cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan" : 10 Documents clear
Pemanfaatan Fenomena Pertumbuhan Compensatory pada Budidaya Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) A. Santoso; Ali Djunaedi; Sarjito Sarjito
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.196 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.121-126

Abstract

Penelitian dilakukan untuk melihat fenomena pertumbuhan compensatory pada pemeliharaan ikan nila merah (O. niloticus). Penelitian skala laboratorium dilakukan dari pertengahan Agustus sampai pertengahan Oktober 2001, di hatchery Ilmu Kelautan FPK Undip, Teluk Awur, Jepara. Benih ikan nila merah (berat rata­rata 37,74±1,16 gr) yang berasal dari Balai Benih Ikan yang sebelumnya diaklimatisasikan pada kondisi laut dipelihara dalam bak-bak percobaan (kepadatan 5 ekor/m3). Masing-masing bak percobaan berlsi 12 ekor ikan. Perlakuan pemuasaan diberikan dengan 3 kali pengulangan selama satu bulan percobaan, yaitu: ikan diberi pakan setiap hari (A/kontrol): ikan diberi pakan selama 6 hari diikuti pemuasaan 1 hari (B): ikan diberi pakan selama 5 hari diikuti pemuasaan 2 hari (C); ikan diberi pakan selama 4 hari diikuti pemuasaan 3 hari (D). Pakan diberikan 2x sehari sebanyak 5% dari biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan pada semua perlakuan mengalami pertumbuhan, sebagai berikut, 7,42 gr/minggu (A), 7,18 gr/minggu (B), 3.44 gr/minggu (e), dan 5,34 gr/minggu (D). Meskipun tingkat pertumbuhan berbeda, tetapi secara statistik tidak ada perbedaan dalam tingkat pertumbuhannya. Hasil ini menunjukkan telah terjadi pertumbuhan compensatory. dan kemungkinan adanya penghematan pakan sebesar 14 - 43%.Kata kunci: nila merah, pertumbuhan ompensatory, tingkat pertumbuhan  The experiment was done to investigate compensatory phenomenon on the of red tilapia (O. niloticus). The experiment was prepared and commenced from the mid of A ugust to the the mid of October 2001 at the hatchery of Marine Science, Undip, In Teluk Awur Jepara, under the laboratory condition. Red tilapias of mean weight of 37.74 g ÷SD 1.16 obtained from the Hatchery were acclimated in seawater conditions. The fish were cultured in the tanks with a density of 5 fish/m3 (12 fish/tank). The treatments were feeding dally (A/control): fish fed 6 days-a day unfed (B),·fish fed 5 days-2 days unfed (C): and fish fed 4 days-3 days unfed (D). Feeding frequency was twice a day with 5% of the biomass. The results showed that all of the fish at the different treatment tended to grows: and the growth rates were A)7.42 g/week, B)7.18 g/week. C)3.44 g/week and D)5.34 g/week. Satistically, however there was no significant difference of the growth rate among the fish (Ancova). The results also suggested that the compensatory growth occurred, and there was a possibility to save the foods about 14 to 43%.Keywords: red tilapia, compensatory growth, growth rate
Pengaruh Temperatur dan Photoperiod Terhadap Kematangan Gonad Kepiting Bakau (Scylla serrata) Ali Djunaedi; Adi Santoso; W. Widiatmoko; Sarjito Sarjito
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.067 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.115-120

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh photoperiod dan temperatur terhadap pematangan gonad kepiting bakau. Penelitian dilaksanakan di Hatchery Marine Center IImu Kelautan Jepara, dari bulan September 1999 sampai dengan bulan Desember 1999. Metoda penelitan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial faktor pertama adalah perlakuan photoperiod dengan 2 taraf pelakuan. yaitu short­day dan long-day. Sedangkan faktor kedua adalah perlakuan temperatur yang juga mempunyai 2 taraf perlakuan yaitu 29 oC dan 31 oC. Hasil penelitian menunjukksn bahwa perlakuan dengan kombinasi photoperiod dan temperatur berpengaruh terhadap perkembangan gonad kepiting bakau. Urutan besarnya nilai lndek kematangan gonad (IKG) adalah 25,41 (A 1B I); 22,06 (A 1B2):20,77 (A2B I) dan 19,88 (A2B2). Hasil analisis regresi nilai simpangan (b) dari persamaan garis menunjukkan nilai IKG terbaik dicapai pada perlakuan short-day dan temperatur 29oC (A 1B1). Sedangkan terendah pada perlakuan long-day dan temperatur 31°C (A2B2).Kata kunci: reproduksi, photoperiod, temperatur; indek kematangan gonad  The research is to investigate the effect of photoperiod and temperature on the gonad development (GSI) of the mud crab. This research was conducted at the marine centre hatchery Jepara from September to December 1999. The method used was completely factorial randomized design. The first factor was photoperiod i.e. short-day and long-day. The second factor was i.e temperetur 29 oC and 31 oC. The result showed that photoperiod and temperatur in combination influenced gonad development of the mud crab. The degree of the gonado somatic index (GSI) was 25,41 (A 1B1); 22,06 (A 1B2); 20,77 (A2B1) and 19.88 (A2B2). The result of regression analysis showed that the highest and the lowest gonado somatic indices occured on the combination between short-day and 29 oC and long-day temperatur 3 1oC respectively. Keywords: reproduction, photoperiod, temperatur; and gonado somatic index (GSI)
Ekotoksisitas Senyawa Cyanida pada Karang Porites lutea dan Galaxea fascicularis Irwani Irwani; Chrisna Adhi Suryono; Agus Sabdono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.072 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.89-94

Abstract

Salah satu cara metoda penangkapan ikan hias yang efektif adalah dengan melakuken pembiusan dengan menggunakan cyanida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas senyawa cyanida terhadap karang Porites lutea dan Galaxea fascicularis. Rancangan penelitian yang digunakan dalah split plot RAK dengan ulangan 3 kali jenis karang merupakan kelompok utama dan konsentrasi cyanide merupakan sub-kelompok. Pengamatan yang diamati adalah jumlah zooxanthellae dan proseptase kematian karang. Hasil penelitian menunjukan semakin tinggi konsentresi cyianida menunjukan semakin tinggi prosentese kematian karang. Semakin tinggi konsentrasi cyanida semakin kecil jumlah zooxanthellae pada karang.Kata kunci: cyanide, toksisitas, Porites luta dan Galaxea fascicularis   One of the methods commonly used to capture ornamental fishes is by using cyanide. The purpose of this study was to investigate the toxicity of cyanide compound on coral Porites lutea and Galaxea fascicularis. The split plot randomized block design with 3 replicate was used in the present study. While the species of corals used as the main block and the cyanide concentration as the sub-block. The study was focused on the analyzed of the number of zooxanthellae and the percentage mortality of corals. The results of the study shows that increasing cyanide concentration increased the percentage mortality of coral and decreased the number of zooxanthellae on the coral.Keywords: cyanide, toxicity, Porites lutea and Galaxea fascicularis
Studi Persporaan Rumput Laut Gracilaria dari Perairan Jepara A. B. Susanto; Rini Pramesti; Nirwani Nirwani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.604 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.109-114

Abstract

Gracilaria adalah salah satu genus dari algae merah yang mempunyai potensi ekonomi karena kandungan agar-agarnya. Masyarakat mendapatkan alga ini melalui persediaan di alam atau hasil budidaya. Untuk penyediaan bibit budldaya Gracilaria telah dllakukan dengan teknik penyetekan. Namun sesungguhnya, spora yang mempunyai fungsi sebagai alat reprodukslnya dapat dljadikan sebagai bibit. Penelitian ini dilakukan di laboratorium basah Marine Station di Teluk Awur Jepara. Pengamatan dilakukan pada bulan Juni 1996. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (untuk pengamatan karpospora) dan Split Plot Design berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (untuk pengamatan tetraspora). Pengeringan, periode terang gelap, intensitas sinar dan salinitas digunakan pada eksperimen karpospora (n=15). Perbedaan periode terang gelap, sallnitas dan intensitas sinar telah dilakukan pada eksperimen tetraspora (n=3). Hasil penelltian menunjukkan bahwa pengeringan, periode terang gelap, intensitas sinar dan salinitas memberikan pengaruh nyata pada pelepasan karpospora dengan jumlah terbesar karpospora terlepas dicapai selama 15 menit pengeringan, dibawah 500 lux intensltas sinar, selama 9:15 jam periode terang gelap dan dalam salinitas 20 o/oo Kombinasi perlakuan tersebut juga memberikan pengaruh terhadap pelepasan tetraspora yakni dengan perlakuan 250 lux intensitas sinar; 15:9 jam periode tereng gelap dan salinitas 30o/oo.Kata kunci: Gracilaria, karpospora, salinitas, pengeringan, intensitas sinar, periode terang:gelap  Gracilaria is a genus of red algae which has economic potential because of its agar contain. The coastal people collect this alga through natural stock or out door culture. Seeds preparation of Gracilaria culture has been done by grafting technique. But actually, the spores which has function as reproduction organ. can be used as seedling. This research was done at the wet laboratory of Marine Station, Awur Bay, Jepara. The observations were done on June 1996. The method used was an experimental with a Completly Randomized Design (for carpospore observation) and Split Plot Design 'based on Completly Randomized Design (for tetrespores observation). Desiccation. photoperiod, light intensity and salinity were used on carpospore experiment (n= 15). Different of photoperiods, salinities and light intensities were used on tetrasopres experiments (n=3). The result showed that desiccation, photoperiod. light intensity and salinity gave the highly significant effect on the carpospores liberation with highly carpospore released on desiccation for 15 minutes. 500 lux of light tntenstty, 9:15 hours LD of photoperiod and 20 o/oo. of salinity. The combination treatments also gave effect on the tetrespores released i.e. on the treatment 250 lux of light intensity, 15:9 hours LD of photoperiod and 30 o/oo of salinity.Keywords: Gracilaria, carpospores, salinity, desiccation, light intensity, photoperiod
Effect of Ecological Factors on Liberation and Development of Carpospore Gracilaria Rini Pramesti; A. B. Susanto; G. O. Kirst; C. Wiencke
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (876.187 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.103-108

Abstract

Karpospora pada Gracilaria sebagai alat reproduksi berpotensi sebagai penyedie bibit. Diantara beberapa faktor lingkungan lainnya, intensitas sinar dan salinitas merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pelepasan spora. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh intensitas sinar dan salinitas terhadap pelepasan karpospora dari G. gigas. Rancangan Acak Lengkap digunakan dalam penelitian pelepasan karpospora dengan perlakuan intensitas sinar (1000, 1500 dan 2000 lux) dan salinitas (25, 30, dan 35 o/oo). Jumlah terbesar karpospora terlepas dicapai dalam kombinasi intensitas sinar 1500 lux dan salinitas 30. Hal ini berarti bahwa intensitas sinar dan perbedaan salinitas memberikan pengaruh terhadap pelepasan karpospora G. gigas. Karpospora dari Gracilaria mempunyai fungsi penting dalam reproduksi. Terdapat beberapa faktor lingkungan yang menginduksi proses persporaan baik dalam kondisi di laboratorium maupun di alam. Namun begitu perkembangan dari karpospora G. vermiculophylla, species dari daerah 4 musim, telah menunjukkan suatu karakteristik tersendiri selama periode budidaya.Kata kunci: karpospora, G. vermiculophylla, G. gigas, pelepasan   Carpospore as reproduction device of Gracilaria is potential seeds provider. Among several other environmental factors, light intensity, and salinity are suspected influencing the release of the spore. This study is aimed to define this light intensity and salinity effects on liberation of G. gigas. Completely Randomized Design is employed on the carpospore liberation with series light intensity (1000, 1500, 2000 lux) and salinity (25, 30, 35 o/oo). The highest number of carpospore was released in 1500 lux and 30 /oo. This means, the light intensity and different salinity effected the liberation carpospores of G. gigas. Carpospores of Gracilaria have an important function for reproduction. There are some ecotogical factors which could induce sporulation in the field or under laboratory condition. But development of the carpospores of temperate G. vermiculophylla have showed a characteristics during the culture period.Keywords: carpospore, G. vermiculophylla, G. gigas. liberation
Produksi Kista dan Biomasa Artemia Dengan Sistim In-Door dan Out-Door Nur Taufiq
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1456.7 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.131-138

Abstract

Permasalahan yang terjadi pada pembenihan dan pembesaran Crustacea (mis : udang) maupun ikan (mis : kerapu) saat ini adalah ketersediaan pakan alami. Oleh kerena Artemia salina (import) yang menjadi pakan utama telah menjadi produk yang langka dan mahal, maka hal ini menyulitkan bagi pengusaha hatchery maupun pertambakan untuk dapat mengelola budidaya udang maupun ikan yang berkualitas hingga keberhasilan panennya. Sementara pengupayaan produksi Artemis di Indonesia hampir tidak terdengar beritanya. Pola produksi yang diterapkan secara in-door maupun out-door ini dimulai dengan hatching Artemia, perawatan Artemia di ruang tertutup (in-door) dan pengelolaan Artemia di tambak garam (out-door). Stratifikasi salinitas yang digunakan adalah 30, 70 dan 110 o/oo dengan pemberian pakan Dunaliella sp. dan bungkil kedelai. Hasil inkubasi kiste Artemia pada salinitas yang berbeda menunjukkan semakin tinggi salinitas dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk menetaskan kista Artemia tersebut. Produksi bio-massa Artemis dapat dihasilkan baik in-door maupun out-door. Pada salinitas rendah (30 o/oo) di tambak garam, Artemia yang ada tidak sampai berkembang cepat oleh oleh karena adanya predasi dari larva crustacea dan larva ikan yang masuk ke dalam tambak. Sementara produksi kista hanya terjadi pada salinitas diatas 110 o/oo di tambak garam (out-door), namun tidak terjadi pelepasan kista pada pengelolaan secara in-door pada salinitas yang sama.Kata kunci: Artemia, tambak garam, kista, biomasa, In-door, out-door system  The problem faced by hatchery and grow out of Crustacean (e.g. penaeid prawn especially P. monodon) and finfish (e.g. grouper) is providing the natural feed. Due to the rare and expensifity of imported Artemia (as the main natural food for larvae), made the hatchery operators and ponds farmer have difficulties in managing the prawn and finfish culture to be succeed until harvest time. This action research was conducted by applying "in door system” as well as "out door system", by means conducting hatching practice and managing Artemia at controle room and also continued by culturing Artemia in salt ponds. Salinity stratification used was 30, 70 and 110 o/oo),while the food given was Dunaliella sp. and dried crused soybean. The result shows that, incubation time will increase by increasing salinity. Biomass production of Artemia was also successfully gained either in the in-door system or out door system in the salinity of 30, 70 and 110 o/oo. At low salinity (of 30 o/oo) of the pond, the Artemia did not grow properly due to availability of predators (crustacean and finfish larvae). Meanwhile, production of Artemia cyst was only found at salinity above 110 o/oo at out door system (salt ponds). On the other hand. for this salinity at in-door system, did not show any cyst released.Keywords: Artemia, salt pond, cyst, biomass, in-door, out-door system
Komposisi dan Distribusi Diatom Bentik di Perairan Pantai Desa Naku, Kodya Ambon - Maluku N. V. Huliselan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1161.074 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.65-76

Abstract

Penelltian dilaksanakan pada Oktober 2000 untuk mempelajari komposlsi dan distribusi diatom bentik di perairan panai Desa Naku, Kodya Ambon. Ditemukan 16 genus diatom yang mewakili 10 ordo, dimana 7 ordo diantaranya mewakili ordo centris dan 3 lainnya dari ordo pennate. Jenis - jenis tersebut ditemukan pada tipe substrat yang berbeda. Coscinodiscus, Chaetoceros, dan Thalassionema rnerupakan jenis umum yang berperanan dalam persentasi kesamaan dari setiap stasiun pada tipe substrat yang berbeda. Analisa MDS dan Cluster, mernbuktikan bahwa terindikasi adanya 3 grup yang yang terkelompok karena jumlah jenis dan kepadatan diatom bentik yang terdapat di masing-masing stasiun. Namun demikian terlihat bahwa jumlah jenis diatom bentik lebih banyak di stasiun pada tipe substrat lumpur berpasir bila dibandingkan dengan stasiun lain pada substrat lainnya. Diatom bentik terdapat dalam kepadatan yang tlnggi di stasiun pada tipe substrat berlumpur (St. 10) dan kepadatan yang terendah pada tipe substrat berpasir (St. 3). Beberapa diatom bentik terdapat pada substrat berlumpur dan tidak terdapat di substrat berpasir tetapi (St. 3) pada substrat lumpur berpasir atau terjadi sebaliknya.Kata kunci: komposisi; distribusi; kepadatan; diatom bentik; substrat  Study on the composition and distribution of benthic diatoms surrounding Naku Village waters has been conducted in October 2000. 16 genus from 10 ordo were found and 7of them represented ordo centrales, while the rest 3 were from ordo pennales. They were encountered from different type of substrates. Coscinodlscus. Chaetoceros and Thalassionema were the genus contributed to the similarity percentages of each type of substrates (common species). MDS and Cluster analysis revealed that there were 3 groups of stations grouping by the abundance and the presence of the benthic diatoms. Eventhough, there were more genus encountered from stations which represented muddy-sandy substrate than other substrates the highest abundance of benthic diatoms were found from stations which represented muddy substrate (St. 10). Whilst the lowest abundance was from stations which are represented sandy substrate (St. 3). The results also showed that some of diatom benthic presented in the muddy substrate but were absent in the sandy substrate and they were presence in the muddy-sandy substrate or the other way.Keywords: composition; distribution; abundance; benthic diatoms; substrate
Komunitas Ekhinodermata dari Beberapa Pulau di Daerah Sulawesi Utara P. Darsono; A. Aziz
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1317.06 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.77-88

Abstract

Survei sumberdaya ekhinoderm di daereh Sulawesi Utara dilakukan di lokasi Kwandang, Pulau-pulau Tiga, dan Sangir-Talaud. Pengamatan fauna ekhinoderm secara kuantitatif dilakukan dengan metoda transek kuarat di daerah rataan terumbu. Temuan koleksi ekhinoderm dari lokasi survei, dilengkapi dengan koleksi bebas, baik di daerah rataan maupun di tubir (Iereng) terumbu. Sebanyak 64 jenis ekhinoderm ditemukan di Iokasi survey, termasuk 38 jenls diantaranya dikumpulkan dari Iokasi transek: Koleksi meliputi 18 jenis Asteroidea dari 8 suku, 7 jenis Echinoidea dari 4 suku, 14 jenis Ophiuroidea dari 4 suku dan 20 jenis Holothuroidea dari 3 suku. Kelas Crinoidea tercatat ada 4 jenis hasil dari koleksi. Diversitas faunistik dari Iokasi survei berturut-turut menurun darl Pulau Pasige (2.809), Pulau Payunga (2.808), Puleu Otangala (2.777), Pulau Labuka (2.401), Puleu Tagulandang (2.377), Tanjung Tangkup (2.114), dan Pulau Paniki (1.972). Jenis­jenis ekhinoderm di lokasi survei yang domlnan yaitu bintang laut, Protoreaster nodosus dan Archaster typicus, bintang mengular (ophiuroid), Ophiocoma scolopendrina dan 0. brevipes, teripang (holothuroid) Holothuria pervicax, dan bulu babi (echinoid) Diadema setosum. Analisa kluster memperlihatkan bahwa lokasi Pulau­ Pulau Tiga berbeda dengan kedua lokasi lainnya.Kata kunci: Komunitas ekhinodermata, Sulawesi Utara Survey on echinoderm resources of the North Sulawesi was carried on the locations of Kwandang. Tiga Island, and Islands of Sangir- Talaud. Quantitative observation of echinoderm fauna was made applying square transect method especially on reef flat area. Collection on existing echinoderm at the observed area was made at both reef flat and slope. Sixty-four species of echinoderm were recorded from the surveyed locations including 38 species that were collected from the transect area. The echinoderm collection consists of 18 species asteroid of 8 families, 7 species echinoid of 4 families, 14 species ophiuroid of 4 families, and 20 species holothuroid of 3 families. Four species of collected crinoid was identified. Faunistic diversity of the observed locations are sequentially decreasing from Pasige island (2.809), Payunga (2.808), Otangala (2.777), Labuka (2.401), Tagulandang (2.377), Tanjung Tangkup (2.114), and Paniki (1.972). The dominant species of echinoderms of the surveyed locations are the starfish. Protoreaster nodosus and Archaster, typicus, ophiuroid of Ophiocoma scolopendrlna and O. brevipes, holothuroid of Holothuria pervicax, and echinoid of Diedema setosum. Cluster analysis shows that the location of Tiga Island is different from the other two locations.Keywords: echinoderms community, North Sulawesi
Analisa Kualitatif Reproduksi Kerang Kipas-kipas Amusium sp dari Weleri - Kendal, Jawa Tengah Ita Widowati; Jusup Suprijanto; Djoko Suprapto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.541 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.127-130

Abstract

Analisa kualitatif reproduksi kerang kipas-kipas Amusium sp dari perairan Weleri-Kendal Jawa Tengah telah dilakukan selama bulan Maret sampai Juni 2001. Data kualitatif didapatkan setiap bulan berdasarkan kriteria tingkat kematangan gonad dan index gonad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada bulan Maret dan April, gonad dalam keadaan matang (tingkat kematangan gonad VI), dengan indeks gonad 13,86 % dan 13,87 %. Bulan Mei-Juni indeks gonad menurun menjadi 8,49 % dan 3,97 %, dimana diduga berkaitan dengan masa pemijahan.Kata kunci: Amusium sp, indeks gonad, tingkat kematangan gonad   Qualitative analysis of reproductive organ of the scallop Amusium sp from Weleri - Kendal waters was carried from March to June 2001 In Weleri-Kendal (Central Java). Data were compiled monthly based on staging criteria and gonad indices. Scallop were generally ripe by March-April (stage of VI), with gonad index 13.86 % and 13.87 %. From May -June, gonad indices decreased 8.49 % and 3.97 %, it was suggested that it correlated with their spawning periods.Keywords: Amusium sp, gonad indices, gonadal maturity stages.
Effect of Cadmium (Cd) on The Structure of Gill and Epipodite of Penaeid Shrimp, Penaeus japonicus Bate (Crustacea, Decapoda) Bambang Yulianto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1359.616 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.95-102

Abstract

Efek toksisitas sublethal cadmium terhadap struktur insang dan epipodite dari udang Penaeus japonicus dipelajari. Setelah pemaparan selama 4 hari, kadmium merubah struktur insang dari udang, akumulasi hemocyte dalam vena dan Iamela, epithelium insang mengalami disorganisasi dan kanal hemolympha distal menjadi buntu. Struktur dari epipodite juga terganggu: cadmium menyebabkan nekrosis pada permukaan. Kerusakan struktur insang dan epipodit ini menjadi argumen penurunan kapasitas hypo- dan hyper-osmoregulasi udang ini. Kata kuncl: kadmium, struktur, Penaeus japonicus, insang, epipodite.  The effect of sublethal toxicity of cadmium on the structure of gill and epipodtte of the shrimp Penaeus japonicus was studied. After 4 days of exposure, cadmium affected the gill structure of shrimp: hemocyte accumulate in vessels/channelsand lamellas, the gill epithelium is disorganised and the distal hemolymphatic lacuna is clogged. The structure of epipodites is also altered: cadmium causes superficial necrosis. The damage of gill and epipodite structure becomes a reason on the decrease of hypo- and hyper­ osmoregulatory capacity in this shrimp.Keywords: cadmium, structure, Penaeus Iepontcus. gill, epipodite.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2002 2002


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue