cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan" : 8 Documents clear
Struktur Komunitas Karang Keras (Scleractinia) di Perairan Pulau Marabatuan dan Pulau Matasirih, Kalimantan Selatan Rikoh Manogar Siringoringo; Munasik Munasik
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2040.84 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.1.49-58

Abstract

Struktur komunitas karang keras (Scleractinia) di perairan Pulau Marabatuan dan Pulau Matasirih, Kalimantan Selatan telah diamati dengan metode transek sabuk. Keanekaragaman jenis karang di perairan Kalimantan Selatan ini tergolong tinggi, sebanyak 98 jenis dari 36 genera karang keras telah ditemukan akan tetapi komunitas karang dalam keadaan labil dan tertekan karena dipengaruhi oleh run off daratan yang berasal dari Sungai Barito. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas karang di P. Marabatuan umumnya terdiri dari kelompok karang yang tahan terhadap kekeruhan, eutrofikasi dan salinitas rendah yaitu karang Poritiid (masif), Agariciid dan Faviid (tekanan lingkungan bersifat kronis). Sedangkan di P. Matasirih lebih banyak tersusun atas kelompok karang yang rentan terhadap perubahan lingkungan yang ekstrim dan mendadak, seperti Acropora (tekanan lingkungan bersifat akut). Perbedaan struktur komunitas karang keras akibat perbedaan tingkat tekanan  lingkungan (kronis  vs  akut)  dari  dua  wilayah  terumbu  karang  di  perairan  Kalimantan  Selatan membutuhkan model pengelolaan yang berbeda.Kata kunci: Karang keras (Scleractinia), P. Marabatuan, P. Matasirih, Kalimantan Selatan The community structure of Scleractinian corals at Marabatuan Island and Matasirih Island, South Kalimantan was investigated using belt transects to determine the effects of runoff from Barito River. The reefs at the South Kalimantan have high diversity of corals, i.e. 98 species, 36 genera of Scleractinian corals were found in shallow reefs, however apparently the coral community was labile and understressed which is caused by water runoff of Barito River. The result shows that reefs in Marabatuan Island were composed by various species of corals which resistant in high water turbidity, low salinity and eutrophycated waters, such as Poritiid (massive), Agariciid dan Faviid (chronic). Conversely, reefs in Matasirih Island were composed by various susceptible species of corals that may under unpredictable stressed by extreme change of waters such as Acropora (acute). Based on the differences of the coral community structure between two reef area which is caused by the difference of environmental stress level i.e. chronic and acute, it can be used as appropriate model of coral reef management in South Kalimantan. Key words: Scleractinia, Marabatuan Island, Matasirih Island, South Kalimantan
Pengaruh Pengurangan Konsentrasi Nutrien Fosfat dan Nitrat Terhadap Kandungan Lipid Total Nannochloropsis oculata Widianingsih Widianingsih; Retno Hartati; H. Endrawati; Ervia Yudiati; Valentina R. Iriani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1649.513 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.1.24-29

Abstract

Fosfat dan nitrat mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan dan kandungan nutrisi Nannochloropsis oculata. Kandungan lipid total dalam Nannochloropsis oculata sangat dipengaruhi oleh nutrien yang terkandung dalam media kultur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh  perbedaan komposisi nutrien fosfat dan nitrat  terhadap kandungan lipid total  mikroalga Nannochloropsis oculata. Anova satu arah dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan diterapkan pada penelitian ini.  Pelakuan perbedaan komposisi fosfat dan nitrat yaitu Kontrol (K, fosfat dalam NaH2PO4 20 g dan nitrat dalam NaNO3 100 g),  fosfat dan nitrat 75 % dari kontrol (A), fosfat dan nitrat 50 % dari kontrol (B), serta fosfat dan nitrat 25 % dari kontrol (C).  Pemanenan mikroalga untuk analisa  total  lipid  dilakukan  pada  fase  eksponensial  dan  stasioner.  Duaratus  limapuluh  mililiter  media bersalinitas 35 ‰ digunakan dalam penelitian ini dengan sistem aerasi dan pencahayaan 3000 lux yang kontinyu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan komposisi nutrien (fosfat dan nitrat) pada media pemeliharaan  berpengaruh  terhadap  kandungan  lipid  total  pada  fase  stasioner  namun tidak pada  fase eksponensial. Kandungan total lipid terbesar 67,7 % dw ditemukan pada N. oculata yang dikultur pada media dengan fosfat dan nitrat 25 % dari kontrol dan yang terkecil 39,3 %-dw pada N. oculata yang dikultur pada nutrien Kontrol.  Pembatasan nutrien pada media pemeliharaan dapat meningkatkan kandungan lipid total pada kultur  N. oculata Kata kunci: Nannochloropsis oculata, Total Lipid, fosfat, nitrat Phosphate and nitrate play  important role on growth and nutrition value of Nannochloropsis oculata.  Total lipid content of microalgae Nannochloropsis oculata is influenced by nutrient content in the culture medium. This research was aimed to examine the effect of different depletion phosphate and nitrate composition on the total lipid of  Nannochloropsis oculata.  Anova One Way with 4 treatments and 3 replicates has been applied in this research. The treatment of differences phosphate and Nitrate composition as follows Nutrient control (Conway medium having  Phospate in NaH2PO4 20 g and Nitrate in NaNO3 100 g), Nutrient A (phosphate and nitrate 75 % nutrient control); Nutrient B (phosphate and nitrate 50 % nutrient control), Nutrient C (phosphate and nitrate 25% nutrient control) The volume of culture medium was 250 mL with salinity 35‰, continuous aeration and illumination 3000 lux. The present work revealed that the nutrient composition on culture medium affected the total lipid content of N. oculata  at the stationary and but not in exponential phase. The highest total lipid content (67,7%-dw)  was found in N. oculata cultured in media with the lowest phosphate and nitrate concentration, in the contrary the lowest total lipid content (39,3%-dw) was happened in Control medium.  Nutrient limitation in medium culture was able to increase total lipid content in the culture of  N. oculata. Key words: Nannochloropsis oculata; Total  Lipid, phosphate, nitrate
Komposisi Jenis dan Kelimpahan Diatom Bentik di Muara Sungai Comal Baru Pemalang Ken Suwartimah; Widianingsih Widianingsih; Retno Hartati; Sri Yulina Wulandari
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1767.212 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.1.16-23

Abstract

Diatom bentik mempunyai peranan penting sebagai produsen primer dalam siklus karbon di rantai makanan estuaria, sebagai sumber makanan yang penting bagi hewan-hewan surface dwellers (merayap di permukaan) dan deposit feeder, juga berperan penting dalam stabilisasi sediment. Penelitian telah dilakukan di Muara Sungai Comal Baru Desa Mojo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang pada bulan Jamuari-Maret 2006 dengan tujuan menganalisa komposisi genus dan kelimpahannya. Sampel sedimen diambil menggunakan core sampler dengan ketebalan 1 cm pada enam stasiun berdasarkan jaraknya dengan laut.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Muara Sungai Comal Baru telah ditemukan 20 genus diatom bentik yang termasuk dalam 17 famili dengan ordo Pennales lebih banyak dari pada centrales.  Jumlah genus dan kelimpahan total diatom bentik pada bulan Maret lebih tinggi daripada bulan Januari dan Februari karena pengaruh lingkungan antara lain kandungan bahan organik, nutrient  dan curah hujan.Kata kunci: Diatom bentik, kelimpahan, komposisi genus, Sungai Comal Baru Benthic Diatom play important role as primer producer in carbon cycle of estuarine food web, as food source for surface dwellers and deposit feeder as well as as sediment stabliziation. The objectives of this present work was to analize genera composition and abundance of benthic diatom. The work had been carried out in mouth of Comal Baru River, Mojo-Comal, Pemalang during January-March 2006. Benthic diatom in 1 cm depth sediment were taken with core sampler in six stations according to the distance from the beach.  The results showed that twenty genera od benthic diatom belongs to 17 family were found in mouth in mouth of Comal Baru River, Mojo-Comal in which order of penalles more than cenytrales.  The number of genera and their abundance were greater in March than January and February because of environment such a organic matter, nutrient and rainfall. Key words: Benthic Diatom, abundance, genus composition, Comal Baru River
Komposisi Asam Lemak pada Karang Acropora humilis dan A. hyacinthus dari Kepulauan Karimunjawa Diah Permata W; Elis Indrayanti; Subagiyo Subagiyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1649.98 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.1.9-15

Abstract

Binatang karang diketahui memiliki kandungan lemak dalam jaringan tubuhnya. Lemak dijumpai dalam bentuk lemak struktural atau tersimpan sebagai cadangan. Lemak tersebar dan berasosiasi dengan sel di polip maupun zooxanthellae. Kandungan dan komposisi jenis lemak dapat dimanfaatkan sebagai indikator kesehatan koloni karang. Metabolisme lemak dilaporkan berhubungan dengan proses reproduksi binatang karang. Komposisi dan kandungan lemak dapat digunakan untuk memprediksi waktu spawning pada karang Famili Acroporidae. Meski pengetahuan tentang kandungan lemak pada binatang karang memberi banyak manfaat, namun hingga kini di Indonesia penelitian tentang kandungan lemak pada binatang karang belum pernah dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk memberi gambaran komposisi asam lemak yang terdapat pada karang Acropora yang dikoleksi dari Kepulauan Karimunjawa. Komposisi asam lemak dianalisis dengan Kromatografi Gas. Hasil analisis komposisi asam lemak menunjukkan tidak terdapat perbedaan komposisi asam lemak antara Acropora humilis dan A. hyacinthus, yang dikoleksi dari Pulau Sambangan maupun Cemara Kecil. Kandungan lemak pada kedua species didominasi oleh asam palmitat (53-74%), asam stearat (10,2- 19,92%), dan asam oleat (4,8-8,75%). Perbedaan urutan dan jumlah asam lemak berikutnya, mengacu kepada perbedaan species. Karakteristik kandungan  dan  komposisi  asam  lemak  binatang  karang  dapat  digunakan untuk  khemotaksonomi.  Data komposisi lemak yang diperoleh juga dapat digunakan sebagai acuan kandungan asam lemak pada kondisi normal, mengingat bleaching sering terjadi pada kedua lokasi sampling. Kata kunci: Scleractinian, asam lemak, kesehatan karang, Acropora Corals contain large amounts of lipid in their tissues. Lipids may be used for cell structure or energy storage. Lipids were distributed among coral cells or zooxanthellae. Fatty acids analysis has been proved useful as biomarker in stress studies. Lipids also play key role in metabolism of gametogenesis and synchrony of coral spawning. Though fatty acids signature was reported useful for various studies, however, none of studies was done on fatty acids composition of Indonesian corals. The purpose of this study was to survey the lipid composition of Acropora humilis and A. hyacinthus collected from Sambangan and Cemara Kecil Island. Analysis was made of fatty acid composition using Gas Chromatography.  Results show fatty acid composition of two corals species was similar regardless of sampling location. Composition of fatty acids was dominated by palmitic acid ranging from (53-74%), followed by stearic acid (10,2-19,92%) and oleic acid (4,8-8,75%) in both species. However, the order of dominancy of the next fatty acid is depend on coral species. Indeed, fatty acid signature was reported to be useful for chemotaxonomy of corals species. The data also useful as data base of lipid composition at normal condition, since bleaching was reported to occur repeatedly from the sampling locations. Key words: Scleractinian, fatty acids, coral physiology, Acropora
Skrining Kandidat Bakteri Probiotik dari Saluran Pencernaan Ikan Kerapu Berdasarkan Aktivitas Antibakteri dan Produksi Enzim Proteolitik Ekstraseluler Subagiyo Subagiyo; Ali Djunaedi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1590.993 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.1.41-48

Abstract

Strategi penyehatan ikan secara terpadu merupakan salah satu upaya yang paling efektif dalam pengendalian penyakit serta perlindungan lingkungan pada budidaya akuatik.  Pengembangan probiotik menduduki peran fungsional yang penting bersamaan dengan pengembangan vaksin dan immunostimulan. Penelitian ini bertujuan untuk menseleksi bakteri probiotik yang akan dikembangkan sebagai materi dasar untuk mengkonstruksi konsorsium probiotik dengan target fungsional di saluran pencernaan ikan kerapu. Salah satu kriteria seleksi ditetapkan berdasarkan desain konstruksi konsorsium gut probiotik yaitu kemampuan menghasilkan senyawa antibakteri terhadap bakteri pathogen dan kemampuan menghasilkan enzim pencernaan diantaranya adalah enzim proteolitik ekstraseluler. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksplorasi dan eksperiment laboratoris. Ikan kerapu macan secara aseptic diambil saluran pencernaannya, kemudian dihancurkan menggunakan mortar. Penanaman bakteri dilakukan dengan metode pour-plate pada medium nutrient agar. Deteksi aktivitas antibakteria dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan paper disk sedangkan deteksi produksi enzim proteolitik ekstraseluler dilakukan dengan metode tusukan pada media yang diperkaya dengan skim milk. Hasil seleksi berdasarkan kriteria seleksi yang telah ditetapkan diperoleh 8 isolat bakteri potensial untuk dapat dikembangkan sebagai konsorsium probiotik. Ke 8 isolat ini mempunyai kemampuan untuk  menghasilkan senyawa antibakteri yang aktif terhadap 4 jenis vibrio (V. parahaemolyticus, V. vulnivicus, V. harveyii, dan V.anguilarum) serta menghasilkan enzim proteolitik ekstraseluler yang diperlukan untuk mencerna senyawa yang bersifat protein yang merupakan komponen utama pakan ikanKata kunci: Probiotik, pengendalian penyakit, antibakteri, enzim proteolitik, saluran  pencernaan, ikan kerapu The strategy to healhty fish in an integrated manner is one of the efforts that is the most effective to environmentally friendly disease control. The development of probiotics occupied the functional role that is important along with the development of the vaccine and immunostimulant. This research aimed to select the candidates of probiotic bacteria that will be developed as basic material to construct the probiotic consortium with the functional target in the digestion tract  of the grouper fish. The one of selection criteria was appointed based on the construction of the gut probiotic consortium is the capacity to produce the antibacterial compound against the pathogen, and the capacity to produce proteolitic enzymes. The research was carried out with the exploration and experimenal laboratory methods The intestine was removed from the fish of the tiger grouper, afterwards was destroyed by mortar. The planting of the bacteria was carried out with the pour-plate method in nutrient agar medium. Antibacterial activity was detection by agar diffusion method using paper disk, while the detection capability to produce extracellular proteolitic enzymes was carried out by using enrichment media with skim milk. The Results of selection obtained eight bacterial isolates that can be developed potentially as the consortium of gut probiotic. The eight bacterial isolates were able to produce antibacterial compounds (that was active against  V. parahaemolyticus, V. vulnivicus, V. harveyii, and V.anguilarum) and extracellular proteolitic enzymes Key words: Probiotic, diseases control, antibacteria, proteolitic enzyme, gastrointestinal tract, grouper
Effect of C:N Ratio Levels on Water Quality and Shrimp Production Parameters in Penaeus monodon Shrimp Culture with Limited Water Exchange Using Molasses as a Carbon Source Pohan Panjaitan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1518.593 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.1.1-8

Abstract

The main obstacles in developing intensive shrimp culture is waste of shrimp farms which is detrimental to environment. Mitigating the environmental impacts of effluent discharge, shrimp culture should be implemented in closed system with limited water exchange. However, the major problem associated with limited water exchange system is the rapid deterioration in pond, resulting from increasing concentration ammonia and nitrite. The addition of carbon materials such as molasses into shrimp culture with manipulating the carbon : nitrogen ratio level  is one of the best strategies of controlling ammonia and nitrite in shrimp culture with Limited Water Exchange Model (LWEM). Therefore, the principal aim of this study was to evaluate the effects of C:N ratio levels on water quality and shrimp production in Penaeus monodon shrimp culture with Limited Water Exchange Model (LWEM) using molasses as a carbon source. Study reveals that C:N ratio levels significantly effected on water quality and shrimp production parameters of shrimp culture with LWEM using molasses as carbon resource  using molasses. Key words: C: N ratio level, water quality, limited water exchange model, molasses Hambatan utama di dalam pengembangan budidaya udang intensif adalah limbah tambak udang yang merusak lingkungan. Mengurangi dampak lingkungan buangan limbah, budidaya udang seharusnya dilakukan di sistem terbuka dengan pergantian air terbatas.Namun, masalah utama yang terakit dengan system pergantian air terbatas adalah penurunan kolam cepat akibat meningkatnya konsentrasi ammonia dan nitrit. Penambahan bahan karbon contohnya molasses ke tambak dengan mengatur  level rasio karbon : nitrogen merupakan suatu stategi terbaik untuk mengontrol ammonia dan nitrite di budidaya udang dengan model pergantian air terbatas. Dengan demikian, tujuan utama studi ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh level C:N ratio terhadap parameter kualitas air dan produksi udang di budidaya udang Penaeus monodon dengan menggunakan model pergantian air terbatas. Studi menunjukkan bahwa level C:N ratio berpengaruh nyata terhadap parameter kualitas air dan produksi udang di budidaya udang dengan model pergantian air terbatas. Kata kunci: Level rasio C:N, kualitas air, model   pergantian air terbatas, molasses
Pengaruh Surfaktan dan Hidrokarbon Terhadap Zooxanthellae Ambariyanto Ambariyanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1098.376 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.1.30-34

Abstract

Pencemaran perairan laut sudah sering dilaporkan terjadi di berbagai tempat. Pencemaran ini secara langsung memberikan pengaruh yang negatif terhadap biota laut mulai dari terjadinya gangguan proses biologis hingga ke kematian massal. Akibatnya terjadi degradasi lingkungan perairan laut. Salah satu biota yang sering menjadi korban adalah karang yang dikenal hidup bersimbiosis dengan algae zooxanthellae yang berperan sangat penting dalam kehidupan karang. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh polutan khususnya hidrokarbon dan surfaktan terhadap zooxanthellae yang diisolasi dari karang Acropora aspera; Porites lutea; Montipora digitata. Perlakuan yang diberikan adalah paparan hidrokarbon (bensin) dan surfaktan sabun cair dengan konsentrasi 5, 10 and 15 % volume selama 5 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa surfaktan jauh lebih toksik dibanding dengan hidrokarbon terhadap zooxanthellae. Zooxanthellae yang diisolasi dari Acropora aspera menunjukkan kemampuan bertahan yang cukup baik terhadap hidrokarbon dibandingkan dengan kedua jenis karang yang lain. Sedangkan surfaktan mematikan zooxanthellae dengan cepat pada ketiga leve perlakuan.Kata kunci: zooxanthellae, hidrokarbon, surfaktan, pencemaran, karang. Marine pollution has been frequently reported in various places around the world. This pollution directly gives a negative impact on marine life ranging from disturbance of biological processes to the mass mortality. One of the marine organisms that severely affected by marine pollution is coral which is known to live in symbiosis with zooxanthellae algae that play a very important role in coral life. This study investigates the effects of pollutants, especially hydrocarbons and surfactants on zooxanthellae isolated from corals Acropora aspera; Porites lutea; and Montipora digitata. The treatment given is exposure to hydrocarbon (gasoline) and surfactant (ordinary soap) with a concentration of 5, 10 and 15% by volume for 5 minutes. The results showed that the surfactant is much more toxic than the hydrocarbons of the zooxanthellae. Zooxanthellae isolated from Acropora aspera showed the ability to survive quite well against hydrocarbons compared with the other two types of coral. While quick exposure of surfactant has resulted in rapid mortality of zooxanthellae at all three levels of treatment. Key words: zooxanthellae, pollutants, hydrocarbons, surfactant, corals
Skrining Bakteri yang Berasosiasi dengan Spons Jaspis sp. Sebagai Penghasil Senyawa Antimikroba Hermawaty Abubakar; Aris Tri Wahyudi; Munti Yuhana
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1268.737 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.1.35-40

Abstract

Organisme bentik laut seperti spons, seringkali hidup berasosiasi dengan bakteri yang menghasilkan senyawa antimikroba.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  kemapuan  antagonis  isolat-isolat  bakteri  yang berasosiasi dengan spons Jaspis sp. terhadap beberapa bakteri patogen, dengan metode skrining secara kualitatif. Sebanyak 32 (45,71%) dan 20 (29,41%) isolat yang berasal dari bagian mesohyl dan permukaan Jaspis sp. menunjukkan kemampuan antimikroba, karena mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, Vibrio harveyii, Escherichia coli, Pseudomonas aerogenosa, EPEC K-11, Candida albicans, and C. tropicalis. Uji fenotipik dilakukan pada beberapa isolat dengan aktivitas antimikroba terbaik, yaitu SAB E-8, SAB E-33, SAB E-35, SAB E-38, SAB E-40 dan SAB S-43. Hasil pewarnaan Gram menujukkan isolat  SAB E-8, SAB E35, and SAB E-40 adalah Gram negatif, sedangkan isolat SAB E-33, SAB E-38, and SAB S-43 adalah gram positif yang dilanjutkan dengan identifikasi parsial (pengecatan gram dan uji katalase) untuk kelompok Bacillus.Kata kunci: Bakteri, Asosiasi, Jaspis sp., antimikroba Living benthic marine organisms such as sponges are frequently assosiated with as bacteria that may be produce antimicrobial compounds. This study aims to determine antagonistic of bacterial isolates that associated sponge Jaspis sp., with a qualitative screening method. Screening of bacteria from marine sponge Jaspis sp. which have bility to produce antibacterial subtances was investigated. There are 32 (45,71%) and 20 (29,41%) isolates from mesohyl and surface sponge respectively. Those isolated bacterial showed the antibacterial activity against Staphylococcus aureus, Vibrio harveyii, Escherichia coli, Pseudomonas aerogenosa, EPEC K-11, Candida albicans, and C. tropicalis. However, use of a few additional simple phenotypic tests for those isolate can be used to differentiate among isolates. The simple phenotypic test divided two ways based on staining gram. Gram negative bacteria were desingned SAB E-8, SAB E-35, and SAB E-40 and gram positive bacteria were desingned SAB E-33, SAB E-38, and SAB S-43. Parsial identification that directed to Bacillus was used for positive gram bacteria, involve gram staining, endospora staining and katalase test. Key words: Bacteria, Assosiation, Jaspis sp, antimicrobe

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue