cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan" : 6 Documents clear
Aktivitas Makan dan Pertumbuhan Bulu Babi Deadema setosum Akibat Paparan Logam Berat Kadmium (Feeding Activity and Growth Sea Urchins Deadema setosum Due to Heavy Metal Cadmium Exposure) Dominggus Rumahlatu
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.521 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.4.183-189

Abstract

Kadmium (Cd) dikenal sebagai logam berat nonesensial bagi tubuh dan dapat mempengaruhi berbagai aktivitas biota laut, seperti aktivitas makan dan pertumbuhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji aktivitas makan dan pertumbuhan bulu babi Deadema setosum akibat paparan Cd selama 4 minggu. Selain itu, dilihat juga bioakumulasi Cd pada gonad dan usus D. setosum yang diteliti melalui paparan logam berat Cd pada air laut. Pola akumulasi Cd yang terkandung dalam gonad dan usus dianalisa dengan menggunakan Atomic Absorbsion Spectrofotometer (AAS). Hasil perhitungan pola akumulasi Cd pada usus dan gonad menunjukkan pola yang sama, dimana Cd semakin meningkat selama fase akumulasi, berturut-turut mulai dari pengamatan hari ke 7, 14, 21, dan 28, yakni sebesar 0.08, 0.16, 0.21, 0.32 ppm untuk usus dan 0.06, 0.11, 0.16, dan 0.30 ppm untuk gonad. Selain itu, hasil pengamatan aktivitas makan berdasarkan lamanya waktu makan D. setosum pada bak perlakuan dengan konsentrasi Cd 1.0, 6.0, dan 12.0 μg/L menunjukkan bahwa D. setosum lebih banyak diam, sedikit melakukan aktivitas makan, dan rentang waktu makannya semakin lama, namun pada bak dengan konsentrasi Cd 1.0 < 6.0 < 12.0. Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas makan D. setosum dipengaruhi oleh adanya akumulasi Cd yang berakibat pada perlambatan pertumbuhannya.Kata kunci: logam berat, kadmium, aktivitas makan, pertumbuhan, Deadema setosumCadmium (Cd) is known as a nonessential heavy metal for the body and can affect a variety of marine activities, such as feeding activity and growth. This research was conducted to assess the feeding activity and growth of the sea urchin Deadema setosum exposure to Cd for 4 weeks. In addition, the views also bioaccumulate Cd in gonads and intestine D. setosum studied through exposure to heavy metals Cd in sea water. Cd accumulation patterns contained in the gonads and intestines analyzed using Atomic Absorbsion Spectrofotometer (AAS). The results of the calculation of the accumulation pattern of Cd in the gut and gonad showed a similar pattern, where Cd has increased during the accumulation phase, respectively, starting from the observation days 7, 14, 21, and 28, ie at 0.08, 0.16, 0.21, 0.32 ppm for intestine and 0.06, 0.11, 0.16, and 0.30 ppm for gonads. In addition, observations feeding activity based on the length of time to eat D. setosum the bath treatment with Cd concentrations of 1.0, 6.0, and 12.0 μg/L showed that D. setosum more silent, less feeding activity, and the longer the feeding period, but in the tank with Cd concentrations 1.0<6.0<12.0. This indicates that the D. setosum feeding activity influenced by the presence of Cd accumulation resulting in its deceleration of growth.Key words: heavy metal, cadmium, eating activity, growth, Deadema setosum
Kandungan Senyawa Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) di Teluk Jakarta (Polycyclic Aromatic Compounds Hydrocarbons (PAH) Content in Jakarta Bay) Fasmi Ahmad
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.863 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.4.199-208

Abstract

Perairan Teluk Jakarta menerima limbah yang berasal dari darat maupun perairan itu sendiri. Salah satu limbah tersebut adalah senyawa organik Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) yang merupakan senyawa organik bersifat toksik terhadap biota laut. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kandungan PAH air laut dan sedimen dalam kaitannya dengan kehidupan biota laut serta mengetahui sumber senyawa tersebut. Pengukuran dilakukan bulan Maret 2011. Contoh air laut diambil dengan water sampler dan contoh sedimen dengan grab pada 15 stasiun. Kadar PAH dianalisa dengan Gas Chromatography-Flame Ionization Detector. Hasil penelitian menunjukkan kadar PAH air laut di Teluk Jakarta Bagian Barat > Bagian Tengah > Bagian Timur. Kandungan PAH di Teluk Jakarta Bagian Barat berkisar 201,57-474,68 ppb dengan total PAH 1404,68 ppb, di Bagian Tengah 104,61-337,07 ppb dengan total 825,63 ppb, dan di Bagian Timur 112,91-370,79 ppb dengan total 806,73 ppb. Data ini menunjukkan Teluk Jakarta Bagian Barat lebih banyak menerima masukan limbah yang mengandung PAH. Sedangkan Kadar PAH sedimen di Teluk Jakarta Bagian Timur > Bagian Tengah > Bagian Barat. Kadar PAH di Teluk Jakarta Bagian Barat berkisar 1,92-64,241 ppm dengan total 107,931 ppm, di Bagian Tengah 16,14-77,71 ppm dengan total 170,61 ppm, dan di Bagian Timur 8,72-115,39 ppm dengan total 252,25 ppm. Data ini menunjukkan sedimen di Teluk Jakarta Bagian Timur lebih banyak mengakumulasi limbah yang mengandung PAH. Sumber PAH dalam air laut dan sedimen ini berasal dari berbagai sumber yakni pembakaran bahan organik, pembakaran minyak bumi, dan tumpahan minyak. Kadar PAH dalam air laut di Teluk Jakarta ini telah melebihi Nilai Ambang Batas yang ditetapkan oleh KMNLH untuk biota laut, dan Nilai Ambang Batas untuk sedimen yang ditetapkan oleh Handbook for Sediment Quality Assessment.Kata kunci: Teluk Jakarta, Polisiklik Aromatik Hidrokarbon, PAH, polusiJakarta Bay receives various kinds of waste both from land and waters, including Polycyclic Aromatic Hydrocarbons organic compounds (PAH). These organic compounds are toxic to marine life. This study determines the content of PAH in sea water and sediments in relation to marine life and to find out the source of the PAH compounds in the Bay of Jakarta. Measurement of Polycyclic Aromatic Hydrocarbon levels were carried out in March 2011. Sea water samples were taken by using a water sampler and sediment samples taken using a grab at 15 sites. PAH content were analyzed using gas chromatography–Flame Ionization Detector. The results showed that the content of PAH in seawater in the western part of Jakarta Bay > middle > east. The content of PAH in the western of Jakarta Bay ranged from 201,57 to 474,68 ppb with PAH total 1404,68 ppb, in the middle area ranged from 104,61 to 337,07 ppb with PAH total 825,63 ppb, and in the eastern part ranged from 8.72 to 115,39 ppb with PAH total 806,73 ppb. This means that seawater in the western part receives the PAH compound more than the others. However, the content of PAH in sediments in the western part < middle < eastern. This means that sediment in the western part of Jakarta Bay accumulates PAH compound less than the others areas. The content of PAH in the western part of Jakarta Bay ranged from 1.92 to 64.241 ppm with PAH total 107,931 ppm, in middle part ranged from 16.14 to 77.71 ppb with PAH total 170,61 ppm, and in the eastern part range 8,72 to 115.39 ppm with PAH total 252,25 ppm. This means that sediment in the western area of Jakarta Bay accumulates the PAH compound less than the others. Sources of PAH in seawater and sediment came from several sources namely from combustion of organic material, combustion of petroleum, and from petroleum. PAH content in seawater has passed the Threshold Limit Value stated by KMNLH for marine life and also has passed the threshold value stated the Ministry of Environment and Handbook for Sediment Quality Assessment for marine organism.Key words: Jakarta Bay, polycyclic aromatic hydrocarbon, PAH, pollution 
Suhu dan Salinitas Permukaan Merupakan Indikator Upwelling Sebagai Respon Terhadap Angin Muson Tenggara di Perairan Bagian Utara Laut Sawu (Surface Temperature and Salinity are Indicators of Upwelling In Response to Southeast Moonson in the Savu Sea) Simon Tubalawony; Edi Kusmanto; Muhadjirin Muhadjirin
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1242.396 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.4.226-239

Abstract

Laut Sawu merupakan bagian perairan Indonesia yang secara langsung berbatasan dengan Samudera Hindia. Di bagian utara, terutama perairan selatan Selat Flores, Selat Lamakera dan Selat Alor merupakan perairan dinamik dengan perubahan suhu dan salinitas permukaan yang signifikan pada musim angin muson tenggara. Dinamika perairan tersebut terutama di lapisan permukaan sangat dipengaruhi pola tiupan angin muson. Pada bulan Juni-Juli angin muson tenggara bertiup dengan kekuatan maksimum di sebagian wilayah Indonesia termasuk di bagian utara Laut Sawu. Tiupan angin tersebut menyebabkan pergerakan massa air permukaan cenderung bergerak ke arah barat. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya pengangkatan massa air lapisan dalam ke permukaan di bagian utara Laut Sawu. Suhu permukaan laut di laut Flores berkisar antara 27,45-27,79 oC dengan rerata 27,62±0,14 oC, sedangkan pada stasiun pengamatan di bagian selatan dan berhubungan langsung dengan Laut Sawu, suhu perairan berkisar 25,25-26,75 oC dengan rerata 25,90±0,43oC. Secara umum sebaran suhu pada lapisan permukaan laut pada kedalaman 0-5 m menunjukkan semakin ke selatan massa air permukaan laut semakin dingin. Pusat konsentrasi massa air dengan suhu terendah di selatan Selat Alor berkisar antara 25,25-25,89oC. Dinginnya massa air perairan bagian utara Laut Sawu mengindikasikan kemungkinan terjadi pengangkatan massa air dalam ke permukaan pada perairan tersebut.Kata kunci: Laut Sawu, upwelling, salinitas, suhu permukaan laut, termoklinSavu Sea waters are part of Indonesia waters which is located directly adjacent to Indian Ocean. The northern part of Savu Sea particularly in the south of Flores Strait, Lamakera Strait and the Strait of Alor waters are dynamic with changes in temperature and salinity of the surface which is significant at southeast monsoon season. The dynamics of these waters, especially in the surface layer is strongly influenced by the monsoon wind patterns. In June-July, the monsoon winds blowing from southeast with maximum strength in parts of Indonesia, including in the waters of the northern Sea Savu. The wind causes the movement of surface water masses tend to move westward. These circumstances would to bring deeper and colder waters to the surface layer in the northern part of Savu Sea. Sea surface temperature in the Flores Sea ranged from 27.45 to 27.79°C with a mean 27.62 ± 0.14°C, whereas the observation stations located in the south and deal directly with the Savu Sea, water temperatures in the range 25.25 to 26.75°C with a mean 25.90 ± 0.43°C. In general, the temperature distribution on the surface layer of the ocean at a depth of 0-5 m to the south indicates that the mass of sea water gets colder. Central mass concentration of water with the lowest temperature in the southern Strait of Alor range from 25.25 to 25.89°C. The cold waters of the northern part of the Savu Sea water mass indicates the possibility upwelling of water mass in the Savu waters.Key words: Savu sea, upwelling, salinity, sea surface temperature, thermocline
Struktur Komunitas Padang Lamun di Perairan Pulau Kumbang, Kepulauan Karimunjawa (Seagrass Community Structure of Kumbang Waters-Karimunjawa Islands) Retno Hartati; Ali Junaedi; Hariyadi Hariyadi; Mujiyanto Mujiyanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.631 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.4.217-225

Abstract

Lamun merupakan salah satu ekosistem yang berperan penting dalam kehidupan di laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas lamun di Perairan Pulau Kumbang Karimunjawa. Pengamatan lamun di lapangan meliputi identifikasi jenis-jenis lamun, menghitung jumlah individu/tegakan, presentase penutupan dari masing-masing jenis/spesies pada transek. Persen penutupan lamun diamati dengan menggunakan transek kuadrat ukuran 1 x 1 m pada hamparan lamun. Transek ini dibagi menjadi 25 buah kisi ukuran 20 cm2. Satu tegakan lamun merupakan suatu kumpulan dari beberapa daun yang pangkalnya menyatu. Jumlah tegakan diamati langsung dengan visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komunitas lamun di perairan kawasan Pulau Parang, Karimunjawa, tergolong komunitas campuran (mixed community) yang terdiri dari 1–5 jenis lamun. Telah ditemukan 6 jenis lamun, yaitu Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, C. serrulata, Halodule pinifolia, Halodule uninervis dan Halophila ovali di perairan Pulau Kumbang, C. serrulata hanya ditemukan pada saat sampling ke dua bulan September 2012. Pada sampling pendahuluan (Juni 2012), jumlah kerapatan jenis lamun (Tegakan/m²) T. hemprichii merupakan yang tertinggi (77.11) sedangkan yang terendah adalah H. pinifolia (0.56). pada sampling kedua, H. uninervis lebih tinggi dari pada T. hemprichii. Frekuensi jenis lamun pada sampling bulan Juni dan september 2012 yang menunjukkan nilai 0-15,67 dan 0-16 dengan T. hemprichii ditemukan lebih sering dari pada jenis lamun yang lain pada kedua waktu sampling. Penutupan spesies lamun (%/m2) pada sampling bulan Juni dan September 2012 menunjukkan nilai 0,11–15.67 dan 0-29.29. Thalassia hemprichii dan Halodule uninervis mempunyai rata-rata penutupan yang tertinggi masing-masing pada sampling September dan Juni 2012.Kata kunci: lamun, jenis, kerapatan penutupan, Pulau Kumbang, KarimunjawaSeagrass is found in shallow waters that have an important role in marine life and is one of the most productive marine ecosystems. This study aims to determine the structure of seagrass communities in Kumbang Island, Karimunjawa. Data collected during observations in the field include species identification, number of individual/stand, percent cover of each species. Percent cover of seagrass was observed by using square transect with size of 1x1 m. Transect was divided into 25 pieces of smaller size i.e. 20 cm2. The stands of seagrass is a collection of several fused leaf base. The number of stands were directly counted. Sampling were done twice i.e. June and September 2012. The results showed that the seagrass community in the waters of Kumbang island, Karimunjawa, can be classified as mixed community consisting of 1-5 types of seagrass. In total, six species of seagrass were found in the area i.e. Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, C. serrulata, Halodule pinifolia, Halodule ovali and Halophila uninervis. C. serrulata was only discovered during second sampling in September 2012. In the first sampling (June 2012), the density of seagrass (stand/m²) T. hemprichii was the highest (77.11), while the lowest was H. pinifolia (0.56). The results of second sampling showed that H. uninervis was found to be higher than T. hemprichii. Frequency of seagrass types in June and September 2012 showed the value from 0 to 15.67 and 0-16 with T. hemprichii was found more frequently than other types of seagrass during both sampling time. Percent coverage of seagrass species (%/m2) during June and September 2012 showed the value of 0,11-15.67 and 0-29.29, respectively. T. hemprichii and H. uninervis have the highest average percent cover in September and June 2012 sampling.Key words: seagrass, type, density, Kumbang Island, Karimunjawa
Penentuan Musim Reproduksi Generatif dan Preferensi Perekatan Spora Rumput Laut (Eucheuma cottonii) (Determining of Seasonal Generative Reproduction and Attaching Preferences of Seaweed Spores (Eucheuma cottonii)) Ma&#039;ruf Kasim; Asnani Asnani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.384 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.4.209-216

Abstract

Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas bibit rumput laut Eucheuma cottonii adalah mengupayakan regenerasi secara generatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui musim pelepasan spora rumput laut E. cottonii secara alami dan preferensi perekatan spora pada substrat. Penelitian dilaksanakan di pantai Lakeba, Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Metode kurungan rumput laut induk pada dasar perairan digunakan untuk memudahkan pengamatan musim reproduksi. Untuk mengetahui preferensi pelekatan spora digunakan substrat dari berbagai bahan yang digantung disekitar kurungan dasar. Selama penelitian, bentuk morfologi rumput laut terlihat sehat berwarna cokelat tua dan diameter thallus utama berukuran besar. Pada pangkal thallus utama tersebut, terlihat membentuk tonjolan kecil menumpul yang cukup banyak. Tonjolan tersebut diduga sebagai tempat pengeluaran gametosit jantan dan betina. Pada akhir bulan September sampai tengah Oktober terlihat penempelan bibit rumput laut pada substrat karang dan batuan. Bibit yang ditemukan terlihat (kasat mata) setelah berukuran 0,3–0,6 cm dengan bobot 0,018 - 0,038 g. Untuk bobot basah, ukuran 0,4 g pada minggu pertama pemeliharaan dan hanya terjadi perubahan bobot sebesar 2,7 g pada minggu kedelapan pemeliharaan. Penelitian ini memberikan informasi mengenai musim reproduksi generatif pada bulan September-Oktober. Informasi lainnya adalah spora E. cottonii banyak ditemukan melekat pada karang mati bercabang. Sehingga untuk mendapatkan bibit generatif E. cottonii di perairan Sulawesi Tenggara, dapat dilakukan pada bulan tersebut. Bibit yang dikoleksi dialam terbukti mempunyai pertumbuhan yang cukup baik dibandingkan dengan bibit vegetatif yang dipelihara pada areal budidaya masyarakat.Kata kunci: Eucheuma cottonii, bibit, musim perekatan, spora, generatifOne of the few ways to improve the quality of seed types Eucheuma cottonii is to seek methods of regenerating seeds by generative ways. This study aims to determine the release of seaweed spores naturally, and seedling preferences of E. cottonii spores on the substrate. This research was conducted in the area of seaweed cultivation at Lakeba coast line, City of Bau-Bau, Southeast Sulawesi Province. To facilitate observation of the reproductive season, cages method is used for holding seaweed in bottom waters. And to know the preferences of spore attachment were used substrates from various basic materials hanging around the cages. During our research study, the seaweed morphology seens healthy. Seaweed has a dark brown and large diameter of main Thallus. At the base of the main Thallus, small bulge seens enough. The bulge were plenty and rebate expenses allegedly as a male and female gametocytes. At the end of September to middle of October would seens the attachment seaweed seeds on branching coral substrate and rocks. Seeds those found seen (invisible) after sized 0.3 to 0.6 cm with the weight 0.018 to 0.038 g. For wet weight, in the first week upkeep, size reaches 0.4 g and only reaching changes in weight of 2.7 g in the eighth week. This study has provided information on the generative reproduction which occurred on September - October. In addition spore of E. cottonii is commonly found attached to dead coral branches. Thereby, to get the generative seeds of E. cottonii in field especially at Southeast Sulawesi waters, can be carried out in September-October. Seeds which were collected in nature proved to have sufficient good growth compared to vegetative seeds were maintained in the cultivation area.Key words: seaweed, seeds, seedling season, spores, generative
Komunitas Padang Lamun dan Ikan Pantai di Perairan Kendari, Sulawesi Tenggara (Seagrass and Coastal Fish Communities in Kendari Waters, South-East Sulawesi) Susi Rahmawati; Fahmi Fahmi; Deny S Yusup
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.032 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.4.190-198

Abstract

Salah satu peran ekologis padang lamun adalah tempat pemeliharaan ikan yang ditunjang oleh struktur vegetasi lamun. Keberadaan lamun dapat memengaruhi kelimpahan ikan pada suatu perairan dangkal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi lamun dan fungsi lamun sebagai area pemeliharaan ikan dalam menunjang kelimpahan ikan. Penelitian dilakukan di Perairan Kendari, Sulawesi Tenggara. Stasiun penelitian ditentukan pada enam lokasi, yaitu tiga lokasi bervegetasi lamun dan tiga lokasi tanpa vegetasi lamun. Parameter penelitian antara lain struktur komunitas lamun dan kelimpahan ikan. Data dianalisis secara statistik dengan one way ANOVA dan korelasi Person program Grahpad Prism 5.0 (Trial session). Penutupan lamun rata-rata berkisar antara 25 - 51% dan kerapatan berkisar 327,78 - 597,22 ind m-2.Struktur komunitas pada ketiga vegetasi lamun tidak berbeda secara signifikan. Ikan tercatat 73 jenis dan 1815 individu, antara lain ikan-ikan yang biasa ditemukan di ekosistem lamun seperti Apogon margaritophorus, Lutjanus gibbus, dan Achreichthys tomantosus. Jenis ikan yang paling melimpah adalah Siganus canaliculatus dengan rata-rata kelimpahan 0,378 ind m-2. Rata-rata kelimpahan ikan lebih besar pada stasiun bervegetasi dibandingkan stasiun yang tidak bervegetasi. Kerapatan lamun memiliki korelasi positif terhadap kelimpahan ikan (p<0,05). Kondisi lamun di Perairan Kendari tergolong cukup baik dan dapat menunjang kekayaan dan kelimpahan ikan pantai.Kata kunci: kerapatan lamun, peran ekologi, pemeliharaan ikan, SulawesiOne of ecological role of seagrass is as nursery area which hold by their own vegetation structure. Seagrass community can influence the abudance of fish in a shallow water. This study aimed to identify the seagrass bed condition as nursery area for supporting fish abudance. The study was conducted in Kendari Waters, South-East Sulawesi. Research station was set in six location .i.e. three location at seagrass vegetated and three location without seagrass. Parameter of the study was community structure of seagrass and abudance of fish. Data were analised statistically using one way ANOVA and Person correlation Grapad Prism 5.0 (Trial session). Mean of seagrass coverage was about 25 to 51% and density 327.78 to 597.22 ind m-2. There were no difference on community structure of seagrass at each location. There were 73 species of fish and 1815 individuals, there were fish that usually find in seagrass ecosystem for example Apogon margaritophorus, Lutjanus gibbus, and Achreichthys tomantosus. The most abundant species was Siganus canaliculatus (Siganidae) with mean abundance 0.378 ind m-2. Mean of fish abundance was higher in vegetated area than unvegetated. Seagrass density positively correlated with fish abundace (p<0.05). Seagrass community in Kendari Water showed a fairly good and good condition to support coastal fishes richness and abundance.Key words: seagrass density, ecologi role, nursery area, fish communities, Sulawesi

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue