cover
Contact Name
I Gusti Agung Paramita
Contact Email
vidyawertta@unhi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vidyawertta@unhi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
ISSN : 08527776     EISSN : 26557282     DOI : -
Core Subject : Education,
Vidya Wertta Journal published by the Religion and Culture Fakulty of the Indonesian Hindu University. Publish twice a year, on April and October. The focus and reach of issues raised in the Vidya Wertta Journal include religion, philosophy, religious and cultural law.
Arjuna Subject : -
Articles 94 Documents
IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA DAN CATUR PARAMITA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER DI SD N 1 BATURINGGIT KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM Ni Luh Rustini
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan mempunyai fungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk moral watak, moral, perilaku, susila serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, atau dengan kata lain pendidikan dikatakan mempunyai fungsi sosial dan fungsi relegius. Cita-cita pembentukan karakter anak didik bisa dicapai melalui implementasi nilai tata susila yang terdapat dalam ajaran agama Hindu seperti halnya Tri Kaya Parisudha dan Catur Paramita. Di sini peran guru agama Hindu sangatlah penting dalam upaya internalisasi nilai susila kepada siswa.
PROSESI UPACARA NGABEN DALAM KAITANNYA DENGAN DESTINASI PARIWISATA Wayan Martha
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama ini pariwisata sebagai kegiatan ekonomi telah masuk ke ranah ritual bahkan spiritual. Picard mengakui bahwa terjadi profanisasi kesenian sakral, kegiatan ritual dan tempat suci. Ngaben adalah prosesi upacara berdimensi religius, tidak ada muatan ekonomi yang menyelubunginya. Apalagi ada maksud menjual ”paket pariwisata” ke tangan broker-broker yang memang mempunyai intensitas menjual paket pariwisata dengan kemasan prosesi upacara ngaben. Ngaben adalah sebuah kewajiban tugas bhakti (swadharma) bagi prisentananya masing-masing dalam hubungannya dengan dharma bhakti seorang anak dan keluarga. Pariwisata turut menikmati prosesi upacara sakral religius yang bermuatan ekonomis.
PEMALINAN DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BALI I Gusti Agung Tri Sanjaya
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang pemalinan dalam kehidupan masyarakat Bali. Sebagaimana diketahui sebagian besar sakit pada diri manusia disebabkan oleh pemali. Pemali disebabkan oleh pelanggaran aturan tentang kesepakatan ruang dan waktu, butha dan kala, ruang dan eksistensi kehidupan. Pemali artinya kembali,. Yang dikembalikan adalah segala hal yang dibuat oleh manusia akibat melanggar suatu kesepakatan tentang ruang dan waktu, bhuta dan kala. Bhuta merupakan ruang sedangkan kala adalah waktu atau eksistensi. Dalam pandangan masyarakat Bali, kesepakatan yang dibuat oleh para leluhur dengan penentuan arah yang tepat terhadap suatu ruang yang seharusnya bersinergi dengan alam. Pembagian ruang dalam tata letak yang telah disepakati tentang luanan (arah hulu) teben (arah keluar). Sebuah bangunan yang dibuat hendaknya bersinergi dengan arah angin, arah air, arah api. Ketidakseimbangan antara manusia dan alam akibat pelanggaran kesepakatan akan berdampak pada munculnya berbagai macam penyakit.
PANCA GENTA AGEM-AGEMAN IDA RSI BHUJANGGA WAISNAWA PADA UPACARA BHUTA YADNYA I Wayan Dauh; Anak Agung Gede Dira
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang Panca Genta dalam agem-ageman Ida Rsi Bhujangga Waisnawa pada Upacara Bhuta Yadnya. Bentuk “Panca Genta” adalah 5 (lima) buah benda sakral yang memiliki bentuk yang berbeda-beda seperti Genta Padma, Genta Uter dan Genta Orag memiliki bentuk yang agak mirip, Katipluk berbentuk seperti gendang dan Sungu atau Sangka dibentuk dari kulit kerang besar sebagai terompet. Tetapi ke lima itu memiliki fungsi yang sama saat pelaksanaan Upacara Bhuta Yadnya. Fungsi “Panca Genta” adalah menghubungkan secara spritual antara para Sadhaka dengan para Dewa-Dewa, juga menarik dan mengumpulkan roh-roh alam bawah seperti setan, tonya, memedi, bhuta kala, dan roh-roh yang mengganggu alam ini, untuk dibersihkan, dan berfungsi untuk “Nyomya” atau meng inisiasi para roh-roh jahat dan roh alam bawah, agar sifat Bhuta berubah menjadi sifat Dewa.
TRADISI MELUKAT PADA KEHIDUPAN PSIKOSPIRITUAL MASYARAKAT BALI Desak Nyoman Seniwati; I Gusti Ayu Ngurah
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air merupakan prinsip dasar segala sesuatu, dasar bumi adalah air. Air menjadi pangkal pokok dan segala yang ada di alam semesta, sehingga siklus air dimuliakan dalam sebuah peradaban. Air memenuhi segala ruang dan mengalir dari dataran tinggi ke daratan yang rendah. Air dikatakan memiliki kemampuan merekam dan menerima kata-kata yang disampaikan melalui doa, sehingga energi air diperlukan, utamanya dalam terapi kesehatan, baik dalam penyembuhan fisik maupun psikis. Air yang didoakan dengan lantunan puja dan mantra akan memberikan respon, sehingga terjadilah sinkronisasi antara alam mikrokosmos dengan alam makrokosmos, untuk tercapainya suatu tujuan, sesuai doa yang dimohonkan, tentunya ditambah dengan suatu keyakinan.
USADA KURANTA BOLONG SEBAGAI SUMBER PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS BUDAYA HINDU DI DESA ANGANTAKA, KECAMATAN ABIANSEMAL, KABUPATEN BADUNG Ida Bagus Ngurah
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang peranan Usada Kuranta Bolong sebagai media pengobatan tradisional berbasis Budaya Hindu di Desa Angantaka, Abiansemal Badung. Pengobatan tradisional yang bersumber dari teks-teks lontar sangatlah penting perannya dalam masyarakat Bali. Sebelum berkembang pengobatan yang bersumber dari pengetahuan kedokteran modern, masyarakat Bali menggunakan jasa balian usada untuk pengobatan penyakit. Salah satunya adalah lontar usada Kuranta Bolong di Desa Angantaka. Masyarakat masih banyak yang menggunakan jasa pengobatan tradisional ini, karena sesuai dengan keyakinan mereka. Selain itu, pengobatan usada yang bersumber dari lontar Kuranta Bolong dianggap mampu mengatasi penyakit yang dialami para balita.
BANTEN CARU DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PENYALONARANGAN DI DESA INTARAN, KELURAHAN SANUR I Gusti Ayu Ngurah; Desak Nyoman Seniwati; Komang Pajentara
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 4 No 2 (2021): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian wayang kulit penyalonarangan diidentikkan dengan pertunjukan yang berkesan mistis. Selain memiliki kesan mistik, pertunjukan wayang kulit penyalonarangan memiliki ciri khas lainnya yakni penggunaan banten caru sebagai komponen penting pementasannya. Hal inilah yang menjadi fenomena pementasan wayang kulit penyalonarangan di Desa Intaran. Peneliti akan mengkajinya dengan fokus pada bentuk dan fungsi banten caru dalam pementasan wayang kulit penyalonarangan di Desa Intaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif. Pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: (1) bentuk banten caru dalam pementasan wayang kulit penyalonarangan di Desa Intaran meliputi: (a) jenis banten caru yakni caru eka sata ayam brumbun, (b) wujud fisik banten caru, (c) jejeroan dan segehan wong-wongan; (2) fungsi banten caru dalam pementasan wayang kulit penyalonarangan di Desa Intaran terdiri dari (a) sebagai sarana pengundangan dan penyomia, (b) sebagai sarana penjaga dalang.
PEMENTASAN ARJA VIRTUAL DI TENGAH PANDEMI OLEH KKB RRI DENPASAR Ida Ayu Gede Prayitna Dewi; Anak Agung Dwi Dirgantini; Komang Agus Triadi Kiswara
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 4 No 2 (2021): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di tengah pandemi covid, para seniman di Bali semakin mengintensifkan penggunaan media virtual dalam pementasan. Salah satunya adalah Drama tari arja yang merupakan bentuk kesenian tradisional. Sebagai bentuk kesenian tradisional yang telah memiliki pakem yang kuat, mulai mengalami distorsi dalam pementasanya terlebih ketika disajikan dalam media virtual perubahan tersebut cenderung menghilangkan esensi-esensi yang terkandung dalam drama tari arja. Ditengah goncangan perubahan tersebut sekeha Arja yang tergabung dalam kekuarga kesenian Bali (KKB) RRI Denpasar masih eksis dalam pementasan yag mempertahankan drama tari arja tersebut. Demikian pula halnya ketika disajikan dalam media virtual, sehingga dipandang penting untuk mengkaji tentang kebertahanan sekeha tersebut dalam melestarikan seni drama tari Arja. Pengkajian ini penting dilakukan sebagai sebuah acuan dalam konsep pelestarian kesenian budaya.
MODEL PLURALISME HUKUM DALAM PEMANFAATAN TANAH PELABA PURA DI KOTA DENPASAR Ida Bagus Yoga Maheswara; I Nengah Artawan
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 4 No 2 (2021): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksistensi desa adat di Bali tidak dapat dilepaskan dari keberadaan khayangan tiga yang ada di wilayah desa adat yang juga disebut pura khayangan desa. Masing-masing pura khayangan desa pada umumnya memiliki tanah pelaba pura yang berfungsi sebagai tempat palemahan pura dan sebagai fungsi pendukung keberadaan pura dari sisi pemenuhan kegiatan upacara dari hasil perkebunan, pertanian bahkan dari sisi ekonomi lainnya serta dapat digunakan dalam pembangunan pura itu sendiri. Seiring berjalannya waktu model pengelolaan tanah pelaba pura juga beragam di masing-masing desa adat. Sehingga untuk melindunginya terdapat aturan hukum yang mengatur. Khususnya di Kota Denpasar yang memiliki 35 Desa Adat, ternyata tidak hanya satu jenis hukum saja yang mengatur keberadaan tanah pelaba pura khususnya, terdapat sistem hukum negara dan sistem hukum adat terkait pemanfaatan tanah pelaba pura tersebut. Terdapat simbiosis antara sistem hukum negara dan sistem hukum adat dalam pengelolaan tanah pelaba pura. Adanya sistem hukum negara dan sistem hukum adat terkait pemanfaatan tanah pelaba pura disebut sebagai pluralisme hukum. Terdapat beberapa tujuan penelitian yang akan dicapai. Adapun tujuan penelitian ini antara lain: Pertama, untuk menganalisis dan mengkaji prinsip-prinsip pluralisme hukum dalam pemanfaatan tanah pelaba pura di Kota Denpasar. Kedua, untuk menganalisis dan mengkaji model pluralisme hukum dalam pemanfaatan tanah pelaba pura di Kota Denpasar. Teori yang digunakan untuk menganalisis dan mengkaji adalah teori pluralisme hukum. Menggunakan metode penelitian pendekatan sosio-legal. Pengumpulan data dilakukan dengan pengumpulan data primer dari hasil observasi dan wawancara narasumber terkait, sedangkan data sekunder didapatkan dari peraturan perundang-undangan dan literatur hukum terkait selanjutnya di analisis dan disajikan dengan teknik naratif deskriptif kemudian terakhir dilakukan penyimpulan dan pemberian rekomendasi penelitian.
INTERAKSI SISTEM HUKUM NEGARA DAN ADAT DALAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN COVID-19 DI KOTA DENPASAR Komang Indra Apsaridewi; Ni Luh Made Elida Rani
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 4 No 2 (2021): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencegahan dan pengendalian Covid-19 di Kota Denpasar tidak hanya dilakukan oleh negara baik melalui struktur hukum maupun substansi hukumnya, melainkan juga terdapat peran desa adat melalui struktur, substansi dan budaya hukum masyarakat yang ada melakukan upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19. Keterlibatan negara (daerah) dengan desa adat di Kota Denpasar dalam pencegahan dan pengendalian Covid-19 ternyata memiliki hubungan interaksi hukum di antara keduanya. Salah satu bentuknya dengan mengeluarkan keputusan bersama antara Pemerintah dan Desa Adat. Secara teori Interaksi hukum sejalan dengan pemikiran pluralisme hukum. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui, mengkaji dan menganalisis prinsip dan model pluralisme hukum dalam pencegahan dan pengendalian Covid-19 di Kota Denpasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian sosio-legal. Penelitian sosio-legal menggali dari data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dengan teknik penggalian data di lokasi penelitian, sedangkan data sekunder didapatkan dari literatur hukum dan produk hukum yang dikeluarkan negara maupun produk hukum yang dikeluarkan oleh desa adat, kemudian data yang telah terkumpul dianalisis secara naratif deskriptif dikaitkan dengan teori pluralisme hukum.

Page 1 of 10 | Total Record : 94