerah tropik, Cellana testudinaria, rekruitmen, level pantai, juvenilThe recruitment pattern of the tropical limpet C. testudinaria are estimated and described spatially for the three shore levels of the intertidal, using two different methods: direct counting of juveniles of the size lessthan 4 mm in length and the settlement of the first < 8.5 mm mid-class juveniles. A total of 2402 limpets were obtained in 12 monthly collections (from October 2001 to September 2002). Both methods yieldedsimilar results, which indicated that recruitment was highest during the transition season (March and April).Key words : Tropical limpet, Cellana testudinaria, recruitment, shore levels, juvenile
Co-existence in Small-pelagic Fish Resources of The South Coast of East Java, Straits of Bali, Alas and Sape - Indonesia Abdul Ghofar
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.477 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.3.149-157

Abstract

Perikanan pelagik kecil dari empat ekosistem di Indonesia diperbandingkan, meliputi perairan pantai di sebelah selatan Jawa Timur, Selat Bali, Selat Alas dan Selat Sape. Pengkajian dimaksudkan untuk menentukan adatidaknya, dan kalau ada –bagaimana sifatnya, interaksi antar jenis-jenis ikan utama, dan antar ke empat perairan tersebut, sehingga dapat dimanfaatkan dalam mempertimbangkan pengembangan riset dan pengelolaan sumberdaya hayati laut pada masa-masa mendatang. Pengkajian ini menggunakan data tangkapan ikan dengan rentang-waktu 28 tahun, mulai 1976 sampai 2003, yang dikumpulkan dari pusat-pusat pendaratan ikan dan Dinas-dinas Kelautan dan Perikanan tingkat I dan Tingkat II di wilayah studi. Hasil pengkajian menunjukkan dengan jelas adanya ko-eksistensi antar sumberdaya ikan pelagis kecil di ke empat wilayah perairan. Interaksi kelompok jenis antar ke empat ekosistem, serta implikasinya terhadap riset kelautan dan perikanan dibahas pula dalam tulisan ini.Kata kunci: ikan pelagik kecil, indeks osilasi selatan, aliran-deras Indonesia, upwellingSmall pelagic fisheries of four ecosystems in Indonesia are compared, covering the south coast of East Java, Bali Strait, Alas Strait and Sape Strait, to explore potential interactions between major species, and ofdifferent localities, of small pelagic components caught, which may then be taken into fisheries research and management considerations. A 28-years catch data time series used for analysis were taken from major fishing harbours, landing places and fisheries offices, and go back as far as 1976-2003. There is a clear co-existence in the overall small pelagic resources within the areas studied. Interactions of the species group between ecosystems and their substantial implication in marine and fisheries research are also discussed in this paper.Key words: small pelagics, southern oscillation index, Indonesian through-flow, upwelling
Histologi Gonad Kerang Totok Polymesoda erosa (Bivalvia : Corbiculidae) dari Laguna Segara Anakan, Cilacap Retno Hartati; Ita Widowati; Yoki Ristadi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2242.338 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.3.119-125

Abstract

Kerang Totok (Polymesoda erosa) merupakan jenis bivalvia yang banyak ditemukan di kawasan hutan mangrove di Segara Anakan, Cilacap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur gonad kerang totok pada beberapa tingkat kematangan gonad melalui studi histologis. Enampuluh sampel kerang totok diambil dari Pulau Gombol, Laguna Segara Anakan, Cilacap, selama bulan Mei sampai Agustus 2002 untuk diamati gonadnya secara makroskopis dan histologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sampel kerang jantan dan betina ditemukan tiga tingkat kematangan gonad dan stadia gonad yang Belum dapat diidentifikasi jenis kelaminnya. Diameter oosit meningkat sejalan dengan tingkat kematangan gonadnya dengan kisaran 38 – 100 μm. Diameteroosit rata-rata pada tigkat kematangan gonad I, II dan III berturut-turut adalah 58,8 μm; 66,4 μm and 77,2 μm.Kata kunci : Histologi, gonad, tingkat kematangan gonad, Polymesoda erosaMangrove clam, Polymesoda erosa is an economically valuable bivalvia species which is commonly consumed and has a potential to be cultured in Indonesia. The aim of this research was to understand gonad structure ofthe clams at different gonad maturity stages by histologycal study. The samples were taken monthly on May to August 2002 at Gombol iskand of Laguna Segara Anakan, Cilacap. Sixty samples were used examinevisually for gonad maturity and then were studied histologically. The results of present works revealed that there were 3 gonad maturity stage of the samples both at female and male samples as well as unidentifiedsex samples. Diameter of oocytes increased following the maturity of the gonad. The rage of diameter oocytes wer 38 – 100 μm. Average diameter of oocyte during gonad maturity stage 1, 2 and 3 were 58,8 μm; 66,4 μm and 77,2 μm respectively.Key words : Histology, gonad, maturity stage, Polymesoda erosa
Studi Awal Pemodelan Medan Gelombang di Laut Jawa dan Karakteristik Spektrum Energi Gelombang di Teluk Jakarta Safwan Hadi; Nining Sari Ningsih; Kandaga Pujiana
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.294 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.3.169-176

Abstract

Informasi tentang karakteristik gelombang suatu perairan merupakan hal yang penting untuk diketahui guna melakukan berbagai aktifitas di laut seperti penangkapan ikan, pelayaran, rekayasa pantai dan lepas pantai.Pengukuran lapangan dalam waktu yang panjang dapat memberikan informasi ini tetapi memerlukan biaya yang sangat besar. Dengan semakin meningkatnya kemampuan komputer, informasi ini dapat diperoleh melalui simulasi model numerik. Dalam studi ini simulasi model numerik dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik gelombang di laut Jawa dan spektrum energi gelombang di Teluk Jakarta. Model numerik yang digunakan adalah model gelombang generasi ke – 3, WAM Model Cycle 4. Penerapan model dilakukanpada musim barat dan musim timur untuk melihat pengaruh arus laut pada karakteristik gelombang di Laut Jawa dan spektrum energi gelombang di Teluk Jakarta. Hasil simulasi model di Laut Jawa menunjukkan bahwa pada musim barat tinggi gelombang signifikan dan perioda puncak secara berturut-turut berkisar antara 0,44 – 1,83 m dan 2 – 5 detik sementara pada musim timur berkisar antara 0,35 – 1,06 m dan 2 – 5 detik. Arus laut berperan dalam penguatan tinggi gelombang. Pada musim barat tinggi gelombang signifikan bertambah dari 0,44 m menjadi 0,5 m sementara pada musim timur bertambah dari 0,35 m menjadi 0,37 m. Spektrum energi gelombang di Teluk Jakarta menunjukkan pengaruh Sea lebih dominan pada musim timur semantarapengaruh Swell lebih dominan pada musim barat. Pengaruh arus mengubah kondisi gelombang di Teluk Jakarta baik Sea maupun Swell pengaruhnya dominan pada musim timur.Kata kunci : Model Gelombang, Variasi Musim, Pengaruh ArusInformation about ocean wave characteristics is very important for working on various activities in the ocean such as fishing, navigation, coastal and offshore engineering. This information can be derived from long termfield observation, but this would require substantial amount of money. With ever increasing computer capabilities such information could be derived by applying a numerical model. In this research third generation wave model, WAM Model Cycle 4, was applied to study wave characteristics in Java Sea and wave energy spectrum in Jakarta Bay. The model was applied for two conditions i.e west and east monsoons and theinfluence of current on wave was also taken into consideration. Simulation results indicate that significant wave height during west monsoon is higher than east monsoon. Significant wave height and peak period during west monsoon vary between 0,44 – 1,83 m and 2 – 5 second respectively while during east monsoon they vary between 0,35 – 1,06 m and 2 – 5 second respectively. Ocean current causes wave height to increase. During west monsoon significant wave height increases from 0,44 m to 0,5 m while during east monsoon it increases from 0,35m to 0,37 m. Wave energy spectrum of Jakarta bay indicates that Sea is more dominant during east monsoon while Swell during west monsoon. The influence of current changes the wave condition in which both Sea and Swell are dominant during east monsoon.Key words : Wave model, Seasonal variation, Effect of ocean current.
Evaluasi Kemampuan Lahan untuk Mendukung Pengembangan Pariwisata Wilayah Pesisir Pacitan Agus A.D. Suryoputro; Denny Nugroho
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.978 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.3.143-148

Abstract

Penelitian ini dilakukan di wilayah Pesisir Pacitan. Tujuan dari penelitian ini untuk adalah untuk mengetahui kemampuan lahan untuk mendukung pengembangan pariwisata. Metode penelitian yang digunakan adalahinterpretasi foto udara dan pengamatan lapangan yang didasarkan pada analisis keruangan. Unit lahan digunakan sebagai satuan pemetaan untuk mengetahui kemampuan lahan untuk pariwisata dengan teknik scoring. Hasil penelitian yang diperoleh adalah lahan yang tergolong sangat baik untuk pariwisata terdapat pada unit lahan beting gisik dengan lereng datar dan digunakan untuk permukiman; unit lahan beting gisik dengan lereng datar dan digunakan untuk kebun campur; unit lahan dataran aluvial pantai dan digunakan untuk pemukiman; unit lahan dataran aluvial pantai dengan lereng datar dan digunakan untuk kebun campur; unit lahan dataran aluvial pantai dengan lereng datar dan digunakan sebagai lahan kosong; unit lahan dataran aluvial denganlereng datar dan digunakan untuk pemukiman. Lahan yang tergolong agak baik untuk pariwisata terdapat pada unit lahan dataran aluvial pantai dengan lereng datar dan digunakan untuk sawah; unit lahan dataran aluvial dengan lereng datar dan digunakan untuk sawah. Lahan yang tergolong jelek untuk pariwisata terdapat pada unit lahan dataran banjir dengan lereng datar dan digunakan untuk lahan kosong; unit lahan gisik dengan lereng datar dan digunakan untuk lahan kosong.Kata kunci : unit lahan, kemampuan lahan, pariwisataThis study was carried out at the coastal zone of Pacitan. The aim of this study was to asses land capability for tourism. The methods used in this study were aerial photo interpretation and field observation based on thespatial analysis. Land unti was used as a mapping unit, whereas scoring technique was applied to determine land capability for tourism. The result of the study showed that area which are highly suitable for tourismpurpose are located at land unit beach ridge with flat slope and land use settlement; beach ridge with flat slope and land use mixed garden; coastal aluvial palin with flat slope and land use settlement; coastal aluvial plain with flat slope and land use mixed garden; coastal aluvial plain with flat slope and land use open area; aluvial plain with flat slope and land use settlement. Moderately suitable level located on the land unit coastal aluvial plainwith flat slope and land use wetland; the area of not suitable located on the inundation plain with flat slope and land use open area; beach with flat slope and land use open area.Key words : land unit, land capability, tourism.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue