cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan" : 7 Documents clear
The Efficacy of Bioaugmentation on Remediating Oil Contaminated Sandy Beach Using Mesocosm Approach (Efikasi Tehnik Bioaugmentasi dalam Memulihkan Pantai Berpasir Tercemar Minyak Menggunakan Pendekatan Mesokosm) Yeti Darmayati; Harpasis S. Sanusi; Tri Prartono; Dwi Andreas Santosa; Ruyitno Ruyitno
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.012 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.3.143-152

Abstract

Bioremediation is basically consists of two approaches, biostimulation and bioaugmentation. The efficacy of bioaugmentation for combating oil pollution in field application is still argued. The purpose of study was to evaluate the efficacy of bioaugmentation and to compare the affectivity of single strain and consortium application in remediating oil polluted sandy beach. Experimental study in a field has been conducted with two (2) treatments and one (1) control in three different plots. The treatmens were introduction of a single strain (Alcanivorax sp TE-9) and a consortium (Alcanivorax sp. TE-9, Pseudomonas balearica st 101 and RCO/B/08-015) cultures into oil contaminated sediment. The experiment in mesocosm approach was taken place in Cilacap coast. Arabian light crude oil was used in the concentration of 100.000 mg.kg-1 sediment. Changes of oil concentration, bacterial density and pore water quality have been monitored periodically for 3 months. The result showed that oil degradation percentage and bacterial growth in both treatments were higher than in control. After 3 months, the percentage of oil degradation experiment in control, single strain and formulated consortium treatments were observed at 60.4%, 74.5% and 73.5%. It proves that bioaugmentation tehnique can enhance significantly oil biodegradation in sandy beach. The applications of bacteria in single or consortium culture give no different impact on their affectivity for bioremediation in Cilacap sandy beach. By data extrapolation it can be predicted that both of treatments able to reduce remediation time from 210 days into 135–137 days. Bioaugmentation can be proposed as a good solution for finalizing oil removing in Cilacap sandy beach when oil spilled occurred in this environment. Keywords: Bioremediation, bioaugmentation, oil, sandy beach, Alcanivorax, mesocosm, Cilacap   Bioremediasi pada dasarnya terdiri dari dua pendekatan yaitu biostimulasi dan bioaugmentasi. Teknik bioaugmentasi  dalam menanggulangi pencemaran minyak di lapangan masih diperdebatkan efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efikasi tehnik bioaugmentasi serta membandingkan efektivitas kultur tunggal dan konsorsium  dalam memulihkan pantai berpasir tercemar minyak. Studi eksperimental di lapangan telah dilakukan dengan menggunakan dua perlakuan dan satu kontrol di tiga plot berbeda, Perlakuannya adalah penambahan bakteri kultur tunggal (Alcanivorax sp TE-9) dan bakteri konsorsium (Alcanivorax sp. TE-9, Pseudomonas balearica st 101 dan RCO/B/08-015) ke dalam sedimen yang tercemar minyak. Eksperimen dengan pendekatan mesokosm dilakukan di pantai Cilacap. Minyak mentah ringan Arabia dengan konsentrasi 100.000 mg.kg-1 sedimen digunakan sebagai bahan cemaran. Perubahan konsentrasi minyak, kepadatan bakteri dan parameter lingkungan diamati secara periodik selama 3 bulan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase degradasi minyak dan densitas bakteri di sedimen perlakuan lebih tinggi daripada kontrolnya. Setelah 3 bulan eksperimen, persentase degradasi minyak pada kontrol, perlakuan kultur tunggal dan konsorsium masing-masing teramati 60.4%, 74.5% and 73.5%. Hal ini membuktikan bahwa tehnik bioaugmentasi secara signifikan mampu meningkatkan biodegradasi minyak di pantai berpasir. Pemberian mikroba dalam bentuk kultur tunggal ataupun konsorsium mempunyai efektivitas yang tidak berbeda untuk proses bioremediasi di pantai berpasir Cilacap.  Dengan ekstrapolasi data dapat diduga bahwa kedua perlakuan bioaugmentasi ini mampu mempercepat waktu pemulihan lingkungan dari 210 hari ke 135-137 hari. Bioaugmentasi dapat diusulkan sebagai solusi yang cukup baik untuk menghilangkan minyak pada tahap akhir pembersihan pantai berpasir Cilacap, jika terjadi tumpahan minyak di lingkungan ini. Kata kunci: single strain, consortium, bioaugmentation, oil, bioremediation, sandy beach,  Alcanivorax, Cilacap
Ekologi Trofik Komunitas Ikan di Perairan Segara Menyan, Subang, Jawa Barat (Trophic Ecology of the Fish Community in Segara Menyan Coastal Lagoon, Subang, West Java) Ahmad Zahid; M.F. Rahardjo; Lenny S Syafei; Rini Susilowati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.633 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.3.170-186

Abstract

Pengetahuan mengenai ekologi trofik merupakan dasar dalam memahami ekosistem secara keseluruhan yang dapat dijelaskan melalui pola hubungan trofik interspesies ataupun interserikat. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan ekologi trofik meliputi indeks trofik dan jenis makanan dominan, serikat dan tingkat trofik, dan variasi spasial dan temporal komunitas ikan di estuari Segara Menyan. Pengambilan ikan contoh dilakukan setiap bulan pada zona berbeda. Ikan contoh dipisahkan berdasarkan waktu dan lokasi pengamatan, dianalisis isi saluran pencernaannya. Analisa data meliputi indeks vakuitas, jumlah total organisme makanan, jenis makanan dominan, luas relung makanan, dan tingkat trofik.  Pada pengamatan 106 spesies ikan, sebanyak 1-380 saluran pencernaan ikan diamati. Sebanyak lima dari 106 spesies memiliki nilai indeks vakuitas “0” dan jumlah makanan yang dikonsumsi bervariasi mulai dari empat hingga 27 jenis makanan. Secara umum, luas relung ikan adalah rendah berkisar 0,20-0,78 dan kebanyakan berada pada kisaran 0,20-0,48. Zooplankton merupakan jenis makanan paling dominan dikonsumsi oleh ikan. Komunitas ikan dikelompokkan dalam tujuh serikat trofik, yaitu detritivora, fitoplanktivora, zooplanktivora, zoobentivora, moluskivora, krustasivora, dan pisivora. Tingkat trofik komunitas ikan berkisar 2,05-4,73. Faktor perubahan ontogenetik, persediaan makanan, karakteristik habitat, dan ruaya beberapa spesies ikan memengaruhi variasi spasio-temporal jejaring makanan di Segara Menyan. Kata kunci: interaksi trofik, laguna, ikan, variasi spasio-temporal, serikat trofik Knowledge of trophic ecology is one way to understanding the whole ecosystem which explained by trophic relationship pattern (interspecies or interguild). The objective research was described of the trophic ecology, i.e. trophic index and dominant prey, trophic guild and trophic level, and spatio-temporal variation of fish community in Segara Menyan coastal lagoon. Fish were collected monthly for one year at three zones. Fish samples were placed in separate labelled plastic bags according to the time scale and location sampling, then gut contents were analyzed. The data of vacuity index, number of prey, prey dominant, diet breadth, and trophic level were analyzed. For each of 106 fish species, between 1 and 380 stomachs, were examined. The vacuity index was also different among species. Five of 106 species had a vacuity index of “0” and total number of food items consumed varied between fish species, ranging from three items to 27 items. The overall diet breadth (Bi) was relatively low among species, ranging from 0.20 to 0.78, with most of them between 0.20 and 0.48. Calanoid copepods comprised the most common food item consumed by all the fishes examined. Fishes occurring can be broadly categorized into seven different trophic guilds. The trophic level of fish communities ranged from 2.05 to 4.73. Spatio-temporal variation of food web was influenced of ontogenetic shift, food availability, habitat characteristic, and migration of some species in Segara Menyan coastal lagoon. Keywords: trophic interaction, lagoon, fishes, spatio-temporal variation, trophic guild
Pertumbuhan dan Perkembangan Eksplan Rumput Laut Gracilaria verrucosa dan Gracilaria gigas pada Aklimatisasi di Tambak Sri Redjeki Hesti Mulyaningrum; Andi Parenrengi; Emma Suryati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1750.963 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.3.135-142

Abstract

Aklimatisasi eksplan rumput laut hasil kultur jaringan merupakan proses adaptasi eksplan dengan lingkungan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa pertumbuhan dan perkembangan eksplan rumput laut G. verrucosa dan G. gigas yang diaklimatisasi di tambak dan mendapatkan informasi awal mengenai prospek pengembangan budidaya rumput laut G. gigas di tambak. Eksplan rumput laut G. verrucosa dan G. gigas hasil kultur jaringan dipelihara dalam hapa berukuran 50x50x50 cm dengan berat awal 15 g.hapa-1 dan dipelihara di tambak. Desain penelitian adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam unit penelitian terdiri dari tiga ulangan untuk masing-masing spesies. Pemeliharaan eksplan dilakukan selama 60 hari dan setiap 15 hari dilakukan pengukuran bobot, panjang dan perkembangan eksplan serta monitoring terhadap kualitas air. Pengamatan histologi sel rumput laut G. verrucosa dan G. gigas dilakukan dibawah mikroskop. Analisis data pertumbuhan dilakukan dengan uji komparatif independent t-test sedangkan data perkembangan eksplan dan histologi sel rumput laut dianalisis secara deskritif. Pada pemeliharaan di tambak kedua jenis rumput laut memiliki pertumbuhan yang berbeda nyata (P<0,05). Rumput laut G. verrucosa memiliki bobot mutlak lebih tinggi (221,82 g) dari G. gigas (51,94 g) dan LPH (laju pertumbuhan harian) bobot lebih tinggi (3,27%) dari G. gigas (2%). Rumput laut G. verrucosa juga memiliki pertambahan panjang yang lebih tinggi (5,28 cm) dari G. gigas (2,71 cm) dengan LPH panjang masing-masing sebesar 3,06% dan 2,18%. Perkembangan eksplan rumput laut G. verrucosa lebih cepat daripada G. gigas karena faktor fisika dan kimia lingkungan perairan tambak yang tidak sesuai untuk pertumbuhan rumput laut G. gigas yang memiliki susunan sel korteks lebih rapat. Kata kunci: pertumbuhan, perkembangan, G. verrucosa, G. gigas, eksplan, tambak Acclimatization of tissue culture seaweed explants was an adaptation procces of explants to cultivation environment. This study aims to evaluate the growth and development of G. verrucosa dan G. gigas explants on pond acclimatization as early information of pond aquaculture development of G. gigas. Explants of G. verrucosa and G. gigas were rearing on 50x50x50 cm cage net with 15 g.cage-1 of initial weight and cutured on pond. The study was a completely randomized design with six unit experiment including three replicates for each species. Acclimation was done in 60 days then explants weight, length, development, and water quality were monitored every 15 days. G. verrucosa and G. gigas cell histology was observed under microscope. Growth data was analyzed comparatively using independent t-test then explants development and cell histology were represented descriptively. The study showed that the growth of both species was significantly different (P<0.05) on pond cultivation. G. verrucosa had higher weight (221.82 g) than G. gigas (51.94 g) also higher DGR (daily growth rate) (3.27%) than G. gigas (2%). G. verrucosa also had higher elongation (5.28 cm) than G. gigas (2.71 cm) with length DGR of 3.06% and 2.18%, respectively. The development of G. verrucosa explants was better than G. gigas, because of the physical and chemical environment of pond water was not suitable for G. gigas which had dense cortical structure. Keywords: growth, development, G. verrucosa, G. gigas, explants, pond
Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) in Muscles of Two Commercial Fish Species from Al-Kahlaa River in Missan Governorate, Iraq Salih Hassan Jazza; Abdul-Hussain Y. Al-Adhub; Hamid T. Al-Saad
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.819 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.3.121-126

Abstract

Al-Kahlaa River is one of main tributaries of the Tigris River in Missan city and rises from northwest side of Amara city and continues to flow in the direction to the east of city center. Two commercial fish species (Liza abu and Carassius auratus) were collected seasonally (autumn, winter, spring and summer) during period from 2012 to 2013 from Al-Kahlaa River in Missan governorate. The concentrations of Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) in fish muscles were determined in the laboratories of Nihran Omer (South Oil Company in Basrah province), using Gas Chromatography. Total concentrations of PAHs in muscles of L. abu ranged between 2.301 and 16.661 ng.g-1 dry weight during winter and summer respectively and in C. auratus between 1.095 and  8.675 ng.g-1 dry weight during winter and summer, respectively. Results of this study revealed that high molecular weight of PAHs were more than low molecular weight in both fish species, and according to ratios of Low molecular weight Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (LPAHs) to High molecular weight Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (HPAHs), Benzo(a) Anthracene /(Benzo(a) Anthracene+ Chrysene) BaA/(BaA+Chr),Indeno (1,2,3-cd) pyrene /(Indeno (1,2,3-cd) pyrene + Benzo (ghi) perylene) InP/(InP+BghiP) and Fluoranthene/Pyrene (Fl/Py), they certainly reflected that the PAHs sources in both species are pyrogenic as a main sources  and petrogenic as a small part. Also results of this study revealed the presence of seasonal variations in total concentrations of   PAHs in both fish species. The study area was generally contaminated with hydrocarbons and continuous consumption of food from this area may pose public health hazards. Keywords: polycyclic aromatic hydrocarbons, PAHs, fish, pollution Al-Kahlaa adalah salah satu anak sungai utama Sungai Tigris di kota Missan dari sisi barat laut kota Amara dan terus mengalir ke arah ke timur dari pusat kota. Dua spesies ikan komersial (Liza abu dan Carassius auratus) diperoleh pada musim berbeda (gugur, dingin, semi dan panas) selama periode 2012-2013 dari Al-Kahlaa. Konsentrasi polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) pada otot ikan dianalisis di laboratorium Nihran Omer (South Oil Company di provinsi Basrah), menggunakan Gas Chromatography. Total konsentrasi PAH pada otot L. abu berkisar antara 2,301 dan 16,661 ng.g-1 berat kering pada musim dingin dan musim panas. Sedangkan pada C. auratus antara 1,095 dan 8,675 ng.g-1 berat kering pada musim dingin dan musim panas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berat molekul tinggi PAH lebih dari berat molekul rendah pada kedua spesies ikan, dan menurut rasio berat molekul rendah polisiklik aromatik hidrokarbon (LPAHs) untuk berat molekul tinggi polisiklik aromatik hidrokarbon (HPAHs), Benzo (a ) Anthracene / (Benzo (a) Anthracene + Chrysene) BAA / (BAA + Chr), Indeno (1,2,3-cd) pyrene / (Indeno (1,2,3-cd) pyrene + Benzo (ghi) perylene) InP / (InP + BghiP) dan fluoranthen / Pyrene (Fl/Py), hal ini mencerminkan bahwa sumber PAH di kedua spesies adalah pirogenik sebagai sumber utama dan petrogenic sebagai bagian kecil. Hasil penelitian ini juga mengungkapkan adanya variasi musiman total konsentrasi PAH di kedua spesies ikan. Daerah penelitian umumnya terkontaminasi dengan hidrokarbon sehingga konsumsi makanan dari daerah ini secara berkelanjutan dapat menimbulkan bahaya kesehatan masyarakat. Kata kunci: polisiklik aromatik hidrokarbon, PAHs, ikan, polusi
Distribution And Metal Adsorption of Lead (Pb) In Estuary Banyuasin, South Sumatra (Distribusi dan Adsorpsi Logam Timbal (Pb) di Muara Sungai Banyuasin, Sumatera Selatan) Anna Ida Sunaryo Purwiyanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.407 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.3.153-162

Abstract

Muara Sungai Banyuasin merupakan wilayah penting bagi masyarakat Sumatera Selatan. Tingginya aktivitas yang terjadi, mengakibatkan muara ini menjadi rentan pencemaran, terutama logam Pb, baik pada biota maupun perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan logam berat Pb dan memprediksi terjadinya adsorpsi logam Pb pada kolom perairan dan sedimen seluruh sisi dan bagian Muara Sungai Banyuasin menggunakan pendekatan pemodelan. Penelitian ini menggunakan 3 stasiun yang mewakili 3 daerah muara, yaitu bagian luar muara, tengah muara, dan bagian dalam muara, dimana pada tiap stasiun diambil 3 sampel air (permukaan air, kolom air, dan dasar perairan) dan 1 sampel sedimen. Logam Pb pada sampel air dan sedimen dianalisis menggunakan AAS. Data divisualisasikan dalam bentuk peta distribusi persebaran dengan bantuan software ODV, sedangkan adsorpsi logam Pb pada perairan dimodelkan dengan menggunakan model partisi, Freundlich dan Langmuir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa logam Pb di Muara Sungai Banyuasin merupakan akumulasi dari aktivitas manusia pada hulu sungai dengan konsentrasi yang telah melebihi ambang batas yang ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup. Konsentrasi logam Pb lebih tinggi pada bagian sedimen sehingga mengindikasikan bahwa memang terjadi adsorpsi logam Pb oleh sedimen. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa proses adsorpsi logam Pb tersebut berlangsung sesuai dengan asumsi Langmuir dengan dominasi fisiosorpsi. Kata kunci: distribusi, logam Pb, adsorpsi, pemodelan, Muara Sungai Banyuasin  Banyuasin River estuary is an important area for the people of South Sumatra. The high activity that occurs in this estuary resulted susceptible of pollution, especially Pb, both on water and aquatic organism. This research aims to analyze the content of heavy metals Pb and predict the occurrence of adsorption of Pb in the water column and sediments around the sides and the estuary Banyuasin using modeling approaches. This study used three stations representing three regions of the estuary, which was the outer estuary, the middle estuary, and the inside of the estuary, where at each station were taken three samples of water (surface water, water column and bottom waters) and one sediment sample. Pb in water and sediment samples were analyzed using AAS method. The data is visualized in the form of a map of the distribution of the spread used ODV software, while the adsorption of Pb on the waters modeled using partition models, Freundlich models and Langmuir models. The results showed that Pb in the estuary Banyuasin as accumulation of human activities on the river upstream with the concentration has exceeded the threshold set by the Minister of the Environment. Pb concentration was higher in the sediments indicated that indeed happened Pb adsorption by sediment. Modeling results indicated that the adsorption process of Pb was held in accordance with the Langmuir assuming fisiosorption domination. Keywords: distribution, metal Pb, adsorption, modelling, Estuary Banyuasin
Land Subsidence Affects Coastal Zone Vulnerability (Pengaruh Penurunan Tanah Terhadap Kerentanan Wilayah Pesisir) Pra Luber Agung Wibowo; Agus Hartoko; Ambariyanto Ambariyanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.446 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.3.127-134

Abstract

Vast development of urban cities in coastal area has caused rapid degradation of the environment. Coastal zone vulnerability is mainly influenced by sea level rise, land subsidence, storm surge, sediment transport, socio-economic and coastal management policies. Present study investigates the main factor influences coastal vulnerability of developing coastal urban city at north coast of Java. Two factors were observed in the study; firstly land subsidence was observed by geodetic and leveling methods. Secondly, tidal inundation was measured by field work and participatory mapping. Tidal inundation model was performed using spatial model. Physical vulnerability model was conducted by scoring and weighting. The results show that Average rate of land subsidence between 2003-2014 is -0,021 (0,0-0,091) m.yr-1. Tidal inundation in 2014 covering 1286.29 hectares, where the highest impact happened at brackish water pond (969.63 ha). Tidal inundation prediction on 2031 will inundate ​​1786.76 ha, which the largest tidal inundation is in the residential area (646.85 ha). Coastal zone vulnerability in the research areas predominantly was influenced by land subsidence, and classified in moderate vulnerable. Land subsidence happened due to most of research areas are consists of alluvial plains morphology units that are still in consolidation process. Land subsidence conditions strongly influence the extent of tidal inundation in the future. Keywords: land subsidence, tidal inundation, vulnerability, coastal zones Pesatnya perkembangan kota di daerah pesisir menyebabkan degradasi lingkungan secara cepat. Kerentanan wilayah pesisir sangat dipengaruhi oleh kenaikan permukaan laut, penurunan tanah, gelombang badai, transport sedimen, kebijakan sosial ekonomi dan manajemen pesisir. Penelitian ini meneliti faktor utama yang mempengaruhi kerentanan pesisir pada pengembangan kota pesisir di pantai utara Jawa. Dua faktor yang diamati dalam penelitian ini; pertama penurunan tanah diamati dengan metode geodetik dan leveling. Kedua, genangan rob diukur dengan survei lapangan dan pemetaan partisipatif. Model genangan rob dilakukan dengan menggunakan model spasial. Model kerentanan fisik dilakukan dengan scoring dan pembobotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat penurunan tanah antara tahun 2003-2014 adalah -0.021 (0,0-0091) m.th-1. Genangan rob pada 2014 seluas 1.286,29 ha, dimana dampak tertinggi terjadi di area tambak (969,63 ha). Prediksi genangan rob pada 2031 akan menggenangi 1.786,76 ha, dimana genangan rob terbesar berada di area perumahan (646,85 ha). Kerentanan wilayah pesisir di wilayah penelitian dominan dipengaruhi oleh penurunan tanah, dan diklasifikasikan dalam kerentanan sedang. Penurunan tanah terjadi karena sebagian besar daerah penelitian terdiri dari unit morfologi dataran aluvial yang masih dalam proses konsolidasi. Kondisi penurunan tanah sangat mempengaruhi luasan genangan rob di masa depan. Kata kunci: penurunan tanah, genangan rob, kerentanan, kawasan pesisir
Growth kinetics and Protease Activity 36K Isolates Derived from Mangrove Ecosystem Sediment, Karimunjawa, Jepara (Kinetika Pertumbuhan dan Aktivitas Protease Isolat 36k Berasal dari Sedimen Ekosistem Mangrove, Karimunjawa, Jepara) Wilis Ari Setyati; Erni Martani; Triyanto Triyanto; Muhammad Zainuddin
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.88 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.3.163-169

Abstract

Budidaya perikanan laut dan payau menghasilkan sejumlah besar limbah organik yang dibuang ke lingkungan sekitarnya. Sebagian besar limbah organik ini berasal dari sisa pakan, dan feses. Faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi budidaya udang adalah munculnya penyakit dan penurunan kualitas air yang dikarenakan adanya akumulasi bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinetika pertumbuhan dan aktivitas protease bakteri sedimen mangrove dari Karimunjawa - Jepara yang berpotensi sebagai kandidat konsursium probiotik dengan kemampuan aktifitas bioremediasi. Pertumbuhan bakteri isolat 36K memiliki Fase lag (adaptasi) pada waktu kultivasi jam ke-0 hingga jam ke-4. Sedangkan pada jam ke-6 hingga jam ke-30,  isolat 36K  telah  memasuki fase logaritmik (eksponensial) yang dicirikan dengan adanya pertumbuhan yang siknifikan. Pada waktu pertumbuhan jam ke-30 diperoleh nilai OD sebesar 1,939±0,0125 dengan berat kering biomassa bakteri sebesar 1,325±0,043 mg.ml-1, laju pertumbuhan  spesifik (µ) sebesar 0,1446 jam-1, jumlah generasi 8,7609 dan waktu generasi 4,794 jam. Selanjutnya waktu pertumbuhan jam ke-36 hingga jam ke-42, sel isolat 36K  mengalami fase pertumbuhan yang relatif tetap yaitu memasuki fase stasioner. Berikutnya adalah fase kematin pada jam ke-42 hingga jam ke-48, terjadi penurunan laju pertumbuhan yang disebabkan oleh kekurangan materi pertumbuhan seperti vitamin dan unsur mineral. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar protein diawal sampai akhir penelitian mengalami penurunan sebesar  97,365%. Nilai laju penurunan kadar protein di media kultur bakteri adalah 0,255±0,005 mg.ml-1jam-1. Produksi enzim protease isolat 36K  dilakukan  ketika  biakan berumur 2 jam hingga 6 jam dengan aktivitas optimum dicapai pada 6 jam masa inkubasi fase eksponensial pertumbuhan bakteri. Kata kunci: sedimen, mangrove, bioremediasi, pertumbuhan, protease  Marine and brackishwater culture produced large number of organic waste, mostly from leftover feed and faeces, which normally released to the nearby water system and becoming source of deseases and reducing water quality.  The study was aimed to determine the growth kinetics and protease activity of 36k isolate from mangrove sediment of Karimunjawa, Jepara which possibly developed into probiotic consortium candidate with bioremediation activity capability. The study was able to describe the growth kinetics and protease activity of 36k isolate which has lag phase (adaptation) on the 0 to the first 4 hours. Meanwhile from 6th to 30th hours isolate 36k entering logarithmic phase (exponential) characterized by significant growth. At the 30th hours period the OD value was 1,939±0,0125, bacterial biomass dry weight of   1,325±0,043 mg.ml-1, specific growth rate (µ) was 0,1446 hours, number of generation 8,7609 dan regeneration time of  4,794 hour. Between 36 to 42 hours the growth of  36k isolate cell was relatively no difference indicating the stationer phase has reached followed by mortality phase between the 42–48 hours where the growth rate was decline due to the limitation of growth material such as vitamins and minerals.  The result also show that protein consentration was significantly decline up to   97,365%. The reduction of of protein content was 0,255±0,005 mg.ml-1.hour-1. The production of enzyme in cultured bacteria was conducted between first 2–6 hours and reach the optimum activity by 6 hours incubation i.e. at the exponential growth phase. The substrate consumption by 36K bacteria isolate was indicated by the decline of reduced sugar with average rate of substrate consumption of 2,0557 g.g-1. Keywords: sediment, mangrove, bioremediasion, growth, protease

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue