cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 25279106     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 20 No 2 (2011): MPI" : 7 Documents clear
Keakuratan Diagnosis Pemeriksaan Sitologi Aspirasi Jarum Halus pada Tumor Payudara di RSUP. Dr. Mohammad Hoesin Palembang . Kartika Sari* Henny Sulastri* Heni Maulani*, Kms.Ya’kub Rahadiyanto
Majalah Patologi Indonesia Vol 20 No 2 (2011): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.536 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Pemeriksaan sitologi aspirasi jarum halus pada payudara merupakan prosedur diagnostik pada tumor payudara di banyak negara, akan tetapi di Rumah Sakit Umum Dr. Mohammad Hoesin Palembang pemeriksaan ini bukan merupakan prosedur rutin. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai akurasi pemeriksaan sitologi aspirasi jarum halus dibandingkan dengan pemeriksaan histopatologi sebagai baku emasnya. Bahan dan cara kerja Penelitian merupakan studi retrospektif pada 114 sampel tumor payudara di Patologi Anatomi RSUP Dr. Moh. Hoesin palembang dari bulan Januari 2008 sampai Desember 2009. Seratus empatbelas sampel sitologi aspirasi jarum halus dan histopatologi dibaca ulang oleh dua orang Spesialis pemeriksaan Patologi Anatomik. Hasil penelitian dianalisis untuk menghitung nilai sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan sitologi aspirasi jarum halus. Hasil Didapatkan nilai sensitivitas 98,33%, spesifisitas 100%, nilai prediksi positif 100% dan nilai prediksi negatif 98,04%. Kesimpulan Pemeriksaan sitologi aspirasi jarum halus merupakan suatu pemeriksaan dengan nilai sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi yang dapat dipakai sebagai diagnosis pra-bedah pada tumor payudara. Kata kunci: Tumor payudara, sitologi aspirasi jarum halus, sensitivitas, spesifisitas. ABSTRACT Background Fine needle aspiration cytology examination of breast has been used as a diagnostic procedure in the investigation of palpable breast tumor in many countries, but it is not rutine examination in Dr. Mohammad Hoesin Pubclic Hospital Palembang. The aim of this study is to evaluate the accuracy of fine needle aspiration cytology with histopathologic confirmation. Method The study has been done retrospectively in 114 sample of breast tumor at the Anatomic Pathology of Dr. Mohammad Hoesin Public Hospital Palembang from January 2008 to December 2009. One hundred and fourteen samples of fine needle aspiration cytology and histopathology were reviewed by two pathologists. The result was analyzed for counted the sensitivity and specificity value of fine needle aspiration cytology examination which were confirmed by histopathologic examination. Result The Results showed a 98,33% sensitivity, 100% specificity, 100% positive predictive value and 98,04% negative predictive value. Conclusion Fine needle aspiration cytology is a highly sensitive and specific test that can be useful for pre-operative diagnose of breast tumor, and it is a cheap, rapid, reliable examination. Keywords: Breast tumor, fine needle aspiration cytology, sensitivity, specificity.
Hubungan Mikrometastasis Kelenjar Limfe dengan Gambaran Histopatologik Karsinoma Payudara . Tofrizal*, Aswiyanti Asri*, Yanwirasti
Majalah Patologi Indonesia Vol 20 No 2 (2011): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.4 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang Kanker payudara adalah kanker paling sering ditemukan pada wanita, meliputi 20% dari seluruh keganasan pada wanita. Keberhasilan terapi sangat ditentukan oleh pilihan terapi dan stadium penyakit. Metastasis merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan stadium serta pilihan terapi yang akan diambil. Pada fase dini metastasis, dimana jumlah sel yang bermetastasis sangat sedikit, sulit untuk mengidentifikasi sel tumor diantara jaringan limfoid pada pewarnaan rutin HE. Metoda imunohistokimia dengan menggunakan antibody terhadap sitokeratin dapat membantu deteksi mikrometastasis. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah terdapat hubungan antara mikrometastasis kelenjar getah bening dengan gambaran histopatologik karsinoma payudara. Cara kerja Penelitian dilakukan terhadap kasus karsinoma payudara tanpa metastasis kelenjar getah bening (negatif) yang telah didiagnosis di laboratorium Patologi Anatomi (PA) FK-UNAND, Padang, RSUP M Djamil, Padang dan RS. Achmad Muchtar, Bukittinggi dari Januari 2009 sampai Juni 2010. Slide HE direview ulang untuk penetapan subtipe dan grading histopatologik. Blok parafin kelenjar getah bening dilakukan pemotongan ulang dan pewarnaan imunohistokimia dengan antibody AE 1/3 untuk mendeteksi adanya mikrometastasis. Analisa hubungan mikrometastasis kelenjar limfe dengan grading histopatologik, ukuran makroskopik tumor serta subtipe histopatologik dilakukan dengan uji statistik Chi-Square dan t-test. Hasil Angka kejadian mikrometastasis sebesar 15,7%. Terdapat hubungan yang bermakna antara mikrometastasis dengan ukuran makroskopik tumor (p
Pengaruh Induksi Hidrogen Peroksida 3% pada Tikus dengan Luka Iris Terhadap Sel Radang Mononuklear (Limfosit, Makro-fag), Sel Nekrosis dan Jumlah Pembuluh Darah (Ekspresi VEGF) . Harman Agusaputra, Troef Soemarno
Majalah Patologi Indonesia Vol 20 No 2 (2011): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.242 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang Hidrogen peroksida 3% adalah larutan pembersih luka mempunyai banyak maanfaat, salah satu diantaranya adalah merangsang angiogenesis, vaskulogenesis dan oksigenasi jaringan. Proses penyembuhan luka sangat dipengaruhi vaskulogenesis, angiogenesis dan oksigenasi. Selama ini pemberian H202 3% pada luka/trauma hanya diberikan satu kali, sebagai pembersih. Proses penyembuhan luka dipengaruhi adanya aliran darah dan adanya sel radang terutama sel radang mononuklear (MN). Tujuan Menilai kegunaan hidrogen peroksida 3% pada pemberian kurang dari 7 hari dan mengungkap hubungan antara jumlah pembuluh darah dan jumlah sel radang MN dalam proses penyembuhan luka. Metode Dalam penelitian ini digunakan48 ekor tikus Balb/c umur 9-10 minggu, 3 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Masing-masing dilakukan insisi pada bagian punggung tikus. Sebelumnya dilakukan anestesi, insisi dibuat 1cm sedalam subk utan. Pada kelompok kontrol tidak diberikan tetesan hidrogen peroksida, pada kelompok perlakuan diberikan tetesan hidrogen peroxide 3%, sebanyak 3 kali sehari. Pada kelompok 1 baik kontrol maupun perlakuan dilakukan biopsi pada hari ke2, kelompok 2 pada hari ke-4, kelompok 3 pada hari ke-8. Biopsi kulit dipulas dengan Hematoxylin Eosin (HE) untuk melihat jumlah sel radang, sedangkan untuk melihat angiogenesis, vaskulogenesis dilakukan pemeriksaan imunohistokimia dengan antibodi VEGF. Hasil Didapatkan penurunan jumlah sel radang MN pada 1x24jam secara signifikan p0,018 (p0,05). Kesimpulan Terdapat penurunan jumlah sel radang MN dan peningkatan luas nekrosis pada 1x24 jam, dan tidak terdapat peningkatan jumlah endotel VEGF dalam waktu
Ekspresi Epidermal Growth Factor Receptor pada Karsinoma Duktal Invasif Payudara Triple Negative Hubungannya dengan Ekspresi Ki-67, Besar Tumor, dan Derajat Histologik . Alphania Rahniayu, Imam Susilo
Majalah Patologi Indonesia Vol 20 No 2 (2011): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.963 KB)

Abstract

A B S T R A K Latar Belakang Karsinoma duktal invasif payudara (KDIP) dengan fenotip triple negative (ekspresi reseptor hormon dan HER2/neu negatif) memiliki perilaku klinis yang lebih agresif dan pilihan terapi yang lebih terbatas dibandingkan tipe non triple-negative. Epidermal growth factor receptor (EGFR) merupakan famili reseptor ErbB dengan aktivitas tirosin kinase yang meningkat ekspresinya pada beberapa neoplasma. Aktivasi EGFR berlebihan menyebabkan peningkatan aktivitas proliferasi sel tumor. Tujuan Untuk menganalisis hubungan antara ekspresi EGFR dengan ekspresi Ki-67, besar tumor, dan derajat histologik pada KDIP triple negative. Bahan dan Cara Arsip histopatologi dan imunohistokimia (status reseptor hormon dan HER2/neu) karsinoma payudara selama Januari-Desember 2009 di Departemen Patologi Anatomik RSUD. Dr. Soetomo dikumpulkan. Tujuh belas kasus KDIP triple negative terkumpul berdasarkan kriteria inklusi dan dilakukan pemeriksaan imunohistokimia untuk ekspresi EGFR dan Ki-67. Hubungan antara ekspresi EGFR dengan Ki-67, besar tumor, dan derajat histologik dianalisis secara statistik dengan uji Chi-square. Hasil Dari 17 kasus yang diteliti, sebanyak 10 kasus memiliki ekspresi EGFR positif, dan 13 kasus positif terhadap Ki-67. Dari 10 kasus dengan ekspresi EGFR positif, 8 kasus memiliki ekspresi Ki-67 positif, 9 kasus dengan ukuran tumor > 2 cm, dan 7 kasus dengan derajat histologik III. Berdasarkan analisis statistik, tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara ekspresi EGFR dengan ekspresi Ki-67, besar tumor, dan derajat histologik KDIP triple negative (p>0.05). Kesimpulan Penelitian ini tidak menemukan adanya hubungan yang bermakna antara ekspresi EGFR dengan ekspresi Ki-67, besar tumor, dan derajat histologik KDIP triple negative. Kata kunci : karsinoma duktal invasif payudara, triple negative, EGFR, Ki-67 A B S T R A C T Background Triple Negative Invasive ductal carcinoma (IDC) of the breast are characterized by poor clinical outcome. The epidermal growth factor receptor (EGFR) is a receptor tyrosine kinase of the ErbB receptor family which is abnormally activated in many epithelial tumor. The aberrant activation of the EGFR leads to enhanced proliferation and other tumor-promoting activities. Objective To analyze the correlation between EGFR expression with Ki-67 expression, tumor size and histologic grading in triple negative IDC. Material and Methods Histopathology and immunohistochemical (hormone receptor and HER2/neu status) archives of breast carcinoma between January 2009 and December 2009 at Pathology Department Dr. Soetomo Hospital were retrieved. Seventeen cases of triple negative IDC were collected and analyzed for EGFR and Ki-67 expression by immunohistochemistry. The correlation between EGFR expression with Ki-67 expression, tumor size and histologic grading were investigated. Results Ten and 13 out of 17 cases had positive staining for EGFR and Ki-67 respectively. Of 10 cases which overexpressed EGFR, 8, 9, and 7 had positive Ki-67 expression, larger tumor sizes, and higher histological grade respectively. There were no significant association between EGFR expression and Ki-67 expression, tumor size and histopathologic grading based on statistical analysis (p>0.05). Conclusion This study found no correlation between EGFR expression with Ki-67 expression, tumor size and histopathologic grading in triple negative IDC. Keywords : invasive ductal carcinoma of the breast, triple negative, EGFR, Ki-67
Ekspresi Topoisomerase IIΑ pada Karsinoma Duktal Invasif Payudara, Hubungannya dengan Derajat Histopatologik dan Klasifikasi Subkelas Molekuler Payudara . Nila Kurniasari, Imam Susilo
Majalah Patologi Indonesia Vol 20 No 2 (2011): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.199 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Karsinoma duktal invasive payudara merupakan penyebab tersering kematian pada wanita di seluruh dunia. Topoisomerase IIα memiliki peran penting dalam replikasi DNA dan merupakan target spesifik agen kemoterapi berganda.Diduga amplifikasi topoisomerase IIα berkaitan dengan prognosis yang buruk pada karsinoma duktal invasive payudara, namun mempunyai respon yang baik terhadap kemoterapi sitotoksik. Namun, hubungan antara derajat histopatologik dan klasifikasi subkelas molekuler berdasarkan ekspresi ER, PR, HER-2/neu dan Topoisomerase IIα masih belum jelas. Tujuan Penelitian ini bertujuan utuk menentukan hubungan antaratopoisomerase IIα pada karsinoma duktal invasif payudara dan derajat histopatologik dan klasifikasi subkelas molekuler payudara. Bahan dan cara Sejak Januari-Desember 2009, rekam medik 35pasien karsinoma duktal invasif payudara pada Departemen Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo Surabaya, dicatat data derajat histopatologik dan hasil pemeriksaan imunohistokimia (ER, PR, HER-2/neu). Pembuatan spesimen dan pulasan imunohistokimia dilakukan untuk melihat ekspresi imunohistokimia topoisomerase IIα. Hasil Pemeriksaan Imunohistokimia menunjukkan ekspresi Ekspresi topoisomerase IIα pada 23 (65.7%) kasus. Analisa Chi Squareantara topoisomerase IIα dan derajat histopatologik menunjukkan hubungan yang tidak bermakna (p=0.091). Sedangkan analisa Chi Squareantara ekspresi topoisomerase IIα dan klasifikasi subkelas molekuler payudara menunjukkan hubungan yang tidak bermakna (p= 0.204). Kesimpulan Topoisomerase IIαtidak berperan pada diferensiasi, proliferasi sel tumor dan karsinogenesis karsinoma duktal invasif payudara melalui jalur hormonal. Kata kunci : karsinoma duktal invasif payudara , topoisomerase IIα, ER, PR, HER-2/neu, derajat histopatologik. ABSTRACT Background Invasive ductal carcinoma of the breast was the most common cause of death among women in the world. Topoisomerase IIα plays a key role in DNA replication and is a target for multiple chemotherapeutic agents. Amplification of Topoisomerase IIα is considered to have correlation with poor prognosis in invasive ductal carcinoma of the breast, but have a favourable response to cytotoxic chemotherapy. The correlation between Topoisomerase IIα, histopathology grading and molecular subclass classification based on ER, PR and HER-2/neu expression is still unclear. Objective This study was conducted to determine the correlation between topoisomerase IIα in invasive ductal carcinoma of the breast and histopathological grading and molecular subclass classification of the breast. Methods Since January-December 2009, medical records of 35 patients invasive ductal carcinoma of the breast of Pathology department of Dr. Soetomo Hospital Surabaya, retrieved histopathological grading and immunohistochemical data (ER, PR, HER-2/neu). Specimen and immunohistochemicalexaminationwere made to study expression of topoisomerase IIα Results Immunohistochemical examination topoisomerase IIα expression in 23 cases (65.7%). Chi Square analysis between topoisomerase IIα expression and histopathological grading showed not significant correlation (p=0.091). However, Chi Square analysis between topoisomerase IIα exspresion and molecular subclass classification of the breast showed not significant correlation (p=0.204) Conclusion Topoisomerase IIαhave no role in differentiation, tumor cell proliferation and carcinogenesis of invasive ductal carcinoma of the breast via the hormonal pathway. Keywords: invasive ductal carcinoma of the breast, Topoisomerase IIα, ER, PR, HER-2/neu, histopatho-logical grading.
Pengaruh Ekstrak Biji Eugenia Jambolana terhadap Jumlah Sel Beta Pankreas dan Ekspresi Protein Glut4 pada Mencit Jantan Balb/C yang Diinduksi Streptozotocin . Siti Kharidah, Troef Soemarno
Majalah Patologi Indonesia Vol 20 No 2 (2011): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.814 KB)

Abstract

Pengaruh Ekstrak Biji Eugenia Jambolana terhadap Jumlah Sel Beta Pankreas dan Ekspresi Protein Glut4 pada Mencit Jantan Balb/C yang Diinduksi Streptozotocin
Tingkat Kesesuaian Gambaran Klinik dan Histopatologik Serta Positivitas CD4 dan CD8 pada Spektrum Penyakit Kusta Menurut Klasifikasi Ridley-Jopling . Lenti Perangin Angin*, Sri Linuwih Menaldi**, Santoso Cornain*, Mpu Kanoko
Majalah Patologi Indonesia Vol 20 No 2 (2011): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.067 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang Kusta adalah suatu penyakit kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Manifestasi penyakit kusta bergantung kepada respon imun seluler seseorang. Ridley-Jopling membuat klasifikasi menjadi Tuberculoid leprosy (TT), Borderline tuberculoid (BT), Mid-borderline (BB), Borderline lepromatous (BL), Lepromatous leprosy (LL) berdasarkan gambaran klinik, histopatologik, bakteriologik dan imunologik. Pada umumnya Pusat Kesehatan Masyarakat di Indonesia belum memiliki fasilitas pemeriksaan histopatologik dan imunologik, sehingga diagnosis kusta hanya ditegakkan berdasarkan jumlah lesi dan jumlah kuman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara gambaran klinik dan histopatologik penyakit kusta dan melihat gambaran respon imun penderita melalui pemeriksaan CD4+ dan CD8+ pada limfosit sel T, serta korelasi antara indeks bakteriologik pada masing-masing tipe kusta. Bahan dan Cara Penelitian potong lintang terhadap 159 kasus kusta baru tanpa reaksi tahun 2007-2009 di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Secara sistematic sampling dilakukan pemeriksaan Hematoksilin-Eosin, Fite Faraco dan immunohistokimia CD4 dan CD8 pada 30 kasus masing-masing mewakili tipe kusta. Hasil Dari 159 kasus kusta baru tanpa reaksi terdiri atas 88 laki-laki dan 71 perempuan, dengan kelompok umur paling banyak pada rentang 16-30 tahun. Tingkat kesesuaian diagnosis kusta secara klinik dan histopatologik adalah 52.2%, dengan ketidaksesuaian mayor ditemukan 22% dan ketidaksesuaian minor 25.8%. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara positivitas CD4 dan CD8 dengan tipe kusta sedangkan Indeks Bakteriologik memiliki hubungan yang bermakna dengan spektrum tipe kusta. Kesimpulan Tingkat kesesuaian penegakan diagnostik secara klinik dan histopatologik adalah 52.2%. Terdapat korelasi dengan kekuatan sedang pada hubungan diagnosis klinik dan indeks bakteriologik sedangkan pada diagnosis histopatologik terdapat korelasi kuat dengan indeks bakteriologik. Kata Kunci : Mycobacterium leprae, kusta, indeks bakteriologik, diagnosis klinik, diagnosis histopatologik, klasifikasi Ridley-Jopling, CD4+, CD8+. ABSTRACT Background Leprosy (Hansen’s Disease) is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium leprae. The varied manifestations of the disease might depend on the immune status of the host. Ridley-Jopling classified cases based on clinical, histopathological, bacteriological and immunologicalfeatures as TT (tuberculoid leprosy), BT (borderlinetuberculoid), BB (mid-borderline), BL (borderline lepromatous), LL (lepromatousleprosy). Because many centres of health in this country lack the fascility to perform laboratory diagnostic, so clinical diagnostic based on WHO (World Health Organization) classification Paucibacillary and Multibacillary dichotomy may be sufficient. The purpose of this study is to analyze the concordance level between clinical and histopathological diagnosis and correlation of the immunological respons represented by the expression of CD4+ and CD8+T lymphocyte among the spectrum of leprosy. Material and methods A cross sectional study was performed in 159 new leprosy patients with no reaction phase in the National General Central Hospital, Jakarta during 2007-2009 and the archival slides were reviewed. They were stained with Hematoxylin dan Eosin and modified Fite- Faraco staining for identification of Mycobacterium leprae. Immune status of the patients was determined by immunohistochemistry staining with expression of CD4+ and CD8+ T cell lymphocyte. Results 159 new cases of leprosy with no reaction phase consisted of 88 males and 71 females. Discrepancy between clinical and histopathological diagnosis was seen in 47.8% of cases. Major discrepanciescomprised 22%, and minor discrepancies 25.8%. There was no statistically significant relationship between positivity of CD4+ (p>0.05) and CD8+ (p>0.05) with respect to leprosy spectrum.There was statistically significant relationship between Bacteriological Index (BI) and spectrum of leprosy (p

Page 1 of 1 | Total Record : 7