cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 25279106     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 22 No 3 (2013): MPI" : 8 Documents clear
Hubungan antara Ekspresi VEGF dan Karakteristik Kliniko-patologis pada Karsinoma Sel Skuamosa Serviks Linda Fatrisia; Jusuf Fantoni; Ika Kartika; Erial Bahar
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.879 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Kanker serviks masih menjadi masalah yang signifikan di seluruh dunia. Angiogenesis sangat berperan dalam hal progresivitas, invasi dan metastasis.Vascular endothelial growth factor (VEGF) sebagai faktor angiogenik primer merupakan salah satu faktor prognostik karsinoma sel skuamosa serviks bila ekspresinya meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ekspresi VEGF dan karakteristik klinikopatologis pada karsinoma sel skuamosa serviks. Metode Penelitian ini adalah penelitian cross sectional. Lima puluh tiga sampel terdiri atas 40 jaringan hasil biopsi dan 13 histerektomi diambil dari arsip di bagian Patologi Anatomi RSMH, dilakukan pulasan dengan antibodi VEGF, diidentifikasi dan dianalisis hubungannya dengan stadium klinis, derajat keganasan histologi, invasi limfovaskular, status limfonodus, kedalaman invasi dan keterlibatan parametrium. Hasil Ekspresi VEGF positif pada karsinoma sel skuamosa serviks lebih banyak dijumpai pada kelompok usia >50 tahun, stadium IIIB dan IVA, derajat keganasan semakin buruk, invasi limfovaskular dan status limfonodus positif serta kedalaman invasi stroma hingga 2/3 bagian luar dan tanpa keterlibatan parametrium. Terdapat hubungan yang bermakna antara ekspresi VEGF dengan kategori usia (p=0,038) dan korelasi yang kuat antara persentase positif ekspresi VEGF dengan usia (r=0,709) dan derajat keganasan (r=0,897). Namun, tidak ada hubungan yang bermakna antara ekspresi VEGF dengan karakteristik klinikopatologis (p>0,05). Kesimpulan VEGF belum dapat digunakan sebagai faktor prediktor progresivitas pada karsinoma sel skuamosa serviks Kata kunci : Karsinoma sel skuamosa serviks, VEGF, karakteristik klinikopatologis. ABSTRACT Background Cervical cancer remains a significant problem worldwide. The angiogenesis has an important role in the progression, invasion and metastasis. VEGF is a primary angiogenic factor that is one of the prognostic factor of cervical squamous cell carcinoma if the expression of VEGF increases. This study aimed to determine the relationship between the expression of VEGF and clinicopatological characteristics of the cervical squamous cell carcinoma. Methods It was a cross-sectional study. Fifty-three samples of biopsy and hysterectomy tissue were from the archives of the Anatomical Pathology Department of RSMH, stained with VEGF antibody, identified and analyzed the relation to clinical stage, histological grade, lymphovascular invasion, lymph node status, depth of invasion and parametrial involvement. Results The positive expression of VEGF in cervical squamous cell carcinoma was more common in the age group > 50 years, stage IIIB and IVA, the worse histological grade, the positive invasion lymphovascular and lymph nodes status, deep of stromal invasion up to the outside 2/3 and without parametrial involvement. There was a significant correlation between the expression of VEGF and the age category (p=0.038) and a strong correlation between the percentage of positive expression of VEGF andthe age range (r=0.709) and the histological grade (r=0.897). There was no significant correlation between the expression of VEGF and clinicopatologic characteristics (p>0.05). Conclusion VEGF can not be used as a progression predictor factorof thesquamous cell carcinoma. Key words : cervical squamous cell carcinoma, VEGF, clinicopathologic characteristics
Ekspresi Topoisomerase II α pada Diffuse Large B Cell Lympho-ma dan Hubungannya dengan Respon Terapi Indri Windarti; Endang SR Hardjolukito; Maria Francisca Ham; Tubagus Djumhana Atmakusuma; Wulyo Rajabto
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.276 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Kemoterapi pilihan untuk Diffuse Large B Cell Lymphoma (DLBCL) adalah regimen yang mengandung doksorubisin. Doksorubisin merupakan obat kemoterapi golongan antrasiklin yang bekerja sebagai anti Topoisomerase II (Top2). Penelitian sebelumnya terhadap galur sel tumor menunjukkan bahwa ekspresi Topoisomerase II α (Top2A) yang tinggi berhubungan dengan sensitifitas terhadap antrasiklin yang tinggi pula. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ekspresi protein Top2A pada DLBCL dan hubungannya dengan respon terapi. Metode Studi potong lintang dilakukan terhadap 38 kasus DLBCL dengan pulasan CD20 positif, yang telah mendapat kemoterapi minimal 4 siklus. Imunohistokimia dilakukan pulasan terhadap protein Top2A dengan menggunakan H-score. Hasil Ekspresi Top2A ditemukan pada 37 dari 38 kasus (97%) dengan kisaran H-score 101,5-215,0 dan median 124,1. H-score nilai Top2A dikatakan tinggi jika H-score lebih dari 124,1. Analisis statistik menunjukkan bahwa ekspresi Top2A pada DLBCL tidak berhubungan bermakna dengan respon terapi (p=0,670). Kesimpulan Ekspresi Top2A dan respon terapi tidak memiliki hubungan bermakna. Ekpresi Top2A pada DLBCL tidak dapat dijadikan prediktor respon terapi. Kata kunci: DLBCL, Doksorubisin, ekspresi Top2A, respon terapi. ABSTRACT Background Standard of chemotherapy for Diffuse Large B Cell Lymphoma (DLBCL) is a regimen containing doxorubicin. Doxorubicin is a component of anthracycline based chemotherapy that work as anti Topoisomerase II (Top2). Previous study on tumor cell lines showed that high expression of Topoisomerase II α (Top2A) was related to higher sensitivity to anthracycline as well. The aim of this study is to know the expression of Top2A and its relation to treatment response. Methods A cross-sectional study on 38 which DLBCL cases CD20 positive that have been treated with at least 4 cycles of chemotherapy. The immunohistochemical staining was performed on Top2A protein assesed using H-score. Results Expression of Top2A protein were found in 37 of 38 (97%) cases (H-score range: 101.5-215.0 and median 124.1). Value Top2A was defined as high if H-score more was higher than 124.1. Statistical analysis showed that Top2A expression in DLBCL was not significantly related to treatment response (p=0.670). Conclusion There was no significant relation between Top2A expression and treatment response. Top2A expression in DLBCL cannot be used as a predictor of treatment response. Key words: DLBCL, Doxorubicin, Top2A expression, treatment response.
Hubungan antara Microvessel Vessel Density (MVD) dengan Faktor Risiko Histopatologik Retinoblastoma Valentina I Bitticaca; Nurjati C Siregar; Saukani Gumay
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.08 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Retinoblastoma merupakan tumor ganas mata tersering pada anak, terutama usia di bawah 3 tahun. Penanganan kasus retinoblastoma didasarkan pada luasnya invasi sel tumor pada lapisan koroid, nervus optikus pre dan post laminar, sklera dan batas sayatan operasi yang merupakan faktor risiko histopatologi, dan dikelompokkan atas risiko rendah, menengah dan tinggi. Penilaian microvessel density (MVD) telah digunakan sebagai dasar terapi anti angiogenesis pada beberapa jenis karsinoma. Telah dilaporkan bahwa retinoblastoma dengan invasi koroid atau metastasis mempunyai nilai MVD yang lebih tinggi dibandingkan yang tanpa invasi lokal ataupun tanpa metastasis. Dalam penelitian ini dilihat hubungan antara MVD dengan faktor risiko histopatologik, selain itu dipelajari pula hubungan antara MVD dengan diferensiasi tumor dan usia. Metode Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dan analitik terhadap 59 kasus retinoblastoma tanpa kemoreduksi di Departemen Patologi Anatomik FKUI-RSCM. Setelah dikelompokkan menurut risiko histopatologik, didapatkan 10 kasus risiko rendah, 17 kasus risiko menengah dan 32 kasus risiko tinggi. Dilakukan pulasan imunohistokimia CD31, dan selanjutnya dihitung MVD pada masing-masing kelompok, diikuti dengan analisis statistik antara MVD dan faktor risiko histopatologik. Hasil Didapatkan hubungan bermakna yang signifikan antara MVD dan faktor risiko histopatologik (p
Pola Ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) Dikaitkan dengan Pertumbuhan Tumor dan Edema Peritumoral pada Astrositoma Diah Prabawati Retnani; Dyah Fauziah
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.524 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Astrositoma adalah tumor dari sel astrosit dengan variasi derajat histopatologik, disertai ukuran edema peritumoral. Peningkatan derajat keganasan, ukuran tumor dan pembentukan edema peritumoral diperlukan proses angiogenesis. Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) adalah salah satu faktor penting dalam proses angiogenesis. VEGF diperlukan dalam proliferasi, survival dan migrasi sel endotel dan permiabilitas vaskuler. Peranan VEGF dalam pembentukan edema peritumoral masih dalam perdebatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola ekspresi VEGF dan peningkatan derajat histopatologik, ukuran tumor dan insiden edema peritumoral pada astrositoma. Metode Arsip histopatologik astrositoma derajat II, III, IV (Glioblastoma) dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama kurun waktu Januari 2009 hingga Januari 2012 dikumpulkan. Pada tiga puluh kasus astrositoma yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan pemeriksaan imunohistokimia dengan VEGF Rabbit. Hubungan pola ekspresi VEGF dan derajat histopatologik, ukuran tumor dan kejadian edema peritumoral dianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil Sebanyak 29 dari 30 kasus menunjukkan ekspresi VEGF positif. Dari 29 kasus dengan ekspresi VEGF positif tersebut, 13 kasus adalah astrositoma derajat IV, 22 kasus dengan ukuran tumor > 2cm, dan 17 kasus disertai edema peritumoral. Analisis statistik ekspresi VEGF memiliki pengaruh terhadap peningkatan derajat histopatologik (p=0,023), rs=0,413) dan ukuran tumor (p=0,005, rs= 0,499) namun tidak berpengaruh terhadap kejadian edema peritumoral (p=0,273). Kesimpulan Penelitian ini mengungkapkan bahwa ekspresi VEGF dapat meningkatkan derajat histopatologik dan besar tumor, namun tidak berpengaruh terhadap pembentukan edema peritumoral pada astrositoma. Kata kunci: Astrositoma, VEGF, derajat histopatologik, edema peritumoral. ABSTRACT Background Astrocytoma is a glial tumor that derived from astrocyte cells with various tumor size, histopathologic grading and peritumoral edema. Angiogenesis plays role in tumor grading, tumor size and formation of peritumoral edema. VEGF is needed for proliferation, survival, migration of endothel cell and vascular permiability. The role of VEGF to regulate peritumoral edema in brain tumor is still debated. The purpose of this study was to analyze the relationship between VEGF expression and tumor size, histopathologic grading and peritumoral edema of astrocytoma. Methods Pathology archives of grade II, III and IV astrocytomas were retrieved at Dr Soetomo Hospital Surabaya between Januari 2009-Januari 2012. Thirty cases of astrocytomas that fulfilled the conclusion criteria were stained with VEGF rabbit monoclonal antibody (clone EP1176Y). Relationship between VEGF expression and histopathologic grading, tumor size and peritumoral edema were analyzed using Spearman correlation test. Results There were 29 of 30 cases of astrocytom showing positif VEGF expression, 13 cases of grade IV astrocytoma, 22 cases had tumor size more than 2 cm, and 17 cases showing peritumoral edema. Statistical analyzis revealed that VEGF expression had a significant association with histopathologic grading ( p=0.023; rs=0.413) and tumor size (p=0.005; rs=0.499). In contrast, VEGF expression had no significant assoiation with peritumoral edema (p=0.273). Conclusion This study revealed that VEGF plays role in increasing histopathologic grading and tumor size in astrocytoma but its role in peritumoral edema is not significant. Key words : astrocytoma, VEGF, histopathologic grading, peritumoral edema.
Ekspresi Imunoglobulin A pada Sel Plasma di Sekitar Sel Tumor Karsinoma Nasofaring Tidak Berkeratin, Tidak Berdiferensiasi yang Terinfeksi Virus Epstein-Barr Ratna Handayani; Lisnawati -; Budiana Tanurahardja
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.055 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan salah satu keganasan yang sering ditemukan di Indonesia dengan insiden 6,2/100.000 penduduk. Pemeriksaan serologik imunoglobulin A (IgA) terhadap viral capsid antigen (IgA-VCA) merupakan petanda tumor yang digunakan sebagai standar serodiagnostik karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi terhadap KNF. Titer antibodi IgA terhadap Epstein-Barr Virus (EBV) meningkat lebih dulu sebelum tampak tumor, dan titer pada usia ≤ 30 tahun lebih rendah daripada usia > 30 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ekspresi IgA pada jaringan biopsi KNF tidak berkeratin, tidak berdiferensiasi (WHO tipe 3) yang terinfeksi EBV pada kelompok usia ≤ 30 tahun dan usia > 30 tahun. Metode Studi potong lintang terhadap jaringan biopsi pasien KNF WHO tipe 3 yang terinfeksi EBV yang ditandai dengan positifitas EBER pada 13 pasien usia ≤ 30 tahun dan 20 pasien usia > 30 tahun, kemudian dilakukan pemeriksaan imunohistokimia terhadap IgA. Hasil Positivitas EBER ditemukan pada seluruh kasus KNF WHO tipe 3. IgA terekspresi pada epitel permukaan jaringan tumor dan terdapat positifitas ekspresi IgA sel plasma yang berbeda-beda di stroma sekitar jaringan tumor, dengan rerata pada kelompok usia ≤ 30 tahun lebih rendah dari kelompok usia > 30 tahun. Hasil uji t tidak berpasangan menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara ekspresi IgA sel plasma pada KNF WHO tipe 3 pada kelompok usia ≤ 30 tahun dan > 30 tahun dengan nilai p=0,025. Kesimpulan Ekspresi IgA sel plasma disekitar jaringan tumor pada jaringan KNF WHO tipe 3 dipengaruhi oleh usia. Kata kunci : Karsinoma nasofaring, virus Epstein-Barr, EBER, IgA. ABSTRACT Background Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is one of the most frequent malignant tumors in Indonesia, with incidence rate 6.2/100.000. The IgA-VCA serologic examination is considered as a useful marker for early detection of NPC because its high sensitivity and specificity to NPC. IgA antibody titer to Epstein-Barr Virus (EBV) increased before the tumor arise, and it lower in ≤ 30 years old patients compare to > 30 years old patients. The aim of this study is to evaluated the expression of IgA in biopsy specimen of EBV infected undifferentiated NPC among both ≤ 30 and > 30 years old patients. Methods A cross-sectional retrospective study was performed in 13 young and 20 old groups of age of undifferentiated NPC. The EBER positive undifferentiated NPC was stained with IgA by immunohistochemistry, and then analized it between the two of age groups. Results EBER positivity was found in all undifferentiated NPC. IgA was expressed in the normal surface epithelial submucous plasma cells and stromal plasma cells surounding the tumor mass in all cases of undifferentiated NPC with differented positivity. Statistical analysis with unpaired t test showed that IgA expression is significantly lower in ≤ 30 years old patients than > 30 years old patients with p value 0.025. Conclusion IgA is expressed in plasma cell cytoplasm in the stromal site of undifferentiated NPC and influenced by age. Key words : Nasopharyngeal carcinoma, Epstein-Barr Virus, EBER, IgA.
Analisis Hubungan antara Ekspresi MMP-2 dengan Derajat Neoplasia Serviks pada Pap Smear Berbasis Cairan Marini Stephanie; Lisnawati -; Rahmiati -
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.312 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang MMP (matrix metalloproteinase) merupakan protease yang memiliki peran yang sangat penting pada proses invasi dan metastasis. Seiring dengan perkembangan pengetahuan mengenai akivitas MMP dan matriks esktraseluler, MMP dipikirkan juga ikut berkontribusi dalam lesi-lesi intraepitelial neoplasia serviks, salah satu diantaranya adalah MMP 2. MMP 2 merupakan salah satu anggota kelompok gelatinase yang sering dilaporkan kaitannya dengan progresifitas lesi kanker serviks, yang penelitiannya pada umumnya dilakukan pada jaringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan ekspresi MMP 2 dengan derajat neoplasia serviks yang dilakukan pada bahan sitologi berbasis cairan. Metode Penelitian ini dilakukan secara prospektif, menggunakan studi deskriptif analitik dengan disain potong lintang pada sediaan pap smear berbasis cairan yang telah didiagnosis sesuai dengan klasifikasi Bethesda 2001. Kasus dengan papsmear abnormal akan dilanjutkan dengan imunositokimia MMP 2. Hasil Terdapat hubungan bermakna antara ekspresi MMP 2 dengan derajat neoplasia serviks (p=0,001). Kesimpulan Ekspresi MMP 2 dapat ditemukan pada lesi atipikal, prekanker dan kanker invasif pada serviks. Tampak proporsi positifitas ekspresi MMP 2 lebih tinggi secara bermakna pada lesi derajat tinggi dibandingkan pada lesi derajat rendah. Kata kunci: MMP 2, derajat neoplasia serviks, pap smear berbasis cairan. ABSTRACT Background MMP (matrix metalloproteinase) ia a protease which have important role in the invasion and metastatic process. Resent study of the activity and extracellular matrix of MMP, especially MMP-2 is suspected contribute in the cervical intraepithelial neoplasia MMP-2 is one of the gelatinase group, that have been reported having correlation with cervical cancer progresivity. Many studies concerning the activity of MMP-2 in the tissues had been done. The aim of this study is to learn the relation of MMP-2 expression with cervical neoplasia grading using liquid base cervical cytology specimen. Methods This is a prospective study by cross sectional analysis using liquid base cytology slides, that was diagnosed according the Bethesda 2001 classification. All cases were reviewed and the abnormal cases were continued to immunocytochemistry staining using MMP-2 antibody. Results There were significantly association between MMP 2 and degree of neoplasia cervical lesion with p=0.001. Conclusion MMP 2 expression can occur in atypical, precancer and cancer lesions of the cervix. It was shown that high grade cervical lesions had higher proportion of MMP 2 positivity than low grade cervical lesions significantly. Key words : MMP 2, degree of neoplasia cervical lesions, liquid based cytology.
Hubungan Ekspresi VEGF dan Skor MAGS Terhadap Kejadian Metastasis pada Osteosarkoma Tri Nugraheni; Sjahjenny Mustokoweni; Ferdiansyah -
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.335 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Osteosarkoma memiliki prognosis buruk oleh karena kejadian metastasis yang tinggi dan kemoresisten. Angiogenesis berperan dalam pertumbuhan osteosarkoma dan Vascular endothelial growth factor (VEGF) adalah faktor penting di dalamnya. Microscopic angiogenesis grading system (MAGS) merupakan teknik menghitung derajat angiogenesis pada tumor yang mudah untuk dikerjakan. Metode Penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah penderita osteosarkoma yang telah diagnosis secara histopatologik di Laboratorium Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo selama tahun 2007-2011. Data metastasis diperoleh dari rekam medik. Pemeriksaan imunohistokimia dengan menggunakan poliklonal antibodi VEGF. Derajat ekspresi VEGF dinilai berdasarkan jumlah sel tumor yang menunjukkan imunoreaktifitas secara semikuantitatif. Skor MAGS didapatkan dari menilai vasoproliferasi (N), hiperplasia sel endotel (E) dan sitologi endotel (X) dengan formula MAGS = KnN+ KeE + KxX. Hubungan dianalisis dengan uji Mann-Whitney, uji t dua sampel bebas dan uji korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil Didapatkan 9 dari 31 kasus osteosarkoma dengan metastasis. 7 dari 9 (77,8%) menunjukkan ekspresi VEGF sangat kuat (+3). Rata-rata skor MAGS pada osteosarkoma dengan metastasis 39,44. Analisa statistik dengan uji Mann Whitney menyatakan bahwa hubungan antara ekspresi VEGF dan skor MAGS dengan kejadian metastasis (p=0,014 dan p=0,000) dan adanya hubungan positif antara ekspresi VEGF dan skor MAGS (p=0,000). Kesimpulan Peningkatan ekspresi VEGF dan skor MAGS berperan terhadap kejadian metastasis pada osteosarkoma. Ekspresi VEGF dan skor MAGS memiliki korelasi positif. Kata kunci : VEGF, skor MAGS, osteosarkoma, metastasis ABSTRACT Background Osteosarcoma is associated with poor prognosis due to its high incidence of metastasis and chemoresistance. Angiogenesis plays a role in the progression of osteosarcoma, and it is most commonly assessed by vascular endothelial growth factor (VEGF) expression. MAGS scoring is an easy quantitative technique of measuring degree of angiogenesis in a tumor. Methods This study an analytic observational with cross sectional approach. Study samples patients with osteosarcoma that histopathologically diagnosed at the Laboratory of Anatomic Pathology Dr. Soetomo Hospital during 2007-2011. Incidence of metastasis was collected from medical record. Immunohistochemical examination using polyclonal antibody VEGF. Expression of VEGF were assessed based on the number of tumor cells that showed imunoreactivity semiquantitatively. MAGS score was resulted from measuring vasoproliferation (N), endothelial cell hyperplasia (E) and endothelial cytology (X) with formula MAGS = KnN+ KeE + KxX. Correlations were analyzed with Mann-Whitney test, two independent samples t test and Spearman correlation test with significance on p
Ekspresi Antibodi Terhadap Human Papilloma Virus Type 16 pada Karsinoma Serviks Neni Wahyu Hastuti
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.979 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Virus Human Papilloma adalah virus yang dapat menimbulkan kanker serviks. HPV tipe 16 adalah jenis virus yang sering dijumpai pada kanker serviks invasif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi antibodi terhadap human papilloma virus type 16 pada karsinoma serviks. Metode Pada penelitian ini dilakukan potong lintang terhadap 34 kasus karsinoma serviks (21 karsinoma sel skuamous, 5 karsinoma undifferentiated, 4 adenokarsinoma, 2 karsinoma adenoskuamous, dan 2 karsinoma insitu) yang diwarnai dengan antibody primer Papilloma virus tipe 16 (HPV-16), Monoklonal, Mouse IgG2a [CaamVir-1], Supersensitive, Cat No. AM362-5M, Biogenex. Hasil Reaksi HPV-16 dijumpai pada 19 (55,9%) dari 34 kasus kanker serviks dengan rinci: 15 (71,4%) dari 21 kasus karsinoma sel skuamous, 2 (100%) dari 2 kasus karsinoma undifferentiated, 2 (100%) dari 2 kasus karsinoma insitu, 0 (0%) dari 2 kasus karsinoma adenoskuamous, 0 (0%) dari 2 kasus adenokarsinoma. Analisa statistik tampilan HPV-16 positif antara kasus karsinoma skuamous dan karsinoma nonskuamous menunjukkan perbedaan bermakna HPV (0,05

Page 1 of 1 | Total Record : 8