cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Jurnal Technopreneur (JTech)
Published by Politeknik Gorontalo
ISSN : 22524002     EISSN : 2548558x     DOI : -
Jurnal Technopreneur (Technology & Entrepreneur) adalah jurnal ilmiah tentang hasil-hasil penelitian dan pengetahuan sistematis tentang rekayasa dan teknologi, dalam bidang teknologi pertanian dan teknik mesin, Teknik Informatika dan Teknologi Hasil Pertanian. Terbit pertama kali tahun 2012 dengan terbitan 2 kali setahun pada bulan Mei dan bulan November.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 1 (2021): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)" : 8 Documents clear
MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS FITUR MIND MAP Lanto Ningrayati Amali
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 9 No 1 (2021): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtech.v9i1.649

Abstract

Media pembelajaran berfungsi sebagai pendorong motivasi siswa untuk belajar dan mempertinggi daya serap siswa. Penelitian ini bertujuan untuk merancang media pembelajaran dengan fitur mind map. Penelitian dilakukan di SMK Negeri 5 Gorontalo dengan subjek penelitian adalah siswa kelas x jurusan teknik komputer jaringan pada mata pelajaran komputer dan jaringan dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) model pembelajaran ADDIE dengan tahapan adalah analisis, desain, pembangunan, implementasi, dan evaluasi. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara, observasi serta angket penilaian dari ahli materi, ahli media dan pengguna (siswa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentase kelayakan media pembelajaran menurut ahli materi sebesar 96%, presentase kelayakan menurut ahli media sebesar 91% serta respon pengguna sebesar 96.45%. Produk berupa media pembelajaran dengan fitur mind map pada mata pelajaran Komputer dan Jaringan Dasar ini memiliki tingkat validitas kelayakan yang tinggi sesuai penilaian para ahli dan dinyatakan sangat layak untuk digunakan pada pembelajaran komputer dan jaringan dasar
PEMBUATAN BOBA KOPI BIJI SALAK SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL SUMBER ANTIOKSIDAN Kristian Triatmaja Raharja; Anis Nur Chabibah; I Wayan Sudarmayasa; Ita Fatkhur Romadhoni
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 9 No 1 (2021): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtech.v9i1.690

Abstract

Biji salak yang tidak dikonsumsi secara langsung sebagai pangan ternyata memiliki potensi nilai tambah produk. Kopi biji salak terbukti memiliki kandungan kafein yang rendah, senyawa antioksidan, dan memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Minuman boba adalah komoditas minuman dengan penjualan yang tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji proses pembuatan boba kopi biji salak, dan mengetahui pengaruh penambahan ekstrak kopi biji salak terhadap sifat sensori, dan aktivitas antioksidan boba. Studi eksperimental menggunakan desain rancangan acak lengkap, dengan perlakuan penambahan ekstrak kopi biji salak sebesar 20% (X1), 40% (X2), 60% (X3), 80% (X4), dan 100% (X5). Daya terima panelis terhadap produk boba dianalisis dengan uji hedonik. Aktivitas antioksidan dianalisis dengan metode penangkapan radikal DPPH, dan antioksidan asam askorbat digunakan sebagai kontrol pembanding. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa penambahan ekstrak kopi biji salak berpengaruh nyata terhadap parameter warna, aroma, rasa, dan keseluruhan, namun tidak berpengaruh pada tekstur. Pada uji DPPH, penambahan ekstrak kopi biji salak berpengaruh nyata terhadap aktivitas antioksidan boba. Produk terbaik berdasarkan uji hedonik untuk keseluruhan atribut sensori adalah produk boba dengan penambahan ekstrak kopi biji salak 100% (X5), dengan skor 4,13 (skala penerimaan suka - sangat suka). Produk X5 memiliki aktivitas antioksidan dengan kategori rendah dengan Nilai IC50 391,0 μg/mL.
ANALISIS MATEMATIS PENGELASAN GREY CAST IRON MENGGUNAKAN PROSES GTAW DENGAN DAN TANPA PREHEAT Doty Dewi Risanti
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 9 No 1 (2021): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtech.v9i1.698

Abstract

Pemberian pemanasan awal pada proses pengelasan memberikan efek pengurangan tegangan, distorsi, retakan dan kekerasan pada daerah Heat Affected Zone (HAZ) dengan memperlambat laju pendinginan. Distribusi temperatur saat pengelasan didekati dengan menggunakan persamaan analitik Rosenthal pada logam grey cast iron. Grey cast iron termasuk sulit untuk dilas dan memerlukan perlakuan khusus. Pada penelitian ini, perhitungan distribusi temperatur dan laju pendinginan dibandingkan dengan struktur mikro dan kekerasan untuk grey cast iron yang dilas dengan menggunakan Gas Tungsten Arc Welding (GTAW). Persamaan Rosenthal dengan solusi Bessel hanya cocok untuk distribusi temperatur pada daerah lelehan, sedangkan solusi quasi steady state dapat digunakan untuk prediksi distribusi temperatur arah lateral dan transversal pada logam lasan. Preheating pada suhu 315 berpengaruh pada lebar HAZ yang dihasilkan menurut persamaan eksponensial terhadap travel speed, memperlambat laju pendinginan dan menurunkan kekerasan karena berkurangnya carbon equivalent (CE). Struktur mikro HAZ pada grey cast iron yang diberi preheating menunjukkan dominasi martensit nikel dan eutektik ledeburit, sedangkan tanpa preheating menghasilkan struktur mikro didominasi oleh eutektik ledeburit dan besi karbida dalam white iron.
TINGKAT KESESUAIAN FISIK LAHAN UNTUK PERKEBUNAN KOPI DI NAGARI AIE DINGIN KECAMATAN LEMBAH GUMANTI SUMATERA BARAT INDONESIA ade irma suryani
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 9 No 1 (2021): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtech.v9i1.716

Abstract

This study answers research questions about: (1). The depth of the coffee plantation land in Nagari Aie Dingin, Lembah Gumanti District, Solok Regency. (2). The slope of the coffee plantation slope in Nagri Aie Dingin Lembah Gumanti District Solok Regency (3). Soil texture of coffee plantations in Nagari Aie Dingin Lembah Gumanti District Solok Regency (4). Coffee plantation structure in Nagari Aie Dingin Lembah Gumanti District Solok Regency (5). The suitability level of coffee plantation land in Nagari Aie Dingin Kecamatan Lembah Gumanti Solok Regency Type of Research This is a quantitative descriptive study. The sampling of this research was carried out by random technique, as many as 3 research areas. Based on land units obtained from overlapping overley sloping maps, land maps, geological maps, landform maps and land use maps. There are 210 different land units in the study area. Based on field analysis, it was found that the physical characteristics of Nagari Aie Dingin seen from the land unit land suitability level consists of two levels: K2.III.Tomp.Km.Sb land unit included in the land suitability level (accordingly). D2.III.Pb.Km.Ht land unit and D2.1.Qv.Km.Sb land unit are included in the land level (not suitable).
PHYSICAL AND CHEMICAL QUALITY CHARACTERISTICS OF CORN TORTILLAS WITH SUBSTITUTE PURPLE SWEET POTATO FLOUR Nurfitrianti Bulotio; Adnan Engelen; Nursia Lateka
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 9 No 1 (2021): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtech.v9i1.721

Abstract

This study aimed to test the physical and chemical quality characteristics of corn tortillas with substitute purple sweet potato flour. This study used a completely randomized design (CRD) and LSD test if there was a significant effect. The tests carried out included organoleptic tests, air content analysis, ash content analysis, color analysis and texture analysis. The results showed that the best formulation of tortillas chips was a P4 treatment with the addition of 75% purple sweet potato flour: 25% corn, with a texture value of 4.267, taste 4.75 and aroma 4.56 and for the best color treatment found in the addition of P3 had a value of 4.31. The best treatment in the chemical analysis is the P4 treatment had a color value of -10.93, moisture content of 8.94 and ash content of 2.57. For texture analysis test the highest treatment was P2 treatment with the addition of 25% purple sweet potato flour: 75% corn with a value of 1139.15.
REVITALISASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS) PADA SISTEM MICROGRID PULAU TOMIA Putu Pramana; Kevin Gausultan Hadith Mangunkusumo; Handrea Bernando Tambunan; Dhandis Rito Jintaka
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 9 No 1 (2021): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtech.v9i1.724

Abstract

Pulau Tomia merupakan salah satu pulau di Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara yang menggunakan konsep microgrid untuk melistriki masyarakatnya. Konsep microgrid tersebut mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Namun, saat ini kondisi sistem PLTS di Pulau Tomia tidak dapat memproduksi listrik karena terjadi permasalahan dan berdampak pada potensi energy not served (ENS) serta kerugian investasi dalam pembangunan sistem microgrid. Dalam makalah ini dijelaskan proses revitalisasi pada sistem PLTS di Pulau Tomia dengan harapan makalah ini dapat menjadi referensi pada proses revitalisasi PLTS di lokasi lainnya. Proses revitalisasi pada PLTS Tomia dilaksanakan melalui beberapa tahapan yaitu review desain eksisting PLTS Tomia, investigasi penyebab gangguan, inisiatif perbaikan, dan desain ulang PLTS Tomia. Dari hasil investigasi gangguan dapat diketahui bahwa penyebab tidak beroperasinya PLTS Tomia adalah gangguan pada rangkaian PLTS, Grid Tied Inverter (GTI), dan elemen penyimpan (baterai). Berdasarkan hasil analisa lebih lanjut, didapatkan inisiatif perbaikan yang dapat ditindaklanjuti dengan hasil terbaik dan cara yang termudah, yaitu melakukan desain ulang pada rangkaian combiner box PLTS dan mengimplementasikan konsep GTI modular. Hal tersebut dilakukan agar keandalan PLTS tetap terjaga jika salah satu GTI mengalami permasalahan. Hasil revitalisasi menunjukkan bahwa nilai kualitas daya berupa harmonisa tegangan dan arus yang dihasilkan oleh GTI telah memenuhi standar. Selain itu, PLTS Tomia hasil revitalisasi mampu menghasilkan potensi penghematan Biaya Pokok Produksi (BPP) Listrik yang semula adalah sebesar Rp. 3080/kWh menjadi Rp. 2983/kWh.
EVALUASI PENERAPAN TEKNOLOGI DIGITAL SUBSTATION DI INDONESIA Achmad Syerif Habibie; Muhammad Ridwan; Putu Agus Aditya Pramana; Brian Bramantyo Satriaji Dwi Adiputro Harsono; Muhammad Said Al Manshury
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 9 No 1 (2021): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtech.v9i1.725

Abstract

Perkembangan pemanfaatan teknologi informasi dalam sektor ketenagalistrikan mendorong perkembangan teknologi gardu induk konvensional ke arah Digital substation. Sebagai pertimbangan sebelum diimplementasikan di PT PLN (Persero), maka dilakukan kajian literatur terkait standar, protokol komunikasi, network redundancy, time synchronization, serta kelebihan dan isu pada teknologi tersebut seperti yang disajikan pada makalah ini; selain itu, diskusi dengan pabrikan Digital substation yang ada di Indonesia juga dilakukan untuk memperkaya studi literatur yang dilakukan. Teknologi Digital substation mengacu pada standar IEC 61850, dapat dilengkapi dengan network redundancy berupa parallel redudancy protocol (PRP) atau high-availability seamless redudancy (HSR), serta precission time protocol (PTP) untuk kebutuhan sinkronisasi waktunya. Digital substation memiliki banyak kelebihan diantaranya yaitu kebutuhan copper wire yang rendah, transportasi dan space yang lebih sedikit, instalasi peralatan sekunder lebih singkat, penghematan biaya (instalasi, operasi, dan pemeliharaan), pemadaman lebih singkat, peningkatan keamanan dan utilisasi aset. Sedangkan isu yang ada pada Digital substation diantaranya maturity, interoperability, reliability, time synchronisation, network configuration dan bandwith management, cyber security, mixed mode, backward compatibility, suhu dan kelembaban. Selain itu, masih terdapat permasalahan pada substation automation system (SAS) yang sudah terpasang dalam rangka menuju teknologi Digital substation, namun belum tertangani dengan baik. Maturity level dari teknologi Digital substation menjadi bahan pertimbangan dalam penerapan teknologi tersebut di sistem ketenagalistrikan.
KARAKTERISTIK PETIR INDONESIA DAN PENGGUNAANNYA DALAM EVALUASI UNJUK KERJA SALURAN UDARA 150 KV SAAT TERJADI SAMBARAN PETIR Brian Bramantyo Satriaji Dwi Adiputro Harsono; Anindita Satria Surya; Kevin Gausultan Hadith Mangunkusumo; Andreas Putro Purnomoadi
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 9 No 1 (2021): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtech.v9i1.726

Abstract

Berdasarkan data historis, gangguan saluran transmisi udara di Indonesia mayoritas disebabkan oleh sambaran petir; hal tersebut mendorong PT PLN (Persero) sebagai perusahaan listrik milik negara untuk mengevaluasi unjuk kerja saluran udara terhadap sambaran petir. Pada makalah ini disajikan evaluasi karakterisasi petir menggunakan rekam data sistem deteksi petir/LDS (studi kasus untuk Jawa Barat) meliputi: jumlah sambaran, persentase polaritas, nilai modus arus puncak, persentase kejadian kumulatif, serta peta kerapatan petir. Evaluasi unjuk kerja saluran dilakukan melalui 1) simulasi tegangan lebih menggunakan perangkat lunak transient pada pemodelan saluran 150 kV untuk mengetahui korelasi arus puncak petir terhadap kenaikan tegangan pada insulator saat terjadi sambaran petir dan 2) evaluasi sudut lindung menggunakan Electro Geo-metric Model (EGM). Berdasarkan pengolahan data tahun 2018-2020, terdapat fluktuasi total kejadian petir per tahun dimana 84,63% (σ= 1,71) dari kejadian merupakan petir polaritas negatif. Modus nilai arus puncak petir adalah 12,33 kA (σ= 1,52), sementara persentase kejadian kumulatif memiliki knee point pada nilai 40 kA. Pola kerapatan petir tertinggi tidak mengalami perbedaan signifikan selama periode pengamatan dan bulan ke-7 merupakan periode dengan kejadian petir terendah. Hasil simulasi sambaran petir 40 kA pada kawat pembumiaan menunjukkan bahwa insulator mengalami kenaikan tegangan hingga 1083 kV; hal tersebut mendekati nilai Basic Impulse Insulation Level (BIL) dari insulator. Desain sudut lindung mampu mencegah shielding failure untuk arus petir ≥11 kA; meskipun demikian, perlu dicatat bahwa shielding failure akibat petir 10 kA menyebabkan kenaikan tegangan insulator melebihi nilai BIL. Peningkatan unjuk kerja saluran transmisi 150 kV tersebut dapat dilakukan dengan didasari oleh pertimbangan risk, cost dan benefit yang komprehensif.

Page 1 of 1 | Total Record : 8