cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan" : 10 Documents clear
Deliniasi Batas Biogeofisik Wilayah Daratan Pesisir Baskoro Rochaddi; Ibnu Pratikto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2196.527 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.1.23-30

Abstract

Perencanaan untuk pengelolaan kawasan pesisir memerlukan batasan dan deskripsi mengenai kawasan daratan pesisir yang jelas. Permasalahan yang ada di Indonesia pada umumnya dan Kota Semarang pada khususnya adalah belum ditetapkannya batas wilayah pesisir baik untuk perencanaan maupun operasionalnya, sehingga sampai sekarang wilayah daratan pesisir masih diperlakukan sama seperti wilayah daratan lainnya. Maka dari itu penelitian untuk mencari batas daratan pesisir,  sangat penting dilakukan di Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan batas wilayah daratan pesisir di Kota Semarang dengan pendekatan biofisik. Penelitian lapangan dilakukan pada tanggal 21 Agustus -30 September 2004. Penelitian dilakukan di wilayah Kota Semarang, meliputi tiga sungai yaitu Sungai Plumbon, Sungai Banjir Kanal Barat, dan Sungai Banjir Kanal Timur. Adapun data intrusi air asin pada akuifer air tanah dangkal berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2000. Materi penelitian meliputi parameter biologi (makrozoobenthos, fitoplankton, dan mangrove) dan parameter fisik (jangkauan masuknya air laut di sungai, intrusi air laut pada akuifer dangkal, kajian teoritis geologi). Dari hasil analisis kedua parameter tadi, maka selanjutnya dapat ditarik batas wilayah daratan pesisir di daerah Kota Semarang. Hasil dari tumpang tindih peta berdasarkan parameter jangkauan masuknya air laut di sungai, intrusi air laut pada air tanah dangkal, makrozoobenthos, fitoplankton dan mangrove menunjukkan bahwa batas daratan pesisir Kota Semarang secara biofisik untuk Semarang bagian barat adalah 1,7 -2,2 Km dari garis pantai, Semarang bagian tengah 1,9 -3,5 Km dari garis pantai dan untuk Semarang bagian timur 2,4 -4,8 Km dari garis pantai.   Kata kunci: batas biofisik, daratan pesisir, Semarang The delineation and description of coastal land are needed in coastal planning and management. The main problem in Indonesia especially in Semarang is the delineation for planning and operation unsettled yet. Until now coastal land still treated like others land region. Because of that the research to seek the delineation of coastal land is very important to be done. The objective of this research is to determine delineation of coastal land in Semarang by biophysical approach. The research was conducted in August 21st -September 30th 2004 in Semarang including 3 rivers which are Plumbon River, Banjir Kanal Barat River, and Banjir Kanal Timur River. The data of intrusion sea water in unconfined aquifer is based on the research in 2000. The materials of these researches were biology parameters such as (macrozoobenthos, Phytoplankton and mangrove) and physical parameters (intrusion of sea water in river, intrusion of sea water in unconfined aquifer and study of theoretical geology). Base on analysis of the parameters can be determining the delineation of coastal land in Semarang. The results of over lay map based on intrusion of sea water in river, intrusion of sea water in unconfined aquifer, macrozoobenthos, phytoplankton and mangrove parameters shows that delineation of coastal land in west part of Semarang was 1, 7 -2.2 Km from coastal line, central part of Semarang was 1, 9 -3, 5 Km from coastal line, east part of Semarang was 2, 4 -4, 8 Km from coastal line. Key words: biophysical delineation, coastal land, Semarang
Bioakumulasi Logam Berat Melalui Sistim Jaringan Makanan dan Lingkungan pada Kerang Bulu Anadara inflata Chrisna A Suryono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.743 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.1.19-22

Abstract

Masuknya logam berat sepeti Pb kedalam tubuh kerang dapat melalui jaringan makananan atau kontak dengan lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh akumulasi logam berat Pb terhadap filtrasi Anadara inflata. Penelitian eksperimen laboratories ini menggunakan 4 konsentrasi Pb (19 ppm, 18 ppm, 17 ppm dan 16 ppm) sebagai perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukan kesemua perlakuan menunjukan penurunan kemampuan filtrasi setelah kerang bulu terakumulasi logam Pb setelah berada dalam media 13 jam kedua. Kata kunci: Anadara inflata, bioakumulasi, Pb The heavy metal Pb can be contaminated on Anadara inflata tissue through food web system and direct contact.  The aim of present study is to understand the effect of Pb accumulation on A. inflata filtration.  The laboratories experiment with 4 different concentrations of Pb (19 ppm, 18 ppm, 17 ppm and16 ppm) and 3 replication has done. The result show, that all concentration of Pb gave negative impact on cockle filtration after the second of 13 hours exposure.Key words: Anadara inflata, bioaccumulation, Pb
Penentuan Sumber Sedimen Dasar Perairan : I. Berdasarkan Analisis Minerologi dan Kandungan Karbonat Lachmuddin Sya'rani; Hariadi Hariadi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2633.646 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.1.37-43

Abstract

Sedimentasi di perairan pantai sangat dipengaruhi oleh faktor oseanografi  dan aliran air sungai yang bermuara di perairan yang bersangkutan. Dengan demikian endapan sedimen yang ada dapat bersumber dari laut maupun dari darat. Dengan mempelajari tekstur sedimen dan mineraloginya, maka dapat diperkirakan sumber sedimen dimaksud. Tujuan penelitian untuk mengetahui tekstur sedimen, mineralogi sedimen dan penyebaran karbonat yang selanjutnya digunakan sebagai dasar analisis penentuan sumber sedimen dan kondisi energi pengendapannya. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa sedimen yang ada mempunyai ukuran  butir dominan pasir lanauan. Hasil analisis petrografi  menunjukkan bahwa semua sedimen  mengandung gelas volkanik yang ukuran dan persentasenya semakin besar ke arah sungai. Sedangkan kandungan  karbonat dalam sedimen berkisar antara 1,514 % - 19,225% yang tersebar semakin besar ke arah laut lepas. Berdasarkan uraian tersebut, maka disimpulkan bahwa sumber sedimen berupa material volkanik  yang berasal dari darat, sedangkan bahan karbonat berasal dari laut. Kata kunci: sedimen, petrografi, kandungan karbonat.  Sedimentation in the coastal waters was influenced by oceanographic factors and the rivers which flowing to the waters, so the source of the sediment can be from the sea or the rivers. The sediment source can be identified by observation of  the sediment texture and  mineralogy. Result of research indicate that the grain size  of sediment was dominated by silty sand. The petrography analysis indicate  that all of sediment contain volcanic glass which size and content  increased to the river. On the other hand, carbonate content in the sediment was about 1,514 - 19,225% which distributed and increase to the onshore. Based on the data can be concluded that the volcanic source was from onland and the carbonat was from the sea. Key words: sediment, petrography, carbonat content
Penentuan Sumber Sedimen Dasar Perairan : II. Berdasarkan Kesamaan Arus dan Sifat Fisika Sedimen Hariadi Hariadi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2261.417 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.1.44-49

Abstract

Sedimentasi di perairan Pantai Rebon dipengaruhi  oleh faktor oseanografi setempat dan sedimen dari sungai yang bermuara di perairan tersebut. Sifat fisik sedimen yang diteliti yang meliputi   ukuran butir, berat jenis, kandungan karbonat, kandungan bahan organik dan mineral  magnetik.  Dalam kajian ini sifat fisik sedimen dan arus di kelompokan menjadi 3 (tiga) grup lokasi keberadaannya yaitu Perairan Pantai Rebon, Sungai Boyo dan Sungai Urang. Penelitian lapangan dilakukan bulan Juni sampai Agustus 2003. Materi utama dalam penelitian ini adalah sedimen dan kecepatan arus. Sedangkan metode  penelitian menggunakan metode diskriptif dengan analisis didasarkna pada kesamaan sudut antar ruang vektor yang dibangun oleh parameter fisik sedimen dan kecepatan arus, sehingga dalam kajian ini digunakan program stastistik Sudut Minimum Antar Sub Ruang Vektor. Hasil penelitian dan perhitungan stastistik sudut minimum antar sub ruang vektot menunjukan bahwa perairan Pantai Rebon, Sungai Urang  dan Sungai Boyo masing-masing mempunyai sudut 27,37º ; 28,15º; dan 47,94º. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sedimentasi di perairan Pantai Rebon sangat dipengaruhi oleh sedimen dari Sungai Urang. Kata kunci : Sedimen, sudut minimum antar ruang vektor, kemiripan  Sedimentation in the Rebon Coastal Waters was influenced by the oceanography factor and sediment input from river which flowing to the waters. Index properties of sediment which was researched include grain sise, specific gravity, the carbonate content, obstetrical of organic substance and magnetic mineral. In this research index properties of sediment dan current have divided into 3 grup territorial, that is coastal territorial water of the Rebon, territorial water of the Boyo River and territorial water of the Urang River.Field Research was conducted on June month until August 2003. Especial items used was  sediment and current. Discriptive method was adopted in this research, the data was analysed by the Minimum Corner Usher The Sub of Space Vektor part of the statistical program. The research showed that minimum corner the sediment of each Rebon Waters, Urang River, Boyo River are  27,37º ; 28,15º ; dan 47,94º. By this value can be concluded that the territorial Rebon water’s  very influenced influx sediment from the Urang River. Key words: Sediment, Minimum angle of Sub Space Vektor, Similarity
Perendaman pada Waktu dan Sumber Air yang Berbeda Terhadap Mortalitas dan Penempelan Balanus spp. Ria Azizah; Abdul Ghofar
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.722 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.1.7-10

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui mortalitas teritip (Balanus spp.) pada kolektor kayu yang mendapat waktu perendaman yang berbeda dan efek perendaman kayu dalam air tawar terhadap penempelan dan pelepasan teritip (Balanus spp.). Teritip (Balanus spp.) yang dipakai dalam penelitian berasal dari perairan Tambak Lorok di sekitar muara sungai Banjir Kanal Timur. Secara garis besar penelitian terbagi 2 : (1) Pengamatan di lapangan untuk pengumpulan teritip dan (2) Percobaan (indoor) untuk penglepasan teritip dan pengujian kekuatan kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama perendaman teritip dalam air tawar berpengaruh nyata terhadap mortalitas teritip. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perendaman kolektor kayu dalam air sungai selama 4 minggu sebelum dipasang sebagai kolektor dapat menurunkan penempelan larva sampai 10–20%. Hal ini dapat memberikan implikasi positif dalam pemeliharaan perahu nelayan. Kayu-kayu yang sebelumnya direndam dalam air tawar tidak ditempeli teritip sampai hari ke-8, sedangkan pada kayu yang sebelumnya tidak direndam, sudah ditempeli teritip pada hari ke-2. Teritip yang sudah mati lebih mudah lepas  cangkangnya pada permukaan kayu yang  sebelum dipasang sebagai kolektor direndam dahulu dalam air sungai (56 %), dibanding pada kayu yang tidak direndam (1,6 %). Hasil pengujian material menunjukkan bahwa kekuatan kayu sebelum dan sesudah perendaman air tawar relatif konstan. Kata kunci : perendaman, Balanus spp., mortalitas, penempelan An experiment was conducted with aims to investigate mortality of the barnacle exposed to different time regimes in freshwater dan to  investigate the preventive effects of freshwater-dipping in wooden-plates upon the attachment of cyprids/larvae of the acorn-bernacles Balanus spp. The bernacles were collective from the coastal site of  Tambak Lorok in the vicinity of the river mouth Banjir Kanal Timur. The experiments was divided into 2 parts : filed observation and material collection at Tambak Lorok, and indoor experiment. It was shown that dipping of the wooden plates in river for weeks prior to collector setting may reduce the attachment of cyprid larvae by 10–20%. This result might have positive implication in the maintenance of wooden fishing boots. The wooden materials (dipped in river water prior to usage) may not be attached by cyprids until day-8, compared to day-2 in untreated materials. It was also evident that exposure time in freshwater, both in river water and well-water have highly significant effect upon the mortality of barnacle. The removal of the dead barnacle shells occurred in much greater numbers on the wooden plates dipped in river water prior to setting up as larval collector (56 %), than in untreated materials (1,6 %). The result of material tests showed that the strenght of the wooden materials remained relatively constant prior and after freshwater exposure.Key words: dipping, Balanus spp., attachment, mortality
Laju Pertumbuhan Karang Porites lutea Insafitri Insafitri; Wahyu Andy Nugraha
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.01 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.1.50-53

Abstract

Karang merupakan hewan benthos sesil, maka ekspresi hidupnya seperti laju pertumbuhan merupakan cerminan kondisi lingkungan dimana karang tersebut hidup. Untuk mengamati laju pertumbuhan karang digunakan metode yang berkenaan dengan tinjauan ke belakang (restropektif). Laju pertumbuhan masing-masing dari karang  Porites dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa: di Pulau Cemara Kecil berkisar 5,38 – 17 mm/th. Pada kedalaman 3 m di Pulau Cemara Kecil bagian Barat adalah 14,88 mm/th dan 11,77 mm/th di Pulau Cemara Kecil bagian Timur. Pada kedalaman 10 m di Pulau Cemara Kecil laju pertumbuhan P. lutea adalah 12,38 mm/th di bagian barat dan 6,45 mm/th di bagian timur. Laju pertumbuhan pada kedalaman 3 m cenderung lebih tinggi daripada kedalaman 10 m. Laju pertumbuhan Pulau Cemara Kecil bagian barat mempunyai laju pertumbuhan yang cenderung lebih tinggi daripada bagian timur.   Kata kunci : Laju Pertumbuhan, Porites lutea, Pulau Cemara Kecil  Corals are sessile benthic animals, so their life expression, such on their growth rate was indicate of environmental condition where corals life. The study is a survey research, while coral growth rate was examined with restropective method, and descriptive analysis use table and graph. The growth rates each of Porites rom the result of observation in Cemara Kecil Island are beetwen 5,38-17 mm/year. At 3 metres depth west side of Cemara Kecil Island are 14,88 mm/year and 11,77 mm/year at east side of Cemara Kecil Island. At 10 metres depth in Cemara Kecil Island, growth rates of Porites lutea  are 12,38 mm/year at west side and 6,45 mm/year at east side. Growth rate at 3 metres depth is higher than 10 metres depth. The west side of Cemara Kecil Island have growth rate higher than east side.Key words : Growth rate, Porites lutea, Cemara Kecil Island
Pola Arus dan Kelimpahan Karang Pocillopora damicornis di Pulau Panjang, Jawa Tengah Munasik Munasik; Denny N Sugianto; Widodo S Pranowo; Suharsono Suharsono; Jesmant Situmorang; Kamiso HN
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.4 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.1.11-18

Abstract

Studi pola arus dan kelimpahan karang Pocillopora damicornis telah dilakukan di Pulau Panjang, Jawa Tengah (6° 34’ 30" LS 110° 37’ 45" BT). Pengukuran arus ini dilakukan di sisi selatan dan utara Pulau Panjang setiap jam pada tanggal 21-24 Oktober 2004 sewaktu musim planulasi karang. Kelimpahan karang diukur dengan metode transek kuadrat 4x4 m, sedangkan kelimpahan planula-larva diketahui melalui penarikan jaring plankton (zoo) di dua sisi pulau. Studi penempelan anakan karang dilakukan dengan memasang spat kolektor dari lempengan batu alam 15x15 cm di dua sisi pulau selama 2 bulan. Pola arus di Pulau Panjang menunjukkan kesamaan dengan pola pasang surut dan terdapat perbedaan pola arus antara sisi utara dan selatan pulau. Pola pergerakan arus di perairan Pulau Panjang merupakan subsistem arus utama di semenanjung Muria, dimana di sisi selatan arus bergerak ke arah Timurlaut dan ketika mendekati perairan pantai Pulau Panjang akan terpecah alirannya, yaitu ada yang mengarah ke selatan (berbelok ke Timur atau ke Tenggara), dan satu lagi mengarah utara (sebagian ada yang lurus ke arah Timurlaut, dan sebagian berbelok ke Utara atau Barat atau ke Timur). Pola arus pada musim planulasi karang P. damicornis2 dan 26,59 ± 2,47 individu/100 m3 di sisi selatan sedangkan di sisi utara pulau sebesar 0,15 koloni/m2 dan 11,31± 0,47 individu/100 m3. Tingginya kelimpahan karang dan larva karang di sisi selatan pulau diduga akibat pola arus di telah mempertahankan larva di perairan yang ditandai oleh keberhasilan rekruitmen di sisi selatan sehingga wilayah ini berperan sebagai larval trap kemungkinan telah mempengaruhi kelimpahan karang di P. Panjang. Kelimpahan karang dan larva karang rata-rata masing-masing sebesar 0,56 koloni/m Kata kunci: pola arus, planulasi, kelimpahan karang, Pocillopora damicornis, P. Panjang, Jawa TengahCurrent pattern and abundant of scleractinian coral Pocillopora damicornis were studied in Panjang Island, Central Java (6° 34’ 30" S 110° 37’ 45" E). Current measurements, quadrates transect (4x4m) surveys, plankton tows and corals recruitment were conducted in both southern and northern sites of Panjang Island. Between 21 and 24 October 2004 (during planulation period), the time series of current were measured at the both site of Panjang Island. The current data were plotted in velocity and vector. The current pattern in Panjang Island is compatible with tidal current. Maximum velocity of current occurs during outgoing tide in the southern site, however during low tides current velocity is minimal. Inversely, in the northern site, maximum velocity occurs during incoming tide but minimum velocity occurs in outgoing tide. Tidal current which may run over the study reefs during outgoing tide by changing direction to eastern and south-eastern in the leeward (southern site). The circulation might have trapped larvae in the leeward reefs (southern) long enough to account for higher numbers recruits in southern. That was indicated that both planula-larva and adult of P. damicornisin southern site was denser than that in the northern site. The density of planula-larva and adult of coral were 26.59 ± 2.47 individu/100 m3 and 0.56 colony/m2 in the southern while in the northern site were 11.31± 0.47 individu/100 m3 and 0.15 colony/m2respectively.  We inferred that tidal current may influence the dispersal of coral larvae in Panjang Island. Key words: current pattern, planula-larva, coral abundant, Pocillopora damicornis, P. Panjang, Central Java
Struktur Populasi dan Distribusi Kerang Totok Geloina sp. (Bivalvia: Corbiculidae) di Segara Anakan Cilacap Ditinjau dari Aspek Degradasi Salinitas Irwani Irwani; Chrisna A Suryono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.788 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.1.54-58

Abstract

Segara Anakan merupakan salah satu estuaria terbesar di Pulau Jawa yang terkenal dengan keanekaragaman hayatinya. Diantara biota yang terdapat adalah kerang Totok (Geloina sp) yang berasosiasi dengan hutan mangrove. Kerang ini memiliki nilai ekonomis  yang cukup tinggi sehingga banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Namun informasi mengenai sifat-sifat ekologisnya belum banyak diketahui biologisnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi dan stuktur populasi kerang Geloina sp tersebut. Penelitian dilakukan pada bulan Juli -Oktober 2005 di Segara Anakan Cilacap pada empat stasiun yang berbeda salinitasnya (13, 15, 30 dan 32 ppt). Sifat penelitian adalah studi kasus, metoda pengambilan sampel yang digunakan adalah metoda sampling area. Data yang diambil meliputi kerang dan kondisi perairan. Data yang didapatkan dikelompokan berdasarkan kelas ukuran panjang cangkang selanjutnya dilakukan uji chi kwadrat untuk menentukan pola sebaran. Hasil penelitian menunjukan kerang yang didapat adalah Geloina sp dengan pola sebaran merata pada keempat stasiun penelitian yang berbeda salinitasnya. Adapun kepas ukuran kerang yang didapat dalam keempat stasiun dapat dikelompokan menjadi kelas ukuran <3; 3 – 3,9;   4 – 4,9; 5 – 5,9; 6 – 6,9; 7 – 7,9; >8 cm. Populasi kerang terbanyak pada semua stasiun adalah kelas ukuran 6 – 6,9 cm Kata kunci : Segara Anakan, Geloina sp, salinitas  Segara Anakan is the largest estuary in Java Island and it has high biodiversity. One of fauna found which associated with the mangroves is Totok mussel Geloina sp. That mussel has economic value so that faced high exploited along season. Considering that condition a study of distribution and their population structure was very importance. The research was carried out on July – October 2005 in Segara Anakan Cilacap on different station which had different salinity (13, 15, 30 and 32 ppt). The case study type research and sampling area method was used to collect the data of information of the Geloina sp. The data collected in the field are mussel population and water quality condition where the mussel life. The data of mussel ware grouped in several classes of length and followed by chi quadrant test to define the distribution of Geloina sp. The result of the study showed that the Geloina sp was uniform distributed along the four station which had different salinity and the class of length mussel was found <3; 3 – 3.9; 4 – 4.9; 5 – 5.9; 6 – 6.9; 7 – 7.9; >8 cm. The class length of 6 – 6,9 cm was the highest number of mussel found in Segara Anakan Key words : Segara Anakan, Geloina sp, salinity
Aplikasi Quixalud dalam Pakan Buatan Terhadap Pertumbuhan, Rasio Konversi Pakan dan kelulushidupan Benih Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscogutattus) Diana Rachmawati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.569 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.1.1-6

Abstract

Quixalud merupakan feed additive berwarna krem berbentuk bubuk, terdiri dari halquinol 60 % dan kalsium karbonat 40 % Quixalud digunakan sebagai feed additive pakan untuk memperbaiki kandungan nutrisi.  Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan quixalud  dalam pakan buatan; dosis terbaik penambahan quixalud dalam pakan buatan dan dosis optimum penambahan quixalud dalam pakan buatan yang menghasilkan pertumbuhan, rasio konversi pakan dan kelulushidupan terbaik benih ikan kerapu macan. Benih ikan kerapu macan (berat rata-rata 0,36 gram dan panjang rata-rata 1,5 cm) yang berasal dari pemijahan alami BPAP Situbondo digunakan dalam penelitian ini. Pakan uji berbentuk pellet kandungan protein 43,64%, pakan uji dibuat dari pakan komersial bentuk bubuk produksi BBPBAP Jepara ditambah  quixalud bentuk bubuk dengan dosis sesuai perlakuan. Metode penelitian menggunakan eksperimental yang dilakukan dilaboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakukannya berupa penambahan berbagai dosis quixalud dalam pakan, yaitu : 0 mg/kg; 15 mg/kg; 30 mg/kg dan 45 mg/kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan quixalud dalam pakan buatan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap laju pertumbuhan spesifik harian. berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap rasio konversi pakan dan tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap kelulushidupan benih ikan kerapu macan. Penambahan quixalud dalam pakan buatan sebesar 30 mg/kg pakan (perlakuan C) memberikan pertumbuhan, rasio konversi pakan dan kelulushidupan benih ikan kerapu macan terbaik. Dosis optimal penambahan quixalud dalam pakan buatan untuk laju pertumbuhan spesifik harian  adalah 20,73 mg/kg pakan dan dosis optimal untuk rasio konversi pakan adalah 20,55 mg/kg pakan. Kualitas air media masih dalam kisaran yang layak bagi pemeliharaan nenih ikan kerapu macan. Kata kunci: Quixalud, pertumbuhan, rasio konversi pakan dan kelulushidupan. Quixalud is additive feed represent in cream color in form of powder, consist of halquinol 60 % and carbonate calcium 40 %. Quixalud used as additive feed to improve nutritional content. Aim of this research are to know effect of quixalud addition in artificial feed; beside to know the best dose of quixalud addition in feed and optimum dose  quixalud addition  in feed to make the best growth, feed convertion ratio and survival rate of tiger grouper seed. The research used  tiger grouper seed (mean of weight is 0,36 gram and mean length is 1,5 cm) as animal test. The seeds coming from natural spawner of BPAP Situbondo. The test feed formed in pellet by raw material from powder artificial feed made by BBPAP Jepara adding by quixalud in powder form too in doses as the treatment used. The protein content of the test feed is 43,64%. The research done by experimental laboratory method used completely random design.  The treatment are addition of various quixalud dose in feed, that are : 0 mg/kg; 15 mg/kg; 30 mg/kg and 45 mg/kg. The Result of research indicate that addition of quixalud in feed made a significantly effect (p < 0,05) to daily specific growth rate.  Having  a very significantly effect (p < 0,01) to FCR and having not an effect (p > 0,05) to survival rate of the tiger grouper seed. Addition of quixalud in feed in equal to 30 mg/kg feed (treatment C) giving the best of growth rate, FCR and  and survival rate to the tiger grouper seed.  The optimal dose  addition of quixalud in feed that made the optimal growth is 20,73 mg/kg feed and optimal dose for the FCR is 20,55 mg/kg feed. The water quality parameters during the rearing period were still suitable range for tiger grouper seed. Key words: Quixalud, growth, feeding conversion ratio (FCR) and survival rate
Studi Tingkah Laku Ikan pada Proses Penangkapan dengan Alat Bantu Cahaya : Suatu Pendekatan Akustik Muhammad Sulaiman; Indra Jaya; Mulyono S Baskoro
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.426 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.1.31-36

Abstract

Makalah ini menguraikan tentang hasil penelitian tingkah laku ikan di sekitar daerah pencahayaan selama proses penangkapan melalui pendekatan akustik. Tujuan studi adalah mengidentifikasi pola tingkah laku ikan yang berhubungan dengan operasi penangkapan ikan yang menggunakan cahaya. Secara khusus akan dianalisis pola sebaran ikan sebelum dan setelah proses penangkapan, pola kedatangan ikan dan pola tingkah laku ini di sekitar sumber pencahayaan. Penelitian dilakukan di perairan Kabupaten Barru, Selat Makassar (4° 19’ 19,9" Lintang Selatan – 119° 16’ 201" Bujur Timur) dengan menggunakan instrumen side scan sonar. Analisis deskriptif dilakukan untuk menjelaskan pola tingkah laku ikan pada daerah yang disinari. Hasil penelitian menunjukkan kawanan ikan akan ada yang langsung menuju ke sumber cahaya dan ada yang tidak, dan datang pada berbagai kedalaman tergantung pada kedalaman renangnya masing-masing. Kecepatan gerak kawanan ikan mendekati bagan  berkisar 0,57 m/detik dan di sekitar pencahayaan sebesar 0,21 m/detik. Kawanan ikan cenderung bergerak dalam pola yang teratur mengelilingi sumber cahaya, dan akan semakin terkonsentrasi di sekitar daerah tangkapan  pada saat lampu yang berada di bawah bingkai bagan dipadamkan. Di dalam daerah pencahayaan, pola distribusi ikan cenderung berbentuk bola (spherical) dan berbentuk pita (ribbon) secara vertikal di luar daerah pencahayaan Kata kunci: pendekatan akustik, tingkah laku ikan This paper describes the results of fish behavior study  around illuminated area during capture process through acoustic approach. The objective of this study is to identify the pattern of fish behavior related to the operation of fishing gear using light. This research specifically aims to analyze the pattern of fish distribution before and after the capture process, to analyze the arrival pattern and to analyze fish behavior around the light source. This research was conducted in Barru Regency waters, Makassar Strait (4° 19’ 19,9" S. Lat. – 119° 16’ 201" E. Lon.) using Side Scan Sonar Instrument. Descriptive analysis was employed to examine the behavioral pattern around the given illumination area. The result shows that there are some fish came directly to the light source and  stay in the vicinity of the illuminated area while others are outside of that area. The fish school  approaching the illuminated area was found at the depth of 5-10 meters and 20-30 meters. The fish school movement speed approaching the Bagan Rambo reached 0.57 m/s and 0.21 m/s when fish school was around the illuminated area. The fish school tends to move in regular pattern encircling the light source and became concentrated once the light is turned off. In the illuminated area the shape of the fish school tend to be spherical, while outside of the area is tend to be in the shape of ribbon. Key words: acoustic approach, fish behaviour

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue