cover
Contact Name
Citra Lestari
Contact Email
ceetradent@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bdentjournal@unbrah.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
B-Dent, Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah
ISSN : 23015454     EISSN : 26547643     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal B-Dent (JBD) adalah jurnal kedokteran gigi yang mempublikasikan karya tulis ilmiah (berupa penelitian, laporan kasus dan tinjauan pustaka) yang berhubungan dengan seluruh bidang ilmu kedokteran gigi. Jurnal ini diterbitkan oleh Universitas Baiturrahmah, Padang, Sumatera Barat dan dikelola oleh Dewan Redaksi Fakultas Kedokteran Gigi. Terbit setiap dua kali dalam setahun, saat ini JBD terbit dalam bentuk cetak dan telah didistribusikan ke seluruh Fakultas Kedokteran Gigi di Indonesia, LIPI, Perpustakaan Daerah Sumatera Barat dan Kopertis Wilayah X.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Volume 5, Nomor 2, Desember 2018" : 10 Documents clear
PENENTUAN LAJU ALIR SALIVA PADA PASIEN GERIATRI SEBAGAI PERTIMBANGAN MANAJEMEN KOMPREHENSIF PADA STOMATITIS HERPETIKA Rafika, Mega; Wahyuni, Indah Suasani; Hidayat, Wahyu
B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah Volume 5, Nomor 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.542 KB) | DOI: 10.33854/jbd.v5i2.163

Abstract

Latar belakang Laju saliva adalah sekresi saliva yang dinyatakan dalam ml/menit. Pada pasien geriatri dengan riwayat hipertensi dapat menurunkan kuantitas, kualitas dan laju saliva. Kondisi ini dapat meningkatkan terjadinya infeksi rongga mulut seperti stomatitis herpetika.Tujuan Mengukur laju saliva pada pasien geriatri dengan riwayat hipertensi yang didiagnosa stomatitis herpetika, keilitis eksfoliatif dan hiposalivasi sebagai pertimbangan perawatan yang komprehensif. Laporan kasus Seorang wanita usia 63 tahun datang ke klinik karena sariawan selama beberapa tahun dan mengganggu sejak 2 bulan yang lalu. Pemeriksaan ekstraoral berupa bibir kering. Pemeriksaan intraoral menunjukkan oral hygiene buruk, kondisi mukosa oral yang kering dan terdapat ulser multipel. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan eosinofil dan monosit di bawah normal, dan IgG anti HSV-1 reaktif. Laju saliva 0,2 ml/menit, dilakukan dengan metode spitting untuk menegakkan diagnosa hiposalivasi. Penatalaksanaan kasus Pasien diberikan vitamin B12, asam folat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, Vaseline album untuk melembabkan bibir, chlorhexidine gluconate 0,2%, oral hygiene instruction dan scalling dilakukan untuk memperbaiki oral hygiene serta disarankan nutrisi seimbang dan hidrasi yang memadai sebagai terapi nonfarmakologi. Diskusi Pasien ini memiliki kondisi yang kompleks: geriatri, oral hygiene yang buruk, menggunakan obat antihipertensi, dan juga mengalami stres emosional. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kuantitas dan kualitas saliva sebagai pertahanan mukosa mulut. sehingga pasien akan lebih rentan terhadap infeksi HSV-1 dan reaktivasi. Simpulan Laju saliva dapat menjadi pertimbangan dalam tatalaksana stomatitis herpetika pada pasien geriatri dengan hipertensi dan pengobatan anti hipertensinya.
SEBUAH KASUS SUSPEK LEUKOPLAKIA PADA LAKI-LAKI 44 TAHUN (DILEMATIC PROBLEM IN DIAGNOSIS AND MANAGEMENT) Bariyah, Naim; Mailiza, Fitria
B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah Volume 5, Nomor 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.397 KB) | DOI: 10.33854/jbd.v5i2.154

Abstract

Latar belakang : Leukoplakia adalah istilah klinik untuk plak atau bercak putih pada mukosa mulut yang tidak dapat dihapus dan tidak dapat diklasifikasikan sebagai penyakit lain apapun yang dapat di diagnosis secara klinis. Insiden terjadinya leukoplakia pada suatu populasi sekitar 0,1%. Salah satu faktor predisposisinya adalah merokok. Kebiasaan merokok cukup sulit dihilangkan dalam edukasi terhadap pasien. Hal ini menimbulkan dilema dalam edukasi tehadap kasus leukoplakia. Tujuan : Melaporkan penatalaksanaan sebuah kasus suspek leukoplakia pada laki-laki 44 tahun yang dipicu oleh faktor merokok. Kasus : Seorang pasien laki-laki berusia 44 tahun datang dengan keluhan ingin memeriksakan bercak putih pada gusi dan langit-langit rongga mulutnya sudah 6 bulan dan tidak terasa nyeri. Pemeriksaan ekstraoral tidak ada kelainan. Pemeriksaan intraoral terdapat plak putih tidak dapat dikerok pada daerah gingiva dan palatum. Penatalaksanaan kasus : Melakukan KIE dengan pasien diinstruksikan agar mengurangi kebiasaan merokoknya dan merujuk ke dokter spesialis penyakit mulut. Pembahasan : Pemeriksaan histopatologi dan sitologi dapat membantu dalam penegakan diagnosis leukoplakia. Akan tampak adanya perubahan keratinisasi sel epitelium, terutama pada bagian superfisial. Secara mikroskopis, perubahan ini dapat dibedakan menjadi 5 bagian, yaitu hiperkeratosis, hiperparakeratosis, akantosis, diskeratosis atau displasia, karsinoma in situ. Simpulan : Untuk menegakkan diagnosis dan managemen kasus leukoplakia diperlukan kerja sama yang baik antara pasien dan klinisi.
PENGARUH PEMBERIAN ASAM USNAT TERHADAP JUMLAH SEL OSTEOBLAS PADA TIKUS PERIODONTITIS Sari, Desi Ratna; Lestari, Citra; Yandi, Satria
B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah Volume 5, Nomor 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.655 KB) | DOI: 10.33854/jbd.v5i2.159

Abstract

Periodontitis adalah penyakit inflamasi yang menyebabkan kerusakan jaringan periodontal dan menyebabkan kehilangan gigi. Periodontitis merupakan penyebab utama terjadinya resorpsi tulang alveolar. Asam usnat yang berasal dari kandungan kayu angin diketahui mengandung antibakteri, antiinflamasi, dan antijamur yang dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan. Asam usnat adalah antibiotik spektrum luas dan kandungannya dapat diperoleh dari lichen dan dapat menghambat bakteri patogen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian asam usnat terhadap jumlah sel osteoblas pada tikus periodontitis. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan rancangan control group post test only design. Penelitian ini menggunakan tikus putih jantan (Rattus norvegicus) sebanyak 24 ekor. Tikus dikelompokan menjadi 4 kelompok yang masing-masingnya terdiri dari 6 ekor dan dibagi dalam dua priode hari untuk dekapitasi pada hari ke-7 dan hari ke-14 sehingga didapatkan sampel tiap kelompok menjadi 3 ekor. Tikus diinduksi periodontitis dengan benang silk ligature 3,0 kemudian diberikan asam usnat gel dengan konsentrasi 2,04% dan 6,06%. Hasil penelitian ini menunjukan rerata jumlah sel osteoblas berbeda bermakna (p<0,05) pada setiap kelompok penelitian. Pemberian asam usnat 6,06% menunjukan rerata sehat (kelompok kontrol negatif). Hal ini disebabkan karna adanya kandungan antiinflamasi dan antibakteri dari asam usnat. Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian asam usnat terhadap jumlah sel osteoblas pada tikus periodontitis dimana asam usnat dengan konsentrasi 6,06% lebih efektif dibandingkan asam usnat dengan konsentrasi 2,04%.
MTA AS AN APICAL PLUG IN NONVITAL TOOTH WITH OPEN APEX : A CASE REPORT Darmawi, Imelda; Dennis, Dennis; Abidin, Trimurni
B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah Volume 5, Nomor 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.274 KB) | DOI: 10.33854/jbd.v5i2.155

Abstract

Gigi imatur dengan nekrosis pulpa akibat trauma , karies atau pathosis pulpa. Dimana pembentukan dentin terganggu dan perkembangan akar berhenti sehingga terjadi perubahan warna gigi. Mineral trioxide aggregate (MTA) adalah bahan alternatif yang dapat digunakan untuk apeksifikasi apeks terbuka karena biokompatibilitasnya, nonmutagenisitas, non-neurotoksisitas, kemampuan regeneratif, dan sifat seal yang baik. Pada kasus ini penggunaan MTA sebagai plug apikal, pada gigi yang imature dengan apeks terbuka merupakan keputusan yang tepat. Tujuan dari laporan kasus ini adalah menjelaskan penggunaan MTA sebagai apical pluq pada gigi insisivus lateral maksila dengan diagnosis pulpa nekrosis dengan apeks terbuka dan dilanjutkan bleaching internal. Seorang pasien pria 43 tahun yang datang ke RSGM, Universitas Sumatera Utara dengan keluhan utama gigi yang berubah warna . Pemeriksaan radiografi menunjukkan apeks terbuka untuk gigi #12. Setelah cleaning and shapping dilakukan, kalsium hidroksida ditempatkan sebagai medikamen intracanal. MTA diletakkan kedalam saluran akar dengan ketebalan 3-4 mm menggunakan hand pluggers. Obturasi dengan gutta-percha termoplastik. Penggunaan MTA telah banyak direkomendasikan untuk kasus apeks terbuka. Karena memiliki apical seal yang baik, biokompatibilitas dan kemampuan regenerasi jaringan periodontal. Setelah di Follow up tidak adanya keluhan baik secara klinis maupun radiografi. Laporan kasus ini menunjukkan MTA sebagai bahan alternatif untuk apical plug pada metode konvensional apeksifikasi.
EFEKTIFITAS EKSTRAK ETIL ASETAT TUMBUHAN MYRMECODIA PENDANS TERHADAP BAKTERI STREPTOCOCCUS MUTANS ATCC 25175 Widyawati, Widyawati
B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah Volume 5, Nomor 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.022 KB) | DOI: 10.33854/jbd.v5i2.160

Abstract

Penyakit karies gigi merupakan salah satu dari berbagai penyakit manusia yang paling umum terjadi. Penyakit ini disebabkan terbentuknya asam di permukaan gigi yang timbul sebagai reaksi dari sisa-sisa makanan yang melekat pada permukaan gigi dengan mikroorganisme yang terdapat pada mulut. Salah satu bakteri yang dianggap sangat berperan dalam mekanisme pembentukkan karies gigi dan peningkatan kolonisasi bakteri adalah bakteri Streptococcus mutans.BakteriS. mutans dianggap sebagai bakteri penyebab karies gigi karena kemampuannya membentuk biofilm pada permukaan gigi. Pencarian senyawa bioaktif dari bahan alam masih menjadi alternatif, salah satunya dari tumbuhan Myrmecodia pendans. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas ekstrak etil asetat M. Pendans dalam menghambat pertumbuhan S. mutans.Uji aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode Kirby Bauer dan agar difusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji sensitivitasterpenoid pada konsentrasi 10000; 5000 dan 2000 ppm berturut-turut adalah 17,9; 16,8; 13,6 mm. Hasil uji KHM dan KBM berturut-turut 78.125 dan 625 ppm.
PENGARUH pH DEVELOPER TERHADAP KECEPATAN WAKTU PROSESING FILM PERIAPIKAL Astuti, Ni Kadek Ari; Wardani, Desak N. Kusuma
B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah Volume 5, Nomor 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.348 KB) | DOI: 10.33854/jbd.v5i2.156

Abstract

Radiografi dalam kedokteran gigi merupakan salah satu bidang yang sangat penting fungsinya terkait perawatan gigi modern. Salah satu tahapan untuk menghasilkan radiogram yang baik dan dapat diinterpretasikan adalah prosesing film. Proses film merupakan proses kimia yang dapat memvisualisasikan gambar laten atau tersembunyi menjadi terlihat. Proses tersebut terutama terjadi pada saat proses developing, dimana larutan develover mengubah kristal perak halide menjadi butir perak metalik. Aktivitas developer dipengaruhi oleh suhu larutan pH larutan dan waktu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pH larutan developer terhadap kecepatan waktu prosesing film periapikal. Sampel penelitian berjumlah 30 buah film periapikal yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol menggunakan larutan developer dengan pH 10, sedangkan kelompok eksperimen menggunakan larutan developer dengan pH 12. Sampel dicuci dengan masing masing larutan developer dan dilakukan pencatatan waktu sampai awal terbentuk bayangan anatomi kasar gigi. Hasil penelitian pencucian film periapikal pada pH 12 memiliki rata rata kecepatan 46,5 detik. Hasil penelitian diuji menggunakan Independent –sample t-test dan didapatkan hasil p<0,05. Simpulan dari penelitian ini adalah kenaikan pH developer dapat mempercepat waktu prosesing film periapikal.
PERBEDAAN KEKASARAN PERMUKAAN RESIN AKRILIK YANG DIRENDAM DALAM LARUTAN SODIUM HIPOKLORIT DAN EKSTRAK JAMUR ENDOFIT ASPERGILLUS SP (AKAR RHIZOPHORA MUCRONATA) Fadriyanti, Okmes; Putri, Fennisa Irza; Surya, Leny Sang
B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah Volume 5, Nomor 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.644 KB) | DOI: 10.33854/jbd.v5i2.161

Abstract

Penggunaan resin akrilik polimerisasi panas masih menjadi pilihan sebagai basis gigi tiruan lepasan, merupakan bagian yang berkontak dengan mukosa mulut. Salah satu sifat fisis dari bahan ini yang perlu diperhatikan adalah kekasaran permukaan, yang dapat mempengaruhi secara langsung terhadap retensi bakteri dan jamur terutama Candida albicans. Pencegahan Candida albicans pada resin akrilik dengan menambahkan bahan antijamur dalam larutan pembersih gigi tiruan. Jamur endofit Aspergillus sp yang berasal dari akar Rhizophora mucronata, berpotensi sebagai bahan antijamur. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek ekstrak jamur endofit Aspergillus sp terhadap kekasaran permukaan resin akrilik polimerisasi panas. Rancangan penelitian menggunakan post-test only control group design. Sampel lempeng resin akrilik polimerisasi panas dengan ukuran 65 mm x 10 mm x 2,5 mm yang direndam selama 6 hari dalam larutan sodium hipoklorit 1% ekstrak dan jamur endofit Aspergillus sp, dan di uji menggunakan independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan kekasaran permukaan resin akrilik dalam larutan ekstrak jamur endofit Aspergillus sp meningkat dibandingkan dengan sodium hipoklorit, dengan rerata kekasaran permukaan perendaman resin akrilik terendah pada kelompok larutan sodium hipoklorit dan tertinggi pada kelompok ekstrak jamur endofit Aspergillus sp (akar Rhizophora mucronata) (p>0,05).
TRANSISI PEMPHIGUS FOLIACEUS MENJADI PEMPHIGUS VULGARIS DENGAN KETERLIBATAN LESI ORAL : LAPORAN KASUS Suniti, Suniti; Dewi, Tenny Setiani
B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah Volume 5, Nomor 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.005 KB) | DOI: 10.33854/jbd.v5i2.157

Abstract

Pendahuluan Transisi Pemphigus Foliaceus (PF) menjadi Pemphigus Vulgaris (PV) dikonfirmasi dengan pemeriksaan antidesmoglein. Pada PF target perlekatan sel glikoprotein desmoglein-1 (dsg-1) sedangkan target PV di dsg-1 dan desmoglein-3 (dsg-3). Transisi PF menjadi PV merupakan kasus jarang dan sulit dipahami mekanismenya. Tujuan Kasus ini mendeskripsikan transisi PF menjadi PV. Kasus Seorang laki-laki 35 tahun dirujuk dari Ilmu Penyakit Kulit Kelamin didiagnosis PF. Keluhan luka di sudut bibir kiri, nyeri dan sulit membuka mulut. Pemeriksaan ekstraoral didapatkan lesi di sudut bibir kiri menyambung ke pipi ditutupi krusta dan tendesi perdarahan. Intraoral ditemukan lesi eritem, ditutupi pseudomembran putih pada 1/3 dorsum lidah, lateral lidah, kiri, mukosa bukal, tidak sakit. Lesi perbaikan setelah diterapi dan 3 bulan kemudian kambuh didiagnosis PV. Ekstraoral ditemukan lesi erosif, eritem, krusta pada bibir dan intraoral terdapat lesi erosif, eritem di mukosa labial, mukosa bukal, serta dorsum lidah. Penatalaksanaan Terapi diberikan Dexametason, Nystatin, Chlorhexidine gluconate 0,2% dan lesi mengalami perbaikan. Pembahasan Transisi PF menjadi PV pada kasus ini setelah terjadi kekambuhan beberapa kali. Mekanismenya sulit dipahami, diduga adanya inflamasi jaringan terpapar sistem imun karena tingginya aktivitas penyakit. Perubahan PF menjadi PV tergantung kualitas dan kuantitas transisi profil anti-dsg3(-) / dsgl(+) menjadi anti-dsg3(+) / dsgl(+). Secara histopatologi akantolisis pada PF terjadi di suprabasal sedangkan PV di subkorneal. Lesi oral jarang ditemukan terjadi pada PF oral sedangkan PV sebaliknya. Simpulan Transisi PF menjadi PV terjadi dikarenakan kekambuhannya. Lesi oral dapat menjadi salah satu indentifikasi terjadinya transisi PF menjadi PV.
PENTINGNYA MENDETEKSI ORAL LEUKOPLAKIA SEBAGAI ORAL POTENTIALLY MALIGNANT DISORDERS (LAPORAN KASUS) Nelonda, Revi; Dewi, Tenny Setiani
B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah Volume 5, Nomor 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.887 KB) | DOI: 10.33854/jbd.v5i2.162

Abstract

Oral Leukoplakia (OL) is white plaque lesion in oral mucosa thatcannot be scraped and one of Oral Potentially Malignant Disorder(OPMD) with incidence about 2.5% of all populations in the world.The most case of oral squamous cell carcinoma are preceded byOPMD. The aim of this case report is to understand the importance ofdetection oral lesion that could potentially become malignancy. A 28-year-old male patient complained of sores on his tongue that had nothealed for 2 months. Intraoral examination obtained red and whitelesion on the left lateral tongue: shallow reddish ulcer with irregularborder in region 35-36, followed by unscrapable white plaque lesionwith slight induration in region 37-38. Hematological examinationshowed normal range. According anamnesis and clinical examination,diagnosis of traumatic ulcer and OL were made. Patients were treatedwith multivitamins and antiseptic mouthwash. Histopathologicalexamination results from lesion biopsies show a hyperplastic mass,parakeratosis and a tissue with polymorphic form, a hyperchromaticnucleus of cells associated with histopathologic criteria of squamouscell carcinomas with well differentiation. The patient was referred tothe Hemato-oncology Department for chemotherapy. There are twoimportant parameters should be considered when evaluating thepotential for malignant change of OL that is when finding white lesionswith or without red lesions should always be suspected as OPMD andalways confirm it by histopathological examination as early aspossible. Accurate examination and histopathologic examination isessential to obtain a good prognosis in OPMD.
PENATALAKSANAAN FISTULA ORONASAL MENGGUNAKAN TEKNIK PEDICLE ROTATIONAL FLAP DAN AUTOGRAFT DARI SIMPHISIS MANDIBULA Pascawinata, Andries; Rahmat, Masykur
B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah Volume 5, Nomor 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.16 KB) | DOI: 10.33854/jbd.v5i2.158

Abstract

Pendahuluan : celah alveolar (gnatoschisis) merupakan salah satu molformasi kongenital yang terjadi pada struktur mulut dan wajah. Banyak permasalahan dapat terjadi bila penyakit ini tidak dilakukan perawatan seperti ketidakstabilan struktur tulang maksila, dukungan skletal yang kurang pada dasar hidung, fistula oronasal yang berulang, dukungan periodontal yang kurang sehingga terjadi retensi makanan dan diastema antara gigi dan region celah atau insisivus yang tidak erupsi. Tujuan: Melaporkan sebuah kasus penatalaksanaan fistula oronasal. Kasus dan penatalaksanaan : Seorang wanita berusia 43 tahun mengeluhkan celah pada gusinya yang berlokasi antara insisivus sentral dan insisivus lateral maksila kiri. Celah tersebut membuat makanan selalu masuk pada rongga hidung. Pasien pernah dilakukan operasi sebelumnya untuk penutupan celah bibir dan langit-langit. Pemeriksaan intra oral menunjukkan terdapat sebuah fistula oronasal pada bagian vestibulum pada regio 21 dan 22. Penatalaksanaan dari kasus ini adalah penutupan oronasal fistula pada vestibulum menggunakan teknik pedicle rotational flap dan autograft dari tulang simphisis mandibula. bedahan. Simpulan : Hasil perawatan menunjukkan penyembuhan dan tidak terdapatnya keluhan setelah perawatan. Pemeriksaan radigrafi menunjukkan terjadinya penyatuan antara tulang dan bonegraft pada darah alveolar regio 21 dan 22.

Page 1 of 1 | Total Record : 10