cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan" : 8 Documents clear
Struktur dan Komposisi Mangrove di Pulau Kaledupa Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara Jamili Jamili; Dede Setiadi; Ibnul Qayim; Edi Guhardja
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.593 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.4.197-206

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, menguraikan struktur, dominasi vegetasi mangrove, zonasi, dan permudaan alami di Pulau Kaledupa Taman Nasional Wakatobi. Sampling vegetasi menggunakan metode transek garis dan metode plot. Data vegetasi mangrove diperoleh melalui pengamatan dari setiap plot. Untuk strata pohon, tiang dan sapihan, parameter yang diamati meliputi nama spesies, jumlah individu masing-masing spesies, dan ukuran diameter batang setinggi dada. Sedangkan untuk strata semai dihitung jumlah cacah individu masingmasing spesies. Data periode dan tinggi penggenangan pada saat air pasang, diukur pada  plot pengamatan setiap hari selama 30 hari. Dominasi vegetasi mangrove ditentukan dengan parameter nilai penting, zonasi dengan parameter kerapatan relatif, dan permudaan alami vegetasi  mangrove dianalisis  dengan menggunakan nilai kerapatan total semai setiap plot pengamatan. Hasil penelitian menemukan bahwa komunitas mangrove di Pulau Kaledupa pada strata pohon didominasi oleh spesies Bruguiera gymnorrhiza, strata tiang didominasi oleh spesies Rhizophora mucronata, dan pada strata sapihan dan semai didominasi oleh spesies Ceriops tagal. Zonasi  mangrove di Pulau Kaledupa terdiri atas empat  zona, yaitu Zona R. mucronata, R. apiculata, Ceriops tagal, dan C.decandra. Tinggi penggenangan air laut merupakan faktor pengendali terjadinya zonasi mangrove di Pulau Kaledupa. Spesies C.tagal dan C.decandra memiliki tingkat permudaan alami baik, sedangkan spesies R. mucronata, R.apiculata, B.gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, Sonneratia alba, dan Avicennia marina memiliki permudaan secara alami rendah. Kata kunci: Vegetasi mangrove, zonasi, struktur, komposisi  This research was aimed to describe the structure, dominance of mangrove vegetation, zonation,  and natural regeneration at Kaledupa Island of Wakatobi National Park. Sampling of vegetation used line transect and plot methods.  Data of mangrove vegetation was obtained through observation of each plot at all growth phases (trees, poles, sapling and seedling) covering species name, number of individual of each species, and size of the breast height diameter of stem. Data of water inundation at high tide was measured at each observation plot. Observation was conducted for 30 days. Dominance of mangrove vegetation was determined by importance value parameter, zonation by relative density parameter and natural regeneration by seedling density. Results of this research found that mangrove community at Kaledupa Island at trees stratum were dominated by species Bruguiera gymnorrhiza, poles stratum was dominated by species Rhizophora mucronata, and at sapling and seedling stratum were dominated by species Ceriops tagal. Mangrove zonation at Kaledupa Island consisted of four zones, that are R. mucronata, R. apiculata, C. taga, and C. decandra zone. Height of seawater inundation is controlling factor of formation of mangrove zonation at Kaledupa Island. Species C. tagal  and C. decandra had high level of natural regeneration, while species R.mucronata, R. apiculata, B. gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, Sonneratia alba, and Avicennia marina had low natural regeneration. Key words : mangrove, zonation, structure, composition
Pengaruh Aktivitas Wisata Bahari terhadap Kualitas Perairan Laut di Kawasan Wisata Gugus Pulau Togean Alimudin Laapo; Achmad Fahrudin; Dietriech G Bengen; Ario Damar
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.254 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.4.215-221

Abstract

Gugus pulau Togean memiliki potensi sumberdaya perairan yang dimanfaatkan untuk kegiatan wisata bahari. Peningkatan kunjungan turis pada periode tertentu menyebabkan aktivitas wisata dan kegiatan terkait meningkat, sehingga berpengaruh terhadap penurunan kualitas perairan dan obyek wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara musim kunjungan turis dalam setahun dengan perubahan yang terjadi pada beberapa parameter kualitas perairan laut di sekitar kawasan obyek wisata. Metode analisis yang digunakan adalah PCA (Principal Component Analysis) dan analisis IPL (Indeks Pencemaran lingkungan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kunjungan turis menyebabkan peningkatan nilai BOD5, COD, dan NH3 serta penurunan nilai DO di perairan. Nilai korelasi keempat parameter tersebut lebih tinggi pada bulan Nopember dibanding Juli, dan merupakan komponen parameter pembentuk sumbu utama pertama di kedua musim. Peningkatan nilai kekeruhan, penurunan salinitas dan suhu pada bulan Nopember dibanding bulan Juli karena terkait dengan musim penghujan dan gelombang yang tinggi. Indeks pencemaran lingkungan perairan meningkat 21,05% selama musim puncak kunjungan turis, namun secara umum perairan gugus Pulau Togean masih dalam kategori belum tercemar. Kata kunci : kualitas perairan laut, aktivitas wisata, Gugus Pulau Togean  Marine resources of Togean Islands have been used for tourism activity. The increasing number of tourist in certain period every year has lead to increasing of tourism activity and its related activity. This condition probably effects sea water and habitat qualities. This research aim to studied correlation between tourist season in one year and the change of marine water quality parameters in tourism area. The data were analyzed using PCA (Principal Component Analysis) and EPI(environmental pollution index). The result showed that BOD5, COD, and NH3 increased while DO decrease during the peak season of tourism activity. The correlation value of those four parameters was relatively higher in November than in July.  Those parameters were the component that forms the main axis in both seasons. The increasing of turbidity and decreasing of salinity and temperature in November rather than in July were correlated with rainy season and high wave. Water pollution index increasing during peak season of tourism activity, but in general, marine water quality of Togean Islands can be categorized as good (not yet polluted) based on water pollution index. Key words: sea water quality, tourism activity, Islands Togean
Dampak Pemaparan Logam Berat Kadmium pada Salinitas yang Berbeda terhadap Mortalitas dan Kerusakan Jaringan Insang Juvenile Udang Vaname (Litopeneus vannamei) Ervia Yudiati; Sri Sedjati; Ipanna Enggar; Irpan Hasibuan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.139 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.4.29-35

Abstract

Uji toksisitas akut dilakukan pada juvenil udang vaname Litopenaeus vannamei dengan pemaparan jangka pendek (96 jam) berbagai konsentrasi logam kadmium. Uji statis digunakan sebagai teknik uji toksisitas. Tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis mortalitas dan kerusakan jaringan insang udang vaname yang didedah logam kadmium pada salinitas yang berbeda. Hasil peneltian menunjukkan toleransi udang vanamae terhadap logam kadmium menurun sejalan dengan penurunan tingkat salinitas. Tingkat toleransi yang rendah dan kerusakan jaringan terberat terjadi pada udang yang didedah pada salinitas 10 ppt (LC50 - 96 jam : 1,66 ppt Cd) diikuti berturut-turut salinitas 20 ppt (LC50 - 96 jam : 2,54 ppt Cd), 30 ppt (LC50 - 96 jam : 4,41 ppt Cd) dan  40 ppt (LC50 - 96 jam : 5,16 ppt Cd). Kata kunci : Kadmium, Mortalitas, Insang, Litopenaeus vannamei, salinitas Acute toxicity test was conducted on Litopenaeus vannamei on short term exposure (96 hours) to various concentration of cadmium at different salinity. A static test was applied as an acute toxicity test technique. The objective of this study was to assesst the mortality rate and the damage of gill tissue of L. vannamei exposed to cadmium at different salinity. Tolerance to these metal was decreased progressively according to the salinity level. The less tolerant salinity and the heaviest damage gill tissue was found at lowest salinity/10 ppt (96 h LC50 : 1.66 ppt Cd) and followed by 20 ppt (96 h LC50 : 2.54 ppt), 30ppt (96 h LC50 : 4.41 ppt), and 40 ppt (96 h LC50 : 5.16 ppt), respectively. Key  words : Cadmium, Mortality, Gill, Litopenaeus vannamei, salinity.
SST Retrieval Using AVHRR on Board NOAA-19 in the Seas Around Japan Anindya Wirasatriya; Hiroshi Kawamura; Futoki Sakaida
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.956 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.4.227-233

Abstract

The purpose of this study is to derive new Multi-Channel Sea Surface Temperature (MCSST) equations of AVHRR aboard NOAA-19, which was launched in February 2009.  Since the HRPT data transmitted from the satellite are directly received at the Tohoku University in Japan, the study area is the seas surrounding it.  Using in situ SSTs measured by drifting buoys, 2248 match-ups (1181 for daytime and 1067 for nighttime) are generated for September - November 2009. The daytime and nighttime match-ups are separated into a half for algorithm tuning and another half for validation.  Coefficients of MCSSTs are obtained for daytime and nighttime by applying multiple regression analysis to the match-ups, which consist of brightness temperatures of the AVHRR split-window channels and the in-situ SSTs. Validation using the independent match-ups shows that the retrieved daytime and nighttime SSTs have biases of 0.05 and 0.08°C and root mean square differences of 0.61°C and 0.55°C, respectively. Key words :  AVHRR, MCSST, NOAA-19, seas around Japan  Tujuan dari kajian ini adalah untuk memperoleh formula Multi-Channel Sea Surface Temperature (MCSST) baru dari AVHRR/NOAA-19 yang diluncurkan pada bulan February 2009. Karena HRPT data yang ditransmisikan dari satelit diterima di Universitas Tohoku, Jepang maka area kajiannya adalah perairan di sekitar Jepang. Dengan menggunakan pengukuran SST in-situ yang didapat dari drifting buouys , sebanyak 2248 match-up data (1181 untuk siang hari dan 1067 untuk malam hari) diperoleh dari data bulan September-November 2009. Kemudian match-up data tersebut dipisahkan menjadi 2 bagian, separuh digunakan untuk mendapatkan formula dan separuhnya lagi untuk validasi. Koefisien formula MCSST diperoleh menggunakan analisa multi regresi terhadap match-up data yang terdiri dari brightness temperature dari kanal AVHRR split window dan SST in-situ. Validasi menggunakan match-up data independen menunjukkan untuk siang hari nilai SST memiliki bias 0.05°C dan Root mean square differences (RMSD) sebesar 0.610C sedangkan untuk malam hari sebesar 0.08°C untuk bias dan 0.55°C untuk RMSD. Kata kunci : AVHRR, MCSST, NOAA-19, perairan Jepang
Transplantasi spons laut Petrosia nigricans Suparno Suparno; Dedi Soedharma; Neviaty Putri Zamani; Rachmaniar Rachmat
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.988 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.4.234-241

Abstract

Spons merupakan hewan laut yang dapat menghasilkan senyawa bioaktif yang bermanfaat sebagai antibiotik, antijamur, anti virus, anti kanker, anti inflamasi, dan antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup spons Petrosia nigricans yang ditransplantasikan  pada kondisi perairan yang berbeda. Metode transplantasi spons yang dipakai adalah fragmentasi (menanam potonganpotongan spons). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan kelangsungan hidup spons dipengaruhi oleh perbedaan kualitas lingkungan perairan di Pulau Pari dan Pramuka. Rata-rata  pertumbuhan mutlak spons Petrosia nigricans pada kedalaman 7m dan 15m di Pulau Pari masing-masing sebesar 793.26 cm3, 936.60 cm3 dan di Pulau Pramuka sebesar 493.19 cm3,  dan 590.02 cm3. Rata-rata kelangsungan hidup spons Petrosia nigricans berkisar 90 - 100%. Kata kunci : Pertumbuhan, kelangsungan hidup, transplantasi, Petrosian nigricans Sponges are marine organisms which known to be able to produce bioactive metabolite as antibiotic, antifungal, antivirus, anticancer, antiinflammation, antioxidant. The aim of the research is to determine growth and survival rate of sponge Petrosia nigricans transplanted in different waters condition. Sponge transplantation use fragmentation method (by plant fragment of sponge). The result shows that growth and survival rate of sponge affected by defferences of waters quality in Pramuka and Pari Islands. Average of absolut growth  sponge Petrosia nigricans on 7m and 15m depth in Pari Island are 793.26 cm3, 936.60 cm3 respectively and In Pramuka Island are 493.19 cm3, 590.02 cm3 respectively. Average of survival rate sponge Petrosia nigricans is 90 -100 %. Key words : growth, survival rate,  transplantation, Petrosian nigricans
Model Sebaran Penurunan Tanah di Wilayah Pesisir Semarang Aris Ismanto; Anindya Wirasatriya; Muhammad Helmi; Agus Hartoko; Prayogi Prayogi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.729 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.4.189-196

Abstract

Banjir rob merupakan fenomena bencana yang melanda daerah pesisir Kota Semarang sejak 30 tahun terakhir yang sampai saat ini belum dapat tertanggulangi dan bahkan semakin meluas. Penyebab utama timbulnya banjir rob adalah terjadinya penurunan tanah yang dapat mencapai + 15 cm/tahun. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan informasi yang akurat mengenai penurunan tanah yang terjadi, terutama mengenai zona sebaran penurunan tanah yang dikaitkan dengan penggunaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran spasial Penurunan Tanah di Pesisir Kota Semarang sehingga diharapkan bisa menjadi acuan bagi Pemerintah Kota Semarang dalam rangka penanggulangan banjir rob. Data spot height peta RBI dan hasil pengukuran lapangan dengan menggunakan DGPS digunakan dalam penelitian ini. Laju penurunan tanah dihitung berdasarkan perbedaan ketinggian wilayah pada saat ini dengan ketinggian wilayah pada spot height peta RBI, tahun 2001. Data citra satelit IKONOS yang didownload dari Google Earth digunakan untuk mengetahui penggunaan lahan eksisting. Pengolahan data dilakukan berbasis Sistem Informasi Geografis dengan menggunakan tool Spatial Analyst pada software Arc GIS 9.1. Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa Kota Semarang  mempunyai luas 17.073,23 ha dan laju penurunan tanah <1 cm/thn terjadi seluas 3.355,93 ha (19,7%); 1,1-4 cm/thn seluas 6.515,77 ha (38,2%), 4,1-8 cm/thn seluas 5.048,51 (29,6%); 8,1-12 cm/thn seluas 1.685,6 ha (9,9%); dan 12,1-15 cm/thn seluas 467,45 ha (2,7%). Penurunan tanah tersebut menyebar secara spasial di Kecamatan Genuk (8.1-15 cm/th) dan Semarang Utara serta sebagian Semarang Barat (4.1-12 cm/th). Kecamatan Tugu memiliki tingkat penuruan tanah yang relatif rendah, yaitu kurang dari 1 cm/th. Kata kunci: Semarang, Banjir Rob, Penurunan tanah, Since the last 30 years, Tidal flood hazard in the Semarang Coastal Area has never been clearly solved and even getting worse time to time. Most possible cause of this tidal flooding is believed land subsidence which reaches up to 15cm/year. Accurate information of land subsidence distribution, in relation to land use, is therefore needed to ease this flooding problem. The study is aimed to identify spatial distribution of land subsidence in Semarang coastal area which hopefully can be used as scientific reference for Semarang City Government on solving this tidal flooding problem. A spot height data of Indonesian Land Surface (RBI) map was used as the main information of the study collaborated with comprehensive field measurement using DGPS. Land subsidence rate was then calculated as differences between actual height of the location with spot height indicated on 2001 RBI map. An IKONOS satellite image of the same spot was then used to determine existing land use of the area. The dara were processed using a GIS-based analysis ‘Spatial Analyst’ of ArcGIS 9.1. The result showed that among total of 17.073,23 ha of the study area 3.355,93 ha (19,7%) has rate of land subsidence of <1cm/year, 6.515,77 ha (38,2%) of 1.14cm/year, 5.048,51 ha (29,6%) of 4.1-8cm/year, 1.685,6 ha (9,9%) of 8.1-12cm/year and 467,45 ha (2,7%) of 12.1-15cm/year. Spatial distribution of land subsidence in Semarang is spreading in Genuk (8.1-15 cm/th), North Semarang and West Semarang District (4.1-12 cm/th). Land subsidence in Tugu District is relatively lower, that is less then 1 cm/th. Key words: Semarang, tidal flood, land subsidence,
Indeks Kerentanan Pulau-Pulau Kecil : Kasus Pulau Barrang Lompo-Makasar Amiruddin Tahir; Mennofatria Boer; Setyo Budi Susilo; Indra Jaya
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12638.073 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.4.183-188

Abstract

Indonesia adalah negara kepulauan yang diperkirakan akan mengalami ancaman dampak pemanasan global dan kenaikan muka laut.  Pemanasan global juga akan meningkatkan kerentanan pulau-pulau kecil.  Kajian kerentanan pulau-pulau kecil merupakan bagian dari pengelolaan pulau-pulau kecil berkelanjutan.  Penelitian ini bertujuan untuk menghitung serta memproyeksikan kerentanan pulau-pulau kecil,  dan menyusun strategi adaptasi pulau-pulau kecil.  Penelitian dilakukan di Pulau Barrang Lompo-Makasar pada Bulan Nopember 2009. Prinsip dasar analisis data adalah mentransformasikan data lapang (kuantitatif dan kualitatif) ke dalam nilai skor untuk menghitung indeks kerentanan pulau. Indeks kerentanan Pulau Barrang Lompo adalah 8,33 (kategori sedang) dengan perubahan parameter kenaikan muka laut dan perendaman pada 2 tahun ke depan.  Elevasi dan kemiringan Pulau Barrang Lompo sangat rendah, dan pada tahun 2100 diperkirakan lebih dari 80 % daratan pulau ini terendam.  Strategi adaptasi yang diusulkan adalah pengembangan konservasi laut sekitar 50 % dari habitat pesisir, pembangunan bangunan pelindung pantai dan relokasi pemukiman penduduk. Kata kunci: pulau-pulau kecil, kerentanan, indeks.  Indonesia consist of many islands, especially small islands. Small islands are vulnerable to the impact of global warming and sea level rise. Small islands vulnerability assessment is part of the sustainability small island management.  The research aims to formulate the small islands vulnerability index, to simulate and to predict the vulnerability dynamic of small islands, to develop adaptation strategies of small islands. The research conducted on Barrang Lompo Island located in Makasar on Nopember 2009.  Data collection through observation, measurement, and depth interview.  The principle of data analysis is by means of transformation of quantitative and qualitative data into scoring value to produce the small island vulnerability index.  The results showed that vulnerability index for Barrang Lompo Island is 8.33 (moderate), coastal inundation until 2100 reach 80 % of the land area.  The suggested adaptation strategies are conservation of 50 % of coastal habitat, sea wall construction and resettlement. Key words: Small island, vulnerability, index.  
Composition of Skipjack Tuna (Katsuwonus pelamis L) Taken by Commercial Fishery from the Northeastern Waters of Indonesia R. Sala
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.444 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.4.207-214

Abstract

The objectives of this study are to detect the changes in size composition of skipjack tuna, and to examine any association that may exist between skipjack tuna and other tunas taken from the northeastern Indonesian waters. Data were collected through a field survey by taken samples of catch of commercial fisheries in the study areas. Results of the study revealed that size composition of skipjack taken by pole-and-liners tended to be stable over the observation periods and was dominated by size class larger than 2.5 kg. However, there was a tendency of domination of skipjack for size class less than 1 kg, particularly taken by Bitung’s purse-seiners fishing around North Sulawesi water. It was also revealed that skipjack taken by the commercial fishery show a strong association with other tuna, especially yellowfin tuna. Key words : skipjack, size composition, commercial fishery, northeastern waters of Indonesia  Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan komposisi ukuran cakalang yang tertangkap dan asosiasi yang mungkin ada antara cakalang dan tuna yang lain pada hasil tangkapan di kawasan utara perairan Indonesia bagian timur. Data penelitian ini diperoleh melalui survey lapangan dengan mengambil sampel hasil tangkapan dari perikanan komersial di lokasi penelitian. Dari hasil penelitian ini terungkap bahwa komposisi ukuran cakalang yang tertangkap oleh huhate (pole-and-liner) cenderung stabil dan didominasi oleh ukuran lebih besar dari 2,5 kg. Akan tetapi untuk cakalang yang tertangkap oleh pukat cincin didominasi oleh ukuran yang kurang dari 1 kg, terutama yang tertangkap di perairan sekitar Sulawersi Utara. Hasil penelitian ini juga mendapatkan adanya korelasi yang erat antara ikan cakalang dan tuna ekor kuning yang tertangkap oleh perikanan komersial. Kata kunci : cakalang, komposisi ukuran, perikanan komersial, perairan bagian utara kawasan timur Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue