cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan" : 9 Documents clear
Pertumbuhan Tiram Mutiara (Pinctada maxima)pasta Kepadatan Berbeda Nur Taufik SPJ; Retno Hartati; Justin Cullen; Jussac Maulana Masjhoer
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.608 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.1.31-38

Abstract

Tiram mutiara (Pinctada maxima) merupakan salah satu sumber daya laut yang berpotensi ekonomi tinggi tetapi persediaannya dad alam tidak sebanding dengan pesatnya kebutuhan pasar untuk produk ini, sehingga populasi tiram mutiara makin menipis dan harganya pun terus meningkat. Permasalahan tersebut dapat ditanggulangi dengan usaha budidaya dan padat penebaran adalah satu faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan usaha budidaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tiram mutiara pada kepadatan yang berbeda serta lokasi budidaya yang paling baik. Penelitian ini diiaksanakan pada Agustus - Oktober 2005 di Teluk Sopenihi, Kabupaten Dompu, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Rancangan Acak Lengkap pola faktorial diterapkan pada penelitian ini. Perlakuan yang diberikan adalah A, kepadatan pada keranjang pemeliharan (Al:  8 ind/keranjang, A2 : 16 ind/keranjang; A3 .- 24 ind/keranjang) dan perlakuan B, lokasi pemeliharaan (stasiun) (Bl .- di luar teluk, B2 : di mulut teluk dan B3 : di dalam teluk). Materiyangdigunakan adalah tiram mutiara P. maxima dengan ukuran ± Won. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa perlakuan kepadatan 8 ind/keranjang pada stasiun 3 memberikan hasil yang paling tinggi, dengan nilai laju pertumbuhan spesifik sebesar 0.291 % per had dan pertambahan panjang sebesar 0.93 cm. Sedangkan hasil terendah ditunjukkan pada perlakuan kepadatan 24 pada stasiun 2 dengan nilai laju pertumbuhan spesifik sebesar 0.128 % per had dan pertambahan panjang sebesar 0.42 cm. Kepadatan individu pada keranjang pemeliharaan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR) tiram mutiara (p = 0.002) sedangkan stasiun dan interaksi keduanya tidak memiliki pengaruh terhadap laju pertumbuhan spesifik tiram mutiara (P.maxima) (p - 0.492). Kata kunci: Kerang mutiara, Pinctada maxima, kepadatan, pertumbuhan spesifik (SCR)The Silver-lip pearl oyster Pinctada maxima has a high economic value. Wild stock of the pearl oyster is veryrare resulted in severe losses of productivity due to mortality and growth reductions in many pearl farmingsites, even among the successful. The study aims to know the growth of Silver-lip pearl oyster P. maxima atdifferent stocking densities and the most suitable site for pearl farming. This research is conducted at SopenihiBay, Dompu, Sumbawa, NTB on August - October 2005. The method used in this research was the experimentalmethod using completely randomized design with pattern factorial. Growths of silver-lip pearl oysters, P.maxima, were examined at three stocking densities (A1: 8 ind/pocket; A2: 16 ind/pocket and A3: 24 ind/pocket) and site location (of B1: outside the bay, B2: entrance of the bay and B3: inside the bay). Bestgrowth measured as shell length (DVM) was shown at a stocking density of 8 ind/pocket inside the bay(treatment A1B3) with 0.93 cm for 29 days and best specific growth rate (SGR) was recorded at a stockingdensity of 8 ind/pocket inside the bay (treatment A1B3) with 0.291 % each day, which was significantlyhigher than the other densities tested. The lowest growth measured and specific growth rate was shown at astocking density of 24 ind/pocket at the entrance of the bay (treatment A3B2) with 0.42 cm for 29 days and0.128 % each day. The growth of silver-lip pearl oyster was influenced by stocking density (P = 0.002). Therewas no influence of site location and both interaction to specific growth rate (SGR) of P. maxima (p = 0.492).Key words: Pearl Oyster, Pinctada maxima, stocking density, specific growth rate (SGR)
Kualitas Media Pemeliharaan Larva Lola Merah dan Kima Sisik Hasil Filtrasi Bertingkat di Hatchery Magdalena Litaay; Risco B. Gobel; As'adi Abdullah; Serii Lejab
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.894 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.1.24-30

Abstract

Telah dilakukan studi kualitas media pemeliharaan larva lola merah dan kima sisik. Pengambilan sampel air dilakukan pada 4 stasiun yaknh A (sumber air laut); B: penyaringan I (ijuk); C (filter bagganda WA dan I 'A); dan D (airdalam bak budidaya). Pemeriksaan mikrobiologis meliputi uji kuantitatif (SPC dan MPN) dan kuaiitatif (makroskopi, mikroskopis dan uji biokimia). Hasil analisis SPC menunjukkan total bakteri pada stasiun A, B, C dan D (5.0 x 107; 1.8 x 10s; 8.0 x 10* dan 8.6 x 105 bakteri/ml), sedangkan MPN: 11 x 102; 4.3 x 10'; 0.73 x 10' dan 11 x 102 bakteri/ml). Hasil pengamatan morfologi koloni bakteri pada stasiun A, teridentifikasi 6 isolat (A 1, AZ, A3, A4, A5, dan A6), Stasiun B,C dan D masing-masing ada 4 isolat Isolat A1, AZ, A3, A4, Bl, BZ, Cl, CZ, DI dan DZ bersifatgram positif, sedangkan A5, A6, B3,B4, C3, C4, D3 dan D4 bersifatgram negatif. Isolat Al, AZ, A4, Bl, BZ, Cl, CZ, Dl dan DZ membentuk spora, sementara A3, A5, A6, B3, B4, C3, C4, D3 dan D4 tidak membentuk spora. Isolat yang teridentifikasi memiliki kesamaan sifat dengan bakteri genera Escherichia, Bacillus, Micrococcus, Pseudomonas dan Streptomyces. Sistem filtrasi air laut masih layak.Kata kunci: bakteri laut, Trochus niloticus L, Tridacna squamosaThe study on the quality of larval rearing media of the top shell and scally giant clam had been done. Watersamples was collected at 4 station: A) sea water; B: filtarion I; C: filtration 2 (fillter bag 10 ¼ and 1 ¼ ); D:inside larval rearing tank. Microbiology assay including quantitaive (SPC and MPN), and qualitative test(macroscopy, microscopic and biochemistery) were conducted on samples. The SPC results shows total bacteriaat station A, B, C and D are 5.0 x 107; 1.8 x 106; 8.0 x 104 and 8.6 x 106 bacteria/ml, while MPN indicates:11x 102; 4.3 x 101; 0.73 x 101 dan 11 x 102 bacteria/ml, respectively. Six isolates bacteria were identified atstation A (A1, A2, A3, A4, A5, and A6), and four isolates in station B,C and D. Isolates A1, A2, A3, A4, B1,B2, C1, C2, D1 and D2 are gram positive, while A5, A6, B3, B4, C3, C4, D3 and D4 are gram negative.Isolates A1, A2, A4, B1, B2, C1, C2, D1 and D2 form spore, on the other hand isolates A3, A5, A6, B3, B4,C3, C4, D3 and D4 not. Identifed isolates show similar characteristics of genera Escherichia, Bacillus, Micrococcus,Pseudomonas and Streptomyces. Filtration system is in vapour condition.Key words: marine bacteria, Trochus niloticus, Tridacna squamosa
Pengaruh Pemberian Copepoda Tunggal dan Kombinasi terhadap Kelulushidupan Kuda Laut (Hippocampus kuda) Sri Rejeki
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.156 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.1.1-5

Abstract

Tingkat kelulushidupan juwana kuda laut sangat dipengaruhi oleh kesesuaian pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Copepoda tunggal dan kombinasinya sebagai pakan alami terhadap kelulusan hidupan kuda laut (Hippocampus kuda). Juwana kuda lautyang berumur 1 hari (Dl) dengan padat penebaran 10 ekor/liter dipelihara dengan pemberian pakan copepoda yang berbeda. Percobaan dilakukan dengan Rancangan acak lengkap dengan 8 perlakuan yaitu A. Copepoda mix (campuran berbagai jenis copepoda); B. Acartia sp., C. Oithona sp., D. Tigriopus sp., E. Kombinasi Acartia sp. dan Oithona sp. (1:i); F. Kombinasi Acartia sp. dan Tigriopus sp (1:1); G. Kombinasi Oithona sp. dan Tigriopus sp. (1:1), H. Kombinasi Acartia sp., Oithona sp., dan Tigriopus sp. (1:2:1) masing-masing dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis copepoda memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap tingkat kelulushidupan juwana kuda laut. Kelulushidupan tertinggi ditunjukkan oleh juwana yang diberi pakan copepoda kombinasi (1:1) Acartia sp. dan Oithona sp. (AB) yaitu (55± 13,29)% sedang tingkat kelulushidupan terendah ditunjukkan pada pemberian pakan copepoda jenis Acartia sp. (A) yaitu (15±8,66)%. Kata kuncl : kuda laut, Hippocampus kuda, copepoda.The survival of seahorse juvenile is affected not only by water quality but also by suitable feed organism. The research is aimed to determnine the impact of giving copepod as natural food organisms on the survival rateof juvenile seahorse (Hippocampus kuda). Testing animals are juvenile seahorse (Hippocampus kuda) age of one day (D1) with stocking density of 10 indv./liter. Completely Randomised Design was applied with 8treatments and each was triplicated. The treatment of 4 individu/mL are A. Copepod mix (mixed species); B. Acartia sp., C. Oithona sp., D. Tigriopus sp., E. Mixed of Acartia sp. and Oithona sp. ratio of 1:1; F. Mixed of Acartia sp. and Tigriopus sp. ratio of 1:1; G. Mixed of Oithona sp. dan Tigriopus sp. ratio of 1:1, H. Mixed of Acartia sp., Oithona sp., and Tigriopus sp. ratio of 1:2:1. The result of experiment showed thatdifferent species copepods have significantly effect on survival of juvenile seahorse (P<0,05). The highest survival were showed by juvenile seahores given mixed of copepods Acartia sp. and Oithona sp. (AB) i.e.(55±13,29)%. While Acartia sp. (A) gives the lowest survival rate (15±8,66%).Key words: seahorse juvenile, Hippocampus kuda, feed, copepods
Kelimpahan dan Pola Sebaran Kerang-kerangan (Bivalve) di Ekosistem Padang Lamun, Perairan Jepara Ita Rinitasih; Widianingsih Widianingsih
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.112 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.1.53-58

Abstract

Beberapa bivalve yang hidup di habitat padang lamun dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain tegakan dan jenis lamun, jenis substrat, kandungan bahan organik pada sedimen serta dipengaruhi oleh parameter lingkungan dan kualitas air. Pengambilan sampel bivalve dilakukan secara random dengan memperhatikan mintakat perairan yang memiliki hamparan padang lamun yang cukup luas. Berdasarkan hasil penelitian Thaiassia hemprichii mendominansi jenis lamun dengan nilai kerapatan 195 ind/m2 sampai dengan 598,3 ind/m2, Anadara ferruginea mendominasi bivalve di perairan Teluk Awur dengan nilai kelimpahan rata-rata 2,25 ind/m2., kemudian diikuti oleh Gafrarium tumidum. (1,75 ind/m2). Hal ini menunjukkan bahwa Anadara ferruginea dan Garrarium tumidum berassosiasi dengan lamun Thaiassia hemprichii. Pola sebaran A. ferruginea merata untuk semua stasiun, namun untuk G. tumidum pola sebaran cenderung mengelompok.Kata kunci : bivalve, lamun, kelimpahan, distribusiSome of bivalves that live in seagrass ecosystem have been influenced by many factors, those are seagrassspecies, substrate and organic matter that are found in sediment, environment and water qualities factors.Bivalve sampling were taken randomly which gave attention on the waters that has vast seagrass bed. Theresult showed that in Teluk Awur water, the most dominance of seagrass species is Thalassia hemprichiiwhich has density value 195 ind/m2 till 598.3 ind/m2. The dominance bivalve is Anadara ferruginea withaverage of abundance value 2.25 ind/m2 and then followed by Gafrarium tumidum (1,75 ind/m2). Weconclude that Anadara ferruginea and Gafrarium tumidum can grow well and associate with Thalassiahemprichii. According the result, distribution parttern A ferruginea has uniform, and for Gafrarium tumidumhas distribution parttern clumped.Key words: Bivalve, Seagrass.
Gejala Intrusi Air Laut di Daerah Pantai Kota Pekalongan Sugeng Widada
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.146 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.1.45-52

Abstract

Sebagian wilayah pantai Kota Pekalongan dijumpai adanya air tanah payau yang pelamparannya semakin luas. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan sebaran air tanah payau tersebut, baik pada akuifer dangkal maupun akuifer dalam dan juga untuk mengetahui penyebab keasinan air tanah tersebut. Sebaran air tanah asin dipetal<an berdasarkan nilai daya hantar listrik (DHL) dengan kriteria tingkat keasinan sebagaimana ditetapkan oleh Panitia Ad Hoc Intrusi Air Asin Jakarta. Sedangkan penyebab keasinan air tanah dianalisa berdasarkan fasies hidrokimia dengan diangram Trilinier Piper. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada akuifer dangkal air tanah agak payau dengan DHL 1500 \iS/cm - 2.200 uS/cm dijumpai di sebelah utara, meliputi Desa Bandengan, Kandang Panjang, Panjang Wetan, Krapyak Lor, dan sebagian Degayu. Sedangkan untuk airtanah dalam seluruhnya dalam kondisi tawar dengan nilai DHL < 1500 uS/cm, kecuali sumur di Pantai Sari tergolong agak payau dengan DHL 1.602 jjS/cm. Keasinan air tanah pada akuifer dangkal disebabkan oleh proses intrusi air laut, kecuali air tanah di Kauman merupakan air fosil (connate water). Untuk akifer dalam juga tampak mulai muncul tanda-tanda intrusi air laut terutama pada wilayah bagian barat dan tengah, sedangkan di wilayah timur belum tampak adanya gejala intrusi air lautKata kunci: Daya hantar listrik, Intrusi air laut, akuiferIn the part of Pekalongan coastal region was found brackish groundwater which spreading progressively. Theaim of this research was to map the brackish groundwater, either at the shallow or deep aquifer and also toknow cause of the ground water saltiness. Briny groundwater spread was mapped based on the value ofelectric conductivity (EC) with saltiness criterion as specified by Panitia Ad Hoc Intrusi Air Asin Jakarta. Causeof saltiness of ground water was analysed base on the hydrochemical facies by Trilinier Piper diangram. Theresult of the work showed that the rather brackish groundwater at shallow aquifer which indicated by ECvalue 1500 μ S/Cm - 2.200 μ S/Cm found in the northside, covering Bandengan, Kandang Panjang, PanjangWetan, Krapyak Lor, and some of Degayu. While all of the groundwater at deep aquifer was as fresh waterwith EC value < 1500 μ S/Cm, except water at deep well in Pantai Sari categorized as rather brackish withEC 1.602 μ S/Cm. Saltiness of groundwater at shallow aquifer was cause by sea water intrusion process,except groundwater at Kauman village represent as connate water. Groundwater at deep aquifer was seenearly sea water intrusion, especially at west and middle part of researh area, while at east of area not yetseen esxistence of sea water intrusion.Key words : Electric conductivity, sea water intrusion, aquifer.
Pengaruh Ekstrak Antifouling Bakteri Karang Pelagiobacter variabilis Strain USP3.37 terhadap Penempelan Barnakel di Perairan Pantai Teluk Awur, Jepara Agus Sabdono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.131 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.1.18-23

Abstract

Biofouling sebagai hasil dari proses penempelan organisme fouling pada berbagai struktur dilingkungan laut telah menimbulkan banyak kerugian bag! pelaku industri kelautan. Aplikasi cat pelindung antifoulant komersial yang komponen utamanya adalah logam berat seperti, TBT(tri-n-butyl tin), tembaga, telah berkembang menjadi masalah baru sehingga memerlukan cat pelindung yang ramah lingkungan. Bakteri yang berasosiasi dengan organisme di lingkungan laut diketahui menghasilkan metabolit sekunder sebagai sumber senyawa alternatif antifoulant. Bakteri Pelagiobacter variabilis UPS3.37 digunakan sebagai bahan ekstrak kasaryangdiformulasikan dengan cat untuk uji mikrofouling dan makrofouling di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar P. variabilis UPS3.37 mempunyai aktifltas antifouling terhadap bakteri fouling. Pada uji makrofouling menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kasar tanpa campuran cat mampu menurunkan jumlah penempelan bamakel. Teriihat adanya pola semakin tinggi konsentrasi ekstrak kasar semakin meningkatkan aktivitasantifouling. Berdasarkan karakter fenotip tersebut, bakteri P. variabilis UPS3.37 dapat digunakan sebagai organisme probiotik untuk antifouling di dalam menghilangkan penempelan bakteri pada biofilm.Kata kunci: antifouling, Pelagiobacter variabilis UPS3.37, barnakelMarine biofouling, despite a natural process as a result of organism growth on underwater surfaces that causeshuge economic losses to marine industries. Problems with heavy metal antifouling compounds, such as, TBT,copper have highlighted the need to develop new environmentally friendly antifouling coatings.Bacteria isolated from living surfaces in the marine environment are a promising source of natural antifoulingcompounds. Pelagiobacter variabilis UPS3.37 used to produce crude extract that was formulated with coatingpaints for microfouling and macrofouling assay in the field. The results showed activity against a test panel offouling bacteria. Further tested for their ability to inhibit the settlement of barnacle caused a decrease in thenumber of settled barnacles on crude extract without containing paint. The activity pattern showed that themore the crude extract, the higher the antifouling activity. This phenotype is important for the bacterium’suse as a probiotic organism for novel antifouling or removing bacteria attached in a biofilm.Key words : antifouling, Pelagiobacter variabilis UPS3.37, barnacle
Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Hidrokarbonoklastik dari Perairan Dumai dengan Sekuen 16S rDNA Nursyirwani Nursyirwani; Kathy Copper Amolle
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.261 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.1.12-17

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan September sampai Desember 2006. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari karakteristik molekuler bakteri hidrokarbonuklastik yang diisolasi dari perairan laut Dumai berdasarkan sekuen 16S rDNA. Isolasi bakteri dilakukan pada media cair dan padayang ditambahk an Sumatran crude oil. Karakteristik molekuler diperoleh melalui isolasi dan ampHdkasi DNA dengan PCR dan sekuensing menggunakan ABI 3130 Genetic Analyzer. Dari 6 isolat yang danalisis, hanya ada 3 isolatyang dapat disekuensing. Dari perbandingan dengan BLAST database, didapatkan kesamaan sekuen yang terdekat untuk isolat CA (91%) adalah Providenda vermicola, isolat DA (93%) adalah Burkholderia cepacia, dan isolat FA (99%) adalah Myroides odoratimimus.Kata kunci: Bakteri hidrokarbonuklastik, PCR dan 16S rDNAThe research was conducted from September to December 2006. The aim was to study molecular characterization of hidrocarbonoclastic bacteria based on sequence 16S rDNA from Dumai waters. The bacteria was isolated in both broth and solid media added with the Sumatran crude oil. Molecular characterization included DNA isolation and amplification using PCR, and sequencing by ABI 3130 Genetic Analyzer. Three of six isolateswere successfully sequenced. The comparison of 16S rDNA with known 16S rDNA sequences from BLAST database showed that the closest sequence similarity of isolate CA (91%) was Providencia vermicola, isolate DA(93%) was Burkholderia cepacia, and isolate FA (99%) was Myroides odoratimimus.Key words : Characterization, Hydrocarbonoclastic Bacteria, PCR, 16S rDNA
90Sr Activity in the High Seas and Coastal Regionsof Korea-Japan-Russia-China Compared with Exponential Decay of 90Sr Global Fallout Muslim Muslim
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.141 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.1.39-44

Abstract

Konsentrasi dan aktivitas 90Sr saat radioaktif buatan jatuh secara global di bumi pada tahun 1964 dibandingkan dengan konsentrasi dan aktivitas 90Sr di lepas pantai dan daerah pantai Korea-Japan-Russia-China secara tahunan dari tahun 1964 sampai tahun 2000. Konsentrasi 90Sr menunjukkan penurunan secara terus menurus bahkan jauh di bawah exponential decay, hal ini dikarenakan oleh effektifnya lingkungan terhadap waktu paruh. Dari analisa tersebut disimpulkan bahwa konsentrasi dan aktivitas 90Sr di lepas pantai dan daerah pantai Korea-Japan-Russia-China secara original lebih banyak berasal dari radioaktif buatan yang jatuh secara global dari pada dari sumber hasil buangan lokal.Kata kunci: 90Sr, perairan lepas pantai, daerah pantai, exponential decay, globalConcentration and activity of 90Sr in the high seas and coastal regions of Korea-Japan-Russia-China from theglobal fallout to 2000 were studied. The variation of 90Sr in these study areas decreased continuously from1964 when global fallout radioactive was started to 2000. Suggesting that from 1964 to present the 90Sractivity from any local resources at Korea-Japan-Russia-China doesn’t significant, because the 90Sr activitiesmuch lower compared with the exponential decay, it caused by effective environmental half-lives. In conclusion,the activity of 90Sr in the high seas and coastal regions of Korea-Japan-Russia-China originated entirely fromthe global fallout rather than from any local point sources.Key words: 90Sr, high seas, coastal regions, exponential decay, global fallout 
Kelimpahan dan Sebaran Horizontal Fitoplankton di Perairan Pantai Timur Pulau Belitung Widianingsih Widianingsih; Retno Hartati; Asikin Djamali; Sugestiningsih Sugestiningsih
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.083 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.1.6-11

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kelimpahan dan sebaran horizontal Fitoplankton di perairan Pantai Timur Pulau Belitung. Pengambilan sampel Fitoplankton pada Oktober 2006 dilakukan dengan menggunakan plankton net Kitahara yang mempunyai ukuran mata jaring 80 \im pada 10 stasiun. Kelimpahan total Fitoplankton berklsar antara 16.205-54.835 sel/m3 dan Fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae mendomlnansl perairan tersebut. Genus yang dominan di perairan ini dan selalu ada di setiap stasiun adalah Rhizosolenia dengan kelimpahan tertinggi (25.969 sel/m3) di stasiun 1 yang merupakan stasiun terluar dengan nlai salinitas 32,64-32,95 psu. Kelimpahan fitoplankton tertinggi terjadi di stasiun ke 4 dan genus Asterionella mendominasi dengan nilai 28,693 sel/m3. Pola sebaran horizontal dengan konsentrasi tertinggi terdapat di stasiun ke-4 dengan nilai kelimpahan lebih dari 50.000 sel/m3 Kata kunci: kelimpahan, distribusi, fitoplankton, Pulau BelitungThis research had purpose to examine abundance and horizontal distribution of phytoplankton in the water of East Belitung Island. Phytoplankton samples were taken on October 2006 from 10 stations used Kitahara plankton net has mess size net 80 μm. The result revealed that the total abundance of phytoplankton during the survey in the range of 16.205 cell/m3 up to 54.835 cell/m3 and phytoplankton from class Bacillariophycea dominant on that water. The predominant genera of phytoplankton for all of stations was Rhizosolenia with highest abundance (25.969 cell/m3) on the station 1 which located in the outside of station had salinity value 32,64 psu till 32,95 psu. The highest abundance of phytoplankton was occurred on the Station 4 had value 54.835 cell/m3 and the genera of Asterionella was dominated on that that time with value 28,693 cell/m3.  According the result show that horizontal distribution pattern has the highest concentration on the station 4, has phytoplankton abundance value more than 50.000 sel/m3.Key words : Abundance, Phytoplankton, Pulau Belitung

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue