cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan" : 9 Documents clear
Konsumsi Oksigen Teripang Hitam (Holothuria atra) pada Sistem Statis dan Sistem Dinamis Tri Karyawati; Retno Hartati; Esti Rudiana
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.948 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.3.169-173

Abstract

Jumlah konsumsi oksigen yang diperlukan organisme untuk proses respirasi selama waktu tertentu disebut konsumsi oksigen. Konsumsi oksigen merupakan parameter fisiologi penting, karena konsumsi oksigen menunjukkan ukuran energi yang dibutuhkan untuk mendukung dan memenuhi kehidupan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsumsi oksigen Teripang hitam (Holothuria atra) pada sistem statis dan sistem dinamis. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratoris menggunakan Rancangan Acak Lengkap(RAL) dengan perlakuan sistem statis dan sistem dinamis. Analisa yang digunakan adalah analisa Sidik Ragam dengan pengukuran berulang terhadap waktu pengamatan, sedangkan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi oksigen terhadap waktu pengamatan menggunakan analisa korelasi. Hasil analisa data menunjukkan bahwa sistem pengukuran yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap konsumsi oksigen Teripang hitam (Holothuria atra) . Konsumsi oksigen Teripang hitam (Holothuria atra) pada sistem dinamis lebih stabil daripada sistem statis.Kata kunci : Teripang hitam, konsumsi oksigen, sistem statis dan sistem dinamis.Oxygen total that used organism in respiration until certain time is oxygen consumption. The oxygen consumption is important physiological parameter, because the oxygen consumption that energy size thatneeded in the live. The purpose of reseach was to know oxygen consumption of tee sea cucumber (Holothuria atra) in static and dynamic system. The methode of reseach were experimental laboratories on completely randomized design in static and dynamic system. The analysis statistically by Analysis of Covariance with repeated measurement of time, and to know relationship between the oxygen consumption the time wereused regression analysis. The result of the reseach showed that oxygen consumption were different between static and dynamic system. The oxygen consumption of sea cucumber in dynamic system more stabil thanstatic system.Key words : Sea cucumber, the oxygen consumption, static and dynamic system
Kajian Perubahan Garis Pantai Semarang dengan Foto Udara Pankromatik Hitam Putih Sadiyatmo Sardiyatmo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.202 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.3.160-168

Abstract

Untuk mengetahui perubahan garis pantai Kota Semarang dilakukan dengan teknik penginderaan jauh, yaitu Identifikasi Foto Udara tahun 1942 dan Foto Udara tahun 1992. Identifikasi ini dilakukan dengan cara mengenali kenampakan karakteristik mengenai bentuk lahan, kemiringan lereng, penggunaan lahan, tingkat erosi dan deposisi pantai. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa daerah pantai Semarang yang mengalami perubahan dapat di identifikasi pada foto udara atau peta topografi I rupabumi dan secara keseluruhan dalam kurun waktu tahun 1942 - 1992 perubahan pantai seluas 11 3,75 Ha.Kata kunci : penggunaan lahan, erosi dan deposisi pantai.Investigation on the changes of Semarang coastal line was done by using remote sensing technique approach. The map use in this investigations were identify the arieal photograph of 1942 year and the arieal photograph in 1992. The identification is dane by knowing the characteristic of landform, slope gradient, land use, lever of erotions and deposition of shore. The researah resulte obtained that the Semarang shoreline was changed could be identified in the aerial photographs or tophography earthface map and in a totality since 1942 until 1992 the shoreline change of 113,75 hectares.Key words : land use, lever of erotions and deposition of shore.
Studi Morfologi Guna Pemetaan Rob di Pesisir Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah Petrus Subardjo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.374 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.3.153-159

Abstract

Fenomena rob berkaitan erat dengan pasang surut muka air laut, karena rob adalah banjir yang disebabkan pasang air laut. Massa air laut masuk ke darat melalui saluran air dan menyebabkan intrusi air laut yang dapatmencemari air tanah. Area genangan rob pada saat air laut mengalami pasang tertinggi akan meningkat dan meluas ke daratan sesuai dengan elevasi muka tanah. Studi morfologi guna pemetaan rob wilayah pesisirSayung ini akan menjadi satu informasi yang penting dan sangat membantu dalam upaya penanganan rob di wilayah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah membuat peta genangan rob serta menganalisa karakteristik tanah dan kecepatan rembesan dari genangan rob ke dalam tanah di wilayah pesisir Sayung, Kabupaten Demak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus – Desember 2003 dengan mengambil lokasi di wilayah pesisir Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Metode penelitian adalah metode diskriptif, sedangkan metode samplingnya menggunakan metode sampling purposive. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan kerja, yang meliputi tahap pra kerja lapangan (studi pustaka, survei pengenalan medan, pengumpulan data sekunder, dan pengolahan peta), tahap kerja lapangan (pengukuran morfologi, pengambilan sampel tanah dan melakukan pengukuran permeabilitas tanah, serta pendokumentasian genangan rob), dantahap pasca lapangan (analisa permeabilitas tanah dan ukuran butir). Berdasarkan hasil penelitian, wilayah di pesisir Sayung dengan elevasi kurang dari 0,5 meter dpl akan terkena genangan rob pada saat pasangtertinggi. Di dalam peta kontur, daerah bebas genangan rob dapat terlihat jelas. Bangunan jalan raya Semarang - Demak yang melalui wilayah pesisir Sayung (Sriwulan, Purwosari, Sayung, Sidogemal dan Surodadi) dengan elevasi 2 meter, serta bantaran (tanggul) sungai yang berada di sisi kanan kiri sungai dengan elevasi lebih dari 0,5 meter, sehingga tidak terjangkau oleh air laut saat pasang tertinggi. Area pertambakan di Sriwulan dan Timbulsloko tersusun oleh tanah lanau lempungan pasiran dan lempung lanauan pasiran dengan permeabilitas(K) yaitu 4.268 x 10-5 – 5.161 x 10-5 m/hari. Area persawahan di Purwosari, Gemulak dan Sirodadi kriteria tanah didominasi oleh lanau pasiran lempungan dan lanau lempungan pasiran dengan kecepatan rembasan 2.728 x 10-5 – 5.242 x 10-5 m/hari. Sedangkan di area pemukiman Bedono, Sayung dan Sidogemal didominasi oleh pasir lanauan lempungan, dengan permeabilitas 0,015 m/hari – 0,132 m/hari maka tidak terjadi genangan rob yang lama.Kata kunci : Morfologi, rob, dan permeabilitas tanah.Phenomenon at rob interconected sea level tide, because that floods which caused by high water of sea where sea water mass step into continent as well as causing intrution land then contaminating ground water. Pond area of rob at the highest sea level will mount and exted to continent as according to ground elevation. Mapping of rob area whith coastal regional morphology study at Sayung will become an important information and very assisting in the effort handling at problem of rob in the region. The aims of this research are make a map of topography contour, map of rob, and also analyse ground characteristic and speed of rob’s pond perasity into ground in coastal region of Sayung, residence of Demak. Research executed in August – November 2003, by taking research location in coastal region of Sayung, residence of Demak, Central Java. The research used was descriptive method, while its sampling method use sampling purposive. Execution of this research is conducted in three activity steps, covering: pre phase work field (book study, recognize survey, secundary data collecting, and processing of map), phase work field (intake of ground sample, morphology measuring, permeability measuring and intake document of rob), and phase in the end of work field (permeability analysis and granulometry). Based to result of research, regional in coastal area Sayung with elevation less than 0,5 metre will be affected pond of rob in the highest tide. In the contour map, area which free from pond of rob can visible plain, that’s at roadway of Semarang – Demak which passing coastal area of Sayung (Sriwulan, Purwosari, Sayung, Sidogemah and Surodadi) with elevation 2 metre, the natural bank in right and left of the river with elevation 0,5 – 2 metre, and also some region which reclamated with height more than 0,5 metre out of reach from highest tide. Shrimppond area in Sriwulan and at Timbul Sloko have ground criterion of sandy clayes silt and of sandy silty clay with speed of low porasity that is 4.268 x 10-5 – 5.161 x 10-5 m/day. Ground criterion at rice field area in Purwosari, Gemulak and Surodadi, predominated by clayes sandy silt and of sandy clayes silt with speed of porasity 2.728  x 10-5 – 5.242 x 10-5 m/day. Settlement area in Bedono, Sayung and of Sidogemah predominated by clayes silty sand, so that pond of rob can seep quicker to the ground if compared to rice field area and shrimppond area that is 0.015 m/day – 0.132 m/day.Key words : Morphology, rob, permeability
Genetik Uniformity of Widely Separated Population of Coral Acropora aspera from Karimunjawa and Panjang Island Waters Revealed by Partial Sequence of Internal Transcribed Spacer-4 Regions Diah P Wijayanti; Chrisna A Suryono; Agus Sabdono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.635 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.3.125-129

Abstract

Telah kita ketahui dengan baik bahwa kaarang hidup tersebar dari daerah tropis sampai subtropis di Indo Pasifik. Namun malangnya informasi tentang hubungan secara genetic antar populasi terumbu karang yang dipisahkan oleh jarak tersebut sangat kurang. Variasi genetic karang Acropora aspera telah dianalisa dengan internal transcribed spancer-4 (ITS-4). Analisa dilakukan terhadap dua pupulasi karang yang berasal dari Karimunjawa dan Jepara. Hasil sequencing dengan ITS-4 menunjukan bahwa diantara meraka terdapat hubungan yang dekat baik yang ada di Karimunjawa dan Jepara. Dari hubungan tersebut dapat diasumsikan bahwa populasi A. aspera yang ada di Jepara berasal dari Karimunjawa bila dillihat sebaran genetis.Kata kunci: Acropora aspera, sebaran genetis, ITS-4 It is well known that coral species are broadly dispersed across the tropical and subtropical Indo Pacific. Unfortunately, there is little information about the genetic connectivity between coral populations separatedby large distance. Variability in the nucleotide sequence of the internal transcribed spacer-4 (ITS-4) of the nuclear ribosomal gene in coral Acropora aspera was analyzed. Two populations of corals from Karimunjawaand Jepara were investigated. Sequencing analysis of ITS region of rDNA gene showed that there is closely related between parental of A. aspera Karimunjawa and Jepara. This relation suggest that presumably A.aspera population in Jepara was originated from Karimunjawa through genetic flow.Key words: Acropora aspera, gene flow, ITS-4 
Skrining Bahan Anti Kanker pada Berbagai Jenis Sponge dan Gorgonian Terhadap L1210 Cell Line Agus Trianto; Ambariyanto Ambariyanto; Retno Murwani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.778 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.3.120-124

Abstract

Sejarah evolusi yang panjang pada biota laut menyebabkan biota laut mempunyai keanekaragaman molekul yang sangat tinggi. Potensi biota laut tersebut sebagai sumber obat anti kanker menjadi objek penelitianpenting dalam tahun-tahun terakhir. Bahan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sponge dan gorgonian yang dikoleksi dari perairan Jepara pada kedalaman 1-3 m dan di perairan Labuhan Bajo, Florespada kedalaman 3-38 m. Sampling dilakukan dengan Skin diving dan SCUBA diving. Sampel kemudian diekstrak dengan metanol. Selanjutnya ekstrak diujikan terhadap sel kanker leukemia (L-1210 cell line) dengankonsentrasi 0, 1, 5 dan 10 ppm. Uji dilakukan pada media RPMI lengkap dan penghitungan daya hambat dilakukan dengan metoda direct counting. Ekstrak yang diperoleh dari sponge dan gorgonian berkisar antara 0,55 – 24,7% dari berat kering atau 0,36-7,34% dari berat basahnya. Seluruh ekstrak dari sampel-sampel mampu menghambat pertumbuhan L1210 cell line dan layak untuk pemurnian lanjut. Ekstrak metanol tiga jenis sponge (Xestospongia sp2 dan Phyllospongia sp1 dan UP8) dan fraksi etil asetat dari ekstrak gorgonian I. hippuris mempunyai IC-50 < 3 mg/mL, ekstrak metanol dari delapan jenis sponge (Agelas nakamurai, Ircina ramosa, A06, Phyllospongia lamellosa , Phyllospongia sp, UP9, Calispongia sp dan Fascaplynopsis sp) mempunyai IC-50 < 5 mg/mL, dan ekstrak metanol dari lima jenis sponge (Hyrtios erecta, Xestospongia sp, Cladocroce sp, Oceanapia cf. Amboiensis dan Haliclona sp.) dan fraksi air dari ekstrak gorgonian I. Hippuris mempunyai IC-50 < 10 mg mL Satu sponge Xestospongia sp 1 mengandung ekstrak yang mempunyai IC - 50 > 10 mg/mL.Kata kunci : Sponge, Gorgonian, L-1210, sel kanker, IC-50The long history of the evolution of marine organisms has made these organisms as a source of high molecular diversity. In search of a new anti cancer drugs, these organisms has become an intense object of research.Sponges and the gorgonian were colllected from Jepara and Labuan Bajo-Flores water on a depth of 1-3 m and 3-38 m repectively by Skin and SCUBA diving. The samples were extracted with methanol. Theextract were assayed against cancer cell (L-1210 cell line) with tested concentration range of 0, 1, 5 and 10 ppm. The cell line was cultured in complete RPMI media and growth inhibition was measured by directcounting. Methanol extract of sponges and gorgonian yielded approximately 0.55 – 24.7 % dry weight or 0,36 – 7.34 % wet basis. All methanol extract of the samples could inhibit the growth of L1210 cell line and is potential for further purification. Methanol extract from 3 species of sponges (Xestospongia sp2 dan Phyllospongia sp1 and UP8) and one ethyl acetate fraction of I. hippuris had IC-50 value < 3 mg/mL. Methanol extract of 8 species of sponges (Agelas nakamurai, Ircina ramosa, A06, Phyllospongia lamellosa, Phyllospongia sp, UP9, Calispongia sp dan Fascaplynopsis sp) had IC-50 < 5 mg/mL, methanol extract of 5 species of sponges (Hyrtios erecta, Xestospongia sp, Cladocroce sp, Oceanapia cf. Amboiensis and Haliclona sp.) and one water extract of I. hippuris had IC-50 < 10 mg mL. Methanol extract of one species of sponge (Xestospongia sp 1) had IC-50 > 10 mg/mL.Key words : Sponge, Gorgonian, L-1210, Cancer cell, IC-50
Distribusi dan Struktur Populasi Karang Soliter Fungia fungites di Pulau Burung, Pulau Cemara Kecil dan Pulau Menjangan Kecil (Kepulauan Karimunjawa) Wahyu A Nugraha; Munasik Munasik; Wisnu Wijatmoko
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.199 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.3.174-179

Abstract

Fungia fungites merupakan hewan karang soliter, hidup melekat maupun bebas dan bisa bergerak untuk berpindah tempat. F. fungites umum dijumpai di daerah tropik Indo-Pasifik. Penelitian ini dilaksanakan diPulau Burung, P. Cemara Kecil, dan P. Menjangan Kecil, Karimunjawa, Jepara. Pengambilan data di lapangan dengan menggunakan metode transek sabuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi dan struktur populasi karang F. fungites. Dari 6 titik pengamatan, 4 titik diantaranya mempunyai sebaran sampai kedalaman sekitar 12 m yaitu di Pulau Cemara Kecil sisi barat dan sisi timur, P. Burung sisi timur, dan P. Menjangan Kecil sisi timur; dan hanya 2 titik yang mempunyai sebaran sampai kedalaman 21 m yaitu P. Burung sisi barat, dan P. Menjangan Kecil sisi barat. Ukuran F. fungites yang ditemukan di Pulau Burung yang terkecil berdiameter 5 cm dan terbesar berdiameter 41 cm, di P. Cemara Kecil yang terkecil berdiameter 5 cm dan terbesar berdiameter 24 cm, sedangkan di P. Menjangan Kecil yang terkecil berdiameter 5 cm dan terbesar berdiameter 30 cm. Sedangkan kepadatan tertinggi ditemukan pada kedalaman 7-12 m. Tidak terdapat hubungan yang jelas antara kedalaman dengan distribusi F. fungites. Terdapat hubungan positif antara kedalaman dan ukuran rata-rata karang F. fungites.Kata kunci : Distribusi, Struktur Populasi, Soliter, Koloni, Fungia fingitesFungia fungites is an known as solitary coral, attachment and also free living and can make a move to migrate. F. fungites is very common in tropical Indo-Pasific area. This research was conducted at Burung Island, Cemara Kecil Island, and Menjangan Kecil Island, Karimunjawa, Jepara. Data were collected by using belt transect method. The aim of this research is to know the distribution and population structure of solitary coral F. fungites in Karimunjawa Island. From the six point observation, four points among them have the distribution until the depth of about 12 metres those are at the east side of Burung Island, the west and east side of Cemara Kecil Island, and the east of Menjangan Kecil Island. Only two point having distribution until the depth of 21 metres those are the west side of Burung Island, and the west side of Menjangan Kecil island.The smallest diameter of F. fungites was found in Burung Island is 5 cm and the highest diameter is 41 cm, in Cemara Kecil Island the smallest diameter is 5 cm and the biggest diameter is 24 cm, while in MenjanganKecil Island the smallest diameter is 5 cm and the biggest diameter is 30 cm. While the highest density is found in the depth of 7-12 metres. No clearly relationship beetween depth and distribution of F.fungites.There is positive relationship beetween depth and average size of F. Fungites.Key words : Distribution, Population structure, Solitary, Colony, Fungia fungites
Prediksi Peredaman Gelombang Permukaan yang Menjalar Melewati Hutan Mangrove Mulidin Mulidin; Denny N Sugianto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.322 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.3.141-152

Abstract

Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk penelusuran keefektifan hutan mangrove dalam mereduksi penjalaran energi gelombang melalui model analitik. Disipasi energi dalam domain frekuensi ditentukan dengan meninjau hutan mangrove sebagai medium acak yang memiliki karakteristik tertentu dengan menggunakan ukuran dan lokasi dari batang-batang pohon mangrove. Persamaan pengatur nonlinier dilinierisasi dengan menggunakan konsep minimalisasi dalam tinjauan stokastik dan interaksi antara batang dan akar-akar mangrove diperkenalkan melalui modifikasi koefisien gesek. Contoh-contoh perhitungan sebagai penerapan dari model analitik ini dilakukan pada jenis mangrove Rhizophora dan Ceriops. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peredaman energi gelombang tergantung pada kerapatan hutan mangrove dan tergantung pula pada diameter dari batang dan akar mangrove.Kata kunci: model analitik, hutan mangrove, peredaman energi gelombangThis research conduct the analytical model to predict the attenuation of wind-induced random surface waves that propagate through the mangrove forest. The energy dissipation in the frequency domain is determinedby treating the mangrove forest as a random media with certain characteristics using the geometry of mangrove trunks and their locations. Initial nonlinear governing equations are linearized using the concept of minimalization in the stochastic sense and interactions between mangrove trunks and roots have been introduced through the modification of the drag coefficients. Examples of calculations of this analytical model was carried out for mangrove forests which occupied by Rhizophora and Ceriops species. The resulting rate of wave energy attenuation depends strongly on the density of the mangrove forest, and on diameter of mangrove roots and trunks.Key word : analytical model, mangrove forest, wave energy attenuation
Studi Awal Karakteristik Suara Siulan (Whistle) dan Lengkingan (Burst) pada Lumba-Lumba Hidung Botol (Tursiops truncatus) Gilang Aulia; Indra Jaya
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.337 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.3.130-135

Abstract

Makalah ini menguraikan tentang karakteristik suara lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncates) yang diperoleh dengan menggunakan perekam suara pada laptop Toshiba T2150 CDT yang dilengkapi dengan soundcard dan internal microphone. Suara yang direkam adalah suara bertipe whistle dan burst yang dikeluarkan oleh lumba-lumba pada dua kelompok usia, subadult (10-12 tahun) dan adult (>12 tahun). Proses perekaman dilakukan selama ± 1 menit dan karakteristik suara ditentukan berdasarkan analisis spektrogram. Nilai power spectral sensity (PSD) dari suara yang dihasilkan lumba-lumba pada masing-masing kelompok usia bervariasi meskipun berasal dari individu yang sama, demikian halnya dengan frekuensi terjadinya PSD maksimal tersebut. Jika kedua kelompok usia ini dibandingkan, maka terlihat bahwa nilai rata-rata PSD maksimal kedua tipe suara pada lumba-lumba kelompok usia adult lebih tinggi dibanding lumba-lumba kelompok usia subadult.Suara whistle dan burst pada kedua kelompok usia terdengar berbeda, dimana suara whistle pada kelompok usia subadult tidak sekuat whistle pada kelompok usia adult. Perbedaan lebih jelas pada suara bertipe burst. Pada lumba-lumba kelompok usia subadult, suara burst menyerupai lengkingan, akan tetapi pada kelompok usia adult, suara burst menyerupai teriakan.Kata kunci: lumba-lumba hidung botol, suara siulan, suara lengkinganThis paper describes the sound characteristics produced by Bottlenose Dolphin using a notebook computer equipped with a sound card and internal microphone. The sound produced by two age groups, sub adult(10 – 12 years old) and adult (>12 years) was recorded for the duration of about one minute, and their sound characteristics were determined base on spectrogram analysis. It was found that the power spectral density (PSD) of the sound produced varies between the two groups. The average of maximum PSD of the adult was higher than the sub adult. Both of whistle and burst sounds in each age class were heard differently.The whistle sound produced by the sub adult was not as strong as the one produced by the adult group, and in the case of burst sound this differences was more pronounced. The burst sound of the sub adult group was heard like a shrill, but for the adult age group the burst sound was heard like a yell.Key words: botlenoosed dolphin, whistle sound, burst sound
The Effect of Various Salinity Level on the Growth and Characterization of Dunaliella sp Isolated from Jepara Waters Endang Kusdiyantini; Triwibowo Yuwono; Joedoro Sudarsono; Hermin Pancasakti Kusumaningrum
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.064 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.3.136-140

Abstract

Dunaliella adalah salah satu biota dengan kandungan β-carotene cukup tinggi. Upaya optimalisasi produksi bcarotene pada Dunaliella berhadapan dengan beberapa masalah kultivasi, untuk mendapatkan species yang paling potensial. Hal ini terkait dengan keterbatasan pengetahuan karakteritik ecophysiologi. Alga hijau Dunaliella diketahui dapat tumbuh pada media dengan kandungan garam yang cukup tinggi, namun karena pemahaman characteristik yang keliru dapat menyebabkan identifikasi yang salah pada satu species dalam genus Dunaliella. Kultur laboratoris pada media microcosms berdasarkan salinitas telah dilakukan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dan karakterisasi Dunaliella sp. dari perairan Jepara. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Dunaliella sp. dapat beradaptasi pada salinitas 0 sampai dengan 30 ‰. Berdasarkan kepada perubahan warna pigmen Dunaliella sp. yang tidak menjadi merah pada media pemeliharaan sampai dengan 25 ‰, maka jenis yang dijumpai di Jepara mempunyai karakter dan secara taksonomis berafiliasi dengan Dunaliella viridis.Kata kunci: Dunaliella sp, Salinity, Growth, CharacterizationDunaliella is one the most enriched β-carotene eucaryotic organism known. The attempt to optimize bcarotene production from Dunaliella has faced with several problems related to its growth management,which was suspectedly unable to meet the needs of the cultured species. This is primarily because the ecophysiological characteristic affecting growth of Dunaliella have not been sufficiently understood. It wasknown that the halophilic species of the green alga Dunaliella was grown in concentrated salt solutions, but based on this characterization, some misnamed of species in genus Dunaliella also have arisen due to wrongcharacterization understanding. Laboratory cultures and mixed-species microcosms were used to asses the growth and characterization of Dunaliella sp. from Jepara Coastal Region with special emphasis on the several factors that affecting growth of organisms including salinity. The result showed that Dunaliella sp. could adapted to a variety of salt concentration from as low as 0.0 % to salt saturation of about 30 ‰. Based on its pigment colour that Dunaliella sp. doesn’t turn red in the growth on salinities up to 25 ‰, it can be characterized and affiliated taxonomically as Dunaliella viridis.Key words: Dunaliella sp, Salinity, Growth, Characterization

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2004 2004


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue