cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan" : 8 Documents clear
Komunitas Ikan di Perairan Kawasan Pulau Parang, Kepulauan Karimunjawa, Jepara (Fish Community at Parang Waters of Karimunjawa Island) Rudhi Pribadi; Hadi Endrawati; Ibnu Pratikto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.319 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.1.45-53

Abstract

Kawasan mangrove merupakan salah satu habitat ikan yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ikan di kawasan perairan bervegetasi mangrove Pulau Parang, Kepulauan Karimunjawa. Pengambilan contoh ikan dilakukan dengan gillnet sedangkan juvenil ikan diambil menggunakan Bonggo net dengan menyisir kolom perairan secara horizontal menggunakan perahu selama 10-15 menit pada kecepatan ±2 knot pada waktu pagi hari. Sampel ikan diawetkan dengan formalin 10% dan di laboratorium diganti dengan alkohol 70% untuk pengawetan yang lebih lama selanjutnya diidentifikasi. Kepadatan populasi ikan dihitung per stasiun dari seluruh contoh yang diamati. Contoh air diambil menggunakan water sampler, dan beberapa parameter perairan (suhu udara, suhu air, kedalaman, kecerahan, pH, DO) diukur secara langsung. Penelitian ini menemukan 7 spesies juvenil ikan di perairan bervegetasi mangrove Pulau Parang, yaitu Apogon ceramensis, Sphaeramia orbicularis, Hypoatherina barnesi, Zenarchopterus dispar, Zenarchopterus gilli, Gerres argyreus, dan Lethrinus lentjan yang termasuk dalam 5 famili, yaitu Apogonidae, Atherinidae, Hemiramphidae, Gerreidae, dan Lethrinidae. Pada saat bulan Juni ditemukan lebih sedikit jenis ikan dan jumlah individu juvenil ikan dibandingkan sampling bulan September 2012. Lebih banyak juvenil ini dimungkinkan adanya rekruitmen di daerah mangrove tersebut. Selama penelitian paling sedikit ditemukan 28 jenis ikan di perairan Pulau Parang yang terdiri dari 15 famili. Terdapat banyak perbedaan individu pada lokasi yang sama yaitu stasiun Batu Merah pada dua kali sampling. Hal ini menandakan daerah tersebut sebagai tempat mencari makan bagi ikan. Kata kunci:  ikan, mangrove, Pulau Parang, Kepulauan Karimunjawa   Mangrove ecosystem is recognised as essential habitat for many species of fishes. The study was aimed to identify community structure of mangrove fishes of Parang Island, Karimunjawa Islands. Adult fish was trapped using gillnet, while its juvenile collected using a larva-net tow horizontally by small boat for 10-15 minutes of 2knot speed along the mangrove waters in the morning. Sample was initially preserved in 10% formaldehyde then in 70% alcohol prior to further identification. Fish abundance was estimated on each station, and ambient parameter (water and air temperature, water depth, clarity, pH and DO) was measured insitu. The result shown that at least 7 species of fishes were found in Parang Island i.e.: Apogon ceramensis, Sphaeramia orbicularis, Hypoatherina barnesi, Zenarchopterus dispar, Zenarchopterus gilli, Gerres argyreus, and Lethrinus lentjan which taxonomically belongs to 5 families i.e.; Apogonidae, Atherinidae, Hemiramphidae, Gerreidae, and Lethrinidae. Less species was found in June rather in September sampling period, which possibly indicating of fish recruitmen on that mangrove ecosystem. In total 28 fish species of 15 families were found across all study sites in Parang Island and its surrounding waters. Species diversity among different sampling time, such as in Batu Merah Station, was also varied which possibly indicating that the site is feeding ground for many species in the area. Keywords: fish, mangrove, Parang Island, Karimunjawa Islands
Analisis Komponen Utama pada Hubungan Distribusi Spasial Komunitas Fitoplankton dan Faktor Lingkungan (Principal Component Analysis on the Relationship between Spatial Distribution of Phytoplankton and Environmental Factors ) Dwi Haryo Ismunarti
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.287 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.1.14-19

Abstract

Fitoplankton mempunyai peranan sangat penting dalam kesuburan suatu perairan. Kondisi dan distribusi dari fitoplankton sangat dipengaruhi oleh berbagai parameter lingkungan. Analisis ordinasi dengan Analisi Komponen Utama telah dilakukan untuk mengkaji komunitas fitoplankton dan hubungannnya dengan beberapa parameter lingkungan di perairan Kepulauan Karimunjawa Jepara, Jawa Tengah. Pengamatan terhadap parameter pH, oksigen terlarut, fosfat, nitrat, suhu dan salinitas perairan, serta fitoplankton dilakukan di 16 stasiun. Hasil analisis menunjukkan KU I dicirikan oleh stasiun penelitian dengan kelimpahan kelas Baccilariaphyceae yang tinggi dan kelas Dinophyceae yang rendah. Sedangkan KU II dicirikan oleh stasiun penelitian dengan kelimpahan kelas Baccilariaphyceae yang rendah dan kelas Dinophyceae yang tinggi. Kelimpahan kelas Baccilariaphyceae berhubungan secara negatif dengan konsentrasi fosfat dan berkorelasi positif dengan konsentrasi nitrat. Faktor lingkungan yang lain tidak menunjukkan adanya hubungan  secara statistik. Kata kunci: analisis komponen utama, fitoplankton, faktor lingkungan Phytoplankton have a very important role in the waters fertility. Conditions and distribution of phytoplankton is strongly influenced by various environmental parameters. Analysis ordination with Principal Component Analysis has been carried out in studying phytoplankton community and its relationship with several environmental parameters in Karimunjawa waters Jepara Central Java. Observation of the parameters pH, dissolved oxygen, phosphate, nitrate, water temperature and salinity, and phytoplankton were done at 16 stations. The results of the study show that Principal Component I is characterized by the abundance of Baccilariaphyceae high and Dinophyceae low. While Principal Component II is characterized by the abundance of Baccilariaphyceae low and Dinophyceae high. There was negative correlation between phytoplankton abundance with phosphate concentration and positive correlation with nitrate concentration. Other environmental factors did not show any statistically significant correlation. Keywords: principal component analysis, phytoplankton, environmental factors
Komposisi dan Kelimpahan Ikan di Ekosistem Mangrove di Kedungmalang, Jepara (Fish Community Structure in Mangrove Ecosystem at Kedung Malang, Jepara Regency) Sri Redjeki
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.241 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.1.54-60

Abstract

Ekosistem mangrove di Kedungmalang, Kabupaten Jepara dilaporkan telah mengalami kerusakan ekologis. Kondisi ini mempengaruhi biota termasuk ikan yang hidup di kawasan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan ikan di ekosistem mangrove di Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara. Penelitian dilaksanakan bulan Mei sampai Agustus 2011. Pengambilan sampel ikan dilakukan di 3 lokasi perairan bervegetasi mangrove sejati (true mangrove) Rhizophora sp. dan mangrove asosiasi (associate mangrove) rumput Cyperus sp. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 10 famili ikan, yaitu Mugilidae, Ariidae, Eleotridae, Pristigasteridae, Gobiidae, Drepanidae, Belonidae, Adrianichtyidae, Aplocheilidae, dan Haemulidae. Ikan paling banyak ditemui adalah famili Mugilidae, sedangkan ikan yang jarang ditemui adalah Famili Belonidae. Ikan Mugilidae hidup pada kisaran salinitas luas, sering masuk estuari dan sungai serta bersifat katadromous, biasanya membentuk kelompok besar di daerah dengan dasar pasir atau lumpur. Ikan famili Mugilidae yang paling banyak tertangkap adalah fase anakan dan juvenil. Jenis ikan Belanak ini merupakan ikan  yang berasosiasi dengan hutan mangrove selama periode anakan, tetapi saat dewasa cenderung menggerombol di sepanjang pantai berdekatan dengan hutan mangrove. Secara umum kelimpahan ikan pada saat surut selalu lebih tinggi dibandingkan saat pasang. Kelimpahan ikan di Rhizophora sp. lebih tinggi dibandingkan Cyperus sp. baik pada saat surut maupun pasang. Kata kunci: ekosistem mangrove, ikan, komposisi, Mugillidae Mangrove ecosystem at Kedungmalang has been reported experiencing  an ecological damage. This condition directly or indirectly affect the organisms, including fish that live around the area ecosystem. The purpose of this study was to identify and determine the abundance the fish communities in mangrove ecosystem in the Kedungmalang Village, Kedung District, Jepara Regency. The research was conducted during May to August of 2011. The samples were taken in three location  with true mangrove (Rhizophora sp.) and associate mangrove (Cyperus sp).   The results of this study found 10 fish families, i.e. Mugilidae, Ariidae, Eleotridae, Pristigasteridae, Gobiidae, Drepanidae, Belonidae, Adrianichtyidae, Aplocheilidae, and Haemulidae. The most commonly found is Mugilidae, in the contrary, Belonidae was found to be the lowest abundance family. Mugillidae is euryhaline and catadramous species that enter estuaries and river during high tide and form big school in the waters with sandy or muddy bottom. The sample from Kedungmalang mainly juvenile of Mugillidae.  In general, fish abundance at low tide is always higher than high tide. Abundance of fish in Rhizophora sp. was higher than those in Cyperus sp. both in the low tide or high tide. Keywords: mangrove ecosystem, fish, composition, Mugillidae
Dampak Infeksi Ice-ice dan Epifit terhadap Pertumbuhan Eucheuma cottonii (Impact of Ice-ice Infection and Epiphyte to Eucheuma cottonii Growth) Apri Arisandi; Akhmad Farid; Eva Ari Wahyuni; Siti Rokhmaniati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.418 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.1.1-6

Abstract

Rumput laut, Eucheuma cottonii, merupakan salah satu produk kelautan yang memiliki nilai ekonomis penting. Budidaya rumput laut jenis ini merupakan usaha untuk memenuhi tingginya permintaan pasar. Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah adanya infeksi ice-ice dan epifit. Perubahan cuaca yang tidak dapat diprediksi saat pergantian musim dapat memicu peningkatan kendala ini, sehingga dapat menyebabkan rendahnya pertumbuhan E. cottonii. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak infeksi ice-ice dan epifit, terhadap pertumbuhan E. cottonii di perairan laut Sumenep, Madura. Penelitian dilakukan menggunakan metode budidaya dalam rakit apung, thallus E.cottonii yang terinfeksi ice-ice dan epifit diamati berdasarkan tanda-tanda kelainan morfologi dan dihitung rata-rata pertumbuhan hariannya.  Hasil penelitian menunjukkan, jumlah thallus E. cottonii dalam rakit yang terinfeksi ice-ice dan epifit pada hari ke 30 mencapai 40,19-57,71%, dan meningkat menjadi 90,24-95,24% pada hari ke 60.  Infeksi ini menyebabkan rata-rata pertumbuhan harian E. cottonii pada hari ke 45 menurun hingga -3,76%, oleh karena itu E. cottonii yang telah terinfeksi harus segera dipanen. Kata kunci: ice-ice, epifit, pertumbuhan, Eucheuma cottonii, rumput laut Seaweed, Eucheuma cottonii, is one of marine products that have significant economic value. Development of seaweed cultivation is an attempt to meet the high market demand. One of the problems faced by seaweed cultivation is the presence of ice-ice and epiphytic infection. Unpredictable weather changes during the turn of seasons can lead to the increase of ice-ice and epiphytic infection, which in could cause the low growth of Eucheuma cottonii. This research aimed to determine the impact of ice-ice and epiphytes infection on the growth of E. cottonii in Sumenep, Madura Island. The research was conducted using floating raft method. Furthermore, from the infected E. cottonii thallus of ice-ice and epiphytic was observed by morphological abnormalities and calculated the average daily gain. The results showed that ice-ice and epiphytic infected of thallus in raft about 40.19-57.71% at day 30 and than increase to 90.24-95.24% at day 60. This infection caused the average daily gain of E. cottonii decreased until -3.76% at day 45. At this period the infected E. cottonii should be harvested immediately. Keywords: ice-ice, ephypite, growth, Eucheuma cottonii, seaweed  
Tingkat Kematangan Gonad Populasi Lorjuk (Solen sp.) di Pantai Timur Surabaya (Gonad Maturity Level of Lorjuk’s (Solen sp.) Population at the East Coast Surabaya) Ninis Trisyani; Fita Hadimarta
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.159 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.1.39-44

Abstract

Lorjuk (Solen sp.) adalah pelecypoda yang memilki nilai ekonomis tinggi di Pantai Timur Surabaya. Saat ini kelimpahan Lorjuk sudah mulai menurun dan perlu dilakukan upaya stock enhancement. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagian dari siklus reproduksi  berupa penentuan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) Lorjuk yang ditangkap di Pantai Timur Surabaya. Pengambilan sampel sebanyak 30 individu dilakukan pada bulan Mei-Oktober tahun 2012 dengan interval waktu 2 minggu sekali. Pengamatan dilakukan secara langsung meliputi morfometri panjang tubuh dan berat tubuh Lorjuk serta diameter oositnya. Tingkat Kematangan Gonad dilakukan dengan pengamatan histologi gonad dan mengelompokkan TKG berdasarkan ilustrasi photomicrograph skala gametogenik pada Ensis arcuatus. Hubungan antara Tingkat Kematangan Gonad dengan diameter oosit Lorjuk mengikuti persamaan TKG=0.522+0.528 diameter oosit dengan korelasi sebesar 79.2. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa TKG Lorjuk yang berada pada tahap matang dan tahap siap memijah diperoleh pada bulan Mei - Juni. Kata kunci : Lorjuk (Solen sp.), tingkat kematangan gonad, Surabaya Lorjuk (Solen sp.) is Pelecypoda that have a high economic value the East Coast Surabaya. Currently Lorjuk abundance has begun to decline and stock enhancement efforts are required. This study aims to determine the part of the reproductive cycle in the form of determination Lorjuk Gonad Maturity Level (Solen sp.) Were arrested on the East Coast Surabaya. Taking a sample of 30 individuals was conducted in May-October 2012 with a time interval of 2 weeks. Observations made ​​directly covering morphometry body length and body weight and diameter oocystnya Lorjuk. Gonad Maturity Level (GML) was conducted by observing and classifying gonad histology based on illustrations photomicrograph gametogenic scale at Ensis arcuatus. The relationship between the level of maturity of gonads with oocytes diameter Lorjuk follow equation GML=0522+0528 oocyte diameter with a correlation of 79.2. The results of these observations indicate that the level of maturity of gonads Lorjuk which is at a mature stage and the stage ready to spawn acquired in May-June. Keywords : Lorjuk (Solen sp.), gonad maturity level, Surabaya
Indeks Mitotik Simbion Alga Zooxanthellae pada Anemon Laut Stichodactyla gigantean Hasil Reproduksi Aseksual (Mitotic Index of Algal Symbion Zooxanthellae on Giant Carpet Anemone (Stichodactyla gigantea) Resulted from Asexual Reproduction) M. Ahsin Rifa’i
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.079 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.1.7-13

Abstract

Zooxanthella adalah alga simbiotik yang hidup berasosiasi secara mutualisme pada jaringan endodermis anemon laut. Dinamika alga zooxanthellae telah banyak diketahui pada anemon hasil reproduksi seksual namun sebaliknya pada anemon hasil reproduksi aseksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan pembelahan sel-sel zooxanthellae yang bersimbiosis dengan anemon laut Stichodactyla gigantea (Forskal 1775) hasil reproduksi aseksual dengan teknik fragmentasi. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Oktober 2010 sampai Juli 2011 di kawasan terumbu karang Teluk Tamiang, Provinsi Kalimantan Selatan. Paremater yang diuji adalah indeks mitotik zooxanthellae yang bersimbiosis dengan anemon laut. Zooxanthellae bersumber dari anemon alam hasil reproduksi seksual dan anemon hasil reproduksi aseksual yang dipelihara secara bersama selama sepuluh bulan pada perairan alami. Hasil penelitian menunjukkan kecepatan pembelahan sel zooxanthellae (indeks mitotik) memiliki perbedaan secara signifikan antara anemon hasil reproduksi aseksual dan anemon alami. Indeks mitotik zooxanthellae tertinggi ditemukan pada anemon alam dibandingkan anemon hasil reproduksi aseksual.  Indeks mitotik relatif sama ditemukan antar lokasi pemeliharaan. Kata kunci: Anemon, indeks mitotik, zooxanthellae, aseksual, reproduksi Zooxanthellae are symbiotic algal that form mutualism relation in endodermis tissue of sea anemone. The dynamics of zooxanthellae algae are well known in the anemone sexual reproduction, but otherwise the asexual reproduction. The aims of the research was to determine the rate of zooxanthellae cells bisection that have the symbiosis with The giant carpet anemone (Stichodactyla gigantea, Forskal 1775) which is resulted from asexual reproduction with the technique of fragmentation. Research was conducted from October 2010 to July 2011 in area of coral reef, Teluk Tamiang, South Kalimantan Province. The examination variable was mitotic index of zooxanthellae symbiont of sea anemone. Zooxanthellae from sea anemone that was resulted from asexual reproduction and sea anemone from the nature were cultured for ten months in the natural waters. The result showed that the rate of zooxanthellae cells division (mitotic index) have a significant difference between anemone which were resulted from asexual reproduction and sea anemone from the nature. The higher mitotic index was found at the sea anemone from the nature compared with those from asexual reproduction. The mitotic index was relatively similar between locations of culture. Keywords: anemone, mitotic index, zooxanthellae, asexual, reproduction
Analisis Kesesuaian Lokasi di Kawasan Taman Nasional Karimunjawa Untuk Budidaya Laut Berkelanjutan (Analysis of Site Suitability for Sustainable Marine Culture at Karimunjawa National Park) Muh Yusuf
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.057 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.1.20-29

Abstract

Taman Nasional Laut Karimunjawa memiliki beragam ekosistem dan sumberdaya yang digunakan untuk berbagai peruntukan. Agar tidak tumpang tindih secara spasial, maka diperlukan penelitian tentang analisis kesesuaian lahan terutama untuk pemanfaatan budidaya laut. Penelitian dilakukan selama 12 bulan untuk menentukan kesesuaian lokasi budidaya laut meliputi: budidaya rumput laut, ikan kerapu, dan teripang. Hasil analisis menunjukkan bahwa hampir semua pulau sesuai untuk budidaya rumput laut, dan budidaya ikan kerapu dalam Karamba Jaring Apung (KJA). Sedangkan budidaya teripang hanya sesuai di Pulau Menjangan Besar dan Pulau Menjangan Kecil, serta sedikit luasan di Pulau Karimunjawa dan Pulau Kumbang. Hasil analisis overlay secara spasial terhadap kesesuaian lokasi untuk ke tiga pemanfaatan budidaya laut tersebut menunjukkan bahwa kategori kelas kesesuaian S1 yang memiliki area terluas adalah lokasi untuk budidaya rumput laut seluas 2.765,19 ha (40,75%), kemudian kelas kesesuaian S2 untuk lokasi budidaya ikan kerapu seluas 2.107,04 ha (31,05%), kelas kesesuaian S2 untuk lokasi budidaya rumput laut mencapai luas 1.068,88 ha (15,75%), dan kelas kesesuaian S1 untuk lokasi budidaya ikan kerapu mencapai 697,87 ha (10,28%). Kelas kesesuaian N atau tidak sesuai untuk pemanfaatan budidaya laut hanya seluas 46,27 ha atau 0,69%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prioritas kebijakan pemanfaatan perairan di Kepulauan Karimunjawa sebaiknya diarahkan pada budidaya rumput laut. Kata kunci: kesesuaian lokasi, budidaya laut, Taman Nasional Karimunjawa Karimunjawa Marine National Park has a variety of ecosystems and abundant resources which can be used for many kinds of activities. In order to avoid overlaping spatially, it is necessary to conduct a research focusing on analysis of site suitability, mainly for marine culture utilization. This research was conducted for 12 months and aimed to define site suitability for marine culture utilization including seaweed, grouper fish, and sea cucumber culture. The results showed that nearly all islands are suitable and appropriate for seaweed culture or grouper fish by using cage culture method. On the other hand, for sea cucumbers cultivation is only suitable and appropriate in Menjangan Besar island and Menjangan Kecil island, as well as narrow areas in Karimunjawa and Kumbang islands. The result of spatially overlay analysis on site suitability for those three marine cultures showed that suitability class category S1 having the largest area is the site for seaweed culture which extends to 2.765,19 ha (40,75%). Then, suitability class S2 for grouper fish culture extends to 2.107,04 ha (31,05 %), suitability class S2 for seaweed culture extends to1.068,88 ha (15,75 %), and suitability class S1 for grouper fish culture extends to 697,87 ha (10,28 %). Suitability class N or unsuitable for marine culture utilization extends only 46,27 ha or 0,69 %. The results suggest that the policy for aquaculture development at Karimunjawa water should be prioritised for seaweed culture. Keywords: site suitability, marine culture, Karimunjawa National Park
Epibion Makrofit Pantai Berpasir di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Epibiont Macrophyte on Sandy Beach, in the Regency of Jepara, Central Java) Irwani Irwani; Norma Afiati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.175 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.1.30-38

Abstract

Epibion merupakan organisme yang hidup melekat pada berbagai jenis substrat alamiah di dasar perairan dan berperan penting sebagai pemakan sisa. Bandengan dan Pulau Panjang adalah dua lokasi pantai berpasir yang terletak berdekatan di Kabupaten Jepara Jawa Tengah. Studi ini menginvestigasi epibion pada makrofit, yaitu makroalgae dan lamun di kedua lokasi, dengan metode survei. Epibion utama kedua jenis makrofit tersebut adalah mikroalgae dan mikrozoobentos, dengan jumlah dan keanekaragaman yang relatif tidak berbeda. Secara lebih detil, epibion utama makroalgae umumnya adalah mikroalgae planktonik dan mikrozoobentos, sedangkan epibion utama lamun adalah mikroalgae planktonik yang bersifat epifit. Struktur komunitas bentik yang mengandung Polychaeta dalam jumlah jenis dan jumlah individu terbanyak dibandingkan Crustacea dan Mollusca, dan tidak dijumpainya genera lamun pionir Halophila dan Halodule di kedua lokasi, mengindikasikan masih cukup baiknya kualitas hayati kedua pantai wisata tersebut. Kata kunci: epibion, lamun, makroalga,  pantai berpasir, Jepara Epibiont ​​is known as living organisms attached to various natural benthic substrates and plays an important role as scavenger. Bandengan and Pulau Panjang are two sandy beaches close to each other located at Jepara, Central Java. This study investigates epibionts on macrophytes, which are macroalgae and seagrasses in both locations, by means of survey method. In general, major constituent of epibionts in those two macrophytes are microalgae and microzoobenthos, with relatively similar individual number and diversity. In more details, epibionts in macroalgae is planktonic microalgae and microzoobenthos, whereas, for seagrass it is of epiphytic microalgae. Benthic community structure which have more abundant and more diverse Polychaeta compared to that of Crustacea and Mollusca, combined with no existence of pioneer seagrass, i.e., Halophila and Halodule indicating that both beaches have still retained relatively good quality ecosystem for tourism. Keywords: epibiont, seagrass, macroalgae, sandy beach, Jepara

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue