cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan" : 8 Documents clear
Nutrient Content of Seagrasss Enhalus acoroides Leaves in Barranglompo and Bonebatang Islands: Implication to Increased Antrhropogenic Pressure Khairul Amri; Dede Setiadi; Ibnul Qayim; D Djokosetianto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.267 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.4.181-186

Abstract

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di daerah pesisir, tekanan terhadap ekosistem pantai semakin meningkat pula.  Untuk mengetahui dampak dari aktifitas anthropogenik terhadap status hara (karbon, nitrogen dan fosfor) pada lamun telah dilaksanakan penelitian pada dua pulau di Kepulauan Spermonde yakni Pulau Barranglompo dan Bonebatang.  Kedua pulau ini mendapat tekanan anthropogenik berbeda. Sampel diambil dari daun lamun Enhalus acoroides pada tiga stasiun dengan jarak berbeda dari garis pantai pada masing-masing pulau.  Hasil pengukuran hara menunjukkan bahwa konsentrasi nitrogen di Pulau Barranglompo jauh lebih tinggi dibandingkan Pulau Bonebatang.  Nilai rasio C:N yang lebih rendah dan nilai rasio N:P yang lebih tinggi di Pulau Barranglompo memperkuat hal ini. Perbedaan ini mengindikasikan pengaruh dari pengayaan hara akibat aktifitas anthropogenik yang semakin meningkat. Hal ini didukung oleh nilai Total Padatan tersuspensi yang jauh lebih tinggi di Pulau Barranglompo dibandingkan Pulau Bonebatang. Aktifitas anthropogenik yang paling potensial mempengaruhi komposisi hara di Pulau Barranglompo adalah pembuangan sampah rumah tangga dan aliran limbah cair dari rumah penduduk di sekitar pantai. Kata kunci: lamun, hara, rasio C:N:P, aktifitas anthropogenik, Barranglompo, Bonebatang As human population increase in coastal areas, significant pressure to the coastal ecosystem increase as well.  In order to reveal possible impacts of anthropogenic activities to the nutrient status of seagrasses, a study has been done in two small islands within Spermonde Archipelago i.e. Barranglompo and Bonebatang Islands. Currently, these two islands are facing different anthropogenic pressure.  Samples of seagrass Enhalus acoroides were collected from three stations based on their different distances from the shoreline.  Results of the nutrient measurements showed that nitrogen concentrations in Barranglompo Island were significantly higher than those in Bonebatang Island.  This was supported by lower C:N ratios and higher N:P ratios in Barranglompo Island.  This difference indicated influence of nutrient enrichment due to increased anthropogenic activities.  Significantly higher Total Suspended Solid (TSS) values were also a strong evidence of this process.  Potential anthropogenic activities affecting nutrient composition in Barranglompo Island are domestic sewage disposal and drainage of liquid household sewage. Key words: seagrass, nutrient, C:N:P ratio, anthropogenic activities, Barranglompo,  Bonebatang
Fauna Echinodermata di Indonoor Wreck, Pulau Kemujan, Kepulauan Karimunjawa Abdul Hadi; Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1218.172 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.4.236-242

Abstract

Indonoor adalah sebuah kapal yang karam di tubir Pulau Kemujan, Kepulauan Karimunjawa tahun 1960. Sering berjalannya waktu, dinding bangkai kapal Indonoor ditumbuhi oleh berbagai macam terumbu karang. Hal ini menjadikan lokasi bangkai kapal Indonoor membentuk suatu ekosistem terumbu karang yang memiliki potensi besar dalam bidang pariwisata dan perikanan dan sekarang merupakan salah satu dive point penting di Karimunjawa.  Dengan adanya terumbu karang yang hidup pada dinding dan badan kapal yang terbuat dari  besi, memungkinkan adanya berbagai jenis biota yang berasosiasi dengan terumbu karang di bagkai kapal tersebut, salah satunya adalah Echinodermata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis fauna echinodermata pada di bangkai kapal Indonoor. Pengamatan fauna echinodermnata dilakukan dengan penyelaman dan pengamatan pada 4 bagian patahan bangkai kapal 2005 dan September 2006 menggunakan metoda sensus dengan modifikasi line transect dan kuadrat transect. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 12 spesies dari 4 kelas Echinodermata pada penelitian tahun 2005 yaitu Acanthaster plancii, Fromia nomilis, Linckia laevigata dari kelas Asteroidea; Comanthina sp, Comanthus sp, Stephanometra sp dari kelas Crinoidea; Diadema setosum, Diadema savignyi, Echinometra mathei dari kelas Echinoidea; Holothuria atra, Holothuria edulis, Stychopus ananas dari kelas Holothuroidea. Sedangkan pada pengamatan tahun 2006 ditemukan sebanyak 13 spesies dari 4 kelas yaitu Culcita novaguinae, Fromia nomilis, Linckia laevigata dari kelas Asteroidea; Comanthina sp, Comanthus sp, Stephanometra sp dari kelas Crinoidea; Diadema setosum, Diadema savignyi, Echinometra mathei, Echinotrix calamaris dari kelas Echinoidea; Holothuria atra, Holothuria edulis, Stychopus ananas dari kelas Holothuroidea. Kata kunci: echinodermata, Indonoor wreck, P. Kemujan, Karimunjawa.  Indonoor is a ship sunk in a reef slope of Kemujan Island, Karimunjawa Islands back in 1960. Since that the wreck was covered by coral reef and home of many reef associated marine fauna, and lately becoming most visited dive point in Karimunjawa for tourism purposes. Among many marine fauna lives on the wreck is echinoderm which is interested to be studied especially on its diversity. A modified line intercept and quadrate transect method was applied for the study in four parts of the shipwreck in May-June 2005 and September 2006. The result showed that at least 12 species of 4 classes of echinoderm was found in the 2005 sampling period i.e.: Acanthaster plancii, Fromia nomilis, Linckia laevigata (class Asteroidea); Comanthina sp, Comanthus sp, Stephanometra sp (class Crinoidea); Diadema setosum, Diadema savignyi, Echinometra mathei (class Echinoidea); Holothuria atra, Holothuria edulis, Stychopus ananas (class Holothuroidea). Meanwhile in 2006 sampling period was found at least 13 species of 4 classes consist of Culcita novaguinae, Fromia nomilis, Linckia laevigata (class Asteroidea); Comanthina sp, Comanthus sp, Stephanometra sp (class Crinoidea); Diadema setosum, Diadema savignyi, Echinometra mathei, Echinotrix calamaris  (class Echinoidea); Holothuria atra, Holothuria edulis, and Stychopus ananas (class Holothuroidea) . Key words: echinoderm, Indonoor wreck, Kemujan Island, Karimunjawa
Inventarisasi Spesies Ikan di Perairan Pantai Timur Kendari Fahmi Fahmi; Yuliadi Zamroni
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1461.264 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.4.199-210

Abstract

Perairan pantai Kendari menyimpan potensi sumberdaya laut yang cukup tinggi karena memiliki ekosistem pesisir yang beragam.  Beberapa wilayahnya berfungsi sebagai daerah pemijahan dan asuhan ikan. Penelitian mengenai spesies ikan di perairan pantai Kendari dilaksanakan pada bulan Juli 2011 sebagai bagian dari kerjasama riset antara LIPI dengan Dikti dengan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII.  Tujuan penelitian ini  adalah  untuk mengidentifikasi kekayaan spesies ikan di perairan pantai Kendari dan menganalisis peranan tiap tipe perairan pantai di wilayah Kendari sebagai daerah pemijahan, pembesaran dan mencari makan ikan. Sebanyak 2010 individu ikan pantai diperoleh dari delapan lokasi penarikan jaring, yang terdiri dari 80 spesies, 53 genus dan 34 famili.  Spesies ikan yang cukup memiliki kelimpahan tertinggi di perairan pantai Kendari antara lain ikan lingkis, Siganus canaliculatus (Siganidae) dan ikan petek, Eubleekeria splendens (Leiognathidae).  Sedangkan ikan yang umum dijumpai di perairan ini antara lain adalah Achreichthys tomentosus dan Pentapodus trivittatus dengan luas sebaran meliputi 50% dari wilayah sampling.  Secara umum, perairan pantai Kendari terbagi ke dalam empat kelompok tipe habitat berdasarkan pengelompokan dari komposisi spesies ikannya. Kata Kunci:  Ikan, Perairan Pantai, Kendari, kelimpahan  The coastal area of Kendari is known to have a potential marine resource due to the diversity of coastal ecosystems. Some of its areas are known as spawning and nursery ground for fishes. A study on coastal fishes of Kendari waters was conducted in July 2001 as a part of the joint research between LIPI and Dikti using The Baruna Jaya VII Research Vessel.  The aim of the study was to find out the species richness and diversity of coastal fishes in Kendari waters, and to identify the role of each type of habitats in Kendari coastal area as spawning,  nursery and feeding ground for fishes.  A total of 2010 fishes were collected during the study, consisting of 80 species, 53 genera and 34 families. The most abundant species was Siganus canaliculatus (Siganidae) and Eubleekeria splendens (Leiognathidae).  While the most common fishes in the area were Achreichthys tomentosus and Pentapodus trivittatus that were found at 50% of sampling area. In general, Kendari coastal area is grouped into four type of habitat regarding to fish species composition.    Key words: Fishes, Coastal Waters, Kendari, abundance
Komunitas Cacing Laut Dalam (Polychaeta) di Selat Flores, Lamakera dan Alor (Nusa Tenggara Timur) Pitra Widianwari; Widianingsih Widianingsih
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.233 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.4.219-228

Abstract

Struktur dan sebaran spasial komunitas cacing laut (Poychaeta) di selat Flores, Lamakera dan Alor dikaji berdasarkan perolehan sampel hasil penurunan box corer di 13 stasiun cuplik berkedalaman 147-2996 m pada bulan Juli 2011.  Secara keseluruhan berhasil diperoleh 68 jenis polychaeta (n = 536) yang dapat dikelompokkan kedalam 31 famili dengan kepadatan per stasiun bervariasi antara 9 hingga  95 individu/0.3 m2.  Sedangkan kekayaan jenis, nilai indeks keragaman Shannon Wiener (H’) dan kemerataan Pielou (J) masing-masing bervariasi antara 3-24, 1,03-2,93 dan 0,83-0,94.  Uji korelasi Spearman mengindikasikan keterkaitan positif antara kepadatan dengan kekayaan jenis (S) maupun H’ (P<0,01).  Hubungan antara atribut komunitas tersebut dengan parameter lingkungan (kedalaman, % kerikil, % lumpur dan kandungan total bahan organik) tidak dapat terdeteksi secara jelas, kecuali antara kepadatan dengan kandungan pasir (r=0,56; P=0,05).  Kata kunci: Polychaeta, cacing laut ,laut dalam, Nusa Tenggara Timur Spatial distribution and community structure of polychaete community has been studied based on data collected from Flores, Lamakera and Alor straits in July 2011.  Polychaetes sample have been obtained using a box corer deployed on 13 sampling stations at waters depths between 147 to 2996 m.   In all there has been collected 68 species  belong to 31 families with the total individuals varies between 9 - 95 ind./0.3 m2.  The species richness (S), Shannon Wiener diversity index (H’) and Pielou’s eveness index (J) consecutively range between 3-24, 1,03-2,93 and 0,83-0,94.  Spearman corellation test indicates positive relationship between worm density with species reachness and shannon wiener index.  However the relationship between those community attributes and the environmental parameters (water depth, % gravel, sand, mud and TOM) are not significant, except between worm density and % of sand (r=0.56; P=0.05).  Key words: Polychaeta, deep-sea, Nusa Tenggara Timur
Analisis Parameter Oseanografi di Lokasi Pengembangan Eucheuma spinosum Pulau Nain Kabupaten Minahasa Utara Cakrawira Gundo; Soemarmo Soemarmo; Diana Arfiati; Nuddin Harahap; Tinny D Kaunang
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1027.547 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.4.193-198

Abstract

Pulau Nain yang akan dijadikan sebagai sentra pengembangan budidaya rumput laut di Minahasa Utara sangat dipengaruhi oleh parameter oseanografi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelayakan perairan Pulau Nain untuk pengembangan budidaya Eucheuma spinosum, dikaji dari parameter oseanografinya. Parameter suhu, salinitas, kecerahan, pH, DO, Nitrat dan Phospat diukur secara langsung di lima stasiun pengamatan, kecepatan arus diambil dari data BMKG. Data selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa perairan Pulau Nain mempunyai kisaran suhu 28-310C, salinitas 35-37ppt, kecepatan arus 12,53-25,34 cm/detik, kecerahan mencapai dasar laut, pH 7,3-7,4, DO 4,5-9,8 ppm, Nitrat 0,004-0,02 ppm,  Phospat 0,001-0,0096 ppm dan ADG lebih dari 3%, sehingga  layak sebagai sentra pengembangan budidaya E. spinosum. Kata kunci: Parameter oseanografi, E. spinosum, budidaya Nain Island was about to become cultivation development centre of seagrass at Northern Minahasa is highly affected by oceanographic parameters. The objective of this study is to found out the appropriateness of Nain Island water in development of Eucheuma spinosum cultivation area, viewed from its oceanographic parameters. Temperature, salinity, brightness, pH, DO, nitrate and phosphate parameters was measured directly from five observation station, current velocity was taken from BMKG data. Data were analyzed descriptively. Result of the analysis showed that Nain Island water has temperature range from 29-31 oC, salinity of 35-37 ppt, current velocity 10,47–29,6 cm/seconds, brightness reaching bottom of the sea, pH 7,3–7,5, DO 4,4–10 ppm, nitrate 0–0,02 ppm, phosphate 0–0,02 ppm and ADG more than 3%.  Therefore, Nain Isalnd waters is claimed to be appropriate for cultivation of E. spinosum. Key words: oceanographic parameters, E. Spinosum, aquaculture
Causative Agent Vibriosis dari Kerapu Bebebk (Cromileptis altivelis ) : 2. Kakarkterisasi secara Molekuler Berbasis 16 S rDNA Sarjito Sarjito
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.663 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.4.229-235

Abstract

Ikan Kerapu Bebek (Cromileptis altivelis) sakit diperoleh dari keramba jaring apung di Karimunjawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji causative agent utama vibriosis pada ikan kerapu bebek  (C. altivelis) dari  karamba jaring apung di perairan Karimun Jawa.  Sebanyak tujuh isolat vibrio diisolasi dari bagian luka maupun ginjal kerapu bebek sakit yang menunjukkan gejala vibriosis.  Hasil uji postulat koch dan pathogenisitasnya dari enam isolat,  diperoleh bahwa tiga isolat (isolat  JT 07; JT 10 dan JT 20 ) yang mengakibatkan 100% dan merupakan agensia penyebab utama vibriosis pada ikan Kerapu Bebek . Oleh karena itu,  pada penelitian ini hanya tiga isolat ini yang akan dilakukan uji selanjutnya. Teknik  molekuler gen 16S rDNA (amplifikasi 16S DNA ribosom) digunakan untuk karakterisasi ketiga causative agent utama secara komprehensif. Berdasarkan analisis sekuen gen 16S rDNA, data menunjukkan bahwa isolat JT 07 memiliki kekerabatan terdekat dengan Vibrio olivaceus (99%); isolat JT 10 dengan  V. damsella (99%)  dan isolat JT 20  dengan  V. alginolyticus  (98%). Kata kunci:  causative agent, Vibriosis,  molekuler,  Kerapu bebekMoribound Humpbeck Grouper fish (Cromileptis altivelis) was taken from the cages of Karimunjawa. The research aim was to find out the main causative agent of vibriosis on humpbeck grouper (C. altivelis)  from Karimunjawa waters. Seven  isolates of Vibrio were isolated from external wound and kidney of the humpbeck grouper fish (C. altivelis) which showed the clinical signs of vibriosis. Based on the koch postulate and pathogenecity test results indicated that three vibrios  (isolate JT 07; JT 10 and JT 20 ) act as a main causative agents of vibriosis which caused mortality of  100% to E. fuscogutatus.  Because of highest mortality as pathogenicity indicator, the three isolates were continued to investigate. A complementary molecular techniques of 16S rDNA genes (amplified 16S ribosomal DNA) was used to give a comprehensive characterization of these isolates.  On the basis of the results of sequen analysis, our data showed that JT 07; JT 10 and JT 20 isolates were closely related to Vibrio olivaceus (99.0%); V. damsella (99%)  and  V. alginolyticus  (98%) respectively.. Key Words : Causative agent, Vibriosis, molecular,  humpbeck grouper  
Respon Molting, Pertumbuhan, dan Mortalitas Kepiting Bakau (Scylla olivacea) yang disuplementasi Vitomolt melalui Injeksi dan Pakan Buatan Yushinta Wijaya; Siti Aslamyah; Zainal Usman
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.611 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.4.211-218

Abstract

Salah satu teknologi produksi kepiting cangkang lunak adalah menggunakan vitomolt untuk menstimulasi molting.  Penelitian bertujuan menganalisis respon molting, pertumbuhan, dan mortalitas kepiting bakau setelah diberikan vitomolt melalui injeksi dan pakan buatan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei - Juli 2011, di Crabs Research Station yang terletak di Kabupaten Maros. Ada tiga perlakuan suplementasi vitomolt, yakni; secara tunggal melalui injeksi, kombinasi injeksi-pakan buatan, dan tanpa suplementasi vitomolt (kontrol), Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi vitomolt melalui injeksi dengan dosis 15 µg/g kepiting memberikan respon persentase molting tertinggi, yakni (84,00±5,48%), namun kombinasi injeksi (15 µg/g kepiting) dan pakan buatan (32.375 mg/kg pakan) memberikan respon molting yang lebih cepat.  Pada minggu kedua setelah perlakuan, kepiting yang molting pada perlakuan kombinasi adalah 14%, dibandingkan perlakuan lainnya, masing-masing 8% untuk perlakuan secara tunggal melalui injeksi dan 2% untuk kontrol.  Suplementasi vitomolt tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan setelah molting, namun memberikan pengaruh yang siginifikan pada mortalitas.  Mortalitas kepiting yang mendapat suplementasi vitomolt lebih rendah (6-8%) dibandingkan tanpa suplementasi vitomolt (24%). Kata kunci: vitomolt, injeksi, pakan buatan, kepiting cangkang lunak   One of the soft shell crab production technology is by application vitomolt to stimulate molting. The study aims to analyze the response of molting, growth, and mortality of mangrove crabs after being given vitomolt through injection and artificial feed. The experiment was conducted between May-July 2011, at Crabs Research Station in Maros Regency. There were two treatments of vitomolt and a control in this experiment, namely single treatment by injection, combination treatment by injection-artificial feed, and without vitomolt supplementation (control),  Results showed that supplementation of vitomolt through injection at a dose of 15 mg / g crab had highest percentage of molting (84.00 ± 5.48%), but a combination among injection (15 µg / g of crab) and artificial feed (32 375 mg / kg of feed) give faster molting response.  On the second weeks after treatment, there were 14% of crab had been molting in combination treatment, compared other treatments, respectively 8% for a single treatment by injection and 2% for control.  Vitomolt supplementation did not have a significant influence on growth after molting, but it gives a significant effect on mortality. Mortality of crabs that got vitomolt supplementation was lower (6-8%) compared without vitomolt supplementation (24%). Key words: vitomolt, Injection, artificial feed, soft shell crab
Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak Metanol dan Pigmen Kasar Spirulina sp. Ervia Yudiati; Sri Sejati; Sunarsih Sunarsih; Rani Agustian
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.41 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.4.187-192

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur aktivitas antioksidan dan menguji toksisitas ketiga ekstrak. Penelitian dilakukan secara laboratoris. Ekstrak Kasar Spirulina sp didapatkan melalui proses maserasi dengan pelarut methanol. Ekstrak pigmen kasar diperoleh melalui partisi dengan pelarut methanol/aseton serta eter.  Aktivitas antioksidan dilakukan dengan mengukur IC50 dengan metode spektrofotometri dengan DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) sedangkan kadar toksisitas dilakukan dengan menghitung LC50 dengan uji BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Kromatografi Kolom Terbuka dilakukan untuk mengisolasi pigmen sedangkan identifikasi pigmen dilakukan dengan teknik Kromatografi Lapis Tipis dan metode spektroskopi. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar metanol, ekstrak pigmen kasar methanol/aseton dan eter mempunyai nilai IC50 323,7; 51 dan 34,85 ppm. Nilai LC50 dari ekstrak methanol r, ekstrak kasar pigmen methanol/aseton dan eter berturut-turut adalah 113,20; 65,22 ppm dan 34,11 ppm. Hasil isolasi pigmen dan identifikasi pigmen menunjukkan bahwa pigmen mengandung β-karoten dan klorofil α. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ketiga ekstrak positif mengandung senyawa golongan flavonoid dan sterol. Ekstrak pigmen kasar Spirulina sp. selain mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi juga mempunyai toksisitas yang tinggi terhadap nauplii Artemia sp. Kata kunci: Spirulina sp,ekstrak metanol, ekstrak kasar pigmen, IC50, LC50.  The aims of this research were to determine the antioxidant activities and level of toxicity of those three extracts. Spirulina sp crude extract has obtained by maseration technique with methanol solution while crude pigment extract has collected by partition technique with methanol/acetone and ether solution. The laboratory experiments of antioxidant activities (IC50) was determine by DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) and spectrophotometrical methods while the level of toxicity was done by BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). The pigment was isolated using the Couloumb Chromatography Methods while pigment identification was done by Thin Layer Chromatography Methods and confirmed spectrophotometrically. The data was analized descriptively. The results showed that IC50 of methanol extract, crude pigment methanol/acetone and ether were 323.7; 51 and 34.85 ppm, respectively. Furthermore, the toxicity level LC50 of methanol extract, crude pigment methanol/acetone and ether were 113.20; 65.22 and 34.11 ppm respectively. β-carotene and chlorophyll α was identified and isolated. Those three extract contains flavonoid and sterol. It is concluded that crude pigment extract of Spirulina sp. has a high antioxidant activity as well as toxicity to the nauplii of Artemia sp. Key words: Spirulina sp.,methanol extract, crude pigment extract, IC50, LC50

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue