cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 25279106     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 27 No 2 (2018): MPI" : 8 Documents clear
Perbedaan Ekspresi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) pada Malignant Peripheral Nerve Sheath Tumor Derajat Tinggi dan Rendah serta Hubungannya dengan Faktor Prognostik Dewi Jantika; Nurjati Chairani Siregar; Puspita Eka Wuyung
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 2 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.118 KB)

Abstract

Latar belakangMalignant peripheral nerve sheath tumor (MPNST), merupakan sarkoma jaringan lunak yang prognosis nya buruk karena tidak responsif terhadap kemoterapi. Epidermal growth factor receptor (EGFR) terlibat dalam transduksi sinyal mitogenik dan jalur proliferasi sel. Ekspresi EGFR yang tinggi pada tumor sudah dipakai untuk menentukan apakah tumor dapat diberikan terapi anti-EGFR. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan ekspresi EGFR pada MPNST derajat tinggi dan derajat rendah serta ekspresi EGFR sebagai faktor prognostik.MetodePenenelitian ini merupakan penelitian potong lintang, restrospektif, deskriptif. Sampel terdiri atas 20 kasus MPNST derajat rendah dan 20 kasus MPNST derajat tinggi yang telah didiagnosis selama periode 2007-2015. Dilakukan pulasan imunohistokimia dengan antibodi monoklonal EGFR. Selanjutnya dilakukan scoring berdasarkan persentase sel dengan membrane dan atau sitoplasma yang berwarna coklat pada 500 sel/5 LPB : 0 (tidak terpulas), 1 (terpulas <10%), 2 (terpulas 10-30%), 3 (terpulas >30%). Perbedaan ekspresi EGFR pada MPNST derajat tinggi dan derajat rendah dianalisis menggunakan uji chi-square. Selain itu di analisis hubungan antara ekspresi EGFR dengan umur, lokasi dan ukuran tumor.HasilDitemukan ekspresi EGFR yang lebih tinggi pada MPNST derajat tinggi dibandingkan dengan MPNST derajat rendah yang secara statisitk bermakna (p=0,000). Tidak ditemukan hubungan antara ekspresi EGFR dengan umur, lokasi maupun ukuran tumor.KesimpulanEkspresi EGFR yang tinggi dapat digunakan untuk dasar memberikan terapi anti-EGFR pada MPNST derajat tinggi.
Ekspresi E-cadherin dan p63 pada Karsinoma Sel Skuamosa Kulit dan Pseudoepitheliomatous Hyperplasia Amelia Amelia; ika Kartika; Zulkarnain Musa
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 2 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.624 KB)

Abstract

Latar belakangPada spesimen biopsi yang berukuran kecil, terkadang patolog mengalami kesulitan untuk membedakan karsinoma sel skuamosa kulit dan pseudoepitheliomatous hyperplasia. Penurunan ekspresi E-cadherin dan overekspresi p63 dapat dijumpai pada neoplasia ganas, dan sebaliknya pada lesi non neoplastik. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan ekspresi E-cadherin dan p63 pada karsinoma sel skuamosa kulit dan pseudoepitheliomatous hyperplasia.MetodePenelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Spesimen karsinoma sel skuamosa kulit yang diteliti sebanyak 23 kasus (13 kasus dengan derajat diferensiasi baik, 6 kasus dengan derajat diferensiasi sedang, 4 kasus dengan derajat diferensiasi buruk) dan 15 kasus pseudoepitheliomatous hyperplasia, kemudian dilakukan pewarnaan imunohistokimia E-cadherin dan p63 dan dinilai ekspresinya.HasilPada karsinoma sel skuamosa kulit tampak penurunan ekspresi E-cadherin (p=0,000) dan overekspresi p63 (p=0,000) jika dibandingkan dengan pseudoepitheliomatous hyperplasia.KesimpulanPenelitian ini menunjukkan perbedaan ekspresi E-cadherin dan p63 antara kasus karsinoma sel skuamosa kulit kulit dengan pseudoepitheliomatous hyperplasia. Sehingga E-cadherin dan p63 merupakan dua marker penting yang cukup andal untuk membedakan kasus karsinoma sel skuamosa kulit khususnya membedakan karsinoma sel skuamosa kulit berdiferensiasi baik dengan pseudoepitheliomatous hyperplasia.
Ekspresi H19 dan Insulin-Like Growth Factor 2 (IGF2) pada Tumor Epitel Permukaan Ovarium Tipe Serosum dan Musinosum Rita Juliana Pohan; Nadjib Dahlan Lubis; Delyuzar Delyuzar
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 2 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.032 KB)

Abstract

Latar belakang Tumor-tumor epitel permukaan ovarium merupakan neoplasma ovarium yang paling sering. Kanker ovarium mempunyai prognosis buruk karena gejalanya tidak spesifik dan kebanyakan dijumpai sudah stadium lanjut. Genomic imprinting adalah proses epigenetik yang menyebabkan ekspresi allel yang berbeda dari gen parental dalam sel-sel somatik. Adanya loss of imprinting gen IGF2 dan H19 diperkirakan terlibat dalam terjadinya kanker ovarium. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan adanya perbedaan ekspresi H19 dan IGF2 pada tumor jinak dan ganas yang berasal dari epitel permukaan ovarium, tipe serosum dan musinosum, mendeteksi kekambuhan dini dan terapi target.MetodePenelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 80 blok parafin jaringan ovarium dari operasi ooforektomi yang telah didiagnosis tumor jinak dan ganas ovarium, tipe serosum dan musinosum dengan pewarnaan hematoksilin eosin. Sampel akan dievaluasi intensitas dan kuantitas ekspresi immunohistokimia H19 dan insulin-like growth factor 2 (IGF2), kemudian diamati dan dianalisa dengan uji Fisher’s exact. Hasil H19 terekspresi kuat (81,82%) pada tumor serosum jinak, sedang pada tumor serosum ganas sebagian besar terekspresi lemah (88,89%), nilai p 0,005. Pada tumor musinosum jinak, H19 terekspresi kuat (77,78%) dan pada yang ganas terekspresi lemah (72,73%), dengan nilai p 0,070. IGF2 terekspresi kuat (90,91%) pada sebagian besar tumor serosum ganas, sedang pada tumor serosum jinak semuanya (100%) terekspresi lemah, dengan nilai p = 0,001. Pada tumor musinosum, IGF2 terekspresi kuat pada yang ganas (62,50), pada yang jinak (37,50%) juga terekpresi kuat, nilai p 0,087.Kesimpulan Expresi H19 dan IGF2 dapat menyokong kepastian diagnosis histologik tumor serosum jinak dan ganas. Ekspresi kuat H19 menunjukkan prognosis baik, ekspresi kuat IGF2 menunjukkan prognosis buruk pada tumor serosum.
Perbandingan antara Klasifikasi Jepang dan Sistem TNM dalam Menentukan Stadium Keganasan Sigmoid dan Rektum di RSCM-RSF (Laporan Pendahuluan) Yusak Kristianto; Agi satria Putranto; Rofi Y Saunar; diah Rini Handjari; Grace Wangge
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 2 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.234 KB)

Abstract

Latar belakangMetastasis kelejar getah bening (KGB) pada keganasan kolorektal merupakan penentu independen faktor prognosis dan tatalaksana lanjutan. Saat ini sistem baku penentuan stadium keganasan kolorektal adalah menurut sistem TNM dengan melihat jumlah KGB yang positif anak sebar. Klasifikasi Jepang (KJ) menentukan stadium keganasan kolorektal dengan melihat distribusi metastasis KGB (parakolika/pararektal, intermediate, dan pangkal arteri mesenterika) tanpa melihat jumlah KGB nya.MetodeStudi pendahuluan ini melakukan analisis terhadap 15 pasien keganasan sigmoid dan rektum yang menjalani pembedahan di RSCM dan RSUP Fatmawati periode September-Oktober 2015. Dilakukan penilaian histopatologi terhadap spesimen tumor, aspek yang dinilai adalah jumlah KGB yang positif anak sebar dan distribusi metastasis KGB. Berdasarkan hasil tersebut dilakukan penentuan stadium menurut sistem TNM dan Klasifikasi Jepang serta dilakukan analisis kesesuaian.HasilDidapatkan ≥12 KGB dari semua sampel. Menurut sistem TNM terdapat 7 pasien stadium II, 3 pasien stadium III-b dan 5 pasien stadium IIIc, sedangkan pada Klasifikasi Jepang terdapat 7 pasien stadium II, 1 pasien stadium IIIa dan 7 pasien stadium III-b. Kecocokan antara kedua sistem klasifikasi dalam mendapatkan stadium II adalah 46,67%. Penentuan stadium III-a (KJ) dan stadium IIIa-b (TNM) dengan kecocokan sebesar 6,7% . Kecocokan sebesar 13,3% dalam menentukan stadium III-b (KJ) dan stadium III-c (TNM). Analisis kesesuaian terhadap kedua sistem klasifikasi, didapatkan nilai Kappa sebesar 49,3% (kategori sedang) dengan P value: 0,04.KesimpulanPada studi pendahuluan ini didapatkan tingkat kesesuaian antara kedua sistem klasifikasi dalam menentukan stadium keganasan sigmoid dan rektum dengan kategori sedang. Klasifikasi Jepang dapat dijadikan salah satu pertimbangan. Diperlukan sampel yang lebih besar untuk meningkatkan akurasi tingkat kesesuaian.
Ekspresi E-cadherin dan MMP-1 pada Adenokarsinoma Kolorek-tal dengan dan Tanpa Metastasis KGB Rusdamayanti Rusdamayanti; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 2 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.322 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma kolorektal merupakan keganasan keempat terbanyak di dunia. Stadium penyakit ini ditentukan oleh ukuran tumor, metastasis KGB regional dan metastasis jauh pada organ lain. Metastasis karsinoma kolorektal pada kelenjar getah bening (KGB) melibatkan beberapa protein yang berperan dalam adesi sel seperti E-cadherin dan MMP-1. Penurunan protein E-cadherin menyebabkan ikatan antar sel menjadi renggang dan terlepas. MMP-1 merupakan enzim kolagen yang berperan dalam degradasi matriks ekstraseluler. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis ekspresi E-cadherin dan MMP-1 pada karsinoma kolorektal dan kaitannya dalam proses metastasis KGB.MetodeSampel penelitian adalah blok parafin adenokarsinoma kolorektal di Departemen Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama 2014-2016. Dua puluh tujuh sampel terdiri atas dua kelompok, yaitu 13 kelompok metastasis KGB dan 14 kelompok tanpa metastasis KGB, kemudian dilakukan pemeriksaan imunohistokimia dengan antibodi E-cadherin dan MMP-1. Perbedaan ekspresi E-cadherin dan MMP-1 dianalisis dengan uji statistik T, sedangkan korelasi antara E-cadherin dan MMP-1 diuji dengan Spearman.HasilEkspresi E-cadherin pada adenokarsinoma kolorektal dengan metastasis KGB menurun dibandingkan dengan adenokarsinoma kolorektal tanpa metastasis. Ekspresi MMP-1 pada kedua kelompok tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Ekspresi E-cadherin dan MMP-1 pada adenokarsinoma kolorektal menunjukkan perbedaan tidak bermakna.KesimpulanEkspresi E-cadherin dapat menunjukkan adanya metastasis KGB pada adenokarsinoma kolorektal.
Akurasi Diagnostik Lesi Indeterminate Nodul Tiroid Berdasarkan Ekspresi Imunositokimia CK19 Mieke Marindawati; Kusmardi Kusmardi; Lisnawati Lisnawati
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 2 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.884 KB)

Abstract

Latar belakangBiopsi aspirasi jarum halus/fine needle aspiration biopsy (FNAB) pada lesi tiroid mempunyai keterbatasan dalam mendiagnosis lesi indeterminate karena belum dapat ditentukan sifat biologiknya. Hasil FNAB menentukan penatalaksanaan pasien sehingga perlu dilakukan pulasan imunositokimia untuk meningkatkan akurasi. Cytokeratin 19 (CK19) merupakan penanda yang sensitif untuk karsinoma papiler tiroid (KPT), namun masih jarang dilakukan pada spesimen FNAB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran imunositokimia CK19 dalam meningkatkan akurasi diagnostik lesi indeterminate pada FNAB nodul tiroid.MetodePenelitian ini merupakan desain potong lintang terhadap 42 kasus FNAB tiroid yang terdiri atas 11 kasus (26%) lesi jinak, 12 kasus (29%) atypia of undetermined significance (AUS), 10 kasus (24%) suspicious, dan 9 kasus (21%) KPT yang telah dilakukan operasi. Sampel didapatkan dari arsip Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM tahun 2014-2015. Dilakukan pulasan imunositokimia CK19. Ekspresi dinilai menggunakan skor berdasarkan kurva receiver operating characteristic (ROC) dan sebagai baku emas adalah diagnosis histopatologik dari spesimen operasi.HasilPada 42 kasus yang dipulas dengan CK19 terdapat 22 kasus indeterminate yang terdiri atas 13 kasus yang terekspresi positif kuat dan 9 kasus yang menunjukkan ekspresi positif lemah/negatif. Dari 13 kasus yang terekspresi positif kuat, 11 kasus menunjukkan histopatologik ganas (berasal dari 7 kasus suspicious dan 4 kasus AUS) dan 2 kasus histopatologik jinak (berasal dari 1 kasus AUS dan 1 kasus suspicious). Sedangkan 9 kasus yang berekspresi positif lemah/negatif terdiri atas 8 kasus histopatologik jinak (berasal dari 6 kasus AUS dan 2 kasus suspicious) dan 1 kasus histopatologik ganas (berasal dari 1 kasus AUS). Dengan menggunakan tabel 2x2 diketahui bahwa pulasan imunositokimia CK19 pada lesi FNAB kategori indeterminate mempunyai sensitivitas 92%, spesifisitas 80%, nilai prediksi positif 85%, nilai prediksi negatif 89% dan akurasi diagnostik 86%.KesimpulanPulasan CK19 dapat digunakan sebagai penanda untuk membedakan karsinoma papiler tiroid dengan nodul jinak tiroid pada spesimen FNAB lesi indeterminate.
Perbedaan Ekspresi Ki-67 antara Tumor Epitelial Borderline dengan Tumor Ganas Tipe Musinosa Ovarium Tuti Lismayarni; R zuryati Nizar; Aswiyanti Asri
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 2 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.289 KB)

Abstract

Latar belakangKanker ovarium adalah kanker keenam yang paling sering diderita oleh wanita di seluruh dunia dan yang paling mematikan dari semua jenis kanker ginekologi. Di antara jenis tumor ovarium, yang paling sering ditemukan adalah tumor epitelial permukaan ovarium, yaitu sekitar 85-90% dari keganasan ovarium, salah satu jenisnya adalah tipe musinosa. Tumor epitelial ovarium menunjukkan heterogenitas histologik yang besar dan dapat dibagi lagi menjadi tumor jinak, borderline dan invasif (ganas). Tumor epitelial ganas tipe musinosa ovarium dibedakan dengan tumor borderline berdasarkan adanya invasi sel tumor ke stroma tetapi terkadang sulit membedakannya secara histopatologi. Berdasarkan patogenesis, aktivitas proliferasi sel pada tumor epitelial ovarium ganas akan lebih tinggi dibanding borderline. Ki-67 adalah petanda yang dapat digunakan untuk menilai proliferasi sel pada tumor borderline dan ganas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan ekspresi Ki-67 antara tumor epitelial borderline dengan tumor ganas tipe musinosa ovarium.MetodePenelitian ini merupakan penelitian cross sectional study. Empat puluh dua kasus tumor epitelial borderline dan tumor ganas tipe musinosa dievaluasi ulang untuk menentukan klasifikasi tumor, kemudian dilakukan pemeriksaan imunohistokimia menggunakan antibodi anti Ki-67. Penilaian ekspresi Ki-67 (indeks proliferasi Ki-67) dilakukan dengan menghitung jumlah inti sel yang terwarnai coklat dalam 1000 sel tumor. Perbedaan ekpresi Ki-67 antara kedua kelompok diuji dengan t-test.HasilEkspresi Ki-67 pada tumor epitelial musinosa ovarium borderline berkisar antara 2,5%-49,2%, dengan rata-rata 13,088%. Ekspresi Ki-67 pada tumor epitelial musinosa ovarium ganas 15,3%-63,4%, dengan rata-rata 34,268%. Terdapat perbedaan yang bermakna antara ekspresi Ki-67 pada tumor epitelial ovarium musinosa borderline dan ganas.KesimpulanDari hasil menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna antara ekspresi Ki-67 pada tumor epitelial ovarium musinosa borderline dan ganas, artinya Ki67 bisa membantu penentuan diagnosis dan prognosis tumor ganas ovarium bila digabungkan dengan stadium FIGO dan grading mikroskopik.
Korelasi antara Ekspresi p16, Ki-67, dan Derajat Diferensiasi Adenokarsinoma Kolorektal Aries Sasongko; Troef Soemarno
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 2 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangAdenokarsinoma kolorektal (AKK) merupakan karsinoma kolorektal yang paling sering terjadi. Proliferasi sel merupakan hal mendasar untuk mempertahankan homeostasis jaringan dan penting dalam oncogenaesis. Penentuan proliferasi sel dapat memprediksi perilaku tumor. Ki-67 adalah suatu antigena inti yang dinyatakan dalam konsentrasi tertinggi dalam semua siklus sel kecuali pada fase resting dan digunakan secara luas sebagai petanda proliferasi untuk mengukur pertumbuhan tumor. p16 adalah gena supresor tumor yang mengatur proliferasi sel dan pertumbuhan dengan bertindak sebagai Cyclin Dependent Kinase4 (CDK4) inhibitor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara ekspresi p16, Ki-67, dan derajat diferensiasi pada AKK.MetodaPenelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 29 blok parafin dibagi dalam: 11 well differentiated adenocarcinoma (WDA), 7 moderately differentiated adenocarcinoma (MDA), dan 11 poorly differentiated adenocarcinoma (PDA) yang didiagnosis di Instalasi Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo periode Januari 2011-Juli 2013. Sampel dilakukan pulasan imunohistokimia dengan antibodi monoclonal anti p16 dan Ki-67 dinilai menggunakan metode kuantitatif. Dan korelasi antara ekspresi p16, Ki-67, dan derajat diferensiasi AKK dianalisis dengan menggunakan uji Spearman.HasilDidapatkan korelasi ekspresi p16 yang signifikan pada WDA, MDA dan PDA (p=0,015, p<0,05). Didapatkan korelasi ekspresi Ki-67 yang signifikan pada WDA, MDA dan PDA (p=0,009, p<0,05), dan didapatkan korelasi yang signifikan antara p16 dan Ki-67 (rho=-0,374, p=0,046, p<0,05).KesimpulanHasil penelitian di atas menunjukkan bahwa P16 dan Ki-67 dapat dimanfaatkan untuk membedakan lebih rinci kasus-kasus WDA, MDA, dan PDA. Didapatkan korelasi terbalik antara p16 dan Ki-67.

Page 1 of 1 | Total Record : 8