cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan" : 8 Documents clear
Distribution of 90Sr in the High Seas and Coastal Regions of Korea-Japan-Russia-China Muslim Muslim
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.025 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.3.141-145

Abstract

Distribusi 90Sr di daerah laut lepas dan pantai Korea-Jepang-Rusia-China telah diteliti sejak 30 Juni sampai 2 Agustus 2000. Pengambilan sampel permukaan air laut dilakukan di Laut China Timur, Laut Jepang (LautTimur), Laut Okhotsk dan Barat laut Samudera Pacific. Salinitas, temperatur dan konsentrasi 90Sr bervariasi dan tidak menunjukkan saling berhubungan. Temperatur lebih didominasi oleh pengaruh posisi lintang. Konsentrasi 90Sr banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sumber limbah buangan radioaktif dan faktor fisika. Dilaut Jepang distribusi konsentrasi 90Sr lebih didominasi oleh pengaruh jarak dari tempat sumber pembuangan limbah radioaktif, tetapi di lokasi-lokasi lain dipengaruhi oleh faktor kondisi fisik.Kata kunci: 90Sr, laut lepas, daerah pantai, faktor fisika.Distribution of 90Sr in the high seas and coastal regions of Korea-Japan-Russia-China have been measured from 30 June 2000 to 2 August 2000. The surface seawaters were collected from East China Sea, Japan Sea (East Sea), Okhotsk Sea and Northwest Pacific Ocean. Salinity, temperature and 90Sr concentration were variable, and did not show correlation each others. The temperature levels dominantly influenced by latitude effect position. The 90Sr activities ranged from not detectable to 2.22 mBq/l (mean: 1.18, n:23). The distribution of 90Sr concentrations were more uniform in the coastal regions than in the high seas regions. The concentration of 90Sr in this study area were caused by some factors such as from source radioactive waste discharge and physical factors condition. The distribution 90Sr in Japan Sea generally was influenced by distance factor from radioactive waste discharge, but the other locations were influenced by physical factors condition.Key words: 90Sr, high seas, coastal regions, physical factors.
Kecepatan Filtrasi Kerang Hijau Perna viridis terhadap Skeletonema sp pada Media Tercemar Logam Berat Timbal (Pb) dan Tembaga (Cu) Chrisna Adi Suryono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.213 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.3.153-157

Abstract

Kerang Hijau dalam mendapatkan makanannya dengan cara menyaring plankton dari perairan. Cara mendapatkan makanan yang demikian memungkinkan logam berat yang terlarut didalamnya ikut masuk kedalam tubuh Kerang Hijau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh logam berat Pb dan Cu terhadap kecepatan filtrasi kerang hijau. Penelitian berskala laboratorium ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan Pb dan 4 perlakuan Cu masing masing diulang 3 ulangan. Untuk mengetahui adanya perbedaan kecepatan filtrasi diuji dengan Anova. Hasil penelitian menunjukan semakin besar konsentrasi Pb atau Cu menunjukan semakin menurunnya filtrasi kerang hijau terhadap Skeletonema sp.Kata kunci: Perna viridis, filtrasi, Pb, Cu, Skeletonema spThe green mussels collects their food including plankton by filtration on surrounding water. Collecting food by this technique is possible disillusioned by heavy metal such as Pb and Cu entered to the body. Thepurpose of the present study was to understand the effect of heavy metal Pb and Cu on the filtration of green mussel to Skeletonema sp. The laboratory experiment was held using randomized design with 4 treatments each and 3 replications. Anavo test was used to distinguish the differences among treatment. The result show that the increasing of concentration of Pb and Cu will reducwd filtration rate of the green mussel on Skeletonema sp.Key words: Perna viridis, filtration, Pb, Cu, Skeletonema sp
The Influence of Temperature - Food Availability on the Tissue Growth of Sea Scallop Placopecten magellanicus Adi Santoso
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.158 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.3.146-152

Abstract

Studi terhadap pertumbuhan kerang simping Placopecten magellanicus, yang dibudidayakan dengan metode “suspended culture” telah dilakukan selama tujuh bulan di lokasi budidaya di Graves Shoal, Mahone Bay,Nova Scotia, Kanada. Benih scallop muda dipelihara dalam pearl nets dengan kepadatan 30-35 ekor dan ditempatkan pada empat lokasi yang mewakili perairan permukaan (7 m), dasar perairan (14 m), di luar lokasibudidaya (outer edge), di tengah-tengah lokasi budidaya (centre). Pertumbuhan jaringan lunak (whole tissue weight) diamati setiap bulan sekali. Monitoring terhadap suhu dan ketersediaan pakan pada permukaan dan dasar perairan juga dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan pada jaringan lunak lebih besar di permukaan perairan dibandingkan dengan di dasar perairan, tetapi tidak ada perbedaan nyata antara antara pertumbuhan di luar lokasi budidaya dengan di lokasi budidaya. Pertumbuhan jaringan lunak sendiri tidak ada korelasinya dengan suhu dan ketersediaan pakan di perairan.Kata kunci: suhu, ketersediaan pakan, berat total jaringan lunak, kerang simpingA study of the growth of the sea scallop, Placopecten magellanicus, under suspended culture conditions was carried out over a seven month period at a culture site in Graves Shoal, Mahone Bay,Nova Scotia – Canada.Scallop spat were cultivated in pearl nets at a density of 30-35 per net set at four locations corresponding to the surface (7 m) and bottom (14 m) at the outer edge and the center of the site. Whole tissue weight wasmeasured at monthly intervals. Environmental conditions represented as temperature and food availability at the surface and bottom over the same period were also monitored. The result showed that the mean values of whole tissue weight at the surface sites were greater than that at the bottom sites, but there were not significantly different between the outside sites and the inside sites. Growth in whole tissue weight was notto correlate to temperature - food availability.Key words: temperature, food availability, whole tissue weight, sea scallop
Uji Keganasan Bakteri Vibrio pada Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Desrina Desrina; Arief Taslihan; Ambariyanto Ambariyanto; Suryaningrum Susiani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.702 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.3.119-125

Abstract

Tiga belas isolat bakteri Vibrio yang terdiri atas 6 spesies diuji keganasannya pada ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) sehat yang berukuran panjang 9 – 13 cm dan berat 20 – 30 g. Ke enam spesiesbakteri Vibrio yang diuji adalah Vibrio alginolyticus (6 isolat), V. vulnificus (2 isolat), V. ordalii (2 isolat) V. fluvialis, V. anguillarum dan V. mectnikovii masing masing 1 isolat. Bakteri Vibrio ini berasal dari ikan Kerapu sakit dan air tambak dari berbagai tempat di Indonesia. Uji keganasan dilakukan dengan menyuntikkan suspensi bakteri sebanyak 0,5 ml x 109 CFU/ml secara intramuskular di bagian dorsolateral. Jumlah ikan yang disuntik adalah 5 ekor/isolat. Ikan kontrol (5 ekor) disuntik dengan 0,5 ml PBS steril. Ikan dipelihara selama 2 minggu didalam akuarium (vol air 40 L) yang dilengkapi dengan aerator. Jumlah ikan yang mati, waktu kematian serta gejala klinis yang terlihat dicatat. Untuk memastikan sebab kematian dan mengkonfirmasikan keberadaanbakteri vibrio yang disuntikkan, ikan yang mati dibedah dan bakteri diisolasi dari ginjal dan luka pada tubuh. Pada akhir penelitian semua ikan yang masih hidup dibunuh dan bakteri diisolasi dari ginjal. Bakteri hasil uji keganasan diidentifikasi dengan metoda biokimia. Semua isolat menyebabkan kematian pada ikan uji kecuali V.metchinovkii dan tidak ada ikan kontrol yang mati. Kultur murni isolat yang disuntikkan direisolasi dari semua ikan yang mati. Berdasarkan jumlah ikan uji yang mati dan waktu kematian isolat terdapat 4 isolat yang ganas yaitu V.anguillarum, V. ordalii (S) dan V. fluvialis (S) dan V. alginolyticus 8 (J). Gejala klinis ikan yang sakit sama yaitu nafsu makan berkurang, berenang miring dan lemah, ginjal pucat warna tubuh gelap. Beberapaisolat menyebabkan luka di punggung yang berkembang jadi borok.Kata kunci: keganasan, Vibrio, Kerapu, ikan, penyakit.Thirteen isolates of Vibrio which consists of 6 spesies were tested its virulency on healthy fishes, Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) with size 9 – 13 cm (tota length) and 20 – 30 g (weight). Those sixspecies of Vibrio were Vibrio alginolyticus (6 isolate), V. vulnificus (2 isolate), V. ordalii (2 isolate) V. fluvialis (1 isolate), V. anguillarum (1 isolate) and V. mectnikovii (1 isolate). These Vibrio were isolated from sick Kerapu and water pond from various places in Indonesia. The test was done by intramuscular injection of bacteria suspension i.e. 0,5 ml x 109 CFU/ml on the dorsolateral of the fish. The number of injected fish were 5 fish/isolate, while control fishes were injected with 0,5 ml of sterile PBS. The fishes were grown for 2 weeks on 40 L aerated aquariums. Mortality of the fish, time as well as clinical simptoms were recorded. The occurence of injected bacteria was confirmed by isolating the bacteria from the kidney and wound of the dead fishes At the end of the experiment all the live fishes were killed and bacteria on its kidney were isolated. All thebacteria were identified by using biochemical method. The results showed that all isolates have caused mortality on the fish except V. metchinovkii as well as control fishes. Four other isolates were found to be virulence. Clinical simptoms of sick fishes were the same i.e. lack of feeding activity, abnormal swimming activity and weak, pale kidney, and dark colouration of the skin. Several isolates have caused wound on the back of the fish as well.Key words: virulency, Vibrio, Kerapu, fish, diseases.
Karakterisasi Molekuler Bakteri yang Berasosiasi dengan Penyakit BBD (Black Band Disease) pada Karang Acropora sp di Perairan Karimunjawa Agus Sabdono; Ocky Karna Radjasa
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.171 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.3.158-162

Abstract

Black Band Disease (BBD) merupakan penyakit yang bersifat virulen terutama menyerang jenis karang batu.Meskipun komunitas bakteri BBD didominasi oleh jenis cyanobakterium, namun penelitian tentang jumlahkomposisi bakteri yang menyusun komunitas belum pernah dilakukan. Komunitas bakteri yang berasosiasi dengan penyakit BBD (black band disease) pada karang cabang Acropora sp. dalam penelitian ini diujidengan menggunakan teknik kultur dependent. Teknik molekuler gen 16S rDNA (amplifikasi 16S DNA ribosom) digunakan untuk karakterisasi komunitas secara komprehensif. Berdasarkan analisis sekuen gen 16SrDNA, data menunjukkan bahwa isolate BBD1 memiliki kekerabatan terdekat dengan Myroides odoratimimus (99.0%), isolat BBD2 adalah Bacillus algicola (99.6%) dan isolat BBD3 adalah Marine Alcaligenaceae bacteriumico (96.0%). Hasil identifikasi bakteri yang berasosiasi dengan penyakit BBD pada karang cabang Acropora sp di Karimunjawa merupakan komunitas baru yang berbeda dengan hasil penelitian terdahulu. Hasil inimemungkinkan untuk dilakukan penelitian lanjutan tentang isolasi dan kultur bakteri tersebut untuk bisa menerangkan etiologi penyakit.Kata kunci: Black Band Disease (BBD), Acropora sp., 16S rDNA.Black band disease (BBD) is a virulent disease primarily affecting scleractinian corals. Eventhough the BBD bacterial mat is dominated by a cyanobacterium, the quantitative composition of the BBD bacterial matcommunity has not described previously. The bacterial community associated with black band disease (BBD) of the branching corals Acropora sp. in this study was examined using culture-dependent techniques. Acomplementary molecular techniques of 16S rDNA genes [amplified 16S ribosomal DNA) was used to give a comprehensive characterization of the community. On the basis of the results of sequen analysis, our datashow that BBD1 isolate was closely related with Myroides odoratimimus (99.0%), BBD2 isolate was Bacillus algicola (99.6%) and BBD3 isolate was Marine Alcaligenaceae bacterium (96.0%). Of the three bacteria identified,these were not previously found in other studies. This result will allow the dominant BBD bacteria to be targeted for isolation and culturing experiments designed at interpreting the disease etiology.Key words: Black Band Disease, Acropora sp., 16S rDNA.
Kajian Gonad Teripang Getah (Holothuria vagabunda) pada Saat Bulan Penuh dan Bulan Baru di Perairan Bandengan, Jepara Retno Hartati; Heri Yanti
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.156 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.3.126-132

Abstract

Banyak faktor lingkungan yang diduga mempengaruhi aspek reproduksi Teripang Getah (Holothuria vagabunda) antara lain siklus bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tingkat kematangan gonad teripang getah (H. vagabunda) pada saat bulan penuh dan bulan baru. Pengambilan sampel dilaksanakan delapan kali pada saat bulanpenuh dan bulan baru (Januari-April 2004) di perairan Bandengan, Jepara. Terhadap gonad dilakukan pengamatan tingkat kematangan gonad; jumlah, percabangan, panjang dan diameter tubula; jumlah sakula, nilai IKG serta fekunditas dan diameter telurnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gonad H. vagabunda saat bulan penuhberada pada stadia II-III sedang saat bulan baru berada pada stadia II-V. Jumlah, percabangan, panjang, dan diameter tubula, jumlah sakula serta nilai IKG meningkat seiring dengan meningkatnya TKG dan mencapai puncaknya pada stadia IV untuk kemudian menurun pada stadia V. Diameter telur dan fekunditas juga meningkat seiringdengan meningkatnya TKG dan mencapai puncaknya pada stadia IV. Nilai rata-rata IKG H. vagabunda tertinggi diperoleh pada saat bulan baru demikian pula dengan diameter telur dan fekunditas terbesar. Gonad H. vagabunda mencapai puncak perkembangannya pada saat bulan baru dan pemijahannya diperkirakan terjadi pada saat itu.Kata kunci  gonad, Holothuria vagabunda, bulan penuh, bulan baruThe Common black teat (Holothuria vagabunda) is one of marine resources in Indonesia with high economic value. Many environmental factors such as moon phase are assumed influencing their reproduction aspect. Thisresearch aimed to learn the common black teat (H. vagabunda) gonad during full and new moon. The samples were taken during full and new moon (January-April 2004) at Bandengan coastal waters, Jepara. The gonad samples were examined for gomad maturity stages; number, branch, length and diameter of tubula; number of saccula, IKG as well as fecundity and oocites diameter. The results showed that during full moon, H. vagabunda gonad were at stage II and III. Number of branch, length, sacculae, diameter of tubules and GI value increase as gonad maturity stage raised and the peak obtained at stage IV. The same result also happended for their oocites diameter and fecundity. The highest Gonadal Maturity Index (GMI), the biggest oocites diameter and fecunditywas reached during new moon and it’s predicted they were spawned during that time.Key words: gonad, Holothuria vagabunda, full moon, new moon
Pemanfaatan Citra Aster untuk Inventarisasi Sumberdaya Laut dan Pesisir Pulau Karimunjawa dan Kemujan, Kepulauan Karimunjawa Petrus Subardjo; Baskoro Rochaddi; Sigit Purnomo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.045 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.3.133-139

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Pulau Karimunjawa dan Kemujan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan sumberdaya laut dan pesisir Pulau Karimunjawa dan Kemujan serta potensinya melalui analisis citra penginderaan jauh dengan menggunakan data citra satelit ASTER. Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah diskriptif, sedangkan untuk cek lapangan menggunakan sampling purposif. Hasil menunjukkan bahwa sumberdaya laut di Pulau Karimunjawa terdapat lima kelas yaitu pasir ± 41,4 ha, padang lamun/rumput laut ± 84,16 ha, pecahan karang ± 43,77 ha, karang hidup ± 379,21 ha dan karang mati ± 107,9 ha. Sedangkan sumberdaya laut yang ada di Pulau Kemujan yaitu pasir ± 86,71 ha, padang lamun/rumput laut ± 163,16 ha, pecahan karang ± 59,00 ha, karang hidup ± 483,15 ha dan karang mati ± 153,46 ha. Sumberdaya pesisir di Pulau Karimunjawa terdapat sembilan kelas, yaitu hutan mangrove ± 184,89 ha, hutan primer ± 846,80 ha, hutan skunder ± 715,01 ha, perkebunan ± 159,40 ha, pertanian ± 25,74 ha,semak belukar ± 187,21 ha, tambak ± 38,37 ha, pemukiman ± 56,01 ha dan lahan kosong 41,96 ha. Sedangkan sumberdaya pesisir untuk Pulau Kemujan yaitu hutan mangrove ± 222,90 ha, hutan skunder ± 254,76 ha,perkebunan ± 247,73 ha, pertanian ± 31,46 ha, semak belukar ±273,30 ha, tambak ± 21,95 ha, pemukiman ± 99,07 ha, lahan kosong ± 50,47 ha dan bandara udara 16,80 ha. Uji ketelitian klasifikasi sumberdaya lautsebesar 86,04 % dan 85,50 % untuk ketelitian klasifikasi sumberdaya pesisir di Pulau Karimunjawa dan Kemujan.Kata kunci: inventarisasi, sumberdaya laut dan pesisir, citra asterThis study was carried out at Karimunjawa and Kemujan Islands. The objective of this research is to investigate marine and coastal resources of Karimunjawa and Kemujan Islands through analysis of remote sensing images by using ASTER satellite image data. Descriptive method was used in this research, while for the field check use purposive sampling. The result of this study indicate that there were five classes of marine resources at Karimunjawa Island i.e. sand ± 41,4 ha, seagrass ± 84,16 ha, coral ruble ± 43,77 ha, life coral ± 379,21 ha and dead coral ± 107,9 ha. While marine resource that exist in Kemujan Island that is sand ± 86,71 ha, field of seagrass ± 163,16 ha, piece coral ± 59,00 ha, life coral + 483,15 ha and dead coral ± 153,46 ha. There were nine classes of coastal resources at Karimunjawa Island i.e. is mangrove forest + 184,89 ha, primary forest ± 846,80 ha, secondary forest ± 715,01 ha, plantation + 159,40 ha, agriculture ± 25,74 ha, coppice ± 187,21 ha, dam out ± 38,37 ha, settlement ± 56,01 ha and empty farm + 41,96 ha. While coastal resource found at Kemujan Island were mangrove forest ± 222,90 ha, secondary forest ± 254,76 ha, plantation ± 247,73 ha, agriculture ± 31,46 ha, coppice ± 273,30 ha, dam out ± 21,95 ha, settlement ± 99,07 ha, empty farm + 50,47 ha and airport ± 16,80 ha. Sensitivity test of marine resource classification equal to 86,046% and 86,956 % for the sensitivity of coastal resource classification in Karimunjawa and Kemujan Island.Key words: inventory, seas and coastal resource, aster image.
Shell Shape Variation of Tropical Limpet Cellana testudinaria (Class: Gastropoda, Family: Patellidae) Living on the Rocky Shore in Relation to Their Zonal Distribution Abraham Samuel Khouw
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.097 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.3.171-180

Abstract

Pengujian terhadap dimensi tubuh dari limpet C. testudinaria mengindikasikan bahwa sampel yang dikoleksi dari tiga tingkatan zona pantai adalah berbeda nyata dalam panjang, lebar, tinggi, jarak antara puncak cangkang dari anterior, dan jarak antara puncak cangkang dari posterior. Keseluruhan hubungan antara panjang cangkang terhadap dimensi tubuh lainnya adalah alometrik negatif. Hubungan antara panjang cangkang dengan jarak apex-anterior dan apex-posterior mengindikasikan bahwa bentuk cangkang untuk limpet berukuran panjang 18 mm yang hidup pada zona bawah cenderung agak ke belakang sedangkan ukuran yang lebih besar cenderung agak ke depan. Studi morfometri pada rasio panjang cangkang terhadap lebar dan tinggi cangkang serta rasio keliling terhadap volume cangkang menunjukkan hasil yang sama dengan analisa pada dimensi tubuh yang mengindikasikan bahwa limpet yang menempati zona bawah adalah lebih lebar, tinggi dan lebih lancip dari limpet yang menempati zona atas dan tengah dari pantai.Kata kunci: Limpet, Cellana testudinaria, dimensi tubuh, zona pantai, allometri.An examination of the body dimensions of C. testudinaria indicated that specimens collected from the three different shore levels were significantly different in shell length (L), width (B), height (H), distance from apexto anterior margin (AA), and distance from apex to posterior margin (AP). The overall relationships between body dimensions and shell length were negatively allometric. The relationships of shell length to AA and APindicated that the apex of limpets living at the low shore level are shifted backward in individuals less than 18 mm in shell length, while it is shifted forward in larger limpets. Morphometric studies on the ratio of shelllength to shell width and shell height and the ratio of shell circumference to volume provided similar results as the analyses of the body dimensions, indicating that limpets inhabiting the low shore level were broader and taller and had more acute, backward shifted apex than those living at the high and middle shore levels.Key words: Limpet, Cellana testudinaria, body dimensions, shore levels, allometric.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue