cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 25279106     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 19 No 2 (2010): MPI" : 6 Documents clear
Gambaran Immunoekspresi Matrix Metalloproteinase 9 (MMP-9) pada Lesi-lesi Prakanker dan Karsinoma Serviks Invansif Soekimin; A. H. Wibisono; Jessy Chrestella; Muhammad Nadjib D Lubis
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 2 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.169 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar BelakangMatrix Metalloproteinase 9 (MMP-9) merupakan enzim proteolitik yang diduga berperan pentingdalam proses progresifitas lesi prakanker menjadi kanker serviks. Kadar MMP-9 yang tinggi akanmenyebabkan proses degradasi jaringan serviks menjadi lebih cepat dan mempermudah prosesinvasi sel kanker. Penelitian ini mengevaluasi level immunoekspresi dari MMP-9 secaraimmunohistokimia pada berbagai spektrum lesi prakanker dan lesi karsinoma serviks invasif.Bahan dan CaraLima puluh sampel jaringan serviks dibagi dalam tiga kelompok yaitu lesi prakanker Low gradeSquamous Intraepithelial Lesion (LGSIL), lesi prakanker High Grade Squamous IntraepithelialLesion (HGSIL), dan lesi karsinoma invasive. Sampel akan dievaluasi intensitas dan kuantitasekspresi immunohistokimia MMP-9, kemudian diamati dan dianalisa dengan uji korelasi Spearmen.HasilJumlah sel yang terwarnai diffuse pada stroma serviks ditemukan pada 23 (46 %) kasus, 12 (26%)kasus pada karsinoma invasif dan 9 (18%) kasus HGSIL. Stroma pada lesi LGSIL lebih banyakyang tidak menampilkan IHK MMP-9. Pada stroma neoplasia intraepitel dan karsinoma invasifserviks ditemukan korelasi positif dan signifikan dengan ekspresi imunohistokimia MMP-9 baik darisegi intensitas pewarnaan maupun jumlah sel yang positif terwarnai.KesimpulanSemakin tinggi nilai positif ekspresi imunohistokimia MMP-9 yang dinilai berdasarkan intensitas dankuantitas, semakin tinggi derajat keparahan lesi neoplasia serviks. Peningkatan ekspresiimunohistokimia MMP-9 berperan penting dalam proses karsinogenesis tumor serviks
Hubungan antara Ekspresi MMP-2, C-erbB-2 (HER-2/neu), dan Derajad Keganasan Histologik Karsinoma Endometrium dengan Kedalaman Invasi Miometrium Resti Arania; Budiningsih Siregar; Esti Dwi Sabarati
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 2 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.266 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangKedalaman invasi miometrium pada karsinoma endometrium penting dalam menentukan stadium dan prognosis.Saat ini telah banyak ditemukan faktor prognostik yang berhubungan dengan perubahan molekuler padakarsinogenesis, antara lain Matrix metalloproteinase-2 (MMP-2) yang merupakan enzim proteolitik yangberperan dalam degradasi matriks ekstrasel pada proses invasi dan c-erbB2, suatu reseptor faktor pertumbuhanyang bila ekspresinya meningkat berhubungan dengan prognosis buruk dan derajat keganasan histologik tinggi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ekspresi MMP-2, c-erbB2 dan derajad keganasanhistologik dengan kedalaman invasi miometrium pada karsinoma endometrium.CaraDilakukan studi retrospektif potong lintang terhadap 28 spesimen hasil operasi karsinoma operabel diDepartemen Patologi Anatomik FKUI/RSUPNCM dalam kurun waktu 2002-2008. Dilakukan pemeriksaan ulangpreparat HE untuk menilai jenis histologik, derajad keganasan dan kedalaman invasi Ekspresi MMP-2 dan cerbB2 dinilai dari pulasan imunohistokimia menggunakan antibodi monoklonal. Hasilnya dibandingkan menurutkedalaman invasi dan hubungan antar variabel.Hasil dan diskusiTerdapat hubungan yang bermakna antara derajad keganasan histologik dengan kedalaman invasi miometrium(p=0,02) yaitu kanker dengan derajad keganasan sedang-tinggi berisiko terjadi invasi lebih dari setengahketebalan miometrium 9 kali. Terdapat perbedaan bermakna antara ekspresi MMP-2 dengan derajad keganasanhistologik. Ekspresi MMP-2 lebih cenderung pada derajad keganasan rendah. Tidak terdapat hubungan antaraekspresi MMP-2, dan ekspresi c-erbB2 dengan kedalaman invansi. Dari penelitian ini disimpulkan bahwaderajad keganasan berhubungan dengan kedalaman invasi miometrium sedangkan ekspresi MMP-2 maupun cerbB2 tidak berhubungan.
Ekspresi hector battifora mesothelial epitope-1 (HBME-1) pada lesi jinak dan ganas tiroid Meilany Feronika Durry; Djumadi Achmad; Truly D. Dasril
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 2 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.775 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangLesi kelenjar tiroid merupakan kelainan yang sering ditemukan, namun penegakan diagnosisberdasarkan gambaran histopatologik sesuai kriteria morfologi WHO, seringkali sulit dilakukanterutama pada tumor folikuler berdiferensiasi baik. Antibodi HBME-1 adalah antibodi yangdiproduksi dari suspensi sel mesotelioma yang bereaksi dengan antigen yang tidak diketahui padamembran sel mesotel. Antibodi ini juga dilaporkan terekspresi pada lesi ganas tiroid terutama yangberasal dari sel epitel folikel dan tidak terekspresi pada lesi tiroid jinak seperti nodular goiter danadenoma folikular.CaraDesain penelitian ini adalah cross sectional yang dilakukan di Bagian Patologi Anatomik FakultasKedokteran Universitas Hasanuddin. Sampel diperoleh dari jaringan tiroid selama periode Januari –Desember 2008. Dilakukan pewarnaan imunohistokimia menggunakan antibodi monoklonal HBME1 pada 30 jaringan lesi tiroid ganas (karsinoma papiler dan folikuler) dan 30 jaringan tiroid jinak(nodular goiter) menggunakan metode labelled streptavidin biotin peroxidase.HasilEkspresi HBME-1 ditemukan pada 25 dari 30 (83,3%) lesi ganas dan hanya ditemukan pada 1 dari30 (83,3%) lesi jinak. Penelitian ini memiliki angka sensitifitas 83%, spesifisitas 96,6%, nilai prediksipositif 96,1%, nilai prediksi negatif 85,3% dan Odds Ratio (OR) 145 (Conficence Interval 95% (15,9-1325))KesimpulanPewarnaan imunohistokimia menggunakan antibodi HBME-1 dapat menjadi pemeriksaan tambahanbagi pewarnaan hematoksilin eosin (HE) terutama untuk kasus-kasus lesi tiroid yang sulit dalammembedakan antara lesi jinak dengan ganas
Aspirasi Jarum Halus dan Pemeriksaan Imunositokimia pada Diagnosis Kasus Timoma Mediastinum Lisnawati; Diah Setiawati
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 2 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.883 KB)

Abstract

Timoma adalah tumor primer yang berasal dari sel-sel epitel timus. Pada umumnyabersifat asimptomatik dengan gejala klinik yang tidak khas, kadang-kadang disertaisindrom paraneoplastik seperti miastenia gravis. Perilaku biologi timoma tidak dapatdiprediksi. Gejala yang dapat menyebabkan keadaan darurat seperti dispneu dansindrome vena cava superior perlu penanganan yang segera dan tepat. Makalah inimenyajikan sebuah kasus timoma pada wanita usia 29 tahun yang cukup menarik yangdidiagnosis dengan Fine needle Aspiration Biopsy (FNAB) dan dibuktikan denganpemeriksaan imunositokimia. Laporan ini menekankan pentingnya peranan diagnosissitologi dengan tehnik FNAB pada kasus kegawatan. Gambaran sitologi timomamenunjukkan campuran populasi sel-sel epitel dan limfosit. FNAB dan imunositokimiamemainkan peranan yang penting dalam penetapan diagnosis dan berperan sebagaidasar diagnosis penatalaksanaan segera yang tepat pada pasien berisiko.
Ekspresi CD10 dan Bcl6 pada Limfoma Malignum Sel B Jenis Sel Besar Difus dan Hubungannya dengan Skor Indeks Prognostik Internasional Jimmy Hadi Widjaja; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 2 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.986 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang.Limfoma malignum sel B jenis sel besar difus adalah Limfoma malignum non-Hodgkinyang sering dijumpai. Penyakit ini memiliki gambaran klinis, morfologik, perubahangenetik, dan molekular yang heterogen. Sel limfoma dapat memiliki fenotip serupadengan sel sentrum germinativum normal ditandai dengan ekspresi CD10 dan Bcl6 yangdapat berhubungan dengan gejala klinis dan prognosis yang baik. Penelitian ini inginmenilai hubungan imunoekspresi CD10 dan Bcl6 dengan skor Indeks PrognostikInternasional (IPI).CaraPenelitian dilakukan secara retrospektif pada 22 sediaan kasus Limfoma malignum sel Bjenis sel besar difus dari Januari 2007 sampai Juni 2009 di Bagian Patologi AnatomikRumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Semua bahan dilakukan penilaian ulang untukmenentukan diagnosis berdasarkan klasifikasi WHO 2001 berupa pulasan HE danimunohistokimia dengan CD10 dan Bcl6. Uji korelasi kontigensi digunakan untuk analisadata.HasilHasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang bermakna antara ekspresi CD10 danekspresi Bcl6 dengan skor IPI (p< 0,05). Tidak terdapat hubungan bermakna antaraekspresi CD10 dengan Bcl6 (p > 0,05).KesimpulanEkspresi CD10 dan Bcl6 berkaitan dengan prediksi prognosis.
Ketepatan Pemeriksaan Terpadu Sitologi Biopsi Aspirasi Jarum Halus (Si-BAJAH) dan Ultrasonografi pada Nodul Tiroid di RSUP Adam Malik Medan Juliana Lina; Gani .W Tambunan; Netty .D Lubis
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 2 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.949 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar BelakangPembesaran nodul tiroid merupakan keadaan yang biasa ditemukan dan hanya sebagian kecil sajayang merupakan neoplasma (5-10%). Sitologi biopsi aspirasi jarum halus (Si-BAJAH) merupakanmetode pemeriksaan prabedah dan untuk memilih pasien yang memerlukan tindakan pembedahanpada kelainan neoplasma atau pengobatan (medikamentosa). Ultrasonografi (USG) dapat dipergunakan sebagai pengarah pada Si-BAJAH, agar jarum biopsi dapat lebih jelas dan akuratdiinsersikan ke lesi yang dicuriga. Ultrasonografi secara signifikan meningkatkan sensitivitas danspesifitas Si-BAJAH pada nodul tiroid dibanding jika hanya menggunakan Si-BAJAH.CaraPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang untuk menilaiketepatan pemeriksaan Si-BAJAH dan USG pada nodul tiroid di RSUP Adam Malik Medan, danpemeriksaan histopatologi sebagai baku emasnya. Semua penderita dengan nodul tiroid ukuran≥2cm dilakukan biopsi aspirasi dan USG, kemudian dilakukan biopsi aspirasi ulang. Hapusandiwarnai dengan Giemsa.HasilHasil pengukuran menunjukkan sensitifitas Si-BAJAH mencapai 13,0% (1/8) dan spesifisitas100,0% (26/26). Akurasi diagnostik Si-BAJAH dan USG pada nodul tiroid lebih tinggi dibandingkanjika hanya dengan Si-BAJAH, dimana sensitifitas mencapai 25% (2/8) dan spesifisitas 100,0%(26/26).KesimpulanKesimpulan dari penelitian ini adalah pemeriksaan USG meningkatkan nilai akurasi diagnostik SiBAJAH pada nodul tiroid, terutama pada lesi jinak dengan ukuran ≥2 cm.

Page 1 of 1 | Total Record : 6