cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan" : 7 Documents clear
Scleractinian Coral Health Status of Padang Shelf Reef System, West Sumatera, Indonesia (Status Kesehatan Karang Skleraktinian pada Sistem Terumbu Karang Pesisir di Perairan Padang, Sumatera Barat, Indonesia) Ofri Johan; Amran R Syam
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.805 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.4.181-188

Abstract

Prevalensi penyakit karang sebelumnya belum dilaporkan di perairan Padang, Sumatera Barat. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan prevalensi penyakit karang pada lokasi yang dekat dengan pantai, pertengahan dan lokasi terluar, dimana lokasi tersebut merupakan lokasi pemantauan yang berkesinambungan sejak tahun 1994 untuk data kondisi karang. Metode pengamatan yang digunakan adalah metode transek sabuk dengan ukuran 1 m kekiri dan kekanan transek garis yang memiliki panjang 30 m dan 3 ulangan. Dua jenis penyakit dan dua indicator stress karang teramati pada penelitian ini. Penyakit karang sabuk hitam (Black Band Disease, BBD) yang banyak ditemukan di Pulau Pandan (1.3%) pada kedalam 5 m. Penyakit White Syndrome (WS) terjadi di Gosong Air (0.3%). Beberapa koloni karang Montipora sp. dan Pocillopora verrucosa mengalami pemutihan di Pulau Pieh (2.1%).Focal bleaching ditemukan pada karang Galaxea sp. dan Goniastrea sp. di Gosong Gabuo (2.5%) dan pada karang Pocillopora verrucosa di Gosong Sipakal (3.9%). Penyakit BBD menginfeksi karang Montipora sp. dan Porites sp. Penyakit WS hanya menginfeksi karang Montipora sp. Karang Montipora sp, Pocillopora sp dan Porites sp banyak dan umum ditemukan di perairan Padang. Hasil ini menunjukkan bahwa infeksi penyakit karang masih tergolong rendah dan secara alamiah bisa terjadi sehingga tidak menghalangi proses pemulihan kondisi karang yang saat ini terjadi dan secara umum pada status kesehatan karang. Kata kunci: coral disease, black band disease, white syndrome, Sumatera Barat The prevalence of coral disease was previously unreported on the reefs of the Padang Shelf Reef System, West Sumatra and is relatively uncommon. The objective of this study was to get coral disease prevalence of each site which located at inshore, mid-shelf reef and off-shore reefs. The research was carried out by using belt transect method with 1 m left and right of tape as long 30 m with 3 replications. Two kinds of coral disease and two indicators of stressed coral were observed. While relatively infrequent, Black Band Disease was most common (1.3%) occurring on Pandan Island at 5m. White Syndrome occurred at Air patch reef (0.3%). A few bleached colonies of Montipora sp. and Pocillopora verrucosa were observed on Pieh Island reef (2.1%). Focal bleaching was observed on Galaxea sp. and Goniastrea sp. at Gabuo patch reefs (2.5%) and on Pocillopora verrucosa at Sipakal patch reef (3.9%). BBD infected both Montipora sp. and Porites sp. WS only infected on Montipora sp. Montipora, Pocillopora and Porites were the most common genera observed on the reefs. It suggests that coral disease infection was classified as a minor and it will not hamper coral recovery processes and coral health status in Padang Waters, West Sumatera. Keywords: coral disease, black band disease, white syndrome, West Sumatera
Revealing Hidden Diversity in Menjangan Besar Island, Karimunjawa: Reef-Associated Decapods as a Proxy of Biodiversity Estimation (Mengungkap Keanekaragaman Tersembunyi di Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa: Estimasi Biodiversitas Menggunakan Dekapoda..) Ni Putu Dian Pertiwi; Eka Maya Kurniasih; Sukron Alfi Rintiantoto; Gede Wahyu Dani Dharmawan; Teuku Rizza Mustari; Fitriani Basuki; Ni Kadek Dita Cahyani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.112 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.4.195-201

Abstract

Kepulauan Indonesiamemiliki sejumlahArea Perlindungan Laut dan Taman Nasional yang merupakan tempat tinggal bagi organisme laut dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi. Karimunjawa sebagai salah satu Taman Nasional, dikenal mempunyai keanekaragaman terumbu karang yang tinggi dan merupakan salah satu kawasan yang digunakan sebagai area studi keanekaragaman laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi keanekaragaman organisme pada habitat terumbu karang yang terdapat di kawasan pesisir Karimunjawa. Metode sampling semi-kuantitatif digunakan untuk mengestimasi keanekaragaman terumbu karang, dengan menggunakan anggota kelompok dekapoda sebagai perwakilan. Enam belas terumbu karang mati (dead coral head) dari anggota Pocillopora, di koleksi dengan ukuran yang sama pada kedalaman 10 meter di kawasan Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa. Seluruh dekapoda yang dikumpulkan, diidentifikasi sampai tingkat famili dan menunjukkan terdapat 11 famili dari total 203 individu. Nilai statistik dari kekayaan spesies (Chao1 and ACE) menunjukkan hanya 11 famili dekapoda yang dapat ditemukan di kawasan tersebut. Hasil kurva rarefaksi menunjukkan nilai yang mencapai titik kesetimbangan setelah karang mati ke-empat belas, yang mengindikasikan bahwa penambahan koleksi sampel tidak akan mengubah estimasi keanekaragaman yang ditemukan. Index keanekaragaman Shanon-Wiener juga menunjukkan nilai keanekaragaman yang rendah dengan nilai 1.9. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pemahaman bagi keseluruhan keanekaragaman terumbu karang yang terdapat pada suatu kawasan dan sebagai dasar pengetahuan untuk tujuan pengamatan ekosistem terumbu karang bagi perlindungan dan konservasi. Kata kunci: keanekaragaman, terumbu karang, dekapoda, Indonesia, Karimunjawa. The Indonesian archipelago, with its higher number of Marine Protected Areas (MPA) and National Parks, is a home to a high diversity of marine organisms. Karimunjawa is an Indonesian National Park that is well known for its diverse coral reefs and therefore is an important place to study marine biodiversity. In the present study, the biodiversity of reef organisms was estimated in the coastal marine habitat of Karimunjawa. A semi-quantitative sampling method was used to estimate reef biodiversity using decapod group as a representative. Sixteen similar sized dead coral heads of Pocillopora were sampled from 10 m depth at Menjangan Besar Island, Karimunjawa. All decapods were sorted and identified to the family level, yielding 11 families from total 203-collected individuals. Species richness statistics (Chao1 and ACE) suggest that only 11 families of decapods can be found in this area. Rarefaction curves approached an asymptote after sampling fourteen heads, indicated that sample addition will not alter the estimate diversity found in this location with Shanon-Wiener diversity index of 1.9 indicated low diversity. Our findings may provide a basic understanding of the overall biodiversity of a reef area and a basic knowledge in monitoring coral reefs ecosystems for protection and conservation. Keywords: biodiversity, coral reefs, decapod, Indonesia, Karimunjawa
Characteristics of Mixed Layer Depth and Its Effect on Concentration of Chlorophyll-a (Karakteristik Mixed Layer Depth dan Pengaruhnya Terhadap Konsentrasi Klorofil-a) Novita Ayu Ryandhini; Muhammad Zainuri; Anastasia Rita Tisiana D. K.
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.879 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.4.219-225

Abstract

Perairan Selat Badung memiliki karakteristik yang sebagian besar dipengaruhi oleh aktivitas Arus Lintas Indonesia (ARLINDO). Pencampuran massa air akibat pergerakan massa air vertikal menjadikan kondisi lapisan yang homogen, dimana nilai suhu, salinitas dan densitas berada pada nilai yang hampir sama di lapisan tertentu akan membentuk Mixed Layer Depth (MLD). Penelitian dilakukan untuk mengetahui karakteristik MLD dan pengaruhnya terhadap konsentrasi klorofil-a di Perairan Selat Badung, Bali. Metode pengukuran klorofil-a menggunakan spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu dan salinitas sebagai parameter MLD, membentuk lapisan yang homogen pada kedalaman yang bervariasi. Sebaran kandungan klorofil-a pada kedalaman MLD 12-23 m, menunjukkan nilai klorofil-a yang cenderung lebih tinggi pada permukaan perairan dibandingkan di perairan yang lebih dalam. Pada MLD kedalaman 12-60 m, menunjukkan bahwa kecenderungan kandungan klorofil-a lebih tinggi pada lapisan di kedalaman tersebut. Namun pada beberapa stasiun menunjukkan bahwa meskipun terdapat lapisan homogen yang cukup dalam, kandungan klorofil-a lebih tinggi di lapisan permukaan dibandingkan pada perairan yang lebih dalam. Kata Kunci: mixed layer depth, klorofil-a, perairan selat Badung Badung Strait characteristics is largely influenced by the ARLINDO (Indonesian Throughflow) current activity. The mixing of water masses due to the vertical movement of water masses, homogenized some range of layer (Mixed Layer Depth), whereas the value of temperature, salinity and density were about on the same range. The study was conducted to determine the characteristics of MLD and its influence on the concentration of chlorophyll-a of Badung Strait, Bali. Chlorophyll-a content was measured by using spectrophotometry method. The results showed that temperature and salinity as the MLD parameters, formed homogeneous layer (MLD) at varying depths. Distribution of MLD at depth of 12-23 m, indicating that chlorophyll-a consentration tends to be higher on the surface than at depth. In conditions at depth of 12-60 m, showed that chlorophyll-a higher on the depth, where a lot of MLD formed on the layer. However, in some stations showed that although there were quite a lot of homogeneous layer, chlorophyll-a consentration was higher on the surface than in the depth. Keywords: Mixed Layer Depth, Chlorophyll-a, Badung Strait
Bacillus NP5 Improves Growth Performance and Resistance Against Infectious Myonecrosis Virus in White Shrimp (Litopenaeus vannamei) (Bacillus NP5 Meningkatkan Pertumbuhan dan Ketahanan Terhadap Infeksi Virus Myonecrosis pada Udang Putih (L. vannamei) Widanarni Widanarni; Munti Yuhana; Arief Muhammad
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.519 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.4.211-218

Abstract

Infectious Myonecrosis (IMN) merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang udang vaname. Probiotik banyak digunakan pada budidaya udang karena terbukti mampu mengurangi serangan penyakit pada udang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian probiotik Bacillus NP5 melalui pakan terhadap kinerja pertumbuhan, respons imun, dan resistensi udang vaname terhadap infeksi Infectious Myonecrosis Virus (IMNV). Udang vaname Litopenaeus vannamei (2.41±0.07 g ekor-1) diberi pakan yang disuplementasi probiotik Bacillus NP5 dengan dosis yang berbeda, 102 CFU.g-1 (A), 104 CFU.g-1 (B), 106 CFU.g-1 (C), dan kontrol tanpa suplementasi probiotik (kontrol negatif, KN; kontrol positif, KP) selama 30 hari dan dengan tiga ulangan untuk masing-masing dosis, kemudian KP, perlakuan A, B, dan C diuji tantang secara intramuskular dengan IMNV (100 µl.ekor-1). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa udang vaname yang diberi pakan dengan suplementasi probiotik mempunyai laju pertumbuhan harian (LPH), rasio konversi pakan (RKP), dan respons imun yang lebih tinggi. Udang tersebut juga mempunyai total hemocyte count (THC) dan resistensi terhadap IMNV yang lebih tinggi dibandingkan kontrol positif. Konsentrasi probiotik 106 CFU.g-1 memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan, respon imun, dan resistensi udang vaname terhadap infeksi IMNV. Kata kunci: probiotik, Bacillus NP5, Litopenaeus vannamei, pertumbuhan, IMNV Infectious Myonecrosis (IMN) is one of the most prevalent white shrimp diseases. Probiotics are widely used in shrimp cultivation because they have been proven to reduce shrimp disease outbreak. This study aimed to observe the effect of oraly administered probiotic Bacillus NP5 on the white shrimp's growth performance, immune response, and resistance to Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) infection. White shrimp Litopenaeus vannamei (2.41±0.07 g individual-1) were fed with a feed supplemented with different doses of the probiotic Bacillus NP5, i.e. 102 CFU.g-1 (A), 104 CFU.g-1 (B), 106 CFU.g-1 (C), and control without any probiotic (negative control, KN; positive control, KP) for 30 days and with three replications for each dose, then KP, treatment A, B, and C were challenged intramuscularly with IMNV (100 µl.shrimp-1). The results of the study showed that white shrimp fed with the supplemented probiotic had higher Daily Growth Rate (DGR), Feed Conversion Ratio (FCR), and immune response. They also had the higher Total Hemocyte Count (THC) and resistance to IMNV than the positive control. Probiotic with concentration of 106 CFU.g-1 gave the highest value on enhancing growth, immunity, and resistance of white shrimp towards IMNV infection. Key words: probiotic, Bacillus NP5, Litopenaeus vannamei, growth, IMNV
Diversity and Abundance of Sand Crabs on the South Coast of Central Java (Diversitas dan Kelimpahan Kepiting Pasir di Pantai Selatan Jawa Tengah) Ali Mashar; Yusli Wardiatno; Mennofatria Boer; Nurlisa A. Butet; Achmad Farajallah
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.267 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.4.226-232

Abstract

Kepiting pasir atau undur-undur laut merupakan biota bentik yang hidup di pantai berpasir yang mempunyai nilai ekologi dan nilai ekonomi cukup penting. Adanya tekanan penangkapan mengharuskan adanya pengelolaan yang bijak yang disesuaikan dengan karakteristik populasi kepiting pasir. Informasi tentang jenis dan kelimpahan kepiting pasir penting untuk diketahui terlebih dahulu sebagai langkah awal upaya pengelolaan lestari kepiting pasir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis dan kelimpahan setiap jenis kepiting pasir yang terdapat di dua lokasi penelitian, yaitu pantai Bocor, Kabupaten Kebumen, dan pantai Bunton, Kabupaten Cilacap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di kedua lokasi penelitian ditemukan tiga jenis kepiting pasir, yaitu Emerita emeritus, Hippa adactyla, dan Albunea symmysta. Kepiting pasir E. emerita ditemukan dengan persentase komposisi paling besar, 70,5%-75,3%; disusul H. adactyla 22,5%-24,7%; dan A. symmysta 2,2%-4,8%. Kepiting pasir betina dijumpai dengan persentase komposisi paling tinggi, yaitu 78,2% hingga 92,8%. Kepiting pasir E. emeritus juga ditemukan dengan kelimpahan rata-rata paling tinggi di kedua lokasi penelitian, yaitu 5 dan 34 ekor/100m2. Kepiting pasir E. emeritus dan H. adactyla yang ditemukan di pantai Bunton, Cilacap mempunyai kelimpahan lebih tinggi dari yang ditemukan di pantai Bocor, Kebumen, adapun kelimpahan rata-rata Albunea symmysta relatif sama di kedua lokasi penelitian, yaitu sekitar 1 ekor/100m2. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah diversitas kepiting pasir di pesisir selatan Jawa Tengah relatif tinggi dengan kelimpahan yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh intensitas aktivitas manusia di wilayah pantai berpasir. Kata kunci: Albunea symmysta, Emerita emeritus, Hippa adactyla, kelimpahan, kepiting pasir, komposisi jenis  Sand crabs or mole crabs are benthic fauna that live in the sandy beaches. They have ecological and economic value. Because of fishing pressure to this organism, it requires wise management based on the characteristics of the sand crab population. Information on the type and abundance of sand crabs is important as an initial step in sustainable management of sand crabs. This study aims to determine the species composition and abundance of each species of sand crabs. Sand crab specimens were collected from two study sites, namely Bocor beach, Kebumen, and Bunton beach, Cilacap. The results showed that in both sites found three species of sand crabs, namely Emerita emeritus, Hippa adactyla, and Albunea symmysta. E. emerita found in greatest composition percentage, 70.5% -75.3%; followed by H. adactyla 22.5% -24.7%; and A. symmysta 2.2% -4.8%. Females sand crab found in highest composition percentage, which is 78.2% to 92.8%. E. emeritus were also found in highest abundance average in both sites, 5 and 34 ind.100m-2. E. emeritus and H. adactyla were found on Bunton beach, Cilacap have abundance higher than that found on Bocor beach, Kebumen, while average abundance ofAlbunea symmysta relatively similar in both study sites, which is about 1 ind.100m-2. Implication of this research is high diversity of sand crabs relatively on the southern coast of Central Java with varying abundance that affected by intensity of human activities in the sandy beach area. Keywords: abundance, Albunea symmysta, Emerita emeritus, Hippa adactyla, sand crab, species composition
Sebaran Material Organik dan Zat Hara Oleh Arus Pasang Surut di Muara Sungai Demaan, Jepara (The Distribution of Organic Matter and Nutrients by Tidal Current at Demaan Estuary, Jepara) Lilik Maslukah; Elis Indrayanti; Azis Rifai
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.532 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.4.189-194

Abstract

Arus pasang surut di muara sungai dapat mempengaruhi penyebaran material organik dan zat hara. Keberadaan material organik dan zat hara di perairan dapat menentukan kualitas suatu perairan. Kandungan material organik dan zat hara dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi pada badan air dan menyebabkan kandungan oksigen di perairan menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sebaran material organik, nitrat dan fosfat oleh pengaruh arus pasang surut. Penelitian dilakukan di muara Sungai Demaan, Jepara. Penentuan konsentrasi material organik dalam contoh air laut menggunakan metode titrasi permanganate, sementara nitrat dan fosfat ditentukan dengan menggunakan metode spektrofometrik. Sebaran material organik, nitrat dan fosfat digambarkan dengan software ArGIS, sedangkan simulasi arus pasang surut menggunakan software SMS. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi material organik dan zat hara lebih tinggi saat surut dibanding saat pasang. Sebaran material organik dan fosfat mengikuti arus pasang surut yaitu  mengarah ke utara saat surut dan kembali  mengarah ke arah selatan pada saat pasang. Disimpulkan bahwa material organik dan fosfat bersumber dari sungai. Kata kunci : arus pasang surut, material organik, zat hara The distribution of organic matter and nutrients in the estuary can be influenced by tidal current. The presence of organic matter and nutrients can determine the water quality. However, the exceed amount of organic matter and nutrient in the water could lead to eutrofication that caused the depletion of dissolved oxygen. The research was aimed to determine the distribution of organic matter and nutrients (i.e. phophate and nitrate) due to the tidal current in Demaan estuary, Jepara. The titration method with permanganate was used to measure the organic matter concentration in the samples. Meanwhile, the spectrophotometric method was used to measure nitrate and phosphate concentration in the samples. Tidal current was simulated by Surface water Modelling System (SMS) software, and the distribution of organic matter, nitrate and phosphate was plotted using ArGIS software. The result showed that the concentration of organic matter and nutrients is higher at ebb tide than flood tide. The distribution of organic matter and phosphate followed the tidal current, flowing to the north at ebb tide and back to south at flood tide. It is concluded that organic matter and phosphate sourced from the rivers. Keywords : tidal current, organic matter, nutrient
Growth of Mangrove crab Scylla Serrata The Given Different Types of Feed (Pertumbuhan Kepiting Bakau Scylla Serrata Yang Diberi Berbagai Jenis Pakan) Djoko Suprapto; Ita Widowati; Ervia Yudiati; Subandiyono Subandiyono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.19 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.4.202-210

Abstract

Meningkatnya permintaan kepiting untuk ekspor terutama disebabkan kelezatan dan kandungan gizi dagingnya. Namun pada umumnya masih berasal dari hasil tangkapan dari alam, oleh karenanya peningkatan teknologi budidaya sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis kelamin, jenis pakan dan metode pembesaran terhadap pertumbuhan kepiting.Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental, dalam menganalisis pengaruh variable menggunakan rancangan acak kelompok dengan pola faktorial 2x2x3. Laju pertumbuhan mutlak dan pertambahan berat diukur setiap minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepiting jantan dipelihara secara individu dengan pakan ikan mempunyai pertumbuhan mutlak tertinggi yaitu 1,07 g.hari-1 dan pertambahan berat (weight gain) tertinggi pula yaitu 84,73%. Pemeliharaan massal, kepiting betina dengan pakan ikan rucah memiliki laju pertumbuhan mutlak tertinggi yaitu 0,80 g.hari-1. Sedangkan weight gain tertinggi diperoleh pada kepiting jantan yang diberi pakan ikan yaitu 52,03%. Anova tes menunjukkan pengaruh jenis kelamin dan interaksinya berbeda nyata. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kepiting dengan pakan ikan rucah lebih tinggi dibandingkan kepiting dengan pakan kerang dan campuran dari ikan dan kerang. Kepiting jantan yang dipelihara secara individu diberi pakan ikan rucah tumbuh lebih baik dibandingkan kepiting betina. Pertumbuhan Kepiting betina yang dipelihara secara massal dan diberi pakan ikan rucah memiliki peertumbuhan paling tinggi. Kata kunci: pertumbuhan, jenis kelamin, pakan alami, Scylla serrata, wadah pemeliharaan The increase of the export demand of crabs (Scylla serrata), among others caused by the good taste and have a very high nutrition value, but most of the crab still collected by fishing of natural stock. Therefore, technology of crabs culture should be enhanced. This research was aiming to understand the influence of sexual, feeding regime, environmental factors to the growth rate. This research was conducted experimentally using the randomized block design with factorial pattern 2x2x3. The growth rate and weight gain were measured weekly. The results show that male crab reared in individual aquarium fed by mixed fish revealed the quickest ultimate growth rate i.e. 1.07 g.day-1, as well as achieving the highest weight gain i.e. 84.73%. While in mass rearing method, female crab fed by mixed fish achieved the highest ultimate growth rate ie. 0.8 g.day-1, and the highest weight gain achieved in male crab fed by mixed fish i.e. 52.03%. Anova test reveal that sexual factor and it’s interaction was significantly different. The research conclude that the growth of the crab fed by mixed fish was higher than those fed by bivalve meat or combination of mixed fish with bivalve meat; male crab reared individually and fed with mixed fish revealed has higher growth rate then the female crab; and the growth rate of female crab reared in a mass and fed by mixed fish revealed the highest growth rate. Keywords : growth, sexual, natural feed, Scylla serrata, rearing media

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue