cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Ekspresi Seni
ISSN : 14121662     EISSN : 25802208     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Journal of Ekspresi Seni, published by ISI Padangpanjang Journal Publisher in cooperation with The Aliance of Indonesian Industrial Product Designer (ADPII), welcomes full research articles in the area of Performance Art, Culture from the following subject areas: Design History, Art History, Visual Culture, Design Methodology, Design Process, Design Discourse, Design and Culture, Sociology Design, Design Management, Art Critism, Anthropology of Art, Artifact Design, Industrial Design, Visual Communication Design, Photography, Interior Design, Craft, Architecture, Film, Multimedia, Creative Industry, Design Policy, and other historical, critical, cultural, psychological, educational and conceptual research in visual art and design
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni" : 10 Documents clear
KREATIVITAS DAN IMAJINASI SUTRADARA MEMBANGUN PERISTIWA TEATER MENUJU RUANG PUBLIK Yusril, Yusril
Ekspresi Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.233 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v14i1.190

Abstract

Peristiwa teater di ruang publik dibangun oleh daya kreativitas dan imajinasi sutradara yang tinggi. Teater harus akrab dengan masyarakatnya sehingga tidak ada jarak antara tontonandengan apa yang ditonton. Teater Orang-Orang Bawah Tanah sebagai pengisi ruang kreatif menawarkan definisi baru terhadap konsep teater modern Indonesia. Memanfaatkan ruang publik yang lebih luas menjadikan bentuk teater ini disebut juga sebagai teater “akrab”. Teater ini akrab dengan ruang, pemain, dan penonton sehingga pertunjukan menjadi milik publik yang berada dalam ruang yang sama. Pertunjukan teater di ruang publik memiliki idiom-idiom tertentu yang sekaligus menjadi kekhasan yang tidak dimiliki pertunjukan yang dipentaskan di gedung prosenium maupun arena. Ruang publik juga memiliki tantangan dalam penggarapan sebuah teater. Ruang tanpa batas memungkinkan untuk dieksplorasi agar tontonan menjadi akrab dengan masyarakatnya. Teater akrab ini tidak hanya mengakrabkan dirinya dengan masyarakat penonton namun juga mengakrabkan seluruh hal seperti naskah dengan sutradara, sutradara dengan aktor, pemusik dan pendukung lainnya. Keakraban ini memunculkan sesuatu yang memiliki nilai yang sangat demokratis dalam penggarapan sebuah pertunjukan.
DEDENG: NYANYIAN UPACARA TURUN KE LADANG ETNIK MELAYU LANGKAT, PESISIR TIMUR SUMATERA UTARA Zulfahmi, Muhammad
Ekspresi Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.925 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v14i1.180

Abstract

Musik vokal dedeng merupakan salah satu genre kebudayaan musikal etnik Melayu Langkat Pesisir Timur Sumatera Utara. Musik vokal dedeng  dinyanyikan pada saat kegiatan adat dalam tiga aktifitas agricultural  yaitu pada saat upacara penebangan hutan untuk lahan pertanian disebut dedeng padang reba, menanam benih di lahan  disebut dedeng mulaka nukal dan pada saat aktifitas musim panen tiba. Ditinjau dari sudut konteks penyajiannya, musik vokal dedeng dapat dikategorikan kepada nyanyian yang bersifat sakral dan religi animisme. Teks-teks dedeng berisi tentang himbauan, permohonan, dan harapan yang ditujukan kepada dua hal yakni kepada manusia dan kepada alam. Kepada manusia ditujukan sebagai himbauan untuk bekerja sama mengerjakan lahan pertanian, sedangkan kepada alam ditujukan untuk meminta izin kepada penunggu hutan yang terdiri roh-roh gaib, binatang buas, dan hama-hama tanaman, agar tidak mengganggu aktifitas atau menghalangi keinginan   mereka untuk merintis dan mendapatkan hasil pertanian yang melimpah.
AKULTURASI MUSIK MINANG PADA MUSIK TARI PAYUNG DALAM PERTUNJUKAN RONGGENG Nofridayati, Nofridayati
Ekspresi Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.372 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v14i1.181

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengetahui musik  tari Payung dalam pertunjukan ronggeng yaitu  keberadaan dan bentuknya. Keberadaan musik  tari Payung pada dasarnya lebih mengarah pada teknik. Teknik yang dimaksud meliputi penyajian musik dan vokalnya. Dalam penyajiannya terjadi akulturasi di mana tarian maupun musiknya terdapat nuansa selendro (Jawa), Gamad (Melayu) dan Minangkabau (pantun-pantunnya). Para penari terdiri dari 3 orang yang secara bergantian berperan baik untuk menyanyi maupun untuk menari (1 orang menari memegang payung dan 1 orang lagi memegang selendang). Ketika salah satu bernyanyi yang lainnya menari. Uniknya dalam bernyanyi mereka menyanyikan melodi lebih tinggi 1 oktaf untuk mengakhiri setiap frase dari melodi tersebut yang disebut nada pakiak. Nada pakiak ini dinyanyikan dalam satu pernafasan.
ISLAM DAN BUDAYA MELAYU: DALAM MEWUJUDKAN VISI INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) PADANGPANJANG Eriswan, Eriswan
Ekspresi Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.254 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v14i1.176

Abstract

Melayu adalah salah satu rumpun dalam kawasan peradaban Islam. Islam adalah identitas dari kepribadian orang Melayu, dan merupakan agama satu-satunya bagi sub kultur Melayu. Institut Seni Indonesia (ISI)  Padangpanjang memiliki pola ilmiah sebagai pusat kajian Melayu, dengan pendekatan filosofis“ Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah“ yang  merupakan implementasi Budaya Melayu-Budaya Islam.
KONTINUITAS DAN PERUBAHAN BENTUK SERTA MAKNA LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA Mintargo, Wisnu; Soedarsono, R.M; Ganap, Victor
Ekspresi Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.065 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v14i1.185

Abstract

The main obyective of this paper is to analyze function of the song of Indonesian strugle in connection to the Indonesian independence from 1945 to 1949 viewed from the perspective of history. Through this analysis we hope that the process of history in the past can be reconstructed, especialy the history of music development in Indonesia; the background of the use of the songs of indonesian struggle in particular.  One of the important aspects in this writing is the function of the song of Indonesian struggle which is divided in one part, firsly, constructive function of the song for ceremonies include advice of the development. The ceremonial character are shown in the song of “Indonesia Raya”, the national anthem.
KOMPOSISI MUSIK KASANG BAJUNDAI Suharti, Suharti
Ekspresi Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.096 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v14i1.182

Abstract

Kehadiran teknologi industri dan perkembangan music-musik popular sangat memberikan pengaruh terhadap perkembangan musik-musik tradisi, sehingga pesatnya/ desakan music popular telah dapat memarjinalkan eksistensi kesenian tradisi khususnya (kesenian tari Benten) yang seyogyanya merupakan jati diri kebudayaan masyarakat Pesisir Selatan Minangkabau Sumatera Barat yang sangat pantas dilestarikan hingga sekarang. Berdasarkan fenomena yang rerjadi pada kesenia tersebut di atas, maka menarik untuk ditulis ke dalam sebuah jurnal dengan rumusan penciptaan sebagai berikut: (1) bagaimana bentuk komposisi music Kasang Bajundai setelah digarap melodi, ritem dan syairnya, (2) bagaimana karakteristik Komposisi Kasang Bajundai sebagai sebuah komposisi baru yang berangkat dari Dendang Kasang iringan Tari Benten dengan focus  pendekatan konsep re-interpretasi tradisi. Adapun teknik garap yang digunakan di dalam Komposisi Kasang Bajundai ini yakni seperti: kanon, harmonisasi, coll and respon, dinamik, pengolahan tempo dan pengembangan melodi serta ritme adok. Komposisi Kasang Bajundai ini didukung oleh beberapa intrumen music seperti: adok, suling, vocal, gitar elektrik, akordion, tabla, bass electrik serta drum.
ALAT MUSIK TIUP: BANSI DALAM RITUAL PENYADAPAN ENAU DI NAGARI SARUASO MINANGKABAU Budaya, Arga
Ekspresi Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1679.875 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v14i1.166

Abstract

Bansi adalah alat musik tiup dari bambu jenis tolang. Di nagari Saruaso, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat digunakan Tukang Sadok Onou untuk proses penyadapan enau. Proses tersebut erat hubungannya dengan kepercayaan dan keyakinan beragama Islam, serta tradisi masyarakat Saruaso yang mengandung aspek magic/magis. Kegiatan Tukang Sadok Onou ataupun yang menyerupainya [dalam pandangan peneliti] secara umum tergolong bentuk-bentuk upacara/ritual dalam kebudayaan suku-bangsa Melayu yang jauh lebih luas, terkhususkan pada etnik Minangkabau
Karya Teater Rancak di Labuah (Inikah Sistem Itu ?) Susanti, Desi
Ekspresi Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.41 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v14i1.174

Abstract

Perkembangan zaman dan pengaruh era globalisasi, perubahan sosial telah dan akan terus terjadi, mungkin terjadi sebagai perkembangan dari dalam masyarakat itu sendiri, mungkin pula terjadi karena persentuhan dengan masyarakat lain, kebudayaan lain ataupun di atur oleh pemerintah. Ketika perubahan sosial itu terjadi, ada aspek lain dalam masyarakat itu yang turut berubah, antara lain seni dan budaya. Pertunjukan Rancak di Labuah (Inikah Sistem Itu ?) terinspirasi dari fenomena perubahan sistem sosial masyarakat Minangkabau. Adapun peristiwa yang hadir dalam penceritaan tentang pergeseran fungsi dan peran seorang mamak yang membawa pengaruh pada perubahan sikap dan prilaku kemenakan di Minangkabau yang menganut sistem matrilineal.
ALFALAH DAN TALEMPONG GOYANG DI ERA IPTEKS Admawati, Admawati
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.274 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v14i1.171

Abstract

?Alfalah dan Talempong goyang? mempermasalahkan tentang bagaimana Talempong Rea di Jorong Koto Kecil Kabupaten Lima Puluh Kota berkembang dan berubah menjadi Talempong goyang. Talempong Tradisi Minangkabau yang berkembang menjadi Talempong goyang hanya terdapat di Jorong Koto Kecil, Kabupaten Lima Puluh Kota dan Padangpanjang. Alfalah adalah salah satu pemain Talempong goyang dari grup Singgalang, dia membentuk grup musik talempong yang diberi nama talempong goyang Alfa Musik.
“EKSPRESI MASYARAKAT MINANGKABAU DALAM MENCARI KATA MUFAKAT”: STUDI KASUS Lazuardi, Lazuardi
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 14, No 1 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.875 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v14i1.178

Abstract

Sastra daerah di Minangkabau dipaparkan antara lain melalui rangkaian petatah-petitih berbentuk pantun, cerita, pasambahan, pidato, dan khotbah yang menggambarkan segala sesuatu, entah itu alam, sejarah, dan aturan-aturan dalam kehidupan sosial. Hal ini  berlaku di setiap nagari (adat selingkar nagari), namun mempunyai tujuan yang sama. Kata bayang (kiasan) dan bertikam jajak (ulang bana) menunjukan kedinamisan masyarakat minangkabau. Keduanya sama-sama ?baik?. Kita tidak dapat mengatakan yang satu lebih unggul dari pada yang lainnya. Ini termasuk milik masyarakat Minangkabau. Berdasarkan sejarah kita juga sulit menelusuri apakah peninggalan yang diwariskan dua orang tokoh legendaris, yakni Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Ketumanggungan. Kedua aliran ini terdapat pula pada kedua keselarasan, dan tidak ada yang mayoritas dari masing-masing  Nagari. Ekspresi yang disampaikan dalam bentuk pasambahan adalah rangkaian petatah-petitih, pantun setelah disampaikan melahirkan estetika tersendiri.

Page 1 of 1 | Total Record : 10