cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan" : 7 Documents clear
Application of Aquaculture Natural Food Produce by Protoplast Fusion Process of Dunaliella salina and Phaffia rhodozyma Hersugondo Hersugondo; Hermin Pancasakti Kusumaningrum; Muhammad Zainuri
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1003.706 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.4.236-242

Abstract

Recently, fishponder income tend to be static so that required an effort to accurately and efficiently one of them through aquacultures  food diversification. So far, efforts to observe the pattern of introduction of a new feed, applications and their impact on aquaculture and fish farmers income has never been measured. Diversification of feed use protoplast fusion process from D. salina and P. rhodozyma which rich in natural carotenoids is needed in aquaculture because they will increase survival and body weight of animal farming. Different types of carotenoids can be combined through a process of protoplasm fusion making it cheaper, faster and efficient for diversification and development of carotenoid-rich diet. The specific objectives of this research is the development of natural food aquaculture with high carotenoid content using protoplasm fusion  from the microalgae D. salina and yeast P. rhodozyma. The early stage in this research will cultivate recombinant followed by quantitative analysis of carotenoid production compared with controls. The second stage is the food diversification with different concentrations of recombinant and comparisons with commercial food followed by cost-benefit analysis. The research results have been obtained which  most carotenoid-rich natural food resulted from recombinant fusion of D. salina and P. rhodozyma. Its application in vitro have increased body weight of shrimp comparing to artificial feed. In addition, recombinant food showing stable growth in both freshwater and salt water, can breed naturally and are safe for animal aquaculture consumption and also the environment. Key words : carotenoid, protoplast fusion, D. salina,  P. rhodozyma, recombinant Selama ini pendapatan petani tambak cenderung statis sehingga diperlukan suatu upaya secara tepat dan efisien salah satunya melalui diversifikasi pakan. Sejauh ini usaha untuk mengamati pola introduksi suatu pakan baru, aplikasi dan dampaknya terhadap budidaya dan pendapatan petani tambak belum pernah terukur. Diversifikasi pakan mengggunakan pakan kaya karotenoid alami sangat dibutuhkan dalam budidaya perikanan karena terbukti dapat meningkatkan keloloshidupan dan menambah bobot hewan budidaya. Kedua jenis karotenoid β-karoten dan astaxantin dapat digabungkan melalui  proses fusi protoplasma sehingga lebih murah, cepat dan efisien untuk diversifikasi dan pengembangan pakan kaya karotenoid.  Tujuan khusus penelitian ini adalah pengembangan usaha budidaya  untuk  meningkatkan  pendapatan  petani  tambak  melalui  diversifikasi  pakan  akuakultur  dengan kandungan karotenoid tinggi hasil fusi protoplasma alga Dunaliella salina dan khamir Phaffia rhodozyma. Tahap awal dalam penelitian ini akan melakukan kultivasi pakan rekombinan Dunaliella salina dan Phaffia rhodozyma diikuti analisis produksi karotenoid secara kuantitatif dibandingkan dengan kontrol. Tahap kedua adalah diversifikasi pakan dengan perbedaan konsentrasi fusan dan perbandingan dengan jenis pakan lain diikuti dengan analisis untung rugi. Kata kunci : karotenoid, fusi protoplas, D. salina,  P. rhodozyma, rekombinan
Estimasi Produksi Ikan Melalui Nutrien Serasah Daun Mangrove di Kawasan Reboisasi Rhizophora, Nguling, Pasuruan, Jawa Timur Mohammad Mahmudi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.897 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.4.231-235

Abstract

Input nutrien dari serasah daun mangrove merupakan salah satu faktor yang bertanggung jawab terhadap produktivitas perikanan di ekosistem pesisir. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis produksi nutrien (N, P) dari serasah daun mangrove, menduga produksi primer fitoplankton dari nutrien hasil pelepasan serasah daun mangrove, menduga daya dukung ekosistem mangrove terhadap produksi ikan. Pengukuran dekomposisi serasah menggunakan litter bag. Pendugaan produksi ikan menggunakan pendekatan metode Beveridge. Hasil penelitian menunjukkan jumlah nutrien yang dilepaskan dari serasah daun mangrove adalah 0,0355-0,0506 g N/m2/hr dan 0,0018-0,0025 g P/m2/hr. Nilai produksi primer cukup tinggi berkisar 452-645 (rata-rata 555±96,77) gC/m2/th. Pendugaan terhadap produksi ikan herbivor  berkisar 490-709 (rata-rata 611±106) kg/ha/th; ikan karnivor berkisar 49-71 (rata-rata 61±11) kg/ha/th dan produksi total ikan berkisar 548-780 (rata-rata 672±117) kg/ha/th. Produksi total ikan tersebut menggambarkan potensi produksi ikan dalam satu hektar mangrove akan menghasilkan produksi ikan sebesar 672 kg/th.Kata kunci : mangrove,  nutrien serasah, produksi ikan The input of nutrients from mangrove leaf litter is one of the factors responsible for the productivity of fisheries in coastal ecosystems. The purpose of this study was to analyze the production of nutrients (N, P) of mangrove leaf litter, estimate primary production of phytoplankton from nutrient release of leaf litter of mangroves, estimate carrying capacity of fish production of mangrove ecosystem. Measurements of litter decomposition using litter bags. Estimation of fish production using approach method of Beveridge. The results showed the amount of nutrients released from mangrove leaf litter is 0.0355 to 0.0506 g N/m2/day and 0.0018 to 0.0025 g P/m2/day. Primary production value is quite high is 452 to 645 (mean 555±96.77) g C/m2/yr. Estimation of fish production is 490 to 709 (average 611±106) kg/ha/yr of herbivores; 49 to71 (average 61±11) kg/ha/yr of carnivores and total production of fish is 548 to 780 (average 672±117) kg/ha/yr. The total fish production describes potential of fish production in one hectare of mangrove will produce fish production of 672 kg /yr. Key words : mangroves, nutrient litter, fish production
Prediksi Sebaran Suhu dari Air Buangan Sistem Air Pendingin PT. Badak NGL di Perairan Bontang Menggunakan Model Numerik Kasman Kasman; I Wayan Nurjaya; Ario Damar; Ismudi Muchsin; Zaenal Arifin
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1248.419 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.4.194-201

Abstract

Tingginya suhu buangan air pendingin PT. Badak NGL yang dilepas ke Perairan Bontang menyebabkan terganggunya berbagai sumberdaya pesisir yang ada disekitarnya. Karena itu perlu diketahui pola sebaran suhu agar dampak yang mungkin timbul dapat diminimalkan. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi pola sebaran suhu dari buangan air pendingin PT. Badak NGL di Perairan Bontang, Kalimantan Timur. Prediksi dilakukan dengan menggunakan model hidrodinamika dan transpor suhu 3-D yang dimodifikasi dari model POM (Princeton Ocean Model). Gaya pembangkit yang digunakan dalam model adalah pasang surut, debit buangan air pendingin dan debit sungai. Pemilihan langkah waktu (t)=0,5 detik, dengan 118 grid (barat-timur) dan 187 grid (utara-selatan), ukuran grid Δx=Δy=30 m. Nilai awal : u=v=ζ=0, T0 = 28 °C dan S0 = 32 ‰. Verifikasi elevasi dan suhu antara hasil model dengan hasil pengukuran menunjukkan kesesuaian yang baik dengan nilai korelasi 0,97 dan Kesalahan Relatif Rata-rata (Mean Relative Error/MRE) 1,31% untuk verifikasi elevasi, korelasi 0,90 dan MRE 5,17% untuk verifikasi suhu permukaan pada saat bulan purnama serta korelasi 0,87 dan MRE 7,12% saat bulan perbani. Hasil simulasi menunjukkan perbedaan pola sebaran suhu permukaan paling ekstrim ditemukan pada saat purnama untuk kondisi cuplik pasang maksimum dan surut maksimum. Perbedaan terutama terlihat pada Stasiun 8 (Muara Kanal Pendingin) yakni 41 °C saat surut maksimum dan saat pasang maksimum (ΔT=6 °C). Adapun perbedaan suhu antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup besar ditemukan di Stasiun C yakni sekitar 2,54 C saat  untuk skenario musim kemarau dan 2,32 C untuk skenario musim hujan Kata kunci : POM, buangan air pendingin, sebaran suhu, debit sungai, model numerik, Perairan Bontang High temperature of cooling water discharge of PT. Badak NGL that released to Bontang waters caused disturbances to the coastal resources in its surrounding. Therefore, it is urgent to understand the pattern of thermal dispersion in order to minimize the possible impacts occurred.  This research was aimed to predict the pattern of thermal dispersion from cooling water discharge of PT. Badak NGL in Bontang waters, East Kalimantan. Prediction was done using hydrodynamic model and 3-D thermal transport modified from POM (Princeton Ocean Model). Driving forces used in this model were tides, flows of cooling water discharge and rivers discharge.  Choice of time step (t)=0.5 second, with 118 grids (west-east) and 187 grids (north-south), grid size Δx=Δy=30 m. Initial value : u=v=ζ=0, T0 = 28 °C and S0 = 32 ‰. Verification of elevation and temperature between results of models and direct measurement showed a good suitability with correlation value was 0.97 and Mean Relative Error (MRE) 1.31% for elevation verification, correlation 0.90 MRE 5.17% and correlation 0.87 MRE 7.12% for thermal verification during spring and neap tides, repectively. Results simulation revealed the most extreem difference in pattern surface thermal dispersion that found during spring tide for sampling condition of maximum tide and ebb. Distinct difference was especially found at station 8 (mixing point) i.e. 41 °C during maximum ebb and 35 °C during maximum high tide. Whereas, significantly high thermal difference between upper layer and bottom layer was found at station C i.e. around 2,54 °C for dry season scenario and 2,32 °C for wet season scenario Key words: POM, cooling-water discharge, thermal dispersion, rivers discharge, numerical model, Bontang waters
Analisa Stabilitas Garis Pantai di Kabupaten Bangkalan Aries Dwi Siswanto; Widi Agoes Pratikto; Suntoyo Suntoyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2159.314 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.4.221-230

Abstract

Perairan pantai di Kabupaten Bangkalan merupakan kawasan strategis pengembangan kawasan pesisir, terutama pasca Jembatan Suramadu. Meningkatnya pemanfaatan areal pantai berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem dan keseimbangan pantai, salah satunya dengan konversi tanaman bakau menjadi areal pertambakan maupun pemukiman. Luasan bakau yang rendah memiliki kerentanan relatif tinggi terhadap gelombang dan arus laut yang potensial menyebabkan erosi, sehingga terjadi kemunduran garis pantai (retrogration coast) yang bersifat erosi aktif. One-line model berdasarkan persamaan CERC merupakan salah satu metode pemodelan numerik untuk mengetahui perubahan garis pantai, dengan salah satu parameter utama adalah gelombang. Angin digunakan untuk mendapatkan properties gelombang, dan dilakukan analisa refraksi. Model divalidasi menggunakan citra Landsat. Estimasi model menunjukkan ada perubahan garis pantai pada hampir sebagian besar sel, terutama pada sel 96 dan 316. Garis pantai di lokasi penelitian relatif stabil, kecuali di daerah dermaga Kamal dan sekitar Suramadu.Kata Kunci : Oneline-model, Stabilitas pantai The Shoreline Stability Analysis at Bangkalan Regency. Coastal waters in the Bangkalan regency made up a strategic area for the development of coastal areas, especially after the Suramadu bridge was built. Development of the coastal area cause an increase the utilization of coastal areas in which it might cause to interference of the ecosystem and the beach equilibrium, one of them is change the mangrove ecosystem into both aquaculture and residences. The small mangrove area has a vulnerability is relatively high as compared to the waves and ocean currents causing erosion. As a result, there are retrogration coast that are actively erosion. One-line model based on CERC equation is one of the numerical modeling to know shoreline changes with main parameters is wave. Wind speed used to wave properties for refraction analyze. The validation of model used satellite imagenary. The model prediction showed no changes in the shoreline for the most of cells, especially at 96 and 316 cells Result of model was any shoreline changes The shoreline in this study relatively stable, except in the Kamal dock area and surrounding Suramadu bridge Key words : Oneline-model, Coastal stability
Komposisi, Diversitas dan Produktivitas Sumberdaya Ikan Dasar di Perairan Pantai Cirebon, Jawa Barat Eko Sri Wiyono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (911.612 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.4.214-220

Abstract

Peningkatan tekanan penangkapan ikan  di perairan pantai, diduga telah membahayakan kelestarian sumberdaya ikan. Untuk mengetahui kondisi  terkini dari sumberdaya ikan di perairan Laut Jawa,  pengkajian tentang sumberdaya ikan dasar telah dilakukan.   Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi, diversitas dan produktivitas hasil tangkapan ikan dasar di perairan pantai utara Cirebon, Jawa Barat. Data dikumpulkan dengan menggunakan dogol, alat tangkap tradisional yang biasa dioperasikan untuk menangkap ikan di perairan Laut Jawa.  Agar dapat mengetahui perubahan fish assemblages, data tentang ikan (komposisi dan bobot hasil tangkapan) diambil  pada bulan yang berbeda (Maret, Juli dan November). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pepetek (Leiognathus sp) menjadi ikan dasar yang paling dominan di pantai utara Cirebon.  Meskipun nilai indek diversitas dan produktivitas berbeda antar musim, tetapi pepetek selalu menempati posisi yang  tertinggi dibandingkan jenis ikan lainnya pada semua musim. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa belum ada perubahan komposisi ikan setelah penghapusan trawl di Laut Jawa.  Tekanan penangkapan ikan di lokasi kajian  sangat tinggi, terbukti ikan yang mempunyai tingkat rekruitmen  tinggi (pepetek) selalu dominan pada semua musim. Kata kunci: Cirebon, diversitas, ikan dasar, komposisi, produktivitas Increased fishing pressure in coastal waters believed to have endangered the sustainability of fish resources. To know the current condition of fish resources in the waters of the Java Sea, the study of the demersal fish condition was conducted.   In general, the aim of this study is to analyze present status of demersal fisheries in costal waters of Cirebon, West Java.  Specifically, the aims of this study are to analyze composition, diversity and productivity of demersal fish resources at Northern Coastal of Cirebon, West Java.   The data were collected using dogol, a traditional little trawl which popular operated for demersal fish in northern Java Sea.    In order to understand changing of fish assemblages between season, a set of fish data (composition and weight) was collected in different season (March, July, and November).  The results of this study showed that pony fish (Leiognathus sp) was the dominant fish in northern coastal of Cirebon along year study.  Althought  fish composition, diversity and productivity were different between season,  pony fish always give highest contribution comparing to other fish.  The results of this study indicate that there has been no change in the fish composition after banned trawl in the Java Sea. Fishing pressure in Cirebon waters is relativelly still high, it indicated by domination of pony fish (Leiognathus sp) which have high level of recruitment in all seasons. Key words:  composition, Cirebon, diversity, demersal fish, productivity
Kajian Daerah Rawan Bencana Gelombang Badai Pasang (Storm Tide) di Kawasan Pesisir Selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat Nining Sari Ningsih; Safwan Hadi; Agung B. Harto; M. D. Utami; Amanda P Rudiawan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7030.353 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.4.179-193

Abstract

Gelombang badai pasang (storm tide) yang dibangkitkan pasang surut dan siklon tropis di Samudera Hindia sering menerjang kawasan pesisir selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada penelitian ini, model hidrodinamika dua dimensi (2D) horisontal Mike 21 digunakan untuk mensimulasikan tinggi gelombang, run-up, dan genangan di sepanjang kawasan pesisir selatan Jawa, Bali, dan NTB yang ditimbulkan oleh penjalaran gelombang pasang surut dan badai yang dibangkitkan oleh badai Jacob (2-12 Maret 2007) dan George (3-9 Maret 2007) di perairan pantai barat laut Australia. Penjalaran gelombang badai pasang disimulasikan dengan menggunakan data elevasi pasang surut di daerah batas terbuka model, angin, tekanan udara, dan lintasan badai. Data elevasi pasang surut diperoleh dari TMD (tide model driver), sedangkan data angin dan tekanan udara diperoleh dari NCEP (National Centers for Environmental Prediction). Data sea level anomaly (SLA) mingguan dari TOPEX Poseidon digunakan untuk memverifikasi tinggi gelombang badai (surge) yang dihasilkan model. Gelombang badai (surge) tertinggi di kawasan pesisir selatan Jawa, Bali, dan NTB, masing-masing  terjadi di Nusa Kambangan (Jawa; 19,0 cm), Tuban (Bali; 14,7 cm), Teluk Gumbang (Lombok; 12,2 cm), dan Tanjung Labulawah (Sumbawa; 12,5 cm). Jarak genangan maksimum gelombang badai pasang serta tinggi run-up yang menyertainya (H) terjadi di Teluk Penanjung (Jawa; R max = 835,2 m, H= 0,73 m), Tuban (Bali; R max = 623,5 m, H= 1,02 m), Tanjung Ringgit (Lombok; R max = 1112,3 m, H= 1,03 m) dan Teluk Cempi (Sumbawa; R max = 4136,5 m, H= 1,10 m)Kata kunci : gelombang badai, gelombang badai pasang, genangan, run-up, model hidrodinamika Storm surges generated by tropical cyclone in the Indian Ocean have often attacked southern coasts of Java, Bali, and Nusa Tenggara Barat (NTB). In this study, A two-dimensional (2D) hydrodynamic model of Mike 21 has been applied to simulate wave height, run-up, and inundation along the southern coasts of Java, Bali, and NTB, generated by tides and the Cyclone Jacob during 2-12 March 2007 and by the Cyclone George during 3-9 March 2007 in northwestern coastal waters of Australia. The storm tide event was simulated by imposing tidal elevations at the open boundaries, winds, air pressure, and storm tracks. Tidal elevation data were derived from TMD (tide model driver), while wind and air pressure data were obtained from NCEP (National Centers for Environmental Prediction). The weekly TOPEX Poseidon Sea Level Anomaly (SLA) was used to validate the model results of surge height. Highest surges along the southern coasts of Java, Bali, and NTB existed at Nusa Kambangan (Jawa; 19.0 cm), Tuban (Bali; 14.7 cm), Teluk Gumbang (Lombok; 12.2 cm), and Tanjung Labulawah (Sumbawa; 12.5 cm). Maximum distances of storm tide flooding (Rmax) and their associated run-up heights (H) occured at Teluk Penanjung (Jawa; R max = 835.2 m, H = 0.73 m), Tuban (Bali; Rmax = 623. m, H = 1.02 m), Tanjung Ringgit (Lombok; R max = 1112.3 m, H = 1.03 m), and Teluk Cempi (Sumbawa; Rmax = 4136.5 m, H= 1.0 m). Key words : storm surges, storm tide, inundation, run-up, hydrodynamic model.
Dolphins Encountered in Kepulauan Seribu Yusli Wardiatno; Chikarista Irfangi; Totok Hestirianoto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3198.622 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.4.202-213

Abstract

Kepulauan Seribu has been considered as one of the dolphin migration routes. This is based on the number of reports from fishermen and communities in Kepulauan Seribu on the existence of cetacean. The purpose of this study was to assess the type, behavior, deployment location, and estimate the number of dolphins found in Kepulauan Seribu. Research was conducted on May 10th to May 27th, 2010 and 22nd June to 3 July 2010. Observations were made every day, except Friday, and started at 7:00 a.m. to 6:00 pm. Observation by boat was used in the research. Observation of the amount, type, and behavior of cetacean had been done visually. Based on research results, it can be concluded that the species of dolphins found in Kepulauan Seribu are Delphinus delphis, Pseudorca crassidens, Stenella longirostris, and Tursiops truncatus, with a total number of 145 individuals. Species of dolphins are most often found is T. truncatus, whereas the least common type is Delphinus delphis. In addition there are also calf and unidentified species. The location of the encounter with the dolphins most often occurs around Pulau Gosong Congkak (Karang Congkak) and Karang Lebar. Judging from the observed behavior, it can be said that Kepulauan Seribu is a foraging area and migration routes for cetacean. In addition, Kepulauan Seribu was also considered as nursery ground for calf. Key words : Cetacean, dolphin, Kepulauan Seribu Kepulauan Seribu diduga sebagai salah satu rute migrasi berbagai jenis lumba-lumba.  Hal ini didasarkan pada jumlah laporan dari nelayan dan masyarakat di Kepulauan Seribu pada keberadaan lumba-lumba. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai jenis, perilaku, lokasi penyebaran, dan estimasi jumlah dan jenis Cetacean yang ditemukan di Kepulauan Seribu. Penelitian ini dilakukan pada 10-27Mei dan 22 Juni-3 Juli 2010. Pengamatan dilakukan setiap hari, kecuali hari Jumat, mulai jam 7:00-18:00. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi dengan menggunakan perahu motor. Pengamatan jenis, jumlah, dan perilaku  lumba-lumba telah dilakukan secara visual. Berdasarkan hasil penelitian,dapat disimpulkan bahwa spesies lumba-lumba yang ditemukan di Kepulauan Seribu adalah Delphinus  delphis, Pseudorca crassidens, Stenella longirostris, dan Tursiops truncatus, dengan jumlah total 145 individu. Spesies lumba-lumba yang paling sering ditemukan adalah T. truncatus, sedangkan tipe paling umum adalah Delphinus delphis. Selain itu ditemukan juga bayi lumba-lumba dan spesies yang tidak teridentifikasi. Lokasi perjumpaan dengan lumba-lumba paling sering terjadi di sekitar Pulau Gosong Congkak (Karang Congkak) dan Karang Lebar.  Dilihat  dari  perilaku yang diamati, dapat dikatakan bahwa Kepulauan Seribu merupakan daerah mencari makan  dan  rute  migrasi Cetacean. Selain itu, Kepulauan Seribu juga  diduga sebagai daerah asuhan bagi bayi lumba-lumba. Kata kunci : Cetacean, lumba-lumba, Kepulauan Seribu

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue