cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 25279106     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 19 No 1 (2010): MPI" : 5 Documents clear
Penghambatan aktivitas proliferasi sel dan perubahan histopatologik epitel mukosa nasofaring mencit C3H dengan pemberian ekstrak benalu teh Tjahjono; Hidayat Sulistyo; Awal Prasetyo
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 1 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.128 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangEfek scurrulla atropurpurea (SA) sebagai anti kanker telah banyak dibuktikan hingga tingkat molekuler, namunsebagaian besar dilakukan secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan inhibisi aktivitas proliferasisel dan perubahan histopatologik epitel mukosa nasofaring mencit C3H dengan pemberian ekstrak SA.MetodePenelitian eksperimental menggunakan 15 mencit C3H, dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok kontrol (K)diinduksi dengan uap larutan formalin 10%, diberi diet standar AIN-93M mengandung 54 mg/kg BB formalinselama 9 minggu; kelompok P1 diinduksi uap formalin dan diet standar berformalin selama 6 minggu, lalu diberi1,5 g/kgBB ekstrak SA selama 3 minggu; kelompok P2 diberi ekstrak SA selama 3 minggu, kemudian diinduksiuap formalin dan diet standar mengandung formalin selama 6 minggu. Di akhir penelitian dilakukan pemeriksaanhistopatologik dan hitung AgNOR.HasilSkor perubahan histopatologik epitel nasofaring kelompok K (3,72±0,46), P1 (2,07±0,62), dan P2 (1,69±0,48).Rerata hitung AgNOR kelompok K (3±0,15), P1 (1,72±0,07), dan P2 (1,76±0,08). Uji Mann-Whitney terhadapvariabel perubahan histopatologik antara P1 vs P2, K vs P2, dan P2 vs P3 bermakna. Uji Mann-Whitneyterhadap variabel hitung AgNOR antara K vs P1 dan K vs P2 bermakna, namun antara P1 vs P2 tidakbermakna.KesimpulanEkstrak SA sebelum dan sesudah induksi formalin menimbulkan pengaruh berbeda bermakna pada perbaikanskor histopatologik dan aktivitas proliferasi sel epitel mukosa nasofaring mencit C3H
Pemeriksaan helicobacter pylori dengan PCR dari lambung penderita gastritis kronis Theodorus; Yuwono; Novi Triana; Mezfi Unita; Jusuf Fantoni
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 1 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.66 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangHelicobacter pylori (H.pylori atau Hp) adalah bakteri yang hidup pada mukus dan epitel lambungmanusia. Bakteri ini merupakan salah satu penyebab terjadinya gastritis, ulkus duodenum danlambung, atau salah satu faktor penyebab keganasan lambung. Di negara berkembang prevalensiH.pylori dilaporkan lebih tinggi dibandingkan negara maju. Angka prevalensi juga tergantung daristatus sosialekonomi, budaya, lingkungan dan genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiperbandingan nilai sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan PCR dengan pemeriksaan histopatologik dalam mendeteksi H.pylori serta mengetahui nilai dugaan positif dan negatif pemeriksaanPCR.MetodeSampel diambil dari arsip slide dan blok parafin di Laboratorium Patologi Anatomik, dan cairanlambung dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/Rumah SakitDr. Mohammad Hoesin Palembang. Jumlah sampel yang diperlukan untuk penelitian ini sebanyak30 sampel, kemudian dilakukan review oleh spesialis Patologi Anatomik, dilakukan pulasan Giemsadan pemeriksaan PCR untuk cairan lambung.HasilPada penelitian ini didapatkan 30 sampel, tujuh sampel (23,3%) dengan atrofi kelenjar, 5 sampel(16,7%) dengan metaplasia intestinal dan 14 sampel H.pylori positif (46,7%). Hasil pemeriksaansequen DNA H.pylori positif sebanyak 28 orang (93,3%) dan sequen DNA H.pylori negatif sebanyak2 orang (6,7%). Setelah dilakukan uji diagnostik didapati nilai sensitifitas 92,85%, spesifisitas6,25%, prediksi positif 46,4% dan prediksi negatif 50%. Sampel terbanyak (27) adalah gastritiskronik aktif, diikuti oleh gastritis kronik nonaktif.KesimpulanUntuk mengetahui adanya H.pylori pada lambung, pemeriksaan dengan metode PCR ini bisadijadikan pemeriksaan alternatif apabila pasien menolak untuk dilakukan biopsi lambung.
Gastorintestinal stromal tumor: gambaran klinik, histopatologik dan imunohistokimia Wiwit Ade Fidiawati; Ening Krisnuhoni
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 1 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.395 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar BelakangTumor mesenkimal traktus gastrointestinal mempunyai gambaran histopatologik yang sulit untukdibedakan. Tumor tersebut dapat berasal dari otot dan saraf maupun campuran keduanya.Beberapa tahun belakangan ini tumor mesenkimal traktus gastrointestinal dinyatakan berasal dariIntertitial Cells of Cajal (ICC) dan disebut sebagai Gastrointestinal Stromal Tumor (GIST).Bahan dan caradata arsip Departemen Patologi Anatomik selama dua tahun (2006-2007) terdapat 25 kasus yangdidiagnosis sebagai GIST dengan pulasan Hematoxillin & Eosin, CD117, CD34, S100 dan SMA.Langkah berikutnya dilakukan analisis gambaran klinik, histopatologik dan imunohistokimia.HasilDari 25 kasus GIST, 84,9% terdapat pada pria dan usia terbanyak antara 40-49 tahun. Gastermerupakan lokasi GIST tersering (72%), kemudian diikuti oleh usus kecil (16%), usus besar (8%)dan esophagus (4%). Gambaran histopatologik yang terbanyak adalah subtipe sel kumparan(52%), kemudian subtype campuran (28%) dan subtype epiteloid (20%). GIST dengan diferensiasisaraf merupakan jenis diferensiasi terbanyak, kemudian diikuti oleh GIST yang tidakberdiferensiasi, berdiferensiasi otot polos dan GIST berdiferensiasi campuran otot polos dan saraf.KesimpulanPada penelitian ini, kasus GIST lebih banyak terdapat pada pria dan lokasi tersering adalah gaster.Sub tipe histopatologik terbanyak adalah subtipe spindel dan diferensiasi saraf merupakandiferensiasi tersering. Diagnosis GIST dapat ditegakkan bila sel tumor positif dengan pulasanCD117.
Analisis korelasi antara ekspresi reseptor progesteron dengan protein p53 mutant pada meningioma hubungannya dengan derajat keganasan tumor Suparman; Fathul Djannah
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 1 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar BelakangMeningioma adalah tumor terbanyak kedua pada susunan saraf pusat. Studi sebelumnya menunjukkanbahwa reseptor progesteron (RP) mempengaruhi meningioma. Protein p53 mutant mempunyai peran pentingpada keganasan namun hubungan antara RP dengan protein p53 mutant masih belum jelas.Bahan dan CaraDilakukan penelitian retrospektif pada penderita meningioma di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Sebanyak 176kasus meningioma didapatkan selama Januari 2004 sampai Mei 2009. 2 meningioma atypic dan 4 meningiomaanaplastic seluruhnya disertakan dalam penelitian ini dan dikelompokkan sebagai meningioma WHO grade II-III.10 kasus yang diambil secara acak dari 170 meningioma jinak dikelompokkan sebagai meningioma WHO gradeI. Dilakukan pemeriksaan imunohistokimia menggunakan antibodi yang spesifik dengan RP dan protein p53mutant. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman rho dan dianggap bermakna bila p<0,05.Hasil3 dari kelompok meningioma WHO grade II and III mengekspresikan IRS 4 dan 3 IRS 0 sementara ekspresi p53mutant +1 sebanyak 5 kasus dan 1 kasus +2.7 meningioma WHO grade I IRS 6,1 IRS 9 dan 2 IRS 12sedangkan semuanya tidak mengekspresikan p53 mutant. Hasil analisis statistik RP dan derajat keganasanmeningioma menunjukkan p=0,00. Hasil analisis statistik p53 mutant dan derajat keganasan meningioma yaitup=0,00. Hasil analisis statistik RP status and p53 adalah p=0,00.KesimpulanTerdapat hubungan yang negatif antara derajat keganasan meningioma dengan ekspresi reseptor progesteron,terdapat hubungan yang positif antara derajat keganasan meningioma dengan ekspresi p53 mutant danterdapat hubungan yang negatif antara ekspresi progesterone receptor dengan ekspresi p53 mutant padameningioma
Nilai Numerik Sitomorfometri Keliling dan Densitas Inti pada Fibroadenoma, Karsinoma Duktus dan Karsinoma Lobular Payudara Delyuzar; fitriani Lumongga; Muhammad Nadjib D Lubis
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 1 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.998 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar BelakangPemeriksaan sitologi biopsi aspirasi jarum halus penting dalam diagnosa preoperatif lesi payudara. Sampai saatini interpretasi sediaan sitologi sering bersifat subjektif. Untuk mendapatkan diagnosa yang lebih objektif,diperlukan aplikasi tambahan dengan menggunakan komputer melalui images analysis. Morfometri yangdilakukan dengan komputerisasi dan analisa gambar dapat digunakan untuk menghitung ukuran sel, sepertikeliling inti (perimeter) dan densitas inti.TujuanTujuan studi ini membandingkan ukuran perimeter dan densitas inti antara fibroadenoma, karsinoma duktus dankarsinoma lobular payudara dengan menggunakan image analysis.Bahan dan CaraPenelitian menggunakan studi potong lintang dengan jumlah sampel 10 pada setiap kelompok. Sediaan hasilbiopsi aspirasi diwarnai Diff-Quik dan dilakukan pengukuran morfometri dengan pewarnaan Fuelgen. Penilaianmorfometri inti menggunakan MCID Analysis software pada 50 sel tiap slide dan dinyatakan dengan angka yangdapat dipindahkan ke dalam bentuk histogram. Perbedaan beberapa variabel diuji statistik dengan tesBonferroniHasilRata-rata keliling inti fibroadenoma mammae: 0,513 µm, karsinoma duktus : 0,887 µm, karsinoma lobular: 0,634µm. Rata-rata densitas inti fibroadenoma 0,45006: Relative optical density (ROD) dan karsinoma duktus: ROD.0,5338KesimpulanPada hasil penelitian terdapat perbedaan rata-rata keliling inti pada lesi fibroadenoma, karsinoma duktus dankarsinoma lobular payudara serta terdapat perbedaan densitas inti lesi payudara fibroadenoma dan karsinomaduktus dengan menggunakan pewarnaan Fuelgen.

Page 1 of 1 | Total Record : 5