cover
Contact Name
Jaya Pramana
Contact Email
jayapram@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@majalahpatologiindonesia.com
Editorial Address
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : 02157284     EISSN : 25279106     DOI : https://doi.org/10.55816/
Core Subject : Health,
Majalah Patologi Indonesia (MPI) digunakan sebagai wahana publikasi hasil penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus dan ulasan berbagai aspek di bidang patologi manusia. Tujuannya ialah menghadirkan forum bagi permakluman dan pemahaman aneka proses patologik serta evaluasi berbagai penerapan cara diagnostik sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu juga untuk merangsang publikasi barbagai informasi baru/mutakhir.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 26 No 1 (2017): MPI" : 8 Documents clear
Ekspresi Matriks Metalloproteinase-9 Lebih Tinggi pada Adeno-karsinoma Asinar Prostat Derajat Tinggi Dibandingkan dengan Derajat Rendah Ni Made Mahastuti; AAAN Susraini; Herman Saputra
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.321 KB)

Abstract

Latar belakang Agresivitas adenokarsinoma asinar prostat antara lain ditentukan oleh peningkatan derajat diferensiasi yang dinilai berdasarkan skor Gleason. Peningkatan agresivitas ini diiringi oleh peningkatan kemampuan invasi dan metastasis yang merupakan salah satu penyebab kematian karena kanker.Matriks metalloproteinase-9 merupakan salah satu enzim proteolitik yang terlibat pada proses invasi dan metastasis karsinoma prostat. Beberapa penelitian yang menghubungkan MMP-9 dengan agresivitas karsinoma prostat tampaknya masih menunjukkan ketidaksesuaian hasil. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa ekspresi matriks metalloproteinase-9 lebih tinggi pada adenokarsinoma asinar prostat derajat tinggi dibandingkan dengan derajat rendah. Metode Penelitian ini menggunakan metode analitik potong lintang. Sampel penelitian ialah 18 sediaan blok parafin dari penderita adenokarsinoma asinar prostat derajat tinggi dan 18 derajat rendah yang diperiksa secara histopatologi di Bagian/SMF Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah dan Laboratorium RS Prima Medika Denpasar sejak tanggal 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2014. Dilakukan pulasan imunohistokimia MMP-9 pada semua sampel. Hasil penelitian dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Hasil Ekspresi MMP-9 pada kelompok derajat tinggi lebih tinggi dibandingkan derajat rendah (p=0,001). Jumlah kasus adenokarsinoma asinar prostat terbanyak berada pada kelompok umur 60-69 tahun (55,55%). Kesimpulan Pemeriksaan ekspresi MMP-9 penting dilakukan untuk menentukan tingkat agresivitas tumor yang berdasarkan pada derajat diferensasi tumor sehingga dapat direncanakan terapi yang lebih efektif Kata kunci: adenokarsinoma asinar prostat, derajat rendah, derajat tinggi, ekspresi MMP-9.
Validitas Pemeriksaan Imunositokimia HMGA2 dalam Penegakan Diagnosis Nodul Jinak dan Ganas Tiroidpada Sediaan Biopsi Aspirasi Jarum Halus Yenni Wisudarma; Hasrayati Agustina; Sri Suryanti; Bethy S. Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.373 KB)

Abstract

Latar belakang Tindakan biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) merupakanpemeriksaan preoperatif baku yang sederhana dan relatif lebih murah dalam penegakan diagnosis karsinoma tiroid, tetapi diagnosis sitologi BAJAH tersebut tidak selalu mudah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas pemeriksaan imunositokimia HMGA2 dalam penegakan diagnosis sediaan BAJAH nodul tiroid jinak, ganas dan indeterminate. Metode Penelitian ini merupakan penelitian uji diagnostik yang dilakukan terhadap 62 kasus nodul tiroid yang terdiri dari 18 kasus karsinoma papiler,13 kasus nodul folikular jinak dan 31 kasus indeterminate (27 kasus follicular neoplasmdan 4 kasus suspicious for papillary carcinoma) yang didiagnosis tahun 2011-2014 dan telah dilakukan pemeriksaan histopatologi pasca operasi sebagai konfirmasi diagnosis. Pemeriksaan imunositokimia HMGA2 dilakukan terhadap semua kasus dengan metode cell transfer. Hasil Akurasi, sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan nilai duga negatif pemeriksaan imunositokimia HMGA2 dalam diagnosis nodul tiroid masing-masing adalah 85,5%, 79,4%, 92,8%, 93,1% dan 78,8%. Sedangkan untuk kasus indeterminate, akurasi, sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan nilai duga negatif pemeriksaan imunositokimia HMGA2 adalah 77,4%, 68,7%%, 86,7%, 84,6% dan 72,2%. Kesimpulan Pemeriksaan imunositokimia HMGA2 relatif spesifik dan sensitif dalam menegakkan diagnosis preoperatif nodul tiroid termasuk pada kasus indeterminate. Kata kunci : biopsi aspirasi jarum halus, HMGA2, indeterminate, nodultiroid.
Pengaruh Pemberian Kortikosteroid Terhadap Proses Penyem-buhan Luka pada Mencit (Mus Musculus) Muhamad Febry; Aswiyanti Asri; Laila Isrona
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.917 KB)

Abstract

Latar belakang Proses penyembuhan luka terjadi melalui beberapa tahapan dan dipengaruhi berbagai faktor lokal dan sistemik seperti benda asing, nutrisi, konsumsi obat-obatan. Kortikosteroid banyak digunakan secara bebas oleh masyarakat untuk berbagai tujuan. Penggunaan kortikosteroid dapat mempengaruhi proses penyembuhan luka, dengan cara menurunkan proses pembentukan fibroblas, menurunkan jumlah gerakan dan fungsi leukosit, mengurangi pergerakan polimorfonuklear (PMN) keluar dari kompartemen vaskular, dan mengurangi jumlah sirkulasi limfosit, monosit, dan eosinofil, terutama dengan meningkatkan gerakan sel radang keluar dari sirkulasi. Tujuan penelitian ini untuk melihat perbedaan proses penyembuhan luka secara histopatologi pada mencit (Mus musculus) yang diberi kortikosteroid dengan jangka pemberian yang berbeda. Metode Penelitian ini adalah penelitian ekserimental dengan desain post test only controlled group yang menggunakan 18 ekor mencit putih (Mus musculus) yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol, perlakuan 1 dan perlakuan 2. Kelompok perlakuan 1 diberikan kortikosteroid dalam bentuk preparat deksametason dengan dosis 16 mg/kg/bb selama 10 hari, sedangkan kelompok perlakuan 2 diberikan deksametason dosis yang sama, selama 30 hari. Pada hari terakhir pemberian deksametason, semua kelompok, termasuk kontrol dilakukan luka insisi di punggung sepanjang 2 cm. Setelah hari ke-9 pembuatan luka, mencit diterminasi untuk diambil jaringan luka, dan dilakukan pemeriksaan histopatologik untuk menilai pembentukan jaringan granulasi dengan menghitung jumlah pembuluh darah baru, fibroblast dan sel radang menggunakan mikroskop cahaya pembesaran 400 kali pada 3 lapangan pandang. Hasil Neovaskularisasi yang terbentuk pada kelompok kontrol lebih sedikit dibandingkan kelompok perlakukan, sebaliknya jumlah fibroblast lebih banyak ditemukan pada kelompok kontrol. Jumlah netrofil pada kempok kontrol lebih sedikit dibandingkan kelompok perlakuan dan sebaliknya jumlah limfosit lebih banyak ditemukan pada kelompok kontrol dibanding perlakuan. Setelah dilakukan uji statistik menggunakan uji One Way ANOVA didapatkan perbedaan bermakna antar kelompok pada jumlah neovaskuler, fibroblas, neutrofil, limfosit, berturut-turut 0,007; 0,025; 0,009;
Analisis Peran p53 pada Astrositoma Difus dan Astrositosis: Studi Diagnostik Eka Susanto; Esti DS Soetrisno; Nurjati C Siregar; Ening Krisnuhoni; Primariadewi Rustamadji
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.169 KB)

Abstract

Latar belakang Astrositoma difus (WHO grade II) merupakan tumor astrositik yang paling sering ditemukan di FKUI/ RSCM. Tumor ini merupakan tumor invasif, potensial agresif, dan dapat bertransformasi menjadi astrositoma derajat tinggi. Pada praktik sehari-hari, diagnosis astrositoma difus kadang-kadang sulit ditegakkan hanya dengan gambaran histopatologik. Hal ini terutama disebabkan karena astrositoma difus sukar dibedakan dengan astrositosis, apalagi bila ukuran spesimen biopsi sangat kecil. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mutasi gen TP53 sering ditemukan pada astrositoma difus. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pulasan imunohistokimia p53 dalam membedakan astrositoma difus (WHO grade II) dengan astrositosis. Metode Studi diagnostik dilakukan pada 20 kasus astrositoma difus dan 20 kasus lesi astrositosis dengan baku emas pemeriksaan histopatologi. Penilaian histopatologi dan ekspresi p53 dinilai secara tersamar. Pulasan imunohistokimia dinyatakan dalam skor, yaitu positif bila inti astrosit terwarnai coklat tua. Hasil penilaian ekspresi pulasan p53 dimasukkan ke dalam Tabel 2x2 untuk dihitung nilai diagnostiknya. Hasil Protein p53 terekspresi kuat pada 13 kasus astrositoma difus dan 1 kasus astrositosis karena peradangan. Dengan demikian didapatkan sensitivitas 65% dan spesifisitas 95%. Terdapat 2 kasus astrositosis yang positif kuat pada endotel dan makrofag. Ekspresi lemah dan sedang tidak terbatas pada astrositoma difus, namun dijumpai pula pada kasus astrositosis. Kesimpulan Pada penelitian ini di dapatkan spesifisitas yang cukup tinggi, namun sensitivitas masih rendah. Ekspresi p53 tidak terbatas pada astrosit neoplastik, tapi juga dijumpai pada astrosit reaktif dan sel selain astrosit. Oleh karena itu diperlukan kehati-hatian dalam interpretasi ekspresi p53. Kata kunci: astrositoma difus, astrositosis, imunohistokimia, p53.
Hubungan Positif Ekspresi Cyclooxygenase-2 dengan Micro-vessel Density pada Undifferentiated Carcinoma Nasopharynx di RSUP Sanglah Denpasar Made Dwi Hartayati; I Gusti Ayu Sri Mahendra Dewi; Moestikaningsih Moestikaningsih
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.034 KB)

Abstract

Latar belakang Tumor memerlukan pembentukan pembuluh darah baru atau angiogenesis untuk dapat tumbuh dan bermetastasis. Angiogenesis dapat dinilai dengan menghitung microvessel density (MVD). Salah satu cara untuk menentukan microvessel adalah dengan pewarnaan imunohistokimia CD31. Cyclooxygenase-2 (COX-2) adalah faktor potensial penting pada angiogenesis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan ekspresi COX-2 dengan MVD pada undifferentiated carcinoma nasophrynx di RSUP Sanglah Denpasar. Metode Penelitian ini menggunakan metode analitik potong lintang. Sampel penelitian adalah sediaan blok parafin penderita undifferentiated carcinoma nasophrynx yang diperiksa secara histo-patologi di Bagian/SMF Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar dan Laboratorium Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta sejak 1 Januari 2014 sampai dengan 31 Agustus 2014. Diagnosis ulang sediaan histopatologi dilakukan dengan pulasan rutin H&E untuk mendapatkan sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sehingga tercapai jumlah 31 sampel. Selanjutnya dilakukan pulasan imunohistokimia COX-2 dan CD 31 pada seluruh sampel. Kemudian hasil dianalisis dengan uji Pearson Hasil Ekspresi COX-2 positif ditemukan pada 24 (77,42%) subyek dan dijumpai negatif pada 7 (22,59%). Ditemukan 22 (70,97%) kasus undifferentiated carcinoma nasophrynx dengan MVD tinggi dan 9 (29,03%) dengan MVD rendah. Ditemukan adanya korelasi positif ekspresi COX-2 dengan MVD (r=0,868; p=0,001). Kesimpulan Pada penelitian ini, ditemukan adanya hubungan positif antara ekspresi COX-2 dan MVD pada undifferentiated carcinoma nasophrynx. Kata kunci: cyclooxygenase-2, microvessel density, undifferentiated carcinoma nasophrynx.
Korelasi antara Imunoekspresi Retinoid Acid Receptor (RAR) Alfa dan Ki-67 dengan Stadium Klinis dan Diferensiasi Retino-blastoma Friska Mardianty; Sri Suryanti; Bethy S Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.465 KB)

Abstract

Latar belakang Retinoblastoma merupakan keganasan mata tersering pada anak usia dibawah 5 tahun dan 50-60% kasus retinoblastoma di negara berkembang berakhir dengan kematian. Terapi saat ini sangat tergantung dengan stadium klinis dan walaupun telah diberikan terapi yang sesuai, masih ditemukan kasus rekurensi atau metastasis. Vitamin A diketahui banyak berperan untuk mata, dan telah terbukti pula vitamin A berperan pada karsinogenesis di beberapa keganasan lainnya. RAR alfa adalah reseptor dari retinoid acid yang salah satu fungsinya adalah sebagai anti proliferasi, sedangkan Ki-67 adalah petanda untuk menilai indeks proliferasi dari suatu sel. Tujuan penelitian ini dapat menilai adakah hubungan RAR dan Ki-67, berdasarkan diferensiasi dan stadium klinis pada retinoblastoma. Metode Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan desain analisis korelasi terhadap 40 kasus retinoblastoma yang memenuhi kriteria penelitian, periode januari 2010-november 2014 di Departemen Patologi Anatomik RS Hasan Sadikin, Bandung. Seluruhnya dilakukan pulasan imunohistokimia RAR alfa dan Ki-67 dikorelasikan dengan stadium klinis dan diferensiasi sel. Hasil penelitian dianalisis statistik dengan uji Coefficient Contingensy dan kriteria Guillford. Hasil Hasil penelitian ini seluruhnya memberikan imunoekspresi positif pada RAR alfa dan Ki-67. Didapatkan imunoekspresi Ki-67 berkorelasi positif terhadap diferensiasi (p=0,042 dan R=0,370), namun tidak terdapat korelasi bermakna dengan stadium klinis, sedangkan pada pemeriksaan RAR alfa tidak terdapat korelasi bermakna baik dengan stadium klinis maupun tipe diferensiasi sel. Kesimpulan Tipe yang tidak berdiferensiasi menunjukkan indeks proliferasi yang lebih tinggi dibandingkan tipe yang berdiferensiasi. Kata kunci : diferensiasi, Ki-67, RAR alfa, retinoblastoma, stadium.
Hubungan antara Ekspresi VEGF dan MMP-9 dengan Invasi Ekstra Okuler pada Retinoblastoma Emillia Wijayanti; Dyah Fauziah
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.82 KB)

Abstract

Latar belakang Retinoblastoma merupakan 80% dari semua kanker okular primer pada anak-anak sampai usia 15 tahun. Invasi tumor adalah tahap penting yang menyebabkan metastasis pada retinoblastoma. Faktor resiko terbesar untuk metastasis adalah invasi pada orbita atau saraf optikus. Angka kelangsungan hidup kasus retinoblastoma ekstra okuler masih rendah, rata-rata antara 50%-70%. Ekspresi MMP-9 dan VEGF dapat berperan sebagai petanda biologis untuk invasi dan metastasis retinoblastoma. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan ekspresi VEGF dan MMP-9 dengan invasi ekstra okuler pada retinoblastoma. Metode Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel sebanyak 30 dibagi dalam: 21 dengan invasi ekstra okuler dan 9 tanpa invasi ekstra okuler yang telah didiagnosis di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya dalam rentang waktu Januari 2011-Desember 2013. Sampel dilakukan pulasan immunohistokimia dengan antibody monoclonal anti VEGF dan antibody polyclonal anti MMP-9 serta dinilai menggunakan metode semikuantitatif. Hubungan ekspresi VEGF dan MMP-9 dengan invasi ekstra okuler pada retinoblastoma dianalisa menggunakan Regresi Logistik. Hubungan antara ekspresi VEGF dengan MMP-9 pada retinoblastoma dianalisa menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil VEGF terekspresi pada 24 dari 30 (80%) sampel. MMP-9 terekspresi pada 28 dari 30 (93,3%) sampel. Tidak didapatkan hubungan antara ekspresi VEGF dengan invasi ekstra okuler pada retinoblastoma. Tidak didapatkan hubungan antara ekspresi MMP-9 dengan invasi ekstra okuler pada retinoblastoma. Terdapat hubungan antara ekspresi VEGF dan MMP-9 pada retinoblastoma (p=0,012, r=0,454). Kesimpulan Hasil menunjukkan tidak terdapat hubungan ekspresi VEGF maupun MMP-9 dengan invasi ekstraokuler pada retinoblastoma namun terdapat kecenderungan peningkatan ekspresi VEGF dan MMP-9 pada sampel retinoblastoma dengan invasi ekstraokuler. Terdapat korelasi positif antara ekspresi VEGF dengan MMP-9 yang menunjukkan adanya peningkatan ekspresi VEGF seiring dengan peningkatan MMP-9, namun tidak terdapat hubungan dengan invasi ekstra okuler. Kata kunci: VEGF, MMP-9, invasi ekstra okuler, retinoblastoma.
Hubungan Ekspresi Imunohistokimia Protein Gene Product (PGP9.5) dengan Derajat Histopatologi Tipe Adenokarsinoma Serosum dan Musinosum Ovarium Radita Nur Anggraini Ginting; T. Ibnu Alferraly; Soekimin Soekimin
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.353 KB)

Abstract

Latar belakang Kanker ovarium merupakan kanker ginekologi yang dijumpai hampir 30% dari semua kanker organ reproduksi. Tipe paling umum dijumpai adalah kanker ovarium yang berasal dari epitel permukaan ovarium. Differensiasi menjadi jenis sel-sel epitel pada kanker ovarium jenis epitel berada pada kontrol yang sama dan nantinya akan menentukan jenis epitel pada organ sistem reproduksi wanita selama perkembangan embrionik. Protein gene product (PGP9.5) merupakan suatu peptide spesifik pada neuron yang menghilangkan ubiquitin dari protein-protein ubiquinated dan dapat berperan sebagai promoter hipermetilasi yang penting dalam gen transkripsi pada kanker. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan ekspresi imunohistokimia PGP9.5 pada berbagai derajat histopatologi kanker ovarium tipe adenokarsinoma serosum dan adenokarsinoma musinosum. Metode Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan dan pengumpulan blok parafin jaringan ovarium sebanyak 45 sampel terdiri dari 22 sampel adenokarsinoma serosum dan 13 sampel adenokarsinoma musinosum, dipulas dengan imunohistokimia PGP9.5 dan dilakukan interpretasi dengan menilai intensitas kualitas tampilan warna pada sel tumor. Hasil Berdasarkan analisa dengan uji Kruskal-Wallis didapati 26 sampel yang terpulas negatif dengan imunohistokimia PGP9.5 terdapat 13 kasus dengan derajat differensiasi well differentiated (50%), 6 kasus (23,1%) moderately differentiated dan 7 kasus (26,9%) poorly differentiated. Pada 5 sampel yang terekspresi lemah tedapat 4 kasus (80%) dengan well differentiated dan 1 kasus (20%) dengan poorly differentiated. Pada 4 kasus terekspresi sedang, terdapat 2 kasus (50%) pada well differentiated, 1 kasus (25%) pada moderately differentiated dan 1 kasus (25%) pada poorly differentiated. Pada 10 sampel yang terekspresi kuat, terdapat 2 kasus(20%) pada well differentiated dan 8 kasus (80%) pada poorly differentiated Kesimpulan Tidak ada hubungan ekspresi PGP9.5 dengan derajat histopatologi kanker ovarium tipe adenokarsinoma serosum dan adenokarsinoma musinosum (p-value >0,05). Kata kunci: adenokarsinoma musinosum, adenokarsinoma serosum, imunohistokimia, kanker ovarium, protein gene product (PGP9.5).

Page 1 of 1 | Total Record : 8