cover
Contact Name
Jaya Pramana
Contact Email
jayapram@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@majalahpatologiindonesia.com
Editorial Address
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : 02157284     EISSN : 25279106     DOI : https://doi.org/10.55816/
Core Subject : Health,
Majalah Patologi Indonesia (MPI) digunakan sebagai wahana publikasi hasil penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus dan ulasan berbagai aspek di bidang patologi manusia. Tujuannya ialah menghadirkan forum bagi permakluman dan pemahaman aneka proses patologik serta evaluasi berbagai penerapan cara diagnostik sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu juga untuk merangsang publikasi barbagai informasi baru/mutakhir.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 27 No 3 (2018): MPI" : 9 Documents clear
Ekspresi Ki-67 pada Karsinoma Sebasea Palpebra dengan Penye-baran Pagetoid dan Diferensiasinya Rina Effendi; Nurjati Chairani Siregar; Puspita Eka Wuyung
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.6 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma sebasea palpebra termasuk dalam karsinoma adneksa mata terbanyak dan memiliki prognosis buruk. Penyebaran pagetoid pada karsinoma sebasea palpebra merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prognosis buruk. Dalam penelitian ini akan dianalisis hubungan ekspresi Ki-67 dengan dan tanpa penyebaran pagetoid pada karsinoma sebasea palpebra.MetodePenelitian ini menggunakan desain potong-lintang, retrospektif, konsekutif pada 20 kasus karsinoma sebasea palpebra dengan penyebaran pagetoid dan 20 kasus tanpa penyebaran pagetoid di Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM periode Januari 2009 sampai September 2016. Dilakukan pulasan imunohistokimia untuk Ki-67, kemudian dihitung persentase positivitasnya dari minimal 500 sel tumor menggunakan Image J, dan dilakukan analisis statistik menggunakan uji t test independent. Selain itu juga dihubungkan antara diferensiasi histologik dengan ekspresi Ki-67 menggunakan uji statistik Anova.HasilEkspresi Ki-67 pada semua kasus mempunyai rentang antara 2,8% sampai 88%, ekspresi Ki-67 tinggi sebanyak 30 kasus (75%). Ekspresi Ki-67 pada penyebaran pagetoid lebih tinggi dibanding tanpa penyebaran pagetoid (43,83±19,8: 34,10±21,26), walaupun tidak berbeda bermakna secara statistik (p=0,136). Ekspresi Ki-67 dibandingkan pada karsinoma sebasea berdiferensiasi baik, sedang dan buruk (34,07±28,79: 41,83%±19,96: 30,50±12,31), tidak berbeda bermakna (p=0,396).KesimpulanDitemukan ekspresi tinggi Ki-67 pada karsinoma sebasea palpebra. Tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi Ki-67 pada karsinoma sebasea palpebra dengan penyebaran pagetoid dibandingkan tanpa penyebaran pagetoid, maupun pada berbagai derajat diferensiasi histologik.
Analisa Ekspresi E-cadherin dan MMP-2 pada Karsinoma Sel Skuamosa Laring Tuti Andayani; Etty Hary Kusumastuti; Anny Setijo Rahaju
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.992 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma laring merupakan keganasan kedua terbanyak pada kepala dan leher dan lebih dari 90% berupa karsinoma sel skuamosa (KSS). Penanganan kanker laring berkaitan dengan diagnostik dan terapi, terutama ketika penyakit ini terdiagnosis pada stadium lanjut dengan keterlibatan kelenjar getah bening (KGB). Metastasis KSS pada KGB melibatkan beberapa protein yang berperan dalam adhesi sel seperti E-cadherin dan matrix metalloproteinase2 (MMP-2). Pada penelitian ini dilakukan analisis ekspresi E-cadherin dan MMP-2 pada KSS laring untuk menilai peran kedua protein tersebut dalam proses metastasis ke KGB leher.MetodePenelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah blok parafin KSS laring di Departemen Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama Januari 2013-Desember 2014. Tiga puluh sampel terdiri atas dua kelompok, yaitu metastasis KGB dan non metastasis KGB dan dilakukan pemeriksaan imunohistokimia dengan antibodi E-cadherin dan MMP-2. Ekspresi E-cadherin dan MMP-2 dinilai secara semi kuantitatif dan dianalisis dengan tes Mann-Whitney, sedangkan korelasi antara ekspresi E-cadherin dan MMP-2 dengan tes Spearman.HasilTidak terdapat korelasi yang signifikan antara ekspresi E-cadherin dan MMP-2 pada KSS laring. Tidak terdapat perbedaan ekspresi E-cadherin dan MMP-2 yang signifikan antara KSS laring metastasis dan non metastasis ke KGB leher.KesimpulanEkspresi E-cadherin dan MMP-2 tidak berbeda bermakna karsinoma sel akuamosa laring tanpa dan metastasis ke KGB leher. Tidak terdapat korelasi ekspresi E-cadherin dan MMP-2 pada kejadian metastasis KGB leher pada KSS laring.
Ekspresi Epidermal Growth Factor Reseptor (EGFR) dan B-Cell Leukemia/Lymphoma-2 (BCL-2) pada Subtipe Histopatologik Karsinoma Sel Basal nurlela nurlela; Delyuzar Delyuzar; tengku ibnu alferraly
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.547 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma sel basal (KSB) adalah tumor ganas pada kulit yang berasal dari sel-sel primordial pluripotensial di lapisan basal epidermis, dapat juga berasal dari selubung luar folikel rambut atau kelenjar sebasea, atau adneksa kulit lainnya. KSB merupakan jenis kanker terbanyak pada kulit dan keganasan tersering pada manusia. Penelitian yang telah dilakukan untuk melihat adanya kecenderungan faktor risiko rekuren dan perkembangan terapi target, dengan beberapa petanda biologik seperti epidermal growth faktor reseptor (EGFR) dan B-cell leukemia/lymphoma-2 (BCL-2) pada KSB. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi EGFR dan BCL-2 pada subtipe histopatologik karsinoma sel basal.MetodePenelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah blok parafin yang didiagnosa sebagai KSB. Sejumlah 40 sampel terdiri dari mikro-nodular 17 sampel, nodular 12 sampel, infiltrating 4 sampel, pigmented 4 sampel, superfisial 2 sampel dan basoskuamous 1 sampel. Seluruh sampel dipulas dengan immunohistokimia dengan antibodi primer anti EGFR dan BCL-2 dan dilakukan interpretasi dengan menilai intensitas dan kuantitas tampilan warna pada sel tumor.HasilPada 20 sampel EGFR dengan ekspresi lemah, dijumpai 12 sampel (60%) juga menunjukkan ekspresi BCL-2 lemah dan 20 sampel dengan ekspresi EGFR kuat dijumpai 12 sampel (60%) juga menunjukkan ekspresi BCL-2 kuat. Hasil ekspresi EGFR dan BCL-2 terdapat kesesuaian yang dianalisis dengan uji McNemar.KesimpulanHasil penelitian menunjukkan bahwa ada kesesuaian ekspresi antara EGFR dan BCL-2 yang signifikan dengan (p-value <0,001) pada penderita KSB.
Analisa Imunoekspresi Extracellular Matrix Metalloproteinase Inducer (EMMPRIN) pada Karsinoma Sel Ginjal Subtipe Sel Jernih yang Telah Metastasis dan Tidak Bermetastasis Hasna Dewi; Abdul Hadi Hassan; Bethy Suryawati Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.897 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma sel ginjal subtipe sel jernih (KSGSJ) merupakan keganasan epitelial terbanyak dari seluruh kejadian karsinoma sel ginjal, yang insidensinya menunjukkan peningkatan, dengan angka mortalitas yang masih tinggi. Prognosis KSGSJ akan menurun pada kasus-kasus yang telah bermetastasis. Tujuan penelitian ini untuk melihat peranan penanda molekuler extracelluler matrix metalloproteinase inducer (EMMPRIN) dalam hubungannya dengan kejadian metastasis pada KSGSJ. MetodePenelitian ini dilakukan secara cross sectional analitic terhadap 36 kasus KSGSJ di Departemen Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, yang terdiri atas 18 kasus kelompok non metastasis dan 18 kasus kelompok metastasis. Pemeriksaan semikuantitatif berupa skor imunoreaktif imunohisitokimia EMMPRIN dilakukan terhadap semua kasus.HasilPenelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara skor imunoreaktif EMMPRIN pada kelompok KSGSJ metastasis dan non metastasis (p=0,001; OR=34 (3,611-320,10).KesimpulanBerdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa semakin kuat imunoekspresi EMMPRIN, semakin besar kemungkinan terjadinya metastasis pada KSGSJ.
Ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor dan Peningkatan Microvessel Density pada Karsinoma Nasofaring Tidak Berkeratin Muina Muina; Salmiah Agus; Sukri Rahman
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.179 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma nasofaring (KNF) tidak berkeratin mempunyai prognosis yang buruk. Vascular endothelial growth factor (VEGF) merupakan biomolekuler penanda progresivitas pada KNF sehingga ekspresi VEGF ini digunakan sebagai marker biologis terapi target. VEGF berperan penting pada angiogenesis yang terlihat dengan peningkatan microvessel density (MVD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ekspresi VEGF dan MVD pada KNF tidak berkeratin.MetodePenelitian analitik dengan menggunakan desain potong lintang komparatif pada 44 sampel blok parafin penderita KNF tidak berkeratin, didapatkan masing-masing 22 blok parafin subtipe tidak berkeratin berdiferensiasi dan yang tidakberdiferensiasi. Masing-masing sampel dilakukan pemeriksaan ekspresi VEGF dan CD31 dengan metode pewarnaan imunohistokimia Labeled Streptavidin Biotin Complex dilakukan dengan prosedur manual. Antibodi primer yang digunakan adalah VEGF dan CD31 dari Dako, Glostrup, Denmark. Data dianalisis dengan uji statistik chi-square.HasilEkspresi VEGF ditemukan sebesar 68,2%. Pada KNF yang tidak berkeratin menunjukkan ekspresi VEGF didapatkan MVD tumor yang tinggi (66,7%). Secara statistik terdapat hubungan bermakna antara ekspresi VEGF dan MVD (p=0,001).KesimpulanEkspresi VEGF pada KNF tidak berkeratin menunjukkan peningkatan MVD
Sel Punca Kanker (Cancer Stem Cells): Sebuah tinjauan pustaka K Kartini; Jeanne Adiwinata Pawitan
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.656 KB)

Abstract

Kanker merupakan jaringan yang mengalami penyimpangan dalam pertumbuhannya dan kemungkinan terjadi sebagai respons terhadap kerusakan jaringan. Sel punca yang secara normal diperlukan dalam perbaikan jaringan yang rusak, kini dipertimbangkan memiliki peran dalam pembentukan, pertumbuhan, dan pemeliharaan tumor. Para peneliti dari kelompok tertentu menemukan bahwa suatu jenis sel punca dapat menyebabkan kanker. Pembelahan sel punca secara asimetrik merupakan syarat paling mendasar bagi perkembangan organisme multiselular. Kegagalan dalam pembelahan asimetrik dapat memicu terjadinya tumorigenesis. Proses tumorigenesis membutuhkan kondisi tambahan seperti perluasan faktor lingkungan mikro (stem cell niche) yang merupakan faktor ekstrinsik, atau mutasi sel punca sehingga tidak lagi bergantung pada niche. Sel penginisiasi kanker dikenal dengan sel punca kanker (cancer stem cells). Sel punca kanker (SPK) saat ini dilaporkan banyak ditemukan pada tumor manusia dengan menggunakan metode identifikasi yang umumnya digunakan pada sel punca normal. Penemuan tentang sel punca kanker dan karakteristiknya membawa suatu harapan baru dalam menentukan prognosis kekambuhan dan terapi kanker. Penemuan terapi anti kanker baru yang target spesifiknya adalah sel kanker yang undifferentiated dan dormant dengan dipandu oleh petanda gen SPK dalam proses terapinya, diharapkan meningkatkan angka perbaikan dalam pengobatan pasien kanker.
Hubungan Positif Derajat Diferensiasi dengan Ekspresi p53 pada Karsinoma Payudara Invasif Tipe Tidak Spesifik diah widityasari; moestikaningsih Moestikaningsih; AAA Ngurah Susraini
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.382 KB)

Abstract

Latar belakangDerajat diferensiasi dan ekspresi p53 pada karsinoma payudara invasif tipe tidak spesifik merupakan faktor prognosis, namun hubungan antara derajat diferensiasi dengan ekspresi p53 masih kontroversi. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan hubungan positif antara derajat diferensiasi dengan ekspresi p53 pada karsinoma payudara invasif tipe tidak spesifik dan untuk mengetahui komponen parameter derajat diferensiasi yang dominan dalam menentukan ekspresi p53.MetodePenelitian ini menggunakan metode analitik potong lintang. Sampel penelitian adalah sediaan blok parafin karsinoma payudara invasif tipe tidak spesifik derajat diferensiasi I, II dan III di Bagian/SMF Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar dari tanggal 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2014 dan dilakukan pulasan imunohistokimia dengan antibody pimer anti p53. Hasil penelitian dianalisis dengan uji Spearman dan uji regresi logistik dengan tingkat kemaknaan (α) pada p <0,05.HasilSampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah 47 sampel yang terdiri atas 11 derajat diferensiasi I, 18 derajat diferensiasi II dan 18 derajat diferensiasi III. Dari 16 kasus ekspresi p53 yang positif didapatkan terbanyak pada derajat diferensiasi III. Berdasarkan uji korelasi Spearman didapatkan hubungan yang bermakna antara derajat diferensiasi dengan ekspresi p53 pada karsinoma payudara invasif tipe tidak spesifik (r=0,387; p=0,007; p<0,05). Didapatkan pleomorfi inti dan hitung mitosis sebagai faktor yang dominan dalam menentukan ekspresi p53. Pada pleomorfi inti dan hitung mitosis didapatkan hasil yang bermakna, masing-masing dengan (p=0,049 dan p=0,045) sedangkan untuk faktor pembentukan tubul didapatkan hasil yang tidak bermakna (p=0,842). Dengan uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara derajat diferensiasi dengan ekspresi p53 (p=0,007). Kemudian dilakukan uji regresi logistik didapatkan pleomorfi inti dan hitung mitosis merupakan komponen parameter yang dominan dengan masing-masing nilai p=0,049 dan p=0,045.KesimpulanHasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi p53 yang kuat secara statistik berhubungan dengan derajat diferensiasi yang tinggi, dan komponen parameter derajat diferensiasi yang dominan adalah pleomorfi inti dan hitung mitosis. Berdasarkan hal ini, maka p53 dapat digunakan sebagai petanda biologik untuk menentukan keputusan klinis yang berhubungan dengan prognosis.
Hubungan Ekspresi NFκβ/p65 dan HIF-1α pada Karsinoma Tiroid Papiler dan Karsinoma Tiroid Folikuler Dian Eskaningrum; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.088 KB)

Abstract

Latar belakangInflamasi dapat meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker tiroid. Karsinoma tiroid memiliki insiden yang cukup tinggi yaitu 95% dari seluruh kanker endokrin. Telah lama diketahui bahwa ada perbedaan patogenesis antara karsinoma tiroid papiler (KTP) dan karsinoma tiroid folikuler (KTF), tetapi diduga kedua karsinoma tiroid dipengaruhi oleh inflamasi dan hipoksia. Nuclear Factor-kappa B (NFκB/p65) merupakan faktor transkripsi yang memainkan peran utama dalam inflamasi, regulasi apoptosis, dan respon imun. Respon hipoksia pada sel dan jaringan dimediasi oleh faktor transkripsi hypoxia-inducible factor (HIF), yang berperan dalam perubahan metabolik sehingga mendorong adaptasi seluler pada kadar oksigen rendah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan ekspresi NFκB/p65 dan HIF-1α pada KTP dan KTF.MetodePenelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dilakukan pada sampel blok parafin spesimen operasi penderita KTP dan KTF di Departemen Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama 1 Januari 2012-31 April 2016. Sampel diambil secara random sampling. Pada kelompok KTP 15 sampel dan KTF 13 sampel selanjutnya dilakukan pulasan imunohistokimia dengan NFκB/p65 dan HIF-1α. Hasil penelitian dianalisis statistik dengan uji Mann-Whitney.HasilEkspresi NFκB/p65 pada KTP dan KTF tidak didapatkan perbedaan yang signifikan sedangkan ekspresi HIF-1α pada KTP dan KTF didapatkan perbedaan yang signifikan dan terdapat hubungan signifikan antara ekspresi NFκB/p65 dan HIF-1α pada KTP dan KTF.KesimpulanEkspresi NFκB/p65 dan HIF-1α dapat menunjukkan hubungan antara KTP dan KTF.
Halaman Redaksi & Daftar Isi Redaksi Redaksi
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.302 KB)

Abstract

Halaman Redaksi & Daftar Isi MAJALAH PATOLOGI INDONESIAIndonesian Journal of Pathology

Page 1 of 1 | Total Record : 9