cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan" : 8 Documents clear
Causitive Agent Vibriosis dari Ikan Kerapu Bebek (Cromileptis altivelis) Bermulut Merah : 1. Patogenitas pada Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Sarjito Sarjito; Ocky Karna Radjasa; Sahala Hutabarat; Slamet B Prayitno
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1437.319 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.3.173-180

Abstract

The research aims were to find out the causative agent vibriosis of Cromileptis altivelis  having clinical symptom red mouth and its pathogenecity to Epinephelus fuscoguttatus.   Seven isolats Vibrio were isolated from wound and kidney of  C.  Altivelis.  The result of Koch postulate indicated that five vibrios as a causative agent of vibriosis, consisted of three vibrios (isolat JT 07,   JT 10, JT 20) and  two vibrios (isolat JT 4,  JT 29) caused  mortality of 100% and 40% on E. fuscogutatus respectively.  Three isolat vibrios ( JT 7,   JT 10, JT 20 ) with higher pathogenicity were continued to futher investigation.  Mean time to death of  V. fuscus (JT 07), V. alginolyticus and V. anguillarum, to E. fuscogutatus  on concentration of 108 CFU/mL  were 83,33%  (11,25 hours); 79,16%(15,63 hours); dan 50% (20,5 hours) respectively; whereas  on concentration of 109 CFU/mL were 95,83% (10,8 hours); 87,5%(15,28 hours); dan 62,5% (19,6 hours) respectively. Lethal Concentration Median (LC50) of V. Fuscus, V. alginolyticus,  V. anguillarum were  3,2X107 CFU/mL; 4,8 X 108 CFU/mL; dan 2,24X108 CFU/mL. All isolates on concentration of 106 dan 107 CFU/mL did not cause 50%  tested fish mortality Key words : Causative agent, Vibriosis, E. Fuscogutatus,  V. parahaemolyticus, Pathogenicity Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji causative agent  vibriosis pada ikan Kerapu Bebek (Cromileptis altivelis) dengan gejala klinis mulut merah serta patogenisitasnya terhadap ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus).  Tujuh  isolat Vibrio berhasil diisolasi dari bagian luka dan ginjal Kerapu Bebek Mulut Merah.  Hasil uji postulat koch memperlihatkan lima isolat dimana isolat  JT 07,   JT 10, JT 20 dapat mengakibatkan kematian 100%, sedangkan isolat  JT 04 dan JT 29 menyebabkan kematian 40%. Pada tiga isolat (Vibrio JT 07, JT 10 dan JT 20) yang memperlihatkan patogenitas yang lebih tinggi dilakukan uji lanjutan.  Hasil karakterisasi melalui uji morfologi dan biokimia diperoleh bahwa isolat JT 07 memiliki kemiripan 96,15 % dengan Vibrio fuscus;  JT 10 memiliki kemiripan 100% dengan Vibrio anguillarum dan JT 20 memiliki kemiripan 100% dengan Vibrio alginolyticus. Patogenisitas ketiga isolat vibrio tersebut secara berurutan adalah V. fuscus, V. alginolyticus,  V. anguillarum, dimana diperoleh bahwa  persentase kematian dan rerata waktu kematian (Mean Time to Death, MTD) pada penyuntikan intraperitoneal V. fuscus (JT 07), V. alginolyticus (JT 20) dan V. anguillarum (JT 10) dengan konsentrasi 108 CFU/mL adalah berturut-turut 83,33%  (11,25 jam); 79,16% (15,63 jam); dan 50% (20,5 jam); sedangkan untuk konsentrasi 109 CFU/mL secara berurutan adalah 95,83% (10,8 jam); 87,5% (15,28 jam); dan 62,5% (19,6 jam). Lethal Concentration Median (LC50) V. fuscus,  V.  alginolyticus,  V.  anguillarum secara berurutan adalah  sebesar  3,2X107 CFU/mL; 4,8 X 108 CFU/mL; dan 2,24X108 CFU/mL.  Sedang pada konsentrasi 106 dan 107 CFU/mL semua isolat tidak menimbulkan kematian pada ikan uji.  Hasil ini menunjukkan bahwa tiga causative agent tersebut bersifat patogen pada ikan kerapu. Kata kunci:  Causative agent, Vibriosis, E. fuscogutatus V. parahaemolyticus, Patogenisitas
Respon Tingkah Laku Makan Ikan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscoguttatus) Terhadap Komposisi Kimia Umpan Aristi Dian; Purbayanto Ari; Joko Santoso; Mulyono S Baskoro; Daniel R Monintja
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1403 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.3.133-138

Abstract

Studi tingkah laku makan ikan merupakan bagian yang paling penting untuk mengetahui efektivitas penggunaan umpan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon dan pola tingkah laku makan ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscoguttatus) dengan perbedaan komposisi kimia umpan. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen laboratorium. E. fuscoguttatus yang digunakan memiliki panjang total rata-rata 200 mm. Umpan yang digunakan adalah udang krosok (Metapenaeus elegans) dan ikan rucah (Sardinella gibbosa). Data penelitian meliputi waktu respon dan pola tingkah laku makan E. fuscoguttatus terhadap umpan dengan lama perendaman 1, 7 dan 12 jam. Komposisi kimia masing-masing umpan dianalisis berdasarkan lama waktu perendaman. Data diuji dengan menggunakan analisis statistik t student (uji-t). Hasil penelitian menunjukkan waktu respon E. Fuscoguttatus terhadap umpan udang  krosok dan ikan rucah tidak berbeda nyata  (nilai t­­hitung 2,25). Respon makan E. fuscoguttatus dengan perbedaan waktu perendaman umpan udang krosok dan ikan rucah  selama 1 jam dan 7 jam berbeda sangat nyata (nilai t-hitung 3,85 dan 5,70). Lama waktu perendaman umpan 12 jam tidak berbeda nyata (nilai thitung 0,86). Semakin lama waktu perendaman umpan (hingga 12 jam) terjadi penurunan komposisi kimia sehingga berpengaruh pula terhadap menurunnya respon makan E. fuscoguttatus. Kata kunci: Komposisi kimia umpan, pola tingkah laku makan, ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscoguttatus)    Fish behavior study is necessary to know the use of bait effectiveness. This research objective was to analyze response and feeding behavior of grouper (Ephinephelus fuscoguttatus) with difference of the bait chemical composition. The research was conducted by laboratory experimental method. The fish used was 200 mm total length in average. The baits used were shrimp (Metapenaeus elegans) and trash fish (Sardinella gibbosa). Data collection consist of response time and feeding behavior pattern of E. fuscoguttatus towards bait with soaking time of 1, 7, and 12 hours. Chemical composition of each baits  was analysis based on soaking time. Data was statistical analyzed using t- student test. The result showed that response time of E. fuscoguttatus to shrimp bait and fish was insignificantly difference (t-value was 2.25).  The feeding response of E. fuscoguttatus with soaking time difference of shrimp bait and trash fish during 1 and 7 hours was significantly difference (t-value was 3.85 and 5.70). The bait soaking time until 12 hours was insignificantly difference (t-value was 0.86). The longer bait soaking time (until 12 hours) would decrease the bait chemical composition that influenced to decrease feeding response of E. fuscoguttatus. Key words: Chemical composition of baits, feeding behavior, Ephinephelus fuscoguttatus
Zonasi Ekosistem Alami dengan Pendekatan Ekologi Lanskap Menggunakan Pemodelan Spasial Berbasis Sel di Pulau Karimunjawa dan Kemujan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah Muhammad Helmi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1465.887 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.3.167-172

Abstract

Artikel ini difokuskan pada pendekatan ekologi lanskap dan pemodelan spasial berbasis sel untuk penyusunan zonasi ekosistem alami di Pulau Karimunjawa dan Kemujan. Zonasi ekosistem alami pada penelitian ini dilakukan pada 5 (lima) ekosistem yang terdiri dari terumbu karang, padang lamun, mangrove, hutan pantai dan hutan tropis dataran rendah. Karimunjawa dan Kemujan adalah dua pulau kecil yang berpenghuni dan terletak besebelahan.di dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Ekologi lanskap merupakan konsep yang mengintegrasikan aspek ekologi dan aspek spasial. Kondisi lanskap yang kompleks di pulau ini dapat disederhanakan dan direpresentasikan sebagai layer-layer tematik, diintegrasi menggunakan pemodelan spasial. Cell based modeling adalah pemodelan data spasial yang berbasis raster, sel atau piksel yang merepresentasikan area sebagai obyek yang spesifik. Kondisi ekologi lanskap pulau Karimunjawa dan kemujan direpresentasikan dalam sel dengan resolusi 10m x 10m dan dianalisis menggunakan teknik pemodelan topografi, hidrologi dan pembobotan untuk menyusun zonasi. Data spasial lanskap ekosistem alami diekstrak dari satelit penginderaan jauh Terra/ASTER, peta tematik dan survei. Hasilnya adalah zona konservasi yang terdiri dari subzona preservasi, sempadan (sempadan sungai, pantai dan mata air), rehabilitasi, situs bersejarah, pemanfaatan tradisional dan sub zona alur pelayaran di perairan Pulau Karimunjawa dan Kemujan. Kata kunci: Ekosistem alami, ekologi lanskap, pemodelan spasial berbasis sel.  This article is focused to landscape ecology approach and cell based modeling for the natural ecosystem zonation in Karimunjawa and Kemujan. Natural Ecosystem zonation on this research is focused on five natural ecosystems, such as coral reef, sea weed, mangrove, coastal forest and low land tropical forest. Karimunjawa and Kemujan are two populated small island neighbors in Karimunjawa National Park, Central Java. Landscape ecology is an integrated concept of ecology and spatial aspect that can be used to design natural ecosystem zonation. A complex landscape condition in these islands can be simplified and represent as thematic layers, integrate and manage them using spatial modeling. Cell based modeling is spatial modeling data processing base on raster, cells or pixel that represent an area with specific object. Landscape ecology condition of Karimunjawa and Kemujan Islands is represent to 10m x 10m resolution of cell  and analyst them using modeling techniques, such as topography, hydrology and weighted to design zonation. Landscape ecology of natural ecosystem spatial data are extracted from Terra/ASTER remote sensing satellite system, thematic map and survey. The result is conservation zone that consist of sub zones include  preservation, protected areas (river and beach green belt and water spring), rehabilitation, historical/religious site areas, traditional use and sea lenes in Karimunjawa and Kemujan coastal area. Key words: Natural ecosystem, landscape ecology, cell based modeling
Variasi Musiman Oksigen Terlarut Di Perairan Teluk Banten : 1. Pola Sebaran Oksigen Terlarut Simanjuntak Marojahan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1277.69 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.3.125-132

Abstract

Pengamatan kadar oksigen terlarut di perairan Teluk Banten telah dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali yaitu pada bulan April mewakili musim peralihan I, Agustus mewakili musim timur dan Oktober 2001 mewakili musim peralihan II. Contoh air laut diambil dengan menggunakan botol Nansen dari 20 stasiun pada permukaan (0 meter), 10 meter dan 25 meter untuk mengetahui distribusi oksigen terlarut serta faktor-faktor yang mempengaruhinya di perairan Teluk Banten.  Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata kadar oksigen terlarut tertinggi di lapisan permukaan diperoleh pada bulan April (5,70 – 6,27 ml/l; 6,18 ± 0,11 ml/l). Pada bulan Agustus ditemukan kisaran kadar oksigen terlarut di lapisan permukaan (5,60 – 6,27 ml/l; 5,86 ± 0,09 ml/l) dan terendah (4,71 – 5,97 ml/l; 5,79 ± 0,22 ml/l) diperoleh pada bulan Oktober. Kadar oksigen terlarut yang rendah diperoleh dekat muara Sungai Pontang dan yang tinggi diperoleh di lepas pantai. Variasi musim terhadap kadar oksigen terlarut tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok dan masih dalam batas ambang kehidupan biota laut. Kata kunci : Oksigen Terlarut, Pola sebaran, Teluk Banten   Observation of dissolved oxygen concentration in Banten Bay was carried out in April, August and October 2001. Water sample taken by using Nansen bottle from 20 stations at surface (0 meter), 10 meter and 25 meter to know dissolved oxygen distribution and also factors influencing in the Banten Bay Waters. The results at surface layer showed that the highest concentrations of dissolved oxygen (5,70 – 6,27 mg/l; 6,18 ± 0,16 mg/l) were found on April. On August were ranged 5,60 – 6,27 mg/l; 5,86 ± 0,13 mg/l and lowest concentrations were found in October (4,71 – 5,97 mg/l; 5,79 ± 0,31 mg/l). The lowest concentration was found close to mouth of Pontang River, while the highest concentrations were found at offshore area. The effect of the monsoon did not show a significant difference and still in the suitable condition for marine life. Key words: Dissolved oxygen, distribution pattern, Banten Bay Waters
Dinamika Populasi Udang Jerbung (Penaeus merguiensis De Man 1907) di Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah Suradi W Saputra; Subijanto Subijanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6724.399 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.3.157-166

Abstract

Penelitian dinamika populasi udang Jerbung (Penaeus merguiensis) dilakukan di Laguna Segara Anakan Cilacap Jawa Tengah berdasarkan data frekuensi panjang karapas, yang dikumpulkan sejak Februari sampai Agustus 2006, menggunakan metode survei. Data dianalisis menggunakan alat bantu software dari program FiSAT (FAO-Iclarm Stock Assessment Tool) II. Hasil perhitungan diperoleh ukuran rata-rata udang Jerbung pertama tertangkap a/at (apong) pada panjang karapas 18 mm atau pada bobo 3,34 gram. Panjang karapas maksimum udang Jerbung 34,5 mm dan L. sebesar 37,5 mm, dengan indeks kurva pertumbuhan K adalah 1,4/tahun dan t adalah -0,00875 tahun. Waktu terjadinya pertumbuhan maksimum (tt,B) adalah 0,63 tahun. Panjang karapas saatpertumbuhan maksimum 22,2 mm. Laju kematian total (Z) sebesar 7,02/tahun, laju kematian alami (M) sebesar 1,96/tahun dan Fsebesar 5.06/tahun. Laju eksploitasi (E) sebesar 0,72 per tahun, menunjukan tingkat pengusahaan berlebih atau telah terjadi growth-overfishing, sehingga perlu pengendalian laju eksploitasi. Kata kunci : Dinamika populasi, P. merguiensis, Laguna Segara Anakan Study of population dynamic of Penaeus merguiensis (Banana Shrimp) at Segara Anakan Lagoon, Cilacap, Cenral Java, Indonesia, based on length carapace frequencies data, was carry out since February to Agustus 2006. Data were analysed by using FiSA T (FA O-Idarm Stock Assessment Tool) II. The result showed that the first shrimp captured has carapace length i.e. 18 mm and the body weight was 3,34g. Maximum carapace length found was 34,5 mm and L,, was 37,5 mm. While index of curve growth (K) was 1,4/year and to was - 0,00875/year. Time ofmaximum growth point is 0,63/year, on carapace length was 22,2 mm. Total mortality (Z) was 7,02/years, natural mortality 1,96/year and fishing mortality was 5.06/year. Exploitation rate (E) was found 0.72/year. It suggests that over-exploitation orgrowth-overffshinghas occured in this area and therefore, it needs exploitation managementKey words : Population dinamic, P. merguiensis, Segara Anakan Lagoon
Fenomena Kehadiran Skeletonema sp. di Perairan Teluk Jakarta Bambang Santoso Soedibyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1360.459 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.3.119-124

Abstract

Aktivitas pembangunan di kota Jakarta dan sekitarnya menyebabkan perairan Teluk Jakarta menjadi sangat rentan akan perubahan kualitas lingkungan. Fitoplankton merupakan salah satu indikator dari adanya perubahan lingkungan laut sekitarnya karena perannya dalam rantai makanan, disamping tingkat adaptasi dan sensitivitasnya yang tinggi terhadap keragaman lingkungan di antara komunitas organisme  lainnya. Salah satu marga fitoplankton yang selalu hadir dan mendominasi di perairan Teluk Jakarta adalah Skeletonema sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena kemunculan jenis ini terkait dengan beberapa parameter lingkungan serta dengan marga fitoplankton predominan lainnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa kelimpahan Skeletonema sp. seirama dengan Chaetoceros sp. yang mengindikasikan bahwa kedua jenis ini secara bersamaan memanfaatkan nutrisi dengan laju yang relatif sama. Kelimpahan Skeletonema sp. juga mempunyai hubungan positip dengan kadar silikat dan suhu akan tetapi berhubungan negatip dengan salinitas. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa kelimpahan Skeletonema sp. di perairan Teluk Jakarta disebabkan oleh kadar silikat yang dipasok dari darat melalui air sungai, suhu serta kadar salinitas yang kemungkinan besar akibat curah hujan. Kata kunci : Skeletonema sp.,  Teluk JakartaDevelopment activities in Jakarta city and its surrounding areas may cause Jakarta Bay waters very sensitive on the changes of environmental quality. Phytoplankton may be regarded as one of  primary indicators of changes in the surrounding environment because of its role in the food web and of its high adaptability or high sensitivity to varying environmental conditions among organism. Skeletonema sp., is one of phytoplankton species which is always exist and dominate in Jakarta Bay waters. The aim of this paper is to study the occurence of this species related to environmental parameters and other predominance species. The study shows that Skeletonema sp. has always co-exist with Chaetoceros sp., which indicate that these two species utilized food resources relatively at the same rate. The occurence of Skeletonema sp., is also positively correlated with silicate concentrations and temperature, but negatively correlated with salinity. From this study it can be concluded that the occurence of Skeletonema sp. in Jakarta Bay waters was influenced by the silicate concentrations from the mainland through river flow, temperature and the concentration of salinity most probably related to the rainfall.Keywords : Skeletonema sp., Jakarta Bay waters
Kondisi Geomorfologi Pesisir Pacitan untuk Informasi Pengelolaan Wilayah Pesisir Agus AD Suryoputro
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1391.023 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.3.139-145

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah pesisir Pacitan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisis geomorfologi di wilayah pesisir Pacitan Metode penelitian yang digunakan adalah interpretasi foto udara dan pengamatan lapangan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah bentuk lahan di wilayah pesisir Telang Ria terdiri dari bentuk lahan asal Marin dan Fluvial Berdasarkan relief, litologi dan proses bentuk lahan Marin dapat digolongkan menjadi satuan bentuk lahan dataran alluvial, dataran banjir dan gosong sungai. Di wilayah pesisir Tamperan terdapat bentuk lahan asal Marin, Denudasional dan Solusional. Berdasarkan relief, litologi dan prosesnya, bentuk lahan asal Marin apat digolongokan menjadisatuan bentuk ;ahan gisik; bentuk lahan asalDenudasional dapat digolongkan menjadi satuan bentuk lahan perbukitan terkikis; bentuk lahan asal Solusional dapat digolongkan menjadi perbukitan karst, wilayah pesisir Srau terdapat bentuk lahan Marin dan Solusional. Berdasarkan relief, litologi, dan proses, bentuk lahan Marin dapat digolongkan menjadi gisik dan benting gisik, bentuk lahan Solusional dapat digolongkan menjadi dataran alluvial karst dan perbukitan karst Kata kunci : bentuk lahan asal, satuan bentuk lahan
Sebaran Suspensi dan Sedimen Dasar Perairan Sebagai Petunjuk Perubahan Garis Pantai Di Pesisir Teluk Lada, Banten Ricky Rositasari
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1269.584 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.12.3.146-156

Abstract

Pengamatan tentang kondisi perairan dan pesisir Teluk Lada, Banten telah dilakukan pada bulan Juni, Agustus dan Nopember tahun 2004. Parameter geologi yang diamati mencakup sedimen dasar, kandungan suspensi perairan dan kondisi lingkungan pantai. Pengamatan lapangan meliputi pengambilan sampel suspensi, sedimen dasar serta pengamatan lingkungan di sepanjang pantai. Pengolahan sampel di laboratoriun menggunakan metode gravimetri.  Hasil pengamatan menunjukkan kaitan yang erat antara karakteristik sebaran sedimen dasar dan kandungan suspensi perairan dengan kondisi garis pantai. Sebaran sedimen dasar memperlihatkan kecenderungan tingginya sebaran fraksi kasar di lepas pantai sekitar muara sungai-sungai yang terletak di sebelah Tenggara Tanjung Lesung. Keadaan ini menunjukkan adanya proses abrasi aktif di sepanjang pesisir timur Tanjung Lesung hingga sekitar Ciseukeut.  Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap kondisi geologis sepanjang pesisir Teluk Lada adalah dinamika air.Kata kunci : padatan tersuspensi, sediment dasar, distribusi, garis pantaiThe west coast of Banten Province is considerably potential for various economic activities. Research on oceanographic condition of Lada Bay, Banten was conducted during the month of June, August and November 2004. Field observation was included sampling for suspended solid and sediment. Gravimetric method was used in laboratory. The result shows that there was relation between sediment distribution, suspension contents and beach line conditions. Sediment distribution along the coastal of Lada Bay indicated the tend of highest accumulation of coarser fraction in the off shore in several river mouths of SE Lesung Cape. This condition showed that there was active abrasion process along the coast of eastern Lesung Cape to Ciseukeut area. Environmental factors which control the coastline dynamics along the coast of Lada Bay were current and wave. Key words: suspended solid, bottom sediment, distribution, beach line

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue