cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan" : 10 Documents clear
Degradation of Phenylurea Diuron Herbicide by Coral Bacterium Agus Sabdono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.301 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.1.50-53

Abstract

Bakteri yang diisolasi dari permukaan karang mampu menggunakan senyawa herbisida fenilurea diuron sebagai sumber karbon dan energi. Organisme ini mampu menggunakan diuron hingga 125 mg/l. Namunfase lag dan waktu untuk mendegradasi mengalami kelambatan bila berada pada konsentrasi diatas 100 mg/l diuron. Kinetika pertumbuhan bakteri ini dilakukan secara kultur batch. Estimasi laju pertumbuhanmaksimum (ìmax) sebesar 0,46 j-1 diperoleh dari pengukuran turbiditas dan nilai konstanta kejenuhan pertumbuhan (Ks) sebesar 49,5 mg/l diuron. Pengaruh konsentrasi diuron paling tinggi pada laju penggunaansubstrat spesifik (ó) adalah 0,0195 j-1 yang diperoleh pada perlakuan konsentrasi 125 mg/l diuron.Kata kunci: bakteri karang, diuron, kinetika pertumbuhanA bacterium which utilizes phenylurea diuron as a sole source of carbon and energy was isolated from coral surface. The organism utilized diuron up to 125 mg per liter. The lag phase and time for degradation, however, were severely prolonged at diuron concentrations above 100 mg/liter. The growth kinetics of coral bacterium was studied in batch culture. Estimation of maximum growth rates (ìmax), obtained from turbidity measurements, was 0.46 h-1 and half-saturation growth constant (Cs) was 49.5 mg/l diuron. The highest effect of diuron concentration on the specific substrate removal rate (ó) is 0.0195 h-1 obtained from 125 mg/l diuron concentration.Key words : coral bacterium , diuron, growth kinetics
Concentration of Heavy Metals in Molluscs and Sediment from Sei Jang Estuary Bintal Amin
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.461 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.1.31-36

Abstract

Analisis konsentrasi logam berat Pb, Cu dan Zn dalam jaringan lunak moluska (Geloina sp dan Calliostoma sp) dan sedimen dari perairan muara Sei Jang Riau Indonesia telah dilakukan. Pada umumnya konsentrasi logam tersebut dalam jaringan lunak moluska lebih tinggi dari konsentrasi dalam sedimen, kecuali logam Pb dalam Geloina sp yang relatif lebih rendah dibanding dalam sedimen. Geloina sp mengakumulasi logam Zn lebih dari tiga kali lipat dari konsentrasi dalam sedimen, sedangkan Calliostoma sp mengakumulasi logam Cu lebih dari empatbelas kali lipat konsentrasi logam tersebut dalam sedimen. Peningkatan konsentrasi logam berat lebih terlihat jelas di sekitar kawasan bekas penambangan bauksit, galangan kapal dan di kawasan aktivitas penduduk. Akumulasi logam didapatkan lebih tinggi dalam jaringan lunak moluska yang berukuran lebih besar dimana hal ini mengindikasikan bahwa ukuran merupakan faktor penting dalam akumulasi logam berat oleh moluska. Indeks Akumulatif menunjukkan bahwa akumulasi logam tertinggi oleh moluska terjadi di kawasanbekas penambangan bauksit dan Geloina sp lebih baik dijadikan sebagai indikator untuk logam Zn sedangkan untuk logam Cu dan Pb lebih baik digunakan Calliostoma sp.Kata kunci : logam berat, sedimen, moluska, indeks akumulatifAbstractConcentrations of lead, copper and zinc were measured in molluscs (Geloina sp and Calliostoma sp) andsediment samples collected from Sei Jang estuary Riau Indonesia. Concentrations of those metals in molluscswere higher than in sediments, except for lead in Geloina sp which was slightly lower than sediments.Geloina sp accumulates zinc more than threefold of the concentration in sediment, whilst Calliostoma spaccumulates copper more than fourteen-fold of the sediment concentrations. Elevated concentrations of heavymetals in an ex-bauxite mining area, dockyard and anthropogenic activities were found. Accumulation ofmetals in molluscs varied between sizes where larger size accumulated more metals than smaller size indicatingthat size is an important consideration for metal accumulation. Average accumulative indices indicated thathighest metals accumulation by molluscs occurred in the area of an ex-bauxite mining activities. These indicesalso suggested that Geloina sp was better to be used as indicator organism for zinc, whilst Calliostoma sp wasconsidered to be suitable indicator organisms for the accumulation of copper and lead.Key words : heavy metals, sediment, mollusc, Accumulative index
Teknik Setting Spora Gracilaria gigas Sebagai Penyedia Benih Unggul dalam Budidaya Rumput Laut Ervia Yudiati; Endang Sri Susilo; Chrisna A Suryono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.922 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.1.37-40

Abstract

Rumput laut Gracilaria gigas dapat dikembangkan melalui cara generatif dengan cara menumbuhkan spora hingga menjadi thalus dengan teknik setting spora. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari media yangtepat untuk tumbuhnya spora hingga menjadi thallus muda. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan media tempat melekatnya spora hingga menjadi thallus muda adalah talirafia, tali nilon, tali ijuk dan tali kapas. Hasil yang didapat menunjukan bahwa media yang paling banyak ditumbuhi oleh thalus muda adalah media dati tali rafia dengan kepadatan pertumbuhan 84 ind/cm2 sedangkan yang paling sedikit adalah media dari tali kapas dengan kepadatan pertumbuhan 24 ind/cm2.Kata kunci : Gracilaria gigas, setting spora, thallus, mediaSeaweed of Gracilaria gigas has developed by generative method with the concept to growing spores to be young thallus on the substrates. The aim of the research is to find the substrate which has comfortable sporesstick on to be young thallus. Randomized design was used in these experiment with four kind of rope (raffia, nylon, palm fiber and cotton) as a substrates. The highest number of young thallus was grew on raffia rope as substrate and the lowest was on cotton rope as a substrate.Key words : Gracilaria gigas, spora setting, thallus, media
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) yang Dipelihara pada Substrat Berbeda I.S. Djunaidah; M.R. Toelihere; M.I. Effendie; S Sukimin; E Riani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.34 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.1.20-25

Abstract

Percobaan pemeliharaan benih kepiting bakau (Scylla paramamosain) telah dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan metoda pemeliharaan benih kepiting hingga didapatkan benih siap tebar secara masal. Percobaan dilakukan dalam bak serat kaca (fiber glass) berukuran 50 x 40 x 40 cm3 yang dilengkapi dengan aerasi dandiberi substrat dasar dengan ketebalan 3 cm dan digunakan air laut sebagai media pemeliharaan. Pada setiap bak dipelihara 30 ekor benih selama 30 hari. Percobaan dilakukan dalam dua tahap; tahap pertama menguji tiga jenis substrat (pasir, koral dan lumpur) yang ditempatkan di dasar bak dengan ketebalan 3 cm; sedangkan pada tahap kedua ditambahkan pelindung (shelter) berupa potongan pipa PVC yang berdiameter 0,75 inch dengan panjang 10 cm yang ditempatkan pada setiap bak masing-masing sebanyak enam buah. Pakan berupa cacahan udang diberikan satu kali sebanyak 50 % dari total biomasa benih kepiting (crablet). Percobaan dilakukan dengan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan masing-masing dengan tiga ulangan.Tidak ada perbedaan nyata kelangsungah hidup benih pada percobaan pertama. Kelangsungan hidup benih yang dipelihara pada substrat pasir, koral dan lumpur masing-masing adalah 23,3 %, 20,0 % dan 18,4 %.Pertumbuhan benih kepiting dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan. Benih kepiting yang dipelihara dalam substrat lumpur secara nyata (P<0,01) memiliki pertumbuhan lebar (27,51mm) dan panjang karapas (19,79 mm) lebih baik dibandingkan dengan benih kepiting yang dipelihara pada substrat pasir (lebar karapas = 21,05, panjang karapas = 15,11 mm) dan substrat koral (lebar karapas = 20,26 mm, lebar karapas = 14,54 mm). Sebaliknya, pertumbuhan karapas tidak dipengaruhi oleh perlakuan pada percobaan kedua. Kelangsungan hidup meningkat dengan penambahan pelindung. Benih kepiting yang dipelihara pada substrat pasir menunjukkan kelangsungan hidup secra nyata lebih tinggi (41,3 %) dibandingakn dengan kelangsungan hidup benih yang dipelihara pada substrat lumpur (29,3 %), tetapi tidak berbeda nyata dengan kelangsungan hidup benih yang dipelihara pada substrat koral (34,7 %).Kata kunci : Kepiting bakau; Scylla spp.; pendederan; substratA 30 day of two nursery experiments was conducted to evaluate the effect of different rearing substrates on the growth and survival of mud crab seed. In the first experiment mud crab seeds were reared in fiber glasstank of 50 x 40 x 40 cm3 at the initial stocking density of 30 crablet/tank. The tanks were filled with filtered seawater to a depth of 30 cm and aerated. Each tank was provided with a 3 cm thick layer of bottomsubstrate. The rearing substrate tested in this experiment were sand, coral and mud. Each treatment was run in three replicates. The second experiment was conducted by providing in each tank six pieces of PVC tube (0.75 inch diameter) of 10 cm long to serve as shelter. Pieces of shrimp were given as feed to mud crab once a day at 50 % of total body weight. No significant differences on survival was observed among treatments in the first experiment. After 30 days the survival of crab reared in sand, coral and mud substrates were 23.3 %, 20.0 % and 18.4 %, respectively. The growth, however, was significantly affected by the treatment. The crab reared in mud substrate had a significantly (P<0.01) better growth of carapace width (27.51 mm) and length (19.79 mm) as compared to the crabs reared in sand substrate (21.05 mm width; 15.11 length) and coral substrate (20.26 mm width; 14.54 length). In contrast, the growth of crab carapace was not significantly affected by the substrate treatment in the second experiment. The crab survival in this experiment was improved by providing shelters. The crabs reared in sand substrate had a significantly higher survival (41.3 %) as compared to the mud substrate treatment (29.3 %), but there was no significant difference with coral substrate treatment (34.7 %).Key words : Mud crab; Scylla spp.; nursery; substrate
Dampak Pencemaran Terhadap Kualitas Perairan dan Strategi Adaptasi Organisme Makrobenthos di Perairan Pulau Tirangcawang Semarang M. Yusuf; Gentur Handooyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.787 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.1.41-49

Abstract

Perairan pulau Tirangcawang secara nyata menerima buangan limbah yang berasal dari sejumlah pabrik yang berada di hulu sungai Karanganyar dan Tapak. Limbah ini mengakibatkan terjadinya pencemaran yang dampaknya menurunkan kualitas air dan membahayakan bagi kehidupan organisme perairan khususnya hewanmakrobenthos. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan mengkaji: (1) kualitas lingkungan perairan, (2) struktur komunitas hewan makrobenthos, dan (3) strategi adaptasi hewan makrobenthos terhadap lingkungan perairan yang telah tercemar. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi kasus. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali ulangan, dengan interval 14-15 hari. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui kualitas perairan menggunakan Baku Mutu Air Laut. Analisis untuk mengetahui struktur komunitas hewan benthos yaitu menghitung kelimpahan individu jenis, nilai indeks  eanekaragaman jenis (H’) dan keseragaman jenis (E). Sedangkan untuk mengetuhui strategi adaptasi menggunakan metode Grafik Frontier. Berdasarkan hasil pengukuran parameter fisika-kimia air menunjukkan bahwa beberapa parameter seperti COD, N-NO2, dan logam berat Cu, Cd, Pb, Ni ternyata nilainya telah melebihi batas yang diinginkan dalam Baku Mutu Air Laut. Berdasarkan hasil perhitungan Nilai indeks H’ dan E hewan makrobenthos, yaitu berkisar dari rendah sampai dengan sedang. Berdasarkan nilai ini, jika dikaitkan dengan tingkat pencemaran, maka dikatakan bahwa kualitas perairan di daerah penelitian telah tercemar kategori ringan sampai dengan sedang. Pola strategi adaptasi organisme makrobenthos terbagi dua, yaitu: (1) mengarah ke stadia III (kondisi ekosistemmasih baik atau stabil), tedapat pada stasiun I, II, III, dan IV; dan (2) mengarah ke stadia I (kondisi ekosistem labil) terdapat di stasiun V, VI, VII.Kata kunci : pencemaran perairan, strategi adaptasi, makrozoobenthosTirangcawang island waters received waste from factories lie along the rivers. The waste gave pollution which cause the quality of water decrease, so it will bring sea organisms in dangerous condition especiallymacrozoobenthos. The aim of this research is to investigate the quality of water environment and the community structure of makrozoobenthos as well as macrozoobenthos adaptation strategy in relation with polluting material. The research method is case study. The sample were taken three times with 14-15 days. Interval analysis data to on the waters quality by comparing to Sea Water Quality Standard. The result of water physical and chemical parameters measurement showed that COD, N-NO2 and heavy metals Cu, Cd, Pb, Ni valued appearred higher that those stated in Sea Water Quality Standard. The diversity indeces value of macrozoobenthos showed between low to medium level; so based that the waters quality in this location were polluted in the low up to the medium category. Design of adaptation strategy for the macrobenthic organism had two type i.e. stadia III or stabil and good ecosystem condition at station I, II, III, IV; and stadia I or not good and labil ecosystem condition at on V, VI,VII.Key words : waters pollution, adaptation strategy, macrozoobenthos
Isolasi dan Determinasi Bakteri Luminesensi yang Bersimbiosis pada Cumi-cumi Loligo duvauceli Delianis Pringgenies; Sri Sejati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.555 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.1.26-30

Abstract

Bioluminisensi merupakan penomena alam, yaitu cahaya yang ditimbulkan oleh suatu organ sebagai hasil dari reaksi kimia yang melibatkan tiga komponen, yakni luciferin (substrat), luciferase (enzim) dan molekul oksigen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri simbiosis pada organ luminisensi cumi L. duvauceli adalah bakteriluminisen dari jenis bakteri Photobacterium phosphoreum dan bakteri memancarkan warna biru. Jenis bakteri ini merupakan bakteri yang paling terang memancarkan cahaya di bandingkan dengan jenis bakteri luminisensi lainnya. Hasil penelitian terhadap jumlah total bakteri memperlihatkan bahwa bakteri dapat memancarkan cahaya pada konsentrasi 4,6. 109 CFU/ml dengan diameter koloni bakteri pada 0,075 cm, sedangkan pada konsentrasi lebih rendah yaitu 2,0. 104 dengan diameter koloni bakteri 0,025 cm memperlihatkan bakteriluminisensi tidak memancarkan cahaya. Jadi konsentrasi bakteri sangat berperan dalam proses pemancaran cahaya pada bakteri luminisensi P. phosphoreum.Kata kunci: Isolasi bakteri, luminesensi, cumi-cumi (Loligo duvauceli)Bioluminescence refers to the visible light emission in liveng organisms that accompanies the oxidation of organic compounds (luciferins), mediated by an enzyme catalyst (luseferase). Result on the identification of bacteria live in the cuttlefish of L. duvauceli showed species of Photobacterium phosphoreum and the colony emits a blue lights. P. phosphoreum is the brightest bacteria in terms of emitting lights compared to other species of luminous bacteria. The total bacterial count gives 4.6 109 CFU/ml with diameter of colony of 0.075 cm which able to emit lights, while lower concentration at 2.0 104 CFU/ml and colony diameter of 0.025 cm give no emission of light. In respect to this, it suggest that concentration of luminous bacteria has role in theprocess of light emission by P. phosphoreum.Key words: Bacteria isolation, bioluminescence bacteria determination, squid (Loligo duvauceli)
Kandungan Koprostanol dan Bakteri Coliform Pada Lingkungan Perairan Sungai, Muara, dan Pantai di Banjir Kanal Timur, Semarang Pada Monsun Timur Tony Bachtiar; Ocky Karna Radjasa; Agus Sabdono; Tri Yuni Atmojo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.851 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.1.54-60

Abstract

Limbah domestik merupakan salah satu sumber utama pencemaran di perairan pantai pada negara yang sedang berkembang yang masih kurang mendapatkan perhatian serius bila dibandingkan dengan pencemaran oleh industri. Namun dengan terus meningkatnya aktivitas manusia di wilayah pesisir dan kesadaran akan pentingnya lingkungan bersih bagi kesehatan, estetika dan alasan ekologis lainnya, deteksi tentang kontaminasi limbah menjadi penting untuk diketahui secara lebih baik. Selama ini indikator kontaminasi limbah domestik ditentukan berdasarkan jumlah mikroorganisme intestinal khususnya kelompok bakteri coliform. Koprostanol diusulkan sebagai alternatif indikator limbah domestik, sehingga diperlukan kajian eksistensi koprostanol untuk persyaratan kelayakannya sebagai indikator, serta bakteri coliform sebagai pembanding. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2003 pada lingkungan sungai, muara dan pantai di sungai Banjir Kanal Timur di Semarang. Analisa coliform dari sampel air dan sedimen dilakukan di laboratorium Mikrobiogenetika, FMIPA UNDIP Semarang dan analisa konsentrasi koprostanol dilakukan di laboratorium Kimia dan FisikaPusat (LAKFIP) UGM Yogyakarta. Hasil menunjukkan bahwa koprostanol dapat terdeteksi pada sedimen dan tidak terdeteksi pada kolom air. Eksistensi koprostanol didapatkan nilai tertinggi pada lingkungan perairansungai (14,9 μg/g) dibandingkan muara (1,04 μg/g), dan pantai (5,25 μg/g). Bakteri total coliform terdeteksi pada kolom air maupun sedimen pada lingkungan perairan sungai (2,80 x 104 sel/100 ml), muara (0,4 x104 sel/100 ml), dan pantai (0 - 0,4 x 104) sel/100 ml, sementara fecal coliform terdeteksi di lingkungan perairan sungai (2 x 104 - 2,8 x 104 ) sel/100 ml, dan muara (0,4 x 104 sel/100 ml), namun tidak terdeteksipada lingkungan perairan pantai.Kata kunci : Koprostanol, limbah domestik, indikator pencemaran, coliformDomestic waste is one of the major sources of the pollution in coastal waters of most developing, countries, which has got less attention than industrial pollution. However, along with the increase of human activitiesin coastal areas coupled with the importance of clean environment for the health, esthetics, and ecological reasons, the detection of waste contamination has become important to be recognized. So far, the indicator of domestic waste contamination has been intestinal microorganism, especially coliform bacteria. Coprostanol is a proposed alternative indicator in the detected domestic waste those, it is definitely important to study the existence of coprostanol and coliform bacteria in order to fine its application. The research carried out from July to August 2003 at the environmental waters of river, estuarine, and coastal of Ciliwung, Jakarta; Banjir Kanal Timur, Semarang, analysis of coliform form water and sediment samples was conducted at micro biogenetic laboratory Faculty of Mathematic and Natural sciences, Diponegoro University, meanwhile analysis of coprostanil concentration was performed at central laboratory of chemistry and physic UGM. The results showed that coprostanol was detected in sediment but not in the water phase at all locations. The existence of coprostanol was detected either at environmental waters of river (14,9 μg/g) or estuarine (1,04 μg/g), and coastal (5,25 μg/g). Total coliform bacteria were detected both in water column and sediment of river (2,80 x 104 ) sel/100 ml, at estuarine (0,4 x 104) sel/100 ml and coastal (0 - 0,4 x104) sel/100 ml, meanwhile fecal coliform bacteria were detected in environmental water of river (2 x 104 - 2,8 x 104 ) sel/ 100 ml, and at estuarine (0 - 4 x 104) sel/100 ml, but not detected at coastal area. The use of coprostanol to considered for the indicator alternative because the existence can influence by various condition at water of river and used of coliform bacteria as domestic waste contamination indicator require to be considered because owning various weakness.Key words : Coprostanol, coliform, domestic waste, pollution indicator
The Influence of Food Availabity on the Shell Growth of Sea Scallop Placopecten magellanicus (Gmelin, 1791) Adi Santoso
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.1.8-13

Abstract

Abtract
Estimation on Mortality of Tropical Limpet Cellana testudinaria (Class : Gastropoda, Family : Patellidae) Living on the Rocky Shore of Ohoiwait, Southeast Moluccas, Indonesia Abraham Seumel Khouw
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.1.1-7

Abstract

Sebanyak 2402 ekor limpet diperoleh dari 12 bulan pengambilan sampel yakni dari Oktober  2001 sampai September  2002. Rata-rata mortalitas limpet C. testudlnaria diestimasi dengan mempergunakan tiga metoda yang berbeda  dengan hasil adalah sebesar 94% per tahun (Z =2.81).  Mortalitas terbesar yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan metoda Ault-Ehrhardt   dijumpai pada bulan Oktober 2001 dan April 2002, dimana terjadi kekeringan dan hempasan gelombang yang terbesar. Akan tetapi  tidak ada korelasi yang jetas antara mortalitas dan faktor-faktor  lingkungan. A total oF 2202 limpets were obtained  in 12 monthly collections (from October 2001 to September  2002). The mean mortality oF C. testudinaria was estimated, using three different methods;   reduction in the survival  of individual size frequency cohorts through  time, monthly calculation of the Ault  and Ehrhardt moment estimation, and length-converted catch curves. to be 94% per year  (Z = 2.81). Highest monthly mortality rates, determined with the Ault-Ehrhardt approach, were observed  in October 2001 and April  2002,  when  desiccation  stress (temperature of the rocky  surface  was about  4O0C) and  wave  action  (was about  3 m),  respectively,    were highest   However,   there  was no significant linear correlation  between  mortality and environmental   variables.
Perkembangan Awal Larva Tiram Mutiara (Pinctada fucata) pada Tingkat Salinitas yang Berbeda Anindya Wirasatriya; Jusup Suprijanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.1.14-19

Abstract

Salah satu bagian dari usaha pembenihan adalah pemijahan, dimana salinitas merupakan faktor yang sangat penting terutama pada proses fertilisasi dan perkembangan awal larva sampai fase D-type. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap perkembangan awal larva tiram mutiara (Pinctada fucata). Terdapat 4 perlakuan salinitas pada penelitian ini sebagai media perkembangan awal larva tiram mutiara, yaitu 27 ‰, 30 ‰, 33 ‰, dan 36 ‰• Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata perbedaan salinitas sangat mempengaruhi perkembangan awal larva P. fucata baik dari segi waktu pembentukan D type maupun kenormalan bentuk larva yang dihasilkan. Salinitas media mempengaruhi tingkat kerja osmotik larva dan proses pembentukan cangkang. Salinitas optimum untuk perkembangan awal larva tiram mutiara (P. fucata) adalah 33 ‰ dimana waktu perkembangan awal larvanya berlangsung dalam waktu yang paling singkat yaitu 1053,33 menit dan tidak terjadi ketidaknormalan bentuk larva. Akibat terjadi peristiwa plasmolisis dan plasmolisis, pada salinitas 27 dan 36 terjadi ketidaknormalan bentuk larva yang dihasilkan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2004 2004


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue