cover
Contact Name
Mokhamad Fakhrul Ulum
Contact Email
ulum@apps.ipb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arshivetlett@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
ARSHI Veterinary Letters
ISSN : -     EISSN : 25812416     DOI : -
Core Subject : Health, Agriculture,
ARSHI Veterinary Letters (ARSHI Vet Lett) (e-ISSN 2581-2416) is an open access, peer-reviewed, online journal that publishes original manuscript should be produced from latest scientific results which not last than 5 years in all areas of veterinary sciences. Manuscripts is written in Indonesian or English ARSHI Vet Lett includes a rapidly and briefly updated scientific study with not only limited to reports of case study but also covering all aspects of practical clinical science in veterinary medical services. ARSHI Vet Lett is published by the Faculty of Veterinary Medicine of the Bogor Agricultural University (FKH IPB) in collaboration with the Indonesian Veterinary Hospital Association (ARSHI). This journal is published since 2017 (first in mid of the year, volume 1, published in 2 issue i.e. August and November), and next volume will publish 4 (four) times in 1 (one) year, i.e. in February, May, August, and November.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2021): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2021" : 6 Documents clear
Uji kepekaan Staphylococcus koagulase negatif (CoNS) dari swab kloaka burung hantu asal Depok Wijaya, Michella Hoseana; Mustika, Aulia Andi; Afiff, Usamah
ARSHI Veterinary Letters Vol. 5 No. 2 (2021): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.5.2.33-34

Abstract

Burung hantu merupakan burung pemangsa nokturnal yang saat ini banyak dijadikan hewan peliharaan di Indonesia. Namun informasi terkait penyakit dan pengobatan burung hantu masih sangat terbatas. Pengawasan penggunaan antibiotik di Indonesia juga masih lemah sehingga dapat terjadi resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan mengetahui kepekaan bakteri Staphylococcus Koagulase Negatif (CoNS) dari swab kloaka satu ekor Javan owlet (Glaucidium castanopterum) dan dua ekor buffy fish owl (Ketupa ketupu) yang berasal dari penangkaran burung hantu di Depok terhadap lima jenis antibiotik menggunakan metode Kirby-Bauer. Hasil penelitian menunjukkan bakteri CoNS dari swab kloaka satu ekor javan Owlet dan satu ekor buffy fish owl resisten terhadap eritromisin, namun kedua isolat ini masih sensitif terhadap gentamisin, siprofloksasin, doksisiklin dan tetrasiklin. Untuk isolat ketiga yang berasal dari satu ekor buffy fish owl masih sensitif terhadap kelima antibiotik yang diujikan
Kasus swimmer syndrome pada seekor anak kucing Mihardi, Arief Purwo; Natania, Kaela; Sanjaya, Klasta Javasea; Wulandari, Eka D.; Suryani, Arni
ARSHI Veterinary Letters Vol. 5 No. 2 (2021): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.5.2.21-22

Abstract

Swimmer syndrome merupakan kondisi gangguan muskuloskeletal kongenital yang dapat terjadi pada anak kucing yang menyebabkan kaki menjadi terbuka ke arah lateral dan menyebabkan postur seperti katak. Seekor anak kucing persia betina bernama NN berusia 2 minggu dibawa ke Klinik Hewan Pet Vet menunjukkan gejala klinis mengalami kesulitan berjalan dengan gerakan seperti berenang. Pemeriksaan fisik menunjukkan kucing memiliki flat chest sehingga pernafasan terlihat dangkal dan cepat. Anak kucing didiagnosa mengalami swimmer syndrome. Terapi yang dilakukan terhadap anak kucing yaitu dengan memakaikan alat penahan pada bagian dada yang berbentuk setengah lingkaran. Alat ini diikatkan melingkari bagian dada dan dikenakan setiap hari. Perkembangan yang cukup baik ditunjukkan setelah 7 hari, dimana NN mulai dapat mengangkat tubuh dan dapat berjalan secara normal. Penggunaan alat bantu sebagai terapi pada kasus ini tetap diteruskan karena pembentukan tulang bagian dada yang belum sempurna.
Use of the MLX 90164 sensor and the ThingSpeak platform for internet of things-based animal body temperature check Arif, Ridi; Muminin, Okta Irviana; Wulandari, Nenis Rahma; Santoso, Koekoeh; Wibawa, Dhani S.
ARSHI Veterinary Letters Vol. 5 No. 2 (2021): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.5.2.35-36

Abstract

Sensor MLX 90614 adalah sensor IR yang digunakan untuk mengukur suhu tanpa kontak. Sensor ini dapat mengukur suhu objek dan suhu lingkungan pada kisaran -40 oC – 125 oC. Sensor ini banyak digunakan di berbagai bidang seperti pengukuran suhu ruangan, suhu mesin, suhu lingkungan, dan suhu tubuh. Sensor MLX 90614 belum sepenuhnya dapat digunakan secara langsung untuk melakukan pengukuran suhu karena default program yang sederhana sehingga hasil pengukuran tidak akurat. Oleh karena itu diperlukan optimasi untuk meningkatkan nilai presisi pendugaan suhu internal tubuh menggunakan sensor ini. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan 6 ekor domba percobaan. Pemeriksaan suhu dilakukan melalui termometer kontak dan dibandingkan dengan pemeriksaan non-kontak oleh sensor MLX 90614. Hasil penelitian menunjukkan suhu rata-rata termometer kontak adalah 39,28±0,09 oC sedangkan hasil sensor MLX adalah 35,78±1,38 oC. Perbedaan suhu rata-rata adalah 3,5±1,48 oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor koreksi perbedaan suhu perlu dimasukkan dalam kode skrip saat menjalankan sensor MLX 90614. Hasil pemeriksaan suhu oleh sensor dapat langsung dikirim secara real time ke platform ThingSpeak sehingga hasilnya dapat disimpan dan diakses di berbagai tempat dengan mudah. Penggunaan sensor MLX 90614 yang dipadukan dengan konsep IoT menggunakan ThingSpeak dapat mempermudah proses pemeriksaan suhu tubuh non-kontak, serta membuat data dapat diakses dan disimpan dengan mudah.
Kecacingan pada saluran pencernaan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) Purnama, Rizky Diyu; Tiuria, Risa; Darusman, Huda Salahudin
ARSHI Veterinary Letters Vol. 5 No. 2 (2021): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.5.2.37-38

Abstract

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan satwa primata yang sering ditangkarkan dan digunakan sebagai hewan coba terutama dalam pengujian vaksin dan obat. Salah satu gangguan kesehatan yang perlu diantisipasi dalam upaya penangkaran adalah kecacingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis telur cacing dan derajat infeksi kecacingan pada monyet ekor panjang. Sampel feses dari 26 monyet ekor panjang diambil dan dianalisa meggunakan metode McMaster dan metode Kato-Katz. Hasil pemeriksaan menunjukkan 4 sampel feses ditemukan telur cacing Trichuris Sp. dan Strongylid dengan kategori derajat infeksi ringan
Othematoma pada kucing Persia di Klinik Satwagia BPC Nasheer, Ana Rufaidah; Alwina, Reinilda
ARSHI Veterinary Letters Vol. 5 No. 2 (2021): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.5.2.25-26

Abstract

Seekor kucing betina ras Persia yang berusia 3 tahun mengalami pembengkakan pada telinga kiri. Keadaan kedua telinga kotor dan ditemukan adanya discharge nasal bewarna putih keruh saat dilakukan pemeriksaan di Klinik Satwagia BPC. Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan serumen telinga secara mikroskopis dan hematologi dilakukan sebelum keputusan pembedahan. Tindakan yang diambil adalah pembedahan telinga sebelah kiri dengan pengobatan pasca bedah yaitu injeksi asam traneksamat intravena, antibiotik amoxilin subkutan, tolfenamic acid intramuskular, mulitivitamin dan imunomodulator per oral. Setiap hari luka sayatan diolesi salep biogenta dan dilakukan pemasangan balut tekan pada telinga selama 2 minggu. Luka terlihat mulai mengering dan kucing sudah beraktivitas normal setelah 1 minggu pascabedah.
Chronic kidney disease pada kucing domestic short hair Handayani, Andrea Puput; Handayani, Vici Eko; Widyaputri, Tiara
ARSHI Veterinary Letters Vol. 5 No. 2 (2021): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.5.2.23-24

Abstract

Chronic kidney disease (CKD) merupakan kelainan struktural dan fungsional ginjal yang bersifat irreversibel, sehingga ginjal mengalami penurunan hingga kehilangan fungsinya. Kasus ini ditulis untuk melaporkan proses penentuan diagnosa dan penanganan CKD pada kucing di klinik hewan Citrapet and Vet, Cibubur, Bekasi. Seekor kucing luar ruangan berkelamin betina dibawa ke klinik hewan dengan keluhan kondisi lemas dan tidak mau makan selama 3 hari. Temuan klinis menunjukkan turgor kulit > 2 detik, diare, banyak pinjal, saluran cerna kosong dan banyak gas, serta ginjal teraba berukuran besar. Pemeriksaan hematologi dan kimia darah terjadi penurunan kadar hemoglobin, penurunan hematokrit, leukositosis, limfositosis, granulositosis dan azotemia. Pemeriksaan urinalisis diperoleh nilai BJ dibawah normal, hematuria, proteinuria dan leukosituria. Pencitraan ultrasonografi menunjukkan batas antara pelvis renal, korteks dan medula tidak jelas pada kedua ginjal dan pola anekhoik yang diduga cairan tampak pada ginjal kanan. Kucing didiagnosa CKD dengan prognosa infausta. Terapi yang diberikan adalah pemberian antibiotik, antidiare, probiotik dan suplemen ginjal. Pemilik memutuskan rawat jalan setelah perawatan selama 10 hari dengan kondisi letargi, nafsu makan buruk dan sudah tidak menggalami diare.

Page 1 of 1 | Total Record : 6