cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan" : 8 Documents clear
Pengaruh Pemberian Berbagai Kombinasi Pakan Alami pada Induk Udang Windu (Penaeus monodon Fab.) Terhadap Potensi Reproduksi dan Kualitas Larva Haryati Haryati; Zainuddin Zainuddin; Muchlis Syam
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.738 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.3.163-169

Abstract

Percobaan dilakukan untuk mendeterminasi pengaruh berbagai kombinasi pakan alami terhadap penampilan reproduksi induk udang windu (Penaeus monodon Fab.) local (dari perairan Siwa) dan membandingkan potensi reproduksi induk udang windu local dengan yang berasal dari Aceh.  Pakan percobaan terdiri dari 50% cumi-cumi dan 50% cacing laut (D1), 30% cumi-cumi, 30% cacing laut dan 40% kerang (D2) , 30% cumi-cumi, 30% cacing laut dan 40% rajungan (D3) serta kombinasi antara cumi-cumi, cacing laut, kerang dan rajungan masing-masing 25% (D4). Potensi reproduksi dievaluasi berdasarkan fekunditas dan daya tetas telur, sedangkan kualitas larva dievaluasi berdasarkan tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan dari stadia nauplii-1 ke stadia zoea-1. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa  fekunditas, daya tetas dan pertumbuhan larva yang berasal dari induk yang diberi pakan kombinasi antara cumi-cumi (50%) dan cacing laut (50%) adalah yang paling tinggi, diikuti oleh cumi-cumi (30%), cacing laut (30%) dan kerang (40%).  Tingkat kelangsungan hidup larva tidak dipengaruhi oleh pakan yang pakan percobaan.  Potensi reproduksi dan kualitas larva induk udang windu local dan yang berasal dari Aceh yang diberi pakan yang sama yaitu 50% cumi-cumi dan 50% cacing laut nampak identik.Kata kunci: Induk udang windu, kombinasi pakan, penampilan reproduksi. Experiments were conducted to determined the effect of various natural diet combination on reproductive performance of local prawn (Penaeus monodon Fab.) broodstock (from Siwa waters) and  to comparing  the potential reproduction of local and Aceh prawn broodstock.  Experimental diet  consisted of 50% squid and 50% sea worm (D1), 30% squid, 30% sea worm and 40% mussels (D2), 30% squid, 30% sea worm and 40% swimming crab (D3), and combination between squid,  sea worm, mussels and swimming crab 25% for each other  (D4). The potential reproduction  were evaluated based on the fecundity and  hatchability,  and larval quality were evaluated based on survival rate and growth from nauplii-1 to zoea-1.  The research indicated that fecundity, hatchability and growth of larvae from broodstock fed combination between squid (50%) and sea worm (50%) diet was higher and following by broodstock fed combination between  squid (30%), sea worm. (30%) and mussels (40%).   Survival rate of larvae not affected by the test diets.  Identical  reproduction potential and larvae quality of local and Aceh prawn broodstock with the same food combination (50%) squid and sea worm  (50%) was showed. Key words: Black tiger broodstock,diet combination, reproductive performance.
Pengaruh Aplikasi Probiotik Terhadap Laju Sintasan dan Pertumbuhan Tokolan Udang Vanamei (Litopeneus vannamei), Populasi Bakteri Vibrio, serta Kandungan Amoniak dan Bahan Organik Media Budidaya Ervia Yudiati; Zaenal Arifin; Ita Riniatsih
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.335 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.3.153-158

Abstract

Peningkatan kadar amoniak dan bahan organik pada media budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik pengoksidasi amoniak dan bahan organik terhadap laju sintasan hidup dan pertumbuhan tokolan udang vaname, populasi bakteri vibrio serta kandungan amoniak dan bahan organic media budidaya. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental laboratories dengan empat perlakuan yaitu perlakuan pemberian 1 ppm  probiotik A (Nitrosomonas eutorpha MPN-8.2, dan Nitrobacter winogradskyi MPN-2), pemberian 0,1 ppm probiotik B (Paracoccus pantotrophus SB 3056 1,5x109cfu/g dan Bacillus megaterium SB 3112 2,5x109cfu/g), pemberian campuran probiotik A dan probiotik B dengan dosis masing masing 1 ppm  dan 0,1 ppm  serta control (tanpa probiotik). Tiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Kandungan amoniak dan bahan organik dalam air diukur  pada hari ke 0, 15 dan 30. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian probiotik A, B dan campuran probiotik A dan B berpengaruh : meningkatkan sintasan hidup tokolan udang vanamei yaitu berturut-turut (96%+3,05), (96,66+2,08)%, dan (97,33+1,25)% sedangkan kontrol (90,66 +3,30)%. (2) menurunkan populasi bakteri pathogen Vibrio, serta (3)menurunkan kadar amoniak dan bahan organik.Kata kunci: Litopenaeus vannamei, probiotik, amoniak, total bahan organic, sintasan The enhancement of ammonia and total organic matter level in water medium of vannamei’s (Litopenaeus vannamei) grow out  is one of the major problem.The aims of this research is to find out the effect of survival rate and growth in  vaneme’s juveniles by probiotic addition  This research was done by experimental laboratory with four treatments i.e.  A = juveniles + 1 ppm (Nitrosomonas eutorpha MPN-8.2, and  Nitrobacter  winogradskyi MPN-2 ), B = juveniles + 0,1 ppm (Paracoccus pantotrophus SB 3056 1.5x109cfu/g and Bacillus megaterium SB 3112 2.5x109cfu/g), C = juveniles + 1 ppm (Nitrosomonas eutorpha and Nitrobacter  winogradskyi) + 0,1 ppm (Paracoccus pantotrophus and Bacillus megaterium) and K= juveniles without probiotic addition, respectively. These treatments were replicated in three times. The measurements was regularly done by considering the culture condition. The result shows that those probiotic treatments give the better survival rate i.e. A(96%+3.05), B=(96,66+2.08)%,  C=(97,33+1.25)%  when  caompared  to  the  controle (90.66+3.30)%.  Furthermore,  the pathogenic Vibrio population of probiotic treatments were low when compared to the control. The level of total ammonia and organic matter in control was higher than the probiotic treatments. Key words: Litopenaeus vannamei, probiotics, ammonia, total organic matter
Kandungan Merkuri dan Sianida pada Ikan yang Tertangkap dari Teluk Kao, Halmahera Utara Domu Simbolon; Silvanus Maxwel Simange; Sri Yulina Wulandari
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.978 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.3.126-134

Abstract

Aktivitas penambangan emas di sekitar Teluk Kao berdampak positif terhadap pendapatan daerah Kabupaten Halmahera Utara. Namun, penggunaan merkuri (Hg) dan sianida (CN) dalam proses ekstraksi emas dapat menimbulkan  pencemaran  perairan,  keracunan  dan  kematian  terhadap  sumberdaya  ikan.  Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui kandungan merkuri dan sianida pada tubuh ikan, dan menentukan tingkat kelayakan konsumsi ikan yang tertangkap dari Teluk Kao. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Data penelitian dikumpulkan dari bulan Maret-Juni 2010 di sekitar muara sungai tempat pembuangan limbah perusahaan penambangan emas Tanjung Taolas dan Akesone, di Teluk Kao. Sampel ikan yang diteliti adalah kakap merah, belanak, ikan biji nangka, dan udang. Analisis kandungan Hg dan CN pada tubuh ikan dilakukan di Laboratorium Produktivitas dan Lingkungan Perairan Institut Pertanian Bogor dengan menggunakan metode Atomic Absoption Spectrophotometry (AAS). Hasil penelitian menunjukkan kandungan Hg pada organ hati dari keempat jenis ikan sampel berkisar 0,13-0,51 ppm. Kandungan Hg pada organ hati lebih tinggi dibandingkan dengan organ daging yang berkisar 0,03-0,19 ppm. Kandungan Hg tertinggi pada hati ikan ditemukan pada ikan biji nangka (0,45-0,51). Kandungan CN pada organ hati lebih tinggi (6,0-18,0 ppm) dibanding dengan organ daging (4,2-8,5 ppm). Mengacu pada standar yang ditetapkan oleh WHO, maka ikan kakap merah dan belanak tidak layak dikonsumsi. Daging ikan biji nangka dan udang masih layak dikonsumsi maksimal 300 gram/hari. Kata kunci: merkuri, sianida, ikan konsumsi, Teluk Kao. Gold mining activities around the Kao Bay have a positive impact on regional income of North Halmahera. However, the use of mercury (Hg) and cyanide (CN) in the gold extraction process can cause water pollution, poisoning and death of fish resources. This study aims to determine the content of mercury and cyanide on the fish body, and determine the feasibility level of consumption of fish caught from the Kao Bay. This research used survey method. Data were collected from March-June 2010 near waste disposal around the estuary of the river of gold mining companies in Tanjung Taolas and Akesone, Kao Bay. Samples of fish were observed are red snapper, mullet, jack fruit fish, and shrimp. Analysis of the Hg and CN content in fish body was conducted in Productivity and Environmental Waters Laboratory, Bogor Agricultural University using Absoption Atomic Spectrophotometry (AAS) method. The content of Hg in four species of fish liver samples ranged from 0.13 to 0.51 ppm. The content of Hg in liver was higher than with the organ meats that range from 0.03 to 0.19 ppm.  The highest Hg content in fish liver found in jackfruit fish (0.45 to 0.51). CN content of the liver was higher (6.0 to 18.0 ppm) compared with muscle (4.2 to 8.5 ppm). Referring to the standards by WHO, the red snapper and mullet inedible (can not eat for consumption). Jackfruit fish and shrimp still worth consumed for a maximum of 300 grams / day. Key words: mercury, cyanide, fish consumption, Kao Bay.
Model Distribusi Data Kecepatan Angin dan Pemanfaatannya dalam Peramalan Gelombang di Perairan Laut Paciran, Jawa Timur Denny Nugroho Sugianto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2015.7 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.3.143-152

Abstract

Penelitian telah dilakukan di perairan Laut Paciran, Jawa Timur pada bulan Oktober 2009. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui model distribusi kecepatan angin dan pemanfaatannya untuk peramalan gelombang di perairan Laut Paciran, Jawa Timur. Data angin diperoleh dari stasiun pengukuran angin Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klas I Juanda Surabaya tahun 2007-2009, berupa data angin tiap jam. Pengolahan data angin dikelompokkan berdasarkan skala Beufort. Pengukuran tinggi dan periode gelombang menggunakan  Sontek  Argonaut  XR.  Peramalan  gelombang  menggunakan  data  angin  dilakukan  dengan menggunakan metode SMB dan Darbyshire. Hasil pengukuran data gelombang diperoleh hasil tinggi gelombang antara 3,2-82,9 cm dan periode gelombang 6,0 -7,9 detik, dari klasifikasi gelombang termasuk gelombang perairan transisi. Model distribusi data kecepatan angin menunjukkan bahwa untuk kecepatan angin kuat (1727 knot) pada musim barat durasinya antara 3-6 jam, sedangkan pada musim timur antara 1-4 jam. Dengan menggunakan metode SMB dan Darbyshire pada saat terjadi kecepatan maksimum pada musim Timur, tinggi gelombang mencapai 1,51 meter dengan periode 5,2 detik, sedangkan pada musim barat tinggi maksimum gelombang mencapai 2,4 meter dengan durasi 7 detik. Dari nilai MRE (mean relative error) data lapangan terhadap hasil peramalan dari data angin selama 3 tahun didapatkan nilai kesalahan relatif sebesar 0,3 34,32 % untuk tinggi gelombang dan 13,24 - 22,06 % untuk periode gelombang.Kata kunci: Distribusi kecepatan angin, gelombang, perairan laut Paciran, Jawa Timur The survey was conducted at Paciran East Java sea waters during October 2009. The purpose of this study to determine the wind speed distribution model and its use for forecasting waves in the sea waters Paciran, East Java. Wind data obtained from wind measurement stations Meteorology, Climatology and Geophysics (BMKG) Class I Juanda Surabaya in 2007-2009, in the hourly wind data. Wind data grouped by Beufort scale for processing. Height and wave period measured using Sontek Argonaut XR. Wave forecasting using wind data were calculated using SMB and Darbyshire method. The observation data obtained by the wave of wave height between 3.2 to 82.9 cm and wave period from 6.0 to 7.9 seconds, from the classification of waves including transitional waters. Wind speed data distribution model showed that for strong winds (17-27 knots) in the west season duration is between 3-6 hours, while in the east monsoon between 1-4 hours. By using the SMB method and Darbyshire in the event of a maximum speed of the Eastern season, wave height 1.51 m and periods of 5.2 seconds, while the west monsoon maximum wave height 2.4 meters and 7 seconds duration. The MRE (mean relative error) field data on the forecasting from wind data obtained during 3 years the mean relative error between 0.3 - 34.32 % of wave height and between 13.24 - 22.06 % of wave period. Key words: Winds speed distribution, wave, Paciran sea water, East Java.
Aplikasi Isochrysis galbana dan Chaetoceros amami serta Kombinasinya Terhadap Pertumbuhan dan Kelulushidupan Veliger-Spat Tiram Mutiara (Pinctada maxima) Nur Taufiq; Diana Rachmawati; Justin Cullen; Yuwono Yuwono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1328.77 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.3.119-125

Abstract

Salah satu penyebab rendahnya pertumbuhan dan kelulushidupan pada  perkembangan awal larva sampai spat tiram mutiara (Pinctada maxima) adalah pemberian pakan alami yang kurang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pemberian pakan alami Isochrysis galbana dan Chaetoceros amami dan kombinasinya terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan veliger-spat Pinctada maxima.  Penelitian ini dilaksanakan di PT. Autore Pearl Culture, Sumbawa, NTB. Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan diterapkan pada penelitian ini, yaitu pemberian pakan alami 100% I. galbana); kombinasi 75% I. galbana dan 25% C. amami, kombinasi 50% I. galbana dan 50% C. amami, kombinasi 25% I. galbana dan 75% C. amami, dan 100% C. amami, dengan kepadatan 7 x 106 sel/mL. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama pemeliharaan veliger-spat dengan pakan  I. galbana, C. amami dan kombinasinya berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan panjang mutlak cangkang dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan. Pertumbuhan panjang mutlak dorsal-ventral dan anterior-posterior cangkang tertinggi dicapai pada perlakuan kombinasi 25% I. galbana dan 75% C. amami, yaitu 1.623,7µm dan 2.217,11 µm. Kelulushidupan tertinggi dicapai oleh pemberian 100% I. galbana sebesar 6,85%. Kata kunci: Pinctada maxima, Veliger, Spat, Isochrysis galbana, Chaetoceros amami, pertumbuhan  The low growth and survival rates of pearl oyster (Pinctada maxima) at early development from larvae to spat is commonly due to inappropriate natural food given. The aims of the present study was to determine the effect of natural food Isochrysis galbana, Chaetoceros amami and its combination on the growth and survival rates of pearl oyster (P. maxima) larvae. This study was conducted at PT. Autore Pearl Culture, Sumbawa, West Nusa Tenggara province. Completely Randomized Design was applied with 5 treatments and 3 replications. The treatments were 100 % I. galbana, combination of 75% I. galbana and  25% C. amami, 50% I. galbana and 50% C. amami, 25% I. galbana and 75% C. amami, and 100% C. amami, with density of 7 x 106 sel/mL. The data of length growth and survival were analyzed by Analysis of Variants followed by Duncan’s Test. The result showed that the treatments gave highly significant difference (P< 0.01) on the  shell growth and significantly different (P< 0.05) on survival rate. The highest dorsal-ventral and anterior-posterior shell growth (1,623.7 µm and 2,217.11 µm) reached by spat fed on combination of 25% I. galbana and 75% C. amami. The highest survival rate (6.85%) was reached by spat fed by 100 % I. galbana . Key words: Pinctada maxima, Veliger, Spat, Isochrysis galbana, Chaetoceros amami, growth
Melacak Perubahan Muka Laut Masa Lampau Berdasar Fosil Kerang-kerangan (Ostrea sp.) di Pulau Belitung Suyarso Suyarso
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3627.922 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.3.135-142

Abstract

Daratan di sekeliling Laut Cina Selatan merupakan wilayah yang sejak jaman kuarter tidak pernah mengalami gerak-gerak tektonik. Proses-proses geologi yang terjadi adalah transgresi dan regresi yang silih berganti, erosi pantai, akresi pantai, sedimentasi dan pembentukan morfologi pantai. Situs-situs peninggalan proses laut di masa lampau yang banyak dijumpai diantaranya pematang pantai purba serta fosil sisa-sisa kehidupan laut seperti Ostrea sp. dan lain sebagainya. Situs-situs tersebut umumnya terletak pada ketinggian 1,5 m hingga 2,5 m di atas muka laut sekarang. Penelitian yang telah dilakukan pada April 2010 di Pulau Belitung adalah mengukur kedudukan situs-situs fosil Ostrea sp. terhadap muka laut sekarang menggunakan peralatan geodetik dan determinasi umurnya menggunakan radio isotop 14C. Data kedudukan fosil terhadap muka laut sekarang dan data umur fosil tersebut selanjutnya dipergunakan untuk merekonstruksi perubahan muka laut dimasa lampau. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa sejak 5000 tahun sebelum sekarang telah terjadi dua kali transgresi. Transgresi pertama terjadi  pada sekitar 4460 an tahun sebelum sekarang, muka lautnya berada pada ketinggian 2,50 m diatas muka laut sekarang. Transgresi kedua terjadi pada 2611 an tahun sebelum sekarang, muka lautnya berada pada ketinggian 2,0 m di atas muka laut sekarang. Kata kunci: Ostrea sp., muka laut masa lampau. Lands in the surrounding of the South China Sea are stable areas and have never been displaced due to tectonic movement since the quaternary sub-era. Geological processes are the changes of transgression and regression, coastal erosion, accretion, sedimentation and coastal morphological features building. Monuments of the marine processes in the past are ancient beach ridge, relicts of marine life such as Ostrea sp. fossils, etc. These monuments are located 1.5 m - 2.5 m height above the present sea level. Research was carried out in April 2010 at Belitung Island, the main activities are to measure the position of Ostrea sp. fossils sites relatives to the sea level with using geodetic instrument and dating of the fossils with using 14C radio isotope. Plot of the fossils position relatives to the present sea level versus ages of fossils then be used to reconstruct the change of the sea level in the past. Research result shows since 5000 years before present there were twice transgression. First transgression occurred in 4460’s years before present which sea level was 2.50 m height above the present sea level. Second transgression occurred in 2611’s years before present and the sea level was 2.0 m height above the present sea level. Key words: Ostrea sp., ancient sea level.
Stimulasi Molting dan Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla sp.) Melalui Aplikasi Pakan Buatan Berbahan Dasar Limbah Pangan yang Diperkaya dengan Ekstrak Bayam Siti Aslamyah; Yushinta Fujaya
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.922 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.3.170-178

Abstract

Ekstrak bayam mengandung fitoekdisteroid yang dikenal sebagai stimulan molting pada kepiting.  Selain melalui injeksi,  aplikasi  ekstrak  bayam  melalui  pakan  buatan  juga  terbukti  mampu  mempercepat  molting  dan pertumbuhan kepiting bakau.  Kendala yang dihadapi pakan buatan yang digunakan masih mahal karena berbahan dasar ikan dengan kandungan protein yang tinggi,  sehingga perlu diformulasi pakan buatan khusus kepiting yang berkualitas, murah dan ramah lingkungan, serta disukai oleh kepiting.  Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi pakan buatan berbahan dasar limbah pangan yang diperkaya ekstrak bayam yang dapat memberikan respon molting dan pertumbuhan terbaik pada kepiting, serta efisien di produksi dalam skala besar.  Empat pakan buatan dengan berbagai kadar protein (P) dan karbohidrat (K) digunakan pada penelitian ini, yaitu pakan A (46,84% P; 33,33% K), B (41,57% P; 38,29% K), C (35,62% P; 44,32% K), dan D (30,62% P; 49,13% K), sebagai kontrol pakan berbahan dasar non limbah. Selama penelitian, kepiting dipelihara secara individu dalam karamba yang di letakkan di tambak.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan D dengan kadar protein 30,62% dan karbohidrat 49,13%  serta diperkaya dengan ekstrak bayam (700 ng/g kepiting) memberikan hasil terbaik dalam menginduksi molting kepiting bakau.  Dapat disimpulkan, pakan buatan yang digunakan  sebaiknya mempunyai kadar nutrien yang seimbang dan merupakan campuran berbagai bahan baku pakan agar kandungan nutriennya saling melengkapi. Kata kunci : Ekstrak bayam, kepiting bakau, limbah pangan, molting, pakan buatan Spinach extracts contains phytoecdysteroid, a substance which is well known to stimulante molting in crabs. In addition through injection, artificial feed that contains spinach extract had been proven to accelerate molting and growth on mud crabs. The problem faced in utilizing the artificial feed is related to its expensive cost, since it’s mainly produced from fish based materials with a very high protein concentration. Thus, it is essential to formulate a special artificial feed for crabs which have a quality, inexpensive, environmentally friendly, and liked by the crabs. The purpose of this study was to evaluate artificial feed made from food waste enriched with spinach extracts, which can provide the best growth response and molting in crabs, as well as efficient to be produced in large scale. Four artificial diets with different protein levels (P) and carbohydrates (K) used in this study were feed A (P: 46,84%; K: 33,33%), B (P: 41,57%; K: 38,29%), C (P: 35,62%; K: 44,32%) and D (P: 30,62%; K: 49,13%), and as control is feed derived from non-waste materials. During the test, crab was culture individually in cages placed in ponds. The results showed that the feed D with 30,62% of protein and 49,13% of carbohydrates and enriched with spinach extract (700 ng/g crab), gives the best results in inducing molting of mud crabs. In conclusion, artificial feed should consist of a mixture of various raw materials, so that their nutrients can be balanced and complementary. Key words :  Spinach extract, mud crab, food waste, molting, artificial feed
Pengaruh Kejut Salinitas Terhadap Pemijahan Tiram (Crassostrea cucullata Born) Priyo Santoso
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.489 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.3.159-162

Abstract

Teknik rangsang pemijahan tiram (Crassostrea cucullata Born) di lingkungan buatan merupakan aspek penting dalam pengembangan teknologi pembenihan tiram.  Oleh karena itu, telah dilaksanakan penelitian tentang rangsang pemijahan tiram dengan menggunakan kejut salinitas mulai dari bulan Agustus sampai Oktober 2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kejut salinitas terhadap pemijahan tiram.  Rancangan acak lengkap diterapkan pada penelitian ini dengan empat perlakuan yaitu peningkatan salinitas secara mendadak 2‰dan 4‰ dari salinitas awal (30‰) dan penurunan salinitas secara mendadak 2‰ dan 4‰dari salinitas awal (30‰), dan tiga ulangan.  Tiram yang digunakan sebagai hewan uji dikoleksi dari perairan Desa Oebelo, Kabupaten Kupang.  Hasil uji nonparametrik Kruskal Wallis menunjukkan bahwa perlakuan kejut salinitas berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pemijahan tiram.  Perlakuan kejut salinitas dengan penurunan salinitas secara mendadak memberikan respon pemijahan tiram yang lebih tinggi bila dibandingkan perlakuan kejut salinitas dengan peningkatan salinitas secara mendadak.  Pemijahan tiram tertinggi terjadi pada perlakuan kejut salinitas dengan penurunan salinitas secara mendadak 4‰dari salinitas awal (30‰).Kata kunci: Kejut salinitas, pemijahan buatan, tiram, Crassostrea cucullata The technique of oysters (Crassostrea cucullata Born) spawning stimulation in artificial environment was important aspect on development of its hatchery technology.  Consequently, research about spawning stimulation of oysters using shock of salinity has been conducted from August to October 2010.  The aim of this research was to find out the effect of salinity shock on oysters spawning.  Randomized design was applied in this research with four treatments, i.e. sudden increase of salinity 2‰ and 4‰ from initial salinity (30‰) and sudden decrease of salinity 2‰ and 4‰ from initial salinity (30‰), with three replications.  Oysters used in this experiment were collected from intertidal of Oebelo Village, Kupang regency.  Result of Kruskal Wallis test showed that salinity shock was significantly affected (P<0.05) on oysters spawning.  The treatment of salinity shock with sudden decrease in salinity was trigger spawning oyster higher than the treatment of salinity shock with decrease of salinity suddenly.  The highest number of oysters spawning occurred at shock of salinity treatment with decrease of salinity suddenly 4‰ from initial salinity (30‰). Keywords: Salinity Shock, spawning, oyster

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue