cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan" : 10 Documents clear
Evaluasi Beban Pencemaran Terhadap Kualitas Perairan Pesisir Kota Semarang Bambang Sulardiono; Raden Ario
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1007.494 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.180-186

Abstract

Penelitian inl bertujuan untuk mengetahul beban pencemaran (fisika dan klmia) dan hubungannya dengan kualitas perairan pesisir. Materi yang digunakan adalah ssmpel air dan substrat dasar yang diambil mingguan dari beberapa stasiun yang dipertlmbangan sebagal daereh lingkungan pesislr Kota Semarang yang terkena beban pencemaran. Data kualltas perairan terukur dibandingkan dengan baku mutu lingkungan sebagai Keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Kep. 02/MENKLH/I/1988). Analisis juga dilakukan terhadap hubungan beban pencemaran dengan kualitas perairannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter kualitas perairan yang melampaui ambang batas baku mutu lingkungan untuk kehidupan organisme adalah kecerehan, BOD, COD, Muatan padatan tersuspensi (MPT), dan H2S . Sedangkan beban pencemaran dan kualitas perairan cenderung pada kondisl tlngkat sedang. Produktivitas perairan tinggi kecuali di muara Sungal Babon, yang diduga dlpengaruhi oleh kegiatan manusia di daerah hulu sungal sepertl kegiatan industrl, pemukiman, dan pelabuhan.Kata kunci: pencemaran; perairan pesisir; Kota Semarang  The increasing development activities in Semarang coastal area such as industrial, urbanisation and agricultural has lead to increasing of westeload into the coastal waters and finally has caused the disturbance of the ecosystem. The aims of the research were to investigate the pollution status based on physical and chemical characteristics of the seawater and the relationship between westeload and Water quality at Semarang coastal area. Sample analysis were done at Ecodevelopment Coastal Laboratory, Jepara. The result showed that the water quality which exceeded the quality threshold according to “Kep.02/MENKLH/I/1988" for the sea organism activities were turbidity, Dissolved/ Particuled Organic Matter (DOM/ POM), COD, BOD. and H2S . The pollution status and water quality on Semarang coastal tended to be at medium level condition. The water productivity was high, except at the canal "Babon" rivers which may be caused by human activities impact such as industrial, urbanisation, and harbour.Keyword: Pollution; coastal waters; Semarang city
Persitensi Pestisida Organoklorin pada Sedimen dan air Laut dalam Kaitannya dengan Kelimpahan Komunitas Benthik di Perairan Pantai Mlonggo Jepara Chrisna Adhi Suryono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.848 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.173-179

Abstract

Senyawa pestisida merupakan senyawa persisten yang sangat sulit diuraikan dan akan terakumulasi dalam lemak suatu organisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan senyawa pestisida dan keterkaitannya dengan keanekaragaman makrozoobenthos di perairan Mlonggo Jepara. Metoda survey digunakan dlaam penelitian ini dengan mengambil 3 lokasi titik sampling dan ulangan sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan daerah muara sungai (stasiun II) menunjukkan kandungan pestisida yang lebih tinggi dan keanekaragaman hewan makrozoobenthos yang rendah bila dibandingkan dengan stasiun I (perairan sungai) dan stasiun III (perairan laut).Kata kunci: Pestisida; akumulasi; makrozoobentbos  The pesticide compound has characteristic difficult to degrade in the nature and accumulate in fat tissue of organism. The purpose of the research was to investigate the existance of pesticide compound of Mlonggo waters ,and their correlation to macrozoobenthic diversity. Sampling survey method was applied in this research which take place on 3 stations with 4 replicates. The results show, that the location on the mouth of river (station II) has the highest concentration of pesticide compound and lowest of macrozoobenthic diversity compared with stations I and III which located on the river and sea.Keywords: Pesticide; accumulation; macrozoobenthic
Respon Bakteri Nitrifikasi Terhadap Penggunaan Jerami Dan Katul Sebagai Priming Agent Untuk Meningkatkan Laju Respirasi Tanah Tambak Udang Subagiyo Subagiyo; Wilis Ari Setyati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.89 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.147-151

Abstract

Penelitian tentang respon bakteri nitrifikasi terhadap penggunaan jerami dan katul sebagai priming agent untuk meningkatkan laju respirasi tanah tambak udang telah dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap. Ada 2 perlakuan yang dibandingkan yaitu pemberian jerami dan pemberian katul, masing-masing dengan 4 sub perlakuan yaitu pemberian jerami atau katul dengan dosis masing-masing 0 kg/m2, 0,2 kg/m2, 0,3 kg/m2, dan 0,4 kg/m2. Penelitian dilakukan menggunakan bejana respirasi yang diisi dengan tanah dasar tambak udang pasca panen. Jumlah bakteri nitrifikasi dihitung dengan metode MPN menggunakan medium mineral untuk bakteri nitrifikasi. Hasil penelitian menunjukan adanya respon peningkatan pertumbuhan bakteri nitrifikasi tanah tambak udang akibat perlakuan penggunaan jerami dan katul sebagai agensia priming agent untuk meningkatkan laju respirasi tanah tambak udang. Respon ini ditunjukan dengan adanya kecenderungan jumlah bakteri nitrifikasi pada perlakuan pemberiaan jerami dan katul yang lebih tinggi dibandingkan tanah yang tidak mendapat perlakuan pemberian jerami dan katul. Pada kondisi penelitian ini respon bakteri nitrifikasi tertinggi terjadl pada perlakuan pemberian jerami atau katul pada dosis 0,2 kg/m2. Hal ini ditunjukan dengan kecenderungan jumlah bekteri nitritikasi yang paling tinggi pada perlakuan pemberian jerami atau katul.Kata kunci: bakteri nitrifikasi; tanah tambak; priming agent; katul; jerami  An experiment was done to assay nitrifier responses on straw and bran application as priming agent to increase pond soil respiration rate. The experiment was done by using complete randomized design. Straw and bran as treatment was applied on sample soil at 0,1 kg/m2, 0,2 kg/m2, 0,3 kg/m2. Soil were placed in respiration chambers (500 ml becker glass) was respended above soil surface, and 50 ml of 1.00 N NaOH was pipetted into the backer glass. Respiration chambers were sealed. Nitrifier enumeration was done by MPN method. The experiment showed that increased of number of nitrifier as responds on application of straw and bran. In experiment condition the highest number of nitrifier along time of experiment was happened in application of straw or bran on 0,2 kg/m2 in dosage.Keywords: Nitrifier; straw; bran; pond soil; priming agent
Studi Hubungan Panjang Tubuh (Body Length) Dengan Ketajaman Organ Penglihatan, Pada Ikan Selar (Seiar crumenophthalmus) Aristi Dian Purnama Fitri
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.679 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.139-146

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara panjang tubuh (body length/BL) dengan ketajaman penglihatan pada ikan Selar (Selar crumenophthalmus). Sebanyak lima ekor ikan Selar dengan ukuran panjang tubuh 160-220 mm BL dianalisis menggunakan prosedur histologi retina mata untuk mendapatkan jumlah kepadatan sel kon tertinggi sebagai dasar penentuan ketajaman penglihatan. Nilai kepadatan sel kon tertinggi adalah 243 sel/0,01 mm2 untuk ukuran panjang tubuh 160 mm dan 111 sel/ 0,01 mm2 untuk ukuran panjang tubuh 220 mm. Sedangkan nilai ketajaman penglihatan untuk ikan Selar berukuran 160 mm sebesar 0,09 dan 0.10 untuk ikan berukuran panjang tubuh 220 mm. Hal itu berarti semakin panjang ukuran tubuh ikan Selar maka akan semakin meningkat ketajaman penglihatannya.Kata Kunci: Ikan Selar (Selar crumenophthalmus); panjang tubuh; kepadatan sel kon; ketajaman penglihatan  Objective of the study is to investigate the correlation between body length and visual acuity of Bigeye fishes (Selar crumenophthalmus). Five S. crumenophthalmus of 160-220 mm body length was analyzed by using histological examination of their retinas to obtain highest density of cone cells as based on visual acuity. The maximum cone densities of 243 cells/0.01 mm2 for the fish of 160 mm body length and 111 cells/0.01 mm2 for the fish of 220 mm body length. The visual acuity for each specimens. i.e. 0.09 for fish with 160 mm body length and 0.10 for fish with 220 mm body length. The results suggests that the longer fish body length the stronger their visual acuity.Keywords: Bigeye (Selar crumenophthalmus); body length; cells cone density; visual acuity
Pengaruh Berbagai Dosis Brachionus plicatilis Muller Terhadap Kelangsunganhidup Larva Ikan Beronang (Siganus javus) Istiyanto Samidian
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.833 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.169-172

Abstract

Salah satu permasalahan dalam pembenihan ikan Beronang (Siganus javus) adalah mortalitas larva yang tinggi (90%). Salah satu penyebabnya diduga kerena belum ditemukannya dosis pakan alami (Brachionus plicatilis Muller) yang tapat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai dosis B. plicatilis Muller terhadap kelangsungan hidup larva ikan Beronang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata (P<0,05) pemberian berbagai dosis 8. plicatilis Muller terhadap kelangsungan hidup larva ikan Beronang. Perlakuan T3 (24.000 indv. B. plicatilis/liter/ekor ikan/hari) menghasilkan kelangsungan hidup larva ikan tertinggi yaitu 80%.Kata kunci: kelangsunganhidup; Baechionus plicatilis; Beronang (Siganus javus)  One of the problems faced in rabbitfish hatcheries (Siganus javus) is high mortality rate of the larvae (90%). Probably, one important caused of this high mortality rate is the uncertainty of the dosage of natural food (rotifer; Brachionus plicatilis Muller) given to the larvae. The aim of this research is to determine the effect of different dosage of B. plicatilis Muller on the survival rate of rabbitfish larvae. The results of the present study showed that there was a significant effect (P<0,05) of different dosage B. plicatilis Muller on the survival rate of rabbitfish larvae. The highest survival rate of the larvae (80%) was found on those given T3 treatment i.e. 24.000 indv./L/fish/day.Keywords: survival rate; mortality; Brachionus plicatilis; Rabbitfish (Siganus javus).
Kajian Kualitas Perairan dan Stabilitas Ekosistem di Perairan Pantai Tugu, Semarang Muh. Yusup
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.09 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.187-194

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengkaji kondisi kualitas air, struktur komunitas makrozoobenthos, dan stabilitas ekosistem perairan di muara sungai Karanganyar, Tugu, Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Sampling air dan sedimen dilakukan sebanyak tiga kali, dengan interval 14 hari. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret - Oktober 2001 di muara sungai Karanganyar, Tugu, Semarang. Hasil pengukuran parameter fisika-kimia air menunjukkan bahwa beberapa parameter yakni, kekeruhan, COD, dan unsur-unsur logam berat Cu, Cd, Pb, Ni telah melampaui Baku Mutu Air Laut. Nilai IMLP antara 56,858-66,121. Berdasarkan nilal ini, dikatakan bahwa kualitas perairan di daerah penelitian termasuk ke dalam kriteria sedang. Nilai Indeks Keanekaregaman jenis (H') berkisar dari rendah sampai sedang yaitu antara 1,132-2,10. Sedangkan nilai indeks keseragaman jenisnya (E) relative tinggi, yakni antara 0,80 sampai 0,95. Kondisi ekosistem yang tampak membaik ke arah yang stabil dari waktu ke waktu adalah stasiun I, II, dan V, ditunjukkan oleh perubahan model dari Motomura ke Preston. Sedangkan kondisi lingkungan yang tampak semakin memburuk ke arah yang tidak stabil adalah stasiun III dan IV, ditunjukkan oleh perubahan model dari Preston ke Motomura.Kata kunci : kualitas perairan; ekosistem; makrozoobenthos  The research was done to investigate the condition of water quality, community structure of macrozoobenthos, and ecosystem stability of coastal waters of estuarine of river Karanganyar. The method used in the present research was case study. Sampling was done three times, with time interval between 14 days. The research was done from March until October, 2001 at estuarine of Karanganyarr river, of Tugu coastal waters, Semarang City. Based on the result of measurement of physical-chemical parameters of water showed that several parameters include: muddines, COD and heavy metal elements Cu, Cd, Pb, Ni have passed over sea water quality standard. The results of the research showed that the waters environmental quality index (IMLP) range from 56,858 until 66,121. Based on this value, the water quality in the research area include to middle criteria. The diversity index (H`) range from low to middle that is between 1,132-2,10. Whereas the equatability index (E) was high, that that is between 0,80-0,95. The condition of environmental quality in the research area which seems to stable time to time were station I, II and V which is shown by the changed of model from Motomura to Preston. Whereas the condition of environmental quality which seems to fall into unstable way, were station III and IV, which is shown by changed of model from Preston to Motomura.Keywords: water quality; ecosystem; makrozoobenthos
Penempelan Larva Teripang Putih (Holothuria scabra) pada Substrat yang Berbeda Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih; Delianis Pringgenies; Nur Taufiq; Ali Djunaedi; Sari Budi Moria
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3997.192 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.164-168

Abstract

Metamorfosis pada larva teripang diikuti dengan perubahan tingkah lakunya. Stadia auricularia bersifat planktonic sedangkan stadia akhir doliolaria dan awal pentactula bersifat bentik dan memerlukan substrat untuk menempel. Perubahan ini merupakan saat kritis dalam pembenihan teripang sehingga substrat yang sesuai perlu diberikan pada media pemeliharaan larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesuakaan penempelan larva teripang putih (H. scabra) pada substrat asbes, kasa plastik dan kaca. Penghitungan densitas larva yang menempel pada tiap substrat dilakukan sejak larva mulai menempel pada hari ke-25 hingga larva mencapai stadia juvenil-umur 35 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substrat memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P>0.05) terhadap jumlah larva yang menempel. Larva lebih banyak menempel pada substrat asbes (rata-rata 425,28 individu.m2 dengan kelulushidupan 9,96 % tetapi substrat kaca paling sedikit ditempeli larva (85,18 individu.m2 dengan kelulushidupan 3,98%). Perbedaan jumlah larva yang menempel pada perlakuan substrat diduga berkaitan dengan kekasaran permukaan substrat.Kata kunci: larva teripang putih; penempelen; substrat  The metamorphoses of seacucumber larvae indicate changing in their behaviour. Auricularia stage is planktonic but late doliolaria and early pentactula are benthic and need suitable substrate. It is a critical period in development and culture of seacucumber larvae since the biggest mortality happened during metamorphosis and settlement therefore the suitable substrata need to be provided. The aims of the experiment was to determine larvae's preference on substrate made of asbestos, plastic screen and glass. Density of larvae settled on the substare were counted on day 25 up to juvenile stage of 35 days old. The results showed that the treatment gave significant differences on larvae settlement on the substrate. The larvae found attached on asbestos was highest (425,28 ind.m2 and survival rate 9.96 %) and lowest number larvae settled on glass (85,18 ind.m2 and survival rate 3,98 %). It seemed due to difference roughness of surface.Keywords: larvae seacucurnber; settlement; substrats
Evaluasi Kemampuan Lahan Untuk Permukiman di Sebagian Wilayah Pantai Semarang Ditinjau dari Aspek Fisik Lahan Agus A. D. Suryoputro
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1359.268 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.195-203

Abstract

Penelitian ini dilakukan di sebagian wilayah Pantai Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan lahan untuk permukiman. Metode penelitian yang digunakan adalah interpretesi foto udara dan pengamatan lapanganyang didasarkan pada analisis keruangan. Unit lahan digunakan sebagai satuan pemetean untuk meninjau kemampuan lahan untuk permukiman dengan teknik skoring. Hasil penelitian yang diperoleh adalah lahan yang tergolong sangat sesuai (S1) untuk permukiman terdapat pada unit lahan dataran fluviomarine dengan lereng datar dan digunakan untuk tambak. Lahan yang tergolong cukup sesuei (S2) untuk permukiman terdapat pada unit lahan dataran fluviomarine dengan lereng datar dan digunakan untuk permukiman; dataran fluviomarine dengan Iereng datar dan digunakan untuk industry; unit Iahan dataran alluvial pantai dengan lereng landai dan digunakan untuk tambak; unit lahan dataran alluvial pantai dengan lereng Iandai dan digunakan untuk permukiman; unit lahan dataran alluvial pantai dengan lereng landai dan digunakan untuk industri. Lahan yang tergolong hampir sesuai (S3) untuk permukiman terdapat pada unit lahan dataran fluviomarine dengan lereng datar dan digunakan untuk pelabuhan.Kata kunci: unit lahan; kemampuan lahan untuk permukiman  This study was carried out at the coastal zone of Semereng. The aim of this study was to asses land capability for settlement. The methods used in this study were aerial photo interpretation and field observation based on the spatial analysis. Land unit was used as a mapping unit, where as scoring technique was applied to determine land capability for settlement. The result of the study showed that area which are highly suitable for settlement purpose are located at land unit fluviomarine plain with flat slope and land us pond. Moderately suitable level located on the land unit fluviomarine plain with flat slope and land use settlement; fluviomarine plain wih flat slope and land use industry; coastal alluvial plain with to slope and land use pond; coastal alluvial plain with to slope and land use settlement; coastal aIluvial plain with to slope and land use industry. Marginally suitable level located on the land unit fluviomarine plain with flat slope and land use harbour.Keywords: land unit; land capability for settlement
Deteksi Transfer Plasmid Pendegradasi 2,4-D (pPP202) pada Bakteri Escherichia coli dH5α dengan Menggunakan Indikator Media EMBA Agus Sabdono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.794 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.152-157

Abstract

Plasmid (pPP202) dari Vibrio natriegens diintroduksi secara laboratoris dengan elektrotransformasi pada inang bakteri Escherichia coli dH5α. Pulsed Field Gel Electrophoresis (PFGE) digunakan untuk mengisolasi plasmid DNA. Plasmid pPP202 mengandung gen yang menyandi degradasi parsial senyawa 2,4-diklorofenosi asetat (2,4-D). Bakteri E. coli dH5α tidak memiliki gen yang diperlukan untuk meneralisasi 2,4-D pada khromosomnya. Asumsi tersebut memungkinkan untuk dilakukannya studi transfergen dengan menyeleksi transconjugant pada media indikator EMBA yang mengandung 2,4-D sebagai sumber karbon. Sehingga isolat yang mengandung plasmid pPP202 pada inang E. coli bisa dideteksi dengan melihat kesamaan warna dengan koloni V. natriegens PP202 yang berwarna merah. Selanjutnya, transconjugant tersebut diuji lagi pada media Zobel 12216E + 200 ppm 2,4-D yang dibandingkan dengan koloni negatif yang berwarna putih.Kata kunci : plasmid; transfergen; transconjugant   A plasmid (pPP202) of Vibrio natriegens was introduced on host Escherichia coli dH5α, with electrotransformation Pulsed Field Gel Electrophoresis (PFGE) was used to isolate the DNA plasmid. Genes on this plasmid encode partiaI 2.4-dichlorophenpxyacetic acid (2.4-D) degradation. The E. coli dH5α lacks the chromosomal genes necessary for mineralization of 2.4-D, and this fact allows presumptive transconjugants obtained in gene transfer studies to be selected by plating on EMBA indicator media containing 2.4-D as the carbon source. Use of this approach enabled detection of plasmid pPP202 transfer to E. coli where previously it had not been detected. Thus, all of the 2,4-D-degrading isolates of E. coli that contained a plasmid pPP202 whose red colony colour was similar to the colony colour of V. natriegens Strain PP202, were considered as transconjugants. In addition, transconjugants were observed at distinct times in Zobell 2216E + 200 ppm 2.4-D that supported transconjugant populations compared to controls (white colour) in which no gene transfer was detected.Keywords: plasmid; gene transfer; transconjugant
Pertumbuhan dan Kemampuan Planula Karang Scleractinia AIveopora japonica Eguchi dalam Menempel Thamrin Thamrin
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.172 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.158-163

Abstract

Alveopora japonica Eguchi memproduksi tipe planula dalam bentuk normal dan abnormal (kembar). Kedua tipe planula-planula ini mampu menempel, melakukan metamorfosis dan tumbuh. Planula kembar mampu menempel sebagai mana planula normal bila disediakan substrat (substrat dari alam). Tipe planula­planula kembar ini diperkirakan menempel sangat dekat dengan induknya. Akan tetepi, kecepaten penempelannya berbeda nyata antara berbeda substrat dan sebagian kecil planula menempel pada batu hitam (black shale) dan ubin keramik dalam 4 minggu. Kondisi permukaan substrat yang ditutupi oleh microorganisme tidak begitu penting dalam penempelan, dan tipe substrat sendiri mungkin jauh lebih penting menentukan keberhasilan planula-planula ini dalam penempelan.Kata kuncl: karang; Alveopora japonica; planula; substrate; penempelan   Alveopora japonica Eguchi produced normal and abnormal (fused) type of planulae. Both planulae types were capable in settling, metamorphosing and growing. Branched planulae could settle in the same as normal planulae when there were introduced to an appropriate substrate type (the natural substret). These fused planulae types were predicted to settle very close to their parents. However, settlement rate was significantly different among different substrate types and small number of planulae settled on black shale and tiles during 4 weeks. The surface condition of substrate covered by organic coating may not be so important in settlement, and the substrate type itself might be much more essential for determining the successof these planulae in settlement.Keywords: coral; Alvopora japonica; planulae; substrate; settlement

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2002 2002


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue