cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan" : 7 Documents clear
Population Dynamics of the Indonesian Mantis Shrimp, Harpiosquilla raphidea (Fabricius 1798) (Crustacea: Stomatopoda) Collected from a Mud Flat in Kuala Tungkal, Jambi Province, Sumatera Island Yusli Wardiatno; Ali Mashar
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.225 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.2.111-118

Abstract

This study aim was to reveal the population structure, growth, life span and exploitation rate of mantis shrimp (Harpiosquilla raphidea Fabricius, 1798). This research was conducted in Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, Jambi from July 2009 to June 2010 and partially carried out periodically. The results showed the difference in group size distribution between the mantis shrimp caught in the intertidal and those caught in subtidal areas. The length of the mantis shrimps in the intertidal area ranged from 25 to 233 mm with the dominant length was 7996 mm, while in the subtidal area the length ranged from 160-366 with dominant length between 193-258 mm. Growth coefficient (K) was 0.14 for males and 0.11 for females; while L∞ was the same for the two sexes, i.e. 381.68 mm. The life-span of the shrimp was estimated to be 6.7 to 8.5 years. The value of exploitation rate (E) was 0.42 indicating a not optimum exploitation rate of the shrimp. Key words: mantis shrimp, growth, exploitation rate, life-span, Kuala Tungkal Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan struktur populasi, pertumbuhan, lama mass hidup, dan laju ekspoitasi dari udang mantis (Harpiosquilla raphidea Fabricius, 1798). Penelitian ini dilakukan secara periodik di Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, Jambi dari Juli 2009 hingga Juni 2010. Hasil penelitian memperlihatkan adanya dua kelompok ukuran yang berbeda di daerah intertidal dengan di daerah subtidal. Ukuran panjang udang mantis yang hidup di daerah intertidal berkisar 25-233 mm dengan kelompok dominan berukuran 79-96 mm, sedangkan di daerah subtidal ukuran panjang udang mantis adalah 160-366 mm dengan kelompok dominan berukuran 193-258 mm. Koefisien pertumbuhan (K) adalah 0,14 untuk jantan dan 0,11 untuk betina; sementara L∞ kedua jenis kelamin adalah sama yakni 381,68 mm. Lamanya masa hidup jenis udang mantis ini diperkirakan antara 6,7 sampai 8,5 tahun. Nilai laju eksploitasi (E) sebesar 0,42 mengindikasikan laju yang belum optimum. Kata kunci: Udang mantis, pertumbuhan, laju eksploitasi, masa hidup, Kuala Tungkal
Isolasi Bakteri Asam Laktat dari Usus Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan Potensinya Sebagai Antivibrio Nursyirwani Nursyirwani; W. Asmara; A.E.T.H. Wahyuni; Triyanto Triyanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6578.33 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.2.70-77

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan menguji potensi antibakterial bakteri asam laktat dari ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) terhadap bakteri patogen Vibrio alginolyticus. Bakteri tersebut diisolasi dari usus ikan dengan metode sebarulas pada media agar MRS dan GYP+CaCO3. Koloni yang tumbuh diidentifikasi  berdasarkan  karakter  morfologi,  biokimia  dan  fisiologi.  Aktivitas  antibacterial  terhadap  V. alginolyticus diuji dengan metode difusi kertas cakram pada media Zobell 2216E lapis ganda, diameter zona jernih disekitar kertas cakram diukur dengan kaliper. Pada medium agar GYP+CaCO3 didapatkan 21 isolat yang menampakkan zona jernih disekitar koloninya. Dari karakteristik morfologi, biokimia dan fisiologi dari isolat-isolat tersebut semua isolat dapat dikategorikan kedalam genus Lactobacillus. Tetapi, dari uji aktivitas antivibrio hanya 20 isolat menunjukkan zona hambat yang berkisar dari 14,0-21,5 mm, dimana tiga isolat menunjukkan aktivitas tertinggi, yaitu berturut-turut isolat KSBU 12C, KSBU 13D dan KSBU 5Da.Kata kunci: Isolasi, bakteri asam laktat, antivibrio, Kerapu Macan The objectives of this research were to isolate and examine antibacterial potency of lactic acid bacteria from Tiger Grouper (Epinephelus fuscoguttatus) against pathogen, Vibrio alginolyticus. The bacteria were isolated from the fish intestine by spread plate method on MRS and GYP+CaCO3  agar media. The grown colonies were identified based on morphological, biochemical and physiological characters. Antibacterial activity against V. alginolyticus was examined by the paper disc diffusion method on Zobell 2216E double layer agar, and clear zone diameter around the paper disc was measured by using caliper. Twenty one isolates  with  clear zone around the colonies were obtained from the GYP+CaCO3 agar. Morphological, biochemical and physiological characteristics of the colonies and cells indicated that all isolates might be categorized into Lactobacillus. However, there were only twenty isolates showed inhibition zones from 14.0-21.5 mm in antivibrio activity test, of which the highest activity was indicated by three isolates namely KSBU12C, KSBU 13D and KSBU 5Da, respectively. Key words: Isolation, lactic acid bacteria, antivibrio, Tiger grouper.
Penggunaan Repetitive Sequence-Based Polychain Reaction (REP-PCR) Untuk Pengelompokan Bakteri Vibrio yang Berasosiasi dengan Ikan Kerapu Sakit dari Perairan Karimunjawa Sarjito Sarjito
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.318 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.2.103-110

Abstract

Ikan kerapu sakit diperoleh dari keramba jaring apung yang berlokasi di perairan Karimunjawa. Penelitian ini bertujuan  untuk  mengkaji  penggunaan  Repetitive  Sequence-Based  Polychain  Reaction (REP-PCR)  untuk pengelompokan bakteri genus vibrio yang berasosiasi dengan berbagai ikan kerapu sakit.  Sebanyak 32  isolat Vibrio berhasil diisolasi dari bagian luka maupun ginjal berbagai ikan kerapu sakit dengan  medium Thiosulfat Citrat Bile Salt Agar (TCBSA).  Hasil rep-PCR diperoleh bahwa terdapat delapan kelompok bakteri vibrio yang berasosiasi dengan ikan kerapu sakit.  Oleh karena itu,  pada penelitian ini, delapan  isolat (JT 02, JT 07, JT 10, JT 13, JT 20, JT 24, JT 27, dan JT 31) yang masing-masing mewakili kelompoknya akan dilakukan uji selanjutnya. Teknik  molekuler  gen 16S  rDNA  digunakan  untuk  karakterisasi  kedelapan  isolat    secara  komprehensif. Berdasarkan analisis sekuen gen 16S rDNA, data menunjukkan bahwa isolat JT 02, JT 07, JT 10, JT 13, JT 20, JT 24, JT 27, dan JT 31 memiliki kekerabatan terdekat dengan Vibrio natriegens, V. olivaceus,  V. damsella ATCC33, V. fortis, V. alginolyticus, V. harveyi, V. parahaemolyticus and V. carcharieae.  Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa rep-PCR dapat digunakan untuk pendekatan molekuler secara efisien pada bakteri vibrio yang berasosiasi dengan kerapu sakit.Kata kunci: rep-PCR, Vibrio, Kerapu, Karimunjawa Moribound grouper fish was taken from the cages located in Karimunjawa waters. The research aim was to apply Repetitive Sequence-Based Polychain Reaction (REP-PCR) to group  the vibriosis on groupers from Karimunjawa waters.  Thirty two  isolates of Vibrio were isolated from external wound and kidney of groupers.  Based on the rep-PCR results found  eight  groups of vibrio bacteria associated with moribund groupers fish. Eight isolates, i.e. isolate of JT 02, JT 07, JT 10, JT 13, JT 20, JT 24, JT 27, and JT 31 were continued to characterize using the molecular techniques of 16S rDNA. Based on the results of sequen analysis, data showed that isolate of JT 02, JT 07, JT 10, JT 13, JT 20, JT 24, JT 27, and JT 31 was closely related to Vibrio natriegens, V. olivaceus,  V. damsella ATCC33, V. fortis, V. alginolyticus, V. harveyi, V. parahaemolyticus and V. carcharieae, respectively . The present research concluded that rep-PCR was able to conduct biomoleculer approach efficiently for vibrios bacteria in moribund groupers fish. Key words: rep-PCR, Vibrio, groupers, Karimunjawa
Analisis Aspek Ekologi Penatakelolaan Minawisata Bahari di Kepulauan Spermonde Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan Muhammad Kasnir
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.079 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.2.61-69

Abstract

Pemanfaatan berbagai kegiatan di perairan Kepulauan  Spermonde menyebabkan   kerusakan ekosistem terumbu karang dan padang lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek ekologi penatakelolaan pengembangan minawisata bahari. Penelitian dilaksanakan Maret-Agustus 2010 di Kepulauan Spermonde, yaitu pada Pulau Sapuli, P. Satando, P. Saugi, P. Cambang-cambang, P. Salemo, P. Sakoala, P. Sabangko, P.   Sagara, P. Sabutung, dan Gusung Torajae.  Penentuan stasiun didasarkan atas hasil citra satelit, jenis data yaitu;  kualitas air terdiri dari Suhu, salinitas, pH, kecerahan, kedalaman, kecepatan arus, dan substrat, DO, Fosfat dan nitrat. Kondisi penutupan karang menggunakan metode line intercept transect.  Hubungan antara karakteristik lingkungan perairan dengan ekosistem menggunakan Correspondence Analysis. Hasil diperoleh bahwa kondisi tutupan karang hidup dalam kategori rusak buruk hingga baik, kondisi kualitas air masih memungkinkan dilakukan untuk berbagai pemanfaatan, sedangkan hubungan karakteristik lingkungan peraira dengan kondisi terumbu karang ditemukan dua ciri kelompok, Luasan  peruntukan minawisata bahari diperoleh luasan yaitu wisata pantai 29,39 ha, wisata bahari 742,47 ha, karamba jaring apung 2.438,27 ha, budidaya rumput 136,98 ha dan perikanan karang di bagian luar perairan P. Sapuli, dan Gusung Torajae. Kata kunci: Ekologi, penatakelolaan dan minawisata bahari Diverse activities in Spermonde Islands cause serious damage on coral reef and seagrass ecosystems.  This research was aimed to study several aspects of marine ecology Marine fishery tourism development. The research was conducted from March to August 2010 at Spermonde Islands i.e. Sapuli, Satando, Saugi, Cambang-cambang, Salemo, Sakoala, Sabangko, Sagara, Sabutung and Gusung Torajae. The research stations were determined based on results of satellite images.  Data types were namely the quality of water temperature, salinity, pH, brightness, depth, flow velocity, and substrate, DO, phosphate and nitrate. The condition of coral            cover was determined by using line intercept transect. The relationship between characteristic ecosystems of aquatic environment was studied by using Correspondence Analysis. Results showed that the condition of live coral cover in the category of damaged bad to good, condition of water quality is still possible to do for various uses, while the relationship of environmental characteristics with the condition of coral reefs  found two features of the group, acquired the marine area of allocation Marine fishery tourism, tourist beach area of 29.39 ha, 742.47 ha of marine tourism, floating nets 2438.27 ha, 136.98 ha of grass cultivation and fisheries on the outer reef waters P. Sapuli, and Gusung Torajae Key words: Ecology, governance, marine fishery tourism
Pengaruh Dosis Terhadap Efektifitas Vaksin POM Vibrio alginolyticus 74 kDa pada Ikan Kerapu Macan Epinephelus fuscoguttatus Desrina Desrina; Arief Taslihan; Ambariyanto Ambariyanto; Budhi Kuncoro Jati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.635 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.2.95-102

Abstract

Vibrio alginolyticus adalah bakteri patogen penyebab penyakit vibriosis pada ikan kerapu budidaya di Indonesia. Vaksin Protein Outer Membran (POM) V. alginolyticus telah terbukti imunogenik pada ikan kerapu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh dosis vaksin  terhadap kemampuan POM V. alginolyticus 74 kDa dalam merangsang kerja sistem kekebalan spesifik ikan dan menentukan efek dosis terhadap perlindungan yang dihasilkan. POM(74 kDa) diisolasi dengan metoda sonikasi dan SDS-PAGE, dan dimurnikan dengan metoda elektroelusi. Vaksin diberikan dengan metoda suntik intraperitoneal ke ikan kerapu ukuran 8-10 cm (berat 1013 g) dengan dosis 0 (kontrol), 5, 10 dan 15 µg/0, 1 ml PBS/ 10 g ikan (n= 30 ekor/dosis).  Ikan kontrol disuntik dengan 0,1 ml PBS steril. Satu minggu kemudian ikan disuntik booster dengan cara dan dosis yang sama.  Dua  minggu  setelah  booster  dilakukan  uji  tantang  dengan  dengan  menyuntikkan  bakteri  Vibrio alginolyticus 8 secara intramuskular dengan dosis 0,1 ml X 109 sel/ml, dan ikan dipelihara selama 2 minggu. Jumlah ikan yang mati selama masa uji tantang dihitung untuk menentukan Relative Percentage Survival (RPS). Titer antibodi diukur sebelum percobaan dan setiap minggu selama penelitian. Ke 3 dosis yang diberikan efektif dalam merangsang respon kekebalan humoral ikan kerapu dan menghasilkan kekebalan yang melindungi yang hampir sama yang terlihat dari nilai RPS untuk dosis 5, 10 dan 15 µg masing masing 72, 87 dan 72%. Kata kunci: vaksin POM,  kerapu, dosis  Vibrio alginolyticus is a causative agent of  vibriosis of cultured grouper in Indonesia.  It has been reported  that the Outer Membrane Protein (OMP) of V. alginolyticus vaccine was immunogenic on grouper.  Vaccine dose is important in determining the ability of vaccine to conferred protective immunity. The objectives of the present research was to determine effect of vaccine doses on (1)  the specific immune response of grouper and (2) conferring protective immunity of grouper. OMP V. alginolyticus (74 kDa) was isolated by sonication and SDSPAGE, and purified by mean  electroelution. Vaccine was delivered by intraperitoneal injection to grouper juvenile (8 - 10 cm long  and  weigh10 - 13 g) in three doses;  0 (kontrol), 5, 10 dan 15 µg/0, 1 ml PBS/ fish (n= 30 fish/ dose).  Control fish were injected with 0,1 ml sterile PBS steril. One week later, booster  was given in the same manner as the primary vaccination. Two weeks following booster (week 4), fish were challenge with  V. alginolyticus 8 by intramuscular injection (0,1 ml X 109 sel/ml) and fish were maintained for two weeks. Fish mortality pos challenge test was counted to calcualte the Relative Percentage Survival (RPS). Antibodi titer was measured before vaccination and weekly for 4 week. All three doses tested were effective to  trigger the specific immune response of grouper dan conferred protective immunity with similar degree as shown by the RPS for dose 5, 10 dan 15 µg were 72, 87 dan 72% respectively. Key words: vaccine, OMP, grouper, dose.
Konsentrasi Logam Berat Kadmium Pada Air, Sedimen dan Deadema setosum (Echinodermata, Echinoidea) di Perairan Pulau Ambon Dominggus Rumahlatu
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.465 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.2.78-85

Abstract

Biomonitoring merupakan suatu pendekatan untuk mengestimasi status pencemaran di laut yang baik. Pada penelitian ini, dilakukan analisa konsentrasi logam berat kadmium (Cd) pada air, sedimen dan bagian tubuh Deadema setosum yang berasal dari perairan pulau Ambon. Sampel yang diperoleh dianalisa konsentrasi Cd dengan menggunakan Atomic Absorbsion Spectrofotometer (AAS). Hasil analisa konsentrasi Cd pada air 0.010.03 ppm dan sedimen 0.17-0.32 ppm, sedangkan pada bagian tubuh Deadema setosum yaitu duri, cangkang, gonad, dan usus berturut-turut 0.30-1.19, 0.31-0.85, 1.30-1.39, dan 1.31-1.95 ppm. Hasil analisis hubungan logam berat Cd pada air dengan kadar logam berat Cd pada bagian tubuh D. setosum menunjukan suatu hubungan yang tidak signifikan. Tapi hubungan yang signifikan ditunjukan pada hasil analisis hubungan antara logam berat Cd pada sedimen dengan kadar logam berat Cd pada bagian tubuh D. setosum. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perairan pulau Ambon telah tercemar logam berat Cd dan D. setosum dapat digunakan sebagai biomonitoring pencemaran logam berat di laut. Kata kunci: Logam Berat Kadmium, Deadema setosum, Biomonitoring Biomonitoring is a good approach to estimate the status of pollution in the marine enviroments. In this research, the analysis of heavy metal concentrations of cadmium (Cd) in water, sediment and body compartments Deadema setosum derived from the island of Ambon were performed. Samples were obtained and then analyzed the concentration of Cd using atomic absorption spectrophotmeter (AAS). Results of analysis of Cd concentration in water are 0:01 to 0:03 ppm and the sediment are 0:17 to 0:32 ppm, whereas the body parts of D. setosum are spines, shells, gonads, and intestines in a row 0:30 to 1:19, 0.31-0.85, 1:30 to 1:39, and 1.31-1.95 ppm. The results of analysis of heavy metals Cd relationship in the water with heavy metals Cd levels in the body of D. setosum showed  that the relationship  is not significant. But the significant relationship is shown in the results of analysis of the relationship between heavy metal Cd in sediments with heavy metals Cd levels in the body of D. setosum. The results of this study indicate that the waters of the island of Ambon has been polluted by heavy metals Cd and D. setosum can be used as a biomonitoring of heavy metal pollution at the sea. Key words: Heavy Metal Cadmium, Deadema setosum, Biomonitoring
Optimasi Proses Ekstraksi Fukosantin Rumput Laut Coklat Padina australis Hauck Menggunakan Pelarut Organik Polar Leenawaty Limantara; Heriyanto Heriyanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.42 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.2.86-94

Abstract

Rumput laut coklat merupakan salah satu sumber daya alam laut yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat Indonesia. Warna rumput laut coklat berasal dari salah satu pigmen dominan yang terdapat dalam rumput laut ini yaitu fukosantin, yang bermanfaat sebagai anti-kanker dan anti-obesitas. Penelitian mengenai proses optimasi ekstraksi fukosantin pada rumput laut coklat belum banyak dilakukan, sehingga penelitian ini bertujuan  untuk  menentukan  pelarut  organik  polar  yang  dapat  mengekstrak  fukosantin  secara  optimal. Fukosantin diekstraksi dari Padina australis Hauck menggunakan lima jenis pelarut organik polar, yaitu: aseton, asetonitril,  dimetil  sulfoksida (DMSO),  etanol  dan  metanol.  Berdasarkan  hasil  analisis  spektrometri,  nilai absorbansi pada panjang gelombang serapan maksimum (λmak) fukosantin dari spektra serapan ekstrak kasar pigmen, Padina australis Hauck yang diekstraksi dengan pelarut metanol memiliki nilai absorbansi relatif tinggi yaitu 0,9338 hampir sama ketika DMSO dan etanol digunakan sebagai pelarut ekstraksi. Hasil ini diperkuat oleh hasil analisis kandungan fukosantin dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dimana kandungan fukosantin mencapai 2,6049 mg/g berat kering dengan pelarut metanol dan kandungan fukosantin ini lebih tinggi 1,08-1,71 kali dibandingkan menggunakan pelarut organik polar lainnya. Kemurnian fukosantin dapat ditentukan berdasarkan nilai persentase luas puncak fukosantin (isomer cis dan trans fukosantin) terhadap luas dari seluruh puncak pigmen yang dapat dipisahkan pada kromatogram KCKT. Pelarut metanol memiliki nilai persentase luas puncak fukosantin relatif tinggi yaitu 60,11%. Berdasarkan hasil penelitian ini maka metanol merupakan pelarut yang terbaik untuk mengekstrak fukosantin dari Padina australis Hauck. Kata kunci: pelarut organik polar, ekstraksi, kandungan fuksosantin, Padina australis Hauck Brown seaweed, is one of marine natural resources, grows naturally and abundantly at Indonesian coastal waters, and yet Indonesians have not utilized it optimally. The color of brown seaweed ascribes to one kind of dominant pigments that this seaweed contains, namely fucoxanthin. Fucoxanthin has potent beneficial effects on human  health,  such  as  anti-cancer  and  anti-obesity  properties.  However,  the  research  concerning  the optimization of fucoxanthin extraction on brown seaweed has not been much done. Therefore, the purpose of this research is to determine the polar-organic solvent that can optimally extract fucoxanthin. Fucoxanthin was extracted from Padina australis Hauck by using various polar-organic solvents (such as acetone, acentonitrile, dimethyl sulfoxide (DMSO), ethanol and methanol). The result of spectrometry analysis, absorbance values at maximum absorption wavelength (λmak) of fucoxanthin from absorption spectra of pigment-crude extracts, showed that Padina australis Hauck extracted by methanol solvent has a relatively high absorbance value, i.e. 0.9338. This absorbance value was almost of the same value when DMSO and ethanol solvents are used as extraction solvent. This result supported the result of fucoxanthin content analysis by High Performance Liquid Chromatography (HPLC), where fucoxantin content was 2.6049 mg/g dry weight and this fucoxanthin content is 1.08-1.71 times higher when another polar-organic solvent was applied. The purity of fucoxantin can be determined from area percentage of fucoxantin peaks (cis and trans isomers fucoxanthin) toward the area of all pigments peaks that could be separated on HPLC chromatogram. Methanol solvent has a high area percentage value of 60.11%. Based on these experimental results, it can be claimed that methanol solvent is the best solvent for fucoxanthin extraction from brown seaweed Padina australis Hauck. Key words: polar-organic solvent, extraction, fucoxanthin content, Padina australis Hauck

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue