cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan" : 6 Documents clear
Toxicity of Ammonia to Benthic Amphipod Grandidierella bonnieroides: Potential as Confounding Factor in Sediment Bioasssy (Toksisitas ammonia terhadap amphipod bentik Grandidierella bonnieroides : Potensi sebagai faktor pengganggu dalam bioassay sedimen) Dwi Hindarti; Zainal Arifin; Tri Prartono; Harpasis S. Sanusi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.696 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.4.215-222

Abstract

Toxicity of ammonia was evaluated using amphipod Grandidierella bonnieroides to describe its role as confounding factor in sediment quality assessment. Ammonia is a toxic compound that is found naturally in seawater and sediment. High ammonia content in the pore water sediment can be potentially toxic to benthic biota, so that it will interfere with the results of sediment toxicity tests. Laboratory production amphipod was used in this ammonia toxicity test. Water-only toxicity tests was conducted to produce new toxicity data of ammonia, and is expressed as LC50, LOEC and NOEC for benthic amphipod G.bonnieroides. The study resulted the 96-h median lethal concentration (LC50) of ammonia for G. bonnioerides was 65.5 mg.L-1. While the value LOEC (low observed effect concentration) is 56 mg.L-1 and NOEC value (no observed effect concentration) was 32 mg.L-1 . This shows that ammonia has a relatively low toxicity to amphipod and ammonia does not act as a confounding factor in the sediment toxicity test, because the ammonia content in sediment does not pose any significant effect on amphipod survival. It can be concluded that the amphipod has a potential useful as test organism in sediment bioassay for assessing the quality of marine sediment. Moreover, the high dependence of total ammonia toxicity indicates that it is necessary to measure the total ammonia and pH of the medium when testing environmental samples. Keywords: ammonia, amphipod, toxicity, confounding factor, bioasssay Toksisitas ammonia dievaluasi menggunakan amphipod Grandidierella bonnieroides untuk menggambarkan perannya sebagai faktor pengganggu dalam penilaian kualitas sedimen. Amonia merupakan senyawa beracun yang ditemukan secara alami dalam air laut dan sedimen. Kandungan amonia yang tinggi dalam air pori sedimen dapat berpotensi racun bagi biota bentik, sehingga akan mengganggu hasil uji toksisitas sedimen. Amphipod hasil produksi laboratorium digunakan dalam uji amonia. Uji toksisitas dilakukan untuk menghasilkan data toksisitas baru ammonia, dan dinyatakan sebagai LC50, LOEC dan NOEC untuk G.bonnieroides amphipod bentik. Studi ini menghasilkan nilai konsentrasi median letal 96-jam (LC50) ammonia untuk G. bonnioerides adalah 65.5 mg.L-1. Sedangkan nilai LOEC (konsentrasi terendah yang menyebabkan dampak secara signifikan) adalah 56 mg.L-1 dan nilai NOEC (konsentrasi tertinggi yang tidah menyebabkan dampak secara signifikan) 32 mg.L-1. Hal ini menunjukkan bahwa ammonia memiliki toksisitas relatif rendah untuk amphipod dan ammonia tidak bertindak sebagai pengganggu dalam untuk uji toksisitas sedimen, karena kandungan ammonia dalam sedimen tidak menimbulkan pengaruh yang nyata pada survival amphipod. Dapat disimpulkan bahwa amphipod memiliki potensi sebagai biota uji dalam sedimen bioassay untuk menilai kualitas sedimen laut. Selain itu, terdapat ketergantungan yang tinggi toksisitas amoniak terhadap pH, sehingga perlu untuk memantau total amonia dan pH saat melakukan pengujian sampel lingkungan. Kata kunci : ammonia, amphipod, toksisitas, faktor pengganggu, bioassay
Characteristics of Diatoms in Strait of Rupat Riau (Karakteristik Diatom di Selat Rupat Riau) Chandrika Eka Larasati; Mujizat Kawaroe; Tri Prartono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.631 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.4.223-232

Abstract

Selat Rupat merupakan selat kecil yang berdekatan dengan Selat Malaka yang memiliki berbagai macam aktivitas antropogenik. Tekanan dari aktivitas tersebut dapat menyebabkan perubahan kondisi lingkungan perairan sehingga dapat berpengaruh pada organisme laut khususnya kelimpahan diatom. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik lingkungan perairan yang memengaruhi kelimpahan diatom di permukaan Perairan Selat Rupat. Penelitian ini dilaksanakan di Selat Rupat Riau dengan 5 stasiun yang berbeda karakteristik lingkungannya pada saat pasang dan surut. Parameter yang diukur, yaitu: nitrat, fosfat, silikat, ammonia, intensitas cahaya, salinitas, Pb, minyak dan lemak, serta kelimpahan jenis diatom. Analisis komponen utama (PCA) digunakan untuk menganalisis keterkaitan parameter fisika kimia perairan dengan kelimpahan diatom. Hasil menunjukkan bahwa terdapat 11 jenis diatom yang ditemukan selama penelitian.  Kelimpahan diatom yang memiliki nilai tertinggi saat pasang dan surut adalah Coscinodiscus (10693-197160 sel.m-3 saat pasang dan 8020-186466 sel.m-3 saat surut) dan Skeletonema (40769-106266 selm-3 saat pasang dan 30744-145029 sel.m-3 saat surut). Kandungan NO3 (0.081-0.142 mg.L-1 saat pasang dan 0.090-0.235 mg.L-1 saat surut), SiO2 (0.054-0.075 mg.L-1 saat pasang dan 0.056-0.120 mg.L-1 saat surut), arus (0.3-0.5 m.det-1 saat pasang dan 0.4-0.6 m.det-1 saat surut), dan intensitas cahaya (37-113 lx saat pasang dan 37-233 lx saat surut). Parameter fisika kimia perairan tersebut, memiliki pengaruh yang besar terhadap kelimpahan diatom. Aktivitas antropogenik memengaruhi kelimpahan diatom yang berdampak pada rantai makanan di ekosistem Perairan Selat Rupat sehingga perairan tersebut perlu dikelola dengan baik agar keseimbangan ekosistem perairan tetap terjaga. Kata kunci: antropogenik, diatom, nutrien, pasang surut, Selat Rupat Rupat Strait is one of small strait in Malacca Strait, which has a wide range of anthropogenic activities. The pressure of anthropogenic activities in Rupat Strait Riau could changed the conditions of aquatic environment which was took effects on marine organisms including an abundance of diatoms. This research was aimed to analyze the factors of physic and chemical of waters that affected an abundance of diatom on surface of water in Rupat Strait Riau. This research was conducted in Rupat Strait Riau at 5 stations with different environment characteristics during high and low tide. The measured parameters, consist of nitrate, phosphate, silicate, ammonia, light intensity, salinity, Pb, oils and fats, and then the abundance of diatoms. Principal component analysis (PCA) has used to analyze relations of physic and chemical of waters with abundance of diatoms. The study found 11 genus diatoms which has the highest value at high tide and low tide is Coscinodiscus, which ranged 10.693-197.160 sel.m-3 at high tide and 8.020-186.466 sel.m-3 at low tide, and Skeletonema (40.769-106.266 sel.m-3 at high tide and 30.744-145.029 sel.m-3 at low tide). The contents of NO3 ranged among (0.081–0.142 mg.L-1 at high tide and 0.090-0.235 mgL-1 at low tide), SiO2 ranged (0.054–0.075 mg.L-1 at high tide and from 0.056–0.120 mg.L-1 at low tide, the current ranged (0.3-0.5 m.s-1 at high tide and 0.4-0.6 m.s-1 at low tide), and light intensity ranged (37-113 lx at high tide and 37-233 lx at low tide). Those parameters of physics and chemical had contributions to an abundance of diatoms, but the tidal had no big effects to an abundance of diatoms. The anthropogenic activities had the effects to an abundance of diatoms that have impact on the food chain in aquatic ecosystem at Rupat Strait, so it needs to be managed well for maintain the balancing of aquatic ecosystem.   Keywords: antropogenic, diatom, nutrient, tidal, Selat Rupat
Carrying Capacity and Site Suitability of Labuhan Terata Waters of Sumbawa During Transition Season (Karakteristik Fisika-KimiDaya Dukung dan Kesesuaian Lahan Perairan Labuhan Terata, Sumbawa untuk Pengembangan Budidaya Rumput Laut ) Neri Kautsari; Yudi Ahdiansyah
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.226 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.4.233-238

Abstract

Perairan Labuhan Terata, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat merupakan perairan yang sangat penting keberadaannya bagi masyarakat Labuhan Terata karena peran pentingnya sebagai daerah perikanan terutama dalam budidaya rumput laut, namun kajian daya dukung dan kesesuaian lahan perairan bagi pengembangan budidaya rumput laut masih belum banyak diketahui. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui daya dukung dan kesesuaian lahan perairan untuk pengembangan budidaya rumput laut. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2015. Data Arus, suhu, pH, kecerahan, oksigen terlarut, salinitas, nitrat dan fosfat diambil dari permukaan perairan pada lima stasiun pengamatan. Suhu perairan diukur dengan thermometer Hg, oksigen terlarut dengan menggunakan DO meter, pH perairan dengan pH meter, nitrat dan fosfat dianalisis dengan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kesesuaian lahan ke–lima stasiun berada dalam kategori sesuai bersyarat. Kata kunci: daya dukung, kesesuaian lahan, rumput laut, perairan Labuhan Terata, Sumbawa Labuhan Terata Waters, Sumbawa, West Nusa Tenggara is one of the waters are very important for Labuhan Terata peoples because function for fisheryes especially seaweed cultivation, but asses carrying capacity and site suitability of waters is minus. The research objective was to assess carrying capacity and site suistability in the Labuhan Terata waters at transititions season. This research have been carried out in Mey to June 2015. Current, brightness, temperature, dissolved oxygen (O2), acidity (pH), salinity, phosphate and nitrate parameters was measured directly from a layer surface at five research stations. The degree of temperature was measured thermometer Hg, acidity (pH) was measured with pH meter, dissolved okxygen was measured dissolved oxygen meter (DO meters), measurement of nutriens (phosphate & nitrate) concentration used spectrophotometri method. The result of the analysis showed that the value of site suitability of the five stations are in the category conditional suitable. Key words: carrying capacity, Site Suitablity, seaweed culture Labuhan Terata Waters, Sumbawa
Effects Of pH, Temperature And Salinity In Growth And Organic Acid Production Of Lactic Acid Bacteria Isolated From Penaeid Shrimp Intestine Subagiyo Subagiyo; Sebastian Margino; Triyanto Triyanto; Wilis Ari Ari Setyati1,2
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.377 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.4.187-194

Abstract

Bakteri asam laktat telah lama dikembangkan sebagai probiotik. Penentuan kondisi lingkungan yang optimum untuk pertumbuhan sel serta asam organik memberikan gambaran aktivitas optimum untuk kinerja probiotik baik dalam sistem fisiologi inang maupun dalam sistem bioproses untuk produksi sel dan metabolit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan (pH, suhu dan salinitas) terhadap pertumbuhan dan produksi total asam organik tiga isolat bakteri asam laktat yang telah diseleksi dari intestinum udang penaeid. Eksperimen menggunakan  medium deMan, Rogosa and Sharpe (MRS) cair. Perlakuan pH awal meliputi  nilai pH 4, 5 dan 6. Perlakuan suhu meliputi suhu 25, 30 dan 35OC serta perlakuan salinitas  meliputi salinitas 0,75 %, 1,5 % dan 3 %.  Setiap interval 6 jam dilakukan pengambilan sampel kultur bakteri dan penghitungan pertumbuhan berdasarkan perubahan optical density (pada panjang gelombang 600 nm) sedangkan produksi asam laktat dianalisis dengan metode titrimetrik menggunakan NaOH 1 N sebagai larutan titrasinya. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa suhu, pH awal dan salinitas berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi asam organik. Nilai kondisi lingkungan terbaik untuk pertumbuhan dapat berbeda dengan nilai terbaik untuk produksi asam organic. Hal ini ditunjukan oleh nilai laju pertumbuhan dan produksi asam laktat tertinggi dari tiga isolat uji terjadi pada suhu, pH awal dan salinitas yang berbeda.  Isolat L12 tumbuh optimum pada suhu 30oC, pH awal 6 dan salinitas 0,75%. Isolat L14 tumbuh optimum pada suhu 30oC, pH awal 6 dan salinitas 1.5%. Isolat L 21 tumbuh optimum pada suhu 30 oC, pH awal 6 dan salinitas 1.5%. Kata kunci: bakteri asam laktat, suhu, pH, salinitas, asamorganik, pertumbuhan, Lactic acid bacteria are widely distributed in intestinal tracts of various animals where they live as normal flora.Strains of lactic acid bacteria are the most common microbes employed as probiotics, The optimum condition for growth are important to mass production and to determined parameters most suitable for growth. The effects of  temperature, pH and salinity on the growth and production of lactic acid from the three shrimp intestinal lactic acid bacteria isolates were conducted using bacth culture in a flask. These variables for growth were determined based on the growth curves and lactic acid production. Data from the flask batch experiment demonstrated that the best initial pH and temperature  for growth of isolat L12 ,L14 and L21 were found to be pH 6 and 30 OC.  Salinity (NaCl concentration) 0,75% were the best for growth of isolat L12. Salnity  1,5 % were best for growth of isolat L14 and L21. Key words : growth, temperature, pH, salinity, lactic aid bacteria
Free Amino Acid Enriched Rotifer for Larval Grouper Cromileptes altivelis (Pengkayaan Rotifer dengan Asam Amino Bebas Untuk Larva Kerapu Bebek Cromileptes altivelis) Dedi Jusadi; Tulas Aprilia; Muhammad Agus Suprayudi; Deddy Yaniharto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.353 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.4.207-214

Abstract

Pembenihan ikan kerapu dihadapkan pada rendahnya sintasan, terutama fase awal hidupnya. Rendahnya sintasan diduga berhubungan dengan belum berkembangnya organ pencernaan larva dan tidak tersedianya pakan yang siap diserap tubuh. Pemberian asam amino bebas seperti taurin dan glutamin melalui rotifer diharapkan dapat meningkatan ketersediaan nutrien yang dapat diserap dengan cepat oleh larva, sehingga sintasan larva tinggi dan dapat tumbuh lebih cepat. Penelitian bertujuan mengukur pengaruh glutamin atau taurin terhadap sintasan dan pertumbuhan larva kerapu bebek Cromileptes altivelis. Larva umur 1 hari (10 ekor.L-1) dipelihara dalam bak fiberglass volume 500 L yang diisi air laut sampai 330 L. Larva diberi pakan rotifer diperkaya 0,5 g glutamin, 0,5 g taurin, atau tanpa glutamin dan taurin. Larva dipelihara selama 16 hari dengan pemberian pakan 2 kali  per hari. Satu jam setelah pemberian pakan dilakukan pengamatan terhadap jumlah rotifer dalam saluran pencernaan larva ikan. Hasil penelitian menunjukkan jumlah rotifer dalam saluran pencernaan larva meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Namun, jumlah rata-rata rotifer yang dikonsumsi larva pada perlakuan 0,5 g glutamin atau 0,5 g taurin lebih banyak dibanding perlakuan tanpa taurin dan glutamin. Larva yang diberi rotifer hasil pengkayaan dengan 0,5 g glutamin atau 0,5 g taurin memiliki sintasan yang tidak berbeda (P>0,05), masing-masing 19,2±2,25%, dan 24,5±1,20%, dan secara signifikan lebih banyak dibanding larva di perlakuan tanpa glutamin dan taurin yang nilainya 13,0±1,70%. Larva yang diberi rotifer hasil pengkayaan dengan 0,5 g taurin secara signifikan lebih panjang (5,5±0,18 mm) dari ikan di perlakuan 0,5 g glutamin (5,3±0,12 mm). Demikian juga, larva di perlakuan glutamin lebih panjang dari pelakuan tanpa glutamin dan taurin (5,0±0,16 mm). Pengkayaan rotifer menggunakan asam amino bebas taurin atau glutamin dapat meningkatkan sintasan dan pertumbuhan larva kerapu bebek. Namun, taurin lebih baik dibanding glutamin karena memberi efek ke pertumbuhan ikan yang lebih cepat. Kata kunci: taurin, glutamin, kerapu bebek, Cromileptes altivelis. The hatchery production of grouper faced to the problem of low surival rate, especially during the first feeding period. During this period, the digestive organ of larvae was underdeveloped, and the nutrient in live food was not readily absorbed by larvae. Feeding on free amino acids, such as taurine or glutamine, enriched rotifer would be enhanced the nutrient readily absorbed thereby resulting to the improvement of growth and survival rate of larvae. A duplicate experiment was conducted to evaluate the effect of rotifer enriched with free amino acid of glutamine or taurine, on the growth and survival rate of larval grouper Cromileptes altivelis. One day old larvae were cultured in 500 l fiberglass containing 330 l of sea water with a density of 10 ind.L-1. Larvae were fed on rotifer enriched with either 0.5 g glutamine, 0.5 g taurine, or without glutamine nor taurine. Larvae were fed on rotifer twice a day at 08.00 and 14.00, and cultured for 16 days. One h after feeding, rotifer content in the gut of larvae were observed. Results showed that larvae fed on rotifer enriched with 0.5 g taurine or 0.5 g glutamie had higher rotifer content in the gut than that in the other group. Larvae fed on rotifer enriched with 0.5 g glutamine or 0.5 g taurine had the same survival rate (P>0.05), 19.2±2.25% and 24.5±1.20%, respectively; these values were significantly higher than that in the other group which was 13.0±1.70%.  The total length of larvae fed on rotifer enriched with 0.5 g taurine (5.5±0.18 mm) significantly was the biggest compared than others; while those fed on rotifer enriched with 0.5 g glutamine (5.3±0.12 mm) was bigger than fish fed on rotifer without glutamine nor taurine (5.0±0.16 mm). Thus, it can be concluded that survival rate and growth of larvae were improved when feeding on rotifer enriched with taurine or glutamine. Nevertheless, taurine was more efective than glutamine due to its effect resulted the highest growth performance of larval grouper. Keywords: taurine, glutamine, grouper, Cromileptes altivelis
Antibacterial Activity Test of Nudibranches Polka - Dot (Jorunna funebris) (Gastropods : Molusc) Extract Against Multi(Aktivitas Antibakteri Ekstrak Nudibranch Polka-Dot (Jorunna funebris) (Gastropoda : Moluska) Terhadap Bakteri Multidrug Resistant (MDR)) Delianis Pringgenies; Masnah Jumiati; Ali Ridho
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.541 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.4.195-206

Abstract

Terjadinya resistensi antibiotik menjadi permasalahan dalam dunia kesehatan. Peningkatan kemampuan patogen dalam menahan efek obat menyebabkan timbulnya resistensi. Beberapa bakteri patogen pada manusia dilaporkan telah mengalami resistensi terhadap lebih dari satu kelas antibiotik. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan pencarian senyawa antibiotik baru yang lebih efektif dalam mengatasi permasalahan bakteri Multi-drug Resistant (MDR). Metabolit sekunder yang diproduksi oleh invertebrata laut  mempunyai prospek sebagai bahan obat dari laut. Nudibranch diduga mampu menghasilkan metabolit sekunder sebagai mekanisme pertahanan diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fraksi dari ekstrak nudibranch Jorunna funebris yang menunjukkan bioaktivitas terhadap bakteri Multi-drug Resistant (MDR). Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Fraksinasi dengan Kromatografi Kolom Terbuka (KKT). Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar. Analisis komponen senyawa dengan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8 fraksi ekstrak nudibranch J. funebris menunjukkan aktivitas antibakteri. Hasil uji aktivitas menunjukkan fraksi I paling aktif terhadap 5 bakteri uji yaitu Klebsiella, Pseudomonas, Escherichia coli, Enterobacter 5 dan Enterobacter 10 dengan rata-rata zona hambatan secara berurutan sebesar 12,78 mm; 12,51 mm; 15,47 mm; 14,09 mm dan 12,46 mm. Fraksi II paling aktif terhadap bakteri Coagulase Negative Staphylococcus dengan rata-rata zona hambatan sebesar 12,70 mm. Analisis GC-MS menunjukkan bahwa dalam fraksi II terdapat senyawa 1-oktadekanol yang berpotensi sebagai antibakteri. Kata kunci : nudibranch, Jorunna funebris, antibakteri, multi-drug resistant, 1-oktadekanol Emergence of antibiotic resistance become a problems on medical world. Increasing pathogen ability to hold the antibiotic effect caused resistance. Several human-patogen bacteria were resistance to one or more classes of antibiotics. To solve those problems, it is necessary to search new antibiotic compounds that more effective to solve the problem of Multi-drug Resistant (MDR). The secondary metabolite produced by marine invertebrates have prospect as a marine biomedical. Nudibranch may produce the secondary metabolite as chemical defense mechanism. The purpose of the research was to obtain fraction from extract nudibranch Jorunna funebris that capable of bioactivity for Multi-drug Resistant (MDR) bacteria. Extraction process was conducted with maceration method. Crude extracts were fractionated by Open Column Chromatography. Antibacterial activity test was done using disk diffusion method. Chemical compounds were analyzed with GC-MS. The result showed that 8 fractions of nudibranch J. funebris extract showed antibacterial activity. Activity test showed fraction I has ability to inhibit Klebsiella, Pseudomonas, Escherichia coli, Enterobacter 5 and Enterobacter 10 with average value of inhibitory zone was 12,78 mm; 12,51 mm; 15,47 mm; 14,09 mm and 12,46 mm. Fraction II has ability to inhibit Coagulase Negative Staphylococcus with mean inhibitory zone was 12,70 mm. GC-MS analyses showed 1-octadecanol from fraction II, that capable as antibacterial compound. Key words: nudibranch, Jorunna funebris, antibacterial, multi-drug resistant, 1-octadecanol

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue