cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan" : 7 Documents clear
Bioekologi Ikan Kerapu di Kepulauan Karimunjawa (Bioecology of Groupers in Karimunjawa Waters) Mujiyanto Mujiyanto; Yayuk Sugianti
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.943 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.2.88-96

Abstract

Kelompok ikan yang menjadi target penangkapan di perairan Kepulauan Karimunjawa antara lain adalah ikan yang berasosiasi dengan ekosistem karang, seperti Kerapu (Epinephelus sp. dan Plectropomus sp.). Kerapu tergolong ikan demersal yang menyukai hidup di antara celah karang atau di dalam gua di dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi bioekologi ikan Kerapu di Kepulauan Karimunjawa. Penelitian dilakukan pada tahun 2011-2013. Komunitas ikan Kerapu diamati dengan menggunakan metode transek garis pada kedalaman 5-6 dan 10-11 meter. Hasil analisis menunjukkan bahwa ikan Kerapu mempunyai keanekaragaman yang rendah dengan sebaran jenis yang merata di seluruh perairan. Terdapat dominasi jenis di Pulau Cendikian. Kesamaan jenis terdekat pada nilai  >95 % di kedalaman 5-6 meter dan 10-11 meter yang membentuk empat kelompok terdekat. Determinasi jenis ikan Kerapu dengan hasil tingkat kesamaan jenis terdekat dengan nilai >95 % di Pulau Kumbang (sisi utara), Pulau Kembar dan Batu Lawang. Perbedaan indeks ekologi dan kesamaan jenis Kerapu diduga dikarenakan faktor fisik-kimia perairan dan ketersediaan nutrisi serta oleh aktivitas nelayan dan kegiatan masyarakat. Kata kunci: ikan; Kerapu; indeks ekologi; Karimunjawa  Fish target groups in Karimunjawa waters consist of associated coral reef fish species such as grouper (Epinephelus sp. and Plectropomus sp.). This study aims to determine bioecology the condition of grouper in Karimunjawa waters. The study was conducted during 2011-2013. Data collection was performed using line transect method at 5-6 and 10-11 meters depth. The ecological value of grouper in waters Karimunjawa showed low diversity and the species of groupers is evenly distributed across the waters. There is species dominance in Cendikian Island. The species also showed closest similarity (> 95 %) in both the depth and formed 4 groups. The closest similarity (​​> 95 %) happened among the waters of north side of Kembang Islands Beetles (north side),  Kembar Island and Batu Lawang. The condition of groupers in Karimunjawa waters is affected by physical-chemical factors, the availability of nutrients, fishing activities and community activity.   Keywords: fish; grouper; ecological index; Karimunjawa
Effect of Silvofishery on Ponds Nutrient Levels (Pengaruh Silvofishery Terhadap Kandungan Nutrien di Tambak) Anna Ida Sunaryo Purwiyatno; Fitri Agustriani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.637 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.2.81-87

Abstract

Taman Nasional Sembilang merupakan salah satu taman nasional yang terletak di Sumatera Selatan dan menjadi kawasan mangrove terbesar di barat Indonesia. Sebagian besar wilayah mangrovenya telah mengalami alih fungsi menjadi tambak pasang surut. Hal ini menyebabkan timbulnya kekhawatiran kerusakan mangrove di taman nasional. Salah satu upaya untuk mempertahankan wilayah mangrove adalah dengan melakukan sistem silvofishery, yaitu penanaman mangrove dan budidaya bandeng dilakukan secara bersamaan di tambak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air dan kondisi nutrien di tambak di daerah restorasi silvofishery di Taman Nasional Sembilang. Penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling di tambak silvofishery, tambak non-silvofishery, dan badan air sungai di seluruh wilayah taman nasional. Pengukuran dilakukan terhadap parameter kualitas air dan kandungan nutrien khususnya nitrat dan fosfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran tanaman mangrove di daerah tambak mampu memperbaiki kandungan oksigen dan pH air tambak. Mangrove juga menunjukkan kemampuan dalam mengikat nitrat yang secara tidak langsung akan mencegah air tambak dari polusi. Namun, kandungan fosfat tinggi menunjukkan bahwa tanaman mangrove muda di wilayah restorasi belum mampu mengikat nutrien ini secara signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hutan mangrove sangat bermanfaat bagi kegiatan budidaya tambak karena kemampuannya dalam menyerap polutan nutrient. Kata kunci: silvofishery; kolam; nitrat; fosfat; Taman Nasional Sembilang Sembilang National Park is one of the national parks which is located in South Sumatera and became the largest mangrove area in western Indonesia. Most of the mangroves area in this national park has been experiencing conversion to be tidal ponds. This has resulted in concerns on mangrove forest destruction in the park. One of the efforts to maintain mangroves area is by applying silvofishery system, which is mangrove planting and cultivation of milkfish in ponds performed simultaneously. This study aims to investigate the water quality and nutrient condition in the ponds in the area of silvofishery restoration at Sembilang National Park. The study was conducted by purposive sampling method in the silvofishery ponds, non-silvofishery ponds, and river water bodies throughout the park. Measurements conducted on water quality parameters and nutrient content, especially nitrate and phosphate. The results showed that the presence of mangrove in the ponds area is able to improve the oxygen content and pH of pond water. Mangroves also demonstrated the ability to bind nitrates which indirectly will prevent the pond water from pollution. However, the high phosphorus content showed that young mangrove plants in the restoration area have not been able to significantly bind the of this nutrient. The results of this study showed that mangrove forests are very beneficial for aquaculture activities because of its ability to absorb nutrient pollutants. Keywords: silvofishery; ponds; nitrate; phosphate; Sembilang National Park
Tembaga (Cu) Menurunkan Kandungan Pigmen dan Pertumbuhan Mikroalga Merah, Porphyridium cruentum (Effect of Copper on Pigments Content and Growth of Red Microalgae, Porphyridium cruentum) Reza Hafiz Pranajaya; Ali Djunaedi; Bambang Yulianto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.42 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.2.97-104

Abstract

Logam berat tembaga (Cu) merupakan salah satu pencemar yang paling mengkhawatirkan di wilayah pesisir dan lautan. Berbagai metode telah banyak dikembangkan untuk mengatasi dan mengurangi pencemaran logam berat, baik secara fisika, kimia dan biologi. Masalah teknis dan biaya yang mahal menyebabkan manusia menggunakan cara biologis (bioremediasi). Salah satu diantaranya menggunakan mikroalga Porphyridium cruentum. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat konsentrasi logam berat Cu terhadap kandungan klorofil, pigmen fikobiliprotein dan pertumbuhan mikroalga P. cruentum. Bibit mikroalga diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Situbondo. Rancangan penelitian menggunakan metode eksperimental laboratorium. Konsentrasi logam berat Cu yang digunakan adalah 0 ppm sebagai kontrol, 1, 2, 3  dan 4 ppm. Logam berat Cu dianalisa menggunakan AAS dan pigmen (klorofil dan fikobiliprotein) menggunakan spektrofotometri UV-Vis.Hasil yang didapat menunjukkan bahwa logam berat Cu dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan pigmen (klorofil dan fikobiliprotein), BCF dan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan P. cruentum. Semakin tinggi logam berat Cu membuat laju pertumbuhan, kandungan pigmen (klorofil dan fikobiliprotein), dan BCF pada P. cruentum semakin menurun. Prosentase penyerapan logam berat Cu tertinggi sebesar  13,1 % (1 ppm), 8,2 % (2 ppm), 6,9 % (3 ppm), dan 2,6% (4 ppm). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa P. cruentum berpotensi sebagai bioremediator. Kata kunci: Porphyridium cruentum; pigmen; klorofil; fikobiliprotein; pertumbuhan; tembaga   Copper (Cu) is one of heavy metals and the most pollutant at seawater ecosystem. Various methods have been developed to reduce heavy metal pollution with in physics, chemistry and biology method. Technical problems and high costs cause human use biological method (bioremediation). One of them used microalgae Porphyridium cruentum.This study aims to find out the influence of copper exposure levels on chlorophyll, pigment Phycobiliproteins, and the growth of microalgae Porphyridium cruentum. P. cruentum stock was collected from Main Center Brackish Water Aquaculture Development, Situbondo. The research design this study used a experimental laboratory. Concentrations of heavy metals Cu used are 0 ppm as control, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, and 4 ppm. Heavy metals Cu analysised by AAS and measurent pigments (chlorophyll and phycobiliproteins) performed by spectrometric UV-Vis. The results showed that heavy metals Cu with different concentrations give a very effect influence (P<0.01) to pigment (chlorophyll and phycobiliproteins) content, BCF, and effect influence (P<0.05) to growth. The high Cu resulted decrease to growth of microalgae, cell density, pigments (chlorophyll and phycobiliproteins), and bio concentration factor Porphyridium cruentum. The highly percentage absorption of heavy metals Cu at 13.1% (1 ppm), 8.2% (2 ppm), 6.9% (3 ppm), and 2.6% (4 ppm). The results suggest that P. cruentum has the potential as bioremediator. Keywords: Porphyridium cruentum; chlorophyll; phycobiliproteins; growth; copper
Impact Test Size and Type of Echinometra mathaei as Agent of Bioerosion on Reef Flat (Pengaruh Ukuran dan Tipe Echinometra mathaei pada Bioerosi Karang) Cristiana Manullang; Makoto Tsuchiya; Ambariyanto Ambariyanto; Diah Permata
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.76 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.2.75-80

Abstract

Bioerosi adalah aktivitas berbagai organisme yang menyebabkan terjadinya erosi dan kerusakan misalnya pada kalsium karbonat karang. Aktivitas ini merupakan faktor utama yang mempengaruhi morfologi terumbu karang. Bioerosi dipengaruhi oleh tiga variabel yakni jenis spesies, ukuran dan kelimpahan spesies tersebut. Tujuh puluh lima persen dari bioerosi disebabkan oleh landak laut. Perbedaan pada ukuran dan jenis landak laut memberikan dampak signifikan terhadap daerah yang terjadi bioerosi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ukuran dan jenis landak laut E. mathaei (tipe A dan B) pada komposisi CaCO3 dalam isi usus dan tinja organisme tersebut sebagai agen bioersi. Landak laut yang digunakan diperoleh dari ekosistem karang di pantai Minatogawa, Okinawa-Jepang. Masing-masing tipe landak laut dibedakan berdasarkan ukuran ≥30 mm dan <30mm. Penelitian dilakukan dengan tiga ulangan. Pemeliharaan ini dilakukan di laboratorium dengan analisis komposisi CaCO3 pada tinja dan konten usus. Hasil penelitian membuktikan bahwa komposisi CaCO3 disebabkan karena aktivitas bioerosi harian dari E. mathaei. Landak laut dengan ukuran diameter ≥30 mm terbukti lebih aktif dibandingkan dengan diameter <30mm. Disamping itu landak laut tipe B lebih aktif dibandingkan tipe A dengan ukuran yang sama. Persentase CaCO3 dalam usus selama pemeliharaan di laboratorium adalah 73% dan sisa 27% berupa bahan organik dan anorganik. Bierosion harian E. mathaei tipe A ≥ 30 mm 166,70 mg.hari-1, tipe A <30 mm 77.78 mg.hari-1, tipe B ≥ 30 mm 126,30 mg.hari-1, tipe B <30 mm 116,17 mg.hari-1. Tingkat bioerosion harian E. mathaei dipengaruhi oleh jenis, spesies, kecepatan menggiling, dan ukuran landak laut. Kata kunci: ukuran; Echinometra mathaei; bioerosi; karang Bioerosion is an activity of various organisms such as erosion and destruction of coral calcium carbonate and become a major factor influencing coral reefs morphology. Bioerosion is influenced by three variables: type of species, size of species and abundance. Seventyfive percent of bioerosion caused by sea urchin. Differences on size and type of sea urchin gave a significant impact to the bioerosion area. This study aimed to examine the influence of the size and the type of sea urchin E. mathaei (type A and type B) on the composition of CaCO3 in the gut content and feces as bioersion agent on the reef flat in Minatogawa Coast, Okinawa-Japan. The organisms used were E. mathaei type A and type B with each type distinguished by size ≥ 30 mm and < 30 mm with three replications. The maintenance was carried out at laboratory for 3 days by observing analysis of the composition of CaCO3 on feces and gut content. It indicates that the composition of CaCO3 as daily bioerosion was caused by E. mathaei. The results showed E. mathaei with diameter ≥ 30 mm was more active than those with diameter of < 30mm and type B was more active than type A in each of the same size. Percentage of CaCO3 in the gut during maintenance in the laboratory was 73% and the other 27% consist of organic and inorganic materials. Daily bierosion E. mathaei type A ≥ 30 mm 166.70 mg.day-1 , type A < 30 mm 77.78 mg.day-1 , type B ≥ 30 mm 126.30 mg.day-1 , type B < 30 mm 116.17 mg.day-1. Daily bioerosion rate E. mathaei was influenced by the type, species, speed of grind, and the size of the sea urchin. Keywords: size; Echinometra mathaei; bioerosion; reef flat
Komposisi dan Vegetasi Hutan Mangrove di Pulau-Pulau Kecil, di Pasaman Barat (Mangrove Forest Composition and Vegetation Small Islands at West Pasaman) Eni Kamal; Hasnil Haris
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.256 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.2.113-120

Abstract

Komposisi dan vegetasi ekosistem mangrove pada suatu kawasan yang tumbuh di pulau-pulau kecil umumnya tidak sama dan tergantung kepada ekologi dari ekosistem pulau tersebut. Tujuan ini penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi dari komposisi, struktur vegetasidan jenis mangrove yang hidup pada masing-masing pulau kecil di kawasan Pasaman Barat. Metode ang digunakan adalah survei lapangan untuk mendapatkan jenis, komposisi dan struktur vegetasi dari masing-masing pulau dengan melakukan teknik  transek kuadrat. Pada penelitian yang telah dilakukan di beberapa tiga pulau di Kabupaten Pasaman Barat (pulau Taming, pulau Harimau, dan pulau Panjang) menunjukkan bahwa ke tiga pulau tersebut telah teridentifikasi tumbuhan 15 spesies, 11 famili, 2 famili dan 5 spesies merupakan masuk pada kategori mangrove sejati dan spesies dominan adalah R. stylosa dengan indek nilai penting (IVi) untuk tingkat pohon 192,88% di pulau Taming, pulau Harimau 36 spesies, 24 famili, 9 spesies dan 4 famili masuk pada mangrove sejati, spesies dominan R. apiculata, (IVi ) adalah 229,82%, sedangkan pada pulau Panjang 18 spesies, 14 famili, dimana 5 spesies dan 2 famili masuk kategori mangrove sejati, spesies dominan R. mucronata dengan (IVi ) 92,98%. Dari masing-masing pulau menunjukkan komposisi, struktur vegetasi dan kedominan speises yang berbeda dan ini disebabkan oleh perbedaan  subtrat yang dominan yang terdapat pada masing-masing pulau. Kata kunci: komposisi; vegetasi; mangrove, pulau-pulau kecil; Pasaman Barat Composition and vegetation of mangrove ecosystem in an area including that grown in small islands is different and depends on ecology and ecosystem of the islands. The purpose of the research is for getting the information of composition, vegetation structure and mangrove type that grown an each small islands in west Pasaman area. The method use was a survey of the field to get the type, composition and vegetation structure of each island by using transectsquares technique.In the research that has been done on several islands in the West Pasaman (Taming Island, Harimau Island, and Panjang Island), have been identified plants on Tamang Island that had 15 species and 11 families, which 2 families and 5 spesies were categorized as true mangroves and the dominant spesies is R. stylosa with important value index (IVi) is 192.88%, on Harimau Island found 36 species and 24 families, which 9 species and 4 families were categorized as true mangroves and the dominant is R. apiculata with 229.82% (Vi), while on Panjang Island found 18 plant species and 14 families, which 5 species and 2 families were categorized as true mangroves, the dominant species is R. mucronata with 92.98%. From each island showed composition, vegetation structure and different dominant spesies and this different is caused by the dominant substrate fand on each island. Keywords: composition; vegetation; mangrove; small islands; West Pasaman
Colonization of Coral Communities in the Krakatau Islands Strict Marine Nature Reserve, Indonesia (Kolonisasi Komunitas Karang di Kepulanan Krakatau) Singgih Afifa Putra; Ario Damar; Agustinus M Samosir
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4519.424 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.2.63-74

Abstract

Pulau-pulau Krakatau memiliki dinamika secara geomorfologi, dan berbagai perubahan fisik yang berlangsung memberikan dampak terhadap biota, termasuk pada proses dan tingkat pergantian suksesi komunitasnya. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan kondisi terkini dan proses kolonisasi komunitas karang, termasuk status kerusakan komunitas karang dan disturbansi lingkungan yang mempengaruhinya. Line intercept transect dilakukan di enam stasiun pada dua kedalaman yang berbeda yakni 5 dan 10m. Sedangkan observasi terhadap komunitas koral dilakukan dengan perekaman video. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suksesi atau perkembangan komunitas (i.e. kolonisasi) karang yang dijumpai di Pulau Anak Krakatau masih mengindikasikan tahap awal kolonisasi, berbeda dengan komunitas karang yang dijumpai di Pulau Rakata dan Panjang. Diversifikasi komunitas karang di kedua pulau tersebut, menunjukkan dominansi spesies oportunis dan pioner (i.e. Pocillopora dan Seriatopora) yang umum dijumpai di Anak Krakatau sudah tergantikan. Dominansi dari beberapa spesies karang telah mengindikasikan terjadinya proses eksklusi kompetitif di antara komunitas karang. Tiga tipe komunitas karang yang dijumpai dapat dibedakan menurut karakteristik masing-masing kawasan, yaitu komunitas kawasan terpapar, semi terpapar/terlindung, dan terlindung. Kerusakan komunitas karang di Krakatau berdasarkan kriteria indeks kerusakan karang (CDI) sudah termasuk kedalam kategori wilayah “hot spot”, dimana sangat memerlukan perhatian, pengawasan, pengamatan atau restorasi komunitas karang. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa terjadinya kolonisasi dan tingkat kerusakan komunitas karang perlu menjadi acuan dalam pengelolaan kawasan terumbu karang di Cagar Alam Laut Krakatau. Kata kunci: kolonisasi, suksesi; komunitas karang; pengelolaan; Krakatau Krakatau Islands diversity is geomorphologically dynamic, and these physical changes influence on organisms including community successional. The purposes of this research were to determine the condition and describe the recent colonization development of coral communities in the Krakatau Islands after sterilization. Transects were done at six stations at two different depth (i.e. 5 and 10 m) using line intercept transect. While observations of coral communities were done with video transect. This study showed that succession or development of coral communities (i.e. colonization) that found in Anak Krakatau indicated earlier stage of colonization. It has different coral communities compared with those that found in Rakata and Panjang island. The diversification of coral communities on both islands, showed that opportunistic and pioneer species (i.e. Pocillopora and Seriatopora) that generally found in Anak Krakatau has been replaced. There are indications of dominance may already take place through competitive exclusion in the coral communities. Three community types were distinguished based on characteristics for each sites, as follows: communities of wave-exposed habitats, communities of semi- exposed to sheltered habitats, and communities of sheltered habitats. The extent of coral damage covered all six sites based on coral damage index (CDI). This suggests that of the all transects were "hot spots'' that required management action. These results indicate that colonization and the level of coral damage have to be taken into account on the manegement of coral ecosystem in the region. Keywords: colonization; succession; coral communities; management; Krakatau
Pemangsaan Propagul Mangrove Rhizophora sp. Sebagai Bukti Teori Dominance-Predation (Predation of Mangrove Propagule, Rhizophora sp. as Evidence of Dominance-Predation Theory) Rudhi Pribadi; Achmad Muhajir; Widianingsih Widianingsih; Retno Hartati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.486 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.2.105-112

Abstract

Pemangsaan sering mentebabkan kegagalan propagul mangrove untuk tumbuh menjadi individu baru. Pemangsaan terjadi saat propagul masih bergantung pada pohon induk atau pra-penyebaran maupun setelah terlepas dan jatuh dari pohon induk atau paska-penyebaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemangsaan propagul Rhizophora mucronata Lamk., R. stylosa Griff. dan R. apiculata Blume di Desa Pasar Banggi, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Penelitian terdiri dari 3 tahap yaitu penelitian pendahuluan untuk mengetahui dominasi spesies, penelitian deskriptif pada pra-penyebaran tentang pemangsaan propagul pra-penyebaran dan penelitian eksperimental untuk mengetahui hubungan antara dominasi spesies dengan tingkat pemangsaan propagul paska-penyebaran. Tingkat pemangsaan propagul pra-penyebaran R. stylosa terbukti paling tinggi tingkat pemangsaannya yaitu 61,06% (kisaran 45,40-76,05%), disusul R. apiculata 58,18% (47,41-68,00%) dan terendah R. mucronata 11,88% (7,06-15,71%). Selama 18 hari pengamatan tingkat pemangsaan propagul R. stylosa paling rendah di stasiun yang didominasi R. stylosa (46,67%) dibandingkan di stasiun yang di dominasi R. apiculata (63,33%) maupun R. mucronata (83,33%). Pemangsaan propagul R. mucronata paling tinggi di stasiun yang didominasi R. mucronata (95%) dibandingkan di stasiun yang di dominasi R. apiculata (55%) maupun R. stylosa (45%). Pemangsaan propagul R. apiculata paling rendah di stasiun yang didominasi R. apiculata (50% ) dibandingkan di stasiun yang di dominasi R. stylosa (70%) maupun R. mucronata (73,33%). Hasil penelitian ini berhasil membuktikan teori dominance-predation pada spesies R. stylosa dan R. apiculata, namun tidak pada R. Mucronata. Kata kunci: pemangsaan, propagul, pra-penyebaran, paska-penyebaran, mangrove  Propagule predation on mangrove in some extent reduced its viability to grow into seedling. The predation could happened before (pre-dispersal) or after (post-dispersal) the propagule drop from the tree.The reasearch was conducted in Pasar Banggi, Rembang District, Central Java. The aim was to investigate the predation rate of Rhizophora mucronata Lamk., R. stylosa Griff. and R. apiculata Blume propagules pre-dispersal and post-dispersal. Firstly, preface experiment for find domination spesies in the location, Second, with applied descriptive-based survey sampling and field experiment methods. Than all propagules of five replication trees were harvested and checked for its condition on pre-dispersal step. The third, with post-dispersal study there were twenty propagules from each spesies and tied them with used nylon string and placed on the forest floor for 2 until 18 days and checked its condition every 2 days after placement. This study is also set for tested the Smith’s theory on propagule predation related to tree domination. Rhizophora stylosa propagule was  most predated before they fall (mean 61,06%, range 45,40-76,05%), followed by R. apiculata (mean 58,18%, range 47,41-68%) and the lowest isR. mucronata with mean 11,88% (range 7,06-15,71%). After 18 days of experiment in the field R. stylosa propagule in R. stylosa–dominated area was the lowest predated (mean 46,67%) compared to propagule in the area dominated by R. apiculata (63,33%) and also in R. mucronata area (83,33) Predated R. mucronata propagule is the highest in the R. mucronata dominated area (mean 95%) compared with R. apiculata dominated area (mean 55%) and also in R. stylosa dominated area (45%). Pradated of R. apiculata propagule is the lowest in the domination area of R. apiculata (50% ) compared with R. stylosa area domination with (mean 70%) also R. mucronata (73,33%). The result showed that the theory of dominance-predation can be proved only for R. stylosa and R. apiculata spesies, but not for R. mucronata spesies. Keywords : propagule, predation, pre-dispersal, post-dispersal, mangrove

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue