cover
Contact Name
Husnun Amalia
Contact Email
husnun_a@trisakti.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jbiomedkes@trisakti.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 2621539x     EISSN : 26215470     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Biomedika dan Kesehatan is an official publication of Faculty of Medicine Trisakti University. Jurnal Biomedika dan Kesehatan is a third-monthly medical journal that publishes new research findings on a wide variety of topics of importance to biomedical science and clinical practice. Jurnal Biomedika dan Kesehatan online contains both the current issue and an online archive that can be accessed through browsing, advanced searching, or collections by disease or topic.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2019)" : 6 Documents clear
Pemanfaatan tanaman Tagetes erecta Linn. dalam kesehatan Edy, Hosea Jaya; Parwanto, ML Edy
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.77-80

Abstract

Untuk mengembangkan obat baru, dewasa ini para peneliti berusaha untuk meneliti kandungan bahan alam, diantaranya kandungan zat dalam T. erecta Linn. Ekstrak etanol daun T.erecta Linn. diperoleh 17 senyawa dengan kandungan terbesar adalah senyawa neophytadiene diikuti 9,12,15-oktadecadienoic acid-methyl ester, hexadecanoic acid-methyl ester, palmitic acid, 9,12-oktadecadienoic acid, linolenic acid­-metil ester dan heptadecanoic acid. Tanaman T.erecta Linn. atau yang biasa dikenal dengan sebutan bunga tahi kotok memiliki kandungan kimia yang sangat bermanfaat untuk kesehatan. Bagian dari tanaman T.erecta Linn. yang telah diekstrak dengan berbagai macam pelarut juga telah terbukti memiliki sifat antioksidan, efek antibakteri dan mampu menyembuhkan luka. Ekstrak dari bagian tanaman T.erecta Linn. juga telah berhasil diformulasikan menjadi berbagai bentuk sedian farmasi seperti gel, krim, lotion antinyamuk dan juga pewarna rambut. Sedian farmasi dengan zat aktif ekstrak T.erecta Linn. tersebut terbukti memiliki efek yang baik dan tidak merugikan subyek uji.
Hubungan intensitas pemakaian gawai dengan neck pain pada usia 15-20 tahun Yustianti, Yuni Tri; Pusparini, Pusparini
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.71-76

Abstract

LATAR BELAKANG Dekade terakhir menunjukkan neck pain pada remaja semakin meningkat, bersamaan dengan meningkatnya penggunaan gawai (gadget). Seiring perkembangan zaman, gawai menjadi kebutuhan dan gaya hidup masyarakat luas. Pelajar menjadi pasar terbesar dalam penggunaan gawai sehubungan dengan kebutuhan belajar yang memerlukan akses Internet. Salah satu faktor penyebab neck pain pada pengguna gawai adalah intensitas penggunaan gawai yang mempengaruhi lamanya posisi fleksi pada otot leher. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan intensitas pemakaian gawai dengan neck pain pada usia 15-20 tahun. METODE Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross sectional yang mengikutsertakan 164 pelajar SMAN 28 Jakarta dan Fakultas Hukum Universitas Trisakti. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner yang meliputi usia, jenis kelamin, intensitas pemakaian gawai dan keluhan neck pain. Penilaian neck pain menggunakan NRS (Numeric Rating Scale). Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0.05. HASIL Subjek perempuan berjumlah 121 orang (73.8%). Paparan gawai dengan intensitas >56 jam/minggu dijumpai pada 109 subjek (66.5%). Keluhan neck pain dijumpai pada 138 subjek (84.1%). Uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara intensitas penggunaan gawai dengan neck pain pada usia 15-20 tahun dengan nilai p=0.004. KESIMPULAN Terdapat hubungan yang bermakna antara intensitas penggunaan gawai dengan neck pain pada usia 15-20 tahun.
Hubungan kadar asam urat dengan fungsi kognitif pada lansia Miranda, Atikah Ayu; Alvina, Alvina
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.65-70

Abstract

LATAR BELAKANG Gangguan kognitif adalah gangguan dari kemampuan kognitif yang meliputi atensi, kalkulasi, visuospasial, bahasa, memori dan eksekutif yang dapat dijumpai akibat proses degeneratif (penuaan). Asam urat merupakan produk akhir metabolisme purin yang juga disebut sebagai penyumbang antioksidan plasma sehingga dapat mengurangi stres oksidatif dan melindungi dari radikal bebas yang dapat menyebabkan gangguan pada fungsi kognitif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kadar asam urat darah dengan fungsi kognitif. METODE Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross sectional yang mengikutsertakan 95 lansia di Posbindu Kelurahan Tomang Jakarta Barat. Kriteria inklusi adalah pria dan wanita usia 60-90 tahun, kesadaran kompos mentis, dan dapat berkomunikasi dengan baik. Kriteria eksklusi adalah terdapat riwayat trauma kepala, stroke, tumor otak, kejang, meningitis serta mengonsumsi obat yang dapat meningkatkan atau menurunkan kadar asam urat darah (allopurinol), probenesid. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus - Oktober 2018. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, pengukuran kadar asam urat dilakukan dengan menggunakan alat easy touch blood uric acid test strips, sedangkan pemeriksaan fungsi kognitif dilakukan dengan kuesioner mini mental state examination (MMSE). Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0.05. HASIL Mayoritas responden adalah perempuan dengan rentang usia 60-74 tahun. Terdapat hubungan kadar asam urat dengan fungsi kognitif pada lansia (p=0.000). Selain itu juga diperlihatkan bahwa lansia yang memiliki kadar asam urat yang meningkat memiliki fungsi kognitif yang lebih baik. KESIMPULAN Terdapat hubungan yang bermakna antara kadar asam urat dengan fungsi kognitif pada lansia.
Pengaruh aktivitas fisik terhadap kapasitas memori kerja pada pelajar SMA Rizvialdi, Rizvialdi; Sidarta, Nuryani
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.58-64

Abstract

LATAR BELAKANG Memori Kerja merupakan salah satu bagian dari fungsi eksekutif otak yang dinilai sangat penting untuk menunjang kemampuan proses belajar siswa sekolah. Penelitian menunjukan bahwa prevalensi anak dengan kapasitas memori kerja yang rendah adalah sekitar 15%, dan 80% anak tersebut mengalami kesulitan akademik. Hasil penelitian menunjukan hubungan kuat antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif otak, terutama memori kerja. Penelitian lain memperlihatkan korelasi lemah antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif otak. Oleh karena itu, peneliti ingin melihat kembali hubungan antara aktivitas fisik dengan kemampuan memori kerja khususnya siswa SMA di Jakarta METODE Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional dengan desain cross-sectional (potong-silang). Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik non random consecutive sampling yang melibatkan siswa SMAN 54 Jakarta. Jumlah responden yang didapat adalah sebanyak 56 siswa. Pengambilan data menggunakan instrumen kuesioner IPAQ untuk intensitas dan frekuensi aktivitas fisik serta WISC-IV mengukur indeks memori kerja. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Gamma. HASIL Terdapat korelasi antara intensitas aktvitas fisik dengan indeks memori kerja (r=0.487; p=0.023). Selain itu juga terdapat hubungan antara frekuensi aktivitas fisik dengan indeks memori kerja (r=0.220; p=0.458). KESIMPULAN Terdapat korelasi positif antara intensitas aktivitas fisik dan kemampuan memori kerja pada pelajar SMA. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi intensitas aktifitas fisik yang dilakukan oleh seorang siswa maka semakin tinggi pula kemampuan memori siswa tersebut.
Hubungan keterampilan berpikir kritis (metakognitif) dengan indeks prestasi kumulatif pada mahaasiswa fakultas kedokteran Chandra, Iqbal Raka Aditya; Tjhin, Purnamawati
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.51-57

Abstract

LATAR BELAKANG Indeks prestasi kumulatif (IPK) adalah hasil pembelajaran atau penilaian capaian pembelajaran mahasiswa pada sebuah program studi. IPK digunakan sebagai sebuah parameter kemajuan proses pendidikan mahasiswa. Banyak faktor yang dapat memengaruhi IPK mahasiswa seperti metakognisi, karakteristik responden, durasi belajar, dan motivasi dalam memperoleh IPK tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara keterampilan berpikir kritis (metacognitive), usia dan tingkat perkuliahan dengan IPK pada mahasiswa fakultas kedokteran. METODE Penelitian menggunakan desain potong lintang pada 222 responden di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti pada bulan Maret 2018. Pengukuran keterampilan metakognitif menggunakan kuesioner Metacognitive Awareness Inventory (MAI) dan data IPK didapatkan dari data sekunder. Analisis data dilakukan dengan uji chi square menggunakan program SPSS versi 24. HASIL Sebagian besar responden berusia 19-20 tahun (56.3%) yang terbagi menjadi mahasiswa tingkat 1, 2 dan 3 masing-masing sebanyak 74 responden (33.3%). Responden memiliki kemampuan metakognitif development (20.7%), Ok (67.6%) dan Super (11.7%). IPK responden terbagi menjadi memuakan (36%), sangat memuaskan (41.4%) dan dengan pujian (22.5%). Analisis hubungan IPK dengan kemampuan metakognitif (p=0.000), usia (p=0.443) dan tingkat perkuliahan (p=0.200). KESIMPULAN Pada studi ini terdapat hubungan yang bermakna antara keterampilan berpikir kritis (metacognitive) dengan indeks prestasi kumulatif, tetapi antara karakteristik responden (usia, tingkat perkuliahan) tidak berhubungan dengan indeks prestasi kumulatif.
Dapagliflozin : manfaat dan risiko pada diabetes melitus tipe 2 Kalumpiu, Joice Viladelvia
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.81-89

Abstract

Dapagliflozin merupakan salah satu obat antidiabetes pemberian oral golongan penghambat sodium-glucose cotransporter-2 (SGLT2) yang digunakan pada penderita diabetes melitus tipe 2 (DMT2). Berbeda dengan antidiabetes oral lain yang bekerja menstimulasi sekresi insulin atau meningkatkan sensitivitas insulin, dapagliflozin bekerja di ginjal dengan cara menghambat secara kompetitif protein SGLT2 secara reversibel yang berperan dalam reabsorpsi glukosa di glomerulus sehingga menurunkan kadar gula dalam darah penderita DMT2. Beberapa studi telah dilakukan untuk melihat efek penghamabat SGLT2 dalam menurunkan kejadian kardiovaskular seperti Empagliflozin Cardiovascular Outcome Event Trial in Type-2 Diabetes Patients-Remove Excess Glucose, Canagliflozin Cardiovascular Assessment Study, dan studi multisenter yang mengevaluasi efek dapagliflozin pada insiden kejadian kardiovaskular yaitu Dapagliflozin Effect on Cardiovascular Events (DECLARE-TIMI 58) menunjukkan hasil yang kontradiksi. DECLARE-TIMI58 menunjukkan dapagliflozin tidak meningkatkan atau menurunkan risiko major adverse cardiovascular events (MACE) berbeda dengan obat golongan penghambat SGLT2 lainnya, namun studi ini menunjukkan dapagliflozin dapat menurunkan tingkat kematian dan rawat inap akibat penyakit gagal jantung. The American College of Cardiology, the American Diabetes Association (ADA), dan The European Society of Cardiology guideline saat ini sudah merekomendasikan penggunaan penghambat SGLT2 (empagliflozin dan canagliflozin) sebagai obat tambahan pada pasien DMT2 dengan aterosklerosis. Hingga saat ini dapagliflozin belum direkomendasikan penggunaannya untuk penyakit kardiovaskular pencegahan aterosklerosis pada pasien DMT2 karena masih kurangnya studi-studi yang mendukung. Ketoasidosis merupakan risiko yang perlu dipantau pada penggunaan obat penghambat SGLT2. Baru-baru ini FDA mengeluarkan adanya peringatan kejadian Fournier’s gangrene. Selain itu, peningkatan risiko fraktur dilaporkan pada penggunaan dapagliflozin dan perlu dipantau bila dimanfaatkan pada penderita DMT2 dalam praktik klinik.

Page 1 of 1 | Total Record : 6