cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan" : 8 Documents clear
Fission Reproduction of Two Stichopudidae Species (Holothuria:Echinodermata) (Reproduksi Fission dari Dua Species Teripang Famili Stichopudidae (Holothuria:Echinodermata) Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih; Pradina Purwati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.032 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.2.112-118

Abstract

Terdapat dua sistem reproduksi pada teripang, yaitu seksual dan aseksual. Fission, sebagai salah satu cara reproduksi aseksual, adalah kemampuan alami teripang untuk membelah tubuhnya menjadi dua bagain dan masing-masing bagian dapat beregenerasi menjadi individu baru. Fenomena ini memberikan kemungkinan melakukan simulasi fission untuk memperbanyak benih teripang.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kemampuan fission dua species Stichopudidae (Stichopus hermanii and S. chloronotus) dari Karimunjawa. Simulasi fission dilakukan dengan mengikat teripang uji dengan karet pentil dan meletakkan individu teripang yang telah diikat pada keranjang yang digantung pada permukaan laut. Pengamatan fission dilakukan pada jam ke 12, 24 dan 48. Ketika telah terjadi fission dan luka tertutup, teripang uji tetap berada di keranjang uji dan teripang tidak diberi pakan. Perlakuan berlanjut sampai penyembuhan secara morfologis terjadi dengan sempurna. Waktu terjadinya regenerasi setelah luka sembuh dicatat sebagai data pengamatan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa simulasi fisssion dapat dilakukan pada species teripang Stichopudidae.  Setelah proses fission selesai, dinding tubuh pada lokasi fission menjadi basah atau berlendir selama satu sampai dua jam. Pada pagi hari berikutnya, dinding tubuh akan nampak normal konsistensinya dan luka telah tertutup. Proses fission berlangsung selama beberapa jam sampai dua haridan tanda-tanda regenerasi timbul mulai dua sampai tiga minggu setelah fission.  Waktu generasi S. hermanii terjadi lebih cepat (2 minggu setelah fission) daripada S. chloronotus. Kata kunci : fission, produksi benih, stichopudidae, Pulau Karimunjawa  There are two reproduction systems in seacucumber, i.e. sexual and asexual. Fission, as a way of asexual reproduction, is natural seacucumber ability to split their body into two part, and this natural fenomenon give possibility to conduct fission stimulation as seacucumber propagation. Present works are aimed to analyse fission capability of two Stichopudidae species of sea cucumber (Stichopus hermanii and S. chloronotus) from Karimunjawa Islands. Fission stimulation by rubber band tied was done in basket hanged on the sea cage. The fission was observed for 12, 24 and 48 hours. When fission occurred and wound recovered the sea cucumber were still kept in the basket and no food was added. This treatment continued until morphological recovery was completed. The time regeneration occurred after wounds recover was recorded. The result of present work revealed that stichopudidae species showed very good response to fission stimulation. After the entire process of fission, the bodywall at the fission site remained a liquid or mucus like consistency for at least two more hours. The following morning, the bodywall had its normal consistency and the wounds at both ends were nearly entirely closed. The fission process took several hours to two days and signs of regeneration appeared two to five weeks after fission. Fission simulation give shorter regeneration time for S. hermanii (2 week) than S. chloronatus. Keywords: fission, seed production, stichopudidae, Karimunjawa island
Kelimpahan Fitoplankton di Padang Lamun Buatan (Artificial Seagrass Bed as Phytoplankton Habitat) Ita Riniatsih; Widianingsih Widianingsih; Sri Redjeki; Hadi Endrawati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.227 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.2.84-90

Abstract

Padang lamun berperan penting dalam menjaga kelestarian berbagai jenis organism laut. Namun secara umum kondisi ekosistem lamun saat ini semakin menurun. Melalui pengembangan padang lamun buatan diharapkan dapat membantu mengembalikan fungsinya, termasuk pertumbuhan fitoplankton sebagai epifit pada salah satu orgasnime yang berasosiasi di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keberhasilan penciptaan habitat fitoplankton di padang lamun buatan. Penelitian dilakukan dengan dua model lamun buatan yang terbuat dari tali kalas, tanaman plastik berbentuk semak, dan transplantasi lamun asli jenis Enhalus acoroides serta padang lamun asli sebagai control dengan empat kali ulangan. Fitoplankton yang diperoleh selama penelitian sebanyak 30 jenis. Jenis fitoplankton yang mendominansi semua perlakuan adalah kelas Bacillariophyceae yaitu genus Nitzschia, Coscinodiscus, Bidulphia, Rhizosolenia dan Skeletonema. Jumlah jenis dan kelimpahan fitoplankton yang tertangkap terlihat berbeda di setiap sampling pengamatan. Hingga akhir pengamatan jumlah jenis dan kelimpahan fitoplankton tidak terlihat perbedaan antara lamun buatan dan padang lamun asli. Indeks keanekaragaman dan keseragaman fitoplankton dalam kategori sedang pada ketiga perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padang lamun buatan sama efektifnya dengan padang lamun asli dalam menyediakan tempat untuk penempelan fitoplankton sebagai epifit serta meningkatkan produktivitas primer di ekosistem padang lamun. Kata kunci: habitat, fitoplankton, padang lamun buatan Seagrass bed is one of coastal area ecosystems, which has important role for various marine organisms. Artificial seagrass bed can create new habitat for phytoplankton as one of epiphyte organisms which is associated with others marine organisms. The purpose of this research is to know successful a phytoplankton growth in artificial seagrass bed at Teluk Awur Coastal area, Jepara.. There were three treatments in this research i.e. (a) artificial seagrass bed from kalas rope, (b) artificial seagrass made from plastic, (c) seagrass of Enhalus acoroides, and natural seagrass bed ecosystem as control, with 4 replications. Thirty phytoplankton species were found in that area. Several genera from class Bacillariophyceae dominanted at all treatments, i.e. Nitzschia, Coscinodiscus, Bidulphia, Rhizosolenia and Skeletonema. There were differences on the number of species and abundance of phytoplankton every time sampling. However, the number of species and abundance of phytoplankton were similar between artificial seagrass bed and natural seagrass bed at the end of this research. All treatments have medium category for diversity and evenness index. The results suggest that artificial seagrass bed is as effective as natural seagrass for location (medium) for phytoplankton habitat and for increasing primary productivity. Keywords : habitat, phytoplankton, artificial seagrass bed
Effect of pH on Growth and Survival Rate of Artemia Fed on Picophytoplankter Nannochloris sp. (Pengaruh pH Terhadap Pertumbuhan dan Kelulushidupan Artemia yang Diberi Pakan Nannochloris sp.) Gunawan Widi Santosa
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.2.105-112

Abstract

Akumulasi CO2 dan naik turunnya pH adalah faktor yang sangat penting untuk dikendalikan dalam mengkultur hewan yang diberi pakan algae. Percobaan pemberian pakan dengan salah satu picophytoplanton  seperti Nannochloris sp sebagai penyumbang utama produktifitas primer dalam ekosistem laut, menjadi penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsunganhidup Artemia setelah diberi pakan sel algae baik dalam keadaan hidup atau mati dalam media dengan pH yang berbeda. Dalam penelitian ini sebanyak 1500 nauplii Artemia dikultur, dalam tabung Ferbach  dengan posisi terbalik, pada kisaran pH  6.5, 7.0, 7.5, 8.0, dan 9. Sebanyak 4.0 x 106 sel.mL-1 Nannochloris sp pada fase logaritme diberikan sebagai konsentrasi awal pakan sampai hari ke-4. Mulai hari ke-5 pakan diberikan setiap 12 jam. Perubahan konsentrasi pakan dan pH media dicatat tiap hari dan selalu dikembalikan pada konsentrasi awal. Setiap dua hari disampling untuk menghitung pertumbuhan panjang/berat, kelulushidupan Artemia dan efisiensi pertumbuhannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan Artemia mengikuti pola yang sama di semua tingkatan pH (kisaran 4,37-5.28 mm), namun tidak berbeda secara statistik pada P>0.05. Sebaliknya, kelangsungan hidup Artemia menunjukkan adanya pengaruh yang nyata pada kondisi ini pada P<0.05 (kisaran 82,5-95.0%). Dari kajian ini menunjukkan bahwa kisaran pH media masih baik untuk kultur Artemia pada kondisi laboratoris penelitian, buktinya kelangsunganhidupnya mencapai 95% dengan pakan sel mati dan 82,5% dengan pakan sel hidup. Hasil ini mengkonfirmasikan bahwa Nannochloris sp merupakan pakan yang layak diberikan kepada Artemia baik dalam kondisi hidup maupun mati. Kata kunci: pertumbuhan, kelangsungan hidup, artemia, picofitoplankton, Nannochloris sp.  Accumulation of CO2 and associated with drift of pH is one of important factors should be controlled in culturing animals fed on microalgae. Feeding trials with Artemia fed on one of picophytoplankters Nannochloris sp, which has been to be major contributor of the primary productivity of marine ecosystems, is becoming importance to be done. The experiment was aimed to investigate the growth and survival rate of Artemia after consuming on either live or dead cells of algae in different pH media. In this experiment 1500 Artemia nauplii were cultured in upside down potition of Ferbach glass in various pH levels ranged from 6.5, 7.0, 7.5, 8.0, and 9.0 respectively. The food was added to the culture flasks from day 0 to give an initial population density of 4.0 x106 cells.mL-1 and thereafter at 24 h intervals until day 4. From day 5 the food were given to the animal at 12 h interval with each addition regulated to restore the population density to the initial level. pH level was kept and adjustment was made by addition of NaOH and or HCl to bring the pH at original levels. Water media was changed at every four day period. Every two and four days the animals were sampled for body length/weight, growth efficiency, and survival rate measurement. The results showed that growth of Artemia followed a similar pattern in all levels of pH (ranged from 4.37-5.28 mm), however, there was no effect on body length growth rate of Artemia after 15 days period of incubation at P>0.05. On the other hand, the survival rate of Artemia showed a significant effect under these condition at P<0.05. From the present study it could be confirmed that range of pH in the media was suitable for the culture of Artemia in the current laboratory conditions as evidenced by higher survival (up to 95% fed on  dead cell and 82.5% fed on live cell). This result also confirmed that Nannochloris sp. was suitable food for Artemia culture both given alive or dead cell. Keywords: Growth, Survival, Artemia, picophytoplankton, Nannochloris sp.
Dampak Aktivitas Perkotaan dan Penambangan Nikel Terhadap Tingkat Kontaminasi Logam Berat dalam Air Laut dan Sedimen (Impact of City Activities and Nickel Mining Toward Heavy Metal Contaminant in the Seawater and Sediment) Fasmi Ahmad
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.033 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.2.71-78

Abstract

Teluk Kendari dan Teluk Lasolo yang terletak di Sulawesi Tenggara banyak menerima limbah berasal dari beberapa sungai yang bermuara ke teluk tersebut dan dari kegiatan penambangan logam nikel di daratan dan kawasan pantai. Limbah tersebut mengandung berbagai macam bahan kontaminan, termasuk logam berat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kontaminasi  logam berat dalam air laut dan sedimen di perairan Teluk Kendari dan Teluk Lasolo dalam kaitannya untuk kepentingan biota laut. Pengukuran kadar logam berat Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni dalam air laut dan sedimen di Teluk Kendari dan Teluk Lasolo. Contoh air laut diambil dengan menggunakan Rosette Water Sampler dan sedimen  dengan gravity core pada 10 stasiun penelitian. Kadar logam berat diukur dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan kadar logam berat Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni dalam air laut dan sedimen di Teluk Lasolo lebih tinggi dibandingkan dengan Teluk Kendari. Tingginya kadar ke lima logam berat di Teluk Lasolo ini disebabkan oleh limbah yang berasal dari aktivitas penambangan nikel di kawasan darat dan pantai Lasolo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar ke lima logam berat di kedua perairan teluk ini masih aman untuk biota laut. Kata kunci: sedimen, air laut, logam berat, pencemaran Lasolo, Kendari Kendari and Lasolo Bay which were situated in Southeast of Sulawesi. Both of Bay have been received a lot of waste originated from a variety of activities in Kendari City and Nickel mining activities in the land and in coastal area of Lasolo region. Waste contains a variety of materials contamination, one of these contaminants are heavy metals. The aim of this research is to determine the level of heavy metal contamination in seawater and sediment in Kendari and Lasolo Bay in their relation to the interests of marine organisms. Measurement of levels of heavy metals Pb, Cd, Cu, Zn and Ni in  sediment in the Kendari and  Lasolo Bay has been done in June 2011. Seawater and sediment samples have taken by using a Rosette water sampler and gravity cores at 10 research stations. Heavy metal levels were measured by Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The results showed that the concentration of heavy metals Pb, Cd, Cu, Zn and Ni in seawater and sediments in Lasolo Bay is higher compared to Kendari Bay. This condition is believed to be attributable from the nickel mining activities in the land and coastal area of Lasolo. Generally, the concentration of those heavy metals in both of that bay still saved for marine organism Keywords: sediment, seawater, heavy metal, pollution Lasolo, Kendari
Konektivitas Logam Berat dalam Air tanah Dangkal, Sedimen dan Air Laut di Wilayah Pesisir (Connectivity Heavy Metals in Shallow Groundwater, Sediment and Seawater in Coastal Area) Chrisna Adi Suryono; Baskoro Rochaddi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.605 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.2.91-96

Abstract

Perkembangan aktivitas di wilayah pesisir menimbulkan terjadinya peningkatan polutan di lingkungan sekitarnya. Salah satu jenis polutan yang sering ditemukan adalah logam berat yang berbahaya. Penelitian ini menginvestigasi keterkaitan antara logam berat dalam air tanah dan logam berat yang ada pada sedimen laut dan air laut. Secara khusus, penelitian ini melihat enam logam berat yakni As, Hg, Cr, Pb, Cu dan Fe. Pengukuran kandungan logam dilakukan dengan AAS (Atomic Absorption Spectophotometry). Konsentrasi logam berat telah ditemukan dalam sedimen laut, air tanah dan air laut di daerah pesisir Tugu Semarang. Secara nyata terlihat bahwa seluruh logam menurun konsentrasinya dari sedimen, air laut dan air tanah, dan konsentrasi tertinggi terdapat dalam sedimen laut dan terendah terdapat pada air tanah. Konektivitas logam berat dalam sedimen, air laut dan air tanah diakibatkan oleh perubahan pH dan salinitas pada sedimen dan air. Peningkatan aktivitas reklamasi, buangan air limbah baik dari industri maupun pemukiman kemungkinan menyebabkan peningkatan logam berat di wilayah pesisir Tugu Semarang. Hasil penelitian ini menegaskan adanya konektivitas kandungan logam berat dalam air tanah, sedimen dan air laut di wilayah pesisir kota Semarang. Kata kunci: logam berat, sedimen, air laut, air tanah, Semarang Rapid development in coastal areas has lead to an increase in pollutants in the surrounding environment. One of the types of pollutants that are commonly found heavy metals. This study investigates the connectivity of heavy metals in ground water and heavy metals that exist in marine sediments and seawater. Six metals (As, Hg, Cr, Pb, Cu and Fe) in coastal areas in Tugu Semarang were examined. These metals were found ini marine sediment, groundwater and seawater in coastal areas. There is gradual decreased of the metal concentrations in sediment, seawater and groundwater, and the highest concentration of metals was found in marine sediment and the lowest in coastal groundwater. The connectivity of metals in marine sediment, groundwater and seawater predicted due to changes in pH and salinity of sediment and water. The increasing number of reclamation, waste water disposal from industrial and urban areas may has caused the increasing of heavy metals concentration in the coastal areas. The results of this study confirmed the presence of connectivity of heavy metals in the groundwater, sediment and seawater in the coastal area of ​​Semarang. Keywords: metals, sediment, groundwater, seawater, Semarang
Karakteristik Morfometri dan Pertumbuhan Kerang Bulu Anadara pilula (Characteristic of Morphometric and Growth of Anadara pilula) W. Nugroho Satrioajie; Sutrisno Anggoro; Irwani Irwani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.176 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.2.79-83

Abstract

Salah satu spesies dalam genus Anadara yang dimanfaatkan sebagai sumber bahan pangan alternatif adalah Anadara pilula. Pengetahuan mengenai biologi jenis kerang ini sangat terbatas karena kurang populer dibandingkan dengan A. granosa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik morfometri, biometri dan pertumbuhan kerang bulu A. pilula. Sampel kerang bulu diperoleh di perairan Kota Tegal. Pengukuran panjang, tebal, dan tinggi cangkang serta berat total kerang dilakukan dengan menggunakan jangka sorong. Sedangkan berat kerang diukur dengan timbangan elektronik. Hasil penelitian menunjukkan antar dimensi (panjang, tebal, dan tinggi) cangkang mempunyai hubungan yang erat (r≥0,8) dengan pertumbuhan panjang cangkang lebih mendominasi, diikuti pertumbuhan tebal kemudian tinggi cangkang. Sifat pertumbuhan demikian menyebabkan bentuk cangkang A. pilula hampir membulat. Kondisi yang sama juga ditemukan pada hubungan antara dimensi cangkang dengan berat total yang bersifat alometri negatif (b<3), dimana pertumbuhan linier cangkang lebih cepat dari pada pertambahan berat A. pilula. Hasil ini berpengaruh terhadap faktor kondisi kerang dan dapat digunakan untuk menentukan ukuran terbaik dalam memanfaatkan kerang ini. Kata kunci: Anadara pilula, morfometri, biometri, pertumbuhan One of species in genus Anadara which is used as food alternative resources is Anadara pilula (Reeve, 1843). The knowledge of this species is very limited because it has not been well studied than A. granosa (Linnaeus, 1758). This research aims to analyse characteristic of morphometric, biometric and growth of A. pilula from Tegal waters.  Measurement of length, thick and height of shells as well as total weight of cockle were measured from December 2009 to February 2010. The result showed that there was strong correlation ((r≥0,8) in the dimensions of the cockle shells, the growth of shells length was more dominant than thick and height. This phenomenon cause the form of A. pilula is nearly circular. There were relationship between dimensions of cockle shells with total weight (alometri negative, b<3) which was meant that growth of cockle shells is faster than weight and influenced the condition factor of cockles. This also can be used in determining the best of harvest size. Keywords: Anadara pilula, morphometric, biometric, growth characteristic
Profil Densitas Akustik Perikanan di Perairan Lamalera, Nusa Tenggara Timur (Fisheries Acoustics Density Profiles in Lamalera Waters, East Nusa Tenggara) Adi Purwandana; Fis Purwongko
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.2.97-104

Abstract

Sound Scattering Layer merupakan lapisan sejumlah organisme yang memantulkan sinyal hidroakustik. Pengetahun mengenai hal ini penting untuk memahami fungsi ekosistem epipelagis. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kuantitas akustik guna memperoleh karakteristik kawasan perairan kepulauan Lamalera. Pengukuran hidroakustik dilakukan pada bulan Juli 2011, yang bertepatan dengan musim timur. Penelitian dilakukan menggunakan peralatan split beam echosounder EK500 dioperasikan pada frekuensi 38 kHz dan 120 kHz. yang terdapat pada kapal Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Data parameter fisik lingkungan diperoleh dengan CTD Seabird Electronics (SBE) 911 Plus. Sedangkan kelimpahan klorofil-a diukur dengan Fluorometer Mk III Aquatracka. Verifikasi data kelimpahan akustik dengan data kelimpahan klorofil-a dari CTD menujukkan adanya korelasi positif antara profil klorofil-a dengan densitas akustik. Identifikasi lapisan krill pada perairan selatan kepulauan Lamalera memiliki rentang nilai kuat pantul individu antara -70 hingga -58 dB pada frekuensi 120 kHz. Hasil ini menunjukkan bahwa kelimpahan akustik pada perairan selatan lebih tinggi dibandingkan pada perairan utara kepulauan Lamalera. Kata kunci: akustik perikanan, perairan lamalera, musim timur. Sound Scattering Layer is a layer of a number of organisms that reflects hidroacustic signals. Knowledge on this subject is important to understand the functioning of epipelagic ecosystems. The aim of the study is to determine abundance of biologically active layers within the waters. Hydroacoustics measurement with 38 and 120 kHz, splitbeam EK500 echosounder vessel operated at a frequency of 38 kHz and 120 kHz mounted at Baruna Jaya VIII research vessel were made in July, 2011 at Lamalera Islands waters. Data environmental physical parameters were obtained with CTD Seabird Electronics (SBE) 911 Plus. While the abundance of chlorophyll-a were measured with a Mk III Fluorometer Aquatracka. Verification of acoustics abundance with chlorophll-a derived from fluorometer (CTD) shows positive signal of correlation. Identification of presummed krill layer within southern Lamalera waters shows range of target strength -70 to -58 dB at 120 kHz. It suggests that sound scattering layer which is represents biologically acoustics abundance was found to be higher in the southern waters than in the northern part of Lamalera. Keywords: fisheries acoustics, lamalera waters, southeast monsoon
Arus Rip di Perairan Pesisir Pangandaran, Jawa Barat (Rip Current in Pangandaran Coastal Water, West Java) Edi Kusmanto; Wahyu Budi Setyawan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1107.737 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.2.61-70

Abstract

Perairan pesisir Pangandaran adalah bagian dari perairan pesisir Teluk Parigi dan merupakan bagian yang paling tenang. Keadaan tersebut menyebabkan pantai Pangandaran berkembang menjadi tempat tujuan wisata pantai yang terkenal. Penelitian dilakukan di bagian pantai dimana arus rip diketahui sering terjadi. Gambaran tentang arus rip dilakukan dengan pengamatan visual dan pendekatan analisis kondisi morfologi pantai, batimetri atau morfologi dasar laut, kondisi gelombang, kecepatan dan arah arus, serta kekeruhan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa arus rip merupakan kejadian yang umum di kawasan pesisir Teluk Parigi, dan sering muncul di bagian tertentu pantai Pangandaran yang telah dipandang aman. Swell dengan kisaran periode 6,57– 8,91 dt dari Samudera Hindia dengan arah hampir tegak lurus garis pantai diduga merupakan gelombang pencetusnya. Hasil penelitian menunjukkan enam arus rip dengan kecepatan berkisar dari 0,8–1 m.dt-1. Rekaman data kekeruhan membuktikan arus rip tersebut membawa muatan sedimen dari tepi pantai ke tengah laut. Data batimetri di lokasi penelitian memperlihatkan adanya morfologi dasar laut yang bergelombang membentuk punggungan dan lembah memanjang dari pantai ke arah laut lepas. Posisi kejadian arus rip yang tidak spesifik di lembah atau punggungan menunjukkan tidak adanya kontrol morfologi dasar laut terhadap kejadian arus rip. Kata kunci: arus rip, swell, pantai pasir, perairan pesisir, Pangandaran Pangandaran coastal waters is coastal tourism site that situated at the calmest part of Parigi Bay coastal waters. The favorable coastal area condition has made the coastal zone growth to be favorite coastal tourism site. The study site was coastal segment where rip currents frequently occur. This research was conducted by visual observation of rip currents and coastal morphology analysis approach, bathymetry survey, wave conditions, the speed and direction of currents, and turbidity. Results of this study indicate that rip currents are common phenomena at the Parigi Bay coastal area, and the currents frequently occur at several parts of the Pangandaran coastal zone, which are supposed to be safe. The rip currents could be identified visually. Swell with periods of 6.57 to 8.91 s propagating from the Indian Ocean in nearly normal direction to the coastline of Pangandaran could be the cause of rip currents. During field work of this study, it was recorded the existing of six rip currents with speeds in the range of 0,8–1 m.s-1. Obtained backscatterance records indicated that the recorded rip currents transport sediment load seaward from swash zone. Bathymetry data records of the study area showed an existing of undulating submarine morphology with axis lines normal to coastline. However, position of the rip current occurrence had no a good correlation with the undulating morphology. The facts indicate that no control of seabed morphology on rip current occurrence.   Keywords: rip current, swell, sandy beach, coastal waters, Pangandaran

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue