cover
Contact Name
Dessy Ariyanti
Contact Email
dessy.ariyanti@che.undip.ac.id
Phone
+62247460058
Journal Mail Official
j.reaktor@che.undip.ac.id
Editorial Address
Department of Chemical Engineering, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto SH Tembalang Semarang 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Reaktor
Published by Universitas Diponegoro
Reaktor invites contributions of original and novel fundamental research. Reaktor publishes scientific study/ research papers, industrial problem solving related to Chemical Engineering field as well as review papers. The journal presents paper dealing with the topic related to Chemical Engineering including: Transport Phenomena and Chemical Engineering Operating Unit Chemical Reaction Technique, Chemical Kinetics, and Catalysis Designing, Modeling, and Process Optimization Energy and Conversion Technology Thermodynamics Process System Engineering and products Particulate and emulsion technologies Membrane Technology Material Development Food Technology and Bioprocess Waste Treatment Technology
Articles 484 Documents
INFLUENCE OF ORGANIC LOADING AND MIXING TO THE STABILIZED LEACHATE COD REMOVAL USING CIRCULATING ANAEROBIC REACTOR Aghasa Aghasa; Qomarudin Helmy; Mochammad Chaerul
Reaktor Volume 17 No. 2 Juni 2017
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.718 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.17.2.59-66

Abstract

Abstract In Indonesia, several leachate treatments were operated with most of the treatments are using conventional anaerobic lagoon system in pre-treatment section. However, most of the treatments still have low organic removal efficiency. In several studies, removal efficiency could be increased through several modifications inside the pond and one of them is by using mixing addition. Therefore, the aim of this study was to compare leachate organic removal efficiency by using mixing and without using mixing modification. This research used 3 kinds of Circulating Anaerobic Reactor (CAR) where 0.5 kg/m3∙day Organic Loading Rate (OLR) in reactor-1 (with mixing) and reactor-3 (without mixing) and 1.0 kg/m3∙day OLR in reactor-2 (with mixing) were operated inside the reactor. From the results, the organic removal efficiency in reactor-1 was 81.82%, reactor-2 was 82.22%, and reactor-3 was 41.67%. It can be proven that leachate organic removal efficiency was possible to be increased with the addition of mixing inside the treatment system. Keywords: Circulating Anaerobic Reactor; leachate; mixing; organic loading; removal efficiency  Abstrak PENGARUH BEBAN ORGANIK DAN PENGADUKAN TERHADAP PENYISIHAN COD LINDI TERSTABILISASI DENGAN MENGGUNAKAN CIRCULATING ANAEROBIC REACTOR. Di Indonesia, pengolahan lindi dioperasikan dengan sebagian besar pengolahan menggunakan sistem kolam anaerobik konvensional pada bagian pre-treatment. Akan tetapi, sebagian besar pengolahan masih memiliki penyisihan organik yang rendah. Dalam beberapa penelitian, efisiensi penyisihan dapat ditingkatkan melalui beberapa modifikasi di dalam kolam dan salah satunya adalah dengan menggunakan pengadukan. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efisiensi penyisihan organik lindi dengan menggunakan pengadukan dan tanpa menggunakan pengadukan. Pada penelitian ini digunakan 3 jenis Circulating Anaerobic Reactor (CAR) dimana reaktor tersebut dioperasikan dengan Organic Loading Rate (OLR) sebesar 0,5 kg/m3∙hari di dalam reaktor-1 (dengan pengadukan) dan reaktor-3 (tanpa pengadukan) dan OLR sebesar 1,0 kg/m3∙hari dalam reaktor -2 (dengan pengadukan). Dari hasil penelitian, efisiensi penyisihan organik di dalam reaktor-1 adalah sebesar 81,82%, reaktor-2 sebesar 82,22%, dan reaktor-3 sebesar 41,67%. Melalui hal tersebut, dapat dibuktikan bahwa efisiensi penyisihan organik pada lindi memungkinkan untuk ditingkatkan dengan penambahan pengadukan di dalam sistem pengolahan. Kata kunci: Circulating Anaerobic Reactor; lindi; pengadukan; beban organic; efisiensi penyisihan  
PREPARATION AND CHARACTERIZATION OF SULFATED ZIRCONIA FOR BIODIESEL PRODUCTION Heri Rustamaji; Hary Sulistyo; Arief Budiman
Reaktor Volume 13, Nomor 4, Desember 2011
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.338 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.13.4.225-230

Abstract

Sulfated zirconia has been prepared and characterized by X-ray diffraction, infrared spectroscopy, BET surface area, and BJH pore distribution methods. XRD patterns reveal that the sulfated zirconia mainly consists of tetragonal crystalline zirconia with average size of about 9.8 nm. N2 adsorption data show that the nanosized sulfated zirconia has high surface area (109.4 m2/g) and shows the uniform pore distribution aggregated by zirconia nanoparticles. Sulfated zirconias were used as catalysts in the alcoholysis of jatropha oil. The conversions of jatropha oil alcoholysis under good conditions (120oC, 2 h, 3 wt% of catalyst and 1000 rpm agitation speed) were 79.65%.  Abstrak PREPARASI DAN KARAKTERISASI ZIRKONIA TERSULFATASI SEBAGAI KATALISATOR DALAM PEMBUATAN BIODIESEL. Zirkonia tersulfatasi berhasil dibuat dan dikarakterisasi dengan difraksi sinar X, spektroskopi inframerah, pengukuran luas permukaan dengan metode BET dan dan pengukuran distribusi pori dengan metode BJH. Pola difraksi sinar X menunjukkan bahwa susunan utama zirkonia tersulfatasi terdiri atas kristal zirkonia tetragonal dengan ukuran pori rata-rata sekitar 9,8 nm. Data adsorpsi N2 menunjukkan bahwa zirkonia tersulfatasi yang berukuran nano memiliki luas permukaan yang tinggi (109,4 m2/g) dan memiliki distribusi ukuran pori yang seragam. Zirkonia tersulfatasi digunakan sebagai katalisator dalam reaksi alkoholisis minyak jarak pagar dengan konversi pada kondisi yang relatif baik (120oC, 2 jam, 3% berat katalis dan kecepatan pengadukan 1000 rpm) sebesar 79,65%.
Perpindahan Panas Dan Massa Penguapan Falling Film Campuran Uap-Gas Methanol-Air Arah Berlawanan K. Budhikarjono; Susianto Susianto; N. Soewarno
Reaktor Volume 09 No. 02 Desember 2005
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5461.378 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.9.2.86-93

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh adanya aliran gas/udara terhadap koefisien perpindahan panas dan massa dalam falling film evaporator untuk sistem larutan campuran biner, dan memperoleh persamaan empiris koefisien perpindahan panas dan massa. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kolom tegak  sepanjang 2 meter dan diameter 2,8 cm. larutan methanol-air dan udara panas dialirkan pada kolom dengan aliran berlawanan arah. Laju alir cairan 20-160 l/jam, konsentrasi umpan sebesar 10-50% methanol dan laju alir gas 0- 2,16 standar m3/jam. Harga yang diperoleh menunjukkan bahwa koefisien perpindahan panas dipengaruhi oleh laju alir umpan dan konsentrasi larutan. Semakin esar laju alir umpan, semkin besar koefisien perpindahan panas, semakin besar konsentrasi larutan, semakin kecil koefisien perpindahan massa. Koefisien perpindahan massa yang dihasilkan berkisar antara 5,6 – 9 Kw/ m2.K dan koefisien perpindahan massa yang dihasilkan berkisar antara 1,06- 2,73 . 10-4 m/detik untuk kisaran NRE,l 1800-6000 dab NRE,g 0-2000.Kata kunci : falling film evaporator, koefisien perpindahan panas, koefisien perpindahan massa
Kinerja Reaktor Semi Kontinyu Berpengaduk untuk Oksidasi Dua Fasa Gas- 12 – 17 Cair Asetaldehid (The Performance of Semi Continue Stirred Reactor for Acetaldehyde Biphasic Oxidation) S Suprapto
Reaktor Volume 3 No.1 Desember 1999
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4350.385 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.3.1.12-17

Abstract

Oksidasi fasa cair asetaldehid menggunakan udara dan katalis homogeny Mangan Asetat telah dilakukan dalam penelitian ini. Untuk memahami reaksi heterogen gas-cair tersebut, maka telah dilakukan dua rangkaian penelitian yaitu enaluasi mengenai hidrodinamika reactor dengan pengukuran koefisien perpindahan massa gas-cair, dan evaluasi reaksi kimia oksidasi asetaldehid. Reaktor berpengaduk mekanis yang digunakan dioperasikan pada tekanan atmosfir. Beberapa variabel kunci seperti kecepatan pengadukan, laju alir gas dan suhu telah diujikan untuk memperoleh informasi mengenai kinerja reactor. PAda kondisi operasi yang dipelajari, kenaikan konversi reaksi (atas dasar asetaldehid) dipengearuhi oleh kenaikan laju alir gas. Namun untuk laju alir lebih besar dari 6.10-5 m3/detik, laju alir gas menjadi kecil pengaruhnya terhadap kenaikan konversi reaksi. Kecepatan pengadukan dan suhu berpengaruh lebih kecil terhadap konversi reaksi dibandingkan dengan pengaruh laju alir gas. Kata kunci: Reaktor semi kontinyu, gas-cair, asetaldehid
Effect of Peanut Shell Torrefaction on Qualities of The Produced Bio-pellet Santiyo Wibowo; Ningseh Lestari
Reaktor Volume 18 No. 4 December 2018
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.739 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.18.04.183-193

Abstract

Peanut shells could be regarded as biomass wastes generated from agricultural products, which are abundantly available.  The current handling of those wastes is merely through direct incineration, without a proper and controlled manner. Consequently, it could arouse environmental concerns, such as air pollution and human respiratory diseases.  One alternative solution is converting those peanut shells to bio-pellet, expectedly applicable for fuels.  Relevantly, research on bio-pellet manufacture from peanut shells, previously treated with the torrefaction, was conducted. It’s aimed mainly to identify the fuel-related characteristics of bio-pellet products.  The tested bio-pellet parameters covered, moisture content, ash content, volatile matters, fixed carbon content, calorific values, and density.  The results revealed that torrefaction temperature and time at raw materials (peanut shells) could improve their qualities in regard to particular calorific value compared to those before such torrefaction; which referred to Indonesia’s Standard (SNI-8021-2014) for wood bio-pellet.  Further, torrefaction could increase bio-pellet quality which satisfied the SNI’s Standard, except for ash content.  Optimal torrefaction treatment was obtained at 300oC temperature for 60 minutes, whereby it achieved remarkable bio-pellet characteristics in terms of moisture content (3.092%), ash content (6.116%), volatile matters (38.387%), fixed carbon (55.447%), calorific value (6174 cal/g), and density (0.703 g/cm3). The torrefaction bio-pellets from peanut shells could achieve remarkable performances, with respect to fuel consumption rate (0.68 kg/hr), heating value (6174 kcal/kg), and thermal efficiency (16.67%).Keywords: biomass wastes, bio-pellet, conversion, peanut shells, torrefaction treatment
PROFIL SUHU PADA PROSES PENGERINGAN M. Syaiful; Hargono Hargono
Reaktor Volume 12, Nomor 3, Juni 2009
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.996 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.12.3.195 – 202

Abstract

Pengeringan bahan pangan umumnya bertujuan untuk mengawetkan bahan yang mudah rusak sehingga mutu dapat dipertahankan selama penyimpanan. Proses pengeringan terjadi melalui penguapan air, cara ini dilakukan dengan menurunkan kelembaban (RH) udara dengan mengalirkan udara panas disekeliling bahan, sehingga kecepatan uap air bahan lebih besar dari pada tekanan uap air di udara. Perbedaan tekanan ini menyebabkan terjadinya aliran uap air dari bahan ke udara. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan kajian dasar terhadap perpindahan momentum, energi dan massa secara simultan pada proses penguapan air dalam bahan padat ke dalam aliran udara panas yang dilakukan terhadap gabah. Hasil penelitian dengan pemodelan persamaan matematik perpindahan massa, momentum dan energi secara simultan pada sistem pengering dapat memberikan gambaran tentang profil kecepatan, suhu dan RH udara pengering terhadap dimensi panjang rak pengering, tinggi ruangan kosong diatas rak serta dapat menentukan fraksi massa uap air yang terbawa oleh aliran udara keluar system. Guna mempelajari lebih jauh mengenai proses pengeringan ini dipergunakan juga teknik CFD. Penggunaan teknik simulasi CFD secara keseluruhan memberikan gambaran pola aliran udara dan profil suhu mendekati kenyataan dalam percobaan yang dilakukan.  Dimana pada lebar 12 cm dan panjang 50 cm, suhu dan kecepatan udara di atas rak berkisar antara 34oC sampai 34,8oC dan kecepatan udara berkisar antara 0,18 m/dt sampai 0,21 m/dt. Untuk panjang rak 25 cm dengan lebar 24 cm kisaran kecepatan udaranya adalah 0,2 m/dt sampai 0,23 m/dt dengan suhu berkisar antara 34,8oC dan 35,2oC. Kadar air akhir gabah pada penelitian ini berturut-turut adalah 14,93% (bb) untuk percobaan 01, 14,52% bb, untuk percobaan 02,14,83% bb untuk percobaan 03 dan 14,47% bb untuk percobaan 04.
Evaluasi Dan Modifikasi Proses Pemisahan Dan Pemurnian Etanol Hasil Fermentasi widayat widayat; J. P. Sitompul; T. H. Soerawidjaja
Reaktor Volume 6 No. 1 Juni 2002
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6127.6 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.6.1.16-23

Abstract

Evaluasi dan modifikasi proses merupakan salah satu usaha untuk penghematan energy, yang dapat dilakukan untuk teknologi pinch. Evaluasi proses dilakukan terhadao tiga buah konfigurasi proses. Setiap konfigurasi proses terbentuk dari penggabungan proses Danish Distilleries dengan tiga buah sistem tiga kolom pemisahan etanol 95%. Konfigurasi proses 1 merupakanpenggabunagn proses Danish Distilleries dengan sistem pemisahan Othmer, penggabungan proses Danish Distilleris dengan proses Barbet sebagai konfigurasi proses 2 dan penggabungan proses Danish Distilleris dengan sistem pemisahan pada tekanan vakum sebagai proses 3. Kapasitas produksi etanol 95% ditetapkan 4x107 liter/tahun.hasil evaluasi proses menunjukkan kebutuhan kukus minimum/terkecil dicapai oleh proses 2, kemudian proses 1 dan proses 3, masing-masing mengonsumsi 3,23; 4,11; 4,79 kgkukus 3 atm/liter etanol. Evaluasi lebih lanjut dengan, ∆Tmin = 10 0C, peningkatan efisiensi energy diperoleh pada konfigurasi proses 1 sebesar 2,11% ( jika evaluasi melibatkan reboiler kolom pelucutan dan reboiler kolom pelucutan asetaldehid) dan 2,02% (jika tidak melibatkan) dan konfigurasi proses 2 ( jika evaluasi tidak melibatkan reboiler kolom pelucutan dan reboiler kolom pelucutan asetaldehid) dan 3 terjadi penurunan efisiensi energy. Kata kunci : evaluasi, modifikasi proses, teknologi pinch
KINETIKA REAKSI SINTHESIS BIOMATERIAL HIDROXYAPATITE DENGAN JENIS PREKURSOR NITRAT DAN ASETAT Adhi Setiawan; W Widiyastuti; Sugeng Winardi; Agung Nugroho
Reaktor Volume 15, No.2, OKTOBER 2014
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.596 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.15.2.104-110

Abstract

Hidroxyapatite (HAp) merupakan salah satu biomaterial yang banyak diaplikasikan dalam dunia medis untuk membuat implant jaringan tubuh terutama tulang dan gigi sehingga kemurnian produk HAp memegang peranan yang cukup penting. Agar diperoleh HAp dengan kemurnian tinggi, kinetika reaksi pembentukan HAp harus diketahui secara jelas. Metode yang digunakan untuk memperoleh kinetika reaksi HAp adalah dengan analisis TG-DTA  yang dilakukan pada dua jenis prekursor HAp yaitu asetat dan nitrat. Metode TG-DTA tersebut dilakukan dengan memanaskan prekursor HAp dengan variasi laju pemanasan 10, 15, 17, dan 20 oC/menit. Hasil analisis TG-DTA menunjukkan bahwa reaksi dekomposisi prekursor asetat dan nitrat membentuk HAp masing-masing terjadi pada suhu 659 oC dan 560 oC. Hasil fitting parameter kinetika menunjukkan bahwa energi aktivasi pembentukan HAp pada prekursor asetat sebesar 161,56 kJ/mol  dengan model kinetika Normal Grain Growth sedangkan pada prekursor nitrat sebesar 374 kJ/mol dengan model kinetika Johnson-Mehl-Avrami. Kata kunci: Biomaterial, hidroxypapatite, Dekomposisi, Energi Aktivasi ABSTRACT KINETIC STUDY OF THE BIOMATERIAS HIDOXYAPATITE SINTHESIS WITH PRECURSOR NITRATE AND  ACETATE. Hidroxyapatite (HAp) is one of the biomaterials widely applied in the medical world to make implant tissues of the body, especially bones and teeth so that the purity of the HAp plays a fairly important. In order to obtain high purity HAp, reaction kinetics should be known clearly. TG-DTA  is method used to obtain the reaction kinetics of HAp.TG-DTA analyzes were conducted on precursors acetate and nitrate. TG-DTA method is carried out by heating HAp precursor with variation heating rate 10, 15, 17, and 20° C/min respectively. The results of TG-DTA  showed decomposition precursor acetate and nitrate formed HAp occurs on temperature 659° C and 560° C respectively. The results of the fitting kinetic showed activation energy of  the HAp formation on acetate precursors about 161.56 kJ/mol with Normal Grain Growth kinetic model whereas the nitrate precursor about 374 kJ/mol with Johnson-Mehl-Avrami  kinetic model.
Lactic Acid Production From Cocoa Pod Husk by Studying Further the Influence of Alkaloids on Fermentation Process using Lactobacillus Plantarum Bacteria Dodi Irwanto; W. Wiratni; R. Rochmadi; Siti Syamsiah
Reaktor Volume 18 No. 1 March 2018
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.053 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.18.1.51-56

Abstract

Cocoa Pod Husk (CPH) is the biomass waste from cocoa industry, generated after the digestion process. It accounts for about 70-75% of the cocoa fresh fruit. CPH contains active compounds of alkaloids that are thought to be the inhibitors of the lactic acid fermentation process using microorganisms. This study aims to produce Lactic Acid from CPH by studying further the influence of alkaloids on fermentation process using Lactobacillus plantarum bacteria. Fermentation using Lactobacillus plantarum bacteria was carried out at 50°C and with agitation at 100 rpm in incubator shaker for 48 h. This process was conducted to determine the effect of the addition of alkaloids by analyzing through the comparison between the consumption of substrate (glucose), dry weight of the cell, and the production of lactic acid. Evaluation of the differences in the performance of microorganisms at various treatments was performed based on the parameters values of the kinetic models prepared for the case studied. The kinetic model fitting results showed that the presence of alkaloids alters the growth patterns of products from growth-associated products into mixed patterns because the products were formed during slow growth and stationary phases. The maximum growth rate (μm) and substrate inhibition constant (Ks) obtained on each variation of inhibitor addition were likely to remain constant at the values of 0.69 h-1 and 3.89 g/L respectively, as these parameters were unaffected by the addition of inhibitor
PEMUTIHAN PULP DENGAN HIDROGEN PEROKSIDA Ahmad M. Fuadi; Hari Sulistya
Reaktor Volume 12, Nomor 2, Desember 2008
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.708 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.12.2.123-128

Abstract

The use of bleaching agent has increased as the result of increasing of paper consumption. The conventional bleaching agent that commonly used is material containing of chlorine. This material is not environmentally friendly and should be replaced by environmentally benign chemical, such as H2O2. About 40 gram of dry Akasia pulp was mixed with 600 ml of distilled water was put into plastic bag heated in a water bath. When the temperature reached 630C, a solution of 4 % of H2O2 and distilled water was added to obtain 5 % consistency. This mixture was put into water bath and was heated for 2 hours. The same procedure was conducted with various concentration of H2O2, time and pH. At the end of the process, the pulp was dewatered and washed. The filtrate obtained from the initial dewatering was used to determine the residual of H2O2. The pulp was analyzed to determine brightness, fiber strength and kappa number. The maximum achievement of brightness was 62,1 % ISO, 6.86 of kappa number and 1.02 kg/15 mm of fiber strength, which are reached at16 % of the use of H2O2, pH 11 and 5 hours of bleaching time. This achievement is similar to bleaching result by the additional of 4% H2O2. Inefficient usage of H2O2 was caused by some metal ions in the pulp which facilitate the decomposition of H2O2 to produce oxygen and water which has not effect on increasing the brightness. To improve the bleach ability of H2O2, initial treatment to remove metal ions from pulp should be done. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan kertas, kebutuhan bahan pemutih juga mengalami kenaikan. Saat ini bahan pemutih yang banyak digunakan adalah senyawa yang mengandung khlor. Senyawa ini sangat tidak ramah lingkungan, oleh karena itu, perlu dicari bahan yang ramah lingkungan untuk menggantikannya. Salah satunya adalah hidrogen peroksida. Pulp dari pohon akasia sebanyak 40 gram kering dicampur dengan 600 ml aquadest dimasukkan dalam kantung plastik dipanaskan dalam water bath. Setelah suhu mencapai 630C, kantung plastik diambil kemudian ditambah hidrogen peroksida sebanyak 4% dari pulp kering dan aquadest sehingga mencapai konsistensi 5%. Campuran dimasukkan kedalam water bath untuk dipanaskan lebih lanjut hingga 2 jam. Hal yang sama dilakukan pada berbagai kadar hidrogen peroksida, waktu dan pH. Pada akhir proses, pulp dipisahkan dengan filtratnya dan dicuci dengan aquades. Filtrat yang diperoleh dianalisa sisa hidrogen peroksidanya. Pulp yang diperoleh dianalisa derajat putih, kekuatan serat serta bilangan kappanya. Maksimum derajat putih yang bisa dicapai adalah 62,1% ISO, bilangan kappa 6,86 dan fiber strength 1,02 kg/15mm yang dicapai pada pemakaian H2O2 16%, pH 11 selama 5 jam. Pencapaian ini hampir sama dengan hasil yang dicapai ketika penambahan H2O2 4%. Ketidak efektifan pemakaian H2O2 disini disebabkan oleh adanya beberapa metal ion yang ada di dalam pulp yang bertindak sebagai katalisator terjadinya reaksi dekomposisi dari H2O2 membentuk oksigen dan air yang tidak efektif dalam memberikan efek terhadap proses pemutihan. Untuk meningkatkan bleach ability dari hydrogen peroksida, perlu dilakukan treatment awal untuk mengeluarkan metal ion dari pulp.

Page 1 of 49 | Total Record : 484


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Volume 22 No.2 Agustus 2022 Volume 22 No. 1 April 2022 Volume 21 No.4 December 2021 Volume 21 No. 3 September 2021 Volume 21 No. 2 June 2021 Volume 21 No. 1 March 2021 Volume 20 No.4 December 2020 Volume 20 No.3 September 2020 Volume 20 No.2 June 2020 Volume 20 No.1 March 2020 Volume 19 No. 4 December 2019 Volume 19 No. 3 September 2019 Volume 19 No. 2 June 2019 Volume 19 No. 1 March 2019 Volume 18 No. 4 December 2018 Volume 18 No. 3 September 2018 Volume 18 No. 2 June 2018 Volume 18 No. 1 March 2018 Volume 17 No.1 Maret 2017 Volume 17 No. 4 Desember 2017 Volume 17 No. 3 September 2017 Volume 17 No. 2 Juni 2017 Volume 16 No.4 Desember 2016 Volume 16 No.3 September 2016 Volume 16 No.1 Maret 2016 Volume 16 No. 2 Juni 2016 Volume 15 No.4 Oktober 2015 Volume 15 No.3 April 2015 Volume 15, No.2, OKTOBER 2014 Volume 15, No.1, APRIL 2014 Volume 14, No. 4, OKTOBER 2013 Volume 14, No. 3, APRIL 2013 Volume 14, Nomor 2, Oktober 2012 Volume 14, Nomor 1, April 2012 Volume 13, Nomor 4, Desember 2011 Volume 13, Nomor 3, Juni 2011 Volume 13, Nomor 2, Desember 2010 Volume 13, Nomor 1, Juni 2010 Volume 12, Nomor 4, Desember 2009 Volume 12, Nomor 3, Juni 2009 Volume 12, Nomor 2, Desember 2008 Volume 12, Nomor 1, Juni 2008 Volume 11, Nomor 2, Desember 2007 Volume 11, Nomor 1, Juni 2007 Volume 10, Nomor 2, Desember 2006 Volume 10 No. 1 Juni 2006 Volume 09 No.1 Juni 2005 Volume 09 No. 02 Desember 2005 Volume 08 No.2 Desember 2004 Volume 08 No.1 Juni 2004 Volume 07 No.2 Desember 2003 Volume 07 No. 1 Juni 2003 Volume 6 No. 2 Desember 2002 Volume 6 No. 1 Juni 2002 Volume 5 No.2 Desember 2001 Volume 5 No. 1 Juni 2001 Volume 3 No.1 Desember 1999 More Issue