cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan" : 9 Documents clear
Komposisi dan Kelimpahan Krustasea di Kawasan Mangrove Muara Sungai Bengawan Solo, Ujung Pangkah - Gresik Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih; Yudho Prasetyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.989 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.49-56

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis yang sangat penting dan krustasea adalah salah satu kelompok biota yang dominan hidup di habitat ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi, kelimpahan Crustasea di kawasan mangrove Muara Sungai Bengawan Solo Ujung Pangkah Gresik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-September 2004. Hasil penelitian menunjukan adanya 18 spesies krustasea dari 9 famili (total 1869 individu), yaitu Alpheus sp 1, Alpheus sp 2 (Alpheidae), Paradeistostoma (Camtandridae), Coenobitidae sp (Coenobitidae), Ozius sp (Eriphiidae), Metaplax sp, Perisesarma sp, Metopograpsus sp (Grapsidae), Lysioquillina sp (Lysioquillidae), llyoplax sp, Uca sp 1, Uca sp 2, Macrophthalmus sp (Ocypodidae), Clibanarus sp (Paguridae), Scylla sp 1, Scylla sp 2, Thalamita sp, dan Portunus sp (Portunidae). Spesies yang dominan adalah Metaplax sp dari famili Grapsidae. Nilai rata-rata kelimpahan 10-277 ind/m2. Rata-rata Krustasea di lokasi penelitian memiliki pola sebaran mengelompok (clumped) Kata kunci: crustasea, komposisi, kelimpahan, mangrove
Kontribusi Pakan Chlorella sp. dan Tetraselmis chuii terhadap Densitas Copepoda Hadi Endrawati; Muhammad Zaenuri; Endang Kusdiyantini; Hermin Pancasakti Kusumaningrum
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.729 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.43-48

Abstract

Keberhasilan kultivasi copepoda diantaranya dipengaruhi oleh jenis pakan fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui densitas copepoda yang diberi pakan Chlorella sp. dan Tetraselmis chuii. Penelitian ini dilaksanakan dari Mei hingga Desember 2005 di Laboratorium Biologi Oseanografi UNDIP. Copepoda diambil per bulan dari bulan Mei hingga Oktober 2005, dari Perairan Demak. Kultivasi copepoda menggunakan 6 beker bervolume 2 L dengan densitas awal 100 ind. / L dan 6 akuarium bervolume 20 L dengan densitas awal 1000 ind. / L. Chlorella sp. dengan densitas 15.200 sel / ml dan Tetraselmis chuii dengan densitas 11.000 sel / ml yang berasal dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, digunakan sebagai pakan copepoda. Determinasi densitas copepoda dilakukan per minggu dari setiap perioda kultivasi ( 3 minggu ). Perioda kultivasi diulang per bulan selama 6 bulan. Parameter suhu, salinitas dan pH diukur setiap hari. Copepoda yang dikultivasi pada media 2 I dan 201 dengan pakan Tetraselmis chuii menunjukkan densitas rata - rata berturut-turut 227 - 303 ind. / L, dan 2534 - 3808 ind. / L. Densitas copepoda pada media 2 L dan 20 L dengan pakan Chlorella sp. menunjukkan rata - rata 297 -377 ind. / L pada media 2 l, serta 3241 - 4824 ind. / L. Pakan Chlorella sp. dan Tetraselmis chuii memberikan kontribusi densitas copepoda dengan model yang sama. Mesklpun demikian pakan Chlorella sp. menghasilkan densitas copepoda yang lebih tinggi dibandingkan Tetraselmis chuii pada dua volume media kultivasi yang berbeda. Kata kunci: Copepoda, Chlorella sp., Tetraselmis chuii, densitas
Produktivitas Biomassa Copepoda di Perairan Demak Muhammad Zaenuri; Hadi Endrawati; Widianingsih Widianingsih; Irwani Irwani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (26.869 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.19-24

Abstract

Copepoda sebagai konsumer primer, merupakan biomassa yang dapat dikuantifikasi dengan pendekatan morfometri, dengan output volume tubuh copepoda sebagai landasan penghitungan transfer energi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas biomassa copepoda di perairan Demak. Penelitian ini dilaksanakan dari Mei hingga Oktober 2005 pada 6 stasiun di perairan Demak. Sampling dilakukan sebulan sekali dengan menggunakan planktonnet. Sampel copepoda yang diperoleh diklasifikasi berdasarkan ukuran tubuh untuk analisis morfometri sehingga didapatkan biomassa volumetrik. Pengukuran parameter kualitas air (suhu, salinitas, pH, arus, dan kecerahan) dilakukan secara bersamaan dengan sampling copepoda. Hasil pengamatan menunjukkan kelimpahan copepoda total pada 6 stasiun di perairan Demak 741-2094 ind./l. Hasil analisis morfometri ordo Calanoida Genus Acartia sp. berkisar 400-950 μm3; Calanus sp. 400-1900 μm3; Eucalanus sp. 400-925 μrn3; Pseudocalanus sp. 400-1200 μm3; Paracalanus sp. 400-1200 μm3 dan Centmpages sp. 400-1900 μm3. Ordo Cyclopoida, Genus Oithona sp. berkisar 450-1100 μm3 dan Ordo Harpacticoida, Genus Euterpinasp. berkisar 500-1050 μm3Kata kunci: Copepoda, Morfometri, Biomassa, Demak
Aplikasi Teknologi Geomatika untuk Pemetaan Penurunan Tanah (Land Subsidence) di Pesisir Kota Semarang Agus Hartoko; Anindya Wirasatria; Muhammad Helmi; Bhaskoro Rochaddi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.795 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.13-18

Abstract

Beberapa fenomena alam di kawasan pesisir dan kemudian menjadi bencana alam yang terjadi dalam kehidupan sehari hari diantaranya banjir, rob, longsor, gunung meletus, tsunami dan yang terjadi di Kota Semarang khususnya, adalah penurunan tanah (land-subsidence). Penelitian diiakukan dengan melakukan pengukuran perubahan ketinggian tanah berdasarkan 60 Titik Tinggi Geodesi (TTG-Bakosurtanal) maupun Bench Mark (BM) yang ada dikota Semarang dan data posisi koordinat masing-masing dengan GPS (Global Positioning System). Data geodetik yang diperoleh di transformasi menjadi data numerik, dan proses analisa geo-statistik diiakukan dengan metoda Kriging memakai perangkat lunak ER_Mapper 6.4 (Licensed user) dan Arc_GIS. Di samping data hasil pengukuran dilapangan, digunakan juga data Spaceshuttle Radar for Terrain Model (SRTM) untuk membentuk citra kontur 3 dimensi, juga menggunakan data citra Landsat_ETM. Berdasarkan data pengukuran yang diiakukan di lapangan dan rangkaian analisis spasial maka dapat dibuat plot laju penurunan tanah dan diketahui bahwa laju penurunan tanah Kota Semarang berkisar antara 1-9 cm/tahun, sehingga memerlukan pemetaan ulang, evaluasi tata ruang dan peraturan daerahKata kunci: penurunan tanah, kawasan pesisir, geo-statistik
Dinamika Penjalaran Gelombang Internal di Selat Lombok Rima Rachmayani; Nining Sari Ningsih; Safwan Hardi; Irsan S. Brodjonegoro
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.499 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.1-12

Abstract

pada 4 musim menunjukkan kesesuaian dengan hasil pengamatan citra satelit ERS - SAR (ERS - Synthetic Aparture Radar) yaitu terdeteksinya keberadaan gelombang soliton di bagian utara dan selatan Selat Lombok. Amplitudo gelombang internal (soliton) sebesar 64-285 m (20-88 m) di bagian selatan, dan 50-300 m (25-81 m) di bagian utara. Panjanggelombang internal (soliton) di sisi utaraberkisar 10,9-90 km (0,9-14,6 km) dan di selatan sill 12,4-15,8 km (0,3-11,6 km). Kecepatan propagasi gelombang soliton lebih besar di bagian utara daripada di selatan, yaitu berkisar 0,21-2,67 m/det (di utara) dan 0,21-1,53 m/det (di selatan). Hasil simulasi model juga menunjukkan adanya massa air hangat yang masuk dari Samudera Pasifik melalui selat Lombok menuju Samudera Hindia dan membentuk well-developed thermal plume, yaitu sejauh 29,9-66,2 km dari sill di bagian selatan. Hal ini sesuai dengan hasil citra satelit ERS I - II pada waktu penelitian yang sama untuk masing-masing musim.Kata kuncl: non-hidrostatik, soliton, propagasi, citra satelit, thermal plume
Reproduksi Aseksual Sebagai Alternatif Pemulihan Populasi Teripang Pradina Purwati; Sigit A. P. Dwiono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.174 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.37-42

Abstract

Konservasi biota yang tingkat pemanfaatannya sangat tinggi memerlukan pengaturan penangkapan dan sekaligus pemulihannya. Ukuran populasi teripang yang terus menerus dipanen akan menurun dan pada gilirannya mengurangi peluang keberhasilan reproduksi aseksual. Oleh karena itu jumlah minimal individu teripang di suatu habitat harus dipertahankan. Di Indonesia, saat ini teripang semakin sulit ditemukan karena sediaannya di alam terbatas. Produksi benih melalui kegiatan pembenihan belum dapat diandalkan karena jumlah juvenil yang dihasilkan masih sedikit. Sementara itu, beberapa jenis teripang memiliki kemampuan untuk berkembang biak secara aseksual dengan membelah did (fission). Sejak akhir tahun 1990 kemampuan ini mulai diteliti sebagai alternatif teknik memperbanyak individu teripang. Tulisan ini akan membahas perkembangan teknik perangsangan reproduksi aseksual, mengevaluasi kelebihan dan kekurangan reproduksi aseksual dibandingkan seksual serta kemungkinan penerapannya untuk pemulihan populasi. Kata kunci : teripang, reproduksi aseksual, pemulihan.
Morfometri dan Perkembangan Gonad untuk Pendugaan Ukuran Kematangan Seksual pada Rajungan (Portunus pelagicus) Ali Djunaedi; Sunaryo Sunaryo; Dyah Rahmawati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.407 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.31-36

Abstract

Dalam rangka pengelolaan sumberdaya rajungan, penelitian tentang morfometri dan perkembangan gonad telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pendugaan kematangan seksual rajungan (Portunus pelagicus). Pengukuran karakteristik morfblogi, seperti: lebar karapas, lebar capit, panjang capit, dan panjang daktilus yang dapat bergerak dan lebar abdomen serta pengamatan perkembangan gonad telah dilakukan. Estimasiukuran kematangan morfometri dilakukan dengan metode smooth spline. Sedangkan, estimasi ukuran kematangan fisiologi dilakukan dengan memplotkan data perkembangan gonad pada fungsi logistik. Hasil penelitian menunjukkan kematangan seksual morfometri dan fisiologi pada rajungan jantan maupun betina dicapai secara bersamaan yaitu pada rajungan jantan masing-masing pada ukuran lebar karapas 81 mm dan 86,36 mm dan pada rajungan betina masing-masing dicapai pada ukuran karapas 87 mm dan 91,25 mmKata kunci: Portunus pelagicus, morfometri, perkembangan Gonad, kematangan seksual
Arsenic Contamination of the Coastal Aquifers in the North Coast of Java, Indonesia Chrisna Adhi Suryono; Agus Sabdono; Bhaskoro Rochaddi; B. Tyas Susanti
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.823 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.25-30

Abstract

A study was conducted to assess the Arsenic (As) metal contamination of the shallow aquifers in Jakarta, Semarang, and Surabaya city of Java and its relation to the highly developed industrial and domestic activities in the coastal region. Arsen was assayed in the waters of 30 wheals throughout the terrestrial cities, in residential zones using Atomic Absorption Spectrophotometer technique. The mean and standard deviation of As in Jakarta, Semarang and Surabaya were 17.19± 19.08, 1.78 ±2.28 and 0.59 ± 0.26 μgL-1, respectively.The r As concentration of groundwate shows in correlation with Fe significantly. The levels of As in some investigated three Indonesian metropolis cities were below the maximum allowable concentrations of metals recommended by Indonesian Drinking &. Domestic Water Quality Standard for Ground Water and WHO's (World Health Organization) Guideline Values for Drinking Wate, except for station 6 of Jakarta were concentration 59,65 μgL-1
Seleksi Potensial Bakteri Laut dari Perairan Pulau Panjang Sebagai Agen Pengendali Hayati Penyakit Vibriosis pada Budidaya ikan dan Udang Wilis Ari Setyati; Subagiyo Subagiyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3868.676 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.57-60

Abstract

Penelusuran bakteri laut yang berasal dari perairan pulau panjangyang mempunyai aktivitas antagonis terhadap beberapa jenis bakteri Vibrio penyebab vibriosis pada ikan dan udang bertujuan untuk mendapatkan kandidat bakteri sebagai agen pengendali hayati penyakit vibriosis. Tolok ukur seleksi pada penelitian ini adalah kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri vibrio pathogen dan bersifat non patogenik terhadap ikan dan udang. Bakteri diisolasi dari sedimen dan air laut, rumput laut, lamun, karang keras dan karang lunak . Uji aktivitas antagonis terhadap bakteri patogen (V. harveyi, V. fluvialis, V. alginolyticus, V. parahaemoliticus, V. anguilarum) dilakukan dengan metode tusukan dan overlay. Hasil uji aktivitas antagonis didapatkan 15 isoiat aktif terhadap V. harveyi, 25 Isolat aktif terhadap V. parahaemoliticus, dan 9 isolat aktif terhadap V. anguilarum, dan 6 isolat aktif terhadap V. Fluvialis, dan tidak ditemukan isoiat aktif terhadap V. alginoliticus. Kata kunci: Vibrio-antagonistic bacteria, agen pengendali hayati, vibriosis.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue