cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan" : 7 Documents clear
Asosiasi Krustasea di Ekosistem Padang Lamun Perairan Teluk Lampung Rianta Pratiwi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1505.527 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.2.66-76

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat interaksi fauna krustasea yang berassosiasi dengan ekosistem padang lamun. Penelitian dilakukan dengan menarik jaring menggunakan beach seine dan koleksi bebas menyusuri pantai. Data yang diambil dari penelitian ini adalah data krustasea dan data pendukung  lingkungan (suhu, pH dan salinitas). Analisa data meliputi kepadatan krustasea, indeks keranekaragaman (H’), keseragaman (E), dominansi (C), pola penyebaran (indeks morisita) dan asosiasi krustasea dengan habitatnya (lamun). Hasil penelitian menunjukkan parameter lingkungan perairan di habitat lamun relatif baik untuk kehidupan krustasea dan lamun. Hasil Beach Seine diperoleh 310 individu krustasea yang terdiri dari 15 suku dan 57 jenis. Kepadatan krustasea di setiap lokasi berbeda-beda. Pola penyebaran krustasea cenderung lebih banyak mengelompok daripada acak. Indeks keseragaman cukup tinggi yang menggambarkan bahwa penyebaran individu relatif sama. Indeks dominansi pada penelitian ini termasuk rendah. Stasiun-stasiun tertentu memiliki kesamaan parameter suhu, pH, salinitas dan jenis krustaseanya. Dengan diperolehnya data keanekaragaman dan pola sebaran krustasea di ekosistem lamun pengamatan secara periodik perlu dilakukan karena krustasea merupakan salah satu rantai makanan dalam ekosistem dan dapat dimasukkan sebagai kriteria bagi konsep kebijakan pengelolaan kawasan pesisir Teluk Lampung. Kata kunci : Krustasea, asosiasi, keanekaragaman, padang lamun, Teluk LampungThis aims of this study is to see the interactions of crustacean fauna that live associated in seagrass beds. The study was conducted by using a Beach Seine net and free collection along the coast. Analyzed data from crustaceans and data of environmental parameters (temperature, pH and salinity). The data analysis included the density of crustaceans, diversity index (H'), similarity index (E), dominance index (C), the pattern of spread (index morisita) and crustaceans associated with habitat (seagrasses). The results from Beach Seine obtained 310 individual crustaceans consisting of 15 family and 57 species. The results showed the water environmental parameters in seagrass habitats are relatively good for the life of crustaceans and seagrass. Crustacean density at each location is different. The pattern of spread of crustaceans tend to be more clumped than random. Similarity index high enough to illustrate that the distribution of the individual were relatively the same. Dominance index was low in this research. Certain stations have the same parameters of environmental conditions (temperature, pH and salinity) and the species of  crustacean. By obtaining data diversity and distribution patterns of crustaceans in seagrass ecosystems more rightly should be periodically examined, because crustacean is one of the food chain in the ecosystem. Thus, this aspect should be included as a criterion for the concept of coastal area management policies in Lampung Bay. Key words: Crustacea, association, diversity, seagrass beds, Lampung Bay.
Aktivitas Inhibitor Protease dari Ekstrak Karang Lunak, Asal Perairan Pulau Panggang Kepulauan Seribu Tati Nurhayati; Muhammad Fikri; Desniar Desniar
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1308.369 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.2.59-65

Abstract

Beberapa komponen bioaktif dihasilkan oleh karang lunak, salah satunya inhibitor protease. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan karang lunak yang berpotensi sebagai penghambat aktivitas kerja enzim protease (inhibitor protease) pada beberapa bakteri patogen penghasil enzim protease serta mengetahui Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dari ekstrak karang lunak tersebut.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelarut metanol  lebih  potensial  untuk  mengekstrak  inhibitor  protease  dari  karang  lunak.  Karang  lunak  jenis Sarcophyton sp. dan Sinularia sp. mampu menghambat 100% aktivitas protease bakteri Staphylococus aureus dengan MIC 0,04% lebih kecil dari pada MIC EDTA (0,16%), sedangkan Xenia sp. menghambat protease bakteri S. aureus dengan MIC 0,08%. Karang lunak Nephthea sp. menghambat protease bakteri Pseudomonas aeruginosa dengan MIC 0,28%. Kata kunci : inhibitor protease, karang lunak, MIC Several bioactive compounds were produced by soft corals, including protease inhibitor.The aim of this study was to obtain softcorals which potency as inhibitor toward protease enzyme activity on pathogenic bacterial that produced protease enzyme and to study Minimum Inhibitory Concentration (MIC) from the softcorals. This research shown that ethanol is more potential for extracting protease inhibitor from softcorals. Sarcophyton sp. and Sinularia sp. are capable of inhibiting protease enzyme activity against Staphylococus aureus as 100% by MIC 0.04%, while that EDTA had MIC toward the protease as 0.16%.  Xenia sp. was capable of inhibiting protease from S. aureus by MIC 0.08%.  In the otherhand Nephtea sp. inhibited protease from Pseudomonas aeruginosa by MIC 0.28%. Key words: protease inhibitor, soft coral, MIC.
keanekaragaman Jenis Ekhinodermata di Perairan Likupang, Minahasa Utara, Sulawes Utara Eddy Yusron
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.971 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.2.85-90

Abstract

Penelitian ekhinodermata di perairan Likupang, Minahasa Utara telah dilakukan pada bulan Juni dan Agustus 2008 di tiga stasiun. Pengambilan contoh biota dilakukan dengan menggunakan transek kuadrat ukuran 1m x 1m2. Dari hasil penelitian pada tiga lokasi didapatkan 28 jenis fauna ekhinodermata yang mewakili 7 jenis Holothuroidea, 9 jenis Echinoidea, 6 jenis Asteroidea dan 6 jenis Ophiuroidea. Kelompok Bulu babi atau Echinoidea merupakan kelompok yang paling menonjol untuk daerah lamun. Berdasarkan hasil transek yang dilakukan di tiga stasiun yang diamati, ternyata bahwa kelompok Bulu babi (Echinoidea) menempati tingkat kekayaan jenis relatif tinggi. Analisa kuantitatif memperlihatkan nilai indek diversitas tertinggi di Tiwoho stasiun 2 (H=1,380), nilai indek kemerataan tertinggi terdapat pada Lokasi Wolu stasiun 1 (J=0,900) dan nilai indek kekayaan jenis tertinggi didapatkan pada Lokasi Wolu stasiun 1 (D=13,377). Secara umum baik dalam jumlah jenis ataupun jumlah individu, fauna ekhinodermata di perairan Likupang, Minahasa Utara lebih miskin bila dibandingkan dengan di Perairan Tanjung Pai, Padaido Biak. Tujuan penelitian ini untuk melihat komposisi jenis, struktur komunitas, zonasi dan sebaran lokal. Kata kunci: Ekhinodermata, Keanekaragaman, Darunu,  Minahasa Utara. Observation on echinoderm diversity was carried out at coastal waters of three stasion of, June and Augustus 2008. The Purpose of the present study was to analyse species composition, community structure, zonation, and spatial distribution of echinoderm.Sampling was done by using a transect quadrant of 1 m x 1 m2. The results at July showed that at both locations 28 species of echinoderms, belonging to of 7 species holothuroidea, 9 species of echinoidea, 6 species asteroidean and 6 specis ophiuoroidea. The echinoidea were relatively common in the sea gras  zone. On the basis of population density, echinoidea was the dominant group and relatively highest in the individual density. The quantitative analysis on the abundance data revealed the highest diversity index of faunal assemblage at Tiwoho stasion 2 (H = 1,380) , the highest evenness index was exhibited by the echinoderms from Wolu stasion 1 (J = 0,900), while the highest species richness was represented by them from Wolu stasion 1 (D = 13,377). In general the number of species of echinoderm fauna in the Likupang Bay is smaller than that in the Padaido islands. The purpose of the present study was to see species composition, structure, zonation and spatial distribution of echinoderm. Key words: Echinoderm, Diversity, Darunu, West Minahasa.
Wind-driven Coastal Upwelling Along South of Sulawesi Island Abdullah Habibi; Riza Yuliratno Setiawan; Akhmad Yusuf Zuhdy
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4443.295 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.2.113-118

Abstract

The sea in the vicinity of south of Sulawesi Island (SSI) is influenced by monsoon winds. The present observation shows that coastal upwelling in the region is a dominant process leading to high chlorophyll-a (Chl-a) concentration during southeast (SE) monsoon season. Southeasterly monsoon winds are responsible for the upwelling formation.The objective of the reseach was to describe the wind-driven upwelling occurrence.  The bloom increases gradually, starting in May and climbing up to peak value (1.1 mg/m3) in August, then weakens in September. By utilizing a combination of satellite data of sea surface wind vector, sea surface temperature (SST), and surface Chl-a, the physical mechanism of the coastal upwelling in the SSI is investigated. Keywords : coastal upwelling, satellite remote sensing, wind speed, SST, Chl-a, south of Sulawesi island. Perairan  di  sekitar  selatan  Pulau  Sulawesi  dipengaruhi  angin  monsoon.  Observasi  menunjukkan  bahwa upwelling pantai di perairan tersebut merupakan proses dominan yang menyebabkan meningkatnya konsentrasi klorofil-a selama musim monsoon tenggara. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan kejadian wind-driven upwelling. Angin monsoon dari tenggara adalah penyebab terbentuknya upwelling. Konsentrasi klorofil-a naik secara bertahap, dimulai di bulan Mei dan mencapai maksimum (1.1 mg/m3) di bulan Agustus, kemudian berkurang  di  bulan  September.  Menggunakan  kombinasi  data  satelit  dari  angin  permukaan  laut,  suhu permukaan laut, Chl-a permukaan, mekanisme fisik dari upwelling pantai di perairan di selatan Pulau Sulawesi Kata kunci :  upwelling pantai, satelit penginderaan jauh, kecepatan angin, suhu permukaan laut, klorofil-a, selatan Pulau Sulawesi.
Effect of Reducing the Conventional Feeding Rate on Water Quality and Shrimp Production Variables in Penaeus monodon Shrimp Culture with Zero Water Exchange Model Using Molasses as Carbon Source Pohan Panjaitan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.759 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.2.77-84

Abstract

In aquacultureparticularly for fishes culture it was shown that the application of carbon had brought about good benefits in terms of water quality, fishes production variables and increase in bacterial biomass. Moreover,  bacterial biomass used to replace part of the feed requirement of fishes  resulting  a considerable cost  saving and the boasting profit for the farmer. Therefore, the aim of  this study was  to evaluate the  effects of  reducing  conventional feeding rate on water quality and shrimp production variables within Penaeus monodon shrimp culture with zero water exchange model using molasses. Study shows that using molasses with the level of C: N ratio = 20.0:1 at 75 % of conventional feeding rate is the most promising features of zero water exchange culture system because it offers  increased biosecurity, reduced feed costs, waste and water use. Keywords : Feeding rate, water quality, zero water exchange model, molasses Dibudidaya perairan terutama untuk budidaya ikan telah diperlihatkan bahwa penggunaaan karbon membawa manfaat dari sisi kualitas air, produksi ikan dan peningkatan dalam biomassa bakteri. Biomassa bakteri digunakan untuk mengantikan sebagian kebutuhan makanan ikan sehingga dapat menghemat biaya dan menguntungkan bagi petani. Tujuan studi ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh pengurangan jumlah pakan konvensional terhadap variable kualitas air dan produksi udang dalam budidaya udang Penaeus monodon dengan sistem tanpa pergantian air menggunakan molasses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan molasses dengan level ratio C:N = 20.0:1 dan pemberian pakan 75 % dari jumlah pakan konvensional merupakan pola yang sangat menjanjikan bagi system budidaya tanpa pergantian air sebab perlakuan tersebut dapat meningkatkan biosecurity, mengurangi biaya pakan, limbah dan penggunaan air. Kata kunci: Jumlah pakan,kualitas air,model tanpa pergantian air, molasses
Pengamatan Terhadap Mangroove yang Ditanam di Pesisir Utara, Pulau Jawa Bagian Barat Wahyu Budi Setyawan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6621.729 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.2.91-102

Abstract

Kegiatan penanaman mangrove yang gagal banyak dijumpai di kawasan pesisir utara Pulau Jawa. Untuk memperbaiki keadaan tersebut maka perlu diteliti praktek penanaman yang telah dilakukan sehingga dapat diketahui penyebabnya. Penelitian mengenai aktifitas penanaman mangrove di beberapa lokasi di kawasan pesisir utara Pulau Jawa Bagian Barat (Serang, Indramayu, Cirebon dan Tegal) telah dilakukan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penanaman mangrove di lokasi penelitian sebagian besar dilakukan di tepi pantai yang bersifat erosional dan di habitat yang tidak sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan mangrove, seperti di rataan erosional, endapan lumpur temporer, endapan pasir atau lahan berpasir, dan areal persawahan, sehingga menyebabkan kegagalan upaya penanaman mangrove yang ditunjukkan dengan kematian benih yang ditanam.Kata Kunci : Penanaman Mangroove, Erosi Pantai, Morfologi Pantai, Proses Pantai, Manajemen Wilayah Pesisir Unsuccess mangrove planting activities were found at many places at Western Part of Northern Java Island coastal zone. In order to uncover the problems, it is needed to study mangrove planting practices. Field examination on mangrove planting practices had been done at north coast of western part of Java. This paper provide finding of field works examination on mangrove planting activities at Serang, Indramayu, Cirebon and Tegal coastal areas, and evaluate the condition of the activities results theoretically. Field exanimation at those coastal areas showed that mangrove was planted at erosional coast and on habitat that unfavorable for mangrove growth and development, such as erosional platform, temporary mud deposits, sand deposits or sandy land, and rise field. Consequence of the condition is that the mangrove planting activities become fail due to the death of mangrove seedling. Key words: mangrove planting, coastline erosion, coastal morphology, coastal processes, coastal zone management.
Respon Fisiologi Benih Ikan Kerapu Macan Epinephelus fuscoguttatus Terhadap Penggunaan Minyak Sereh dalam Transportasi Tertutup dengan Kepadatan Tinggi Eddy Supriyono; Budiyanti Budiyanti; Tatag Budiardi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1509.777 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.2.103-112

Abstract

Ikan Kerapu Macan merupakan salah satu komoditas ikan air laut yang cukup digemari oleh masyarakat dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Masalah yang sering dihadapi oleh petani adalah sulitnya mendapatkan benih ikan kerapu yang cukup baik karena jarak antara tempat pembesaran dan tempat pembenihan relatif jauh. Oleh karena itu dibutuhkan teknologi yang tepat yang dapat mengangkut ikan dalam waktu yang lama, tingkat kelangsungan hidup yang tinggi serta kondisi fisiologi ikan pasca pengangkutan yang tetap baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak penggunaan minyak sereh terhadap respon fisiologi berupa gambaran darah, histologi jaringan dan pertumbuhan serta kelangsungan hidup  benih ikan kerapu macan dengan ukuran panjang rata-rata 7 cm dan berat rata-rata 4,02 gram yang diangkut di dalam sistem tranportasi tertutup dengan kepadatan tinggi selama 56 jam. Rancangan acak lengkap digunakan dengan 4 perlakuan, yaitu tanpa minyak sereh (Kontrol) minyak sereh 10, 20 dan 30 mg/L dengan 2 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan minyak sereh 10 mg/L lebih baik dibandingkan perlakuan yang lain, baik dilihat dari kualitas air dengan nilai Total Ammonia Nitrogen (TAN) terendah  6,459±1,290 mg/L, CO2 32,561±6,498 mg/L, maupun dari kondisi fisiologi berupa kadar glukosa 50,375±28,390 mg/dl, nilai gambaran darah berupa sel darah merah 1,28x106 sel/mm3, sel darah putih 2,60x104 sel/mm3, N:L (Netrofil:Limfosit) rasio 0,41% yang mendekati nilai kondisi ikan normal,  kondisi histologi berupa  tingkat kerusakan insang yang paling rendah  dan nilai SR tertinggi 97,5% serta laju pertumbuhan 1,33%. Kata kunci: kerapu macan, minyak sereh, respon fisiologi, transportasi tertutup, kepadatan tinggi Tiger Grouper is one of marine fish commodities well-loved by the community and have high economic value. The problem often faced by grouper farmers is the difficulty to obtain the good seed because the distance between the place where the hatchery rearing and relatively remote. Therefore, it needs a proper technology to transport the fish for a long time, the survival rate is high and the condition of post-transport physiology of fish that remain good. This study was aimed to evaluate the impact of the use of citronella oil on the physiological responses of the juvenile tiger grouper with emphasized on the evaluation of blood characteristics, histophatological change, growth and survival rate of the fish.  The fish with an average length of 7 cm and an average of 4,02 grams in weight which are transported in high density of sealed transportation system for 56 hours. Completely randomized design (CRD) was applied with 4 treatments (Without citronella oil (K/Control), 10, 20, 30 mg/L of citronella oil respectively and 2 replications. The results showed that application of 10 mg/L of citronella oil was better than the other concentration, in terms of water quality with low Total Ammonia Nitrogen (TAN) value 6.459 ± 1.290 mg/L, CO2 32.561 ± 6.498 mg/L, and the physiological conditions  such as glucose level was  50,375 ± 2.390 mg/dL , red blood  cell  value was 1,28x106 mm3, leucocyte  value was 2,60x104 mm3, N: L ratio was 0.41%, the lowest gill damage and the highest survival rate and growth rate ; those conditions were  close to the normal fish. Key words:    juvenile tiger grouper, citronela oil, physiological responses, sealed transporatation system, high density

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue