cover
Contact Name
Darlis
Contact Email
darlis.iainpalu@gmail.com
Phone
+6285290675434
Journal Mail Official
rausyan.fikr2017@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Indonesia
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin dan Filsafat
ISSN : 19787812     EISSN : 25807773     DOI : -
Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin, dan Filsafat is an academic peer-reviewed journal that publishes the current articles and result of research of the scholars and student who are deeply concerned with theology and philosophy issues. Rausyan Fikr is regularly published twice a year (June and December period). The focus of the study is the latest discourse in the field of study of Islamic Theology, Sufism, Islamic Thought and Philosophy as well as the study of the Koran and Hadith (Islamic Studies).
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020" : 7 Documents clear
Peradaban Infrastruktur Ibnu Khaldun: (Perspektif Perpindahan Ibu Kota Negara Republik Indonesia) Syamsuri, Syamsuri
Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/rsy.v16i2.598

Abstract

Prophet Muhammad p.b.u.h., moved (hijrah) from Mecca al-Mukarramah to Medina al-Munawwarah, then founded the state of Medina by gathering the national strength of the Muslim, Christian and Jewish population with the identity of the Quraish, Auz, and Khazraj tribes. Caliph Ali bin Abi Talib moved the capital of the Rashidah Caliphate from Medina to Kufa, form Arab to the Persian region. Muawiyah bin Abu Sufyan chose Damascus as the capital of the Umayyah dynasty. Abu Abbas al-Safah placed the seat of the Abbasid dynasty in Baghdad. Furthermore, the Ottoman Empire had its capital in Istanbul. After turning into the Republic of Turkey, it occupies Ankara as the capital. Planning of moving the capital city of the Republic of Indonesia is from the Province of the Special Capital Region (DKI) Jakarta to the Province of East Kalimantan intended as an effort to equalize development that strengthen togetherness in a sense. The ideological, political, social, cultural and legal foundations serve as the basis of legitimacy in the historical footsteps of the Paser Kingdom and the Kutai Kartanegara Kingdom, as the center of government of the Republic of Indonesia. The theory of development ('umran), urban theory ('urban), and the theory of nationality ('asabiyah) put forward by Ibn Khaldun in the Muqaddimah have become methodological conceptions in studying maritime-based archipelago construction. This research shows the point of the new State Capital (IKN), in the archipelago network from Sabang to Merauke. A blueprint for the nation's journey that covers the dynamics of human resource potential in the natural resource management system of the republic of Indonesia.
Syair Sufistik Kyai Djamal dalam Perspektif Strukturalisme Levi-Strauss: Bahasa Indonesia Munandar, Siswoyo Aris; Malikhaturrahmah, Elia
Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/rsy.v16i2.600

Abstract

The fact is that many young Javanese today do not know wayang characters, wayang stories, folk songs, and children's games. This proves the lack of appreciation of the younger generation for studying literature and culture in their region. They consider that regional literature is ancient and out of date. This causes regional literature and culture to gradually become extinct. Syi'ir Jawi Budi Utami is oral literature written by Kiai Djamal. This research was conducted as an effort to understand syi'ir Kiai Djamal by using the Levi-Strauss structuralism analysis which examines literary works not only from the literary field but also from the field of anthropology. The author focuses this research on two problem formulations, namely, why did Kiai Djamal write syi'ir Jawi Budi Utami and what is the structure of syir Jawi Budi Utami. The method used for data collection is documentation and is processed by descriptive-analytical methods. The purpose of this research is to enrich the discourse and insight into the study of the concept of Levi-Strauss structuralism as well as as a reference or preliminary review for the development of studies on the Sufistic syi'ir of Kiai Djamal in Levi-Strauss structuralism, on the one hand, the application of Levi-Strauss structuralism analysis to other objects. This research found that the principles of writing syi'ir Kiai Djamal consist of five episodes, namely: first Kiai Djamal introduces the phases of a Muslim, namely syari'ah, thoriqoh, and haqiqoh. The second episode of Kiai Djamal introduces one of the tarekat, namely the Syadziliyyah Tarekat, followed by the following chapters regarding the explanation of the Syadziliyyah Tarekat. The third episode is the Qodiriyah Order. The fourth episode is the Tarekat An-Naqsabandiyah in brief. The fifth episode is a continuous explanation of the previous chapter. This shows the structure of writing Syi'ir Kiai Djamal. Also, the researcher sees that the context in syi'ir Kiai Djamal is an unconscious reflection of Kiai Djamal with the discovery of signifier and signified, langue and parole, form and content and phonemes in syi'ir Kiai Sufistik Djamal. Faktanya anak-anak muda Jawa saat ini banyak yang tidak mengenal tokoh-tokoh wayang, cerita wayang, lagu daerah, dan dolanan anak. Hal ini membuktikan kurangnya apresiasi generasi muda untuk mempelajari sastra dan budaya daerahnya sendiri. Mereka menganggap bahwa sastra daerah bersifat kuno dan ketinggalan zaman. Hal ini menyebabkan sastra dan budaya daerah lambat laun akan mengalami kepunahan. Syi’ir Jawi Budi Utami merupakan salah satu sastra lisan yang ditulis oleh Kiai Djamal. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk memahami syi’ir Kiai Djamal dengan menggunakan analisis strukturalisme Levi-Strauss yang mengkaji karya sastra tidak hanya dari bidang sastra saja tetapi juga dari bidang antropologi. Penulis memfokuskan penelitian ini pada dua rumusan masalah yaitu, mengapa Kiai Djamal menulis syi’ir Jawi Budi Utami dan bagaimana struktur dalam syir Jawi Budi Utami. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dokumentasi, dan diolah dengan metode deskriptif analitis. Tujuan penelitian ini adalah memperkaya wacana dan wawasan tentang kajian konsep strukturalisme Levi-Strauss serta sebagai referensi atau tinjauan awal untuk pengembangan kajian atas syi’ir sufistik Kiai Djamal dalam strukturalisme Levi-Strauss di satu sisi, aplikasi analisis strukturalisme Levi-Strauss terhadap objek lain. Penelitian ini menemukan bahwa prinsip penulisan syi’ir Kiai Djamal terdapat lima episode, yaitu: pertama Kiai Djamal memperkenalkan fase-fase seorang muslim yaitu syari’ah, thoriqoh dan haqiqoh. Episode kedua Kiai Djamal memperkenalkan salah satu tarekat yaitu Tarekat Syadziliyyah disusul bab-bab setelahnya mengenai penjelasan Tarekat Syadziliyyah. Episode ketiga adalah Tarekat Qodiriyah. Episode keempat adalah Tarekat An-Naqsabandiyah secara singkat. Episode kelima adalah penjelasan bab sebelumnya secara sambung menyambung. Hal ini menunjukkan struktur dari penulisan Syi’ir Kiai Djamal. Selain itu peneliti melihat bahwa konteks yang ada dalam syi’ir Kiai Djamal merupakan cerminan nirsadar dari Kiai Djamal dengan ditemukannya signifier dan signified, langue dan parole, form dan content serta fonem dalam syi’ir Kiai Sufistik Djamal.
Pengobatan Tradisional Baca-Baca pada Masyarakat Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep (Perspektif Hukum Islam) HK, Nawir; HL, Rahmatiah
Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The results of the research showed that the traditional healing practice of baca-baca in Balang Caddi Island community can be divided into two parts, namely baca-baca treatment, which is treated by ritual and treatment without using rituals. The ritual treatment of baca-baca is carried out to treat diseases caused by spirits and jinn. Meanwhile, the treatment for baca-baca without ritual is treating minor ailments. The reason why the people of Balang Caddi Island still practice traditional Baca-baca for medicine because there are no adequate medical facilities, doctors are only in the city, and the distance from Balang Caddi Island to Pangkep Regency, makes people accustomed to do traditional medicine by baca-baca. Traditional medicine baca-baca in Islamic law as long as it does not contain polytheism. The essence of traditional medicine, such as baca-baca, it’s not different from praying or asking Allah for something. for healing, goodness, or benefit for every Muslim who needs treatment. Pokok masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengobatan tradisional baca-baca pada masyarakat Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep perspektif hukum Islam? Pokok masalah tersebut selanjutnya diklasifikasikan dalam beberapa sub masalah atau pertanyaan penelitian, yaitu: 1) Bagaimana praktik pengobatan tradisional baca-baca di Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep?, 2) Mengapa pengobatan tradisional baca-baca masih digunakan di Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep? dan 3) Bagaimana perspektif hukum Islam tentang pengobatan tradisional baca-baca di Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep? Penelitian ini adalah field research deskriptif kualitatif dengan tiga pendekatan, yakni; pendekatan teologis normatif (syar’i), sosiologis dan Antropologis. Sumber data utama dalam penelitian ini yaitu data primer yang diperoleh dari wawancara terhadap informan di Pulau Balang Caddi, data sekunder yang diperoleh dari al-Qur’an, hadis, kaidah fikih, jurnal dan karya ilmiah lainnya yang berkaitan dengan pengobatan tradisional baca-baca serta data tersier diperoleh dari buku-buku yang relevan. Selanjutnya pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara, observasi dan studi dokumen. Sedangkan teknik pengelolahan dan analisis data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui tiga kriteria yaitu keabsahan konstruk, keabsahan internal dan keabsahan eksternal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Praktik pengobatan tradisional baca-baca pada masyarakat Pulau Balang Caddi, dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pengobatan baca-baca yang proses pengobatannya dengan cara ritual dan pengobatan dengan tidak menggunakan ritual. Pengobatan baca-baca dengan cara ritual dilakukan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh mahluk halus dan jin. Sedangkan pengobatan baca-baca tanpa ritual yaitu mengobati penyakit-penyakit ringan. Alasan masyarakat Pulau Balang Caddi masih melakukan praktik pengobatan tradisional baca-baca disebabkan belum adanya fasilitas medis yang memadai, tenaga dokter hanya ada di kota, dan jaraknya pun jauh dari Pulau Balang Caddi Kabupaten Pangkep membuat masyarakat sudah terbiasa untuk melakukan pengobatan tradisional dengan cara baca-baca. Pengobatan tradisional baca-baca dalam hukum Islam boleh sepanjang dalam melakukan pengobatan tersebut tidak mengandung kemusyrikan. Hakikat pengobatan tradisional seperti baca-baca, tidaklah berbeda dengan mendoakan atau memohonkan sesuatu kepada Allah swt. untuk kesembuhan, kebaikan, atau kemashlahatan bagi setiap kaum muslimin yang membutuhkan pengobatan.
Makna Syifa' dalam Alquran dan Relevansinya dengan Sains Modern Arifin, Muhammad Patri
Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/rsy.v16i2.605

Abstract

This article is a library research which aims to reveal the meaning of syifa' in the Qur’an and its relevance to modern science. Syifa' theme is an important theme that deserves elaborated to reveal the purpose of its mention which is then linked to the development of science. Its use in the form of nakirah (general) is considered by many as the universality of its content, which then triggers various opinions among commentators regarding the scope of its meaning, characteristics, goals and functions, whether in the form of the Qur’an, verses or something that is considered to be healing. By using thematic methods and a historical-sociological approach to the term of syifa' in the Qur'an, this article comes to the finding that syifa' has relevance to modern science which includes aspects of spiritual therapy, aspects of medical therapy and psychotherapy, as well as aspects of holistic therapy.
Konflik Rumah Tangga dalam Alquran Mursalin, Abdul Ghany
Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/rsy.v16i2.611

Abstract

This article aims to describe the conflict in the household according to the Qur'an. Then trace the interpretations of the ulama about the verses of the Qur'an which discuss conflicts in the household. Furthermore, things that can cause conflict in the household, include: Lawlessness, lawlessness is an act that is not in accordance with what has been set (breaking the rules or orders). The act will become a problem that will lead to conflict, including in the household. Domestic violence sometimes triggers conflicts between husband and wife. Domestic violence itself can be in the form of words that hurt a partner, demands for perfection and harsh treatment. like unkind words as an insult to someone else. Conflict in the household is sometimes triggered by bad words uttered by one married couple. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan tentang konflik dalam rumah tangga menurut al-Qur’an. Kemudian menelusuri penafsiran para ulama tentang ayat al-Qur’an yang membahas tentang konflik dalam rumah tangga. Selanjutnya hal-hal yang dapat menyebabkan konflik dalam rumah tangga ada banyak hal. Diantaranya: Kedurhakaan, kedurhakaan adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang telah ditetapkan (melanggar aturan atau perintah). Ketika perbuatan yang dilakukan tidak sesuai dengan apa yang telah ditetapkan, maka perbuatan itu akan menjadi permasalahan yang berujung konflik, termasuk dalam rana rumah tangga. Kekerasan dalam rumah terkadang menjadi pemicu terjadinya konflik antara suami dan istri. Kekerasan dalam rumah tangga sendiri dapat berupa ucapan yang menyakiti pasangan, tuntutan kesempurnaan padanya dan berlaku kasar padanya. sebagai perkataan tidak baik yang diucapkan sebagai penghinaan kepada orang lain. Konflik dalam rumah terkadang pula dipicu dengan adanya perkataan-perkataan buruk yang diucapkan oleh salah satu pasangan suami istri
Wawasan Alquran tentang Ukhuwwah pa'ba, Mursalin Ilyas
Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/rsy.v16i2.612

Abstract

Ukhuwwah in Islam has the aim of eliminating competition between individuals, tribes, excessive self-love, ego traits and animating the spirit of mutual help, working together and loving each other on the basis of love because of Allah Swt. and His Messenger. Besides that, ukhuwwah can also eliminate fanaticism (asabiyyah). In Islam, humans are considered special because of their devotion. The Prophet made ukhuwwah a strong bond, not just an expression. Actions that are tied to the relationship of blood and possessions and recognition will be created by mutual love, high sacrifice that is engraved on a good role model, namely Rasulullah Saw. Ukhuwwah dalam Islam memiliki tujuan yaitu menghilangkan persaingan antar individu, suku, cinta diri yang berlebihan, sifat ego dan menghidupkan spirit saling membantu, bekerja sama dan saling mencintai dengan dasar cinta karena Allah Swt dan Rasul-Nya. Selain itu ukhuwwah juga dapat menghilangkan fanatisme (as}abiyyah). Dalam Islam, orang tidak akan memiliki keistimewaan di hadapan Allah swt. serta tidak dipandang terdepan maupun terbelakang kecuali dengan kadar ketaqwaannya. Nabi juga telah menjadikan ukhuwwah ini sebagai ikatan kuat dan bukan sekedar ungkapan yang tidak bermakna. Perbuatan yang diikat dengan hubungan darah dan harta serta pengakuan akan tercipta jika didasari rasa saling mencintai, pengorbanan yang tinggi yang terpatri pada suri teladan yang baik yaitu Rasu>lulla>h Saw.
Ontologi Tasawuf Falsafi dalam Konsep Wahdatul Wujud Ibnu Arabi Mustamain, Kamaruddin
Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin dan Filsafat Vol. 16 No. 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/rsy.v16i2.630

Abstract

Ibn Arabi's wahdatul wujud concept, which has tended to be trapped in a static understanding of a unified existence between the Creator and the one created in the locus of pantheism must be understood as an active movement in which beings who are in the levels of selfhood must always strive to move actively towards the levels of reality. This has implications for the need to develop a more inclusive understanding in understanding metaphorical-sufistic language which seems foreign to ordinary people. The ontology of philosophical tasawuf in Ibn Arabi's wahdatul wujud concept has provided a methodological framework that emerged from the sitesis of two different scientific groups, namely Sufism with its esoteric dimension and philosophy with its philosophical dimension in uncovering the meaning of Ibn Arabi's wahdatul wujud concept.

Page 1 of 1 | Total Record : 7