cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan" : 8 Documents clear
Pengaruh Salinitas yang Berbeda terhadap Morfologi, Ukuran dan Jumlah Sel, Pertumbuhan serta Rendemen Karaginan Kappaphycus alvarezii Apri Arisandi; Marsoedi Marsoedi; Happy Nursyam; Aida Sartimbul
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1033.325 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.3.143-150

Abstract

Curah  hujan  mempengaruhi  salinitas  air  laut,  yang  pada  gilirannya  dapat  menyebabkan  rendahnya pertumbuhan Kappaphycus alvarezii.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan morfologi, ukuran dan jumlah sel, pertumbuhan serta rendemen karaginan K. alvarezii pada salinitas yang berbeda.  Penelitian dilakukan  menggunakan  metode  kultur  jaringan,  selanjutnya  thallus  yang  telah  tumbuh  diekstraksi karaginannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas yang berbeda berpengaruh nyata terhadap jumlah sel K. alvarezii (p<0,05), tetapi tidak terhadap rata-rata pertumbuhan harian (p>0,05). Rendemen karaginan pada semua perlakuan salinitas relatif tinggi dan sesuai dengan persyaratan untuk ekspor. Kata kunci:  salinitas, sel, pertumbuhan, karaginan, K. alvarezii Rainfall affects the salinity of sea water, which in turn can lead to the low growth of Kappaphycus alvarezii. This research aimed to determine changes in the morphology, size and number of cells, growth and carrageenan yield of K. alvarezii at different salinitity levels. The research was conducted using tissue culture method, furthermore, from the grown thallus then the carageenan was extracted. The results showed that different of salinity levels significantly influenced the number of cells K. alvarezii (p<0.05), but not against the average daily gain (p>0.05). The carrageenan yields at all salinity treatment were relatively high and eligible for export.  Key words: salinity, cell, growth, carrageenan, K. alvarezii
Sebaran Ikan Tuna Berdasarkan Suhu dan Kedalaman di Samudera Hindia Abram Barata; Dian Novianto; Andi Bahtiar
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.222 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.3.165-170

Abstract

Suhu dan kedalaman perairan memberikan pengaruh yang paling kuat dan utama terhadap penyebaran ikan tuna. Kenaikan suhu rata-rata global pada permukaan bumi turut mempengaruhi kenaikan suhu permukaan laut.  Tulisan  ini  bertujuan  untuk  menganalisis  sebaran  ikan  tuna  berdasarkan  suhu  dan  kedalaman penangkapan rawai tuna di Samudera Hindia. Penelitian dilakukan 9 trip observasi mulai Juni 2007 sampai Januari 2010. Hasil penelitian dengan menggunakan alat minilogger menunjukkan ikan tuna jenis yellowfin didominasi 80 % berukuran >100 cm tertangkap pada kedalaman 85,73-167,80 m dengan suhu 22,20- 26,40 °C, bigeye didominasi 60 % berukuran >100 cm tertangkap pada kedalaman 193,97-470,12 m dengan suhu 8,35-15,30 °C, albacore didominasi 64 % berukuran >100 cm pada kedalaman 85,73-124,74 m dengan suhu 21,41-26,40 °C dan bluefin berukuran >100 cm tertangkap pada kedalaman 190,15-194,21 m dengan suhu 14,99-15,12 °C. Suhu dan kedalaman sebaran tuna jenis yellowfin dan albacore memiliki kesamaan yaitu pada level lapisan permukaan, hal ini menunjukkan perairan tropis merupakan daerah yang cocok untuk menangkap yellowfin dan albacore di Samudera Hindia.Kata kunci: Tuna, suhu dan kedalaman, rawai tuna, Samudera Hindia Temperature and depth waters are the most powerful  influence and the main contribution to the spread of tuna. The increase in global average temperature at the earth’s surface also influence the rise in sea surface temperature. This paper aims to analyze the distribution of tuna based on temperature and depth of tuna longline fishing in the Indian Ocean. The research were counducted in 9 trip observations starting in June 2007 until January 2010.  The results using the tool minilogger showed that yellowfin tuna species dominated 80 % measuring >100 cm was  caught at a  depth  of 85.73  to 167.80  m  with  temperature 22.20  to 26.40 °C, bigeye dominated 60% size >100 cm was caught at a depth of 193.97 to 470.12 with a temperature 8.35 to 15.30 °C, albacore dominated 64 % of  size >100 cm in depth from 85.73 to 124.74 m with a temperature 21.41 to 26.40 °C and bluefin size >100 cm was caught at a depth of 190 0.15 to 194.21 m with temperature from 14.99 to 15.12 °C. Temperature and depth distribution of yellowfin and albacore tuna species have in common is at the level of the surface layer, this suggest the tropical waters is an area suitable to catch yellowfin and albacore in the Indian Ocean. Keywords :  Tuna, temperature and depth, tuna longline, Indian Ocean
Distribusi Spasial Krustasea di Perairan Kepulauan Matasiri, Kalimantan Selatan Nirmalasari Idha Wijaya; Rianta Pratiwi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.174 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.3.125-134

Abstract

Perairan Kepulauan Matasiri dipengaruhi oleh daratan Pulau Kalimantan (mainland) dan Selat Makassar.Kedua pengaruh  tersebut  menyebabkan  adanya  perbedaan  karakteristik  habitat  yang  diduga  berdampak  pada distribusi spasial krustasea.Metode deskriptif diterapkan pada penelitian ini. Krustasea disampling dengan metode sapuan menggunakan alat tangkap trawl demersal pada 4 stasiun yaitu, Stasiun 1, 2, 3 dan 4. Parameter fisika kimia perairan (meliputi salinitas, suhu, kedalaman, kecerahan, kekeruhan, TSS, oksigen terlarut,  pH,  phospat,  nitrogen,  dan  silikat)  semua  diukur  dengan  menggunakan  alat  CTD (Conductivy Temperature Depth) 911 Plus. Pengukuran pH menggunakan SBE (Sea Bird Electronik) 18 pH, kecerahan dengan alat CStar Transmissometer dan kekeruhan menggunakan OBS3 (Optical Backscatter Sensor).Data dianalisis  menggunakan  metode  statitik  multivariabel  yang  didasarkan  pada  Analisis  Komponen  Utama (Principal Component Analysis, PCA) dan Analisis Korelasi (Corresponden Analysis, CA).Hasil analisis PCA menunjukkan bahwa habitat dapat dikelompokan menjadi tiga karakter, yaitu kelompok habitat dekat estuaria (Stasiun1 dan 4), kelompok habitat sebelah utara Kepulauan Matasiri (Stasiun 2) dan kelompok habitat sebelah selatan Kepulauan Matasiri (Stasiun 3).Kelimpahan krustasea sangat dipengaruhi oleh parameter salinitas, kecerahan, dan kedalaman. Hasil analisis CA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan distribusi spasial jenis krustasea.  Beberapa  famili krustasea  seperti  Paguridae  dan  Dromiidae  hanya  ditemukan  di  Stasiun 4, sedangkan famili Alpheidae, Parthenopidae, dan Podophthalmidae hanya dapat ditemukan di Stasiun 3. Hal ini menunjukkan perbedaan karakteristik habitat mempengaruhi kelimpahan jenis krustasea tertentu.  Kata kunci: krustasea, kelimpahan, karakteristik habitat, distribusi spasial The Matasiri Island waters influenced by the mainland island of Borneo and the Makassar Strait. Both impacts cause the differences of habitat characteristics of Matasiri Islands waters, which affects the differences of spatial distribution of crustacean. Descriptive methods applied in this study. Crustaceans sampled with a  sweep method using demersal trawl gear in the four stations are: Station 1, 2, 3 and 4. Aquatic chemical physics parameters (including salinity, temperature, depth, brightness, turbidity, TSS, dissolved oxygen, pH, phosphate, nitrogen, and silicate) were all measured using a CTD (Conductivy Temperature Depth) 911 Plus. Measurement of pH using SBE (Sea Bird Electronic) 18 pH, the brightness using CStar Transmissometer and turbidityusing OBS3 (Optical Backscatter Sensor).Datawere analyzed using multivariable statistic method based on the Main Component Analysis (Principal Component  Analysis, PCA) and Correlation Analysis (Corresponden Analysis,CA). The results of PCA analysis showed that the habitat can be grouped into three characters, namelynear the estuary habitat groups (Stations 1 and 4), the habitat north of Matasiri Islands (station2) and the habitat south of Matasiri Islands (station3). Abundance of crustaceans is strongly influenced by the parameters of salinity, brightness, and depth. CA analysis results indicate that there are differences in the spatial distribution of crustacean species.  Several families of crustaceans such as Paguridae and Dromiidae only found in  the Station 4,while the family Alpheidae, Parthenopidae, and Podophthalmidae only be found at Station 3. This suggests differences in habitat characteristics affect the abundance of certain crustaceans.  Key words: Crustacea, abundance, habitat characteristics, spatial distribution
Variabilitas Suhu dan Klorofil-a di Daerah Upwelling pada Variasi Kejadian ENSO dan IOD di Perairan Selatan Jawa sampai Timor Kunarso Kunarso; Safwan Hadi; Nining Sari Ningsih; Mulyono S. Baskoro
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.096 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.3.171-180

Abstract

Informasi mengenai variabilitas spasial suhu dan klorofil-a permukaan laut memiliki peran penting sebagai sarana pendugaan daerah potensi ikan tuna. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menggambarkan variabilitas suhu dan klorofil-a permukaan laut baik secara spasial maupun temporal di daerah upwelling pada variasi kejadian El Nino Southern Oscilation (ENSO) dan Indian Oscillation Dipole Mode (IOD) di perairan Selatan Jawa hingga Timor. Variabilitas suhu dan klorofil-a permukaan laut dikaji berdasarkan data-data MODIS (Moderate-Resolution Imaging Spektroradiometer) bulanan Level 3 dari satelit Aqua dan Terra. Nilai suhu dan klorofil-a permukaan laut bervariasi menurut waktu (bulan), wilayah (provinsi) dan variasi antar tahunan iklim global (El Niño-IOD(-), El Niño-IOD(+), La Niña-IOD(-) dan  La Niña-IOD(+). Secara umum kisaran suhu permukaan laut (SPL)  di  daerah  upwelling  pada  variasi  ENSO  dan  IOD  berkisar 26,18 -28,35°C  dengan  rerata 27,04±0,93°C. Kisaran klorofil-a sebesar 0,3-0,95 mg/M³ dengan rerata 0,69±0,28mg/M³. Mulai bulan Juni umumnya nilai suhu permukaan laut (SPL) semakin turun dan klorofil-a semakin meningkat hingga mencapai puncak bulan Agustus atau September, kemudian berangsur normal kembali. Nilai suhu permukaan laut terendah  ditemukan berkembang dari timur (Bali) pada bulan Juni bergerak ke barat hingga Jawa Barat di bulan Oktober. Nilai klorofil-a tinggi berkembang sesuai dengan perkembangan suhu terendah, namun nilai klorofil-a tertinggi umumnya bergerak tidak sesuai dengan perkembangan SPL terendah. Klorofil-a tertinggi umumnya terjadi di perairan selatan Provinsi Bali. Jauh dekatnya pergerakan SPL terendah dan klorofil-a tinggi tampak dipengaruhi nilai IOD-nya, semakin besar nilai IOD maka semakin jauh gerakannya ke barat.Kata Kunci : Variabilitas, suhu, klorofil-a, upwelling, perairan selatan Jawa The information of spatial variabilities of sea surface temperature and chlorophyll-a are important for predicting potential fishing ground of tuna. The aims of the reseach are to describe and study the spatial and temporal variabilities of sea surface temperature and chlorophyll-a at  upwelling area  during the variabilities of El Nino Southern Oscilation (ENSO) and Indian Oscillation Dipole Mode (IOD) event  at southern waters of Jawa until Timor Island. They were studied based on monthly MODIS (Moderate-Resolution Imaging Spektroradiometer) data  Level 3 from Aqua and Terra satelite. The values of sea surface temperature and chlorophyll-a are variable in the times (month), areas (province) and annually global climate (El Niño-IOD(-), El Niño-IOD(+), La Niña-IOD(-) dan  La Niña-IOD(+). Commonly range of the seawater surface temperature (SST) at upwelling area on the variabilities of ENSO and IOD are about 26.18-28.35°C with average 27.04±0,93°C, whereas average of chlorophyll-a are about 0.3-0.95 mg/m³ with average 0.69±0,28mg/M³. From June, sea surface temperature starts to decrease but clhorophyl-a is increasing and back to  normal after reaching peak in August or September. The lowest sea surface temperature was found developing from east (Bali) in June and then moving to west until southern west Java  in  October. The development of high chlorophyll-a values are suitable with that of low sea surface temperature. However the development of highest chlorophyll-a generally move inconsistent with that of lowest sea surface temperature. The highest chlorophyll-a generally happen at the southern of Bali Province. The distance movement of the low sea surface temperature and high chlorophyll-a distributions are affected by IOD value, the higher IOD value the further they move to the west. Key words: Variability, temperature, khlorophyll-a, upwelling, southern waters of Jawa
Kajian Zat Hara Fosfat, Nitrit, Nitrat dan Silikat di Perairan Kepulauan Matasiri, Kalimantan Selatan Fonny J.L Risamasu; Hanif Budi Prayitno
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.317 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.3.135-142

Abstract

Penelitian zat hara fosfat, nitrit, nitrat dan silikat telah dilakukan di perairan Kepulauan Matasiri, Kalimantan Selatan pada 12 stasiun pengamatan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan berdasarkan ketersediaan dan distribusi spasial zat hara di perairan tersebut. Pengambilan sampel air menggunakan botol Niskin pada lapisan permukaan dan dekat dasar perairan, sedangkan pengukuran konsentrasi zat hara menggunakan Spektrofometer Shimadzu UV-1201V. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan Kepulauan Matasiri termasuk perairan yang subur. Rata-rata konsentrasi fosfat di permukaan dan di dekat dasar perairan relatif sama, sedangkan konsentrasi nitrit, nitrat dan silikat lebih tinggi di dekat dasar perairan dari pada di permukaan.  Kata kunci:  Fosfat, Nitrit, Nitrat, Silikat, Kepulauan Matasiri. A research on marine nutrients including phosphate, nitrite, nitrate and silicate was conducted in the Matasiri Islands waters, South Kalimantan, on 12 observation stations. The aim of the research is to understand and assess the waters condition based on the availability and the spatial distribution of nutrients in these waters. Water sampling used Niskin bottles in the surface and near bottom layers, whereas the measurement of nutrients concentration used spectrophotometer Shimadzu UV-1201V. The results showed that Matasiri Islands waters is categorized as fertile waters. The average concentration of phosphate in surface and near bottom layers were relatively similar, whereas the average concentration of nitrite, nitrate and silicate were higher in near bottom layer than in the surface.  Key words: phosphate, nitrite, nitrate, silicate, Matasiri Islands.
Properti Probiotik Isolat Bakteri Asam Laktat untuk Mengendalikan Pertumbuhan Vibrio alginolyticus pada Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Nursyirwani Nursyirwani; W. Asmara; A.E.T.H. Wahyuni; Triyanto Triyanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2984.048 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.3.151-158

Abstract

  Tujuan penelitian ini adalah untuk menyeleksi isolat bakteri asam laktat (BAL) yang telah diisolasi dari ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) berdasarkan toleransi terhadap pH dan bile salts, patogenisitas dan kemampuannya menekan pertumbuhan Vibrio alginolyticus pada uji ko-kultur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua puluh isolat BAL yang telah diuji antagonismenya terhadap V. alginolyticus pada penelitian terdahulu, dapat hidup pada pH rendah 3 dan tumbuh pada konsentrasi bile salts 0,5% kecuali isolat KSBU 13D.  Semua isolat tidak patogen terhadap ikan Kerapu Macan setelah diinfeksi BAL pada konsentrasi 107 cfu/ml secara intraperitoneal (IP). Pada uji ko-kultur, dari 6 isolat BAL yang dipilih, tiga isolat (KSBU 12C, KSBU 5Da, KSBU 9) berturut-turut mampu menekan pertumbuhan V. alginolyticus, dan penambahan konsentrasi BAL terbaik adalah 107 cfu/ml. Kata kunci: bakteri asam laktat, vibriosis,  patogenisitas, ko-kultur, kerapu macan The research objective was to select lactic acid bacteria which previously isolated from Tiger Grouper (Epinephelus fuscoguttatus) based on pH and bile salts tolerances, pathogenicity test and ability to decrease the growth of Vibrio alginolyticus in co-culture test. The result shows that twenty isolates which had also been examined their antagonisms against V. alginolyticus previously, were able to survive relatively low pH  values 3 and able to survive at high bile salts concentrations 0.5% except KSBU 13D isolate.  All isolates were nonpathogenic to Tiger Grouper after being intraperitoneally infected with the lactic acid bacteria at concentration 107 cfu/ml. In co-culture test, V. alginolyticus was reduced significantly by three isolates (KSBU 12C, KSBU 5Da, KSBU 9) from 6 isolates selected, and the best additional bacterial concentration was  107 cfu/ml. Key words: lactic acid bacteria,  vibriosis,  pathogenicity,  kerapu macan
Aktivitas Antioksidan dan Komponen Bioaktif Kerang Pisau (Solen spp) Nurjanah Nurjanah; Laili Izzati; Asadatun Abdullah
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.88 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.3.119-124

Abstract

Kerang pisau (Solen spp) merupakan salah satu jenis moluska dari kelas Bivalva yang banyak ditemukan di daerah pantai berlumpur di perairan Kabupaten Pamekasan Madura.Tujuan penelitian adalah menentukan aktivitas antioksidan dan komponen bioaktif yang terkandung dalam kerang pisau. Pengujian yang dilakukan meliputi analisis aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, dan uji fitokimia. Kerang pisau memiliki aktivitas antioksidan yang terlihat dari nilai LC50 yang diperoleh. Nilai LC50 dari ekstrak kloroform sebesar 2008,52 ppm, ekstrak etil asetat 1593,87 ppm dan ekstrak metanol 1391,08 ppm. Ekstrak kasar kerang pisau mengandung alkaloid, steroid, dan flavonoid. Kerang pisau dapat dinyatakan sebagai salah satu jenis kerang-kerangan penghasil senyawa antioksidan dan dapat dikembangkan, baik dalam bidang pangan maupun farmasi.  Kata kunci:  Aktivitas antioksidan, kerang pisau (Solen spp), senyawa bioaktif. Razor clams (Solen spp) were commonly found in muddy Pamekasan waters, Madura. This research was conducted to determine the potential of razor clams as one type of shellfish producing antioxidant compounds. The tests included quantitative test of antioxidant activity by DPPH method, and phytochemical test. Razor clams has antioxidant activity as showed on the LC50 values obtained. LC50 value of chloroform, ethyl acetate, and methanol extract were 2008 2 ppm, 1593,87 ppm and 1391,08 ppm, respectively. The crude extract of razor clams is contained 3 bioactive components in the forms of alkaloids, steroids,and flavonoids. Razor clams can be expressed as one type of shellfish-producing antioxidant compounds and can be developed, both in food and pharmaceutical fields.  Key words: antioxidant activity, razor clams (Solen spp), bioactive compound.
Respons Makan Ikan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscoguttatus) Terhadap Perbedaan Jenis dan Lama Waktu Perendaman Umpan Aristi Dian Purnama Fitri
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.929 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.3.159-164

Abstract

Umpan berfungsi untuk menarik perhatian ikan agar tertangkap. Studi tingkah laku makan ikan merupakan bagian yang paling penting untuk mengetahui efektivitas penggunaan umpan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui responss makan ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscoguttatus) dengan perbedaan jenis dan lama  perendaman  umpan.  Penelitian  dilakukan  dengan  metode  eksperimen  laboratorium.  Umpan  yang digunakan adalah udang krosok (Metapenaeus elegans) dan ikan rucah (Sardinella gibbosa).  Data penelitian meliputi waktu respons makan ikan terhadap umpan dengan lama perendaman 1, 7 dan 12 jam. Data dianalisis menggunakan uji-t. Kandungan kimia umpan (proximat dan asam amino) dianalisis berdasarkan lama waktu perendaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons makan E. fuscoguttatus terhadap umpan udang krosok dan ikan rucah tidak berbeda (P>0,05). Respons makan E. fuscoguttatus terhadap perbedaan kondisi waktu perendaman umpan udang krosok dan ikan rucah  selama 1 jam dan 7 jam berbeda (P<0,05). Lama waktu perendaman umpan 12 jam tidak berbeda (P>0,05). Semakin lama waktu perendaman umpan (hingga 12 jam) terjadi penurunan kandungan asam amino dari masing-masing umpan sehingga berpengaruh terhadap menurunnya respons makan Ephinephelus fuscoguttatus. Kata kunci : Respons makan, Ephinephelus fuscoguttatus, Umpan The bait has a function to attract for fish to be caught. Fish behavior studies of fish meal is the most important to examine the effectiveness of the use of bait. The aims of the researched were to determine response of eating tiger grouper (E. fuscoguttatus) with different types and duration of soaking bait. Research carried out by laboratory experimental methods. Bait used was shrimp (Metapenaeus elegans) and fish (Sardinella gibbosa). The research data includes the response time to eat fish bait with a long immersion, 7 and 12 hours. Data were analyzed using t-test. Chemical content of feed (proximate analysis and amino acids) were analyzed based on the long soaking time. The results showed that eating response E. fuscoguttatus on bait shrimp and fish different (P>0.05). Response eating E. fuscoguttatus to different conditions of time soaking bait shrimp and fish for 1 hour and 7 hours different (P<0.05). Soaking time for bait 12 hours is not different (P>0.05) compared to long soaking 1 hour and 7 hours. The longer the bait soaking time (up to 12 hours) a decline in amino acid content of each feed and therefore contributes to decreased eating responses E. fuscoguttatus. Key words: Eating response, E. fuscoguttatus, Baits

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue